cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan
ISSN : 28278240     EISSN : 28278070     DOI : https://doi.org/10.51878/healthy.v1i2
Core Subject :
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam disiplin ilmu yang berkaitan dengan Ilmu Kesehatan
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 1 (2025)" : 7 Documents clear
DINAMIKA KONFLIK PSIKODINAMIK, POLA ASUH, DAN STRESOR PSIKOSOSIAL PADA KASUS AGORAFOBIA PASARIBU, IMELDA LOREN M.; ARDANI, I GUSTI AYU INDAH; WARDANI, IDA AJU KUSUMA
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i4.4354

Abstract

This qualitative study utilizes a case study approach that combines observational and biographical studies. The subject is a 26-year-old Balinese woman with a high school education, unmarried, and self-employed. The patient was diagnosed with agoraphobia and panic disorder, reporting anxiety that arises in crowded places, public settings, while waiting in line, or when alone at home. She had experienced these symptoms for three years, with significant worsening in the five months before she visited the psychiatric clinic. This condition has subsequently limited her daily activities and work. The findings of this study indicate that the patient’s mental health disorder stems from complex internal conflicts involving the interplay of biopsychosocial and cultural factors. Ambivalent parenting styles, economic difficulties and prolonged parental relationship conflicts contribute to the patient’s mental health condition. If left unmanaged, these issues may lead to additional problems and stressors for both the patient and her family. Overall, this case underscores the importance of understanding psychodynamic conflicts rooted in parenting patterns, family environment, and psychosocial stressors in the diagnosis and treatment of agoraphobia. It enriches the clinical perspective in designing holistic therapeutic interventions. ABSTRAKPenelitian ini merupakan penelitian kualitatif melalui pendekatan studi kasus menggabungkan studi observasi dan studi biografi. Seorang perempuan 26 tahun, Bali, pendidikan SMA, belum menikah, wiraswasta. Pasien didiagnosa dengan agorafobia dengan gangguan panik, mengeluhkan cemas yang muncul ketika berada di keramaian, di tempat umum, sedang mengantri atau ketika di rumah sendirian. Hal ini sudah dialami selama 3 tahun ini dan memberat dalam 5 bulan sebelum datang ke poliklinik jiwa. Kondisi ini kemudian membatasi aktivitas dan pekerjaan pasien. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa gangguan jiwa yang dialami pasien merupakan akibat dari konflik internal yang kompleks, yang melibatkan interaksi faktor biopsikososiokultural. Pola asuh ambivalensi, masalah ekonomi, konflik hubungan orang tua yang berkepanjangan berperan dalam kondisi gangguan jiwa yang dialami pasien. Hal ini jika tidak dikelola dengan baik maka akan memunculkan masalah dan stresor baru bagi pasien dan keluarga. Secara keseluruhan, kasus ini menyoroti pentingnya pemahaman terhadap konflik psikodinamik, yang berakar pada pola asuh, lingkungan keluarga, dan stressor psikososial dalam diagnosis serta penanganan agorafobia. Hal ini memperkaya perspektif klinis dalam merancang intervensi terapeutik yang holistik.
GANGGUAN MOOD PADA ANAK DENGAN IBU KEPRIBADIAN AMBANG: LAPORAN KASUS NEGARA, NI WAYAN WIRAYANTI PUTRI; ARDANI, I GUSTI AYU INDAH; WINDIANI, I GUSTI AYU TRISNA; ADNYANA, I GUSTI AGUNG NGURAH SUGITHA
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i4.4355

