cover
Contact Name
Fitrahayunitisna
Contact Email
fitrahayunitisna@ub.ac.id
Phone
+6285777556060
Journal Mail Official
kusalawafibub@gmail.com
Editorial Address
Jalan Veteran, Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Kusa Lawa
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : 28278194     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.kusalawa
Jurnal ini mewadahi gagasan ilmiah dan publikasi hasil penelitian dari para ilmuwan, akademisi, maupun peneliti. Untuk itu jurnal ini terbuka dan menerima artikel ilmiah yang berupa hasil penelitian, gagasan ilmiah, dan penciptaan seni.
Articles 66 Documents
Citra Tubuh Perempuan sebagai Inspirasi Penciptaan Seni Lukis Mix Media Rosella Deby Permatasari; Mayang Anggrian
Kusa Lawa Vol 2, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2022.002.02.07

Abstract

Citra Tubuh merupakan persepsi seseorang yang dipengaruhi oleh mental terhadap pengamatan dan penilaian seseorang tentang dirinya sendiri terkait penampilan, kemampuan, dan kepribadian. Persepsi terhadap bentuk tubuh, berat tubuh, tinggi, jenis rambut, warna kulit, cara bicara, cara bergaul, serta cara bagaimana seseorang ingin menjadi tipe ideal masyarakat. Penciptaan ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep dan gagasan positif citra tubuh dalam bentuk digital art dan konvensional serta, menyuarakan bagaimana pentingnya citra tubuh positif bagi seseorang tepatnya perempuan. Penciptaan ini memiliki beberapa tahap, antara lain: 1) Tahap eksplorasi (pengumpulan data dari berbagai sumber) data inilah yang kemudian menjadi inspirasi dan isi pesan dalam karya digital art dan konvensional ini. Konsep digital ini dipilih untuk menyesuaikan dengan tema citra tubuh, 2) Tahap improvisasi (merancang gambaran) menentukan bentuk visualnya memiliki gaya desain sesuai konsep yang ada seperti objek perempuan, beberapa tambahan objek pendukung dan alat pengkaryaannya. 3) Tahap visualisasi (proses pengkaryaan) pemilihan warna yang colorful sesuai dengan gaya perempuan yang ceria, serta bisa menyampaikan isi pesen yang terkandung dengan baik oleh masyarakat. Hasil dari proses  pengkaryaan seni ini mewujudkan 7 buah karya lukisan dengan media kanvas dan  perpaduan mix media  konvensional. Menyuguhkan sebuah pameran seni lukis yang dikemas dengan rapih dan apik, serta menyajikan visual konsep standar kecantikan perempuan yang sesuai dengan tujuan penulis, yaitu menyuarakan argumen-argumen pentingnya citra tubuh bagi perempuan.
Peran Serta Posisi 'Hysteria' Colaboratorium And Creative Impact HUB. di Era Disrupsi: Dampak Teknologi pada Medan Sosial Seni Rupa di Kota Semarang Muhammad Sobih Almusoffa; Mayang Anggrian
Kusa Lawa Vol 2, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2022.002.02.08

Abstract

Penelitian ini menggali bagaimana eksistensi dari sebuah komunitas seni dapat berpengaruh terhadap laju perkembangan ekosistem seni pada satu kota. Hysteria merupakan ruang yang diinisiasi guna menciptakan sebuah ekosistem seni yang sehat di Kota Semarang. Regenerasi seniman yang ada di Kota Semarang cenderung mengalami hambatan dari segi ketersediaan ruang untuk berkarya. Ruang publik yang seharusnya dialokasikan guna kegiatan kesenian dan kebudayaan belum bisa dimaksimalkan penggunaannya. Peran dan posisi Hysteria akan dilihat dalam konstruk medan sosial seni rupa pada era disrupsi dengan kemajuan teknologi sebagai hal yang berdampak pada ekosistem seni di Kota Semarang. Dalam penelitian ini penulis akan melakukan riset dengan metode pengumpulan data yang berupa observasi langsung pada lokasi Hysteria, melakukan wawancara terkait studi program yang telah dicapai Hysteria dalam beberapa tahun terakhir, serta turut ikut serta dalam program Hysteria selama penelitian berlangsung. Dengan demikian data yang akan dihasilkan nantinya dapat benar-benar menjawab semua permasalahan terkait dengan peran dan posisi Hysteria dalam upaya membangun ekosistem seni di Kota Semarang di era disrupsi. Bahasan profil Hysteria dalam membangun ekosistem seni dengan program kolaborasi serta bagaimana Hysteria berjejaring dengan media digital.
