cover
Contact Name
ANA WIGUNANTININGSIH
Contact Email
jurnalmaternal.mh@gmail.com
Phone
+6285642011114
Journal Mail Official
jurnalmaternal.mh@gmail.com
Editorial Address
Jl. Brigjen Katamso Barat, Gapura Papahan Indah, Papahan, Kec. Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah 57722
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Maternal
ISSN : 25413120     EISSN : 25415085     DOI : http://dx.doi.org/10.54877
The Journal of Maternal particularly focuses on the main problems in the development of the vocational health areas as follows: - Basic Midwifery - Midwifery science - Maternal Health - Public Maternal Health - Reproduction Health - Mother and child health - Nutrition
Articles 159 Documents
PREVALENSI KEJADIAN STUNTING, STUDI CROSS SECTIONAL PADA ANAK USIA BAWAH LIMA TAHUN DI POSYANDU BENINGREJO, TASIKMADU, KARANGANYAR Fitria Hayu Palupi; Yeni Anggraini
Jurnal Ilmiah Maternal Vol 2, No 2 (2017): Maternal (Jurnal ilmiah)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Husada Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.724 KB) | DOI: 10.54877/maternal.v2i2.794

Abstract

ABSTRACTStunting describes the chronic underweight status of growth and development from earlylife (Ni’mah, 2015). Toddler period is a period that affected by the environment, so it takes moreattention, especially the nutritional adequacy (Kurniasih, 2010). Nutritional problems, especially stunting at under-five children, can inhibit the development of children, with negative impacts that will occur in later life such as intellectual decline, susceptible to non-communicablediseases, decreased productivity to poverty and the risk of delivering low birth weight infants(WHO, 2010; dan UNICEF, 2012). According to the Decree of the Minister of Health Number1995/MENKES/SK/XII/2010 on Anthropometric Standards for Assessing Nutritional Status ofChildren, the definition of stunting was presented with a z-score of height by age (TB/U) lessthan -2 standard deviation (SD) by growth standard (WHO, 2010). This study aims to identifythe incidence of stunting in Under Five Years (Toddlers) at Beningrejo Intregrated ServicePost, Tasikmadu, Karanganyar. The research type used is observational descriptive with crosssectional approach. The research was conducted at Beningrejo Intregrated Service Post, Tasikmadu, Karanganyar. The sample in this research is toddlers who come to Beningrejo Intregrated Service Post at the time of taking data by acidental sampling. Instruments used in thisresearch are infantometer (under 24 months child) and microtoice (upper 24 months child). Theresults showed that the incidence of stunting in toddlers at Beningrejo Intregrated Service Post,Tasikmadu, Karanganyar is 4 respondents (9.76%). Conclusions can be obtained from the examination results using infantometer and microtoice is the majority of toddlers 37 respondents(90.2%) have infantometer and microtoice normal, but there are still 4 respondents (9.8%) whoexperienced stunting.Keywords: toddler, height / age, stuntingABSTRAKStunting menggambarkan status gizi kurang yang bersifat kronik pada masa pertumbuhandan perkembangan sejak awal kehidupan (Ni’mah, 2015). Masa balita merupakan periodeyang sangat peka terhadap lingkungan, sehingga diperlukan perhatian lebih terutama kecukupan gizinya (Kurniasih, 2010). Masalah gizi terutama stunting pada balita dapat menghambat perkembangan anak, dengan dampak negatif yang akan berlangsung dalam kehidupanselanjutnya seperti penurunan intelektual, rentan terhadap penyakit tidak menular, penurunanproduktivitas hingga menyebabkan kemiskinan dan resiko melahirkan bayi dengan berat laMATERNAL VOL. II NO. 2 OKTOBER 2017 103hir rendah (WHO, 2010; dan UNICEF, 2012). Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak, pengertian stunting dipresentasikan dengan nilai z-score tinggi badan menurut umur (TB/U) kurangdari -2 standar deviasi (SD) berdasarkan standar pertumbuhan menurut WHO (WHO, 2010).Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kejadian stunting pada Anak Usia Bawah LimaTahun (Balita) di Posyandu Beningrejo, Tasikmadu, Karanganyar. Jenis penelitian yang digunakan adalah observational deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di Posyandu Beningrejo, Tasikmadu, Karanganyar. Sampel dalam penelitian ini adalahseluruh anak usia Balita yang datang ke Posyandu Beningrejo pada saat dilakukan pengambiln data, teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Acidental Sampling. Instrumenyang digunakan dalam penelitian ini adalah infantometer (PB/U) dan microtoice (TB/U). Hasilpenelitian menunjukkan bahwa angka kejadian stunting pada balita di Posyandu Beningrejo,Tasikmadu, Karanganyar yaitu 4 responden (9.76%). Simpulan yang dapat diperoleh dari hasil pemeriksaan menggunakan infantometer (PB/U) dan microtoice (TB/U) adalah mayoritasbalita 37 (90.2%) responden mempunyai PB/U maupun TB/U normal, akan tetapi masih ada 4responden (9.8%) yang mengalami stunting.Kata Kunci: balita, PB/U, TB/U, stunting
PENGARUH SDB (SLOW DEEP BREATHING) TERHADAP TINGKAT KECEMASAN DAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELITUS Agik Priyo Nusantoro; Kartika Dian Listyaningsih
Jurnal Ilmiah Maternal Vol 2, No 4 (2018): MATERNAL (JURNAL ILMIAH)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Husada Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (924.255 KB) | DOI: 10.54877/maternal.v2i4.700

