cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan
ISSN : 23018267     EISSN : 25408291     DOI : -
Core Subject : Social,
JIPT (Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan) publishes a scientific papers on the results of the study/research and review of the literature in the sphere of psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 433 Documents
PENGARUH RESILIENSI TERHADAP DISTRES PSIKOLOGIS PADA MAHASISWA Fatimah Azzahra
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 5 No. 1 (2017): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (966.917 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v5i1.3883

Abstract

Distres psikologis merupakan keadaan negatif kesehatan mental yang mempengaruhi individu baik secara langsung maupun tidak langsung dan berkaitan dengan kondisi kesehatan fisik dan mental lainnya. Distres psikologis yang dialami mahasiswa tersebut tidak sedikit yang berdampak pada kesehatan fisik maupun mental dan bahkan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pengaruh resiliensi terhadap distres psikologis mahasiswa. Pengumpulan data menggunakan Kessler Psychological Distress Scale (K10) dan Connor Davidson Resilience Scale (CDRISC 25) yang diberikan kepada 342 mahasiswa. Analisis data menggunakan teknik analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi memberikan pengaruh negatif sebesar 3.6% yang artinya semakin tinggi resiliensi maka semakin rendah distres psikologis, dan semakin rendah resiliensi maka semakin tinggi distres psikologis.Kata Kunci: Resiliensi, Distres Psikologis, Mahasiswa.Psychological distress is a negative situation  that affects the mental health of individuals either directly or indirectly and relates to the physical and mental health conditions among others. Psychological distress experienced by these students have an impact on their physical health as well as mental and even death. This research aims to discover the influence of resilience against psychological distress at students. Data collection using the Kessler Psychological Distress Scale (K10) and Connor Davidson  Resilience  Scale  (CDRISC  25) given to 342 students. Data analysis using simple linear regression analysis techniques. The results showed that resilience gives 3.6% negative influence, meaning the higher the resilience, the lower the psychological distress, and the lower the resilience the higher the psychological distress.Key Words: Resilience, Psychological Distress, Student
HUBUNGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DENGAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN DEWASA AWAL BAGIAN PRODUKSI PT. GANGSAR TULUNGAGUNG Okky Diasmoro
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 5 No. 1 (2017): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1018.404 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v5i1.3885

Abstract

Tuntutan mencapai target produksi, membuat karyawan dewasa awal bagian produksi memiliki fokus kerja yang tinggi dan rentan mengalami konflik yang berpengaruh pada kepuasan kerjanya. Fokus kerja membuat karyawan dewasa awal jarang melakukan komunikasi interpersonal dengan rekan kerjanya, sedangkan manfaat dari komunikasi interpersonal dapat meningkatkan dukungan sosial yang berpengaruh pada kepuasan kerja. Penelitian kuantitatif korelasional ini bertujuan untuk mengetahui hubungan komunikasi interpersonal dengan kepuasan kerja karyawan dewasa awal bagian produksi PT. Gangsar Tulungagung yang berjumlah 142 dari 242 karyawan dengan menggunakan simple random sampling. Data diperoleh menggunakan skala Komunikasi Interpersonal dan skala Kepuasan Kerja. Teknik analisa data menggunakan uji korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan positif signifikan antara komunikasi interpersonal dengan kepuasan kerja. Semakin tinggi komunikasi interpersonal maka akan semakin tinggi pula kepuasan kerja pada karyawan dewasa awal bagian produksi PT. Gangsar Tulungagung. Pengaruh komunikasi interpersonal terhadap kepuasan kerja sebesar 16,5% (r = 0,406 ; p = 0,000<0,01 ;  = 0,165). Kata kunci : Komunikasi interpersonal, kepuasan kerja, karyawan dewasa awal bagian produksi Demand to achieve the production targets makes early adult production employees have to focus more to fulfill their duties. This condition makes them gain more conflicts and get less of interpersonal communication that affects their job satisfaction, while the interpersonal communication itself creates a social support which also increases the job satisfaction. The purpose of this correlational quantitative research is to know the correlation between interpersonal communication and job satisfaction from early adult production employees of PT. Gangsar Tulungagung which are 142 employees from 242 of total employees and uses simple random sampling. Data is collected using Interpersonal Communication scale and Job Satisfaction scale and analyzed using Product Moment. The result shows a significant positive correlation between interpersonal communication and job satisfaction, which means if the early adult production employees of PT. Gangsar Sentosa have a high interpersonal communication, they will also be satisfied with their job. Interpersonal communication affects the job satisfaction as 16,5% (r = 0,406 ; p = 0,000<0,01 ; = 0,165 ). Keyword : Interpersonal communication, job satisfaction, early adult production employee
EMPATI DAN PEMAAFAN DALAM HUBUNGAN PERTEMANAN SISWA REGULAR KEPADA SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) DI SEKOLAH INKLUSIF Silfiasari Silfiasari
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 5 No. 1 (2017): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (900.046 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v5i1.3886

