cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan
ISSN : 28094042     EISSN : 28094034     DOI : https://doi.org/10.51878/knowledge.v2i2
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam smua disiplin ilmu yang berkaitan dengan hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh para guru, dosen, pakar, ilmuan praktisi dan umum.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 48 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 3 (2025)" : 48 Documents clear
ANALISIS PERSEPSI KONSULTAN PAJAK TERHADAP PELAPORAN PPN MELALUI CORETAX Komariyah, Fitri Nur; Widodo, Ulfa Puspa Wanti
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v5i3.6320

Abstract

This study aims to analyze tax consultants’ perceptions of the use of the Coretax system in the reporting of Value Added Tax (VAT). Coretax is part of a digital transformation initiative by the Directorate General of Taxes (DGT) to enhance the efficiency and accuracy of tax administration. Employing a qualitative descriptive approach, the study was conducted at Ferdian & Partners Tax Consulting Firm in Surabaya. Data were collected through in-depth interviews with tax consultants who have hands-on experience using the Coretax system. Thematic analysis was applied by referring to the Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) model, which includes five key dimensions: performance expectancy, effort expectancy, social influence, facilitating conditions, and behavioral intention. The results indicate that Coretax is generally perceived positively, as it offers convenience, efficiency, and improved accuracy in VAT reporting. However, technical challenges such as unstable servers, limited features, and insufficient technical support from the DGT remain significant obstacles. These findings highlight the importance of enhancing system reliability and support policies to ensure broader acceptance and optimal implementation of Coretax in the tax compliance process. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi konsultan pajak terhadap penggunaan sistem Coretax dalam pelaporan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Sistem Coretax merupakan bagian dari transformasi digital yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi administrasi perpajakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan dilaksanakan di salah satu Kantor Konsultan Pajak. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap konsultan pajak yang telah menggunakan Coretax secara langsung. Analisis data dilakukan secara tematik dengan mengacu pada model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT), yang mencakup lima dimensi utama: performance expectancy, effort expectancy, social influence, facilitating conditions, dan behavioral intention. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum Coretax dipandang positif karena memberikan kemudahan, efisiensi, dan peningkatan akurasi dalam pelaporan PPN. Namun, tantangan teknis seperti gangguan server, keterbatasan fitur, dan minimnya dukungan teknis dari DJP masih menjadi hambatan utama. Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan kualitas sistem dan dukungan kebijakan agar implementasi Coretax dapat berjalan optimal dan diterima secara luas oleh para pelaksana pajak.
STRATEGI PENINGKATAN KOLABORASI TNI AL DAN TNI AD DALAM MITIGASI BENCANA BANJIR UNTUK MENDUKUNG OMSP Nurochim, Nurochim
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v5i3.6321

Abstract

Bandung City faces a high risk of flooding due to its geographical conditions, poor drainage systems, river sedimentation, and low public awareness of environmental preservation. In this context, the role of the Indonesian National Armed Forces (TNI), particularly the synergy between Lanal Bandung (Navy) and Kodim 0618/BS (Army), is crucial in disaster mitigation efforts. This study aims to formulate strategies to strengthen cooperation between the two units in flood mitigation. A qualitative descriptive method was employed with 21 participants, using literature review, field observation, and in-depth interviews with TNI personnel and relevant stakeholders. The analysis was based on the theories of cooperation, synergy, and social systems. The findings indicate that synergy can be enhanced through clear role distribution, improved coordination mechanisms, regular joint exercises, and the use of information technology to accelerate response. The novelty of this study lies in the development of an integrated strategy model that combines operational, structural, and community education aspects to overcome sectoral ego between units. The study concludes that integrated collaboration not only strengthens TNI preparedness in flood mitigation but also improves community resilience in urban areas. This strategy model provides practical contributions to cross-sectoral cooperation and serves as a reference for disaster management in other regions. ABSTRAKKota Bandung memiliki kerentanan tinggi terhadap banjir yang dipicu oleh kondisi geografis, buruknya sistem drainase, sedimentasi sungai, serta perilaku masyarakat yang kurang peduli lingkungan. Dalam konteks ini, peran TNI, khususnya sinergi antara Lanal Bandung (TNI AL) dan Kodim 0618/BS (TNI AD), menjadi krusial untuk mendukung mitigasi bencana. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi penguatan kerjasama kedua satuan dalam penanggulangan banjir. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan melibatkan 21 partisipan melalui studi literatur, observasi lapangan, dan wawancara mendalam dengan personel TNI serta pemangku kepentingan terkait. Analisis dilakukan dengan menggunakan kerangka teori kerjasama, sinergitas, dan sistem sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinergi dapat ditingkatkan melalui pembagian peran yang jelas, penguatan mekanisme koordinasi, latihan bersama secara rutin, serta pemanfaatan teknologi informasi untuk mempercepat respons. Temuan utama penelitian ini adalah model strategi terpadu yang menggabungkan aspek operasional, struktural, dan edukasi masyarakat, sehingga mampu mengatasi ego sektoral antar satuan. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa kolaborasi yang terintegrasi tidak hanya memperkuat kesiapsiagaan TNI dalam mitigasi banjir, tetapi juga meningkatkan ketahanan masyarakat perkotaan. Model strategi ini memberikan kontribusi praktis bagi peningkatan kerjasama lintas sektoral serta referensi bagi pengelolaan bencana di wilayah lain.
EVALUASI PELAKSANAAN KREDENSIAL TENAGA KESEHATAN KEPERAWATAN DALAM PENETAPAN KEWENANGAN KLINIS PUSKESMAS KOTA DEPOK TAHUN 2025 Silaen, Mindo
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v5i3.6399

