cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan
ISSN : 23018267     EISSN : 25408291     DOI : -
Core Subject : Social,
JIPT (Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan) publishes a scientific papers on the results of the study/research and review of the literature in the sphere of psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 433 Documents
Family Function dan Loneliness pada Remaja dengan Orang Tua Tunggal Diana Savitri Hidayati
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 6 No. 1 (2018): Januari
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.592 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v6i1.5432

Abstract

Perubahan struktur keluarga pada keluarga dengan orang tua tunggal akibat perceraian sedikit banyak akan mempengaruhi family functioning keluarga tersebut. Kondisi family functioning tersebut diduga mempunyai korelasi dengan terjadinya loneliness pada remaja sebagai salah satu anggota keluarga dari keluarga dengan orang tua tunggal. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara family functioning dan loneliness pada remaja dengan orang tua tunggal. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional dengan subyek penelitiannya berjumlah 106 remaja berusia 15-18 tahun yang tinggal dengan orang tua tunggal karena perceraian. Metode pengumpulan data melalui skala yaitu skala Family Asessment Device (FAD) dan R-UCLA Loneliness Scale yang masing-masing telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dan telah melalui uji validasi. Hasil penelitian menyatakan bahwa hipotesa penelitian yang diajukan diterima yang berarti bahwa ada hubungan negatif antara family functioning dan loneliness yang dibuktikan oleh perhitungan statistik dengan nilai signifikansi (p) sebesar 0,038.Kata kunci : family functioning, lonelinessWhen parents get divorced, so there will be a change into a family functioning of  this new family. A family functioning  will be predicted to rise loneliness in a teenage. The aim of this study is to determine the relationships of family functioning and loneliness in teenage who live with singgle parents after divorced.  Methode research is a quantitative approach to correlation with number of subjects were 106 teenage who 15-18 years old. Methode of data collecting  in this study by Family Asessment Device (FAD) and R-UCLA loneliness scale. The results showed that there is a significant correlations  between family functioning  and loneliness (r = -0.202; p = 0.038; Correlation is significant at the 0.05 level).Keywords : family functioning, loneliness
Mental Toughness dan Competitive Anxiety pada Atlet Bola Voli Panji Wahyu Algani; Muhammad Salis Yuniardi; Alifah Nabilah Masturah
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 6 No. 1 (2018): Januari
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.182 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v6i1.5433

Abstract

Abstrak. Competitive anxiety merupakan suatu hal negatif dalam menghadapi kompetisi karena dapat menurunkan capaian prestasi dan hal ini diindikasi salah satunya terkait dengan mental toughness atau kemampuan untuk bersikap positif ketika menghadapi suatu tekanan khususnya dalam sebuah pertandingan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara mental toughness dengan competitive anxiety pada atlet bola voli. Terdapat 118 responden yang mengisi lengkap dan data selanjutanya dianalisis melalui product moment correlation Pearson SPSS 21.0. Hasil menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara mental toughness dengan competitive anxiety (r = -0,670 dan p < 0,001). Semakin mampu seorang atlit untuk bersikap positif terhadap tekanan maka semakin rendah kecemasannya menghadapi kompetisi. Kata kunci: mental toughness, competitive anxiety, atlet Abstract. Competitive anxiety could distract concentration and eventually could decrease achievement. It has been indicated that competitive anxiety is related to mental toughness or an ability to develop a positive attitude in handling pressure particularly a competition. This study aimed to investigate the relationship between mental toughness and competitive anxiety. This study recruited 118 volleyball athletes and their data subsequently was analysed through product moment correlation Pearson SPSS 21.0. The result revealed that there was a significant negative correlation between mental toughness and competitive anxiety behavior (r = -0,670 and p < 0,001). More able to positively perceive pressure and handling the situation, athletes would be less anxiety in facing the competition. Keyword: mental toughness, competitive anxiety, athletes
Pengaruh Perilaku Bullying terhadap Empati Ditinjau dari Tipe Sekolah Isnaini Zakiyyah Arofa; Hudaniah Hudaniah; Uun Zulfiana
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 6 No. 1 (2018): Januari
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1059.857 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v6i1.5435