Abstract

Sekolah inklusif adalah sekolah tempat siswa regular belajar bersama dengan siswa ABK. Dalam sekolah inklusif, ada interaksi antara siswa regular dengan siswa ABK, baik itu interaksi positif maupun negatif. Interaksi positif ditandai dengan adanya hubungan pertemanan yang baik, sedangkan interaksi negatif ditandai dengan adanya masalah dalam hubungan pertemanan. Salah satu cara menangani masalah pertemanan yaitu dengan memaafkan. Banyak faktor yang mempengaruhi individu untuk memberikan maaf, salah satunya adalah empati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara empati dan pemaafan dalam hubungan pertemanan siswa regular kepada siswa ABK di sekolah inklusif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa regular di sekolah inklusif SMP 02 Muhammadiyah Malang sejumlah 105 orang. Pengambilan data menggunakan skala empati dan skala pemaafan. Teknik sampling yang digunakan adaah simple random sampling. Metode analisa data menggunakan Uji Korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif antara empati dan pemaafan dalam hubungan pertemanan siswa regular kepada siswa ABK di sekolah inklusif. (r = 0,323; p = 0,001; p < 0,005).Kata Kunci : Empati, pemaafan, sekolah inklusif. The inclusive school is a school where regular students study together with the ABK students. In an inclusive school, there is an interaction between regular students with ABK students, be it positive or negative. Positive interaction is characterized by the presence of a good friendship relations, whereas negative interactions are characterized by the presence of problems in a friendship relations. One way of addressing the problem of friendship by forgiving. Many factors that affect the individual to give an apology, one of these is empathy. This research aims to know the relationship between empathy and forgiveness in relationship friendship regular students to ABK students in inclusive school. The subject in this study was a regular students at SMP 02 Muhammadiyah as 105 students. Data retrieval using the forgiveness scale and emphaty scale. Technique sampling use simple random sampling. Data analysis using the method of correlation of Test Product Moment. The results showed that there is a positive relationship between empathy and forgiveness in relationship friendship regular students to ABK students in inclusive school. (r = 0.323; p = 0.001; p < 0.005).Keyword : Empathy, forgiveness, inclusive school
STRATEGI COPING TERHADAP KECEMASAN PADA IBU HAMIL DENGAN RIWAYAT KEGUGURAN DI KEHAMILAN SEBELUMNYA Nia Ariestha Azis; Margaretha Margaretha
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 5 No. 1 (2017): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (880.396 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v5i1.3976

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi strategi coping pada wanita hamil yang mengalami kecemasan dengan riwayat keguguran di kehamilan sebelumnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, dengan metode studi kasus dan diukur menggunakan Generalized Anxiety Disorder Questionnaire for DSM-IV. Penggalian data dilakukan menggunakan wawancara kepada tiga subjek dan tiga significant other. Hasil penelitian ini subjek pertama menggunakan problem focused coping, yaitu confrontive coping, mencari dukungan sosial, dan merencanakan pemecahan masalah. Emotion focused coping yaitu accepting responsibility, self control, escape avoidance, positive reappraisal. Subjek kedua menggunakan problem focused coping, yaitu confrontive coping, dukungan sosial, dan merencanakan pemecahan masalah. Emotion focused coping yaitu accepting responsibility, distancing, self control, escape avoidance, positive reappraisal. Subjek ketiga menggunakan problem focused coping, yaitu confrontive coping, mencari dukungan sosial, dan merencanakan pemecahan masalah. Emotion focused coping yaitu self control, escape avoidance, dan positive reappraisal. Kecemasan pada wanita hamil tetap muncul ketika dihadapkan pada situasi serupa meskipun sudah menerapkan strategi coping. Kata kunci: Strategi coping, kecemasan, kehamilan, keguguranThis study identify coping-strategies on anxiety in pregnant women with the history of miscarriage in the previous pregnancy. This study was conducted using qualitative approach, by using Generalized Anxiety Disorder Questionnaire for DSM-IV. The data were collected using interviews to three subject and three significant others. This study showed that the first subject used problem-focused coping, including confrontive-coping, seeking for social-support, and planning to solve the problem. Emotion-focused coping included accepting responsibility, self-control, escape-avoidance, and positive-reappraisal. The second subject used problem-focused coping which include confrontive-coping, seeking for social-support, and planning to solve the problem and also emotion-focused coping included accepting responsibility, distancing, self-control, escape-avoidance, positive-reappraisal. The third subject used problem-focused coping which were confrontive coping, seeking for social-support, and planning to solve the problem. Emotion-focused coping including self-control, escape-avoidance, and positive-reappraisal. Anxiety in pregnant women still appear when faced with a similar situation though is alredy implementing coping strategies. Keywords: Coping strategy, anxiety, pregnancy, miscarriage
HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DENGAN SIKAP TERHADAP HOMOSEKSUAL PADA MAHASISWA UNIVERSITAS SYIAH KUALA Annisa Farahdina Hasyim; Kartika Sari
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 5 No. 2 (2017): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.681 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v5i2.4558

