cover
Contact Name
Syakieb Sungkar
Contact Email
jurnal.dekonstruksi@yahoo.com
Phone
+62811101722
Journal Mail Official
jurnal.dekonstruksi@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tebet Mas Indah III Blok E No. 40 Tebet Barat, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 13115
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Dekonstruksi
Published by Gerakan Indonesia Kita
ISSN : 27746828     EISSN : 2797233X     DOI : 10.54154/dekonstruksi
Jurnal Dekonstruksi is a scientific journal published by Gerakan Indonesia Kita (GITA). This journal publishes scientific articles and research reports on the study of philosophy, art, social science, and cultural studies forth times a year.
Articles 257 Documents
Arca Joko Dolok: Antara Kertanegara dan Mpu Bharadah (sebuah tinjauan berdasar prasasti Wurare) Seno Joko Suyono
Dekonstruksi Vol. 6 No. 01 (2022): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.48 KB) | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v6i01.93

Abstract

Arca Joko Dolok yang merupakan perwujudan dari Kertanegara, bentuknya ganjil. Karena biasanya arca-arca di era Singosari mempunyai kualitas artistik dengan ikonografi yang rumit, indah dan proporsional. Terlihat arca Joko Dolok seolah dibuat oleh pematung pemula yang masih belum mengenal anatomi tubuh. Hal itu bisa terjadi karena H. Kern salah menterjemahkan inskripsi yang terdapat di lapik arca Joko Dolok. Walau patung itu memang dibuat di zaman Kertanegara, namun Henri Maclaine Pont yang melakukan penggalian di tahun 1925 menyimpulkan patung Joko Dolok itu merupakan patung yang menyimbolkan sosok Mpu Bharadah.
Lirisisme dalam Senirupa Indonesia Anna Sungkar
Dekonstruksi Vol. 6 No. 01 (2022): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4670.186 KB) | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v6i01.94

Abstract

Selama 2 tahun pandemi, tiada pameran off-line yang diselenggarakan di Jabodetabek, karena ketatnya PPKM membuat pameran senirupa dibatasi hanya secara daring saja. Dengan menurunnya korban Covid, Pemerintah saat ini mengendorkan larangan atas kerumunan, sehingga pada bulan Maret – April diadakan pameran bersama 10 seniman yang berkarya dalam seni lukis. Pameran yang diselenggarakan di Alam Sutera ini, sebagian besar peserta mengetengahkan gaya lirisisme, yang bernada abstrak.
Titik Pijak Calvinisme atas Penderitaan dan Kejahatan Hendri Kornelius
Dekonstruksi Vol. 6 No. 01 (2022): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.602 KB) | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v6i01.95

Abstract

Memahami penderitaan dan kejahatan tidak terlepas dari pemikiran teologis, namun tidak boleh hanya didasarkan pada aspek teologis yang berat sebelah. Orang bisa menjadi ateis apabila mendapat penjelasan mengenai penderitaan dan kejahatan yang tidak dalam konteks teologis. Sebaliknya, banyak orang menjadi orang Kristen yang berat sebelah karena mendengar apologetika berdasarkan beberapa aspek saja, bukan dari keseluruhan aspek. Implikasi dari mencari jawaban tentang adanya penderitaan dan kejahatan di luar aspek teologis, membuat orang terpisah dengan wilayah ilahi, karena jawaban didapatkan hanya dalam wilayah fenomena. Penggambaran yang berat sebelah, seperti teologi yang selalu mengatakan Tuhan itu baik, Tuhan tidak mungkin merencanakan yang buruk kepada manusia dan lain sebagainya, singkatnya dikatakan bahwa penderitaan dan kejahatan memang berada di bawah kendali Tuhan. Hal itu menjadikan orang Kristen mendapatkan jawaban yang semu, mereka bertindak seolah-olah mau membela Tuhan, tetapi dengan cara itu telah mengkhianati Alkitab begitu masif.
Jejak dalam Kategori Aristotelian Chris Ruhupatty
Dekonstruksi Vol. 6 No. 01 (2022): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.249 KB) | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v6i01.96