Abstract

Credentialing of healthcare personnel is a vital mechanism for ensuring service quality at community health centers (Puskesmas). Through document verification, competency assessment, and assignment of clinical authority, credentialing ensures that healthcare workers perform within their professional scope. However, its implementation still encounters structural and technical challenges. This study aims to evaluate the implementation of credentialing for nursing personnel in determining clinical authority at Puskesmas in Depok City, using the input–process–product (IPP) evaluation model and the 5M framework (Man, Money, Machine, Material, Method). This research employed a qualitative descriptive approach with a naturalistic study design. Data were collected through in-depth interviews, observation, and document review involving 14 informants from the Health Office and various Puskesmas. Data analysis followed the interactive model of Miles & Huberman. Credentialing has been carried out in accordance with procedures, although not yet optimally across all components. The input phase revealed the readiness of human resources and supporting documents, but gaps remain in understanding clinical authority. The process was systematic but lacked direct observation and adequate feedback mechanisms. The product showed positive impacts on service quality and professionalism, though quantitative measurements were limited. Credentialing serves as both a quality management strategy and a tool for strengthening human resource governance. Credentialing is a strategic instrument to ensure healthcare service quality and professional accountability, whose effectiveness depends on system support, human resources, regulations, and continuous capacity building. ABSTRAKKredensial tenaga kesehatan merupakan mekanisme penting dalam menjamin mutu pelayanan di Puskesmas. Melalui verifikasi dokumen, asesmen kompetensi, dan penetapan kewenangan klinis, kredensial memastikan bahwa tenaga kesehatan menjalankan praktik sesuai kapasitas profesionalnya. Namun, implementasinya masih menghadapi kendala struktural dan teknis. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelaksanaan kredensial tenaga kesehatan keperawatan dalam penetapan kewenangan klinis di Puskesmas Kota Depok, dengan menggunakan pendekatan evaluasi input–proses–produk (IPP) dan kerangka kerja 5M (Man, Money, Machine, Material, Method). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi naturalistik. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen terhadap 14 informan dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas. Analisis dilakukan dengan metode interaktif Miles & Huberman. Pelaksanaan kredensial telah sesuai prosedur, meskipun belum optimal di seluruh aspek. Input menunjukkan kesiapan SDM dan dokumen pendukung, namun belum merata dalam pemahaman kewenangan klinis. Proses kredensial sudah sistematis, tetapi kurang dalam observasi langsung dan umpan balik. Produk menunjukkan dampak positif terhadap mutu layanan dan profesionalisme, meski belum terukur secara kuantitatif. Kredensial berperan sebagai strategi manajemen mutu dan penguatan tata kelola SDM kesehatan. Kredensial merupakan instrumen strategis dalam menjamin mutu layanan dan profesionalisme tenaga kesehatan, yang efektivitasnya bergantung pada sistem, SDM, regulasi, dan pembinaan berkelanjutan.
HIRARKI MOTIVASI MENIKAH DALAM ISLAM DITINJAU DARI MAQASHID SYARI’AH Ahmad, Afrizal
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v5i3.6536