Raden Panji Pulangjiwo Dalam Ludruk Lerok Anyar: Studi Kasus Bedah Folklor Pada Masyarakat Malang, Jawa Timur Nois, Dea Cita Monita
Kusa Lawa Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Raden Panji Pulangjiwo Folklore is a folklore that exists in the Penarukan community, Malang. This folklore tells of the figure of Raden Panji Pulangjiwo who has a brave and courageous character against Mataram to defend the Kepanjen region. Because of the sacrifice of Raden Panji Pulangjiwo, he was willing to risk his life and died in Penarukan, Kepanjen. Thanks to the services and sacrifices of Raden Panji Pulangjiwo, his name was immortalized into the name of the southern region of Malang, named Kepanjen. Inspired by the folklore of Raden Panji Pulangjiwo, a ludruk group called Lerok Anyar led by Cak Marsam Hidayat re-represented the story of Raden Panji Pulangjiwo to be shown on the artistic stage in commemoration of the Birthday of the East Java Tourism and Culture Office at Taman Krida Budaya, Malang. This research is a qualitative descriptive study. This is due to the consideration of the data produced in the form of descriptive data, namely oral data and written data. This research was conducted using descriptive research methods with an ethnographic approach. The technique of determining informants was carried out by using purposive sampling method or selecting key informants. The data collection technique is qualitative in nature and emphasizes the study of a phenomenon in the Penarukan community that lives the folklore of Raden Panji Pulangjiwo in depth. After all the data has been collected, the next step is data analysis. In data analysis, researchers used interactive model data analysis according to Miles and Huberman.
VISUALISASI TOKOH RAJA HAYAM WURUK DAN MAHAPATIH GAJAH MADA DALAM BENTUK DESAIN KARAKTER DI ERA DIGITAL 4.0 DALAM BENTUK DRAFT E-BOOK Rafiansyah, Azhario Thoriq
Kusa Lawa Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Today, precisely in the digital era 4.0, there are many uses of digital media that are used for daily activities, one of which is making visual works through digital media assisted by computers, drawing tablets, and applications made specifically to create works. Many people in Indonesia, especially young people, are interested in drawing using this digital media. Some use their work to make money and some work to find their existence on social media, unfortunately it is still rare to find elements of local history that are raised through the works made by them. Therefore, in this creation, it is necessary to introduce how the concepts and ideas of the figures of king Hayam Wuruk and mahapatih Gajah Mada are equipped with visualizations so that elements of local history can be raised through works made by young people. The purpose of this creation is to provide a visual reference for young people about one of the history that has ever existed in Indonesia, namely the existence of the Majapahit kingdom which reached its glory under the reign of King Hayam Wuruk with his mahapatih Gajah Mada who was famous for his palapa oath.The method used in making the work is the Hawkins method. The Hawkins method was chosen because the author re-describes existing characters by improvising some parts of the visualized characters. In its creation, the work is made in the form of character designs because a character design is able to display an attractive visualization so that it can be more easily remembered by the public, especially young people. Although the two figures of the Majapahit kingdom can be visualized through their characteristics, further research is still needed on what the original figures of Hayam Wuruk and Gajah Mada were like.
DIRI SENDIRI SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA LUKIS Wulancahya, Laila; Fatmawati, Fatmawati
Kusa Lawa Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Humans are living, evolving beings. To evolve emotionally, humans need to understand themselves fully. Meanwhile, the author is a person who has yet to recognize herself. However, during her school days, the author liked to express what she felt by drawing in a sketchbook. These experiences have indirectly shaped the author's personality today. That's why the author creates works that come from the depths of her heart. This journey of self-discovery is accomplished through the creation of artworks.In making this work, the author used Alma M. Hawkins' method of creation. The stages are exploration, improvisation, and shaping. In the exploration stage, the author brainstorms the drawings that she made in school. Images that are considered relevant to the topic of the work will be collected as references for sketching the work. Next, the improvisation process includes processing existing references into several sketches and sketching the final work. Finally, the shaping process will be executed on canvas using acrylic paint. The lightweight nature of acrylic paint makes it easy for the author to stack layers in the painting process. These works are derived from the author's personal experience, hence, the empiricism theory of John Locke is used to examine it. In addition, pop-surrealism is used to pour the contents of the author's head into works that can tell many things.The concept of the author's work is a record of a journey to find herself. This personal subject is expected to be accepted and interpreted differently depending on the personalities of the viewers. The author created 10 paintings, including Artifacts; inside my head; Lonely Planet; somebody that I used to know; eating amaryllis; Undead Ghost; hey kamu, disini!; Memory Box; On That Day, I Saw Flying Fishes; and hari yang cerah untuk mengangkat jemuran.
