cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan
ISSN : 23018267     EISSN : 25408291     DOI : -
Core Subject : Social,
JIPT (Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan) publishes a scientific papers on the results of the study/research and review of the literature in the sphere of psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 433 Documents
GRATITUDE DAN PSYCHOLOGICAL WELLBEING PADA REMAJA Adhyatman Prabowo
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 5 No. 2 (2017): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.298 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v5i2.4857

Abstract

Gratitude dan psychological well-being merupakan aspek emosi positif yang ada dalam individu. Individu yang memiliki rasa bersyukur karena mampu menyadari bahwa dirinya banyak menerima kebaikan, penghargaan baik dari Tuhan, orang lain dan lingkungan sekitarnya. Sedangkan individu yang memiliki psychological well-being ketika Ia mampu menerima dirinya, membentuk hubungan yang hangat, memiliki kemandirian, mengontrol lingkungan eksternal, memiliki arti dalam hidup serta merealisasikan potensi dirinya secara kontinyu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Gratitude terhadap Psychological well being pada remaja. Penelitian menggunakan desain kuantitatif non eksperimen korelasional dua variabel. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik cluster sampling. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala Ryff’s psychological well-being scale dan  The Gratitude Questionnaires Six Item Form (GQ-6). Analisa data menggunakan metode analisa korelasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara gratitude dan psychological well-being pada remaja (r=0,012, p=0,865). Kata kunci: Gratitude, psychological well-being, remaja. Gratitude and psychological well being is a positive emotional aspect in every individual. People have gratitude on their self because they aware to get something good in every situation, a good appreciation from God and another people. Meanwhile, people who have psychological well being when they have self acceptance, positive relation to other people, have autonomy and mastering environment, have purpose in life and realizing their potential. The purpose of this study is to know the effect of gratitude towards psychological well being in adolescents. The research design used quantitative non-experimental study, correlating 2 variables. The sampling technique using cluster sampling. The data collected by using Ryff’s Psychological Well-Being Scale formed by Caroll D. Ryff (1989) and The Gratitude Questionnaires Six Item Form (GQ-6) be in the form of Likert Scale by McCullough (2002). The data analyzed by correlational analysis method. The result of this study show that there is no correlation between gratitude and psychological well-being in adolescent (r = 0,012; p=0,865). Keywords: Gratitude, psychological well-being, adolescents
KUALITAS PERTEMANAN DAN BULLYING VICTIMIZATION PADA REMAJA SMP DI KOTA BANDA ACEH Aulia Denisa Putri; Afriani Afriani
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 5 No. 2 (2017): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.263 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v5i2.4934

Abstract

Maraknya kasus bullying victimization pada remaja saat ini menjadi perhatian serius. Oleh karena itu, perlu adanya suatu faktor protektif yang dapat berkontribusi dalam mengurangi bullying yang terjadi, khususnya dari pihak korban. Salah satu faktor protektif yang potensial adalah melalui hubungan pertemanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kualitas pertemanan dengan bullying victimization pada remaja SMP di Kota Banda Aceh. Sampel penelitian berjumlah 360 remaja SMP (185 laki-laki dan 175 perempuan). Total dari 360 remaja SMP dari 4 sekolah di kota Banda Aceh didapatkan dengan menggunakan teknik pengambilan sampel cluster sampling dan disproportionate stratified random sampling. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan Friendship Qualities Scale dan The Revised Olweus Victim Questionnaire. Hasil analisa menunjukkan terdapat hubungan negatif dan siginifikan antara kualitas pertemanan dengan bullying victimization pada remaja SMP di Kota Banda Aceh (r= -0,3, p<0,05). Hal ini mengindikasikan semakin tinggi skor kualitas pertemanan maka semakin rendah skor pada intensitas bullying victimization, demikian pula sebaliknya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kualitas pertemanan yang tinggi dapat menjadi pelindung yang potensial dalam menurunkan keterlibatan remaja dalam bullying victimization. Kata kunci : Kualitas pertemanan, Bullying Victimization, Remaja SMP The increasing rates of bullying victimization on adolescence recently is an alarm. Therefore, there is need for a protective factor that can contribute in reducing the instances of bullying, particularly for the victim. One of potential protective factor is friendship. The aim of this study was to investigate the relationship between friendship quality and bullying victimization on middle school students in Banda Aceh. A total of 360 middle school students (185 male and 175 female) from 4 schools in Banda Aceh was selected using cluster and disproportionate stratified random sampling. Data in this study was collected using Friendship Qualities Scale and The Revised Olweus Victim Questionnaire. Data analysis showed that there was a negative and significant correlation between friendship quality and bullying victimization on middle school students in Banda Aceh (r= -0,3, p<0,05). This indicated that higher score on friendship quality scale would followed by lower score on bullying victimization questionnaire, and vice versa. Thus, it can be concluded that a high friendship quality could be a potential protection in decreasing adolescents involvement in bullying victimization. Keywords: Friendship quality, bullying victimization, middle school students
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMITMEN KARIER Tri Muji Ingarianti
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 5 No. 2 (2017): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.755 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v5i2.4935