Abstract

ABSTRACT Childhood is an important phase in personality formation, but it is often accompanied by psychological problems that affect child development. Child development is greatly influenced by various factors, including parenting patterns. Data in this case study were obtained through in-depth interviews, medical records and psychometric examinations and projection tests aimed at seeing how mood disorders in children who have mothers with borderline personality. The patient is a 9-year-old boy who shows symptoms of aggression, hallucinations, unstable moods, and feelings of emptiness and loneliness. The child in this case shows problems with emotional dysregulation due to inconsistent parenting and environmental stress. The patient's mother has a borderline personality characterized by difficulty controlling emotions, extreme mood swings, and unstable behavior, which negatively affects parenting patterns. Studies show that mothers with borderline personality tend to create unstable environments, increase the risk of insecure attachment in children, and affect their emotional regulation. This case study highlights the importance of understanding the relationship between parental personality disorders and parenting, and their impact on child development. Interventions in parenting and support for families at risk of psychopathology can be preventive steps to reduce the incidence of mood disorders in children. ABSTRAKMasa kanak-kanak adalah fase penting dalam pembentukan kepribadian, namun sering disertai masalah psikologis yang memengaruhi perkembangan anak. Perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya pola asuh orangtua. Data dalam studi kasus ini diperoleh melalui wawancara mendalam, catatan rekam medis dan pemeriksaan psikometri dan tes proyeksi yang bertujuan untuk melihat bagaimana gangguan mood pada anak yang memiliki ibu dengan kepribadian ambang. Pasien adalah anak laki-laki 9 tahun yang menunjukkan gejala agresivitas, halusinasi, mood yang tidak stabil, serta rasa hampa dan kesepian. Anak dalam kasus ini menunjukkan masalah disregulasi emosi akibat pola asuh yang tidak konsisten dan tekanan lingkungan. Ibu pasien memiliki kepribadian ambang yang ditandai dengan kesulitan mengendalikan emosi, perubahan suasana hati yang ekstrem, dan perilaku tidak stabil, yang memengaruhi pola pengasuhan secara negatif. Studi menunjukkan bahwa ibu dengan kepribadian ambang cenderung menciptakan lingkungan yang tidak stabil, meningkatkan risiko kelekatan yang tidak aman pada anak, dan memengaruhi regulasi emosinya. Studi kasus ini menyoroti pentingnya memahami hubungan antara gangguan kepribadian orang tua dan pengasuhan, serta dampaknya pada perkembangan anak. Intervensi pada pola asuh dan dukungan bagi keluarga dengan risiko psikopatologi dapat menjadi langkah preventif untuk menurunkan kejadian gangguan mood pada anak.
LAPORAN KASUS: PERAN KOLABORATIF PSIKIATRI DALAM TATALAKSANA GANGGUAN PSIKIATRIK PADA PENDERITA MIASTENIA GRAVIS KAPITA, RAMBU K. B. F.; WAHYUNI, A A SRI; DINIARI, N K SRI; ARYANI, L N ALIT; ARIMBAWA, I KOMANG
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i4.4356

Abstract

Myasthenia Gravis (MG) is an autoimmune disorder affecting the neuromuscular junction, leading to impaired muscle contraction that worsens with activity and improves with rest. It commonly affects bulbar and skeletal muscles, severely impairing the patient's ability to perform daily activities and requiring long-term therapy. The chronic nature of the disease can lead to psychiatric disorders, which may exacerbate MG symptoms, and vice versa. Psychiatric disorders in this context are not merely psychological responses to the disease but can also be biologically explained. This case report discusses the role of psychiatry in managing psychiatric disorders in MG patients, focusing on measurable therapy outcomes using the quality of life instrument MG-ADL (Myasthenia Gravis Activities of Daily Living), compared with psychiatric disorders such as depression and anxiety using the Beck Depression Inventory (BDI) and Beck Anxiety Inventory (BAI). The case involves a 31-year-old female patient with a severe MG crisis, presenting with psychiatric disorders such as depression and anxiety, which were managed through an integrated approach between psychiatry and medical MG management. The use of MG-ADL as a clinical measure showed significant improvement in the patient’s daily functioning following neurological interventions, including definitive MG therapy and psychiatric adjunctive care. Furthermore, BDI and BAI results indicated a significant reduction in scores, correlating with the improvement in MG condition, as monitored through MG-ADL. This case study highlights the importance of collaborative roles between psychiatry and other specialists in managing MG. This collaboration leads to better physical and psychological functioning. The implications of this case report strengthen the argument for a holistic approach to MG management, where psychiatric aspects should not be neglected in efforts to achieve optimal therapeutic outcomes. ABSTRAKMiastenia gravis merupakan gangguan autoimun pada neuromuscular junction menyebabkan gangguan kontraksi otot yang semakin parah dengan aktivitas dan membaik dengan istirahat, sering terjadi pada otot bulbar dan gerak, serta menyulitkan penderita dalam berbagai aspek aktivitas keseharian dan membutuhkan terapi jangka waktu lama. Kondisi penyakit kronis dapat menimbulkan suatu gangguan psikiatri dimana kehadirannya dapat memperparah kondisi MG demikian sebaliknya. Kehadiran Gangguan psikiatrik bukan sebagai suatu respon psikologik semata dalam menghadapi penyakit, melainkan dapat dijelaskan secara biologik. Laporan kasus ini mengulas peran psikiatri dalam manajemen gangguan psikiatri pada pasien MG, dengan fokus pada peningkatan hasil terapi yang terukur menggunakan kualitas hidup dengan instrument MG-ADL (Myasthenia Gravis Activities of Daily Living) dibandingkan dengan gangguan psikiatrik berupa depresi dan kecemasan menggunakan instrument BDI (Beck Depression Inventory) dan BAI (Beck Anxiety Inventory). Kasus melibatkan seorang pasien wanita 31 tahun, dengan krisis MG (gejala berat) yang mengalami gangguan psikiatri seperti depresi dan kecemasan, yang diatasi dengan pendekatan terintegrasi antara psikiatri dan manajemen medis MG. Penggunaan MG-ADL sebagai pengukur klinis menunjukkan perbaikan signifikan dalam fungsi harian pasien setelah intervensi neurologis yaitu terapi definitif MG dan adjuvan psikiatri dilakukan. Selain itu, hasil BDI dan BAI menunjukkan penurunan skor yang signifikan sejalan dengan perbaikan kondisi MG yang terpantau dengan MG-ADL. Studi kasus ini menyoroti pentingnya peran kolaboratif antara psikiatri dan spesialisi lainnya dalam menangani MG. Hal ini mengarah pada perbaikan fungsi fisik dan psikologis yang lebih baik. Implikasi dari laporan kasus ini memperkuat argumen untuk pendekatan holistik dalam manajemen pasien MG, di mana aspek psikiatri tidak boleh diabaikan dalam upaya mencapai hasil terapi yang optimal.
ASPEK SPIRITUAL DAN PENGGUNAAN ‘SPIRITUAL HEALTH ASSESSMENT SCALE’ DALAM RAWATAN HOSPICE: ARTICLE REVIEW JIMMY, JIMMY; ARIANI, NI KETUT PUTRI; SUTRISNA, I PUTU BELLY; LESMANA, COKORDA BAGUS JAYA; KURNIAWAN, LELY SETYAWATI; ARDANI, I GUSTI AYU INDAH
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i4.4357

