Articles
66 Documents
PERUBAHAN BENTUK RELASI DUKUN DAN MASYARAKAT DESA RANGGEH, KABUPATEN PASURUAN
Della Aura Novitasari
Kusa Lawa Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2021.001.02.07
Masyarakat Desa Ranggeh memiliki kepercayaan yang sangat dalam mengenai metode pengobatan bagi dirinya maupun keluarganya. Metode yang hingga saat ini dipakai ialah pengobatan tradisional kepada dukun atau orang pintar. Biasanya metode pengobatan ini selalu menjadi pilihan utama karena kepercayaan mereka telah menjadi budaya atau kebiasaan yang terus menerus dilakukan. Penyakit yang paling sering ditangani oleh dukun ini adalah penyakit non medis seperti disantet, diguna-guna, dan hal-hal yang dianggap masyarakat dokter tidak akan pernah bisa untuk menanganinya. Namun, dukun ini juga tidak hanya mengobati sakit non medis saja tapi juga medis seperti dukun beranak, bertugas untuk membantu perempuan melahirkan tetapi terkadang juga mengobati anak-anak yang terkena sakit batuk, pilek, atau panas dengan metode ramuan atau pijatan ditubuh. Penelitian ini menggunakan satu sudut pandang yang berbeda dengan penelitian lain yang serupa. Sudut pandang yang akan digunakan adalah teori interaksionalis simbolik. Teori interaksionalis simbolik merupakan interaksi manusia menggunakan simbol-simbol.
Kajian Semiotika Charles Sanders Pierce Karya Lukis Erica Hestu Wahyuni “Vacation in Prosperity Land”
Areel Nindan Ajeng
Kusa Lawa Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2021.001.01.06
Painting is a two-dimensional art consisting of lines, fields, shapes and colors. Painting works are made not without reason, artists create works often for expression as well as expressing ideas and creativity. In addition, there are many values contained in art. This article discusses the meanings contained in the painting “Vacation in Prosperity Land” by Erica Hestu Wahyuni. This work is a work that explains how happy the world of children is, which is not full of falsehoods. The review in this work was conducted to prove the correlation between visual and its meaning, so that it can become a medium of information. The results of the semiotic study in this painting show that there are visuals and color compositions that show that Erica has succeeded in elevating something complex into a simple thing.
MUSEUM BRAWIJAYA DAN LEGITIMASI KEKUASAAN MILITER
Andi Azmi
Kusa Lawa Vol 2, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2022.002.01.02
Museum Brawijaya dan Legitimasi Kekuasaan Militer. Museum biasanya hanya dilihat sebagai tempat untuk mengoleksi barang barang dari masa lalu dan sebagai tempat mengenang berbagai peristiwa sejarah yang pernah ada, terkadang museum diasumsikan sebagai tempat darmawisata (study tour) oleh sebagian orang. Letak sebuah museum biasanya berada di tengah kota dan dapat diakses dengan mudah, karena hal itulah terkadang museum juga menjadi sebuah simbol (landmark) sebuah kota. Berbicara mengenai permuseuman di Indonesia selalu identik dengan perjuangan para pahlawan dalam mendapatkan kemerdekaan atau melawan kolonialisme. Semenjak pemerintahan orde baru banyak sekali museum yang bertemakan militer lahir di tengah masyarakat. Kemunculan tema militer dalam permuseuman memang sudah tidak asing lagi karena pada pemerintahan presiden Soeharto militer menjadi andalan dalam pemerintahan negara ini. Museum pada masa pemerintahan tersebut sering digunakan sebagai penerapan ideologi, dan penanaman nilai-nilai kebangsaan. Dalam menelusuri Museum Brawijaya wacana yang muncul tentang kehadiran militer yang selalu dibutuhkan, konsolidasi keutuhan militer, dan cerita tentang musuh-musuh negara. Kehadiran militer yang selalu dibutuhkan terlihat jelas pada pameran koleksi di ruang pertama yang menceritakan perjuangan militer di Indonesia. Dalam upaya TNI menumpas pergolakan agresi militer Belanda pertama dan kedua di daerah Malang dan beberapa kota di Jawa Timur.