Abstract

ABSTRACTDiabetes mellitus is a disease that arises almost without any initial symptoms but can cause death which ismarked by an increase in blood glucose levels due to the failure of inadequate insulin secretion. In people withdiabetes mellitus has a high risk of anxiety, anxiety can cause abdominal disorders that will worsen sugar levelsin the patient’s blood and inability. Management of diabetes mellitus to eliminate complaints or symptoms, maintaina sense of comfort and health, prevent complications. Handling can be achieved if blood glucose levels can becontrolled. SDB (Slow Deep Breathing) is a breathing technique that functions to increase relaxation. Increasedrelaxation will reduce anxiety in person and will reduce stress hormones, namely the hormone Cortisol which isassociated with blood glucose levels. The purpose of this study was to analyze the effect of SDB (Slow DeepBreathing) on   the level of anxiety and fasting blood glucose levels in patients with diabetes mellitus. Thisresearch uses Quasy experiment method with pre post test with control group design approach with a total sampleof 40 respondents divided into two groups. The intervention group 20 respondents were given SDB 2 times a weekfor 4 weeks, while the control group 20 respondents were observed without being given SDB. The samplingtechnique used  simple random sampling and analysis test is Wilcoxon test. The results of the research on the levelof anxiety obtained by the intervention group p-value value is (0,000) 0,005 and the control group test resultsobtained p-value value (0,083) 0,05, while the results of the blood glucose examination obtained p-value of theintervention group decreased and the control group test results obtained by the p-value increase but not significant.Keywords: SDB, Diabete Melitus, Anxiety Levels, Blood Glucose LevelsABSTRAKDiabetes mellitus merupakan penyakit yang timbul hampir tanpa adanya gejala awal namun dapat menyebabkankematian yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah dikarenakan adanya kegagalan sekresi insulinyang tidak adekuat. Pada penderita Diabetes mellitus mempunyai resiko kecemasan yang cukup tinggi, kecemasandapat menyebabkan gangguan abilitas sehingga akan memperburuk kadar gula dalam darah penderita danketidakmampuan dalam kehidupan. Pengelolaan diabetes Melitus untuk menghilangkan keluhan atau gejala,mempertahankan rasa nyaman dan sehat, mencegah  timbulnya komplikasi. Penanganan dapat tercapai apabilakadar glukosa darah dapat terkontrol. SDB (Slow Deep Breathing) merupakan teknik pernapasan yang berfungsimeningkatkan rileksasi. Peningkatan rileksasi akan menurunkan kecemasan pada seseorang dan akan menurunkanhormon stress yaitu  hormon kortisol yang berkaitan dengan kadar glukosa darah. Tujuan penelitian ini untukmenganalisa pengaruh SDB (Slow Deep Breathing) terhadap tingkat kecemasan  dan kadar glukosa darah puasapada penderita diabetes Melitus. Penelitian ini menggunakan metode quasy experiment dengan pendekatan prepost test with control group design dengan total sampel 40 responden yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompokintervensi 20 responden diberikan SDB 2 kali dalam seminggu selama 4 minggu, sedangkan kelompok kontrol 20responden diobservasi tanpa diberikan SDB. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random  samplingdan uji analisis menggunakan  Wilcoxon test. Hasil penelitian tingkat kecemasan diperoleh nilai p-value  kelompokintervensi adalah (0,000) 0,005 dan hasil uji kelompok kontrol diperoleh nilai p-value (0,083) 0,05, sedangkanhasil pemeriksaan Glukosa darah pada diperoleh nilai p-value kelompok intervensi adanya penurunan dan hasil ujikelompok kontrol diperoleh nilai p-value terjadi peningkatan tetapi tidak sigfikan.Kata Kunci: SDB, Diabetes Melitus, Tingkat Kecemasan, Kadar Glukosa Darah
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PIJAT BAYI DENGAN PERKEMBANGAN BAYI USIA 0-12 BULAN DI KLINIK LITTLE ANGEL MAPAGAN UNGARAN KABUPATEN SEMARANG Sri Endang Wahyuningsih; Widyah Setiyowati
Jurnal Ilmiah Maternal Vol 2, No 3 (2018): Jurnal Ilmiah Maternal
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Husada Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1527.554 KB) | DOI: 10.54877/maternal.v2i3.628