Abstract

The goal of hospice care is to relieve patient’s physical, psychological, social, and spiritual stress who are nearing the end of life, thereby ultimately improving the quality of life because hospice care views humans from a holistic perspective. Spirituality is a dynamic and essential aspect of humanity that includes the search for highest meaning, purpose in life, transcendence and connection with oneself, family and others which is manifested in beliefs, values, traditions and practices. This has had a positive impact that includes spiritual well-being, quality of life, adaptation, physical and psychological health which ultimately meets the needs of patients and families in finding meaning and purpose in life, restoring relationships and love and being able to accept death and maintain hope and support a dignified death. Mean center and Dignitiy psychotherapy has been tested as a psychotherapy that focuses on the patient's meaning and dignity. Spirituality is a concept that is not limited to religion and is a key concept in the care of terminal illness. Therefore, spiritual care is an important element of hospice care that significantly influences the quality of all care provided. The spiritual care guidance and assessment model was developed as a care guide in the fundamental and spiritual aspects of human beings in hospice care. Spiritual Health Assessment Scale (SHAS) is a scale developed to assess spiritual health that is used for the entire community and is not based only on religion which contains 3 domains in the form of self-development, self-actualization and self-realization. ABSTRAKTujuan dari perawatan hospice adalah untuk meringankan tekanan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual pasien yang mendekati akhir hidup sehingga pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup karena rawatan hospice memandang manusia dari sudut pandang holistik. Spiritual adalah aspek dinamis dan essensial dari kemanusiaan yang mencakup pencarian makna tertinggi, tujuan hidup, transendensi dan hubungan dengan diri sendiri, keluarga dan orang lain yang terwujud dalam keyakinan, nilai, tradisi dan praktik. Hal ini telah memiliki dampak positif yang mencakup kesejahteraan spiritual, kualitas hidup, adaptasi, kesehatan fisik dan psikologis yang akhirnya memenuhi kebutuhan pasien dan keluarga dalam menemukan makna dan tujuan hidup, memulihkan hubungan dan cinta serta bisa menerima kematian dan mempertahankan harapan serta mendukung kematian yang bermartabat. Mean center and Dignitiy psychotherapy telah diuji sebagai psikoterapi yang berfokus pada makna dan martabat pasien. Spritual adalah konsep yang tidak terbatas pada agama dan konsep kunci dalam tanda penting dalam perawatan penyakit terminal. Oleh karena itu , perawatan spiritual merupakan elemen penting dari perawatan hospice yang secara signifikan mempengaruhi kualitas seluruh perawatan yang diberikan.Model panduan perawatan spiritual dan penilaian dikembangkan sebagai panduan perawatan dalam aspek fundamental dan spiritual manusia dalam perawatan hospice. Spiritual Health Assessment Scale (SHAS) merupakan skala yang dikembangkan untuk mengkaji kesehatan spiritual yang digunakan untuk seluruh masyarakat dan tidak berdasarkan hanya pada agama yang berisi 3 dormain berupa pengembangan diri, aktualisasi diri dan realisasi diri
HUBUNGAN SPIRITUAL WELL-BEING DENGAN GEJALA MENOPAUSE TULUS, ANGELINA; DARMAYASA, I MADE; ARIANI, NI KETUT PUTRI
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i4.4358