BENTUK DAN PERKEMBANGAN TOPENG PADA TARIAN HUDOQ DAYAK MODANG KALIMANTAN TIMUR
Nadya Pradita Hosensyah;
Fatmawati Fatmawati
Kusa Lawa Vol 2, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2022.002.01.03
Penelitian ini membahas salah satu warisan budaya suku Dayak yakni topeng tarian Hudoq dari komunitas suku Dayak Modang. Topeng Hudoq Dayak Modang memiliki latar belakang yang diangkat dari peristiwa kesejarahan kehidupan komunitas Modang pada masa lalu dimana tokoh sentral Helaeng Hebeung menjadi titik awal histori. Pada penelitian ini penulis memfokuskan pada potensi perkembangan dan perubahan topeng Hudoq Dayak Modang Kalimantan Timur yang dilihat dari nilai kesejarahan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian jenis kualitatif deskriptif. Dengan objek penelitian adalah topeng Hudoq Dayak Modang. Untuk menunjang penelitian, ada beberapa informasi tambahan melalui buku dan penelitian terdahulu. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah berupa tulisan dan lisan yang terdiri dari observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian ditemukan bahwa setiap topeng Hudoq memiliki perbedaan karakter bentuk yang dibedakan pada bagian mata, hidung, mulut dan warna. Bentuk topeng Hudoq didasari oleh pembagian asal roh yakni dasar sungai, hutan belantara, gunung-gunung, alam baka, perwakilan manusia dan penguasa alam serta air yang dimana perkembangan bentuk disesuaikan pada penyempurnaan bentuk topeng. Melihat bentuk dan perkembangan topeng Hudoq, ada beberapa potensi penambahan beberapa element yang dilihat oleh peneliti guna menyempurnakan bentuk dan menambah nilai keindahan topeng.
Ekspresi Organisasi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama pada Studi Kasus Pembangunan Masjid di Desa Godog, Lamongan
Nisa' Fahrun
Kusa Lawa Vol 2, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2022.002.02.05
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keragaman budaya yang sangat melimpah. Keragaman budaya di Indonesia terdiri dari suku bangsa, tradisi, budaya masyarakat dan lain sebagainya. Keragaman budaya terikat dalam berbagai macam bahasa, agama, ilmu pengetahuan, sistem sosial, kekerabatan, sistem politik dan ekonomi pada tingkat lokal. Banyak keragaman yang ada di Indonesia, tidak hanya budayanya saja mealinkan kondisi sosial masyarakatnya juga berbeda antara satu dengan yang lainnya. Namun, hal tersebut tidak membuat masyarakat Indonesia terpecah belah. Permasalahan atau konflik mungkin sudah biasa terjadi di dalam kehidupan bermasyarkat. Tetapi, hal tersebut tidak membuat masyarakat Indonesia terpecah belah antara satu dengan yang lainnya. Organisasi adalah wadah bagi kumpulan individu dengan tujuan dan kepentingan yang sama. Melalui organisasi seseorang mampu memperoleh kekuatan untuk merubah suatu kebijakan atau menggerakkan massa. Organisasi dan politik bukanlah suatu hal yang kotor, keduanya baik ketika digunakan untuk kepentingan bersama dan memperhatikan kebutuhan masyarakat tanpa ada niatan untuk memarginalkan suatu kelompok. Di dalam jurnal kali ini, penelitian yang dilakukan berjudul “Ekspresi Organisasi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama pada Studi Kasus Pembangunan Masjid di Desa Godog, Lamongan.”