Abstract

Semakin tahun perilaku bullying semakin meningkat baik secara verbal, fisik maupun psikologi. Bullying merupakan tindakan intimidasi yang dilakukan pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah. Salah satu faktor dari perilaku bullying adalah kemampuan empati yang rendah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui apakah ada perbedaan perilaku bullying pada tipe single sex school dan coeducational schools setelah dikendalikan oleh empati. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif uji ancova, dengan skala perilaku bullying dan skala empati Interpersonal Reactivity Index (IRI. Jumlah subjek sebanyak 385 santri perempuan dengan teknik cluster random sampling. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan perilaku bullying ditinjau dari tipe sekolah single sex school dan coeducational school setelah dikendalikan oleh empati nilai signifikansi sebesar 0,001 ( P ≤ 0,05 = 0,001 ≤ 0,05). Besaraan sumbagan pengendalian empati terhadap perilaku bullying hanya sebesar 3,3% sisanya dipengaruhi faktor lain yang tidak dijelaskan pada penulis pada penelitian ini. Kata kunci : Perilaku bullying, empati, dan tipe sekolah More years of bullying behavior is increasing both verbally, physically and psychologically. Bullying is an act of intimidation by a stronger party against a weaker party. One factor of bullying behavior is low empathy. The purpose of this study was to find out whether there are differences in bullying behavior on single sex school type and coeducational schools after being controlled by empathy. The method used in this study is quantitative ancova test, with the scale of bullying behavior and empathy scale Interpersonal Reactivity Index (IRI) The number of subjects as much as 385 female santri with cluster random sampling technique.The results showed the differences in bullying behavior in the type of school single sex school And coeducational school after being controlled by empathy significance value of 0.001 (P ≤ 0.05 = 0.001 ≤ 0.05) . In addition, the contribution of empathy control to bullying behavior is only 3.3%. The rest is influenced by other factors not explained to the authors in this study.Keywords: Bullying behavior, empathy, and school type
Dukungan Sosial Teman Virtual Melalui Media Instagram pada Remaja Akhir Ainun Rahmawati; Yuni Nurhamida
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 6 No. 1 (2018): Januari
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1092.987 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v6i1.5534

Abstract

Abstrak. Remaja akhir sendiri memiliki kebutuhan untuk berkomunikasi dengan teman sebaya, sehingga media instagram menjadi kebutuhan sehari-hari. Media instagram merupakan kemajuan teknologi yang perlahan menggeser sosialisasi secara langsung menjadi virtual. Dukungan sosial teman virtual yaitu dukungan sosial yang didapat melalui dunia maya. Tujuan dari penelitian ini untuk menggambarkan dukungan sosial teman virtual melalui media instagram. Subjek penelitian berjumlah 428 mahasiswa dengan metode pengambilan data purposive sampling. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuisoner berdasarkan bentuk dukungan yaitu bentuk dukungan sosial instrumental, informasional, emosional, penghargaan diri dan jaringan sosial. Hasil dari penelitian ini yaitu bentuk dukungan tertinggi pada dukungan instrumental berjumlah 86,9 %, urutan kedua yaitu bentuk dukungan informasional berjumlah 79,7 %, urutan ketiga yaitu bentuk dukungan jaringan sosial berjumlah 56,5 %, diurutan keempat bentuk dukungan penghargaan berjumlah 34,8% dan diuruta kelima bentuk dukungan emosional berjumlah 23,6 %. Kata kunci : dukungan sosial teman virtual, instagram, remaja akhir Abstract. Late teens themselves have a need to communicate with peers, so that instagram media into their daily needs. Media instagram is slowly shifting technological advances directly into a virtual socialization. Social support virtual friends that social support is obtained through cyberspace. The purpose of this study to describe the social support virtual friends via instagram media. Subjects numbered 428 students with purposive sampling method of data collection. Collecting data in this study using a questionnaire based on the form of support is a form of social support instrumental, informational, emotional, self-esteem and social networks. Results from this research that the highest form of support in instrumental support amounted to 86.9%, The second sequence that forms informational support amounted to 79.7%, the third is a form of social networking support amounted to 56.5%, in fourth form of support awards amounted to 34.8% and the fifth in the form of emotional support amounted to 23.6%. Keywords: social support virtual friends, instagram, late adolescence
Kontrol diri pada individu yang orangtuanya bercerai ditinjau dari pemaafan dan religiusitas Fairuzatul Hakimah Alamsyah; Ghea Niasgita F Uzra'; Indah Dewanti Rahmalia; Ahmad Rusdi
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 6 No. 2 (2018): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.764 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v6i2.5590

