cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 42 No 1 (2024): Februari" : 11 Documents clear
Hubungan Faktor Gender dan Saturasi Oksigen dengan Mortalitas Pasien COVID-19: Studi Cross-Sectional di RS Elim Rantepao 2020-2021 Iskandar, Yosia
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 1 (2024): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i1.298

Abstract

Latar belakang: Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), penyakit yang menyebabkan pandemik dan krisis global, memiliki jumlah kasus dan angka mortalitas yang semakin bertambah. Penelitian mengenai faktor- faktor yang berhubungan dengan kematian pasien COVID-19 saat perawatan di Toraja Utara, salah satu daerah perifer di Indonesia, sangat terbatas. Metode: Studi ini merupakan studi cross-sectional, observasional di Rumah Sakit Elim Rantepao, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Sampel penelitian merupakan pasien terkonfirmasi COVID-19 yang dilakukan rawat inap pada tahun 2020-2021. Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisa deskriptif untuk data-data deskriptif serta Independent T-Test, Mann Whitney serta analisa Chi Square Hasil: Dari data hasil penelitian, didapatkan ada perbedaan hubungan bermakna antara jenis kelamin dan angka mortalitas dengan angka p = 0.005. Selain itu, didapatkan juga hubungan antara angka SpO2 dengan angka mortalitas dengan hasil analisis menggunakan Independent-samples T test Mann-Whitney Test didapatkan hasil p=0.001. Kriteria COVID-19 juga memiliki hasil analisa signifikan p= 0 menandakan bahwa terdapat hubungan antara kriteria COVID-19 yang digunakan memiliki hubungan dengan angka mortalitas. Simpulan: Dari penelitian ini, jenis kelamin, angka saturasi saat masuk Rumah Sakit, kriteria gejala COVID-19 merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian dalam perawatan pada pasien COVID-19 yang dirawat inap di RS Elim Rantepao tahun 2020-2021.
Uji Diagnostik EuroSCORE II Sebagai Prediktor Mortalitas Pasca Operasi CABG Mochammad Riyadi; Hisbullah; Adil, Andi; Seweng, Arifin; Arif, Syafri K.; Salahuddin, Andi; Nurdin, Haizah
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 1 (2024): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i1.308

Abstract

Latar belakang: Coronary Artery Bypass Graft (CABG) merupakan prosedur standar yang digunakan dalam menangani kasus penyempitan pembuluh darah koroner. Kemajuan dalam skrining pra operasi dapat menurunkan risiko mortalitas operasi jantung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara EuroSCORE II terhadap mortalitas pada pasien post operasi CABG. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan retrospektif dengan desain cross-sectional. Penelitian dilakukan pada seluruh pasien yang menjalani operasi CABG yang dirawat di ICU Pusat Jantung Terpadu RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar mulai Januari 2017 - Juni 2022. Pasien dikelompokkan menjadi survive dan non survive. EuroSCORE II dihitung dengan kalkulator online aplikasi EusroSCORE II. Hasil: Prevalensi mortalitas pasien post operasi CABG sebesar 16%. Rerata EuroSCORE II pasien post operasi CABG non survive sebesar 3,87 ± 2,65 lebih besar dibandingkan pasien survive sebesar 0,89 ± 0,37. EuroSCORE II menjadi prediktor mortalitas yang baik pada pasien post operasi CABG. EuroSCORE II mempunyai diskriminasi yang baik dan kalibrasi yang baik dengan diperoleh cut-off sebesar 1,30% dengan sensitivitas 100% dan spesifisitas 91,4%. Penyebab mortalitas pasien post operasi CABG meliputi syok hipovolemik, syok kardiogenik dan syok sepsis dimana penyebab kematian terbesar adalah syok kardiogenik Simpulan: EuroSCORE II menjadi prediksi mortalitas yang baik pada pasien post operasi CABG.
Sevoflurane Insufflation Technique in Retinopathy of Prematurity Patients Underwent Intraocular Laser Photocoagulation: A Serial Case Report Muhamad Adli; Irawati, Dian; Fitri Yadi, Dedi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 1 (2024): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i1.313