Abstract

Artikel berjudul “Jejak dalam Kategori Aristotelian” merupakan sebuah pengantar pada Kategori di dalam wacana dekonstruksi. Jejak (dengan italic) merujuk pada “jejak” di dalam kerangka dekonstruksi. Singkat kata, artikel ini akan membicarakan “substansi” sebagai jejak bukan sebagai kehadiran layaknya materi atau halnya.
Perjalanan Maraton Menuju 2030: Menyelamatkan Bumi, Menggapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Pasca 2015 dari Sisi Pemikiran Ekofeminisme Paulus Eko Kristianto
Dekonstruksi Vol. 6 No. 01 (2022): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.966 KB) | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v6i01.97

Abstract

Pembangunan berkelanjutan merupakan agenda bersama. Hal ini dilakukan guna memperbaiki kualitas Indonesia menjadi lebih baik. Salah satu fokus pembangunan berkelanjutan yaitu lingkungan hidup. Artikel ini menyajikan refleksi pembangunan berkelanjutan dari perspektif ekofeminisme. Refleksi ini dibangun melalui penelitian pustaka terhadap buku dan jurnal terkait. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan hidup tidak menjadi korban atas pemuasan hasrat manusia semata (antroposentris). Pemikiran para filsuf ekofeminisme bisa dijadikan alternatif alarm dalam mengemban misi tersebut, walaupun di dalamnya masih terdapat pro dan kontra dalam memandang hubungan alam dan perempuan.
Salam Redaksi Vol. 7 Syakieb Sungkar
Dekonstruksi Vol. 7 No. 01 (2022): Jurnal Dekonstruksi Volume 7
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.879 KB)

Abstract

Jurnal kali ini berbicara tentang Seni, Agama, Gender dan Perubahan Sosial.
Perempuan, Seni dan Pandemi Anna Sungkar
Dekonstruksi Vol. 7 No. 01 (2022): Jurnal Dekonstruksi Volume 7
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1419.966 KB) | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v7i01.101

Abstract

Sampai hari ini belum ditemukan obat Covid yang mujarab, masyarakat – dan peran besar perempuan dalam hal ini, mengusahakan bermacam-macam obat alternatif demi kesembuhan keluarganya. Kiranya upaya yang dilakukan perempuan untuk menanggulangi Covid, selain menggantikan suami untuk mencari nafkah, merupakan subyek yang menarik untuk dituangkan sebagai karya seni. Hal ini tidak terlepas dari telah bergesernya sikap masyarakat yang dahulu sangat berpikiran partriarkis menjadi lebih liberal. Seni memiliki fungsi sosial ketika membahas aspek kehidupan kolektif yang bertentangan dengan sudut pandang atau pengalaman seseorang. Pada bagian akhir diuraikan karya-karya yang berkembang di dunia karena terbawa oleh suasana yang ditimbulkan oleh pandemi.
Agama dalam Perspektif Emile Durkheim Indah Suzana Aulia Putri
Dekonstruksi Vol. 7 No. 01 (2022): Jurnal Dekonstruksi Volume 7
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.349 KB) | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v7i01.102

Abstract

Dalam bukunya yang berjudul The Elementary Forms of Religious Life (1912), Emile Durkheim menaruh perhatian untuk menemukan hal-hal fundamental atau elemen dasar yang membentuk agama melalui kehidupan religius masyarakat primitif. Penelitiannya terhadap masyarakat primitif memperlihatkan praktek agama paling dasariah/elementer yang pernah ada. Menurut Durkheim, kita tidak dapat memahami agama paling modern tanpa menelusuri sejarah dari berbagai peranan yang telah membentuknya. Sejarah memungkinkan kita untuk mengurai suatu institusi sampai kepada komponen-komponen pembentuknya. Jika kita ingin menjelaskan sesuatu yang berkaitan dengan manusia, kita harus memulai dengan kembali kepada bentuk paling sederhana dan paling tua dari hal tersebut. Oleh karena itu, bila kita ingin memahami agama baik agama modern ataupun primitif, agama universal ataupun lokal, kita harus menelusuri kembali kepada bentuk agama yang paling sederhana dan tua, yang dalam hal ini adalah Totemisme.
Akar Goenawan Mohamad
Dekonstruksi Vol. 7 No. 01 (2022): Jurnal Dekonstruksi Volume 7
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1050.914 KB) | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v7i01.103

