cover
Contact Name
Dede Lilis Chaerowati
Contact Email
uptpublikasi@unisba.ac.id
Phone
+6285294008040
Journal Mail Official
jrmk@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah lantai 4, Rektorat Unisba, Jln Tamansari No.20, 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Riset Manajemen Komunikasi
ISSN : 28083075     EISSN : 27986586     DOI : https://doi.org/10.29313/jrmk.v1i2
Jurnal Riset Manajemen Komunikasi Jurnal Riset Manajemen Komunikasi (JRMK) adalah jurnal peer review dan dilakukan dengan double blind review yang mempublikasikan hasil riset dan kajian teoritik terhadap isu-isu empirik dalam sub kajian manajemen komunikasi. JRMK ini dipublikasikan pertamanya 2021 dengan eISSN 2798-6586 yang di kelola dan di publikasikan oleh UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Semua artikel diperiksa plagiasinya dengan perangkat lunak anti plagiarisme. Jurnal ini akan ter-indeks di Google Schoolar, Garuda, Crossref, dan DOAJ. Terbit setiap Juli dan Desember.
Articles 116 Documents
Strategi Komunikasi dalam Mengedukasi Pencegahan Kekerasan pada Perempuan dan Anak Siti Salma Rizkiyah Sofyan; Rini Rinawati
Jurnal Riset Manajemen Komunikasi Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Manajemen Komunikasi (JRMK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrmk.v5i2.8380

Abstract

Abstrak. Kekerasan merupakan salah satu bentuk pelanggaran hak asasi manusia yang berdampak secara fisik, seksual, dan mental. Penelitian ini membahas strategi komunikasi UPTD PPA Jabar dalam mengedukasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan melalui media sosial, khususnya Instagram. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi UPTD PPA Jabar dalam menentukan khalayak, menyusun pesan, menetapkan metode penyampaian, serta memilih media dalam proses edukasi. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan UPTD PPA Jabar sebagai informan utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) khalayak sasaran UPTD PPA Jabar adalah perempuan dan anak usia 0–18 tahun, (2) strategi penyusunan pesan mengacu pada elemen dalam model SCMR seperti konten, elemen, treatment, struktur, dan kode, (3) metode penyampaian pesan bersifat repetitif, informatif, persuasif, dan edukatif, serta (4) media yang digunakan dalam proses edukasi adalah Instagram dan TikTok. Strategi ini dirancang untuk menjangkau khalayak lebih luas dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu kekerasan perempuan dan anak. Abstract. Violence is one of the most severe violations of human rights, with impacts that are physical, sexual, and psychological. This study discusses the communication strategy of UPTD PPA Jabar in educating the public on the prevention of violence against women through social media, particularly Instagram. The purpose of this research is to explore how UPTD PPA Jabar identifies its target audience, constructs messages, determines delivery methods, and selects media in the educational process. This study uses a qualitative method with a case study approach. Data collection techniques include observation, interviews, and documentation, with UPTD PPA Jabar serving as the primary informant. The results show that (1) the target audience consists of women and children aged 0–18 years, (2) message formulation strategies refer to elements in the SCMR model such as content, elements, treatment, structure, and code, (3) the delivery methods used are repetitive, informative, persuasive, and educational, and (4) the media platforms used are Instagram and TikTok. These strategies are designed to reach a wider audience and raise public awareness about the issue of violence against women and children.
Internasionalisasi Budaya Indonesia melalui Video Musik: Studi Analisis Semiotika Charles Sanders Pierce pada Girl Band No Na Choerul Reza, Yuliana
Jurnal Riset Manajemen Komunikasi Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Manajemen Komunikasi (JRMK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrmk.v5i2.8388