Konstruksi Pernikahan Wanita Usia Muda Pada Masyarakat Desa Purwosono, Kabupaten Lumajang
Dewi Ariyanti Soffi
Kusa Lawa Vol 2, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2022.002.02.01
Pernikahan wanita usia muda menjadi fenomena yang umum di negara Indonesia, terutama pada daerah Tapal Kuda. Kabupaten Lumajang merupakan salah satu kabupaten yang termasuk dalam daerah Tapal Kuda dengan tingkat pernikahan wanita usia muda yang cukup tinggi. Pada tahun 2017 persentase perempuan Kabupaten Lumajang usia 10 tahun ke atas yang menikah di bawah umur atau kurang dari 17 tahun mencapai 31.45%. Penelitian ini dilakukan di Desa Purwosono, dengan fokus pada dua dusun yakni Dusun Karanganyar dan Dusun Darungan. Informan dalam penelitian ini yakni lima wanita usia muda yang menikah hingga usia 21 tahun. Hasil dari penelitian ini dianalisis melalui teori Konstruksi Sosial dari Peter L Berger dan Thomas Luckmann melalui metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian ini, pernikahan wanita usia muda dibawah 21 tahun diakibatkan oleh adanya konstruksi sosial dari pengaruh budaya (Jawa-Madura), pendidikan rendah hinga faktor agama. Oleh karena itu menjadi sebuah kebiasaan turun temurun. Hal ini diakibatkan oleh adanya proses internalisasi, objektivasi hingga eksternalisasi yang telah tertanam dari individu saat usia kanak-anak. Pernikahan usia muda yang terjadi di Desa Purwosono mengakibatkan beragam dampak sosial, seperti: KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) hingga perceraian. Namun ada juga pernikahan usia muda yang masih berjalan dengan lancar hingga saat ini, hal itu diakibatkan oleh adanya kedewasaan masing-masing individu dalam menghadapi permasalahan.
Metafor Bunga Mawar Merah Sebagai Ide Visual Penciptaan Karya Seni Lukis
Aziz Al Bilad
Kusa Lawa Vol 2, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2022.002.02.02
Bunga mawar identik dengan lambang cinta atau keromantisan. persoalan ide dan gagasan bunga mawar merupakan ungkapan rasa cinta penulis terhadap sosok wanita yang dikagumi. Penulis menginterprestasikan bunga mawar sebagai wanita yang dikagumi seperti bunga mawar yaitu indah, cantik, dan rupawan.Tema yang diangkat pada ide penciptaan merupakan metafor perumpamaan perasaan cinta penulis terhadap wanita yang dikagumi. Adanya metafor sebagai ide gagasan tugas akhir ini, penulis dapat bercerita tentang perumpamaan mengenai Alisha bersama Penulis. Cerita yang ingin disampaikan yaitu rasa yang tidak dapat disampaikan atau diwujudkan secara realita.Sebagai bentuk agar terealisasikan karya seni lukis yang diciptakan, Penulis menggunakan teknik drawing dan cat acrylic sebagai point of interest atau titik perhatian makna yang akan disampaikan. Karya visual berikut merupakan pada bagian Metafor bunga mawar digambarkan berwarna sedangkan bagian background atau objek pendukung lainnya menggunakan teknik drawing. Maka harapan penulis tentunya melalui ide dan gagasan metafor bunga mawar ini dapat memberi wawasan baru bagi apresiator. Kata Kunci: Bunga Mawar, Metafor, Seni Lukis
Peran Media Terhadap Pengembangan Eduwisata Sebagai Strategi Pariwisata (Studi Kasus: Kebun Pak Budi)
Atima Ni’matul Maghfiroh
Kusa Lawa Vol 2, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2022.002.02.03
