Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Equianalgesic Oxycodone, Continuous Intravenous Morphine in Post- Long Bone Surgery Franz Josef Tarigan; Hanafie, Achsanuddin; Arifin, Hasanul; Wijaya, Dadik Wahyu
Sumatera Medical Journal Vol. 2 No. 3 (2019): Sumatera Medical Journal (SUMEJ)
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/sumej.v2i3.1240

Abstract

Oxycodone and morphine are powerful analgesic drugs used for post-operative pain management. There is no studies have been conducted to assess the dose equivalency between the two drugs. To get an equianalgesic dose of Oxycodone and Morphine. This study was using a double-blind randomized clinical trials, 48 samples, ages 21-60 years, PS ASA I-II, which will get an elective orthopedic surgery using general anesthesia tech-niques. Oxycodone (group A) : Morphine (group B) (Initial 5mg than continuous 1 mg/hour : initial dose 4mg than continuous 0,5 mg/hour). Average drug dose for group that takes morphine and oxycodone (3.90 ± 0.46 mg : 1.46 ± 0.51 mg). No significant difference between the average dose (p <0.05). Equianalgesic dosein group Oxycodone and Morphine is 1.4 mg: 3.9mg.
Pengukuran Oksigenasi Otak dengan NIRS Dibandingkan SjvO2 pada Pasien dengan Penurunan Kesadaran di Instalasi Perawatan Intensif Bastian Lubis; Hanafie, Achsanuddin; Lubis, Asmin; Wijaya, Dadik Wahyu; Indrawan, Jhonsen; Bisono, Luwih
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 41 No 2 (2023): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v41i2.280

Abstract

Standar emas untuk pemantauan oksigenasi otak biasanya menggunakan teknik invasif. Penelitian kedokteran telah berkembang dan mencoba untuk mencakup area yang dapat diukur dengan pendekatan non-invasif sesuai dengan prinsip tidak membahayakan. NIRS adalah salah satu teknologi terbaru untuk mengukur oksigenasi otak dalam melengkapi orang lain untuk pemantauan oksigenasi otak. Pemantauan oksigenasi otak untuk pasien tidak sadar di unit perawatan intensif diperlukan untuk merawat pasien dengan masalah medis. Penghapusan beberapa diagnosis banding secara non-invasif, real-time, dan berkelanjutan adalah tujuan utama dari intensifivis sesegera mungkin diagnosis yang akurat diambil, kondisi pasien akan lebih baik. 30 pasien tidak sadar dengan berbagai kondisi medis berpartisipasi dalam penelitian, dengan persetujuan dari keluarga. Pasien diintubasi dengan ventilasi mekanik, dan menggunakan elektroda NIRS yang dipasang di dahi dengan pengukur rSO2, sedangkan penulis mengambil sampel darah untuk analisis gas dari vena jugularis dan arteri karotis. Secara statistik tidak terdapat korelasi yang signifikan, antara SjvO2 dengan rSO2 kanan (p= 0,379), dan rSO2 kiri (p=0,041), serta terdapat perbedaan antara rSO2 kanan dan kiri (p<0,001). Parameter lain yang berkorelasi kuat dengan rSO2 adalah hemoglobin (p=0,009), tekanan arteri rata-rata (p=0,.049), kandungan oksigen vena jugularis (p=0,007) dan arteri karotis (p=0,08). rSO2 saja tidak dapat menggantikan SjvO2 sebagai standar emas untuk pemantauan oksigenasi otak. Namun, hasil rSO2 juga berkorelasi positif dengan hemoglobin, tekanan arteri rata-rata, kandungan oksigen vena jugularis, dan arteri karotis, yang berarti bahwa penurunan rSO2 dapat disebabkan oleh masalah pengiriman oksigen
Perbandingan Ekokardiografi Transtorakal dan Ultrasonic Cardiac Output Monitor dalam Menilai Respon Terapi Cairan pada Pasien Sepsis Gultom, Andrio Farel Edward; Lubis, Bastian; Wijaya, Dadik Wahyu
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 2 (2024): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i2.328

