cover
Contact Name
Riviera
Contact Email
publishingriviera@gmail.com
Phone
+62859117272881
Journal Mail Official
publishingriviera@gmail.com
Editorial Address
Jl.sendang perumahan greenland sendang kecamatan sumber kabupaten cirebon
Location
Kab. cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian
Published by Riviera Publishing
ISSN : 28295439     EISSN : 28297334     DOI : https://doi.org/10.36418/locus
Jurnal Locus: Jurnal Ilmiah Penelitian dan Pengabdian, double-blind and open-access academic journal in the Multidisiplin. This journal is published once a month by CV. Riviera Publishing.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 1,230 Documents
From Screen to Commitment: Pengaruh Penggunaan Media Sosial Terhadap Kesiapan Menikah Pada Perempuan Generasi Z yang Bekerja Icha Herawati; Nindy Amita; Irfani Rizal; Muhammad Rizal Fauzan
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 5 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i5.5805

Abstract

Perempuan Generasi Z merupakan pengguna media sosial paling aktif, namun paparan berlebihan terhadap konten daring dapat memengaruhi kesiapan psikologis mereka terhadap pernikahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan media sosial terhadap kesiapan menikah pada perempuan Generasi Z yang bekerja. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei dan analisis Structural Equation Modeling (SEM) berbasis kovarians (CB-SEM) menggunakan AMOS 26. Sampel penelitian terdiri dari 200 responden yang dipilih melalui purposive sampling dengan kriteria perempuan usia 22–28 tahun, belum menikah, bekerja minimal enam bulan, dan aktif menggunakan media sosial. Instrumen penelitian meliputi skala penggunaan media sosial dan skala kesiapan menikah berbasis Likert. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan media sosial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kesiapan menikah (? = ?0,41; p < 0,05). Model penelitian memiliki tingkat kelayakan yang baik berdasarkan indikator goodness-of-fit. Selain itu, penggunaan media sosial menjelaskan 17% variasi kesiapan menikah. Temuan ini mengindikasikan bahwa intensitas penggunaan media sosial dapat memengaruhi persepsi, kecemasan, dan orientasi nilai terhadap pernikahan pada perempuan Generasi Z. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan literasi media dan pengelolaan penggunaan media sosial secara bijak untuk mendukung kesiapan menikah yang lebih sehat secara psikologis.
When Delusions Become Shared: A Study of Folie À Deux in the Context of Paranoid Schizophrenia and Cultural Values Vindyanita Simanjuntak
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 5 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i5.5806

Abstract

Paranoid schizophrenia is a chronic psychotic disorder characterized by delusions and hallucinations. In certain conditions, delusions can be transmitted to closely related individuals, known as folie à deux or shared psychotic disorder. This phenomenon becomes more complex when influenced by cultural and social structures. This research aims to analyze the phenomenon of induced delusion in paranoid schizophrenia and examine the role of cultural values in shaping and maintaining shared delusions. This study employed a qualitative descriptive case study approach through clinical interviews, psychiatric examinations, and evaluation of interpersonal dynamics and cultural context. The findings indicate that the primary patient experienced paranoid schizophrenia with persecutory delusions, while the secondary patient developed induced delusions due to strong emotional attachment and intense interaction. Cultural factors, including family loyalty, collectivism, and patriarchal structure, reinforced the internalization of shared beliefs. Interventions such as pharmacotherapy, psychotherapy, and patient separation were effective in reducing symptoms. Shared psychotic disorder is influenced not only by individual factors but also by social interaction and cultural context. A biopsychosocial and culturally sensitive approach is essential for accurate diagnosis and effective management.
Infeksi pada Lanjut Usia: Epidemiologi, Risiko, dan Pendekatan Klinis Safitri Indah Masithah; Muhammad Rifqo Hafidzudin Farid; Tri Pudy Asmarawati; Erika Marfiani; Andi Ratna Kartika Maharani; Nabilah Nabilah; Dananti Kusumawindani
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 5 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i5.5811

