cover
Contact Name
Fitrahayunitisna
Contact Email
fitrahayunitisna@ub.ac.id
Phone
+6285777556060
Journal Mail Official
kusalawafibub@gmail.com
Editorial Address
Jalan Veteran, Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Kusa Lawa
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : 28278194     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.kusalawa
Jurnal ini mewadahi gagasan ilmiah dan publikasi hasil penelitian dari para ilmuwan, akademisi, maupun peneliti. Untuk itu jurnal ini terbuka dan menerima artikel ilmiah yang berupa hasil penelitian, gagasan ilmiah, dan penciptaan seni.
Articles 71 Documents
REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM FILM KARTINI: TINJAUAN TINDAK TUTUR Widagdo, Titis Bayu
Kusa Lawa Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Kusa Lawa
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2022.05.01.03

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan tindak tutur yang terdapat dalam film Kartini (2017) dan menjelaskan fungsi dari masing-masing tindak tutur dalam membangun cerita dalam film tersebut. Sumber data dari penelitian ini adalah film Kartini (2017) yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Data yang menjadi fokus penelitian ini adalah dialog antar tokoh yang terindikasi mengandung tindak tutur. Penelitian ini menggunakan metode kualitaif guna memaparkan secara mendalam tindak tutur yang terjadi dalam film Kartini dan fungsi dari tindak tutur tersebut. Hasil dari penelitian ini adalah menunjukan tindak tutur yang dominan dalam film kartini, (1) tindak tutur direktif (32 data), (2) tindak tutur komisif (16 data), (3) tindak tutur ekpresif (12 data). Selanjtnya dalam pembahasan dibahas Pertama, tindak tutur direktif dalam film RAK ditemukan dalam bentuk literal atau tindak tutur dan dipaparkan pada konteks tuturan memaksa, menolak, dan mengarahkan atau mengkomando. Kedua, tindak tutur komisif ditemukan dalam bentuk literal dan non literal dan terbagi menjadi beberapa konteks tuturan, yaitu menolak, menawarkan, berikrar. Ketiga, tindak tutur ekpresif ini ditemukan bentuk literal dan non literal. Wujud tindak tutur ekpresif ditunjukan pada tuturan yang mengandung kekecewaan, dan kekaguman.
IMPACT OF LOSS AVERSION TO THE MARKET IN THE PHILIPPINES Samontina, Mary Christine; Campos, Karl
Kusa Lawa Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Kusa Lawa
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2022.05.01.05

Abstract

Loss aversion, a cognitive bias where people weigh potential losses more heavily than equivalent gains, has been extensively studied in behavioral economics (Liu, 2023). This review will explore the factors that condition loss aversion in decision-making: age, education, experience, and cultural norms. All these influences further shape the way people respond to financial decisions, although typically the more experienced or older the person is, the more level-headed he will be in his response to loss. Cultural and social influences play a huge part, especially in the way that societal values can either augment or dampen loss. Marketers have led such consumer behavior over the years by using loss aversion to develop odd-even pricing, product bundling and time-limited offers that attract attention through a false sense of urgency or value for selling more and maximizing profits. The paper promotes rationalistic choice for consumers arguing that increased awareness about loss aversion increases the understanding and balancing features in the choice process. It would occur by increasing the level of financial literacy and understanding of the psychological drivers behind people's decisions, ensuring consumers would avoid impulsive decisions in marketing tactics. The review relied more on the reality of loss aversion in the degree of consumer behavior and marketing. Keywords: loss aversion, cognitive biases, behavioral economics, consumer decision-making
A STUDY OF COMMUNITY CULTURAL ELEMENTS ON MIANGAS ISLAND, INDONESIA Yuwono, Ardi Tri; Vicaldo, Vengadcruz
Kusa Lawa Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Kusa Lawa
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2022.05.01.04

