Articles
421 Documents
Tafsir dari Segi Metode: Metode Tafsir Tahlili
Ali, Muhammad Hasan;
Mustofa, Muhamad Iqbal
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol. 3 No. 4 (2023): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/jis.v3i4.31188
Metode penafsiran Al-Qur’an merupakan salah satu bentuk perkembangan tafsir sejak awal hingga masa kini. Salah satu metode yang sering digunakan mufasir klasik adalah metode tahlili. Metode ini lahir seiring dengan meluasnya perkembangan agama Islam ke seluruh penjuru dunia. Sehingga Al-Qur’an perlu dijelaskan secara mendetail melalui penafsiran yang komprehensif dengan metode tahlili. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji metode tahlili dari segi sejarah hingga kelebihan dan kekurangannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui kajian pustaka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tafsir tahlili merupakan salah satu metode untuk menafsirkan Al-Qur’an secara utuh sesuai dengan urutan mushaf dengan meninjau kepada beberapa aspek. Tafsir tahlili muncul untuk menjawab kebutuhan umat akan penjelasan terhadap Al-Qur’an yang mendetail. Melalui tafsir tahlili umat dapat memahami konteks suatu ayat berdasarkan kepada asbab an-nuzul, munasabah ayat, kajian kebahasaan, hingga pendapat para ulama terhadap suatu ayat. Salah satu contoh kitab tafsir tahlili adalah Tafsir Ath-Thabari yang masih digunakan hingga saat ini dan merupakan tafsir pertama yang menggunakan metode tahlili.
Hakikat Ilmu dalam Islam
Amin, Fadli Nur Islah;
Irawan, Irawan;
Priatna, Tedi
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol. 3 No. 4 (2023): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/jis.v3i4.31242
Paradigma dikotomi keilmuan adalah paradigma yang memungkinkan pemisahan, perbedaan, dan pertentangan antara "ilmu agama" dan "ilmu umum (ilmu non-agama)". Ilmu agama dianggap sebagai ilmu yang hakiki yang akan membawa manusia kepada tingkat ketakwaan dan memberikan manfaat abadi hingga akhirat. Namun, baik ilmu umum maupun ilmu agama sama-sama merupakan ilmu yang hakiki, bergantung pada seberapa besar dan bagaimana manfaat dari ilmu tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa dalam Islam, "ilmu agama" dan "ilmu umum (ilmu non-agama)" tidak memiliki perbedaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik analisis deskriptif melalui studi kepustakaan. Data dikumpulkan dari berbagai referensi literatur, kemudian diproses dan dianalisis secara kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakikat ilmu sangat komprehensif dan terintegrasi, sebagai jalan untuk mencapai tujuan hidup, yaitu kebahagiaan di dunia dan akhirat, yang diperoleh melalui usaha yang sungguh-sungguh dan pemikiran yang mendalam. Islam meyakini bahwa ilmu adalah milik Allah dan bersumber dari Allah. Seberat apa pun manusia berupaya untuk mencapai ilmu, tanpa kekuatan dari Allah, manusia tidak akan mampu untuk mencapainya.
Tafsir Lughawi: Historisitas dan Perdebatannya
Edi, Edi;
Fangesty, Maolidya Asri Siwi
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol. 3 No. 4 (2023): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/jis.v3i4.31248
Diantara cara untuk mengetahui makna Al-Qur’an adalah menggunakan corak bahasa karena Al-Qur’an sendiri berbahasa Arab. Para ulama pun telah melakukan kajian menggunakan corak tafsir lughawi ini meskipun terdapat banyak perdebatan di dalamnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk memaparkan sejarah, batasan, perdebatan ulama mengenai tafsir lughawi dan kitab-kitab tafsir yang bercorak lughawi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tekhnik pengumpulan data library research (studi pustaka). Secara aplikatif, menjelaskan Al-Qur’an menggunakan bahasa sudah dilakukan oleh Rasulullah Saw. Kemudian menafsirkannya dilakukan oleh Ibnu Abbas abad 1-2 hijriyah. Namun secara teoretis tafsir lughawi muncul di abad ke 5 hijriyah. Tafsir ini memuat bahasan nahwu, sharaf dan balaghah. Adanya tafsir lughawi tak lepas dari perdebatan para ulama karena tafsir ini dinilai terlalu bertele-tele, rujukan yang digunakan menggunakan kaidah bahasa Arab bukan ayat Al-Qur’an dan hadis serta cenderung subjektif pada kepentingan golongan mufassir dan melupakan tujuan utama untuk mencari makna Al-Qur’an. Diantara kitab tafsir lughawi yang masyhur adalah tafsir al-Kasysyaf, Bahrul Muhith, al-Bayan lil Qur’an al-Karim dan al-Furqan. Tafsir lughawi mengalami perkembangan terutama dalam metode penulisan tafsir al-Bayan lil Qur’an al-Karim karya Aisyah Abdurrahman Bintu Syathi’.