Abstract

Infeksi merupakan penyebab utama morbiditas, mortalitas, dan rawat inap pada populasi lanjut usia. Peningkatan usia harapan hidup menyebabkan proporsi individu ?65 tahun dengan multimorbiditas dan kerentanan terhadap infeksi semakin tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif epidemiologi, faktor risiko, patofisiologi, manifestasi klinis, serta pendekatan diagnosis, tatalaksana, dan pencegahan infeksi pada pasien geriatri. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah berbagai publikasi ilmiah terkait infeksi pada lanjut usia di berbagai setting pelayanan kesehatan, termasuk komunitas, rumah sakit, dan fasilitas perawatan jangka panjang. Hasil kajian menunjukkan bahwa infeksi yang paling umum pada lanjut usia meliputi pneumonia, infeksi saluran kemih, sepsis, serta infeksi kulit dan jaringan lunak. Faktor risiko utama mencakup imunosenesens, inflamaging, malnutrisi, frailty, komorbiditas kronik, serta paparan lingkungan medis seperti penggunaan alat invasif dan antibiotik spektrum luas. Manifestasi klinis sering bersifat atipikal sehingga berpotensi menyebabkan keterlambatan diagnosis. Tatalaksana memerlukan pendekatan individual dengan mempertimbangkan perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik pada lanjut usia, serta pentingnya antimicrobial stewardship. Kesimpulannya, infeksi pada geriatri merupakan kondisi kompleks yang memerlukan pendekatan multidisiplin, deteksi dini, serta strategi pencegahan yang komprehensif guna menurunkan beban penyakit dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Keterbatasan Situational Crisis Communication Theory dalam Krisis Isu Sensitif: Analisis Kasus Xpose Uncensored Trans7 Sintya Chalifia Azizah
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 5 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i5.5812

Abstract

Penelitian ini menganalisis keterbatasan Situational Crisis Communication Theory (SCCT) dalam menjelaskan respons organisasi terhadap krisis berbasis nilai. Fokus penelitian adalah kasus program Xpose Uncensored TRANS7 yang memicu kritik publik karena dianggap menyinggung nilai keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesenjangan antara prediksi teoritis SCCT dan praktik komunikasi krisis di lapangan, serta merumuskan perluasan teori yang lebih sensitif terhadap dimensi etika, budaya, dan identitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus melalui analisis dokumen berupa pemberitaan media dan pernyataan resmi organisasi, yang dianalisis secara interpretatif dengan kerangka SCCT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons TRANS7 mencerminkan strategi rebuild melalui permintaan maaf dan klarifikasi. Namun, respons tersebut belum mampu memenuhi ekspektasi publik. SCCT cenderung berfokus pada perlindungan reputasi sehingga kurang sensitif terhadap dimensi etika, identitas, dan budaya. Penelitian ini menegaskan bahwa komunikasi krisis berbasis nilai tidak hanya bergantung pada atribusi tanggung jawab. Organisasi juga perlu mengintegrasikan empati dan sensitivitas nilai dalam responsnya. Oleh karena itu, SCCT perlu dilengkapi dengan perspektif berbasis nilai agar lebih relevan dalam konteks krisis yang melibatkan isu sosial dan keagamaan.
Synergy of Collaborative Governance and Penta Helix in Community-Based Waste Management: Evidence from the Pesan Pede Program in Celuk Village I Gusti Ayu Rima Cahyaniti; Ida Bagus Teddy Prianthara
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 5 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i5.5814

Abstract

This research examines the synergy between collaborative governance and the penta helix approach in community-based waste management through the Pesan Pede Program in Celuk Village, Sukawati District, Gianyar Regency, Bali. Waste management remains a complex public issue, often constrained by top-down approaches that fail to fully engage communities. This research employs a qualitative descriptive method, with data collected through in-depth interviews, field observations, and documentation. The data were analyzed using an interactive model involving data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that collaborative governance operates effectively through continuous dialogue, trust-building, shared commitment, and mutual understanding among stakeholders. The penta helix framework demonstrates that the community acts as the core actor, while the government serves as a facilitator, academics contribute knowledge, the private sector supports economic activities, and the media enhances public awareness and legitimacy. The integration of these two approaches produces a sustainable, community-driven waste management system rooted in local socio-cultural values. The study highlights that effective waste management is not solely determined by formal policies or technological solutions, but by the ability to integrate collaborative processes with local cultural dynamics. This research proposes an embedded collaborative governance model based on a community-driven penta helix, offering both theoretical and practical contributions to public administration studies.
Profesionalisme Birokrasi dan Integritas Pemilu: Analisis Kapasitas AMO Birokrasi Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia Atik Arfan; Sri Budi Eko Wardani
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 5 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i5.5815