Abstract

Culture can be understood as the whole of human behavior in life obtained through the learning process. There are seven cultural elements, namely: (1) language; (2) knowledge system; (3) social organization system (community); (4) equipment and technology systems; (5) economic and livelihood systems; (6) the religious system, as well as; (7) art. These seven elements can be found in the Miangas Island community, which is strategically located on the sea border and makes it a meeting point for various cultures and receives influence from the Philippines. This research aims to explore the seven cultural elements that exist on Miangas Island. The method used in this study is a cultural research method with a qualitative approach. In terms of equipment and living supplies, the people of Miangas Island rely on the manufacture of wooden boats and fishing gear. Their main livelihood is as fishermen and farmers. In terms of social structure, the people of Miangas Island in the past had a traditional leadership system consisting of kapitelaut, ratumbanua, and inanghuwanua. Commonly spoken languages on the island include Indonesian, Talaud, Tagalog, and several other languages. The arts that developed on Miangas Island were the M?tagonggong Arts and the M?bawalas? Arts. The knowledge system of the people of Miangas Island is based on a calendar that calculates the phases of the moon and 17 cardinal directions. In addition, the belief system on Miangas Island includes Christianity, Catholicism, and Islam.
MEMBANGUN APRESIASI BUDAYA LOKAL: STUDI EDUKASI VISUAL MELALUI FESTIVAL KAMPUNG BUDOYO #2 Herliana, Siti Nur; Anggrian, Mayang
Kusa Lawa Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Kusa Lawa
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2022.05.01.06

Abstract

Festival Kampung Budoyo #2 bertujuan untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya lokal kepada generasi muda melalui pendekatan edukasi kreatif dan interaktif. Festival ini hair sebagai respon terhadap tantangan globalisasi yang mengancam identitas budya lokal, khususnya di kalangan generasi muda. Festival ini mengintegrasikan apresiasi terhadap budaya lokal. Festival ini berfokus pada penguatan apresiasi budaya malalui pengalaman langsung, yang tidak hanya mendalami seni tradisional, tetapi juga mengintegrasi teknologi untuk relevansi modern. Melalui berbagai bentuk interaksi, peserta di ajak untuk memahami dan mengeksplorasi nilai-nilai budaya dengan cara yang segar dan inovatif. Melalui festival ini, Kampung Budoyo #2 diharapkan mampu mengingkatkan rasa cinta generasi muda terhadap budaya lokal serta mendorong partisipasi aktif dalam pelestariannya. Dengan memadukan tradisi dan modernitas, festival kampung Budoyo #2 berperan sebagai jemabatan penting dalam memperkuat identitas lokal di era globalisasi.
NEGOSIASI KETIDAKPASTIAN PADA WARGA KAMPUNG PUTIH DI KOTA MALANG Rachma, Nafisah Aulia
Kusa Lawa Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Kusa Lawa
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2022.05.01.07

Abstract

Banyak sempadan sungai yang telah beralih fungsi menjadi permukiman warga. Padahal di Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI No.28 Tahun 2015 tentang Penetapan Garis Sempadan Sungai dan Garis Sempadan Danau, khususnya pada Pasal 15, telah ditetapkan bahwa bangunan yang terdapat di sempadan sungai perlu ditertibkan dengan tujuan mengembalikan fungsi sempadan sungai. Selain itu, bagian-bagian sungai juga memiliki fungsinya tersendiri yang ketika fungsi tersebut hilang, maka dapat menimbulkan bencana alam seperti banjir dan longsor. Ancaman lain yang terdapat di kampung itu juga adalah ancaman penggusuran yang hadir akibat tanah yang warga tempat bukan milik mereka. penelitian ini hendak mencari tahu bagaimana proses warga sejak awal tinggal di kampung ini dan bagaimana mereka menanggapi ketidakpastian yang ada di sekitar mereka. Untuk menjawab hal itu, penelitian ini menggunakan teori ketidakpastian (uncertainty) yang nantinya dihubungkan dengan teori negosiasi dan konsep pengabaian (neglect) sebagai salah satu bentuk usaha warga dalam menanggapi ketidakpastian yang ada. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode etnografi. Wawancara dilakukan dengan sepuluh warga yang dinilai telah lama tinggal di kampung ini dan mengetahui sejarah kampung. Penelitian ini menunjukkan strategi yang warga lakukan untuk bertahan dalam risiko-risiko yang ada yang dipengaruhi oleh masa lalu mereka. Pengalaman di masa lalu ini juga berpengaruh pada pandangan warga terhadap risiko yang nantinya menentukan kesiapan mereka terhadap ketidakpastian di masa depan.
DAMPAK NEGATIF PERUNDUNGAN DENGAN KARAKTER “ANJING” SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA SENI PATUNG Putra, Mochamad Rangga Gustiawan; Rohman, A. Syarifuddin
Kusa Lawa Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Kusa Lawa
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2022.05.01.08

