cover
Contact Name
heru subaris kasjono
Contact Email
jurnal.sanitasi@gmail.com
Phone
+6282136677760
Journal Mail Official
jurnal.sanitasi@poltekkesjogja.ac.id
Editorial Address
Jl Tata Bumi No 3, Banyuraden Gamping
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan
ISSN : 19785763     EISSN : 25793896     DOI : -
Core Subject : Health,
The aim of this journal is to publish good-quality articles dedicated to all aspects of the latest outstanding developments in the field of enviromental health. Its scope encompasses Land Sanitation and Waste Management, Water Sanitation, Vectors and Pests Control, Food and Beverage Sanitation, Occupational Health and Safety, and Environmental Health Epidemiology. This journal is published every four months (February, May, August, and November). For printed version, the Vol.1 No.1 was on August 2007. Publisher : Environmental Health Department of The Polytechnic of Health of Yogyakarta.p-ISSN: 1978-5763(media cetak) ISSN : 2579-3896 (media online)| Tatabumi Street No. 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Contact : 0274 (560962) | email: jurnal.sanitasi@poltekkesjogja.ac.id or jurnal.sanitasi@gmail.com
Articles 325 Documents
Pemahaman orang tua tentang kebutuhan gizi dalam mengurangi risiko balita stunting di Desa Mendalan Zahrotul Wardah; Rizky Ardina Amalia; Liza Nurmaya Indi Fitriyah; Rio Bayu Triwanto; Rifqi Thariq Hidayat
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2024): August 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v17i2.2512

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman orang tua terhadap gizi seimbang serta untuk mengulas peran pendidikan sebagai salah satu penyebab tingginya angka stunting di Desa Mendalan. Untuk mencapai tujuan ini, penelitian ini akan mengeksplorasi permasalahan seputar pemahaman orang tua tentang kebutuhan gizi yang tepat dalam mengurangi risiko stunting pada anak serta bagaimanakah peran pendidikan orang tua terhadap pemahaman mereka tentang gizi anak dalam pencegahan stunting di Desa Mendalan. Menggunakan metode pe nelitian kualitatif dengan pendekatan Cross Sectional, data dikumpulkan melalui wawancara dan pe ngisian kuisioner terhadap ibu hamil dan ibu yang memiliki balita stunting sejumlah 55 responden. Berdasarkan data yang diperoleh sebagian besar orang tua di Desa Mendalan memiliki pemahaman minim terhadap pentingnya gizi seimbang yang salah satunya disebabkan karena faktor pe ndidikannya. Hal tersebut dikarenakan responden memiliki pendidikan rendah lulusan SD dan SMP. Dengan demikian, salah satu upaya terpenting dalam mencegah stunting ialah dengan memberikan edukasi terkait kesiapan mental, fisik, finansial, pola pikir sebelum menjadi orang tua.   Abstract: This study aims to determine the level of parents' understanding of balanced nutrition and to review the role of education as one of the causes of high stunting rates in Mendalan Village. To achieve this objective, this study will explore issues surrounding parents' understanding of proper nutritional needs in reducing the risk of stunting in children and how parental education plays a role in their understanding of child nutrition in preventing stunting in Mendalan Village. Using a qualitative research method with a cross-sectional approach, data were collected through interviews and questionnaires with 55 respondents, consisting of pregnant women and mothers with stunted toddlers. Based on the data obtained, most parents in Mendalan Village have minimal understanding of the importance of balanced nutrition, partly due to their educational background. This is because the respondents have a low level of education, having graduated from elementary and junior high school. Thus, one of the most important efforts in preventing stunting is to provide education related to mental, physical, and financial readiness, as well as mindset before becoming a parent.
Implementasi pembuatan ecobrick sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan dan pencegahan DBD di Desa Tarokan Afghan Fadzillah Darussalam; Ayunda Shinta Dwi Satya Putri; Diva Fatimatuz Zahroh; Mohammad Maulana Ghofari; Oktaviani Ahda Nur Rohmah; Poetri Lailatuz Zuhroh
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2024): August 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v17i2.2513