Media memiliki peranan penting pada era digital. Media sosial utamanya sebagai salah satu wadah yang dapat memberikan trend yang masif yang dapat mempengaruhi pengembangan dunia parwisata. Objek fokus penulisan artikel ini diarahkan kajian media yang digunakan oleh wisata Kebun Pak Budi. Berangkat dari pertanyaan bagaimana pemanfaatan media dalam membangun inspirasi eduvacation pada wisata Kebun Pak Budi dalam industri pariwisata. Metode penelitian menggunakan Participatory Learning and Action yang di dalam tahapanya mengambil data primer dan sekunder. Data primer diambil dari hasil wawancara, sedangkan data sekunder didapatkan dari kajian pustaka dan analisis data. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini menunjukan media memiliki peranan penting pada pembentukan segmentasi pasar. Kebun Pak Budi sebagai wisata edukasi telah memiliki segmentasi tersendiri pada media dengan daya tarik fasilitas dan tempat yang disajikan. Media memiliki andil besar dalam perkembangan pariwisata sebagai wadah pemberian informasi serta dapat digunakan untuk menerima masukan dari pengunjung
Evolusi dan Devusi Kebudayaan dalam Dinasti Atut di Banten
Dede Nursaid
Kusa Lawa Vol 2, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2022.002.02.04
Ratu Atut dikenal sebagai perempuan hebat yang mampu memimpin provinsi baru pada tahun 2000 saat Banten melepaskan diri dari Jawa Barat dan membentuk provinsi baru. Secara tidak langsung Ia mampu membuka mata masyarakat luas dan menekankan bahwa perempuan pun bisa menjadi pemimpin. Tak hanya dalam ranah kecil saja, melainkan dalam ranah besar sekaligus. Hal ini jelas berkaitan dengan teori evolusi kebudayaan, bahwa pada zaman dahulu perempuan di beberapa adat dilarang untuk menjadi pemimpin. Dari hal tersebut dapat ditemukan dua pertanyaan yang menarik untuk didiskusikan dalam pembahasan. Pertama, yaitu seperti apa evolusi kebudayaan dari peran para perempuan dalam Dinasti Atut dalam sektor publik? Kedua yaitu bagaimana persebaran keluarga Ratu Atut dalam memimpin daerah-daerah yang ada di Banten? Dari kedua pertanyaan tersebut penulis membutuhkan banyak data untuk menjawab dengan akurat. Data-data tersebut menjadi sumber bagi penulis untuk mengaitkan antara evolusi kebudayaan dengan perjalanan karir perempuan dan difusi kebudayaan dengan persebaran Dinasti Atut. Dengan demikian, dalam pembahasan artikel ini perlu menyesuaikan kedua aspek yang berbeda ini.
Eksplorasi Budaya Lembata: Upaya Revitalisme Budaya sebagai Modal Sosial Pembangunan
Aileen Aileen;
Hipolitus Kristoforus Kewuel
Kusa Lawa Vol 2, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2022.002.02.06
Pembangunan fisik atau jasmani seringkali mendapat perhatian lebih dibandingkan pembangunan mental atau rohani. Padahal pembangunan mental atau rohani yang tidak dapat dilihat secara kasat mata memiliki peran penting dalam pembangunan sebagai fondasi utama. Pembangunan fisik tanpa fondasi dari pembangunan mental tidak jarang memunculkan persoalan. Pembangunan mental dapat dilakukan dengan menggunakan modal sosial karena dapat menyentuh manusia sebagai pelaku pembangunan. Modal sosial dalam masyarakat dapat ditemukan dengan menggali kembali kekuatan budaya, karena budaya telah hidup dan berkelindan di dalam masyarakat itu sendiri. Hal ini yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Lembata dengan membuat kegiatan Eksplorasi Budaya Lembata. Kegiatan ini bertujuan untuk menggali kembali nilai-nilai budaya dalam hidup masyarakat Lembata. Tulisan ini berupaya untuk melihat upaya revivalisme budaya yang dilakukan oleh masyarakat dalam kegiatan Eksplorasi Budaya Lembata dan hasil dari proses revivalisme budaya yang dapat diinterpretasi menjadi modal sosial pembangunan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik penulisan etnografi. Hasil dari penelitian yang dilakukan adalah masyarakat melakukan upaya revivalisme dengan menjalankan dan menghidupkan kembali ritual-ritual yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka. Ritual-ritual yang dijalankan oleh masyarakat memuat nilai-nilai yang berdasar pada pengalaman hidup mereka, sehingga setelah kegiatan Eksplorasi Budaya Lembata masyarakat bersama dengan akademisi dan pemerintah mengukuhkan nilai-nilai tersebut sebagai modal sosial pembangunan Kabupaten Lembata.