Abstract

Keberhasilan pemilu dalam demokrasi kontemporer tidak hanya ditentukan oleh desain formal lembaga penyelenggara, tetapi juga oleh kapasitas internal birokrasi yang menopangnya. Penelitian ini menganalisis kapasitas birokrasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia menggunakan kerangka AMO (Ability, Motivation, Opportunity) untuk mengidentifikasi akar persoalan profesionalisme birokrasi pemilu. Menggunakan pendekatan kualitatif yang memadukan analisis dokumen, data kelembagaan KPU, dan wawancara mendalam dengan tujuh informan kunci mencakup pejabat KPU RI, mantan komisioner, dan pejabat Kementerian PANRB. Temuan menunjukkan bahwa ketiga dimensi AMO birokrasi KPU menghadapi defisit yang signifikan: kemampuan (ability) terhambat oleh sistem rekrutmen yang belum sepenuhnya berbasis kompetensi kepemiluan dan minimnya pelatihan teknis; motivasi (motivation) lemah akibat ketiadaan jalur karier kepemiluan yang jelas dan berkeadilan; serta kesempatan (opportunity) terbatas karena struktur organisasi yang timpang, pola penganggaran yang tergantung siklus pemilu, dan kerentanan terhadap politisasi jabatan strategis. Indonesia hanya mencapai skor PEI 47,16 dan berada di peringkat 110 dari 170 negara, jauh di bawah Korea Selatan (76,5), Kanada (81,2), dan Finlandia (82,9). Suatu kesenjangan yang salah satunya berakar pada defisit kapasitas AMO birokrasi pemilu. Artikel ini merekomendasikan pembangunan sistem karier kepemiluan berbasis merit, standardisasi pelatihan teknis melalui kolaborasi kelembagaan, serta penguatan akuntabilitas rekrutmen berbasis digital.
Analisis Persepsi Nelayan terhadap Penangkapan Ikan Terukur di Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus Bayu Eko Wibowo; Eni kamal; Suparno Suparno
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 5 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i5.5818

Abstract

Upaya menyeimbangkan eksploitasi ikan dengan kesehatan laut dilakukan pemerintah Indonesia melalui kebijakan Penangkapan Ikan Terukur (PIT) yang berbasis pada pembagian zona dan jatah tangkapan. Selain mengawasi pemanfaatan ikan agar tidak berlebihan, kebijakan ini juga menargetkan pemerataan ekonomi lokal. Penelitian ini mengevaluasi sejauh mana nelayan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bungus memahami dan menerima kebijakan PIT tersebut. Data dikumpulkan dari 74 nelayan di PPS Bungus menggunakan instrumen wawancara dan kuesioner dalam kerangka metode deskriptif. Untuk mengevaluasi persepsi mereka, digunakan skala Likert, sementara penentuan arah strategi manajemen perikanan dilakukan lewat analisis SWOT.  Berdasarkan hasil studi, mayoritas nelayan menilai kesiapan mereka melalui indikator ketersediaan alat tangkap, jumlah ikan di laut, penggunaan BBM, dan pemahaman regulasi. Walaupun mekanisme kuota dan pengawasan pemerintah disambut baik, kebijakan mengenai kewajiban transmitter dan perombakan sistem perizinan masih menghadapi hambatan berupa resistensi dari nelayan. Pentingnya keterlibatan nelayan secara partisipatif dalam implementasi PIT menjadi poin utama temuan ini, di mana pertimbangan terhadap situasi sosial-ekonomi serta peningkatan dukungan teknis dan sosialisasi sangat diperlukan. Pilihan strategi pengelolaan jatuh pada kategori agresif di Kuadran I, di mana fokus utamanya adalah penegakan regulasi untuk memaksimalkan sistem pengawasan berbasis teknologi dan perluasan sosialisasi. Pendekatan ini bertujuan agar kebijakan PIT di PPS Bungus berjalan efektif demi menjamin keberlanjutan sumber daya laut.
Analysis of Occupational Safety and Health (OSH) Risk Management in West Nusa Tenggara Province Using the HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment and Risk Control) and FMEA (Failure Mode and Effects Analysis) Methods Bambang Heru Suharyadi; Ngudiyono; Ida Ayu Oka Suwati Sideman
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 5 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i5.5819