Abstract

Abstrak. Individu yang orang tuanya bercerai cenderung mengalami dinamika yang berbeda dengan individu yang orang tuanya memiliki hubungan yang harmonis. Mereka cenderung merasakan pergolakan emosi yang mendalam akibat perceraian kedua orang tuanya yang kemudian berdampak pada bagaimana kemempuan mereka untuk mengontrol dirinya agar tidak terjerumus kepada hal-hal negatif. Beberapa hal yang bisa mendukung kontrol diri dengan baik adalah bagaimana mereka mampu memaafkan peristiwa yang telah tejadi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pemaafan dan religiusitas terhadap kontrol diri. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 37 orang yang memiliki orangtua dengan status bercerai. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji regresi berganda dan uji beda. Data dikumpulkan menggunakan skala kontrol diri, skala pemaafan, dan skala religiusitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara kontrol diripada individu yang orang tuanya bercerai ditinjau dari pemaafan dan religiusitas. Pemaafan memiliki pengaruh langsung terhadap kontrol diri serta memiliki hubungan positif yang signifikan. Religiusitas juga memiliki hubungan dengan kontrol diri, namun hubungan antar keduanya bukanlah hubungan langsung melainkan melalui pemaafan sebagai mediator.Kata Kunci : kontrol diri, pemaafan, religiusitas  Abstract. Individuals whose parents divorce tend to experience different dynamics with individuals whose parents have a harmonious relationship. They tend to feel a deep emotional upheaval due to the divorce of their parents which then affects how they are able to control themselves so as not to fall into negative things. Some things that can support self-control well are how they are able to forgive the events that have occurred and get closer to Allah SWT. The purpose of this study is to determine the relationship between forgiveness and religiosity towards self-control. Subjects in this study amounted to 37 people who have parents with divorced status. Data analysis used in this study is multiple regression test and different test. Data were collected using a scale of self-control, forgiveness scale, and scale of religiosity. The results showed that there was a significant correlation between controls in the individual whose parents divorced in terms of forgiveness and religiosity. Forgiveness has a direct influence on self-control and has a significant positive relationship. Religiosity also has a relationship with self-control, but the relationship between the two is not a direct relationship but through forgiveness as a mediator.Keyword : self-control, forgiveness, religiosity
Membangun teacher learning climate sebagai strategi peningkatan kualitas guru Anissa lestari kadiyono; Sekar Ayu Anjani; Serawanti Deliana
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 6 No. 2 (2018): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (851.124 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v6i2.5746

Abstract

Abstrak. Upaya dalam mewujudkan guru sebagai pembelajar dalam menyikapi perubahan akan tuntutan pendidikan dan kemajuan zaman membuat harus adanya upaya dari lingkungan, yaitu sekolah maupun dari dalam diri guru yang akan bersinergi untuk muwujudkan guru sebagai pembelajar. Upaya sekolah dalam mendukung pembelajaran guru di sekolah dapat dijelaskan dengan teori Teacher Learning Climate dari Marsick dan Watkins (2003). Tujuan penelitian ini adalah memberikan gambaran mengenai Teacher Learning Climate yang dapat dibangun pada guru SMP Negeri di Kota Bandung. Penelitian ini dilakukan kepada 109 guru yang aktif mengajar pada SMP Negeri di Kota Bandung. Rancangan penelitian yang digunakan adalah non-eksperimental kuantitatif. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner Teacher Learning Climate. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner, kemudian diolah secara statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Teacher Learning Climate pada guru di kota Bandung dapat dibangun melalui Kolaborasi dan Kepemimpinan yang menunjang dari Sekolah. Upaya meningkatkannya melalui forum komunikasi guru dan adanya kepemimpinan yang efektif dari sekolah akan meningkatkan Teacher Learning Climate pada Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kota Bandung. Dengan peningkatan Teacher Learning Climate, maka hal ini akan meningkatkan kualitas guru pengajar yang akan meningkatkan kualitas pendidikan secara umum.Kata kunci: Teacher Learning Climate, Guru, Sekolah Menengah PertamaAbstract. We needs efforts in realizing the teacher as a long-life learner in dealing with various changes will demand knowledge improvement and advancement to make them survive and will perform as well as government expected. School and their learning environment should be synergized to make a teacher as a long-life learner. School efforts in supporting teacher learning in schools can be explained by Teacher Learning Climate theory from Marsick and Watkins (2003). The purpose of this study is to provide an overview of teacher learning climate that can be built at Junior High School in Bandung. This study was conducted to 109 teachers who actively teach at Junior High School in Bandung. The research design used non-experimental quantitative. Data were collected using Teacher Learning Climate questionnaire, then processed statistically. The results showed that Teacher Learning Climate at Junior High School in Bandung city can be built from Collaboration and Leadership at School. Some efforts to improve it through teacher communication forums and the effective leadership at schools will improve Teacher Learning Climate at Junior High School in Bandung. Improving Teacher Learning Climate will fostering teacher qualitification and will make educational quality improvement.Keywords: Teacher Learning Climate, Teacher, Junior High School
Critical-thinking assessment table: a novel strategy to foster students’ critical thinking dispositions Ahmad Sulaiman
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 6 No. 2 (2018): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1010.544 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v6i2.5892