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi pembuatan ecobrick sebagai salah satu metode pengelolaan sampah plastik dan upaya menjaga kebersihan lingkungan di Desa Tarokan. Ecobrick adalah botol plastik yang diisi penuh dengan sampah plastik non-biodegradable, sehingga dapat digunakan sebagai bahan bangunan yang ramah lingkungan. Dengan adanya ecobrick, diharapkan dapat mengurangi jumlah sampah plastik yang mencemari lingkungan serta mencegah genangan air yang menjadi sarang nyamuk penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Participatory Action Research (PAR), yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam setiap tahap kegiatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembuatan ecobrick di Desa Tarokan efektif dalam mengurangi jumlah sampah plastik dan mengurangi risiko penyebaran DBD. Partisipasi masyarakat dalam program ini juga sangat tinggi, menunjukkan kesadaran yang meningkat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.    Abstract: This research aims to examine the implementation of ecobrick production as a method of plastic waste management and an effort to maintain environmental cleanliness in Tarokan Village. An ecobrick is a plastic bottle packed full with non-biodegradable plastic waste, which can then be used as an environmentally friendly building material. The presence of ecobricks is expected to reduce the amount of plastic waste polluting the environment and prevent stagnant water that serves as a breeding ground for mosquitoes causing Dengue Fever (DF). The method used in this research is Participatory Action Research (PAR), involving community participation in every stage of the activity. The research results show that ecobrick production in Tarokan Village is effective in reducing plastic waste and mitigating the risk of DF spread. Community participation in the program is also very high, indicating an increased awareness of the importance of maintaining environmental cleanliness.
Pendayagunaan sampah plastik menggunakan teknik ecobrick sebagai upaya efisien pengurangan sampah plastik Husaini Hilmi Albarki; Nuzulia Nur Fadhilla; Mailena Lemansyah; Ahmad Hilmi Alwan; Moch. Assabiqun Auwal; Diaz Abeyasa
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2024): August 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v17i2.2521

Abstract

Sampah plastik merupakan isu permasalahan yang tak kunjung usai. Hasil survey world bank mengatakan bahwa sampah Indonesia mengandung kadar organik yang berkisar diantara 62% dan kemudian diikuti oleh sampah plastik, logam, kaca dan kertas. Meski demikian masih banyak ditemukan pengelolaan sampah yang tak ramah lingkungan. Banyaknya pembuangan sampah sembarangan, pembakaran, dan juga penimbunan sampah yang ada di desa Patemon menjadikannya permasalahan yang harus dengan segera ditangani demi menjaga kesehatan lingkungan dan meminimalisir terjadinya penyakit yang tak diinginkan. observasi dilakukan berbarengan dengan wawancara dengan beberapa warga agar mudah memetakan masalah yang ada, yang kemudian di analisis serta divalidasi dengan mengadakan FGD (Forum Group Disscussions) dengan warga desa. Tujuan penelitian ini yakni untuk mengurangi sampah plastik dengan metode ecobrick yang dapat berdampak pada volume sampah yang ada di desa Patemon. Dengan begitu edukasi maupun pengelolaan sampah yang ramah lingkungan harus digalakkan, dan ecobrick hadir sebagai salah satu cara dalam menanganinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ecobrick memang menjadi salah satu cara yang efisien dalam mengatasi permasalahan tersebut. Dimulai dari pemilahan sampah yang telah terbuang sehingga dapat digunakan kembali dan dapat menjadi aset pribadi maupun desa Patemon sendiri. Dengan dikenalkannya ecobrick ini diharap masyarakat desa Patemon memiliki alternatif baru dalam mengelola sampah plastik.    Abstract: Plastic waste is a problem that never ends. World Bank survey results show that waste in Indonesia contains organic levels ranging from 62%, followed by plastic, metal, glass and paper waste. However, there is still a lot of waste management that is not environmentally friendly. The large number of indiscriminate dumping of rubbish, burning and also landfilling of rubbish in Patemon village makes it a problem that must be addressed immediately in order to maintain environmental health and minimize the occurrence of unwanted diseases. Observations were carried out simultaneously with interviews with several residents to easily map existing problems, which were then analyzed and validated by holding FGD (Forum Group Discussions) with village residents. The aim of this research is to reduce plastic waste using the ecobrick method which can have an impact on the volume of waste in Patemon village. In this way, education and environmentally friendly waste management must be encouraged, and ecobricks are present as one way to handle this. The research results show that ecobricks are indeed an efficient way to overcome this problem. Starting from sorting waste that has been thrown away so that it can be reused and can become a personal asset for the Patemon village itself. With the introduction of ecobricks, it is hoped that the Patemon village community will have a new alternative in managing plastic waste.
Perbedaan jarak sinar Ultraviolet-C terhadap penurunan bakteri Coliform pada air bersih di dapur PT M May Iasa Badrianti; Ujang Nurjaman; Lubis Bambang Purnama; Payzar Wahyudi
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 17 No. 1 (2024): February 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v17i1.2524