Abstract

Introduction: Retinopathy of Prematurity (ROP) is a developmental abnormality of the retina and vitreous due to abnormal angiogenesis. The anesthetic considerations in the preterm neonate were based on the physiological immaturity of the various organ systems, associated congenital disorders, which may result in poor tolerance to anesthetic drugs, and also considerations regarding the use of high oxygen concentrations. Case Illustration: We are reporting six cases of ROP patients who underwent intraocular laser photocoagulation under Volatile Induction and Maintenance Anesthesia (VIMA) using a nasal cannula. The youngest patient at the time of the procedure was 32 weeks postmenstrual age, and the oldest patient was 36 weeks postmenstrual age, with the lowest weight of 1480 grams and the highest weight of 2770 grams. A gas mixture of oxygen, nitrous oxide, and 3-5 vol% sevoflurane was delivered through a nasal cannula delivered from an anesthesia machine for anesthesia induction and maintenance throughout the procedure. The anesthesia effect was achieved less than five minutes after gas mixture delivery in all patients. Five of six patients showed satisfactory results without any serious adverse effects during and after the procedures, and one of the patients was intubated due to repeated apnea and conversion of the surgical procedure from intraocular laser photocoagulation to vitrectomy. There was no adverse event observed after the procedure. Conclusion: The Effective induction and maintenance of anesthesia achieved through sevoflurane insufflation via nasal cannula suggest its viability as a practical and opiod-free alternative for volatile induction and maintenance anesthesia in pediatric procedures.
Olive Oil and Vegetable Extract in Modified Hospital Enteral Formula Improves Glycemic Variability in Critically-Ill Diabetic Ketoacidosis Obese Patient: A Case Report Anindhita, Bintari; Singal, Anna Maurina; Wardhani, Wahyu Ika; Manikam, Nurul Ratna Mutu; Aditianingsih, Dita
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 1 (2024): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i1.315

Abstract

Background: Severe hyperglycemia in diabetic ketoacidosis may elevate pro inflammatory cytokines, oxidative stress, and metabolic disruptions, impacting the nutritional status of critically ill patients. Diabetes-specific formula (DSF) administration is linked to favorable glycemic control, but research on the role of modified hospital enteral formulas in diabetic critical illness is lacking. Case Description: An obese 29-year-old male at risk of malnutrition, presented to the emergency room with decreased level of consciousness due to metabolic encephalopathy, diabetic ketoacidosis due to suspected type 1 diabetes mellitus, hypertension, and acute kidney injury. Medical nutritional therapy was provided via enteral route according to recent ESPEN, ASPEN and ADA recommendation. The administered enteral formula was a modified hospital-based enteral formula, consisting of a special kidney hospital-based enteral formula mixed with olive oil as source of monounsaturated fatty acid (MUFA) and vegetables as source of fibers. During the first week of hospitalization, the patient’s coefficient of variation (%CoV) of glycemic variability ranged between 17–61%, in addition, at the beginning of the second week of treatment there was also an increase in glycemic variability to 53%. This could be influenced by several factors. However, improvement in glycemic variability was observed in the following days. This improvement was in line with the gradual increase in MUFA and fiber intake, which reached its highest intake during the second week of hospitalization. Conclusion: Hospital-based enteral formula modified with olive oil and vegetable extract can be made to resemble the nutrients composition of diabetes specific formula and has a favorable effect on glycemic variability.
Pengaruh Nebulisasi N-acetylcysteine Terhadap Pembentukan Biofilm Bakteri Pada Pipa Endotrakeal Pada Pasien yang Terpasang Ventilator di ICU Suryani, Shila; Widodo, Untung; Aman, Abu Tholib
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 1 (2024): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i1.322

Abstract

Latar belakang: Kemampuan bakteri membentuk biofilm merupakan salah satu penyebab resistensi antibiotik dan menurunkan angka keberhasilan terapi. N-acetylcysteine merupakan obat mukolitik yang juga memiliki efek menghambat produksi dari matriks polisakarida ekstraseluler, sehingga dapat mencegah pembentukan biofilm. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh nebulisasi N-acetylcysteine terhadap pertumbuhan biofilm pada pipa endotrakeal pada pasien yang terpasang ventilator. Metodologi: Rancangan penelitian ini uji klinis acak terkontrol, ketersamaran ganda. Kriteria inklusi subyek penelitian adalah usia 18-70 tahun, menggunakan ventilator dengan pipa endotrakeal H-0, dan setuju menjadi subyek penelitian, kriteria eksklusi adalah pasien yang mempunyai penyakit paru sebelum intubasi dan pasien sulit intubasi, kriteria drop out adalah pipa endotrakeal (ET) ekspulsi atau autoextubasi, meninggal < 48 jam, dan ekstubasi > 96 jam. Pasien dibagi menjadi dua kelompok. kelompok A mendapatkan nebulisasi N-acetylcysteine dan kelompok B yang mendapatkan nebulisasi akuades setiap delapan jam hingga ekstubasi. Sampel diambil berupa apusan ujung ET pasien yang terpasang ventilator 48-96 jam. Hasil: Total subjek berjumlah 122 pasien, 12 drop out. Sampel yang didapatkan berjumlah 110, 55 sampel kelompok A dan 55 kelompok B. Terdapat perbedaan karakteristik sampel pada faktor komorbid sepsis dan jenis oprasi. Tidak didapatkan perbedaan bermakna secara statistik pada bakteri pembentuk biofilm ringan dan sedang, namun dijumpai perbedaan bermakna pada bakteri pembentuk biofilm kuat. Simpulan: pemberian nebulisasi N-acetylcysteine pada pasien yang menggunakan ventilator dengan pipa ET 48-96 jam tidak mencegah terbentuknya biofilm namun dapat menghambat pembentukan biofilm kuat.
The Role Anesthesiologist in Management of Obstetric Haemorrhage: A Literature Review Shantikaratri, Emilia T.; H, Ruddi; Isngadi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 1 (2024): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i1.324

