cover
Contact Name
Fitrahayunitisna
Contact Email
fitrahayunitisna@ub.ac.id
Phone
+6285777556060
Journal Mail Official
kusalawafibub@gmail.com
Editorial Address
Jalan Veteran, Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Kusa Lawa
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : 28278194     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.kusalawa
Jurnal ini mewadahi gagasan ilmiah dan publikasi hasil penelitian dari para ilmuwan, akademisi, maupun peneliti. Untuk itu jurnal ini terbuka dan menerima artikel ilmiah yang berupa hasil penelitian, gagasan ilmiah, dan penciptaan seni.
Articles 66 Documents
DIBALIK LAYAR EKSISTENSI KAMPUNG BUDAYA POLOWIJEN: PERAN AKTOR DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA PASCA PANDEMI Amalia, Fadhila; Zurinani, Siti
Kusa Lawa Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Kusa Lawa
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Malang, sebuah destinasi wisata di Jawa Timur dengan daya tarik khusus pada wisata kampung tematik, terutama Kampung Budaya Polowijen. Meskipun sukses dalam beberapa tahun terakhir, kampung ini dihadapkan pada tantangan pandemi COVID-19 yang mengubah kegiatan menjadi daring, menjadikannya destinasi e-tourism. Pasca pandemi, Kampung Budaya Polowijen berupaya beradaptasi kembali, memerlukan penyesuaian peran dan strategi aktor di baliknya. Penelitian ini mengeksplorasi peran dan strategi aktor dalam pengembangan pariwisata Kampung Budaya Polowijen pasca pandemi, menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi dan menerapkan teori Modal Sosial Robert Putnam dalam analisis data. Temuan penelitian menyoroti kebutuhan peran dan strategi aktor yang kompeten dalam mengelola kampung tematik, dengan penekanan pada pemanfaatan dan pemeliharaan koneksi. Strategi juga perlu disesuaikan dengan kondisi saat itu. Dalam konteks KBP, aktor-aktor tertentu memiliki jaringan kuat yang mendukung perkembangannya, sementara kepercayaan dan norma membentuk dasar saling kepercayaan.
SENI HIDUP MENGHADAPI MARGINALISASI DI PESISIR KOTA SORONG Pradana, Riki Ari
Kusa Lawa Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Kusa Lawa
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

komunitas Kokoda dan Serui yang dapat bertahan hidup di lingkungan yang rusak akibat degradasi hutan mangrove, penebangan kayu mangrove, eksploitasi batu karang, serta pembangunan infrastruktur yang menimbulkan dampak tak terduga. Bertempat tinggal di daerah rawa yang terletak di pingiran Kota Sorong membuat mereka hidup dalam berbagai kesulitan. Penelitian ini menggunakan metode etnografi yang mencakup catatan lapangan (field work), observasi partisipasi, dan wawancara mendalam. Mengambil lokasi penelitian di Distrik Manoi dan Distrik Sorong Timur, Papua Barat Daya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komunitas Kokoda dan Serui telah mengalami marginalisasi dalam berbagai aspek kehidupan. Menimbulkan permasalahan kerusakan lingkungan, keterbatasan pada berbagai akses kehidupan, serta berkurangnya sumber daya alam di area hutan mangrove. Kesulitan dan keterbatasan tersebut dijawab melalui seni hidup yang dipegang erat oleh komunitas Kokoda dan Serui dalam melihat alam tempat mereka tinggal. Membentuk niche yang berbeda antar kelompok atas pengaruh affordances.
NISCALA: PENCIPTAAN SENI PATUNG BERBAHAN LIMBAH ANORGANIK Mahendra, Achmad Yusril Ismal Maulana; Rohman, A. Syarifuddin
Kusa Lawa Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Kusa Lawa
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Niscala: Penciptaan Seni Patung Berbahan Limbah Anorganik. Desa semut merupakan desa yang berada di Kecamatan Purwodadi Kabupaten Pasuruan. Berasal dari gundukan berukuran dua meter dan merupakan sarang semut sehingga menamakan tempat tersebut menjadi Desa Semut. Semakin berkembangnya zaman memicu juga perkembangan teknologi. Kebutuhan demi kebutuhan manusia juga semakin meningkat, tak terkecuali warga di desa semut yang memiliki ladang usaha konstruksi. Setelah melalui pengamatan pribadi dan mengetahui bahwa banyak barang yang tidak terpakai bersifat anorganik dapat menyebabkan pemanasan global karena sifat bahan tersebut yang sulit untuk melebur penulis memiliki tujuan untuk memanfaatkan limbah menjadi karya. Tujuan peciptaan karya ini yaitu membuat patung yang terbuat dari limbah besi menjadi karya monumental sebagai ikon Desa Semut. Metode yang dipakai oleh penulis dalam proses pembuatan menggunakan metode dari graham wallas. Beberapa tahapan dalam pembuatan karya tersebut yaitu preparation, incubation, illumination, dan verivication. Proses pembuatan karya tersebut memakai bahan anorganik besi dengan memakai alat las serta memakai resin. Menghasilkan 1 karya patung monumental yang memiliki tinggi 2,31 meter di tambah kaki penyanggah berukuran satu meter dengan total ketinggian 3,31 meter serta memiliki lebar 1,6 meter. Karya patung tersebut memvisualisasikan hewan semut dengan judul Niscala. Karya patung yang di ciptakan menggunakan teknik assembling. Proses finishing di kerjakan dalam lima tahap lapisan yaitu, lapisan pertama dengan cat epoxy tinner, pembuatan tekstur dengan cat epoxy, tinner serta talek, pembuatan warna dasar kulit menggunakan cat epoxy, pembuatan efek karat dengan menggunakan warna tembaga dari cat epoxy dan tinner, kelima menggunakan warna transparan dari cat epoxy dan tinner.