Abstract

Spirituality has become an essential part of human life, yet it still raises various questions regarding its relationship with health. Spiritual well-being indicates a person’s quality of life in terms of spiritual dimensions or serves as an indicator of an individual’s spiritual health. In 2016, 7.4% of women in Indonesia were menopausal, and by 2020, this was projected to reach 11.54%, with an average menopause age of 49 years. The Study of Women's Health Across the Nation in the United States found that menopause is associated with psychological stress. Approximately 28.9% experienced stress in early perimenopause, 20.9% during perimenopause, and 22% post-menopause. Menopause triggers physical and psychological symptoms, causing women to experience various complaints. Good spiritual well-being is associated with lower anxiety and depression and a higher quality of life. Spiritual Well-Being (SWB) arises from a state of spiritual health and manifests as overall well-being. SWB is an indication of a person’s quality of life in terms of spiritual dimensions or an indicator of their spiritual health. The spiritual element has a positive relationship with emotional responses. Spirituality affects the limbic and autonomic nervous systems, creating pleasant feelings and stimulating GABA and endorphins. Spiritual experiences can influence neurotransmitters in the brain, such as serotonin, dopamine, and oxytocin. Serotonin and dopamine are linked to feelings of happiness and satisfaction, while oxytocin is associated with empathy and social interaction. Menopause is defined as one year without menstruation due to a decrease in estrogen production. Although some women are asymptomatic, estrogen deficiency can cause hot flushes, sweating, insomnia, and vaginal dryness and discomfort in nearly 85% of menopausal women. This state is often referred to as the “change of life.” Spirituality has a significant relationship with the severity of menopause symptoms, including mood, cognition, vasomotor, and sexual symptoms. Spiritual well-being is related to menopausal symptoms. ABSTRAKSpiritualitas telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia, namun masih menimbulkan berbagai pertanyaan terkait hubungannya dengan kesehatan. Spiritual well-being atau kesejahteraan spiritual menjadi indikasi kualitas hidup seseorang dari segi dimensi spiritual atau indikasi dari kesehatan spiritual seseorang. Pada tahun 2016, di Indonesia terdapat 7,4% wanita menopause dari total populasi dan tahun 2020 diperkirakan mencapai 11,54% dengan usia rata-rata menopause 49 tahun. Hasil Study of Women’s Health Across the Nation di Amerika Serikat menunjukkan bahwa masa menopause berhubungan dengan tekanan psikologi. Sebanyak 28,9% mengalami stres diawal premenopause, 20,9% pada premenopause, dan sebanyak 22% pada post menopause. Menopause memunculkan gejala fisik maupun psikis yang membuat wanita mengalami berbagai macam keluhan. Kesejahteraan spiritual yang baik dikaitkan dengan kecemasan dan depresi yang lebih rendah, dan kualitas hidup yang lebih baik. Spiritual Well Being (SWB) adalah situasi yang muncul dari keadaan kesehatan spiritual dan tampak melalui kesehatan yang baik. SWB menjadi indikasi kualitas hidup seseorang dari dimensi spiritual atau indikasi dari kesehatan spiritual seseorang. Unsur spiritual memiliki hubungan positif terkait dengan respons emosional. Spiritualitas memengaruhi sistem limbik dan saraf otonom, sehingga menghasilkan suasana perasasan yang menyenangkan dan merangsang GABA dan endorfin. Pengalaman spiritual dapat memengaruhi neurotransmitter dalam otak seperti serotonin, dopamin, dan oksitosin. Serotonin dan dopamin terkait dengan perasaan bahagia dan kepuasan, sementara oksitosin terkait dengan empati dan interaksi sosial. Menopause didefinisikan sebagai satu tahun tanpa menstruasi dikarenakan semakin berkurangnya produksi estrogen. Meskipun beberapa perempuan asimtomatik, defisiensi estrogen dapat menyebabkan gejolak hot flushes, berkeringat, insomnia, kekeringan dan ketidaknyamanan pada vagina pada hampir 85% perempuan menopause. Keadaan ini sering disebut “change of life”. Spiritual memiliki hubungan signifikan pada keparahan menopause, yaitu dari gejala mood, kognisi, vasomotor dan seksual. Spiritual well-being memiliki hubungan dengan gejala menopause.
HUBUNGAN GAYA HIDUP DAN POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA MASYARAKAT TABANAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDIRI I PUSPAYANI, NI PUTU; WIDYANDARI, NI MADE AYU SUKMA; MAHARDIKA, I MADE RAI
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i1.4454