BERPENTAS DALAM PERMAINAN: STUDI PERFORMANCE PADA KOMUNITAS PEMAIN DUNGEONS AND DRAGONS MELALUI DISCORD Dwiputramardhika, Arifqie Mustika
Kusa Lawa Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Identitas dimaknai sebagai pusat keberadaan manusia yang nyata dan statis pada tahun 1980. Namun, Kemajuan teknologi menyebabkan identitas menjadi entitas yang dinamis dengan kelahiran dunia virtual sebagai jejaring sosial. Pada dunia virtual, manusia menciptakan avatar yang digunakan untuk berinteraksi sesamanya. Dengan kata lain, avatar merupakan wujud representasi manusia di dunia virtual yang acapkali ditemukan pada permainan. Dungeons & Dragons merupakan permainan beraliran permainan berperan yang hadir sejak tahun 1974. Dungeons & Dragons merupakan permainan kolaborasi cerita, di mana pemain yang memerankan satu karakter permainan dan Dungeon Master sebagai wasit dan penutur cerita permainan berusaha untuk membuat narasi bersama yang menghasilkan sebuah cerita permainan. Fenomena yang terjadi pada permainan Dungeons & Dragons memiliki keterkaitan dengan sebuah seni pertunjukkan. Menggunakan pendekatan etnografi virtual dengan melakukan observasi partisipatif dan wawancara mendalam, penelitian ini mencoba untuk menelusuri bagaimana permainan Dungeons & Dragons di komunitas Trouvaille memiliki keterhubungan dengan seni pertunjukkan. Teori Dramaturgi oleh Erving Goffman dan konsep Play-Display oleh Simatupang digunakan untuk mendeskripsikan bagaimana sistem permainan Dungeons & Dragons dapat dimaknai sebagai pertunjukkan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penciptaan karakter dan pemeranan karakter sejalan dengan teori dramaturgi oleh Erving Goffman dan konsep Play-Display oleh Simatupang. Penciptaan karakter permainan dimaknai sebagai kegiatan yang dilakukan oleh pemain di panggung belakang, sementara pemeranan karakter dimaknai sebagai kegiatan yang dilakukan di panggung depan. Penelitian ini berusaha untuk berargumen bahwa permainan kini dapat memberikan manfaat bagi manusia. Lewat permainan, manusia mendapatkan pembelajaran mengenai kehidupan dengan resiko yang minim.
EKSISTENSI PAMERAN MINI ART MALANG (MAM) DI KOTA MALANG Pratama, Rafli Putra Nur; Astawan, I Kadek Yudi
Kusa Lawa Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Mini Art Malang Exhibition aims to capture the artistic and aesthetic potentials of young artists in Malang City. The Mini Art Malang Exhibition is an exhibition that is an annual art project - an annual art event held by Studio Dinding Luar since 2018. Every year, MAM offers and carries different themes to inject stimuli into young artists which are then interpreted in the form of works of art. MAM participants are not limited to individual works of art or individual creations, but are also   open to communal/community/group based creations in conveying their ideas. The general hope of the MAM event is that the exhibition can become a transmission or medium of communication between artists and  appreciators. This article discusses the history of the founding of Mini Art Malang (MAM) starting from the background of its formation, goals, and achievements.
KRITIK SENI EKSPRESIONISME PADA KARYA LUKIS AGAPETUS “BAIK BOEROEK TANAH AIRKOE JOEGA” Rahma, Elvira Putri Syuhra Nazilatur; Astawan, I Kadek Yudi
Kusa Lawa Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Expressionism Art Criticism on Agapetus’ Painting “Baik Boeroek Tanah Airkoe Joega”. Agapetus is an artist with  a  surrealist visual concept whose focus is on animals as the subject matter. Agapetus talks a lot about the social condition of society through the representation of animals. This research wants to explore the meaning contained in the work "Baik Boeroek Tanah Airkoe Juga" through an art criticism approach. This research was conducted to describe, interpret, and evaluate works from the perspective of Expressionism criticism. This research wants to analyze the message and meaning that Agapetus wants to convey. Themes, form visualizations, and similar works become references in analyzing this work. Data is collected through various sources, such as articles, books, and online media documentaries. The research results are presented in the form of a descriptive narrative.