Abstract

Hemorrhagic shock in obstetrics is still a major cause of maternal mortality and morbidity worldwide. Recognition of bleeding in obstetric patients is complicated by the normal physiologic changes that occur during pregnancy. Visual estimates of blood loss are often erroneous and underestimated because of contamination with amniotic fluid, or internal or hidden blood loss. Thus, careful clinical observation and a high index of suspicion are required for the early detection and management of obstetric hemorrhage. The usage of ultrasound (US) is considered as the first line method for detecting abnormal condition which might serve as a predictor for hemorrhagic shock. Despite of careful risk assessment given, obstetric-specific bleeding protocols, such as resuscitation and blood transfusion, are required to facilitate the integration and timely escalation interventions. The intervention of choice for hemorrhagic shock in obstetrics encompasses a wide variety of options, such as the usage of tranexamic acid, cell salvage, resuscitative endovascular balloon occlusion of the aorta (REBOA), anesthetic management, and surgical, as well as radiological provides multiple available approach, each with their own risk and advantages. The purpose of this review is to describe the management of obstetric hemorrhage from anesthetic point of view, encompassing the identification of patients at risk, resuscitative management, and perioperative management.
Hubungan Nilai Platelet Lymphocyte Ratio, D-dimer, dan Fibrinogen Terhadap Tingkat Keparahan Pasien Sepsis Eka Setia Miharja; Lubis, Bastian; Solihat, Yutu
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 1 (2024): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i1.325

Abstract

Pendahuluan: Sepsis merupakan suatu kondisi klinis disfungsi organ yang berpotensi mengancam nyawa, yang disebabkan oleh respons pejamu terhadap infeksi. Pada sepsis, jaringan mengalami perubahan dan ditemukan adanya tanda – tanda peradangan berupa vasodilatasi, peningkatan permeabilitas mikrovaskular, dan akumulasi leukosit. Terdapat beberapa biomarker dalam memprediksi angka kematian yang disebabkan oleh sepsis. Platelet Lymphocyte Ratio (PLR), D-dimer dan Fibrinogen merupakan beberapa biomarker yang dapat dilakukan dengan asumsi memiliki hubungan dengan tingkat keparahan pasien sepsis. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional dengan metode pengumpulan data secara kohort prospektif dilaksanakan di RSUP H. Adam Malik Medan priode November 2022 – Maret 2023. Pemilihan sampel dengan consecutive sampling yang memenuhi kriteria inkusi dan eksklusi. Semua sampel akan diambil data PLR, D-dimer dan fibrinogen, serta skor Sequential Organ Failure Assessment (SOFA) yang dilakukan perhitungan secara statistik. Hasil: Dengan uji Chi-Square pada PLR dengan skor SOFA hari pertama dan SOFA hari ke-3 terdapat hubungan yang signifikan pada hari ke-3, didapatkan nilai p < 0,05. Hasil serupa didapatkan pada pemeriksaan D-dimer, terdapat hubungan yang signifikan pada hari ke-3 dengan didapatkan nilai p < 0,05. Sedangkan pada pemeriksaan fibrinogen tidak memiliki hubungan yang signifikan secara statistik baik pada hari pertama maupun hari ke-3 terhadap skor SOFA. Simpulan: Berdasarkan hasil studi ini, PLR disarankan sebagai indikator inflamasi sistematis alternatif baru pada sepsis. Bukti menunjukkan bahwa peningkatan PLR sangat terkait dengan peningkatan peradangan sistemik yang dapat juga digunakan sebagai prognosis yang buruk pada sepsis.
Korelasi Renal Resistive Index dengan Kejadian Acute Kidney Injury Bejo Utomo Handayani; Lubis, Bastian; Tanjung, Qodri Fauzi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 1 (2024): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i1.326