Abstract

ABSTRACT This study aims to examine the motivations for marriage in Islam using the perspective of Maqashid Syariah and to compare them with Maslow’s Hierarchy of Needs Theory.The fundamental difference between the two theories lies in their orientation and theoretical foundations. The Maqashid Syariah framework is derived from Islamic texts (nash) and considerations of maslahah (benefit) from a Sharia perspective, while Maslow’s theory is based on the psychological analysis of human needs without incorporating religious elements. This research is a library study employing content analysis methods on literature related to Islamic jurisprudence on marriage (fiqh al-zawaj), principles of Islamic law (usul al-fiqh), and motivational theory. The findings indicate that marriage motivations according to Maqashid Syariah can be categorized into three levels of benefit: Dharuriyyat (essentials), Hajiyyat (complementary needs), and Tahsiniyyat (refinements). Motivations under dharuriyyat include the preservation of religion (hifz al-din), honor (hifz al-‘a’radh), emotional well-being (hifz al-qalb), life (hifz al-nafs), lineage (hifz al-nasl), intellect (hifz al-‘aql), and wealth (hifz al-mal). Hajiyyat motivations pertain to the fulfillment of sexual and health-related needs, while tahsiniyyat motivations relate to aspects of refinement, such as virginity, chastity, and physical appearance. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji motivasi pernikahan dalam Islam dengan menggunakan perspektif Maqashid Syariah serta membandingkannya dengan Teori Motivasi Maslow. Perbedaan mendasar antara kedua teori tersebut terletak pada orientasi dan sumber teori. Teori Maqashid Syariah disusun berdasarkan nash dan pertimbangan maslahat dari perspektif syariat, sedangkan Teori Maslow berangkat dari analisis kebutuhan manusia secara psikologis tanpa memasukkan unsur keagamaan. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan dengan metode analisis isi terhadap literatur-literatur fiqh pernikahan, ushul fiqh, dan teori motivasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi menikah menurut Maqashid Syariah dapat dikategorikan ke dalam tiga hierarki maslahat: dharuriyyat, hajiyyat, dan tahsiniyyat. Motivasi dharuriyyat meliputi pemeliharaan agama (hifz al-din), kehormatan (hifz al-‘a’radh), hati (hifz al-qalb), jiwa (hifz al-nafs), keturunan (hifz al-nasl), akal (hifz al-‘aql), dan harta (hifz al-mal). Motivasi hajiyyat terkait pemenuhan kebutuhan seksual dan kesehatan, sedangkan motivasi tahsiniyyat berkaitan dengan faktor kesempurnaan seperti keperawanan, keperjakaan, dan penampilan fisik.
ANALISIS KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PASIEN RAWAT INAP RSDH CIANJUR Pebriani, Henni; Khoerunnisa, Yulia; Zainuri, Zainuri
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v5i3.6688

Abstract

The standard of care plays a vital role in directly influencing how satisfied patients feel in healthcare settings. From early observations in the inpatient unit Dr. Hafiz Hospital (RSDH) Cianjur, several patient complaints were still noted regarding certain service aspects that were seen as lacking. This highlights the need for a thorough assessment and overall enhancement of care quality. Research employs a quantitative descriptive method through a survey approach. total 222 inpatients, selected through purposive sampling, took part in this study. Information was gathered using a structured questionnaire that had previously been tested for reliability and validity. Data collected were analyzed both descriptively and statistically using the chi-square test with the support of SPSS software version 27. Show that most participants perceived the service quality at the hospital to be favorable. In addition, a significant correlation was found between the level of care quality and patient satisfaction. These outcomes suggest that better service delivery is closely tied to higher levels of satisfaction among patients. Therefore, efforts to improve service quality are crucial for hospital management to foster patient trust and enhance their overall experience. Recommendations from the study include strengthening staff capabilities, refining service protocols, and conducting routine quality reviews.  ABSTRAKKualitas layanan merupakan komponen esensial yang secara langsung berdampak terhadap tingkat kepuasan pengguna di institusi layanan kesehatan. Berdasarkan observasi awal di ruang perawatan inap Rumah Sakit Dr. Hafiz (RSDH) Cianjur, masih ditemukan sejumlah keluhan dari pasien terkait beberapa aspek pelayanan yang dianggap belum maksimal, sehingga diperlukan peninjauan dan perbaikan kualitas secara menyeluruh. Penelitian ini memakai pendekatan deskriptif kuantitatif dengan teknik survei. Sebanyak 222 pasien rawat inap yang dipilih menggunakan metode purposive menjadi partisipan dalam studi ini. Pengumpulan informasi dilakukan melalui angket tertutup yang sebelumnya telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif dan inferensial dengan menggunakan uji chi-square melalui bantuan perangkat lunak SPSS versi 27. Temuan penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden menilai mutu pelayanan di rumah sakit tergolong baik. Selain itu, terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara mutu layanan dengan tingkat kepuasan pasien. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin baik kualitas pelayanan yang diberikan, maka tingkat kepuasan pengguna layanan akan semakin meningkat. Dengan demikian, peningkatan mutu layanan menjadi langkah strategis yang perlu diupayakan oleh pihak manajemen rumah sakit untuk menjaga kepercayaan dan memperkuat pengalaman positif pasien. Adapun saran yang diberikan meliputi penguatan kapasitas sumber daya manusia, penyempurnaan prosedur pelayanan, serta pelaksanaan evaluasi mutu secara berkala.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN VIRGIN COCONUT OIL – JAHE MERAH DENGAN METODE DPPH (1,1-DIFENIL-2-PIKRILHIDRAZIL) Rahmadani, Suci; Rahmanpiu, Rahmanpiu; Rahman, Abraham
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v5i3.6731