Abstract

ABSTRACTBaby massage, also called stimulus touch, is one of the necessities that parents need to fulfill, the biological physical needs that are useful for brain development, sensory nervous system, and motor, the need for affection for emotional intelligence, inter and intrapersonal. Infant massage is also a stimulus requirement to stimulate all sensory and motor system work (Maharani, 2009) And by continuing the same pattern of physical stimulation as the baby develops, it means the baby has naturally increased its endurance. (Walker, 2011). The purpose of this study was to determine the relationship between the knowledge level of infant massage with the development of infants aged 0-12 months in Clinic of Small Angels Mapagan Ungaran Semarang Regency. The development of infants aged 0-12 months is strongly influenced by many things, such as touch therapy or touch stimulus, which in this case is baby massage (Sulistyawati, 2014). This research uses crossectional design and survey research type. The population in this study is the mother are massaging  infants at the clinic Small Angel Baby Spa in the  Mapagan Ungaran Village District Semarang amounted to 45 people. Samples were taken by sampling technique Total sampling. Analysis of univariate , and bivariate with Chi Square method The result is the respondent with the knowledge level of baby massage practice which is included in the good category as many as 23 (51,11%) respondent, with enough category 14 (31,11%) respondent and less category as many as 8 (17,77%) respondent . Respondent with infant growth was included in the normal category of 23 (51,11%) respondents, with questionable category as many as 17 (37,77%) respondents and abnormal category as many as 5 (11,11%) respondents.There is a relationship between the level of knowledge of massage with the development of infants aged 0-12 months at the Clinic Little Angel Baby Spa, in in the  Mapagan Ungaran Village District Semarang. Obtained chi Square value 68, 162 with p value 0.000. p value less than 0.05 (0,000 0.05), with Pearson correlation coefficient of 0.946.Suggestions submitted to the public should the public seek more detailed information about monitoring infant growth, so that the baby can wake up to grow flowers. The community is expected to understand the importance of baby massage knowledge for infant growth and development. More importantly for the elderly in the community can do the developmental stimulation correctly for the baby. Keywords: Knowledge, Baby Massage, Baby Development  ABSTRAK Pijat bayi atau disebut juga stimulus touch, merupakan salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi oleh orang tua yaitu kebutuhan fisik biologis yang berguna untuk perkembangan otak, system syaraf sensorik, serta motorik, kebutuhan kasih sayang untuk kecerdasan emosi, inter dan intrapersonalnya. Pijat bayi juga  merupakan kebutuhan stimulus untuk merangsang semua kerja system sensorik dan motoriknya (Maharani, 2009) Dan dengan meneruskan pola stimulasi fisik serupa ketika sang buah hati berkembang, berarti bayi secara alami telah meningkat ketahanannya. (Walker, 2011). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan  pijat bayi dengan perkembangan bayi usia 0-12 bulan di Klinik Little Angel Mapagan Ungaran Kabupaten Semarang. Perkembangan bayi usia 0-12 bulan sangat dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya adalah terapi sentuh atau stimulus touch, yang dalam hal ini adalah pijat bayi (Sulistyawati, 2014). Penelitian ini menggunakan rancangan crossectional dan jenis penelitian survey. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu beserta bayi yang memijatkan bayi di klinik Little Angel Baby Spa Kelurahan Mapagan Ungaran Kabupaten Semarang berjumlah 45 orang. Sampel diambil dengan teknik sampling Total sampling, Analisis data secara univariat, dan bivariat dengan  metode Chi Square. Hasil penelitian ini adalah responden dengan tingkat pengetahuan  praktik pijat bayi yang termasuk dalam kategori baik sebanyak 23 ( 51,11%) responden, dengan kategoti cukup sebanyak 14 (31,11%) responden  dan kategori kurang sebanyak 8 (17,77%)  responden. Responden dengan perkembangan bayi yang termasuk dalam  kategori normal sebanyak 23 ( 51,11%) responden, dengan kategoti meragukan  sebanyak 17 (37,77%) responden  dan kategori abnormal sebanyak 5 (11,11%)  responden.. Ada hubungan antara tingkat pengetahuan   pijat dengan perkembangan bayi usia 0-12 bulan di Klinik Little Angel Baby Spa, di Keluarahan Mapagan Ungaran Kabupaten Semarang. Didapatkan nilai chi Square sebesar 68, 162 dengan p value sebesar 0.000. nilai p value lebih kecil dari 0,05 (0,000 0.05), dengan koefisien Korelasi Pearson sebesar 0.946. Saran yang disampaikan kepada masyarakat hendaknya masyarakat mencari informasi yang lebih rinci mengenai pemantauan tumbuh kembang bayi, sehingga bayi dapat terjaga tumbuh kembangnya. Masyarakat diharapkan mampu memahami akan pentingnya pengetahuan  pijat bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Lebih penting lagi bagi orang tua di masyarakat dapat melakukan stimulus perkembangan dengan benar dan tidak berakibat fatal pada bayinya. Kata kunci: Pengetahuan, Pijat bayi, Perkembangan bayi
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU DENGAN BREASTFEEDING SELF EFFICACY DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BULU KABUPATEN SUKOHARJO N. Kadek Sri Eka Putri; Hastutik -
Jurnal Ilmiah Maternal Vol 3, No 1 (2019): MATERNAL (Jurnal Ilmiah)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Husada Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.037 KB) | DOI: 10.54877/maternal.v3i1.732