Abstract

Ditemukannya bakteri Coliform sebesar 107 CFU/100ml pada air bersih di dapur PT M yang tidak memenuhi standar baku mutu dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 2 tahun 2023 yaitu 0 CFU/100ml. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jumlah dan penurunan bakteri Coliform sebelum dan sesudah desinfeksi sinar ultraviolet-C dengan perbedaan jarak sinar 2 cm, 5 cm, 8 cm dan jarak sinar ultraviolet-C yang efektif menurunkan bakteri Coliform. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret – Mei 2024 dengan jenis penelitian eksperimen dalam skala lapangan dan menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian posttest with control. Besar sampel yang digunakan sebanyak 24 sampel mikrobiologi air bersih yang diperiksa di Laboratorium. Hasil pengukuran fisik air bersih di lapangan menunjukkan bahwa suhu, pH, TDS, dan kekeruhan sudah memenuhi standar sehingga tidak mempengaruhi atau mengurangi efektivitas sinar ultraviolet-C. Desinfeksi sinar ultraviolet-C terhadap penurunan bakteri Coliform pada air bersih dengan perbedaan jarak 2 cm, 5 cm, dan 8 cm selama 30 detik dengan daya 30 watt dan kedalaman air 5 cm menunjukkan hasil penurunan yang signifikan. Paparan sinar ultraviolet-C dengan jarak sebesar 2 cm paling efektif dalam menurunkan bakteri Colifrom sebesar 100% karena semakin dekat jarak sinar ultraviolet-C, maka semakin cepat bakteri kehilangan patogenesisnya.    Abstract: The detection of Coliform bacteria at 107 CFU/100ml in the clean water in PT M's kitchen does not meet the quality standard set by the Minister of Health Regulation No. 2 of 2023, which is 0 CFU/100ml. This study aims to assess the quantity and reduction of Coliform bacteria before and after ultraviolet-C (UV-C) disinfection at distances of 2 cm, 5 cm, and 8 cm, and to identify the most effective UV-C distance for reducing Coliform bacteria. Conducted from March to May 2024, the research used an experimental field-scale quantitative method with a posttest control design. A total of 24 clean water microbiological samples were tested in the laboratory. Field measurements of clean water showed that temperature, pH, TDS, and turbidity met the standards, not affecting UV-C effectiveness. UV-C disinfection for reducing Coliform bacteria in clean water at distances of 2 cm, 5 cm, and 8 cm for 30 seconds with a power of 30 watts and a water depth of 5 cm showed significant reductions. UV-C exposure at a distance of 2 cm was the most effective, reducing Coliform bacteria by 100%, as closer UV-C light distances accelerate the loss of bacterial pathogenicity.
Perbedaan umpan pada multiple live trap terhadap kepadatan tikus Regita Jasmine Adelin; Nurul Hidayah; Lubis Bambang Purnama; Teguh Budi Prijanto
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 19 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v19i1.2552