Abstract

Virgin Coconut Oil-Red Ginger (VCO-Red Ginger) is an oil extracted from a mixture of coconut milk and red ginger through fermentation, and it is believed that its antioxidant activity increases with the addition of red ginger. VCO is also known to have a drawback, namely that it easily becomes rancid. One way to overcome this problem is by adding natural antioxidants such as red ginger. The method used to measure the antioxidant activity of VCO-Red Ginger is the DPPH method. The objective of this study is to describe the antioxidant activity of VCO-Red Ginger. This study was conducted using the DPPH method (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazil). Where 4 mL of VCO -red ginger sample solution was added to 1 mL of DPPH solution in ethanol. The mixture was then shaken, stored for 30 minutes in the dark at room temperature, and its absorbance was measured at a wavelength of 517 nm using a UV-Vis spectrophotometer. The results of the study showed that the characteristics of VCO-red ginger with added DPPH solution were marked by a light yellow color and a strong aroma typical of red ginger. The color and aroma of red ginger in the oil from the coconut milk fermentation process with the addition of 250 g of finely ground red ginger indicated the presence of red ginger components, marked by a light yellow color that became increasingly intense. Based on IC50 analysis, the best antioxidant activity of VCO-Red Ginger was achieved an IC50 value 6378,504 ppm. ABSTRAK Virgin Coconut Oil-Jahe Merah (VCO-Jahe Merah) merupakan minyak hasil ekstraksi dari campuran santan kelapa dan jahe merah halus dengan cara fermentasi. Aktivitas antioksida VCO, dan minyak jahe bersifat sinergi atau antagonis ketika dicampurkan. Metode yang digunakan untuk mengukur aktivitas antioksida VCO-Jahe merah adalah metode DPPH. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan aktivitas antioksidan VCO-Jahe Merah. Penelitian ini dimulai dari ekstraksi minyak VCOjahe merah dengan metode fermentasi, minyak yang dihasilkan dipisahkan dan disaring menggunakan filter kapas. Hasilnya berupa VCO-jahe merah yang berwarna yellow magenta. Aktivitas antioksida VCO-jahe merah ditentukan dengan metode DPPH (1.1 – difenil-2-pikrihidrazil).  Di mana larutan sampel VCO-Jahe merah sebanyak 4 mL ditambahkan dalam etanol pada 1 mL larutan DPPH dalam etanol, campuran tersebut kemudian dikocok, disimpan selama 30 menit dalam keadaan gelap pada suhu kamar, kemudian diukur absorbansinya pada panjang gelombang 517 nm dengan spektrofotmeter UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik VCO-Jahe Merah yang telah ditambahkan larutan DPPH ditandai dengan tingkat kecerahan warna kuning muda dan kuat aroma khas jahe merah yang ditimbulkan. Warna dan aroma jahe merah pada minyak dari proses fermentasi santan dengan penambahan jahe merah halus sebesar 250 g menunjukkan adanya komponen jahe merah yang ditandai dengan warna kuning muda yang semakin pekat. Berdasarkan analisis IC50 VCO-Jahe Merah dengan aktivitas antioksidan VCO-Jahe dengan IC50 6378,504 ppm.
ANALISIS CEMARAN BAKTERI COLIFORM PADA JAJANAN SEKITAR KAMPUS UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR Damayanti, Putri; Muhiddin, Nurhayani H.; U, Sahrani
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v5i3.6740