Penerapan Teori Mubadalah terhadap Penafsiran Ayat-Ayat Parenting dalam Tafsir Tarbawi dan Tafsir Al-Misbah
Ain, Aini Qurotul;
Fathurrohman, Asep
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol. 3 No. 4 (2023): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/jis.v3i4.31280
Tujuan penelitian ini adalah memahami ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan parenting, penerapan teori mubadalah, dan menganalisis persamaan serta perbedaan antar tafsir Al-Misbah dengan tafsir Tarbawi. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis komparatif, dengan membandingkan dua penafsiran yang kemudian diformulasikan persamaan serta perbedaan untuk menjadikan teori mubadalah sebagai framework analisa yang digunakan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan teori mubadalah terhadap penafsiran ayat-ayat parenting adalah bahwa: cara kerja teori mubadalah dalam memahami ayat-ayat parenting terbagi menjadi tiga langkah. Pertama, mengidentifikasi dan menegaskan prinsip ajaran Islam dari teks yang mempunyai karakter universal sebagai dasar pemaham. Kedua, implementasi praktis pada prinsip Islam dalam konteks khusus. Meski bersifat parsial, menemukan makna yang sesuai dengan prinsip dalam ayat sebelumnya adalah krusial. Ketiga, teks yang digunakan untuk laki-laki dan perempuan. Penerapan teori mubadalah pada QS. At-Tahrim ayat 6 meingsyaratkan ibu dan bapak agar memberikan pendidikan dan parenting yang baik terhadap anak-anaknya. Persamaan dan perbedaan antara tafsir Tarbawi dan Al-Misbah, salah satu rangkaian pada QS. Al-Baqarah ayat 30 mengiterpretasikan peran khalifah terhadap pentingnya pendidikan memiliki perspektif yang berbeda, namun saling melengkapi. Tafsir Al-Misbah mengedepankan pemahaman kontekstual Al-Qur’an dengan mengaitkan pesan dalam teks dengan konteks sosial, sejarah dan nilai universal yang relevan. Sedangkan tafsir Tarbawi menyatakan bahwa pendidikan yang baik bukan hanya berkaitan dengan aspek akademis, tetapi juga memperhatikan pembentukan karakter, moralitas dan kecerdasan spiritual.
Studi Komparasi Tafsir Fi Zhilalil Qur’an dan Tafsir Al-Azhar terhadap Ayat-Ayat yang Mengisyaratkan Pluralisme Agama
Sidik, Azis Abdul
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol. 3 No. 4 (2023): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/jis.v3i4.31320
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penafsiran ayat-ayat al-Qur’an yang mengisyaratkan tentang pluralisme agama, batasan-batasan dan konsep pluralisme agama dengan mengkomparasikan dua mufassir yaitu antara penafsiran Sayyid Quthb dan Buya Hamka. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis komparatif yang mengkaji persamaan dan perbedaan dua penafsiran dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif. Adapun hasil dari penelitiannya adalah: Faktor-faktor yang melatarbelakangi persamaan dan perbedaan antara Sayyid Quthb dan Buya Hamka berpengaruh terhadap penafsiran keduanya. Beberapa faktornya adalah latar belakang keilmuaan, meskipun keduanya sama bergelut dan mencintai tentang sastra namun sumber ilmu sastra yang didapat sangatlah berbeda. Selanjutya keaktifan keduanya dalam berorganisasi, keduanya aktif di organisasi pemerintah dan juga organisasi non pemerintah yaitu, Sayyid Quthb di Ikhwanul Muslimin yang kemudian mengantarkannya dipenjara karena dianggap kelompok pemberontak sedangkan Buya Hamka aktif di organisasi Muhammadiyah dan masih diakui sampai saat ini keberadaannya oleh pemerintah. Faktor selanjutnya adalah sama-sama menyelesaikan kitab tafsirnya di penjara. Dari kedua penafsirannya tentang ayat-ayat yang mengisyaratkan pluralisme agama adalah ditemukannya konsep-konsep pluralisme diantaranya adalah konsep saling menghargai praktek dan media ibadah, konsep kebebasan beragama yang maksudnya tidak ada paksaan dari agama manapun untuk memeluk agama nya karena manusia diciptakan dengan akal maka biarlah manusia itu sendiri yang memilih dengan kehendak nya. Dan terakhir konsep saling membantu, tolong menolong antar umat beragama, meskipun berbeda keyakinan tapi kehidupan sosial di masyarakat harus menjunjung tinggi toleransi beragama sehingga terciptanya kerukunan dan saling membantu satu sama lain meskipun berbeda keyakinan.