Abstract

Pendahuluan: Acute Kidney Injury (AKI) merupakan sindrom klinis akibat penurunan fungsi ginjal yang disebabkan berbagai etiologi seperti azotemia pre-renal, nekrosis tubular akut, nefritis interstisial akut, penyakit glomerulus dan vaskulitis akut ginjal, serta nefropati obstruktif post-renal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa korelasi penggunaan Renal Resistive Index (RRI) dengan kejadian AKI pada pasien kritis yang dirawat di Intensive Care Unit (ICU) RSUP Haji Adam Malik Medan. Metode: Penelitian ini merupakan uji observasional dengan metode cross-sectional survey Hasil: Berdasarkan hasil analisa didapatkan data sebesar 55% subjek penelitian dengan nilai RRI > 0,7 dan terdapat korelasi yang cukup antara RRI nilai kreatiniin dengan nilai r 0,363. RRI memiliki sensitivitas 91,66%, spesifisitas 62,5%, dan akurasi 80% dengan nilai prediksi positif 78,57% dan nilai prediksi negatif 83,33%. Dengan demikian RRI memiliki AUROC = 0,771 dengan interval kepercayaan sebesar 95%. Kesimpulan: Terdapat korelasi yang cukup antara RRI dengan kejadian AKI pada pasien kritis yang dirawat di ruang ICU RSUP Haji Adam Malik Medan.
Perbandingan Prediktor Sulit Intubasi Indeks Risiko El-Ganzouri dengan Indeks Cormack Lehane Pada Pasien Operasi Elektif Tambunan, Marco Audrik Silvester; Wijaya, Dadik Wahyu; Lubis, Bastian
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 1 (2024): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i1.335

Abstract

Pendahuluan: Kejadian intubasi sulit sering sekali dijumpai yang merupakan hal yang tidak terduga dan dapat berakhir dengan kegagalan intubasi sehingga berakibat fatal bagi keselamatan pasien. Kejadian intubasi sulit menjadi salah satu penyebab kematian atau kerusakan permanen jaringan otak selama tindakan anestesi. Intubasi sulit merupakan situasi klinis dimana seorang ahli anestesi yang terlatih kesulitan untuk melakukan ventilasi, kesulitan untuk melakukan intubasi, atau bahkan keduanya. Prediksi sulit intubasi pada penilaian preoperasi telah dipelajari oleh banyak peneliti, salah satunya menggunakan Indeks Risiko El Ganzouri. Indeks Risiko El Ganzouri merupakan penilaian yang menggunakan tujuh parameter berdasarkan jarak buka mulut, jarak thyromental, skor Mallampati, pergerakan leher, kemampuan prognasia, berat badan, dan riwayat sulit intubasi sebelumnya. Metode: Penelitian ini adalah sebuah studi analitik yang menggunakan metode desain cross sectional dengan menggunakan 60 sampel untuk memprediksi kejadian sulit intubasi pada pasien operasi elektif dengan anestesi umum. Hasil: Adapun sensitifitasnya sebesar 76,9%, dan spesifisitasnya sebesar 97,8%. Sedangkan nilai prevalence rate sebesar 21,6%, positive likelihood ratio sebesar 36,1%, negative likelihood ratio sebesar 23,5%, positive predictive value sebesar 90,9%, dan negative predictive value sebesar 93,8%. Kesimpulan: Indeks Risiko El Ganzouri mendekati ketepatan Cormack Lehane dalam memprediksi kejadian sulit intubasi pada pasien operasi elektif dengan anestesi umum.
Disfungsi Ventrikel Kanan Perioperatif Bedah Jantung Dewasa M. Solihin, Guido; Istanti Nurcahyo, Widya
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 1 (2024): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i1.392

Abstract

Pentingnya fungsi ventrikel kanan bagi anestesi kardiovaskular telah diketahui dalam beberapa tahun terakhir ini. Disfungsi ventrikel kanan merupakan faktor prognostik dan penyebab tingginya angka morbiditas dan mortalitas pada operasi jantung. Pengenalan pasien risiko tinggi dan tata laksana dini dapat menurunkan angka kejadian disfungsi ventrikel kanan menetap pasca operasi. Hal ini penting diperhatikan pada pasien yang menjalani operasi risiko tinggi seperti bedah pintas arteri koroner dan operasi katup jantung. Kemajuan dalam penatalaksanaan disfungsi ventrikel kanan antara lain seperti penggunaan vasodilator paru inhalasi profilaksis, pengaturan ventilasi, topangan vasopressor dan inotropik, serta proteksi miokardium, diharapkan akan meningkatkan angka kesembuhan pada disfungsi ventrikel kanan. Tujuan dari tinjauan literatur ini adalah untuk menelaah secara kritis dan komprehensif penelitian, studi, literatur yang ada terkait disfungsi ventrikel kanan pada periode perioperatif dalam bedah jantung

Page 1 of 2 | Total Record : 11