Abstract

Abstrak. Disposisi berfikir-kritis adalah aspek penting dalam diri siswa yang mendorong mereka untuk berfikir-kritis baik dalam kehidupan akademik dan sehari-hari. Sayangnya, para peneliti menaruh perhatian yang begitu kecil kepada disposisi berfikir kritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji coba suatu strategi baru untuk menumbuhkan disposisi berfikir-kritis tiga mahasiswa pascasarjana Indonesia. Strategi itu direpresentasikan dalam sebuah tabel yang berisi kriteria berfikir-kritis dan fase regulasi diri berfikir-kritis. Strategi tersebut bertujuan untuk menjadikan eksplisit sekaligus melatih metakognisi dan regulasi diri siswa dalam proses berfikir kritis. Nilai yang didapat dari skala disposisi berfikir-kritis menunjukkan bahwa intervensi berhasil meningkatkan disposisi berfikir kritis pada siswa. Sementara itu, interview mengungkap beberapa temuan yang berharga mengenai kesulitan pembelajaran siswa dan bagaimana intervensi telah berhasil membuat siswa menyadari proses berfikirnya disamping, melatih metakognisi dan regulasi diri mereka. Keterbatasan dan implikasi dari strategi ini akan didiskusikan lebih lanjut.Kata kunci: disposisi berfikir kritis, regulasi diri, metakognisiAbstract. Critical-thinking dispositions are integral to drive and maintain students’ use of critical-thinking in their academic and daily life setting. Yet, critical-thinking dispositions have received small attention from researchers. The present study developed and tested a novel strategy aimed to foster three Indonesian Master Students’ critical-thinking dispositions. The strategy represented by a table consisting of a set of critical-thinking criteria and phases of critical-thinking self-regulation. The strategy intended to make explicit and to enhance the students’ metacognition and self-regulation in the process of critical-thinking. Scores retrieved from critical-thinking dispositions scale shows that the intervention successfully increased the overall students’ level of critical-thinking dispositions. The qualitative data from individual interviews revealed some valuable insights about the students’ learning difficulties and that the strategy successfully made students aware of their thinking process and reinforced the students’ metacognition and self-regulation process. The limitation and implication of the strategy are discussed.Keywords: critical-thinking dispositions, self-regulation, metacognition
Perundungan dan School Well-being: Place Attachment sebagai Moderator Katarina Menik Astuti; Ratna Djuwita
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 7 No. 2 (2019): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1055.984 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v7i2.5942

Abstract

Abstrak. Salah satu bentuk perilaku yang dapat menurunkan school well being dan membuat iklim sekolah menjadi tidak menyenangkan adalah perundungan. Studi literatur menunjukkan bahwa selain perundungan, place attachment terhadap sekolah ternyata juga mempengaruhi school well being. Peneliti mengajukan hipotesis bahwa place attachment berperan sebagai moderator dalam hubungan antara perundungan dan school well being. Pengambilan data dilakukan pada 133 orang mahasiswa tingkat pertama dengan menggunakan kuesioner yang mengadaptasi alat ukur school well-being dan place attachment. Selain itu ditanyakan pula pengalaman perundungan responden saat di SMA. Hasil penelitian membuktikan bahwa place attachment berperan sebagai moderator dalam hubungan antara perundungan dengan school well-being; semakin tinggi place attachment maka semakin kuat hubungan negatif antara perundungan dengan school well-being. Hal ini menunjukkan bahwa place attachment dapat menjadi penangkal terhadap perundungan. Bagi siswa yang memiliki ikatan dan identifikasi diri yang kuat terhadap sekolah, maka perundungan yang terjadi tidak menurunkan school well-beingnya. Mereka akan tetap merasa nyaman bersekolah walaupun perundungan masih terjadi.Kata kunci: Perundungan, Place Attachment, School Well-being, ModeratorAbstract. One form of behavior that can reduce school well-being and make unpleasant school climate is bullying. Literature studies shows, that besides bullying, place attachment to school also affects school well being. The researcher hypothesized that place attachment acts as a moderator in the relationship between bullying and school well being. Data collection was conducted on 133 first-degree students using a questionnaire adapting the school well-being and place attachment questionnaire. In addition, the questionnaire also asked about respondents' bullying experience when in high school. The results show that place attachment acts as a moderator in the relationship between bullying with school well-being: Higher  place attachment will act as a buffer on bullying.  Students who have strong bonds and identify themself strongly with their schools, their school well-being will not be harmed by bullying. This suggests that students with high place attachment can remain comfortable and happy in school, even though bullying still occurs in their schools.Keywords: Bullying, Moderation, Place Attachment, School Well-being
Inferiority dan perilaku bullying dimediasi oleh dorongan agresi pada remaja sekolah menengah pertama SIlvia Risa Istanti; Muhammad Salis Yuniardi
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 6 No. 2 (2018): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.354 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v6i2.5948