Abstract

PT. X merupakan industri yang bergerak di bidang perkebunan. Berdirinya industri tersebut menimbulkan masalah baru yang erat kaitannya dengan kesehatan manusia yang dimana salah satu masalah yang muncul yaitu vektor dan binatang pembawa penyakit yaitu tikus. Pada tubuh tikus terdapat beberapa hewan lain (parasit) yang ada di dalam tubuh (endoparasit) dan di luar tubuh (ektoparasit) yang merupakan penyebab banyak jenis penyakit. Berdasarkan hasil pengukuran kepadatan tikus (success trap) didapatkan sebanyak 3 ekor tikus atau (>1) dinyatakan dalam kategori tinggi menurut Permenkes No 2 Tahun 2023. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan tikus dengan dua variasi umpan yaitu ceker ayam dan ikan asin dengan menggunakan multiple live trap dengan pengulangan masing-masing umpan sebanyak 9 kali. Peletakan perangkap 5-6 m dengan menggunakan garis lurus atau menyesuaikan dengan kondisi dan waktu pemasangan perangkap 15.00-08.00. Jenis penelitian ini eksperimental dengan desain penelitian posttest-only control group design. Sampel dalam penelitian ini yaitu tikus yang terperangkap di sekitar ruang produksi di PT. X. Hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah tikus yang terperangkap menggunakan umpan ceker ayam sebanyak 4 ekor tikus (57,14%), ikan asin sebanyak 3 ekor (42,85%). Analisis data menggunakan Uji Mann-Whitney menunjukan tidak terdapat perbedaan antara jenis umpan ceker ayam dan ikan asin menggunakan multiple live trap, dengan nilai p value sebesar 0,730 (>0,05). Saran bagi penelitian ini adalah menggunakan umpan dengan berbau menyengat.     Abstract: PT. X is a company operating in the plantation sector. The establishment of this company has given rise to new issues closely linked to human health, one of which is the presence of vectors and disease-carrying animals, namely rats. Rats harbour various organisms (parasites) both inside their bodies (endoparasites) and on their bodies (ectoparasites), which are the cause of many types of disease. Based on the results of rat density measurements (success trap), a total of 3 rats were recorded, which is classified as ‘high’ according to Ministry of Health Regulation No. 2 of 2023. This study aimed to determine rat density using two types of bait—chicken feet and salted fish—with multiple live traps, repeating the experiment nine times for each bait type. Traps were placed 5–6 m apart in a straight line or adjusted according to site conditions, and were set between 15:00 and 08:00. This was an experimental study employing a post-test-only control group design. The sample comprised rats trapped around the production areas at PT. X. The results showed that the number of rats trapped using chicken feet as bait was 4 rats (57.14%), whilst those trapped using salted fish as bait was 3 rats (42.85%). Data analysis using the Mann-Whitney test showed no significant difference between the chicken feet and salted fish baits when using multiple live traps, with a p-value of 0.730 (>0.05). A recommendation for this study is to use bait with a strong odour.
Penurunan total kuman alat makan dengan paparan UV-Light Emitting Diode Misda Asriani Lubis; Yosephina Ardiani Septiati; Sadono Setyoko
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 17 No. 1 (2024): February 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v17i1.2574

Abstract

Kebersihan alat makan berperan penting dalam menjaga kualitas makanan dan kesehatan masyarakat, karena peralatan yang tidak bersih dapat menjadi media penularan penyakit bawaan makanan (foodborne disease). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama paparan UV-Light Emitting Diode (LED) terhadap penurunan total angka kuman pada alat makan berupa sendok dan garpu di PT. X. Metode penelitian yang digunakan adalah true experiment dengan teknik pengam-bilan sampel secara acak (random sampling) terhadap 24 sampel sendok dan garpu. Perlakuan diberikan dalam tiga variasi lama paparan, yaitu 10 menit, 15 menit, dan 20 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata persentase penurunan angka total kuman pada lama paparan 10 menit sebesar 49%, 15 menit sebesar 62%, dan 20 menit sebesar 98%. Uji statistik menunjukkan adanya pengaruh signifi-kan antara variasi lama paparan UV-LED terhadap penurunan angka kuman, dengan waktu paparan 20 menit sebagai perlakuan paling efektif. Simpulan dari penelitian ini adalah paparan UV-LED selama 20 menit dapat menurunkan hampir seluruh jumlah kuman pada alat makan sendok dan garpu. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk menilai efektivitas UV-LED terhadap jenis alat makan lain seperti piring dan mangkok.   Abstract: The cleanliness of eating utensils plays an important role in maintaining food quality and public health, as unclean utensils can become a medium for the transmission of foodborne diseases. This study aims to determine the effect of UV-Light Emitting Diode (LED) exposure time on the reduction of total bacteria count on eating utensils, namely spoons and forks, at PT. X. The research method used was a true experiment with random sampling of 24 spoon and fork samples. The treatment was given in three variations of exposure time, namely 10 minutes, 15 minutes, and 20 minutes. The results showed that the average percentage reduction in total bacteria count was 49% for 10 minutes of exposure, 62% for 15 minutes, and 98% for 20 minutes. Statistical tests showed a significant effect between the variations in UV-LED exposure duration and the reduction in bacteria count, with 20 minutes of exposure being the most effective treatment. The conclusion of this study is that 20 minutes of UV-LED exposure can reduce almost all bacteria on spoons and forks. Further research is recommended to assess the effectiveness of UV-LED on other types of tableware, such as plates and bowls.
Pengaruh variasi kecepatan pengadukan proses pengomposan sampah organik terhadap kualitas kompos Sausan Nabilah; Dindin Wahyudin; Pujiono Pujiono; Nia Yuniarti Hasan
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 19 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v19i1.2583