Abstract

Komitmen karier adalah sikap yang ditunjukkan individu dalam mencapai tujuan karier.  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hasil-hasil penelitian (literature review) mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi komitmen karier pada individu. Penelusuran literatur dilakukan pada database elektronik SAGE Journals, ProQuest, dan Science Direct dengan menggunakan kata kunci “career commitment”. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa komitmen karier dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi komitmen karier terdiri dari komitmen organisasi, keterlibatan kerja, kepuasan kerja, nilai kerja, pengalaman kerja, kepribadian, dan self-efficacy sedangkan faktor eksternal terdiri dari situasi kerja yang meliputi kondisi kerja, persepsi pensiun, persepsi terhadap ancaman dalam bekerja, dorongan yang ditawarkan organisasi (offered inducements), kontribusi yang diharapkan organisasi (expected contributions), peluang promosi, dan reward. Kata kunci: Karier, komitmen karier Career commitment is the attitude that individuals show in achieving career goals. This study aims to examine the results of research or literature review on the factors that affect career commitments in individuals. The literature search was conducted on SAGE Journals, ProQuest, and Science Direct electronic databases using the keyword "career commitment". Search results showed that career commitments are influenced by internal and external factors. Internal factors affecting career commitment consist of organizational commitment, job involvement, job satisfaction, work value, work experience, personality, and self-efficacy while external factors consist of work situations covering working conditions, retirement perception, perceptions of threats in work, encouragement offered by the organization (offered inducements), the expected contribution of the organization (expected contributions), promotion opportunities, and rewards. Keywords: Career, career commitment
PARENTING SELF EFFICACY AYAH PADA NUCLEAR DAN EXTENDED FAMILY Sri Hardyanti; Diah Karmiyati; Diana Savitri Hidayati
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 5 No. 2 (2017): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (665.863 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v5i2.4939

Abstract

Bentuk keluarga di Indonesia cukup beragam, namun secara garis besar bentuk keluarga tersebut dibagi menjadi nuclear family dan extended family. Kedua bentuk keluarga ini memiliki perbedaan mendasar dari anggota keluarga yang ada dalam keluarga tersebut, dimana keduanya mampu menimbulkan dinamika yang berbeda  khususnya dari ketersediaan dukungan sosial dan berdampak terhadap Parenting Self-Efficacy (PSE) ayah. Penelitian ini bertunjuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan PSE ayah pada nuclear dan extended family yang diukur dengan menggunakan Fathering Self-Efficacy Scale (FSES), dimana desain penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah snowball dengan jumlah subjek sebesar 200 orang dan data yang didapatkan dari subjek dianalisis dengan menggunakan uji Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan nilai Z= -1.273 dan p=0.216 (p>0.05) sehingga dapat diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap PSE ayah pada nuclear dan extended family.  Kata Kunci: Parenting Self-Efficacy,  nuclear family, extended family There are a lot of family form in Indonesia, but the outline of that form devides into nuclear family and extended family. The basic difference of both of them is family member who existing in and causes a different dynamic spesifically the availibilty of social support, so at the end of the day it will affect on father’s Parenting Self-Efficacy (PSE). The aim of this study is identying the differences of PSE level between father in nuclear family and extended family by using a Fathering Self-Efficacy Scale (FSES) with  quantitative as a research design. Snowball is a sampling technique with 200 subjects and the data is analyzed by using Mann Whitney test. The result shows Z score=-1.273 and p=0.216 (p>0.05), therefore there is no significant differences of PSE level between father in nuclear and extended family. Keywords:  PSE, nuclear family, extended family
Parent’s academic expectation dan Konsep Diri Akademik Terhadap Kecemasan Menghadapi Ujian Nasional siswa SMA Dian Putri Permatasari; Unita Werdi Rahajeng; Afia Fitriani; Yunita Kurniawati
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 6 No. 1 (2018): Januari
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.328 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v6i1.5030