Abstract

Sikap mahasiswa terhadap homoseksual dapat memengaruhi perkembangan homoseksual. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi sikap mahasiswa terhadap homoseksual adalah religiusitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara religiusitas dengan sikap terhadap homoseksual pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala. Penelitian ini  menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel proportionated stratified random sampling dengan jumlah 391 responden (101 laki-laki dan 290 perempuan). Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan Skala Religiusitas yang disusun berdasarkan teori Hamzah, dkk dan Skala Sikap terhadap Homoseksual yang disusun berdasarkan teori sikap Fishbein dan Ajzen. Hasil analisa data menggunakan Spearmen Rho menunjukkan koefisien korelasi (R) sebesar -0,180 dengan nilai p = 0,000 (p< 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara religiusitas dengan sikap terhadap homoseksual. Artinya, semakin tinggi religiusitas mahasiswa maka semakin negatif pula sikapnya terhadap homoseksual ataupun sebaliknya. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa mayoritas tingkat religiusitas mahasiswa Universitas Syiah Kuala tergolong dalam kategori tinggi (98,72%) dan sikap terhadap homoseksual berada pada kategori negatif (95,40%).Kata kunci: religiusitas, sikap terhadap homoseksual, mahasiswa Universitas Syiah Kuala  Student’s attitudes toward homosexual may influence the development of homosexual. One of the factors that influence student’s attitude toward homosexual is religiosity. The purpose of this study was to examined the relationships between religiosity and attitudes toward homosexual among Syiah Kuala University students. This study used the quantitative approach using proportionated stratified random sampling techniqued. The sample consisted of 391 students (101 male and 290 female). The data was collected using two scales which were the Scale of Religiosity based on Hamzah, et al religiosity theory and the Scale of Attitude toward Homosexuality based on Fishbein and Ajzen attitude theory. The result of data analysis used Spearmen Rho correlation showed that correlation coefficient (R) = -0,180 with significance value p = 0,000 (p < 0,05). This indicated that there was a negative relationship between religiosity and attitude toward homosexual. It meant that the higher level of religiosity was followed by the negative attitude toward homosexual and vice versa. The result also showed that most of the Syiah Kuala University students had high level of religiosity (98,72%) and had negative attitude toward homosexuality (95,40%).Keywords: religiosity, attitude toward homosexual, Syiah Kuala University student
Pengaruh Pelatihan Komunikasi Interpersonal Terhadap Kohesivitas Kelompok pada Divisi Food and Beverage Product Hotel X Bintang 5 Yogyakarta Ammy Novita Setiawati; Bagus Riyono
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 6 No. 1 (2018): Januari
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (792.968 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v6i1.4560