Abstract

Timbulan sampah organik menjadi permasalahan di lingkungan PT X. Sampah organik di PT X belum dilakukan pengolahan lebih lanjut. Salah satu teknologi dalam mengatasi sampah organik yaitu dengan pengomposan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui timbulan sampah organik di PT X sebelum dan sesudah dilakukan pengomposan, mengetahui pengaruh variasi kecepatan pengadukan dalam pengomposan, dan mengetahui efektivitas variasi kecepatan pengadukan dalam pengomposan. Variasi kecepatan pengadukan dalam penelitian ini yaitu 643, 1001, dan 1542 rpm. Jenis penelitian ini True Experimental dengan desain penelitian Posttest-Only with Control. Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan timbulan sampah organik kering dan sampel adalah sebagian dari populasi timbulan sampah organik kering di PT X. Hasil penelitian menunjukkan nilai C/N rasio kompos pada seluruh sampel pengulangan dan perlakukan memenuhi syarat mutu pupuk organik padat sesuai SNI 7763:2018, dimana kompos dengan kecepatan putaran 1001 rpm merupakan kecepatan pengadukan yang menghasilkan kompos dengan nilai C/N rasio tertinggi yaitu 23,73. Uji statistik One-Way Anova menunjukkan terdapat pengaruh variasi kecepatan pengadukan dalam pengomposan sampah organik terhadap kualitas kompos dimana P value (0,000) ≤ α (0,05). Penelitian selanjutnya dapat melakukan pengukuran terpisah antara timbulan sampah yang dihasilkan dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan kegiatan domestik sehingga memudahkan dalam merumuskan permasalahan yang diselesaikan.   Abstract: Organic waste accumulation has become an environmental issue at PT X. PT X has not implemented further processing for organic waste. Composting is one of the technologies to address organic waste accumulation. The objectives of this research are to assess the accumulation of organic waste at PT X before and after composting, to evaluate the effects of stirring speed variations during composting, and to determine the effectiveness of those variations. The stirring speed variations in this research are 643, 1001, and 1542 rpm. This research is a True Experimental design with a Posttest-Only with Control. The research population consists all of the dry organic waste, with a sample taken from a portion of the dry organic waste at PT X. The results show that the C/N ratio of compost across all samples and treatments meets the quality standards for solid organic fertilizers of SNI 7763:2018, with the 1001 rpm stirring speed producing the highest C/N ratio of 23.73. One-Way ANOVA statistical analysis indicates that stirring speed variations  significantly affect compost quality, with a P value (0.000) ≤ α (0.05). Future research could separately measure organic waste generated from Green Open Space (RTH) and domestic activities to better determining the issues.
Enhancing indoor air quality: Assessing air purification technologies for effective pollution control Daffa Arkananta Putra Yanni
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 18 No. 1 (2025): February 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v18i1.2672

Abstract

Indoor air pollution poses serious health risks, highlighting the need for effective purification technologies. Advancements like high-efficiency particulate air (HEPA) filters and heating, ventilation, and air conditioning (HVAC) systems have been widely adopted while emerging methods such as photocatalytic oxidation (PCO), plasma-based systems, and smart air purifiers with real-time monitoring show great potential. This review evaluated the efficiency of these technologies in managing particulate matter (PM), volatile organic compounds (VOCs), and microbial contaminants. HEPA filters are highly efficient, capturing 99.97% of particles ≥0.3 microns. HVAC systems significantly reduce black carbon (BC) and PM concentrations by over 60%. Emerging technologies such as PCO and plasma-based systems demonstrate effectiveness in neutralizing VOCs and pathogens but raise concerns regarding byproducts like ozone. Smart purifiers provide enhanced pollutant monitoring and adaptive cleaning. The findings suggest that a hybrid approach, integrating traditional and advanced purification methods, can address a broader range of pollutants while ensuring cost-effectiveness and sustainability. Future research should focus on optimizing these technologies to minimize harmful byproducts, improve energy efficiency, and validate their real-world performance to support healthier indoor environments. These insights aim to guide the development of comprehensive strategies for pollution control in diverse settings.
Analisis determinan perilaku 0pen defecation free di RW 03 Kademangan Kota Tangerang Selatan Salsabila Mashnu'atul Khasanah; Rismawati Pangestika
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 18 No. 1 (2025): February 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v18i1.2682