Abstract

Perundungan adalah penyalahgunaan kekuasaan yang melukai korban secara verbal, fisik, maupun psikologis, sehingga menyebabkan trauma, tekanan emosional, dan hilangnya rasa percaya diri. Fenomena ini divisualisasikan melalui karya seni patung bertema Dampak Negatif Perundungan, dengan figur anjing sebagai simbol korban yang menghadapi stigma negatif, sementara tubuh yang terbalut kain menggambarkan isolasi akibat trauma. Karya ini terinspirasi dari pengalaman pribadi penulis terkait ketidaksesuaian karakter feminin dengan norma maskulinitas. Menggunakan metode L.H. Chapman, penciptaan karya menghasilkan tujuh patung, yaitu Behind the Lace, Rancap, Entangled, Nestapa, Growing Inside the Body, Melt, dan Devil Dog. Elemen metafora dan gaya surealistik pada karya-karya ini menggambarkan luka emosional, upaya perlindungan diri, dan motivasi untuk bangkit. Karya ini bertujuan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya empati terhadap korban perundungan, memberikan wawasan baru, dan menginspirasi perkembangan seni rupa. Visualisasi figur anjing yang dipadukan dengan tekstur benda dan alam mencerminkan tantangan serta eksplorasi baru dalam seni patung, sekaligus mengajak masyarakat untuk menghindari stigma negatif dan peduli terhadap korban.
Peran Sosial Media dalam Mobilisasi Aksi Protes Reformasi Dikorupsi
Kusa Lawa Vol. 5 No. 2 (2025): KUSA LAWA
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2025.005.02.01

Abstract

Peran sosial media dalam rangkaian aksi protes bertajuk #ReformasiDikorupsi telah menarik perhatian banyak peneliti gerakan sosial. Aksi protes ini terbagi dalam tiga aksi demonstrasi besar yang terjadi dalam kurun waktu 2019 – 2020. Peran sosial media menjadi semakin krusial dimana pada saat yang sama pandemic Covid-19 mulai melanda Indonesia sehingga Pemerintah Indonesia memberlakukan peraturan untuk membatasi kegiatan massa secara langsung. Beberapa studi yang focus pada aksi protes ini melihat adanya peran sosial media yang cukup besar untuk dapat menyebarkan narasi, wacana, dan kaitannya dengan demokrasi secara umum. Tidak banyak yang kemudian menaruh perhatian pada jenis-jenis konten yang secara khusus menjadi factor penting dalam mempengaruhi public untuk terlibat dalam aksi protes. Dengan menggunakan pendekatan life history pada orang-orang yang sebelumnya tidak pernah terlibat dalam aksi protes, tulisan ini menunjukkan bahwa jenis konten yang ada di sosial media dapat mempengaruhi keputusan untuk berpartisipasi dalam aksi protes. Argumen utama dalam artikel ini adalah sosial media dapat menjadi katalisator untuk mobilisasi gerakan massa pada aksi protes #reformasidikroupsi dengan adanya panduan jelas pada unggahan yang dibagikan ke publik. Meski demikian, catatan perlu diberikan dalam argument ini bahwa keterlibatan individu dalam aksi protes publik juga dipengaruhi dari perasaan keterhubungan dengan wacana yang sedang berkembang pada jejaring informasi tersebut.
ANALISIS KASUS SENGKETA ANALISIS KASUS SENGKETA LUKISAN SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II DENGAN TEORI SOSIOLOGI PIERRE BOURDIEU : Indoenesia
Kusa Lawa Vol. 5 No. 2 (2025): KUSA LAWA
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2025.005.02.02