Abstract

Due to the intensive use of labor, heavy equipment, and construction materials, construction projects pose high occupational safety and health (OSH) risks, raising the potential for workplace accidents and occupational diseases; therefore, this study aims to identify potential hazards and determine risk levels based on likelihood and severity using the HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control) and FMEA (Failure Mode and Effects Analysis) methods. Data were collected through field observations, questionnaires, and interviews on two construction projects in Mataram. Risk assessment was conducted using a 5×5 risk matrix by evaluating Likelihood (L) and Severity (S), while FMEA was applied to prioritize risks using the Risk Priority Number (RPN). The results indicate that out of 50 work activities analyzed, 28 activities (56%) were categorized as medium risk, 13 activities (26%) as high risk, 7 activities (14%) as extreme risk, and 2 activities (4%) as low risk. High and extreme risks were predominantly associated with structural work, heavy equipment operations, and work at heights, which have inherently higher hazard exposure. These findings demonstrate that construction projects have significant OSH risk levels that require systematic and continuous risk management. The application of HIRARC and FMEA methods provides a structured and comprehensive approach for hazard identification, risk evaluation, and prioritization. Furthermore, applying risk controls based on the hierarchy elimination, substitution, engineering, administration, and PPE is essential to reduce risks to acceptable levels. Continuous improvement through better supervision, regular training, and consistent PPE use is necessary for a safer, healthier, and more productive workplace.
Comprehensive Clinical and Pathological Analysis of Chondroblastic Osteosarcoma Masquerading as an Aneurysmal Bone Cyst in an Adolescent Patient: A Multidisciplinary Diagnostic Journey Belinda Azhari Siswanto; Bima Mahardika Aji; Istan I. Irsan; Satria P. Persada Isma; Dandy D. Adiwignyo; Eviana Norahmawati
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 5 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i5.5820

Abstract

Osteosarcoma is the most common primary malignant bone tumor, primarily affecting adolescents and young adults during periods of rapid skeletal growth. Chondroblastic osteosarcoma (COS) is a histological variant that poses a diagnostic challenge due to its extensive cartilaginous matrix, which can obscure the critical diagnostic feature: malignant osteoid production. This diagnostic complexity is further exacerbated when the tumor exhibits secondary aneurysmal bone cyst (ABC) changes, often leading to an initial misdiagnosis as a benign lesion. To analyze a case of chondroblastic osteosarcoma with secondary ABC changes, highlighting the importance of a multidisciplinary approach in diagnosing and managing high-grade bone tumors in adolescent patients. A case study of a 17-year-old male presenting with progressive pain and swelling in the right thigh. Diagnosis was confirmed through incisional biopsy, immunohistochemical profiling (positive for SATB2, P53, S100, and Osteocalcin), and MRI findings, which initially suggested an ABC. MRI findings indicated an aggressive bone tumor with fluid-fluid levels characteristic of ABC. However, after biopsy and immunohistochemical analysis, the final diagnosis was confirmed as high-grade chondroblastic osteosarcoma with secondary ABC changes. The patient underwent neoadjuvant MAP chemotherapy and limb-salvage surgery. This case underscores the importance of maintaining a high index of suspicion for malignancy in adolescent patients presenting with cystic bone lesions. A multidisciplinary approach involving clinical, radiological, and pathological correlation is crucial to prevent diagnostic delays and ensure the initiation of appropriate high-grade sarcoma therapy.
Design Teknis Pemanfaatan Pita Frekuensi Radio 2600 MHz untuk Implementasi 5G di Bali Berbasis Data Okupansi dan Simulasi Seamcat I Nyoman Suada; I Made Oka Widyantara; Nyoman Pramaita
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 5 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i5.5824