Abstract

Introduction: Hypertension is an increase in systolic blood pressure above 140 mmHg and diastolic blood pressure above 90 mmHg. Meanwhile, efforts to control high blood pressure are only carried out by one fifth of hypertension sufferers. Hypertension can be influenced by various factors, namely excessive consumption of sugar, salt and fat, lack of physical activity, excessive alcohol consumption, and stress. Method: This research design uses quantitative descriptive with cross-sectional approach. The total sample was 168 respondents using random sampling techniques. The data collection tool used was a questionnaire. Data analysis used the Chi-Square test. Results: lifestyle variables and eating patterns have a significant relationship with the incidence of hypertension, and lifestyle variables have a greater influence with a p value of 0.036 greater on the incidence of hypertension. Conclusion: lifestyle variables and eating patterns have a significant relationship with the incidence of hypertension (P-value 0.036: AOR 0.442). ABSTRAKPendahuluan: Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik diatas 140 mmHg dan tekanan darah diastolik diatas 90 mmHg. Sementara upaya pengendalian tekanan darah tinggi itu hanya dilakukan oleh seperlima penderita hipertensi. Hipertensi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu konsumsi gula, garam dan lemak berlebih, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol berlebihan, dan stress. Metode: Desain penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 168 responden menggunakan teknik random sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil: variabel gaya hidup dan pola makan memiliki hubungan signifikan terhadap kejadian hipertensi,dan variabel gaya hidup memiliki pengaruh lebih besar dengan nilai hasil p 0,036 lebih besar terhadap kejadian hipertensi. Simpulan: variabel gaya hidup dan pola makan memiliki hubungan signifikan terhadap kejadian hipertensi (P-value 0,036 : AOR 0,442).
TERAPI PERILAKU KOGNITIF PADA PASIEN LAKI-LAKI DENGAN GANGGUAN CEMAS MENYELURUH DENGAN SERANGAN PANIK: SEBUAH LAPORAN KASUS Putra, I Putu Risdianto Eka; Harianja, Sahat Hamonangan; Aryani, Luh Nyoman Alit; Yuanita, Savitri
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i1.4609

Abstract

Generalized Anxiety Disorder (GAD) with panic attacks is a debilitating condition that significantly disrupts daily functioning and quality of life. Cognitive Behavior Therapy (CBT) is an evidence-based intervention known to be effective in treating anxiety-related disorders. This study was a qualitative study with case study appoach using in-dept interview, presenting the treatment process and outcomes of a male patient diagnosed with GAD who frequently experiences panic attacks. The patient underwent structured CBT sessions focusing on cognitive restructuring, exposure techniques, and relaxation strategies. Throughout the treatment, the patient demonstrated a reduction in anxiety symptoms, decreased frequency of panic attacks, and improved coping mechanisms. These findings highlight the effectiveness of CBT in managing GAD with panic attacks and emphasize the importance of an individualized therapeutic approach. This case contributes to the growing body of evidence supporting CBT as a primary treatment modality for anxiety disorders. ABSTRAKGangguan cemas menyeluruh/ Generalized Anxiety Disorder  (GAD) dengan serangan panik adalah kondisi yang melemahkan dan secara signifikan mengganggu fungsi sehari-hari dan kualitas hidup. Terapi Perilaku Kognitif/Cognitive Behavior Therapy (CBT) adalah intervensi berbasis bukti yang dikenal efektif dalam mengobati gangguan terkait kecemasan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan metode wawancara mendalam yang menyajikan proses perawatan dan luaran dari seorang pasien laki-laki yang didiagnosis dengan GAD dan sering mengalami serangan panik. Pasien menjalani sesi CBT terstruktur yang berfokus pada restrukturisasi kognitif, teknik pemaparan, dan strategi relaksasi. Selama perawatan, pasien menunjukkan penurunan gejala kecemasan, penurunan frekuensi serangan panik, dan peningkatan mekanisme koping. Temuan ini menyoroti efektivitas CBT dalam mengelola GAD dengan serangan panik dan menekankan pentingnya pendekatan terapeutik yang individual. Kasus ini berkontribusi pada pengumpulan bukti yang berkembang yang mendukung CBT sebagai modalitas tatalaksana utama untuk gangguan cemas.

Page 1 of 1 | Total Record : 7