Abstract

Pada 18 Juni 2022, di Galeri “Roh”, Jakarta dibuka pameran senirupa Syaiful Aulia Garibaldi, seniman yang bekerja dari Bandung dengan puluhan karya yang sudah dipamerkan di pelbagai galeri di dunia. Goenawan Mohamad diminta membuka dialog dengan Garibaldi. Artikel yang ditulis pada jurnal ini merupakan bagian utama dari percakapan itu. Menurut Goenawan, karya Syaiful Aulia Garibaldi dapat dilihat sebagai kontras terhadap estetika Mondrian. Kehendak Syaiful untuk mengaitkan seni rupanya dengan sains bisa jadi sesuatu yang problematis. Namun menurut Syaiful, kerja Seni dan Sains justru saling menguatkan. Dalam pengalaman berkarya, jawaban atas pertanyaan untuk apa dan apa gunanya berkarya, justru didapatkan dari lingkungan Sains.
Dekonstruksi Imortalitas dalam kerangka Kritik terhadap Modernitas dan Pascamodernitas: Telaah Zygmunt Bauman Hendar Putranto
Dekonstruksi Vol. 7 No. 01 (2022): Jurnal Dekonstruksi Volume 7
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.563 KB) | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v7i01.104

Abstract

Rasa takut akan kematian dan damba akan kekekalan sudah lama dibahas agama dan filsafat. Sayangnya, masih teramat sedikit ilmu sosial lintas-disiplin dan multi perspektif yang mengaji isu mortalitas dan imortalitas sekaligus dalam bentuk buku tunggal (monograf). Merefleksikan pandangan Zygmunt Bauman dalam Mortality, Immortality, and Other Life Strategies (1992), penulis menawarkan rekonstruksi pemikiran Bauman tentang konsep modernitas dalam hubungannya dengan isu mortalitas dan konsep pascamodernitas dalam hubungannya dengan isu imortalitas. Sebagaimana modernitas mendekonstruksi isu besar mortalitas menjadi sejumlah problem yang bisa ditangani, demikian juga pascamodernitas mendekonstruksi isu imortalitas menjadi enam model berbasis problem, seperti problem identitas yang cair sebagai proyek konstitusi-diri (identitas pengembara), ketenaran dalam fesyen dan selebriti, ide repetisi dan representasi, permainan dan tontonan, rantai kenikmatan sesaat yang ultim, sebagai strategi stratifikasi sosial, dan sebagai penegasan identitas sekaligus otoritas dalam komunitas. Strategi dekonstruksi kekekalan mengemansipasi subjek pelaku, baik dalam dimensi individualitas maupun kolektivitasnya, dari keterbelengguan terhadap ruang-waktu (sejarah, wacana, ideologi, dan lain-lain), memampukan orang untuk meraih sesuatu yang pada prinsipnya mustahil untuk dijangkau di sini dan sekarang, tapi sekaligus menyimpan potensi ketidakadilan (misalnya lewat strategi stratifikasi dan eksklusi, juga privilese akses elit terhadap kekekalan), menonjolkan primasi entitas yang ontis di atas yang etis, serta melahirkan gugus korban baru. Dalam konteks yang lebih kekinian, cara-cara baru untuk mendekonstruksi imortalitas telah mengalami pergeseran dari dunia hiburan ke ranah teknologi, tapi ide imortalitas tetap dipreteli aura kesuciannya dan secara terus-menerus dibuat menjadi profan dan dikomodifikasi. Imortalitas dijadikan satu dari sejumlah objek hasrat yang tersedia di pasar dan dapat dibeli dengan uang. Betapapun hasrat menjadi kekal terus didamba dan diupayakan untuk terwujud di sini dan sekarang, entah dengan bantuan serum anti-aging, dengan mengunggah jejak-jejak identitas dan kesadaran dalam mesin pintar yang digerakkan kecerdasan buatan terpersonalisasi, record and digitize, ataupun dengan teknologi cryonics, tantangan dan tentangan terus datang silih berganti.

Page 7 of 26 | Total Record : 257