Abstract

Implementasi 5G di Bali menghadapi keterbatasan spektrum, sementara pita 2600 MHz belum dirilis karena kekhawatiran interferensi dengan layanan Fixed Satellite Service (FSS) dan belum adanya kajian teknis berbasis data riil. Penelitian ini bertujuan merumuskan desain teknis pemanfaatan pita 2600 MHz untuk mendukung kebutuhan data tinggi di kawasan pariwisata Bali serta mewujudkan visi smart island. Metode penelitian meliputi observasi monitoring spektrum langsung di lapangan menggunakan standar ITU-R SM.1880-2 untuk menganalisis okupansi riil, kemudian simulasi koeksistensi antara sistem 5G NR dan FSS menggunakan perangkat lunak SEAMCAT dengan metode Monte Carlo untuk memprediksi probabilitas interferensi dan menentukan parameter mitigasi. Hasil penelitian menunjukkan pita 2600 MHz di Bali teridentifikasi belum terduduki (clear). Pada skenario co-channel, diperlukan jarak proteksi 18 km untuk mencapai probabilitas interferensi (PI) 0%, sehingga secara teknis tidak layak. Sebaliknya, pada skenario kanal bersebelahan dengan guard band 20 MHz, koeksistensi layak dilakukan tanpa interferensi (PI=0%) pada jarak proteksi minimum 32 meter. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi data okupansi riil dari stasiun monitor Bali dengan simulasi SEAMCAT yang kontekstual untuk pita 2600 MHz, menghasilkan parameter jarak proteksi spesifik dan skema alokasi blok untuk tiga operator. Luaran penelitian ini berupa desain alokasi yang direkomendasikan menggunakan mode TDD pada band n41 untuk pemanfaatan bandwidth optimal 190 MHz, atau mode FDD pada band n7 dengan guard band untuk menjamin koeksistensi dengan layanan satelit, yang siap menjadi acuan teknis bagi regulator dan operator.

Filter by Year

2022 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 6 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 5 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 4 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 3 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 2 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 1 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian Vol. 4 No. 12 (2025): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian Vol. 4 No. 11 (2025): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian Vol. 4 No. 10 (2025): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian Vol. 4 No. 10 (2025): : JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian Vol. 4 No. 9 (2025): : JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian Vol. 4 No. 8 (2025): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian Vol. 4 No. 7 (2025): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian Vol. 4 No. 6 (2025): JURNAL LOCUS: Penelitian & Pengabdian Vol. 4 No. 5 (2025): JURNAL LOCUS: Penelitian & Pengabdian Vol. 4 No. 4 (2025): JURNAL LOCUS: Penelitian & Pengabdian Vol. 4 No. 3 (2025): JURNAL LOCUS: Penelitian & Pengabdian Vol. 4 No. 2 (2025): JURNAL LOCUS: Penelitian & Pengabdian Vol. 4 No. 1 (2025): JURNAL LOCUS: Penelitian & Pengabdian Vol. 3 No. 12 (2024): JURNAL LOCUS: Penelitian & Pengabdian Vol. 3 No. 11 (2024): JURNAL LOCUS: Penelitian & Pengabdian Vol. 3 No. 10 (2024): Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 3 No. 9 (2024): Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 3 No. 8 (2024): Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 3 No. 7 (2024): Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 3 No. 6 (2024): Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 3 No. 5 (2024): Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 3 No. 4 (2024): Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 3 No. 3 (2024): jurnal locus penelitian dan pengabdian Vol. 3 No. 2 (2024): jurnal locus penelitian dan pengabdian Vol. 3 No. 1 (2024): jurnal locus penelitian dan pengabdian Vol. 2 No. 12 (2023): jurnal locus penelitian dan pengabdian Vol. 2 No. 11 (2023): jurnal locus penelitian dan pengabdian Vol. 2 No. 10 (2023): jurnal locus penelitian dan pengabdian Vol. 2 No. 9 (2023): Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 2 No. 8 (2023): Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 2 No. 7 (2023): Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 2 No. 6 (2023): Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 2 No. 5 (2023): Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 2 No. 4 (2023): Journal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 2 No. 3 (2023): Journal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 2 No. 2 (2023): Journal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 2 No. 1 (2023): Journal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 1 No. 12 (2022): journal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 1 No. 11 (2022): Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 1 No. 10 (2022): Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 1 No. 9 (2022): Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 1 No. 8 (2022): Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 1 No. 7 (2022): Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 1 No. 6 (2022): Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 1 No. 5 (2022): Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 1 No. 4 (2022): Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian More Issue