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana No Na Band merepresentasikan budaya Indonesia melalui video musik “Shoot” dan “Superstitious” sebagai sebagai bagian dari proses internasionalisasi budaya melalui media populer. Urgensi penelitian terletak pada pentingnya media populer sebagai sarana internasionalisasi budaya. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, dimana peneliti menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce untuk mengidentifikasi sign, object, dan interpretant dalam elemen-elemen budaya Indonesia yang ditampilkan dalam karya No Na, seperti bahasa, musik tradisional, pakaian, dan visual budaya, serta cara elemen-elemen ini diterjemahkan dalam konteks musik modern. Data dikumpulkan melalui observasi video dan dokumentasi potongan scene. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi budaya Indonesia terbentuk melalui trikotomi tanda Peirce. Sign muncul dalam penggunaan elemen budaya seperti gamelan, lanskap sawah dan air terjun Bali, rumah adat, permainan tradisional (domikado dan congklak), gaya busana bernuansa tenun dan batik, serta simbol-simbol mitologis yang muncul dalam video. Object dari tanda-tanda tersebut adalah budaya Indonesia yang diacu secara langsung melalui musik tradisional, arsitektur Nusantara, permainan rakyat, kepercayaan lokal, dan estetika pakaian tradisional. Sementara itu, interpretant terbentuk ketika audiens memaknai elemen-elemen tersebut sebagai representasi identitas budaya Indonesia yang kaya, modern, dan relevan, sehingga menghasilkan pemahaman bahwa No Na Band mengusung misi memperkenalkan budaya Nusantara dalam format musik populer global.Abstract. This study aims to analyze how No Na Band represents Indonesian culture through the music videos “Shoot” and “Superstitious” as part of the cultural internationalization process mediated by popular media. The urgency of this research lies in the increasing significance of popular media as an instrument of cultural dissemination at the global level. The study employs a qualitative approach, applying Charles Sanders Peirce’s semiotic theory to identify the sign, object, and interpretant within cultural elements presented in No Na’s works such as language, traditional music, clothing, and cultural visuals, and to examine how these elements are translated into the context of modern music. Data were collected through video observation and documentation of selected scenes. The findings indicate that the representation of Indonesian culture is constructed through Peirce’s semiotic triad. Signs appear in the use of cultural elements such as gamelan, rice-field and waterfall landscapes in Bali, traditional houses, traditional games including domikado and congklak, fashion incorporating woven textiles and batik patterns, as well as mythological symbols featured in the videos. The objects referenced by these signs are Indonesian cultural forms including traditional music, Nusantara architecture, folk games, local beliefs, and traditional clothing aesthetics. Meanwhile, the interpretants are produced when audiences understand these elements as representations of a rich, contemporary, and relevant Indonesian cultural identity, leading to the interpretation that No Na Band aims to introduce Nusantara culture through globally accessible popular music.
Konsep Diri Pembatik Muda bagi Penyandang Disabilitas Fisik: Fenomenologi Alfred Schutz Hartini Putri, Shinta; Hanafi; Agistiyani, Aulia; Juliani, Dini Tri
Jurnal Riset Manajemen Komunikasi Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Manajemen Komunikasi (JRMK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrmk.v5i2.8547

Abstract

Abstrak. Pembatik muda adalah pengrajin batik berusia 16-30 tahun. Studi ini bertujuan mengetahui pengalaman, motif, dan makna yang membentuk konsep diri pembatik muda penyandang disabilitas fisik. Studi menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi Alfred Schutz, melalui wawancara, observasi, dan studi literatur, dengan purposive sampling serta triangulasi sumber. Hasil menunjukkan bahwa pembatik muda di PPSGHD mampu berinteraksi, mengembangkan keterampilan membatik, memperoleh apresiasi, mengurangi stigma, membantu perekonomian keluarga, menumbuhkan tanggung jawab, dan membentuk pola pikir optimis. Motif sebab meliputi hobi menggambar sejak kecil, keinginan bekerja mandiri, terpilih sebagai pembatik, semangat berjuang, dan tidak ingin membebani orang tua. Motif tujuan mencakup keinginan memotivasi generasi muda melestarikan batik, menjual karya berdasarkan kualitas, membangun usaha batik sendiri, dan membangun citra setara dengan orang lain. Membatik dimaknai sebagai sumber motivasi, kontribusi pelestarian budaya, cara menghindari rasa iba, sekaligus media ekspresi diri. Dari pengalaman, motif, dan makna tersebut, terbentuk konsep diri yang positif pada pembatik muda penyandang disabilitas fisik, yang tercermin dalam citra diri, harga diri, dan identitas diri.Abstract. Young batik makers are batik artisans aged 16-30. This study aims to explore the experiences, motives, and meanings related to the self-concept of young batik makers with physical disabilities. The research employed a qualitative method using Alfred Schutz's phenomenological approach through interviews, observations, and literature review, with purposive sampling and source triangulation. The results reveal that young batik makers at PPSGHD are able to interact with others, develop batik-making skills, gain appreciation, reduce stigma, support their family’s economy, foster responsibility, and build an optimistic mindset. The because of motive include childhood hobbies in drawing, the desire to work and be independently, being selected as batik worker, perseverance, and the wish not to burden their parents. The in order to motives involve motivating younger generations to preserve batik, selling batik based on quality, establishing independent batik business, and being recognized as equal to others. Batik making is interpreted as a source of motivation, a contribution to cultural preservation, a medium to avoid pity, and a place for self-expression. From these experiences, motives, and meanings, a positive self-concept is formed among young batik makers with physical disabilities, reflected in their self-image, self-esteem, and self-identity.
Keberimbangan Berita Kampanye Pilgub di TVRI Bangka Belitung: Studi pada Program Acara Bangka Belitung Hari Ini Siti Nisaussangadah; Resty Widyanty; Arta Elisabeth Purba; Ririn Septia
Jurnal Riset Manajemen Komunikasi Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Manajemen Komunikasi (JRMK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrmk.v5i2.8696