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek sosial dan hukum dalam kasus sengketa hak cipta antara seniman Eden Arifin dan Bank Indonesia (BI) terkait penggunaan tanpa izin lukisan Sultan Mahmud Badaruddin II pada uang Kertas pecahan Rp 10.000. dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan teori Pierre Bourdieu tentang habitus, modal dan medan sosial. Penelitian ini menempatkan karya seni tidak hanya sebagai objek visual, melainkan sebagai hasil konstruksi sosial yang merepresentasikan nilai budaya, sejarah dan identitas senimannya. Data yang dikumpulkan melalui studi pustaka pada dokumen hukum, artikel media dan sumber akademik yang relevan. Hasil menunjukkan bahwa pelanggaran HaKI dalam kasus ini bukan sekedar persoalan legal-formal, tetapi juga mencerminkan relasi kuasa antara institusi negara dan agen seni dalam medan simbolik. Negara, dengan legitimasi simbolik dan modal institusioanlnya telah mendominasi hak seniman atas karya budaya. Penelitian ini menyarankan pentingnya penguatan dalam perlindungan hukum dan kesadaran sosial terhadap posisi seniman sebagai produsen dari simbol budaya Indonesia.
ANALISIS DEKONSTRUKSI DERRIDA PADA BAHASA TRASHTALK DI LINGKUNGAN PERTEMANAN MAHASISWA
Kusa Lawa Vol. 5 No. 2 (2025): KUSA LAWA
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2025.005.02.04

Abstract

Penelitian ini menjelaskan mengenai dekonstruksi trashtalk sebagai bahasa keakraban dalam ruang lingkup pertemanan pada mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Tujuan penelitian ini menjelaskan bagaimana bentuk penggunaan trashtalking dan juga bagaimana perubahan makna dari kata-kata trashtalk berdasarkan analisis teori dekonstruksi yang dipopulerkan oleh Jacques Derrida. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Proses pengumpulan data menggunakan teknik accidental sampling yang melibatkan 12 informan yang dipilih secara acak dilokasi penelitian. Hasil penelitian dapat dilihat bahwa Mahasiswa dan Mahasiswi FISIP USU menggunakan trashtalking untuk membentuk keakraban kepada teman sepermainan atau teman akrab. Trashtalk sendiri dikonotasikan negatif dikarenakan tidak sesuai dengan norma yang berlaku dimasyarakat. Melalui konsep dekonstruksi yang dipopulerkan Jacques Derrida, berusaha untuk membangun makna baru dari sebuah teks dalam hal ini trashtalk. Dengan adanya konsep dekonstruksi berusaha mengungkapkan makna lain dari makna trashtalk yang selama ini berkonotasi negatif menjadi positif sebagai bentuk pengungkapan ekspresi keakraban yang menyatukan individu atau kelompok dalam pertemanan. Dalam penelitian ini, mengungkapkan bahwa benar terjadi perubahan pemaknaan trashtalk dikalangan Mahasiswa dan Mahasiswi FISIP USU. Hal ini ditandai dengan dapat dilihat dari hubungan keakraban dalam ruang lingkup pertemanan mereka. Hal ini sejalan dengan yang ditegaskan Jacques Derrida bahwa dekonstruksi bukan sekedar metode analisis, melainkan cara berpikir yang mengupas ketidakstabilan makna. Kata Kunci: Trashtalk; Mahasiswa; Dekonstruksi; Pertemanan; Keakraban.
KARNAVAL SOUND HOREG: MENGUNGKAP FENOMENA KARNAVAL SOUND SYSTEM DI MALANG
Kusa Lawa Vol. 5 No. 2 (2025): KUSA LAWA
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2025.005.02.05

Abstract

The sound horeg phenomenon that has emerged across Malang Raya reflects a unique form of youth social expression shaped by digital media, popular culture, and the dynamics of local identity. This study aims to reveal the social meanings, cultural contexts, and societal as well as governmental responses to this phenomenon. A qualitative-descriptive method was employed, utilizing a digital ethnography approach and field observations at several central locations of sound horeg activities. The findings indicate that sound horeg is not merely an eccentric or deviant behavior but also a symbolic communication strategy used by young people to express existence and solidarity in public spaces. However, tensions arise when such expressions clash with social norms, safety, and public order. Therefore, educational and cultural approaches are needed to channel the expressive energy of the youth toward more constructive purposes. This study contributes to contemporary cultural studies and character education in the digital era, particularly in understanding the transformation of values and social behavior among urban Indonesian youth Keywords: sound horeg, social expression, popular culture, youth identity, Malang Raya