Abstract

Open Defecation Free (ODF) merupakan pilar pertama dalam Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Meskipun telah lama diterapkan, berbagai tantangan masih ditemukan. Di RW 03 Kademangan, Kota Tangerang Selatan, sebanyak 215 rumah tangga belum memiliki akses terhadap jamban sehat dan masih membuang tinja di sungai atau kolam sekitar rumah, sehingga menghambat pencapaian status ODF di wilayah tersebut. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain cross-sectional untuk meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ODF. Dari populasi sebanyak 1.172 rumah tangga, diambil sampel sejumlah 101 rumah tangga menggunakan teknik cluster sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis dengan uji Chi-Square (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara perilaku ODF dengan pengetahuan, sikap, kepemilikan jamban, dan peran petugas kesehatan (semua p-value < 0,001). Namun, variabel pendapatan (p-value = 0,116) dan dukungan tokoh masyarakat (p-value = 0,575) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Instansi terkait diharapkan terus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perilaku ODF dan mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam mendukung program ini.   Abstract: Open Defecation Free (ODF) is the first pillar in STBM (Community Based Total Sanitation). Although this program has been implemented for a long time, there are still various challenges in its implementation, especially in the first pillar. In RW 03 Kademangan, South Tangerang City, as many as 215 households do not have access to healthy toilets and still dispose of feces into the rivers or ponds around their homes. This condition makes the area has not yet reached ODF (Open Defecation Free) status. This quantitative study used a cross-sectional design with a population of 1,172 households and a sample of 101 households selected through a cluster sampling technique. Data were collected through interviews and observations using questionnaires, then analyzed by univariate and bivariate analysis using the Chi-Square test (CI 95%, ???? = 0.05). Results showed a significant association between ODF behavior and knowledge (p-value < 0.001), attitude (p-value < 0.001), latrine ownership (p-value < 0.001), and the role of health workers (p-value < 0.001). However, the income variable (p-value = 0.116) and support from community leaders (p-value = 0.575) did not show a significant relationship. It is expected that relevant agencies continue to raise public awareness about the importance of ODF behavior and encourage active community participation in supporting this program.
Efektifitas ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia) sebagai repellent nyamuk Aedes sp dalam bentuk lotion Rahmi Febrilla; Wijayantono Wijayantono; R Firwandri Marza; Lindawati Lindawati; Mahaza Mahaza
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 19 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v19i1.2975

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia, dengan 210.644 kasus dan 1.239 kematian tercatat pada minggu ke-43 tahun 2024. Pencegahan umumnya menggunakan repellent sintetis yang berisiko terhadap kesehatan dan lingkungan, sehingga diperlukan alternatif alami yang lebih aman. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dalam bentuk lotion sebagai repellent nyamuk Aedes sp. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kemenkes Poltekkes Padang pada Januari–Juli 2025 menggunakan desain eksperimen semu (post-test only control group design). Sampel terdiri dari 600 ekor nyamuk Aedes sp yang dibagi menjadi empat kelompok: kontrol (0%) serta perlakuan lotion dengan konsentrasi 6%, 12%, dan 18%. Lotion dioleskan pada lengan relawan, kemudian diamati jumlah nyamuk yang hinggap setiap 15 menit selama 2 jam. Hasil menunjukkan semakin tinggi konsentrasi ekstrak, semakin sedikit nyamuk yang hinggap. Rata-rata jumlah hinggapan pada konsentrasi 6% adalah 27 ekor, 12% sebanyak 22 ekor, dan 18% sebanyak 14 ekor, sedangkan kontrol 29 ekor. Efektivitas repellent berturut-turut mencapai 6,94%, 24,30%, dan 51,44%. Penelitian ini menyimpulkan lotion ekstrak kulit jeruk nipis efektif sebagai repellent alami, terutama pada konsentrasi 18%.   Abstract: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains a major public health problem in Indonesia, with 210,644 cases and 1,239 deaths reported in week 43 of 2024. Prevention generally relies on synthetic repellents, which pose health and environmental risks, highlighting the need for safer natural alternatives. This study aimed to determine the effectiveness of lime peel (Citrus aurantifolia) extract in lotion form as a repellent against Aedes sp. mosquitoes. The research was conducted at the Laboratory of the Ministry of Health, Poltekkes Padang, from January to July 2025, using a quasi-experimental design (post-test only control group). A total of 600 Aedes sp. mosquitoes were divided into four groups: control (0%) and treatments with lotion concentrations of 6%, 12%, and 18%. The lotion was applied to volunteers’ arms, and the number of mosquitoes landing was observed every 15 minutes for 2 hours. Results showed that higher concentrations reduced mosquito landings. The average number of landings was 27 at 6%, 22 at 12%, and 14 at 18%, compared to 29 in the control group. Repellent effectiveness reached 6.94%, 24.30%, and 51.44%, respectively. It can be concluded that lime peel extract lotion is effective as a natural repellent, particularly at 18% concentration

Filter by Year

2008 2026