Abstract

ABSTRACT The exclusive coverage of breastfeeding for infants aged 0-6 months in Indonesia at 2012 based on the interim report of 2012 Indonesian demographic and health (SDKI) results  which still quite low at 42%, where the target of achieving exclusive breastfeeding in 2014 at 80% (Riskesdas , 2013). The coverage of exclusive breastfeeding in the Sukoharjo regency is still very low in 2018 based on data from the health department of  Sukoharjo, which  only 43.99% (Dinkes, 2018). Indonesian government support for exclusive breastfeeding policy in the Republic of Indonesia Government Regulation No. 33 of 2012 concerning exclusive breastfeeding that must be given until the age of 6 months and continued breastfeeding infants up to 2 years old In addition, the policies contained in the Government Regulation  are facilities and health workers must support the achievement of exclusive breastfeeding targets (Government Regulation of Republic Indonesia, 2012). Breastfeeding self-efficacy is a mother's strength that influences responses in breastfeeding such as effort and thoughts which then influence the initiation and energy of breastfeeding behavior. The purpose of this study was to analyze the relationship between the level of mothers education and breastfeeding self efficacy in the work area of Bulu Community Health Center, Sukoharjo Regency. The research method used was observational analytic with cross sectional approach. The research location was carried out in the work area of Bulu Community Health Center, Sukoharjo Regency at November - December 2018, totaling 36 people. The sample in this study were all 3rd trimester pregnant women in the work area of Bulu Community Health Center, Sukoharjo Regency  with 36-40 weeks gestational age in November - December 2018 as many as 36 people with sampling techniques with accidental sampling. Data analyst used the chi square test (X2). The results showed that X2 result counted 8.862 with a probability of 0.003 0.05, so Ho was rejected and there was a correlation between the education level of mothers and breastfeeding self efficacy with the degree of closeness in the medium category. It was concluded that there was a correlation between the education level of mothers and breastfeeding self efficacy in the work area of Bulu Community Health Center, Sukoharjo Regency. Keywords: Education, Breastfeeding self efficacy  ABSTRAKCakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di Indonesia pada tahun 2012 berdasarkan laporan sementara hasil sesuai demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 masih cukup rendah yakni sebesar 42% dimana target pencapaian pemberian ASI eksklusif pada tahun 2014 sebesar 80% (Riskesdas, 2013). Cakupan ASI eksklusif dikabupaten Sukoharjo masih sangat rendah pada tahun 2018 berdasarkan data dinas kesehatan kota Sukoharjo  yakni hanya sebesar 43,99% (Dinkes, 2018). Dukungan pemerintah Indonesia tentang kebijakan ASI eksklusif didalam Peraturan Pemerintah RI No 33 tahun 2012 mengenai ASI eksklusif. ASI eksklusif harus diberikan sampai usia 6 bulan dan dilanjutkan menyusui bayi sampai berumur 2 tahun. Selain itu kebijakan yang tercantum didalam PP adalah fasilitas dan tenaga kesehatan harus mendukung tercapainya target ASI eksklusif (Peraturan Pemerintah RI, 2012). Faktor yang dapat mendukung tindakan menyusui efektif antara lain keyakinan diri bahwa ibu mampu untuk menyusui secara efektif. Breastfeeding self-efficacy merupakan kekuatan seorang ibu yang mempengaruhi respon dalam menyusui seperti usaha dan pikiran yang kemudian mempengaruhi inisiasi dan tenaga dari perilaku menyusui. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisa hubungan tingkat pendidikan ibu dengan breastfeeding self efficacy di Wilayah Kerja Puskesmas Bulu Kabupaten Sukoharjo. Metode penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Lokasi penelitian dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Bulu, Sukoharjo pada bulan Nopember - Desember 2018 yang berjumlah 36 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil trimester III di Wilayah Kerja Puskesmas Bulu Sukoharjo dengan usia kehamilan 36-40 minggu pada bulan Nopember - Desember 2018 sebanyak 36 orang dengan teknik pengambilan sampel dengan accidental sampling. Analis data yang digunakan uji chi kuadrat (X2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa c2hitung sebesar 8,862 dengan probabilitas sebesar 0,003 0,05, sehingga Ho ditolak dan terdapat hubungan tingkat pendidikan ibu dengan breastfeeding self efficacy dengan tingkat keeratan hubungan dalam kategori sedang. disimpulkan bahwa ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan breastfeeding self efficacy di Wilayah Kerja Puskesmas Bulu Kabupaten Sukoharjo. Kata kunci: Pendidikan, Breastfeeding self efficacy 
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DAN KADAR KOLESTEROL TOTAL DENGAN TEKANAN DARAH DI POSBINDU PTM NGUDI WARAS PERUM JOSROYO INDAH JATEN Kurnia Agustin; Yeni Anggraini
Jurnal Ilmiah Maternal Vol 3, No 2 (2019): MATERNAL (JURNAL ILMIAH)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Husada Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.316 KB) | DOI: 10.54877/maternal.v3i2.755