Abstract

ABSTRACT The safety of street food around university campuses is a growing concern due to potential contamination by pathogenic microorganisms, particularly coliform bacteria. This study aimed to evaluate the microbiological quality of popular street foods consumed by students around Universitas Negeri Makassar using the Total Plate Count (TPC) and Most Probable Number (MPN) methods. Six food samples were collected purposively and tested in the Science Education Laboratory at UNM in April 2025. TPC method was applied to determine the total number of microorganisms, while MPN method was applied to detect coliforms through presumptive, confirmed, and completed tests. TPC results showed that 4 out of 6 samples (66.66%) exceeded the maximum limit set by Indonesian National Standard (SNI 7388:2019), indicating potential food safety risks. The MPN test revealed that 5 of 6 samples tested positive for coliforms, with values ranging from 460 to >1100 MPN/gram, far above the acceptable limit of ?3 MPN/gram. Confirmation tests using Eosin Methylene Blue Agar identified Escherichia coli with metallic green sheen colonies in 2 samples, and Enterobacter spp. in 3 samples with purple colonies. Gram staining results confirmed all isolates were Gram-negative rods, consistent with coliform characteristics. These findings indicate a significant risk of microbiological contamination in street foods commonly consumed around the campus. The presence of fecal indicator bacteria such as E. coli reflects poor hygiene in food handling and environmental sanitation. Strengthening food safety education among food vendors and regular monitoring by relevant authorities is essential to protect public health, especially in academic settings. ABSTRAK Keamanan jajanan siap saji di sekitar lingkungan kampus menjadi perhatian serius karena potensi kontaminasi mikroorganisme patogen, khususnya bakteri coliform. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas mikrobiologis jajanan populer yang dikonsumsi oleh mahasiswa di sekitar Kampus Universitas Negeri Makassar dengan menggunakan metode Total Plate Count (TPC) dan Most Probable Number (MPN). Sebanyak enam sampel makanan dikumpulkan secara purposif dan diuji di Laboratorium Pendidikan IPA UNM pada April 2025. Metode TPC digunakan untuk menentukan jumlah total mikroorganisme, sedangkan metode MPN digunakan untuk mendeteksi keberadaan coliform melalui uji presumtif, konfirmasi, dan uji pelengkap. Hasil TPC menunjukkan bahwa 4 dari 6 sampel (66,66%) melebihi batas maksimum yang ditetapkan oleh Standar Nasional Indonesia (SNI 7388:2019), yang mengindikasikan risiko terhadap keamanan pangan. Uji MPN menunjukkan bahwa 5 dari 6 sampel positif mengandung coliform, dengan nilai berkisar antara 460 hingga >1100 MPN/gram, jauh melebihi batas aman ?3 MPN/gram. Uji konfirmasi menggunakan media Eosin Methylene Blue Agar (EMBA) menunjukkan adanya Escherichia coli dengan koloni berwarna hijau metalik pada 2 sampel, serta Enterobacter spp. dengan koloni ungu pada 3 sampel lainnya. Uji pewarnaan Gram menunjukkan bahwa semua isolat merupakan bakteri Gram-negatif berbentuk batang, sesuai karakteristik coliform. Temuan ini menunjukkan adanya risiko tinggi kontaminasi mikrobiologis pada jajanan yang umum dikonsumsi di sekitar kampus. Kehadiran bakteri indikator fekal seperti E. coli mencerminkan buruknya sanitasi dan penanganan makanan. Diperlukan edukasi keamanan pangan kepada pedagang serta pengawasan rutin dari pihak terkait untuk melindungi kesehatan masyarakat, khususnya civitas akademika.
EVALUASI RADIASI HAMBUR PADA PHANTOM THORAX DENGAN TEKNIK HIGH kV Putri, Alung Mutiara Hidayatika; Astari, Fisnandya Meita; Mukmin, Amril
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v5i3.6761