Tafsir Lughawi dalam Perspektif Sejarah
Mahdy, Widyanto Naufal
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol. 3 No. 4 (2023): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/jis.v3i4.31327
Salah satu corak penafsiran Al-Qur’an adalah corak penafsiran kebahasaan atau yang dikenal dengan tafsir lughawi. Munculnya corak penafsiran ini sebagai upaya untuk menggali makna kandungan Al-Qur’an, karena bahasa merupakan faktor utama untuk memahami Al-Qur’an. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengkaji corak tafsir lughawi dari segi sejarah, perdebatan ulama akan kemunculan tafsir lughawi hingga kelebihan dan kekurangannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui kajian pustaka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tafsir lughawi memiliki peran penting untuk menemukan makna kandungan Al-Qur’an. Melalui corak penafsiran lughawi para mufasir dapat mengungkap berbagai konsep seperti etika, seni dan imajinasi Al-Qur’an. Salah satu contoh kitab yang menggunakan corak penafsiran tafsir lughawi adalah Al-Kasyaf karya Mahmud al-Zamakhsyari.
Perkembangan dan Resepsi Tafsir Hukmi di Kalangan Ulama
Abdulloh, Sigit;
Gunara, Yusman
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol. 3 No. 4 (2023): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/jis.v3i4.31328
Tafsir hukmi merupakan pendekatan interpretasi Al-Qur'an yang fokus pada aspek-aspek hukum dan normatif dalam teks suci Islam. Penelitian ini menganalisis dari latar belakang kemunculan tafsir hukmi sejak masa Nabi Muhammad SAW hingga pengaruhnya pada pemikiran ulama kontemporer.Sejarah kemunculan corak tafsir hukmi ini sudah muncul pada masa Nabi Saw yang berkelanjutan hingga munculnya imam-imam Mazhab sampai adanya fanatisme mazhab. Tulisan ini membahas mengenai tafsir hukmi dengan tujuan menganalisis evolusi metode tafsir hukmi dalam tradisi Islam, mengidentifikasi berbagai metode interpretasi, serta memahami implikasinya terhadap praktik hukum Islam. Metode penelitian ini melibatkan analisis tekstual Al-Qur'an, studi literatur, dan wawancara dengan ulama tafsir. Hasil penelitian mengungkapkan keragaman pendekatan tafsir hukmi dalam mazhab-mazhab Islam yang berbeda, menyoroti kompleksitas interpretasi terhadap hukum-hukum syariat menjelaskan sejarah kemunculan corak hukum dalam dunia tafsir Al-qur’an, batasan istilah pembahasannya, perdebatan para ulama serta contoh kitab-kitab tafsir bercorak hukum. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis berbasis penelitian kepustakaan dengan pendekatan sejarah dan tafsir. Pembahasan tafsir hukmi mencakup pembahasan yang berkenaan dengan hukum-hukum syariat dalam Al-Qur’an. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa tafsir hukmi tetap relevan dalam konteks zaman modern, meskipun memunculkan berbagai tantangan dan perdebatan. Pendekatan ini memberikan kontribusi penting terhadap pemahaman mendalam tentang prinsip-prinsip hukum Islam, memperkaya dialog antara agama dan hukum, serta memberikan landasan bagi perubahan dan reformasi hukum dalam masyarakat muslim memperlihatkan bahwa dalam mempraktikkan penafsiran bercorak hukmi tidak terlepas dari perbedaan pandangan para ulama dalam istinbat hukum. Kitab-kitab tafsir hukmi dapat di temukan dalam tafsir-tafsir yang bermazhab seperti Hanafi, Maliki, Syafii, Hanbali dan Zahiri.