Abstract

Ujian nasional merupakan salah tahap yang harus dilalui siswa SMA sebelum mereka dinyatakan lulus dari sekolah menengah. Meskipun tidak lagi menjadi prasyarat kelulusan, namun menghadapi ujian nasional tetap menimbulkan kecemasan tersendiri. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kecemasan dalam menghadapi ujian, diantaranya adalah faktor internal dan juga faktor eksternal dari siswa yang bersangkutan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh parent’s academic expectation dan konsep diri akademik terhadap kecemasan dalam menghadapi ujian nasional pada siswa SMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Instrumen penelitian menggunakan 3 skala, yaitu skala parent’s educational expectation, skala konsep diri akademik, dan skala kecemasan ujian. Responden dalam penelitian ini berjumlah 163 siswa SMA. Data dianalisis menggunakan teknik analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan nilai F = 31,90 dengan p = 0.000, artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara harapan orang tua dan konsep diri terhadap kecemasan dalam menghadapi ujian nasional pada siswa SMA. 
Gambaran Perilaku Disregulasi Emosi Anak Prasekolah Usia 3-4 Tahun Christopora Intan Himawan Putri; Linda Primana
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 6 No. 1 (2018): Januari
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.821 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v6i1.5113

Abstract

Abstrak. Regulasi emosi merupakan kemampuan anak dalam mengekspresikan, mengenali dan mengatur emosi agar dapat ditampilkan sesuai dengan norma sosial yang berlaku. Sebaliknya, disregulasi emosi merupakan ketidakmampuan dalam meregulasi emosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku disregulasi emosi yang muncul pada anak prasekolah usia 3-4 tahun. Metode eksploratif kualitatif digunakan untuk melihat gambaran perilaku disregulasi emosi yang muncul pada anak usia 3-4 tahun. Hasil wawancara dengan guru, observasi perilaku disregulasi emosi anak serta data penunjang lainnya menunjukkan bahwa terdapat beberapa perilaku yang berhubungan dengan disregulasi emosi ada anak usia prasekolah usia 3-4 tahun. Perlu diadakan intervensi terkait perilaku disregulasi emosi anak usia prasekolah untuk mencegah perilaku agresif di masa mendatang.Kata kunci: disregulasi emosi, regulasi emosi, prasekolahAbstract. Emotional regulation is the ability of children to express, recognize and manage emotions to be displayed in accordance with prevailing social norms. Conversely, emotional dysregulation is an inability to regulate emotions. This study aims to determine the behavior of emotional dysregulation that appears in preschool children aged 3-4 years. Qualitative explorative method is used to see the description of emotional dysregulation behavior that appears in children aged 3-4 years. The results of interviews with teachers, observation of emotional dysregulation behavior of children and other supporting data indicate that there are some behaviors associated with emotional dysregulation there are preschool children aged 3-4 years. Interventions regarding the behavior of emotional dysregulation of preschool-aged children need to be organized to prevent aggressive behavior in the futureKeywords: disregulation emotion, regulation emotional, preschool
Psikoedukasi Seks untuk Mencegah Pelecehan Seksual pada Anak Prasekolah Anugrah Sulistiyowati; Andik Matulessy; Herlan Pratikto
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 6 No. 1 (2018): Januari
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (650.552 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v6i1.5171