Abstract

The high kV technique used in chest radiology aims to minimize the radiation exposure to the patient. However, the use of high kV usually involves a reduction in mAs to decrease the radiation dosage absorbed by the patient. In this case, the photon number decreases with higher kV, resulting in the total scattered radiation not consistently increasing proportionately. This study aims to determine the amount of scattered radiation generated during chest radiography tests utilizing high kilovolt (kV) settings. This research employed a quantitative experimental methodology. The subject of investigation was a thoracic phantom. The utilized exposure factors were 70 kV at 25 mAs, 80 kV at 12.5 mAs, 90 kV at 6.30 mAs, 86 kV at 4 mAs, and 65 kV at 16 mAs. Data analyses were conducted utilizing the Shapiro-Wilk normality test, descriptive statistical methods, and bivariate R regression values. The test findings indicated that the maximum scattered radiation value was recorded at 80 kV and 12.5 mAs, with an average 4.297 mSv. The minimum value was recorded at 86 kV and 4 mAs, totaling 1,458. The coefficient of determination demonstrates a strong relationship between exposure factors and scattered radiation, ranging from 65% to 69%. Increasing kV while decreasing mAs helps reduce scattered radiation. KV 86 and mAs 4 were identified as the most effective parameters for minimizing scattered radiation, making them an optimal selection for high-kV chest radiography, ensuring safety for both the environment and the patient. ABSTRAKTeknik high kV pada pemeriksaan radiologi thorax bertujuan untuk mengurangi dosis radiasi pada pasien, namun penggunaan high kV biasanya disertai dengan penurunan mAs untuk mengurangi dosis radiasi hambur tidak selalu meningkat secara langsung. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi besarnya radiasi hambur yang dihasilkan pada pemeriksaan radiologi thorax menggunakan high kV. Penelitian ini menggunakan penilitian kuantitatif dengan pendekatan eksperimen. Objek penelitian berupa phantom thorax. Variasi faktor eksposi yang digunakan adalah 70kV 25 mAs, 80 kV 12,5 mAs, 90 kV 6,30 mAs, 86 kV 4 mAs, dan 65 kV 16 mAs. Hasil pengukuran, data dilakukan uji normalitas sig. Shapiro wilk, uji descriptive statistic dan análisis bivariat uji regresi. Dari hasil pengujian yang dilakukan, telah didapatkan nilai radiasi hambur tertinggi diperoleh pada kV 80 dan mAs 12,5 dengan rata-rata 4,297 mSv, sedangkan nilai terendah pada kV 86 dan mAs 4 yaitu 1,458. Nilai koefisien determinasi menunjukan hubungan kuat antara faktor eksposi dan radiasi hambur sebesar 65%-69%. Peningkatan kV yang disertai penurunan mAs dapat menurunkan radiasi hambur. Pada kV 86 dan mAs 4 dinilai paling efektif menghasilkan nilai radiasi hambur yang rendah, sehingga dapat menjadi pilihan optimal untuk penerapan pemeriksaan radiografi thorax  dengan tekni high kV yang aman bagi lingkungan dan pasien.
STUDI KASUS PROSEDUR PEMERIKSAAN RADIOGRAFI CLAVICULA PROYEKSI AP STRESS DENGAN KLINIS SUSPEK RUPTUR AC JOINT DI INSTALASI RADIOLOGI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH DELANGGU Maurani, Malika Yesha; Astari, Fisnandya Meita; Nasokha, Ildsa Maulidya Mar’athus
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v5i3.6768