Tafsir ‘Aqo’idi dalam Pembahasan Epistemologi
Tauviqillaah, Muhamad Hamdan;
Rahman, Mohammad Taufiq
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol. 3 No. 4 (2023): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/jis.v3i4.31412
Tulisan ini mengkaji tafsir 'aqo'idi dalam kajian epistemologi dengan pembahasan seputar latar belakang sejarah, batasan penafsiran, pandangan ulama dan standar validitas serta kitab-kitab tafsir yang tergolong tafsir 'aqo'idi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis berbasis penelitian kepustakaan. Tujuan dari pembasahan tulisan ini adalah meneliti dan mendeskripsikan bagaimana latar belakang sejarah kemunculan tafsir 'aqo'idi, batasan penafsiran yang tergolong ke dalam corak tafsir 'aqo'idi, bagaimana pandangan ulama dan standar validitas tafsir 'aqo'idi serta kitab tafsir apa saja yang bercorak 'aqo'idi. Penelitian ini menemukan bahwa sejarah tafsir 'aqo'idi berkaitan dengan konflik politik antara kubu Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah bin Abi Sufyan dalam perang Siffin. Kepentingan dan tujuan kelompok menjadi latar belakang munculnya penafsiran bernuansa 'aqo'idi. Batasan Tafsir 'aqo'idi pada penafsiran seputar persolan ketuhanan dan politik kekuasaan. Para ulama memandang tafsir 'aqo'idi tergolong tafsir bi al-ra'yi sehingga standar validitas tafsir 'aqo'idi linier dengan tafsir al-ra'yi. Jika tafsir 'aqo'idi tergolong bi al-ra'yi al-madzmum yang penafsirannya atas dasar dorongan hawa nafsu dan menjadi pembenaran kepetingan kelompok tertentu, maka tafsir corak tersebut tidak terima. Kitab tafsir ‘aqo’idi kelompok Sunni dapat ditemukan dalam kitab Mafatih al-Ghaib karya al-Razi. Kitab tafsir ‘aqo’idi kelompok Muktazilah terdapat pada kitab al-Kasyaf karya al-Zamaksyari dan kitab tafsir golongan Syi’ah adalah al-Mizan karya Husain al-Thabathba’i.
Diskursus Tafsir Maudhu’i dalam Memahami Al-Qur’an
Apriani, Laelati Dwina;
Irmayanti, Irmayanti
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol. 3 No. 4 (2023): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/jis.v3i4.31414
Metodologi penafsiran merupakan salah satu aspek yang tidak dapat dipisahkan dari penafsiran Al-Qur’an. Mufasir dalam menafsirkan Al-Qur’an umumnya tidak terlepas dari empat metode penafsiran yaitu metode ijmali, tahlili, muqarran dan maudhu’i. Salah satu metodologi penafsiran yang banyak diminati oleh mufasir kontemporer adalah metode tafsir maudhu’i. Tujuan penelitian ini adalah menguraikan definisi tafsir maudhu’i, sejarah kemunculan, urgensi, langkah-langkah serta kelebihan dan kekurangan tafsir maudhu’i. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif melalui studi kepustakaan. Hasil penelitian ini adalah menjelaskan bahwa metode tafsir maudhu’i merupakan metode penafsiran yang mengkaji Al-Qur’an sesuai tema tertentu. Penafsiran sesuai dengan tema bahasan ini sudah ada sejak penafsiran pada masa kenabian, sahabat hingga generasi berikutnya. Akan tetapi tafsir maudhu’i berdiri sendiri sebagai suatu metodologi penafsiran baru dikenal pada masa penafsiran modern-kontemporer. Metode tafsir maudhu’i dinilai cukup efektif dalam menjawab persoalan umat Islam pada zaman sekarang.
Tafsir Dilihat Dari Sisi Corak Tafsir: Hadaf Tafsir dan Tsaqofah Al-Mufassirin
Octaviana, Okky;
Rohmatulloh, Yasin
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol. 3 No. 4 (2023): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/jis.v3i4.31434
Artikel ini bertujuan untuk menguraikan bahwa hadaf tafsir dan tsaqofah al-mufassirin merupakan dua aspek penting dalam penentuan corak sebuah kitab tafsir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan analisis-deskriptif melalui studi pustaka. Artikel ini akan menguraikan urgensi mengetahui hadaf dan tsaqofah mufassir, serta menguraikan hubungan hadaf tafsir dengan latarbelakang penulisan tafsir dan hubungan tsaqofah mufassir dengan kecenderungan corak tafsir. Di antara pembahasannya, hadaf (tujuan) penafsiran dan tsaqofah seorang mufassir sangat berpengaruh terhadap produk tafsir yang ia buat. Dapat disimpulkan bahwa setiap orang yang menafsirkan Alquran pasti dilatarbelakangi oleh suatu tujuan dan penafsirannya tidak terlepas dari lingkungan sosio-kultural yang membentuk watak (kepribadian) serta latar belakang keilmuannya.