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektifitas pelatihan komunikasi interpersonal terhadap kohesivitas kelompok dalam divisi food & beverage product hotel X bintang 5 Yogyakarta. Materi dan desain pelatihan yang digunakan dalam penelitian ini disusun dengan menggunakan  unsur-unsur komunikasi interpersonal menurut Devito (1989) yaitu: keterbukaan, sikap empati, sikap mendukung, sikap positif serta kesetaraan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain penelitian untreated control group design with pretest and posttest. Responden terdiri dari 32 subjek yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol . Pengukuran kohesivitas kelompokmenggunakan skala kohesivitas kelompok yang disusun berdasarkan teori kohesivitas kelompok Widmeyer (Paola & Carless, 2000) dalam 4 dimensi yaitu, yaitu integrasi kelompok tugas, integrasi kelompok sosial, ketertarikan individu kepada kelompok tugas, dan ketertarikan individu kepada kelompok sosial. Hasil analisis data dengan menggunakan wilcoxon T-Test ditemukan perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah dilakukannnya pelatihan komunikasi interpersonaldengan nilai Z= -3,519 dan signifikansi  0,000 (P<0,05). Kata Kunci :Pelatihan komunikasi interpersonal, kohesivitas kelompokThis study aims to look at the effectiveness of the training of interpersonal communication on group cohesiveness in the division of food & beverage product X 5 star hotel in Yogyakarta. The materials and design of training used in this study have been prepared using the elements of interpersonal communication according to DeVito (1989), namely: openness, empathy, being supportive, positive attitude and equality. This research used experimental research design untreated control group design with pretest and posttest. Respondents consisted of 32 subjects were divided into two groups: the experimental group and the control group. Measurement of group cohesiveness using group cohesiveness scale which is based on the theory of group cohesiveness Widmeyer (Paola & Carless, 2000) in four dimensions, namely the integration of the task group, the integration of social groups, interest groups of individuals to the task, and the interest of the individual to the social group.The results of data analysis using Wilcoxon T-test found significant difference before, after and follow up after the perpetration of interpersonal communication training with a value of Chi Square = 5.200 and 0.000 significance ( P < 0.05 ) . Keywords: Training of interpersonal communication , group cohesiveness
EFEKTIVITAS PROGRAM MANAGEMENT BY OBJECTIVES PADA TINGKAT WORK ENGAGEMENT KARYAWAN PT. X ICE CREAM YOGYAKARTA Genjadid Utomo; Bagus Riyono; Sus Budiharto
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 5 No. 2 (2017): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.456 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v5i2.4562

Abstract

Work engagement telah menjadi topik hangat dalam beberapa tahun terakhir di perusahaan-perusahaan konsultasi dan dalam dunia bisnis (Saks, 2006). Penting bagi perusahaan  untuk memperhatikan  engagement para karyawannya  karena  sangat  berkaitan  erat  dengan  outcome  bisnis,   seperti:  produktivitas,   keuntungan,  loyalitas  dan  kenyamanan  pelanggan (Markos & Sandhya, 2010). PT. X merupakan usaha kecil menengah (UKM) yang sedang berkembang. Permasalahan yang dihadapi PT. X berkaitan adalah kurang optimalnya kinerja para karyawan. Penting bagi perusahaan tersebut untuk meningkatkan work engagement karyawan terutama untuk memastikan keberlangsungan usaha dan membuat karyawan memiliki kinerja yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektifitas program management by objectives (MBO) pada tingkat work engagement karyawan di PT. X. Program MBO merupakan salah satu metode penetapan tujuan dengan melibatkan karyawan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain penelitian the before and after study. Sebanyak 12 responden dari perusahaan Usaha Kecil Menengah yang bergerak di bidang beverage terlibat dalam Program MBO yang dilakukan selama 2 bulan. Pengukuran work engagement menggunakan skala UWES (Utrecht Work Engagement Scale) yang dikembangkan oleh Schaufeli dan Bakker (2004). Dengan menggunakan analisis data wilcoxon ditemukan perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah dilakukannnya program MBO dengan nilai Z= -2.135  dan signifikansi  0,03 (P<0,05). Sementara sumbangan efektif program MBO terhadap peningkatan work engagement karyawan PT. X adalah 31,33%.  Kata Kunci : management by objectives, work engagementWork engagement has become a hot topic in recent years in consulting firms and in the business world (Saks, 2006). It is important for companies to pay attention to the engagement of its employees because it is closely linked to business outcomes, such as: productivity, profitability, loyalty and customer convenience (Markos & Sandhya, 2010). PT. X is the small and medium enterprises (SMEs) are being developed. Problems faced by PT. X relates is less than optimal performance of employees. It is important for these companies to increase employee engagement work is mainly to ensure business continuity and to make employees have optimal performance. This study aimed to examine the effectiveness of program management by objectives (MBO) at the level of work engagement of employees at PT. X. MBO program is one method of goal setting by involving employees. This research used experimental methods to study the design of the before and after study. A total of 12 respondents from companies small and medium enterprises engaged in the beverage involved in the MBO program conducted over two months. Measurement of work engagement using a scale Uwes (Utrecht Work Engagement Scale) developed by Schaufeli and Bakker (2004). By using the Wilcoxon data analysis found a significant difference before and after the perpetration of the MBO program to the value of Z = -2,135 and significance of 0.03 (P <0.05). While MBO program effective contribution to the improvement of work engagement of employees of PT. X is 31.33%.Keywords: management by objectives, work engagement
PELATIHAN KEBERSYUKURAN UNTUK MENURUNKAN STRES KERJA GURU DI SEKOLAH INKLUSI Prapti Leguminosa; Fuad Nashori; Mira Aliza Rachmawati
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 5 No. 2 (2017): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.461 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v5i2.4563