TRAUMA ANTARGENERASI SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN SENI LUKIS DIGITAL Masserungke, Yuri; Anggrian, Mayang
Kusa Lawa Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Kusa Lawa
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Trauma antargenerasi terjadi disaat pengalaman dan perasaan negative yang dilalui salah satu generasi terus diwariskan kepada generasi-generasi selanjutnya. Istilah trauma antargenerasi ini pertama kali ditemukan setelah keadaan psikologi anak-anak dari korban Holocaust dicatat. Keadaan psikologis ini belum terlalu dikenal dan dihiraukan oleh Masyarakat, walaupun dampaknya sama besarnya dengan keadaan mental lainnya. Maka dari itu, topik ini penting untuk diangkat untuk menyebarkan kesadaran dan juga memberikan contoh-contoh trauma antargenerasi di dalam suatu keluarga. Hal ini diinspirasi dari film animasi El Canto tahun 2021 yang mengisahkan tentang trauma antargenerasi. Penciptaan karya ini dilakukan untuk mevisualisasikan tema Trauma Antargenerasi dalam karya seni Lukis digital serta mendeskripsikan gagasan dari karya-karya tersebut. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya seni lukis digital ini di adaptasi dari tahapan-tahapan berdasarkan teori Hawkins, yaitu upaya menemukan gagasan, menyempurnakan gagasan awal, dan juga visualisasi dalam media. Dengan menggunakan metode terserbut, Penulis berhasil menghasilkan tujuh karya digital painting on canvas yang betemakan Trauma Antargenerasi dengan penambahan visual bunga Petunia di tiap karyanya. Dari tujuh karya tersebut digambarkan bahwa tidak semua hal yang dibiasakan oleh generasi-generasi terdahulu adalah hal yang tidak baik. Segala sesuatu memiliki sisi baik dan sisi buruknya, kebijaksanaan menyikapi kondisi dapat memutuskan rantai trauma antargenerasi.
ANIMASI GARUDA MUDA SEBAGAI IMPLEMENTASI NILAI-NILAI LUHUR PANCASILA Saputra, Mohamad Riski
Kusa Lawa Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Kusa Lawa
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pancasila merupakan sumber pendidikan karakter yang penting dan berharga untuk generasi muda. Untuk itu perlu diimplementasikan dalam sebuah animasi untuk mendukung penyebaran wacana akan nilai-nilai luhurnya. Metode yang di gunakan dalam karya Animasi ini adalah metode penciptaan Alma M. Hawkins yaitu Eksplorasi, Improvisasi, dan Pembentukan. Eksplorasi yang di lakukan penulis berupa ekplorasi terkait nilai-nilai pancasila yang mulai terkikis di kalangan masyarakat. Improvisasi dalam karya ini adalah membuat arah dari proses animasi yang akan di buat dan di sesuaikan dengan ide nilai-nilai luhur Pancasila itu tadi. Tahapan yang terakhir adalah memproses pengkaryaan dengan memasukkan nilai-nilai luhur Pancasila dari tahapan eksplorasi. Hasil akhirnya berupa karya animasi dengan format video dengan judul Garuda Muda. Karya ilustrasi digital ini berjumlah 5 buah karya dengan tujuan sebagai pelengkap karya animasi dengan judul di antaranya : 1) Garuda muda sila 1, 2) Garuda muda sila 2, 3)Garuda muda sila 3, 4) Garuda muda sila 4, dan 5)Garuda muda sila 5. Sesuai judul yang di muat, karya ini dapat di gunakan sebagai media edukasi akan pentingnya nilai-nilai luhur Pancasila.