Abstract

Abstrak. Penelitian ini berjudul Keberimbangan Berita Kampanye Pilgub di TVRI Bangka Belitung (Studi Pada Program Acara Bangka Belitung Hari Ini). Penelitian menggunakan teori objektivitas Westerståhl. Tujuannya mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana keberimbangan pemberitaan kampanye Pilgub Bangka Belitung di TVRI Bangka Belitung dengan pendekatan analisis wacana kritis Theo van Leeuwen dan menilai sejauh mana objektivitas pemberitaan kampanye. Teknik pengumpulan data melalui naskah berita, dan wawancara dengan Ketua Tim Perencana dan dokumentasi Pengendali Berita TVRI, Ketua Tim Pelaksana Buletin Berita, serta wartawan TVRI Bangka Belitung yang terlibat dalam produksi berita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis penerapan prinsip keberimbangan dalam pemberitaan kampanye Pilgub Bangka Belitung 2024 di TVRI Bangka Belitung belum sepenuhnya berimbang. Dari 20 pemberitaan masing-masing calon, hanya 7 pemberitaan calon yang dihadirkan dalam porsi yang berimbang dalam satu liputan pemberitaan dan 6 pemberitaan paslon sebagai objek pasif. Kedua paslon tidak digambarkan sebagai individu namun impersonalisasinya sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur.Abstract. This study is entitled “Balance of Gubernatorial Election Campaign News on TVRI Bangka Belitung (A Study on the Today's Bangka Belitung Program). “The study employs Westerståhl's objectivity theory. Its aim is to describe and analyze the balance of TVRI Bangka Belitung’s coverage of the Bangka Belitung Gubernatorial Election campaign using Theo van Leeuwen's critical discourse analysis approach, and to assess the extent of objectivity in the campaign reporting. Data were collected through documentation of news scripts and interviews with the Head of the TVRI News Planning, Control, and Documentation Team, the Head of the News Bulletin Implementation Team, and TVRI Bangka Belitung journalists involved in news production. The findings indicate that the application of the balance principle in TVRI Bangka Belitung’s coverage of the 2024 Bangka Belitung Gubernatorial Election campaign is not fully balanced. Of the 20 reports on each candidate pair, only seven were presented in a balanced manner within a single news segment, while six portrayed the candidate pairs as passive objects. The two candidate pairs were not depicted as individual actors but rather as impersonalized candidates for Governor and Deputy Governor.  
Big Data dan Artificial Intelligence dalam Produksi Pengetahuan Ilmiah atas Tantangan Metodologis Raditya Pratama Putra
Jurnal Riset Manajemen Komunikasi Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Manajemen Komunikasi (JRMK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrmk.v5i2.8721