Abstract

Penelitian ini menguji pengaruh pelatihan kebersyukuran dalam menurunkan stres kerja guru di sekolah inklusi. Hipotesis dalam penelitian ini adalah tingkat stres kerja kelompok yang diberi perlakuan pelatihan kebersyukuran lebih rendah daripada kelompok yang tidak diberi perlakuan pelatihan kebersyukuran. Rancangan penelitian menggunakan untreated control group design with dependent prates and postetst dengan menambahkan tindak lanjut. Responden penelitian sebanyak 14 orang yang terbagi ke dalam 7 orang kelompok eksperimen dan 7 orang kelompok kontrol. Penelitian ini menggunakan alat ukur stres kerja guru dengan koefisien reabilitas sebesar 0,873. Modul pelatihan kebersyukuran disusunberdasarkan tiga aspek kebersyukuran (Al-Munajjid, 2006; Al-Jauziyyah, 2010), yakni niat (hati), ucapan (lisan), dan perbuatan (anggota badan). Data dianalisis menggunakan Anava Mixed Design untuk melihat perbedaan skor dalam kelompok (prates, pascates, dan tindak lanjut) serta perbedaan skor antar kelompok (eksperimen dan kontrol). Hasil analisis data menunjukkan adanya perbedaan skor yang signifikan pada prates, pascates, dan tindak lanjut antar kedua kelompok. Hal tersebut ditunjukkan dengan skor F = 7,393 dan p = 0,003 (p<0,05). Selain itu, terdapat penurunan tingkatstres kerja pada kelompok eskperimen secara signifikan (MD = 13,857 dan p = 0,012), sementara pada kelompok kontrol terjadi peningkatan stres kerja (MD = -6,571 dan p = 0,189). Artinya, kelompok eksperimen mengalami penurunan tingkat stres kerjasetelah diberi pelatihan kebersyukuran sementara kelompok kontrol yang tidak diberi pelatihan kebersyukuran mengalami peningkatan stres kerja. Selanjutnya, skor partial Eta Squared = 0,561 yang berarti bahwa pelatihan kebersyukuran memberikan kontribusi sebesar 56,1 % terhadap penurunan stres kerja guru.Kata kunci: Stres Kerja Guru, Pelatihan Kebersyukuran, Sekolah Inklusi This study examines the effect of gratitude training in reducing teachers work stress in inclusive schools. The hypothesis of this study is the group that given gratitude training has lower work stress than the group that did not receive gratitude training. This study was an experimental research that used the untreated control group design with dependent pretest and postetst added by follow-up. Participants of this study were 14 participants that divided into 2 groups (experimental group and control group). There are 7 participants in each group. This study used teacher stress inventory developed by Fimian (1988) that were modified by researchers with coefficient of reliability at 0,873. Gratitude training manuals were developed based on three aspects of gratitude according to Al-Munajjid, (2006) and Al-Jawziyyah (2010). Those three aspects are intention (liver), speech (verbal), and behavior (physically). The data were analyzed using Mixed Design Anova to determine the differences of pretest, pascates, and follow-up’s score, and the different between experimental and controlled group’s score. The results showed a significant difference in work stress score at pretest, posttest, and follow-up between the experimental and controlled group (F = 7.393, p = 0.003 (p <0.05)). In addition, there was significant changes in work stress at experimental group (MD = 13.857 and p = 0.012), whereas in the control group there was no significant change (MD = -6.571 and p = 0.189). Those findings indicate that there was reduction in the level of work stress in the experimental group. Whereas the increase of work stress showed in the controlled group. Furthermore, a score partial Eta Squared = 0.561 indicates that the gratitude training contributed 56.1% to the reduction of teacher work stress.Keywords: teachers work stress, gratitude training, inclusive school
EFEKTIFKAH KEYWORD MNEMONIC DALAM MEMPELAJARI KOSAKATA? Nur Andini Sudirman; Andi Ahmad Ridha
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 5 No. 2 (2017): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.774 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v5i2.4639