Abstract

Abstrak. Bullying menempati posisi pertama dibandingkan kasus lainnya di dunia pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh inferiority terhadap perilaku bullying dengan dorongan agresi sebagai variabel mediator. Partisipan penelitian berjumlah 150 pelaku bullying yang merupakan siswa SMP. Hasil analisis mediasi menggunakan ordinary leeast square regression dengan macro SPSS model 4 dari hayes menunjukkan bahwa inferiority mempengaruhi perilaku bullying remaja melalui perantara dorongan agresi. Remaja yang memiliki perasaan rendah diri, lemah, tidak mampu melakukan suatu hal akan cenderung memiliki dorongan agresi untuk melakukan kekerasan berupa perilaku bullying kepada orang.Kata Kunci: Dorongan Agresi, Perilaku Bullying, InferiorityAbstract. Bullying has been reported as the most frequent cases in education. This study aimed to examine the effect of inferiority on bullying behavior with aggression as a mediator variable. Participants were 150 bullying actors which were junior high school students. The mediation analysis using ordinary leeast square regression through macro SPSS model 4 from hayes showed that inferiority influenced bullying behavior of teenagers mediated by aggression encouragement. It means that teenagers who have inferiority, weakness feeling, feel unable to do anything will have the aggression encouragement to make a violence by doing bullying actions to others. Keywords:  Aggression Encouragement, Bullying Behavior, Inferiority
Gambaran citra tubuh pada wanita dewasa awal yang mengalami obesitas Muhammad Luthfi Fernando
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 7 No. 1 (2019): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.2 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v7i1.6369

Abstract

Abstrak. Citra tubuh adalah ide seseorang mengenai penampilannya dihadapan orang lain. Umumnya wanita memiliki perhatian lebih dalam menjaga penampilanya. Obesitas adalah suatu masalah yang ditakuti wanita dan dapat berdampak pada masalah psikologis dan kesehatan. Tujuan penelitian ini mengetahui gambaran citra tubuh pada wanita dewasa awal yang mengalami obesitas. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif studikasus dengan pada satu orang. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan kuesioner yang mengukur gambaran citra tubuh. Hasil penelitian menunjukkan subjek memiliki kebiasaan pola makan berlebihan dan kurang gerak tubuh sehingga memiliki dampak seperti gangguan psikososial: rasa rendah dan menarik diri, gangguan kesehatan: mudah  lelah/mengantuk dan kesulitan keseimbangan. Adapun citra tubuhnya secara keseluruhan mengangggap fisik tidak menarik, kesulitan menyesuaikan diri, namun tidak melakukan usaha konsisten mengevaluasi penampilan sehingga disarankan melakukan konsultasi kesehatan dan psikologis. Kata Kunci: Citra tubuh, Wanita Dewasa Awal, Obesitas Abstract. Body image is someone's idea about his appearance before other people. Generally women have more attention in maintaining their appearance. Obesity is a problem that women fear and can have an impact on psychological and health problems. The purpose of this study is to describe body image in early adult women who are obese. The research method used was a qualitative approach to casestudy with one person. Methods of collecting data using observations, interviews, and questionnaires that measure the picture of body image. The results showed subjects had a habit of overeating and lacking gestures so that they had an impact such as psychosocial disorders: feeling of inferiority and withdrawal, health problems: fatigue/ sleepiness and balance difficulties. The overall body image is physically unattractive, difficulty adjusting, but does not make a consistent effort to evaluate appearance so it is advisable to conduct health and psychological consultations. Keywords: Body image, Early Adult Woman, Obesity