NARASI NEGOSIASI ANTAR AKTOR DALAM BAYANG-BAYANG KOSMOPOLITANISME PENYELENGGARAAN FESTIVAL BAU NYALE Kamelia, Nadia Diana
Kusa Lawa Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Kusa Lawa
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Narasi Negosiasi Antar Aktor dalam Bayang-Bayang Kosmopolitanisme Penyelenggaraan Festival Bau Nyale. Festival Bau Nyale adalah festival yang berangkat dari tradisi masyarakat Sasak yang sudah ada sejak abad 14 SM. Tradisi tersebut terdiri dari dua kata yaitu bau yang berarti menangkap dan nyale bermakna cacing laut. Masyarakat percaya bahwa cacing nyale tersebut adalah perwujudan dari Putri Mandalika, sosok sakral Sasak yang rela mengorbankan dirinya demi kedamaian banyak orang. Mitologi tersebut membuat masyarakat memperingati hari hilangnya sang putri yaitu tanggal 20, bulan 10 Kalender Sasak dengan melakukan Tradisi Bau Nyale. Tradisi tersebut memiliki kekuatan massa yang luar biasa karena kepercayaan yang mengakar pada masyarakat. Hal tersebut menarik perhatian pemerintah sehingga ingin menjadikannya sebagai sebuah festival budaya. Terdapat perjalanan panjang dalam upaya pengembangan tradisi menjadi festival. Untuk itu, peneliti merumuskannya dalam dua rumusan masalah; (1) Bagaimana proses pergeseran Tradisi Bau Nyale menjadi Festival Bau Nyale? (2) Bagaimana dinamika negosiasi antar aktor dalam penyelenggaraan Festival Bau Nyale? Peneliti menggunakan konsep kosmopolitan atau keterbukaan budaya dalam melihat nilai-nilai baru yang ada dalam festival, serta untuk menemukan titik pertemuan kepentingan antara adat dan pemerintah yang dapat menyukseskan jalannya negosiasi diantara keduanya. Peneliti menggunakan metode etnografi deskriptif- kualitatif dalam mengupas rumusan masalah yang ada dalam penelitian.
Pengarusutamaan Gender dalam Perkawinan Keturunan Sayyid di Desa Cikoang Kabupaten Takalar Salsabila, Siti Syalwa; Mukramin, Sam'un
Kusa Lawa Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Kusa Lawa
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkawinan dengan perbedaan suku, ras atau budaya merupakan wujud eksistensi manusia sebagai makhluk sosial dan upaya memperkuat entitas sosial yang dinamis. Ajaran Sayyid merupakan lembaga adat dan istiadat yang unik dalam menata masyarakat sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan mengetahui ketimpangan gender dalam perkawinan keturunan Sayyid di Desa Cikoang Kabupaten Takalar serta alternatif untuk meminimalisir diskriminasi gender pada keturunan Sayyid dengan memastikan bahwa hak dan kebebasan memilih pasangan tidak dibatasi oleh gender, sehingga terciptalah keadilan dan keseimbangan hak perkawinan bagi setiap orang kedua sisi. Penelitian ini merupakan kualitatif dengan jenis studi kasus dari 3 orang informan, kemudian dilanjutkan informan selanjutnya 1 orang berinisial A dipilih berdasarkan saran dari informan sebelumnya (snowball). Sumber data yang diperoleh dari data primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Status sosial Sayyid menempati kedudukan tertinggi dalam masyarakat Cikoang; 2) Sayyid perempuan (Syarifah) tidak boleh menikah dengan orang di luar garis keturunan Sayyid, sedangkan Sayyid laki-laki (Habaib) memiliki kebebasan memilih pasangan yang bukan Sayyid; 3) Melalui program-program edukasi yang melibatkan tokoh masyarakat Cikoang, tokoh agama, dan lembaga swadaya masyarakat dapat fokus pada hak-hak perempuan dan kesetaraan gender; 4) Mendorong pemerintah dan lembaga hukum untuk mengadopsi undang-undang yang melindungi hak-hak perempuan dan memastikan tidak ada lagi diskriminasi gender dalam perkawinan keturunan Sayyid di Desa Cikoang; dan 5) Melibatkan generasi muda dan tua dalam diskusi mengenai dampak negatif diskriminasi gender sehingga membantu mengubah pandangan dan sikap yang telah lama tertanam dalam budaya di Desa Cikoang.