Abstract

Abstrak. Perkembangan big data dan Artificial Intelligence telah mengubah paradigma produksi pengetahuan ilmiah, khususnya dalam ilmu sosial dan komunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji posisi big data dan AI dalam produksi pengetahuan ilmiah, tantangan metodologis penggunaannya dalam penelitian sosial, serta peran refleksivitas peneliti dalam menjaga validitas pengetahuan ilmiah. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi big data dan Artificial Intelligence membuka peluang analisis sosial yang lebih luas, real-time, dan beragam, namun di sisi lain menimbulkan persoalan serius terkait bias algoritma, etika penelitian, serta tantangan validitas dan representativitas data. Refleksivitas peneliti menjadi kunci dalam memastikan pengetahuan ilmiah yang dihasilkan tetap valid, bermakna, dan kontekstual di era digital. Big data menghadirkan isu privasi, keadilan, serta keberpihakan data, sedangkan Artificial Intelligence memunculkan pertanyaan tentang transparansi, akuntabilitas, dan tanggung jawab peneliti terhadap makna yang dihasilkan sistem komputasional. Hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa keseimbangan antara kecanggihan yang bersifat teknis dan kepekaan epistemologis menjadi syarat utama agar big data dan Artificial Intelligence dapat bermafaat sebagai instrumen penguatan pengetahuan ilmiah. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan pentingnya kesadaran etika dan refleksivitas metodologis bagi peneliti di bidang sosial untuk menjaga integritas penelitian dan relevansi sosial pengetahuan ilmiah di tengah perkembangan teknologi data yang semakin kompleks ini.Abstract. The development of big data and Artificial Intelligence has transformed the paradigm of scientific knowledge production, particularly in the fields of social sciences and communication. This study aims to examine the position of big data and Artificial Intelligence in scientific knowledge production, the methodological challenges of their use in social research, and the role of researcher reflexivity in maintaining the validity of scientific knowledge. The method employed is qualitative, using a Systematic Literature Review (SLR). The results show that the integration of big data and Artificial Intelligence provides opportunities for broader, real time, and more diverse social analyses however, it also raises serious issues related to algorithmic bias, research ethics, and challenges to data validity and representativeness. Researcher reflexivity becomes a key factor in ensuring that the scientific knowledge produced remains valid, meaningful, and contextual in the digital era. Big data introduces issues of privacy, fairness, and data partisanship, while Artificial Intelligence raises questions of transparency, accountability, and the researcher’s responsibility for the meanings produced by computational systems. The findings also indicate that balancing technical sophistication and epistemological sensitivity is a crucial requirement for big data and Artificial Intelligence to serve as effective instruments for strengthening scientific knowledge. Thus, this study emphasizes the importance of ethical awareness and methodological reflexivity among social researchers to maintain research integrity and the social relevance of scientific knowledge amid the increasing complexity of data driven technologies.
Kolaborasi Pengusaha dan Mitra dalam Digital Marketing sebagai Keunggulan Kompetitif Wirausaha Ratnasari, Anne
Jurnal Riset Manajemen Komunikasi Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Manajemen Komunikasi (JRMK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrmk.v5i2.8745

Abstract

Abstrak. Penelitian ini mengkaji kolaborasi antara pengusaha dan mitra dalam Digital marketing sebagai keunggulan kompetitif wirausaha. Fokus penelitian adalah pada peran kolaborasi dalam memperkuat strategi pemasaran digital. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bentuk kemitraan bisnis, kolaborasi konten digital, dan event kolaboratif untuk memberdayakan pelaku usaha kecil. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan teknik pengumpulan data berupa studi literatur, wawancara mendalam, dan observasi. Informan penelitian terdiri dari pengurus dan anggota pelaku usaha anggota Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia di Bandung yang bergerak di bidang fashion, makanan, dan jasa interior ruangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemitraan antara pengusaha dan mitra mampu memperkuat kampanye digital melalui pengelolaan konten yang lebih terintegrasi, pemanfaatan media sosial secara optimal, dan perluasan jaringan bisnis. Kerjasama tersebut membantu pelaku usaha memperluas jangkauan pasar dan memperkokoh posisi daya saing mereka di pasar digital. Event kolaboratif membantu pelaku usaha kecil dengan memperluas jaringan, membuka peluang kemitraan, memperkuat visibilitas, berbagi sumber daya, serta mendorong inovasi. Kegiatan tersebut memperkuat promosi, menambah pelanggan potensial, menciptakan peluang penjualan baru, dan membangun hubungan komunitas yang saling mendukung untuk pertumbuhan usaha berkelanjutan. Dengan demikian, kolaborasi ini berkontribusi secara signifikan terhadap pemberdayaan usaha kecil serta pengembangan strategi pemasaran digital oleh anggota komunitas pengusaha, mendorong inovasi, memperkuat jejaring bisnis, dan meningkatkan daya saing di pasar, lokal dan global.Abstract. This study examines the collaboration between entrepreneurs and partners in digital marketing as a competitive advantage for entrepreneurship. The research focuses on the role of collaboration in strengthening digital marketing strategies. The purpose of this study is to analyze forms of business partnerships, digital content collaboration, and collaborative events that empower small business owners. The method used is a case study with data collection techniques consisting of literature review, in-depth interviews, and observation. The research informants include managers and members of the Indonesian Muslim Entrepreneurs Community in Bandung, who operate in the fields of fashion, food, and interior design services. The findings show that partnerships between entrepreneurs and their collaborators strengthen digital campaigns through more integrated content management, optimal use of social media, and the expansion of business networks. This cooperation helps business owners broaden market reach and reinforce their competitive position in the digital market. Collaborative events support small entrepreneurs by expanding networks, opening partnership opportunities, strengthening visibility, sharing resources, and fostering innovation. These activities enhance promotion, attract potential customers, create new sales opportunities, and build a supportive community relationship for sustainable business growth. Thus, such collaboration significantly contributes to small business empowerment and the development of digital marketing strategies among community members, driving innovation, strengthening business networks, and increasing competitiveness in local and global markets.

Page 12 of 12 | Total Record : 116