Abstract

ABSTRACT In Indonesia, hypertension is the third killer after diarrhea and respiratory tract. People who are overweight/ obese tend to have higher blood pressure. Most hypertension is caused by atherosclerosis due to high cholesterol and triglyceride levels in the blood due to excessive fat consumption. The purpose of this study was to analyze the relationship between BMI and Total Cholesterol Levels with Blood Pressure in Posbindu PTM Ngudi Waras Perum Josroyo Indah Jaten. This study uses a cross sectional approach to the type of observational analytic research. Data collection is carried out by conducting a blood pressure checking, BMI measurements, and an examination of total cholesterol. The population in this study were all Posbindu participants, the sampling technique used accidental sampling with 16 respondents. The results of the study were arranged based on frequency distribution in tabular form using Microsoft Excel or SPSS 16.00. Based on the bivariate analysis between BMI and blood pressure, the multiple R values are 0.02927 and R2 0.000857 so that it is concluded that there is a relationship but not too strong. Based on a bivariate analysis between cholesterol levels and blood pressure, the multiple R values are 0.227337 and R2 0.051682, so it is concluded that there is a relationship but not too strong. Based on multivariate analysis between BMI and cholesterol levels with blood pressure there is a relationship but not too strong. This is indicated by the number Multiple R 0.229405 and R2 0.052627. Keywords: BMI, total cholesterol, blood pressure ABSTRAK Di Indonesia penyakit hipertensi menjadi pembunuh nomor tiga setelah diare dan saluran nafas. Orang yang overweight/obesitas cenderung memiliki tekanan darah lebih tinggi. Sebagian besar hipertensi disebabkan oleh arterosklerosis karena tingginya kadar kolesterol dan trigliserida dalam darah akibat konsumsi lemak yang berlebihan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa hubungan IMT dan Kadar Kolesterol Total dengan Tekanan Darah di Posbindu PTM Ngudi Waras Perum Josroyo Indah Jaten. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dengan jenis penelitian observasional analitik. Pengambilan data dalam dilakukan dengan melakukan pemeriksaan TD, pengukuran BB dan TB, serta pemeriksaan kolesterol total. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta Posbindu, teknik pengambilan sampel menggunakanAccidental sampling dengan 16 responden. Hasil penelitian disusun berdasarkan distribusi frekuensi dalam bentuk tabel menggunakan Microsoft Excel atau SPSS 16.00. Berdasakan analisis bivariat antara IMT dan tekanan darah menunjukkan angka multiple R 0.02927 dan R2 0.000857sehingga disimpulkan terdapat hubungan tetapi tidak terlalu kuat. Berdasakan analisis bivariat antara kadar kolesterol dan tekanan darah menunjukkan angka multiple R 0.227337 dan R2 0.051682 sehingga disimpulkan terdapat hubungan tetapi tidak terlalu kuat. Berdasarkan analisis multivariat antara IMT dan kadar kolesterol dengan tekanan darah ada hubungan tetapi tidak terlalu kuat. Hal ini ditunjukkan dengan angka Multiple R 0.229405 dan R2 0.052627. Kata Kunci: Indeks Massa Tubuh, Kadar Kolesterol Total,Tekanan Total
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG VITAMIN A DENGAN KEPATUHAN IBU MEMBERIKAN KAPSUL VITAMIN A PADA BALITA USIA 12 – 59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ROWOSARI KOTA SEMARANG Frida Cahyaningrum; Puji Setyanti
Jurnal Ilmiah Maternal Vol 2, No 1 (2017): Maternal (Jurnal ilmiah)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Husada Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.47 KB) | DOI: 10.54877/maternal.v2i1.570