Abstract

Abstrak. Pelecehan seksual pada anak adalah perilaku yang mengarah pada hal yang bersifat seksual pada anak, tidak dikehendaki oleh anak, serta menimbulkan dampak negative pada anak. Kasus pelecehan seksual pada anak semakin meningkat pertahunnya sehingga perlu dilakukan pencegahan melalui psikoedukasi seks pada anak prasekolah. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh psikoedukasi seks dalam meningkatkan pengetahuan tentang pelecehan seksual anak prasekolah. Penelitian tersebut menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain one group pretest posttest. Subyek yang digunakan dalam penelitian adalah siswa TK atau prasekolah sebanyak 10 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan yang dipilih secara purposif. Penelitian ini dianalisis menggunakan Uji Wilcoxon singed rank digunakan untuk mengukur pengaruh psikoedukasi seks untuk meningkatkan pengetahuan tentang pelecehan seksual pada anak prasekolah sebelum dan sesudah intervensi. Didapatkan nilai z sebesar -3.926 dengan p=0.000 (p<0.01) hal ini menunjukan pengetahuan tentang pelecehan seksual pada anak setelah diberikan intervensi meningkat, namun tidak ada perbedaan pengetahuan antara anak laki-laki dengan anak perempuan.Kata kunci: Pelecehan seksual anak, psikoedukasi seksAbstract. Child Sexual Abuse is a form of violation against children’s right and it leads to various negative effects on them. Child Sexual Abuse cases is growing day each day. In order to protect them, it is necessary to conduct primary prevention through improving knowledge about child sexual abuse towards pre-school children. This study aimed to observe the effectiveness of psycho sexual education to improve child sexual abuse knowledge among pre-school girl and boy. This study used quantative method with one group pre-test post-test group design. The subjects of this study were pres-school student (kindergarten students) selected by purposive sampling method. Wilcoxon Sign-Ranked Test used to measure the effect of psycho sexual education to improve child sexual abuse knowledge among pre-school students before and after intervention gained z score -3,926 at p0.000 (p<0.01). This results showed there was sexual abuse knowledge improvement towards children after given intervention, but there was sexual abuse knowledge improvement no differences between girl and boy students.Key words : Child sexual abuse, Psychoeducation Sex
Dukungan Teman Sebaya dan Kematangan Karier Mahasiswa Tingkat Akhir Novia Hendayani; Sri Muliati Abdullah
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 6 No. 1 (2018): Januari
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.58 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v6i1.5189

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan teman sebaya dengan kematangan karier pada mahasiswa tingkat akhir di Universitas “X”. Hipotesis yang diajukan adalah ada hubungan positif antara dukungan teman sebaya dengan kematangan karier pada mahasiswa tingkat akhir di Universitas “X”. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa tingkat akhir Universitas “X”yang berada pada semester 7 ke atas dan berusia antara 21-24 tahun sebanyak 110 subjek. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kematangan karier sebanyak 29 aitem dan skala dukungan teman sebaya sebanyak 29 aitem yang dikonstruksikan dengan model penskalaan Likert. Hasil penelitian dianalisis dengan teknik korelasi product moment dengan bantuan program SPSS 16.0. Hasil korelasi r = 0,545 dan taraf signifikansi p = 0,000 dimana p ˂ 0,05 hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara dukungan teman sebaya dengan kematangan karier pada mahasiswa tingkat akhir di Universitas “X”. Dukungan teman sebaya memberikan sumbangan efektif sebesar 29,7% terhadap kematangan karier, sedangkan 70,3% diberikan oleh faktor lain. Kata kunci : Kematangan Karier, Dukungan Teman Sebaya, Mahasiswa Tingkat Akhir This study aims to determine the relationship between peer support and career maturity in the final grade students at the “X” University. The hypothesis proposed is that there is a positive relationship between peer support and career maturity in the final grade students at “X” University. The subject of this research is the final level of the University of “X”which is in the 7th and above semester and aged between 21-24 years as many as 110 subjects. Measuring tools used in this study is the scale of career maturity as much as 29 item and peer support scale of 29 item constructed with Likert scaling model. The results were analyzed by product moment correlation technique with SPSS 16.0 program. The result of correlation r = 0,545 and significance level p = 0,000 where p ˂ 0,05 this indicates that there is positive relation between peer support with career maturity at final level student at “X” University. Peer support provides 29.7% effective contribution to career maturity, while 70.3% is given by other factors. Keywords : Career Maturity, Peers Support, Final Year Students
Dialogic Reading untuk Mengembangkan Pemahaman Empati Anak Usia 3-4 Tahun Korifanny Petrisia; Rose Mini Agoes Salim; Luh Surini Yulia Savitri
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 6 No. 1 (2018): Januari
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (938.426 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v6i1.5212