Abstract

Kosakata adalah hal yang penting untuk diingat oleh individu, namun terkadang individu merasa sulit untuk mengingat kosakata. Individu memerlukan sebuah metode yang dapat membantu untuk mengingat dengan mudah kosakata beserta artinya atau tidak mudah lupa dengan kosakata yang telah dipelajari sebelumnya. Keyword mnemonic merupakan salah satu cara untuk membantu individu dalam mengingat kosakata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas keyword mnemonic dalam meningkatkan kemampuan mengingat arti kosakata bahasa inggris. Subjek penelitian ini melibatkan 56 siswa SMP Negeri 13 Makassar yang belum menghafal kosakata bahasa Inggris beserta artinya. Desain eksperimen yang digunakan pada penelitian ini adalah control group posttest-only design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok yang menggunakan keyword mnemonic dan kelompok kontrol. Kelompok yang menggunakan keyword mnemonic (mean=1.14) memperoleh hasil lebih tinggi dari kelompok kontrol (mean=-5.14) (p=0.000<0.05). Penelitian ini bermanfaat bagi individu yang ingin mengingat dengan mudah dan dapat digunakan dalam waktu jangka panjang. Kata kunci: Keyword mnemonic, mengingat, kosakata Vocabulary is an important thing to be remembered by the people, but sometimes people find it difficult to remember the vocabulary. Individuals need a method that can help to remember vocabulary and their meanings easily or not easily forget the vocabulary that have been studied previously. Keyword mnemonic is one of the method to assist individuals in remembering vocabulary. The purposed of this study was to determine the effectiveness  keyword mnemonic to improve the ability to remember the meaning of the english vocabulary. Subjects of this study involving 56 students of senior high school of thirteen Makassar who have not memorized the English vocabulary and their meanings yet. Experimental design used in this study is the posttest-only control group design. The results showed that there are significant differences between the groups using the keyword mnemonic and control groups. The groups that use the keyword mnemonic (mean=1.14) obtain higher yields than the control group (mean=-5.14) (p=0.000<0.05). This study is beneficial for individuals who would like to recall with ease and can be used in the long term.Keyword: Keyword mnemonic, remember, vocabulary
SUCCESSFUL AGING PADA LANSIA YANG TINGGAL DI LINGKUNGAN PERUMAHAN DAN PERKAMPUNGAN Ariesta Firlianda
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 5 No. 2 (2017): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.939 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran successful aging pada lansia yang tinggal di lingkungan perumahan dan perkampungan.Variabel penelitian adalah successful aging. Subjek yang digunakan sebanyak 322 orang yang keseluruhan merupakan lanjut usia (lansia) dengan rata-rata usia 60-75 tahun. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling atau sampel bertujuan. Alat pengumpul data berupa skala successful aging. Hasil penelitian menunjukkan Successful aging lansia yang tinggal di lingkungan perumahan dan perkampungan menunjukkan adanya perbedaan, artinya lansia yang tinggal di lingkungan perumahan lebih tinggi pada 3 indikator  Successful aging yaitu terdiri dari indikator kemandirian, finansial dan status sosial dan kebermaknaan hidup, sedangkan di indikator aktualisasi diri lansia yang tinggal diperumahan lebih rendah dari lansia yang tinggal di lingkungan perkampungan. Analisis data menggunakan teknik deskriptif statistik. Hasil analisis data diperoleh nilai Successful aging lansia, baik di perumahan dan diperkampungan tergolong dalam kategori Tinggi dengan persentase lansia yang tinggal di perumahan 61% dan presentase lansia yang tinggal di perkampungan sebesar 52%.Kata Kunci:Successful Aging, Lansia (Lanjut Usia), Lingkungan Perumahan dan perkampungan.This study was conducted to describe of successful aging in elderly living in residential and settlement area. Variabel research was successful aging. Subjects used as many as 322 people who overall ware elderly with an average age of 60-75 years. Technique sampling used purposive sampling. Data collect with successful aging scales. The result of this research shows that the successful aging in elderly living at residential and settlement area shows the difference, meaning that the elderly living in the housing is higher on 3 indicators Successful aging is consist of independence, financial and social indicators and meaningfulness of life, while in self-actualization indicator the elderly living in the housing is lower than the elderly living in the neighborhood. Data analysis using statistical descriptive technique. The result of data analysis obtained the value of Successful aging elderly, both in housing and dikampamp pertained in High category with percentage of elderly who live in housing 61% and percentage of elderly living in settlement by 52%.Keywords: Successful Aging, Elderly (Seniors), Housing and Settlement Environment.