Abstract

ABSTRACTResearch has been conducted by WHO showed 20 million children under five in Indonesia half suffer from vitamin A deficiency, while data from the WHO Indonesia is one country that the fulfillment of vitamin A is low. Vitamin A is helpful to reduce morbidity and mortality due to vitamin A may increase the body's resistance to infectious diseases. Vitamin A deficiency can cause night blindness and xerophthalmia because of the drought on the cornea corneas. This research includes studies of correlation with the approach of the retrospective study, the study site was taken in the working area of Puskesmas Rowosari Semarang, the total sample of 35 respondents with purposive sampling technique. The instrument used was a questionnaire. This study using univariate and bivariate analysis test. Of the study showed the majority of respondents have a sufficient level of knowledge as much as 15 (42.9%) of respondents. Most respondents do not comply by 18 (51.4%). This may reflect the level of knowledge of mothers about vitamin A with compliance mother giving vitamin A supplements for children under five. The results of this study concluded that the level of knowledge of the mother affects the mother compliance in providing vitamin A supplements for children under five Keywords: Knowledge, Mother, Toddler, Vitamin A ABSTRAK                 Penelitian yang telah dilakukan oleh WHO menunjukkan dari 20 juta balita di Indonesia setengahnya menderita kekurangan vitamin A, sedangkan data dari WHO Indonesia merupakan salah satu negara yang pemenuhan vitamin A tergolong rendah. Vitamin A bermanfaat untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian karena vitamin A dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi. Kekurangan vitamin A dapat menyebabkan rabun senja dan xeropthalmia karena terjadi kekeringan pada selaput bening kornea mata. Penelitian ini termasuk jenis penelitian korelasi dengan pendekatan penelitian retrospektif, lokasi penelitian di ambil di wilayah kerja puskesmas Rowosari kota Semarang,  jumlah sampel sebanyak 35 responden dengan tehnik pengambilan sampel purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Penelitian ini menggunakan uji analisis univariat dan bivariat.Dari penelitian didapatkan hasil sebagian responden memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 15 (42,9%) responden. Sebagian besar responden tidak patuh sebanyak 18 (51,4%). Hal ini dapat menggambarkan tingkat pengetahuan ibu tentang vitamin A dengan kepatuhan ibu memberikan kapsul vitamin A pada balita. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan ibu mempengaruhi kepatuhan ibu dalam memberikan kapsul vitamin A pada balita. Kata kunci : Pengetahuan, Vitamin A, Ibu, Anak
ANALISIS PERAN KELUARGA TERHADAP ANGKA KEJADIAN BENDUNGAN ASI DI WILAYAH CEMANI SUKOHARJO Rahajeng Putriningrum; Tresia Umarianti; Kartika Dian Listyaningsih; Wahyuningsih Safitri
Jurnal Ilmiah Maternal Vol 2, No 4 (2018): MATERNAL (JURNAL ILMIAH)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Husada Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1475.382 KB) | DOI: 10.54877/maternal.v2i4.705

Abstract

ABSTRACTBreastfeeding is a way that is second to none in providing the ideal food for the growth and development of ahealthy baby. The anti-infective substances contained in breast milk help protect the baby against disease. However,breastfeeding does not always work normally, not a few mothers complain of breast swelling due to the accumulationof breast milk, because breast milk is not smooth or suctioned by the baby (Heryani, 2012). According to the 2010Lusiya WijayantI study, of 32 people who experienced the ASI dam, 12 people (37.5%) said the cause of the ASIdam was due to late breastfeeding, 19 people (59.37%) said there was an infection in the breast, and the remaining1 person (3.12%) said that breast milk dams were experienced due to diseases such as tuberculosis. This studyaims to determine the effect of family participation on the incidence of breast milk in postpartum mothers in SyifaCemani PKD. This type of research is quantitative research. The study design was used with a cross sectionalapproach. The number of samples used was 30 respondents. The analysis test used was Kendall Tau. The resultsof the data analysis showed a correlation between the role of the family and the incidence of ASI dams.Keywords: Analysis, Family, Dam, ASIABSTRAKMenyusui merupakan suatu cara yang tidak ada duanya  dalam  memberikan  makanan yang ideal bagi pertumbuhandan perkembangan bayi yang sehat. Zat-zat anti infeksi yang terkandung dalam ASI membantu melindungi bayiterhadap penyakit. Akan tetapi, menyusui tidak selamanya dapat berjalan dengan normal, tidak sedikit ibu- ibumengeluh  seperti  adanya pembengkakan payudara akibat penumpukan ASI, karena pengeluaran ASI tidak lancaratau pengisapan oleh bayi (Heryani, 2012). Menurut   penelitian   Lusiya   WijayantI 2010, dari 32 orang yangmengalami bendungan ASI, 12 orang (37,5%) mengatakan  penyebab  terjadinya bendungan ASI dikarenakanterlambat memberikan ASI, 19 orang (59,37%) mengatakan terjadi infeksi pada payudara, dan sisanya  1 orang(3,12%) mengatakan bendungan ASI yang dialami karena adanya penyakit seperti tuberculose. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui pengaruh peran serta keluarga terhadap kejadian bendungan ASI pada ibu Nifas di PKD Syifacemani. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Rancangan penelitian yang digunakan denganpendekatan cross sectional. Jumlah sampel yang digunakan 30 responden.Uji analisa yang digunakan menggunakanKendall Tau. Hasil analisa data didapatkan adanya korelasi antara peran keluarga dengan angka kejadian terjadinyabendungan ASI.Kata kunci: Analisis, Keluarga, Bendungan, ASI
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS) DI DESA MUNTAL PAKINTELAN KOTA SEMARANG Sri Mularsih
Jurnal Ilmiah Maternal Vol 4, No 2 (2020): Maternal (Jurnal Ilmiah)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Husada Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.289 KB) | DOI: 10.54877/maternal.v4i2.802