Abstract

This study was motivated by the variation in load usage in radiographic examinations of the clavicle-acromioclavicular (AC) joint with stress projections, where the literature recommends a load of 3-5 kg, while practice at PKU Muhammadiyah Delanggu Hospital uses a load of 2 kg. This gap between theory and practice encourages an in-depth analysis of the techniques applied at the hospital. Therefore, this study focuses on describing the examination technique and uncovering the clinical reasons for using a load of 2 kg in cases of suspected AC joint rupture. This study used a case study method with a qualitative approach. Data collection was carried out through direct observation, interviews with three radiographers, one radiologist, and one referring physician, as well as documentation studies. The results showed that the examination procedure used bilateral Antero Posterior (AP) stress projections with a load of 2 kg on each arm. The main reason for using a load of 2 kg was to stabilize the shoulder position to prevent movement, as well as to effectively compare the acromioclavicular joint gap between the right and left sides. It was concluded that the technique with a 2 kg load at PKU Muhammadiyah Delanggu Hospital was considered adequate to identify abnormalities such as dislocation or differences in joint space. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya variasi penggunaan beban dalam pemeriksaan radiografi clavicula acromioclavicular (AC) joint dengan proyeksi stress, di mana literatur merekomendasikan beban 3-5 kg, sementara praktik di RS PKU Muhammadiyah Delanggu menggunakan beban 2 kg. Kesenjangan antara teori dan praktik ini mendorong perlunya analisis mendalam terhadap teknik yang diterapkan di rumah sakit tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus untuk mendeskripsikan teknik pemeriksaan dan mengungkap alasan klinis penggunaan beban 2 kg pada kasus suspek ruptur AC joint. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, wawancara dengan tiga radiografer, satu dokter spesialis radiologi, dan satu dokter pengirim, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosedur pemeriksaan menggunakan proyeksi Antero Posterior (AP) stress bilateral dengan beban 2 kg pada masing-masing lengan. Alasan utama penggunaan beban 2 kg adalah untuk menstabilkan posisi bahu guna mencegah pergerakan, sekaligus untuk secara efektif membandingkan celah sendi acromioclavicular antara sisi kanan dan kiri. Disimpulkan bahwa teknik dengan beban 2 kg di RS PKU Muhammadiyah Delanggu dianggap memadai untuk mengidentifikasi adanya kelainan seperti dislokasi atau perbedaan celah sendi.
ANALISIS PERHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN (PPH) PASAL 21 DOKTER DI RUMAH SAKIT DR. HAFIZ CIANJUR Nurjanuarti, Ervi; Putri, Ananda Liana
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v5i3.6772

Abstract

In order to improve tax efficiency and fairness, the government often makes changes to the applicable tax rates. One such change was the policy introduced at the beginning of 2024 through PMK No. 168 of 2023, which implements the Average Effective Rate (TER). This regulatory change requires adjustments in the calculation of Income Tax (PPh) Article 21, especially for doctors. This study aims to understand the application of the PPh Article 21 calculation at Dr. Hafiz Hospital in Cianjur based on PMK No. 168 of 2023, as well as the impact of this calculation using the TER rate.The research method used is descriptive qualitative, with data collection techniques through triangulation, including observation, interviews, and documentation. The subjects of qualitative research are referred to as informants, which in this study consist of the Finance Staff, Finance Manager, and Tax Accountant. In addition, this study also involves 55 doctors practicing at Dr. Hafiz Hospital in Cianjur as respondents. The results show that Dr. Hafiz Hospital in Cianjur has applied the TER in the calculation of PPh Article 21 for doctors. This regulatory change has a significant impact on doctors, particularly because their income varies each month. With the calculation of PPh Article 21 based on PMK No. 168 of 2023, doctors may experience either overpayment or underpayment of taxes due at the end of the tax period. Consequently, doctors may have to pay a substantial amount of additional tax due or receive a tax refund when filing their annual tax returns. ABSTRAKDalam rangka meningkatkan efisiensi dan keadilan perpajakan, pemerintah seringkali melakukan perubahan terhadap tarif pajak yang berlaku, seperti yang dilakukan pada awal tahun 2024 dengan dikeluarkannya PMK No. 168 Tahun 2023 menggunakan Tarif Efektif Rata-rata atau TER. Dikarenakan adanya perubahan regulasai tersebut, maka diperlukan penyesuaian perhitungan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 terutama dokter. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penerapan perhitungan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 di Rumah Sakit Dr. Hafiz Cianjur menggunakan PMK No. 168 Tahun 2023 serta mengetahui dampak dari perhitungan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 menggunakan PMK No. 168 Tahun 2023 menggunakan Tarif Efektif Rata-rata atau TER. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi, yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Subjek penelitian dalam penelitian kualitatif disebut informan, informan dalam penelitian ini adalah Staf Keuangan, Manajer Keuangan dan Akuntan Pajak. Selain informan, responden dalam penelitian dilakukan terhadap 55 orang dokter yang praktik di Rumah Sakit Dr. Hafiz Cianjur. Hasil penelitian menunjukkan Rumah Sakit Dr. Hafiz Cianjur telah menggunakan Tarif Efektif Rata-rata atau TER dalam perhitungan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 Dokter. Perubahan regulasi ini berdampak besar bagi dokter, terutama karena penghasilan mereka yang bervariasi setiap bulan. Jika perhitungan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 menggunakan PMK No. 168 Tahun 2023, dokter dapat mengalami kelebihan atau kekurangan pembayaran pajak terutang pada akhir masa pajak. Akibatnya, dokter mungkin harus membayar tambahan pajak terutang yang cukup besar atau menerima pengembalian pajak saat pelaporan SPT tahunan.