SIMBOLISASI BUDAYA JAWA DALAM BENTUK WAYANG SUKET PUSPASARIRA Rachmawati, Nurya; Zurinani, Siti
Kusa Lawa Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wayang merupakan kesenian adiluhung yang sarat akan nilai moral yang terkandung di dalamnya. Wayang di Indonesia memiliki berbagai jenis mulai dari bentuk, bahan, hingga pertunjukannya. Terdapat salah satu jenis wayang yang jarang diketahui oleh masyarakat yakni wayang suket. Sayangnya, wayang suket dikategorikan sebagai salah satu jenis wayang yang hampir punah. Faktor penyebab kepunahannya ini karena kurangnya minat dalam segi pelestarian maupun penelitian wayang suket. Salah satu wayang suket yang ada di Indonesia adalah wayang suket Puspasarira di Kota Malang Jawa Timur. Penelitian ini akan mengkaji mengenai struktur wayang suket Puspasarira menggunakan paradigma strukturalisme Levi- Strauss. Wayang suket Puspasarira diciptakan oleh Mbah Karjo melalui sejarah yang panjang. Untuk menjadi wayang suket yang kaya akan nilai moral dibutuhkan pengalaman yang berkatan dengan spiritualitas dan juga kepekaan terhadap kondisi sosial lingkungan saat ini. Wayang suket Puspasarira merupakan simbol dari budaya Jawa yang mementingkan keseimbangan dalam hidup. Simbol ini termaktub dalam struktur luar dan struktur dalam wayang suket Puspasaria. Dari kajian struktur ini dapat dilihat bagaimana pola pikir masyarakat Jawa. Orang Jawa penuh dengan simbol, dan simbol ini terlihat dalam struktur tubuh wayang Puspasarira dimana setiap bagian tubuh memiliki kerata basa yang mengandung berbagai ajaran etika Jawa.
KUDA DAN ORANG SUMBA: DINAMIKA ORANG KODI DALAM MENJALANKAN TRADISI Key, Yeheschiel Kevin Tero
Kusa Lawa Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Kusa Lawa
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hewan ternak terkhususnya kuda merupakan hal penting dalam kehidupan masyarakat Sumba. Kuda bukan semata-mata sebagai hewan peliharaan atau bagian dari harta kekayaan saja, tetapi juga berkaitan dengan cara hidup dan kepercayaan lokal Sumba yaitu Marapu. Sebelum banyaknya kendaraan bermotor dalam aktivitas sehari-hari prang Kodi masih memanfaatkan kuda sebagai alat transportasi. Pada ranah adat dan tradisi kuda merupakan aspek yang harus dihadirkan. Misal dalam adat perkawinan orang Kodi, kuda difungsikan sebagai mahar atau belis yang diberikan dari pihak laki-laki ke pihak perempuan. Secara tidak langsung kuda merupakan media untuk membangun suatu ikatan kekerabatan. Kuda memiliki aspek religius, hubungan manusia dengan kuda tidak hanya pada saat masih hidup, tetapi hingga setelah kematian. Orang Kodi percaya bahwa orang mati perlu diberi penghormatan dengan mengorbankan kuda yang nantinya akan menjadi bekal orang mati dan mengantarkan dia ke parai marapu atau akhirat. Namun demikian populasi kuda di Kodi kian menurun karena lahan basis pakan sudah mulai menyusut karena berkembangnya pertanian dan masyarakat banyak yang menjual kudanya ke luar Sumba. Hal itu didasari karena transportasi sudah digantikan dengan kendaraan bermotor dan kebutuhan ekonomi yang meningkat mendorong masyarakat menjual kudanya. Fenomena tersebut akhirnya membuat orang Kodi menjadi kesulitan untuk mendapatkan kuda. Namun di lain sisi kuda penting bagi orang Kodi terutama dalam upacara adat atau tradisi. Oleh karena itu penelitian ini mengangkat rumusan masalah: 1) Bagaimana kesulitan sosial yang dihadapi orang Kodi dalam mempraktikkan tradisinya? 2) Bagaimana nilai kuda dalam kehidupan tradisi orang Kodi di tengah kesulitan dalam mempraktikkan tradisi hari ini?