Abstract

ABSTRACTAdolescence is a stage between childhood and adulthood. Adolescents who go through puberty have a strong urge about changes in their bodies and begin to develop attraction to the opposite sex. As a result, adolescents often experiment with sexuality. Some groups of teenagers experience confusion about what they can do, including whether or not they can date, masturbate, watch together or kiss. Adolescents also start socializing with each other, in groups and know and even try to do risky behavior such as smoking, using illegal drugs, drinking and pre-marital sex which they do not actually know because teenagers' attitudes and knowledge will indirectly can catch sexually transmitted infections . Sexually transmitted infections are diseases that arise or are transmitted through sexual contact through sexual intercourse with clinical manifestations in the form of abnormalities, especially in the genitals. The purpose of this study was to determine the level of knowledge with adolescent attitudes about sexually transmitted infections. This type of research uses descriptive study with survey research design. The population in this study were all young men and women in the village of  Muntal Pakintelan Rw 6, Gunungpati District, Semarang City. The sample is 38 adolescents, namely 20 girls and 18 boys. The results of the study most of the respondents had moderate knowledge of 24 (63.2%) respondents and most of their attitudes agreed about sexually transmitted infections as many as 32 (83.2%) of respondents. The suggestion is that health workers are expected to be able to increase knowledge about the importance of information and education on sexually transmitted infections. Keywords: Knowledge, Attitude, IMS  ABSTRAKMasa remaja adalah suatu tahapan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Remaja yang mengalami pubertas mempunyai dorongan yang kuat tentang perubahan pada tubuhnya  mulai timbul ketertarikan dengan lawan jenis. Akibat remaja sering melakukan coba-coba dalam hal seksualitas. Sebagian kelompok remaja mengalami kebingungan untuk memahami tentang apa yag boleh dilakukan olehnya antara lain boleh atau tidaknya pacaran, melakukan onani, nonton bersama atau berciuman. Remaja juga mulai bersosialisasi dengan sesamanya, berkelompok dan mengetahui bahkan mencoba-coba melakukan perilaku beresiko seperti merokok, menggunakan obat-obatan terlarang, minum-minuman keras dan seks pra-nikah yang sebenarnya belum diketahui oleh mereka karena sikap dan pengetahuan remaja secara tidak langsung akan bisa terserag infeksi menular seksual ( IMS ). Infeksi menular seksual (IMS) adalah penyakit-penyakit yang timbul atau ditularkan melalui hubungan seksual melalui hubungan seksual dengan manifestasi klinis berupa berupa timbulnya kelainan-kelainan terutama pada alat kelamin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan dengan sikap remaja tentang Infeksi Menular Seksual (IMS ). Jenis penelitian menggunakan Study Deskriptif dengan rancangan penelitiannya Survey . Populasi pada penelitian ini yaitu seluruh Remaja  putra putri di Desa Muntal Pakintelan Rw 6 Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Sampelnya  adalah 38 Remaja, yaitu 20 perempuan dan 18 laki-laki. Hasil penelitian sebagian besar responden memiliki pengetahuan sedang sebanyak 24 (63.2%) responden dan sebagian besar sikap nya  setuju tentang infeksi menular seksual sebanyak 32 (83.2%) responden. Sarannya adalah Tenaga kesehatan diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan  tentang pentingnya informasi dan pendidikan infeksi menular seksual.Kata Kunci : Pengetahuan, Sikap, IMS
UJI LABORATORIUM PENGUKURAN KANDUNGAN ZAT BESI (Fe) PADA EKSTRAK BAYAM HIJAU (Amarathus Hybridus l) Dheny Rohmatika; Tresia Umarianti
Jurnal Ilmiah Maternal Vol 2, No 2 (2017): Maternal (Jurnal ilmiah)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Husada Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3323.873 KB) | DOI: 10.54877/maternal.v2i2.569