Abstract

Abstrak. Meningkatnya jumlah anak-anak sebagai pelaku beberapa tindak kejahatan memperlihatkan bahwa anak membutuhkan empati sebagai penyangga perilaku. Pemahaman empati akan membantu anak memahami apa yang dirasakan oleh orang lain sehingga akan peka saat melakukan sebuah perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas dialogic reading untuk mengembangkan pemahaman empati anak usia 3-4 tahun. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Empathy Scale for Children (ESC). Disain penelitian ini adalah one group pre-test-post-test design. Dialogic reading merupakan metode pembacaan cerita interaktif dengan tanya jawab antara pembaca cerita dengan anak. Penelitian ini menggunakan 4 buku cerita bergambar yang bercerita mengenai perasaan senang, sedih, marah dan takut. Dialogic reading dilakukan selama 4 hari pada TK XY, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat dengan total partisipan sebanyak 29. Analisis hasil penelitian menunjukkan bahwa dialogic reading secara signifikan meningkatkan pemahaman empati anak usia 3-4 tahun. Untuk penelitian selanjutnya, dapat melakukan checklist perilaku sebelum dan sesudah intervensi atau melakukan dialogic reading secara individu dengan orang tua atau guru. Kata kunci: Empati, pembacaaan buku cerita, buku cerita bergambar, dialogic reading Abstract. The increasing number of children as offenders shows that children need empathy as buffer for their behavior. Empathy understanding will help children to have perspectives of what other people feel, hence children will have some consideration before act. The aim of this research is to test the effectiveness dialogic reading to develop empathy understanding of children age 3-4 years old. The effectiveness of dialogic reading is measured using Empathy Scale for Children (ESC). The Research design is one group pre-test-post-test design. This research using dialogic reading, which is interactive reading method between the storyteller and children. The dialogic reading uses 4 picture storybooks each about happy, sad, anger and scare that conducted for 4 days at XY Kindergarten, Payakumbuh, West Sumatra. The statistical results demonstrate that there is significant difference at children’s empathy understanding score before and after the dialogic reading. For further research, can do the behavior checklist before and after the intervention or do one to one book reading with teacher or parent. Keyword: Empathy, book reading, picture storybook, dialogic reading
Kualitas hidup lansia ditinjau dari sabar dan dukungan sosial Devi Maya Puspita Sari; Canina Yustisia Dwi Lestari; Evan Chairul Putra; Fuad Nashori
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 6 No. 2 (2018): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.438 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v6i2.5341

Abstract

Abstrak. Lanjut usia merupakan salah satu masa perkembangan yang ditandai dengan menurunnya fungsi fisik, psikologis, dan sosial. Penurunan fungsi tersebut dapat menurunkan kualitas hidup lansia. Untuk meningkatkan kualitas hidup lansia, diperlukan sebuah dukungan sosial dan strategi koping dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Strategi koping yang dapat digunakan adalah sabar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara sabar dan dukungan sosial terhadap kualitas hidup lansia di Yogyakarta. Subjek penelitian berjumlah 24 laki-laki dan 34 perempuan yang diperoleh dengan purposive sampling. Data yang dikumpulkan menggunakan The World Health Organization Quality of Life (WHOQOL) skala sabar, dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Analisis data menggunakan analisis regresi berganda dan korelasi pearson. Hasil analisis menunjukkan bahwa sabar dan dukungan sosial berkorelasi positif dengan kualitas hidup lansia. Dengan kata lain, kualitas hidup dapat diprediksi berdasarkan kesabaran dan dukungan sosial.Kata kunci: kualitas hidup, sabar, dukungan sosial, lansia Abstrack. Elderly is one of development periods characterized by physical, psychological, and social degeneration that can decrease the quality of life. Quality of life can be improved by social support and sabr as a coping strategy to overcome the problems that occur in elderly periods. This research aimed to analyze the correlation between sabr and social support with quality of life of elders in Yogyakarta. The number of subjects is 24 men and 34 women which is chosen by purposive sampling. Data was collected by The World Health Organization Quality of Life (WHOQOL), patience instrument, and Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Multiple linear regression was used to analyze multivariate correlation and pearson correlation was used to analyze the bivariate correlation. This suggest that there was a significant positive correlation between sabr, social support and quality of life of elders. In the other words, quality of life can be predicted based on sabr and social support. Keyword : Quality of life, Patience, Social Support, Elderly