TOWARDS COMPREHENSIVE SOCIAL CHANGE: A LEGAL ANTHROPOLOGICAL PERSPECTIVE IN HANDLING THE ISSUES OF SEXUAL HARASSMENT Dinanti, Dinda
Kusa Lawa Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Kusa Lawa
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research will explore the legal anthropology approach in responding to issues regarding sexual harassment, with the aim of achieving comprehensive social change. Sexual harassment, in this case, has become a complex problem and requires a holistic solution, not only in the form of law enforcement. In this case, it emphasizes the integration of a specific legal anthropology perspective that understands the culture and social context into efforts to handle the issue of sexual harassment. The research stage will include a comprehensive literature review regarding concepts in legal anthropology, such as legal pluralism, legal awareness and restorative justice. Next, it will analyze how this approach can be applied in handling sexual harassment cases by considering aspects of culture, gender and power. Law is seen as a means of maintaining societal values, so legal values are basically institutionalized societal values. A legal anthropology perspective on the issue of sexual harassment includes identifying cultural contexts that encourage understanding of different interpretations and applications of law in artistic contexts. There are seven main factors related to sexual harassment, such as gender inequality and low economic conditions. Holistic treatment is needed by integrating traditional positive values, transforming cultural norms, utilizing traditional conflict resolution mechanisms and empowering the role of traditional leaders and leaders. The feminist perspective also emphasizes the importance of gender awareness and equality.
NILAI SOSIAL PADA KOMIK SI JUKI: LIKA LIKU ANAK KOS KARYA FAZA MEONK Syifa Korina Ilmi; Safina Ziyya Ulfiana; Muhammad Hamdan Mukafi
Kusa Lawa Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Kusa Lawa
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Nilai Sosial Pada Komik Si Juki: Lika Liku Anak Kos Karya Faza Meonk. Komik telah menjadi medium yang penting dalam menyampaikan pesan-pesan sosial budaya di masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kepustakaan (library search) yang mengacu pada teori sosiologi sastra. Data primer adalah komik digital Si Juki: Lika Liku Anak Kos karya Faza Meonk. Data sekunder adalah sumber pendukung yang sesuai dengan komik Si Juki: Lika Liku Anak Kos sebagai referensi. Penelitian ini bertujuan untuk menggali nilai sosial berupa 1) nilai kasih sayang yang berupa tolong menolong, kekeluargaan, kesetiaan, dan kepedulian, 2) nilai tanggung jawab yang berupa disiplin dan empati. 3) nilai keserasian hidup yang berupa toleransi, dan kerja sama dan nilai-nilai budaya yang relevan dalam masyarakat. Kata Kunci: Komik, Sosial, Budaya. Abstract Social Values in the Comic Si Juki: Lika Liku Anak Kos by Faza Meonk. Comics have become an important medium in conveying socio-cultural messages in society. The method used in this study is the library search method which refers to the theory of literary sociology. The primary data is the digital comic Si Juki: Lika Liku Anak Kos by Faza Meonk. Secondary data are supporting sources that are in accordance with the comic Si Juki: Lika Liku Anak Kos as a reference. This study aims to explore social values in the form of 1) values of compassion in the form of helping each other, family, loyalty, and care, 2) values of responsibility in the form of discipline and empathy. 3) values of harmony in life in the form of tolerance, and cooperation and cultural values that are relevant in society. Keywords: Comics, Social, Culture.
SIMULAKRA DAN HIPERREALITA SEBAGAI IDE PENCIPTAAN SENI GRAFIS Ilhami, Ach Rizal Fahmi
Kusa Lawa Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Kusa Lawa
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

. Simulakra dan Hyperealitas adalah teori yang dijabarkan oleh Jean P Baudrillard sebagai pembahasan mengenai kritik struktuk semiotika yang linier. Permasalahan, terhadap tanda-tanda yang sudah carut marut menciptakan kecendrungan citranya objek (penanda) lebih diperhatikan daripada maknanya (petanda).Tema ini akan diangkat menjadi ide pokok penciptaan karya seni grafis sekaligus sebagai sarana edukasi bagi khalayak umum serta menjadi sarana untuk menyalurkan inspirasi penulis lewat media karya grafis dengan tugas akhir berupa pameran grafis. Kegiatan ini juga bertujuan menjelaskan bagaimana visualisasi karya grafis penulis dengan tema simulacra dan hyperrealitas. Dalam proses penciptaan karya seni grafis, penulis memakai dua landasan teori yakni pop culture dan semiotika. Sedangkan dalam metode penciptaan karya, penulis mengacu pada metode gagasan Alma M. Hawkins yang dijelaskan dalam tiga tahapan yakni Eksplorasi, Improvisasi, dan Forming. Dengan penciptaan karya grafis yang nantinya akan menggunakan teknik sablon dan lukis pada kanvas. Penciptaan penulis di atas, nantinya akan menghasilkan delapan karya, diantaranya yakni berjudul,Conquistador, Panasea #1,Panasea#2 dan lain sebagainya. Konsep penyajian karya akan di realisasikan dalam sebuah pameran grafis di Galeri FIB gedung A. Melalui pameran dengan tajuk “Simulakra dan Hyperrealitas”, ini ditujukan untuk memberikan pandangan baru dari sisi lain dunia modern dengan topik simulakra dan hyperealitas serta perwujudannya berupa pameran grafis baik itu sebagai rekreasi maupun edukasi.