Abstract

ABSTRACT Normal humans need about 20-25mg of iron per day to produce red blood cells. It is esti- mated that the amount of iron released by the body is about 1.0 mg / day, for women plus 0.5 mg loss due to menstruation. In meeting the needs of iron, a person usually consume supplements, but one alternative to meet the needs of iron can be done with consumption of vegetables con- taining iron in the diet for example spinach to prevent the occurrence of anemia. Green spinach has good benefits for the body because it is a source of calcium, vitamin A, vitamin E and vita- min C, fiber, and also beta-carotene. In addition, spinach also has a high iron content to prevent anemia. Calcium content in spinach can also prevent calcification of bone. Green spinach has a higher content of chlorophyll and beta-carotene than red spinach. Green spinach has anti- oxidant, anticancer, antihypertensive, and antihyperglycemic properties. The purpose of this research is to know the iron content found in Green Spinach Extract (Amarathus Hybridus l) by maseration method in laboratory of Faculty of Food UNS, Fresh Dryer method at UMS Faculty of Pharmacy, test the content of Fe content in spinach in Faculty of MIPA in UNS AAS (Atomic Absorption Spectrometry). The results show that fresh green spinach has a Fe content of 8.3 mg/100 grams of fresh spinach, the extraction process of 3500 grams of dried green spinach powder with 14000 ml of aquadest produces 21 ml/g of Fe content. Keywords: Green Spinach, AAS, Iron  ABSTRAK Manusia normal membutuhkan sekitar 20-25 mg zat besi per hari untuk memproduksi sel darah merah. Diperkirakan jumlah besi yang dikeluarkan tubuh sekitar 1,0 mg/hari, untuk wanita ditambah 0,5 mg hilang karena mentruasi. Dalam memenuhi kebutuhan zat besi, se- seorang biasanya mengkonsumsi suplemen, akan tetapi  salah satu alternatif  untuk meme- nuhi kebutuhan zat besi dapat dilakukan dengan konsumsi sayuran yang mengandung zat besi dalam menu makanan contohnya bayam untuk mencegah terjadinya anemia. Bayam hijau me- miliki manfaat baik bagi tubuh karena merupakan sumber kalsium, vitamin A, vitamin E dan vitamin C, serat, dan juga betakaroten. Selain itu, bayam juga memiliki kandungan zat besi yang tinggi untuk mencegah anemia. Kandungan kalsium dalam bayam juga dapat mencegah pengapuran tulang. Bayam hijau memiliki kandungan klorofil dan betakaroten lebih tinggi dar- ipada bayam merah. Bayam hijau mempunyai sifat antioksidan, antikanker, antihipertensi, dan antihiperglikemik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kandungan zat besi yang terdapat pada Ekstrak Bayam Hijau (Amarathus Hybridus l) dengan metode maserasi di laboratorium Fakultas Pangan UNS, metode Fresh Dryer di Fakultas Farmasi UMS, dilakukan uji kandun-gan kadar Fe dalam bayam di Fakultas MIPA di UNS dengan metode AAS (Atomic Absorption Spectrometry). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bayam hijau segar memiliki kadar Fe 8,3 mg/100 gram bayam segar, hasil proses ekstraksi 3.500 gram serbuk bayam hijau kering den- gan 14.000 ml aquadest menghasilkan kadungan Fe 21 mg/gr.  Kata kunci: Bayam Hijau, AAS,  Zat Bes
PERAN KADER DALAM PELAKSANAAN PROGRAM PERENCANAAN PERSALINAN DAN PENCEGAHAN KOMPLIKASI (P4K) DI DESA SUKOSARI KECAMATAN JUMANTONO Mutik Mahmudah; Kurnia Agustin
Jurnal Ilmiah Maternal Vol 4, No 1 (2020): MATERNAL (JURNAL ILMIAH)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Husada Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.38 KB) | DOI: 10.54877/maternal.v4i1.770

Abstract

ABSTRAKIndonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki angka kematian ibu (AKI) bersalin yang cukup tinggi. Program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K) adalah upaya dari pemerintah untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) (Werdiyanti, 2017). Kegiatan P4K dilakukan oleh Bidan, keluarga dan masyarakat. Selain itu peran kader dalam pemantauan ibu hamil, persalinan, nifas dan KB sangat berperan dalam kegiatan ini. Apalagi di Propinsi Jawa Tengah ada istilah Nginceng gayeng wong meteng yang dilaksanakan oleh masyarakat, selain tenaga kesehatan juga oleh tokoh masyarakat maupun kader.Jenis penelitian yang dipakai metode disktiptif untuk menggambarkan peran kader dalam pelaksanaan P4K. Penelitian di lakukan di PKD Desa Sukosari  Kecamatan Jumantono Kabupaten  Karanganyar pada bulan Nopember 2019 sampai Februari 2020. Populasi adalam penelitian ini adalah semua kader sebanyak 23 orang menggunakan teknik accidental sampling. Variabel dalam penelitian ini adalah (1) peran, (2) kader, (3) P4K. Data yang telah terkumpul akan dilakukan analisis deskriptif. Hasil penelitian dan pembahasan tentang peran kader dalam pelaksanaan program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K) dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut peran  kader dalam pelaksanaan P4K sebagian besar dikategorikan cukup yaitu 13 kader (56,5%). Kata kunci: peran, kader, P4K ABSTRACTIndonesia is one of the developing countries that has a high maternal mortality rate (MMR). The Labour and Prevention Planning Program (P4K) is the government's effort to reduce maternal mortality rate (MMR) (Werdiyanti, 2017). P4K activities are conducted by midwives, families and communities. In addition, the role of cadres in monitoring pregnant mothers, labour, puerpural and family planning is instrumental in this activity. Moreover, in the province of Central Java, there is a term Nginceng Gayeng Wong Meteng that is implemented by the public, in addition to health personnel also by public figures and cadres.The reseach study used descriptive method to describe the role of cadres in implementing P4K. Research was done in PKD Desa Sukosari village in Jumantono district of Karanganyar in November 2019 until February 2020. The population of this research is all cadres of 23 people using accidental sampling technique. The variables in this study are (1) roles, (2) cadres, (3) P4K. The Data that has been collected will be done descriptive analysis. The results of the research and discussion on the role of cadres in the implementation of delivery planning programs and the prevention of complications (P4K) can be concluded as follows the role of cadres in the implementation of P4K is largely categorized as 13 cadres (56.5%). Keywords: roles, cadres, P4K

Page 8 of 16 | Total Record : 159