Abstract

Latar belakang: Pada sepsis terjadi deplesi volume intravaskular, sehingga dibutuhkan pemeriksaan yang akurat dan non-invasif untuk pemantauan hemodinamik. Ekokardiografi transtorakal (ETT) telah menjadi standar baku. Ultrasonic cardiac output monitor (USCOM) adalah alat pemantauan hemodinamik non-invasif, yang menggunakan gelombang ultrasonik Doppler. USCOM dapat mengukur cardiac output (CO), stroke volume (SV), stroke volume respiratory variation (SVV), dan beberapa parameter hemodinamik lainnya. Metode: Penelitian ini merupakan pretest-posttest study dengan total sampel sejumlah 40 pasien yang dilakukan pemeriksaan dengan ETT dan USCOM dalam menilai respon terapi cairan pada pasien sepsis. Hasil: SVV dengan menggunakan TTE sebelum terapi cairan (T0) dengan rerata sebesar 9,45 ± 2,51, dimana pasien yang respon terhadap cairan sebesar 27 pasien (67,5%). SVV dengan menggunakan USCOM sebelum terapi cairan (T0) dengan rerata sebesar 9,14 ± 2,9, dimana pasien yang respon terhadap cairan sebesar 24 pasien (60%). Simpulan: Penelitian ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara ETT dengan USCOM untuk menilai respon terapi cairan pasien sepsis yang dirawat di ICU Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan.
Perbandingan Prediktor Sulit Intubasi Indeks Risiko El-Ganzouri dengan Indeks Cormack Lehane Pada Pasien Operasi Elektif Tambunan, Marco Audrik Silvester; Wijaya, Dadik Wahyu; Lubis, Bastian
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 1 (2024): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i1.335

Abstract

Pendahuluan: Kejadian intubasi sulit sering sekali dijumpai yang merupakan hal yang tidak terduga dan dapat berakhir dengan kegagalan intubasi sehingga berakibat fatal bagi keselamatan pasien. Kejadian intubasi sulit menjadi salah satu penyebab kematian atau kerusakan permanen jaringan otak selama tindakan anestesi. Intubasi sulit merupakan situasi klinis dimana seorang ahli anestesi yang terlatih kesulitan untuk melakukan ventilasi, kesulitan untuk melakukan intubasi, atau bahkan keduanya. Prediksi sulit intubasi pada penilaian preoperasi telah dipelajari oleh banyak peneliti, salah satunya menggunakan Indeks Risiko El Ganzouri. Indeks Risiko El Ganzouri merupakan penilaian yang menggunakan tujuh parameter berdasarkan jarak buka mulut, jarak thyromental, skor Mallampati, pergerakan leher, kemampuan prognasia, berat badan, dan riwayat sulit intubasi sebelumnya. Metode: Penelitian ini adalah sebuah studi analitik yang menggunakan metode desain cross sectional dengan menggunakan 60 sampel untuk memprediksi kejadian sulit intubasi pada pasien operasi elektif dengan anestesi umum. Hasil: Adapun sensitifitasnya sebesar 76,9%, dan spesifisitasnya sebesar 97,8%. Sedangkan nilai prevalence rate sebesar 21,6%, positive likelihood ratio sebesar 36,1%, negative likelihood ratio sebesar 23,5%, positive predictive value sebesar 90,9%, dan negative predictive value sebesar 93,8%. Kesimpulan: Indeks Risiko El Ganzouri mendekati ketepatan Cormack Lehane dalam memprediksi kejadian sulit intubasi pada pasien operasi elektif dengan anestesi umum.
Relationship Blood Gas Analysis And Hemostasis Physics In Multiple Trauma Patients In Adam Malik Hospital Medan Karim, T. Abdul; Wijaya, Dadik Wahyu; Irina, Rr Sinta
Journal of Society Medicine Vol. 2 No. 1 (2023): January
Publisher : CoinReads Media Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1036.501 KB) | DOI: 10.47353/jsocmed.v2i1.27

Abstract

Introduction: Trauma is currently the most common cause of death in the first four decades of life and is still a major public health problem in every country. Arterial blood gas analysis (AGDA) is known to be an important marker for poor patient outcomes and occult or compensatory hypoperfusion. This study also evaluated the relationship and influence of AGDA scores on the outcome and prognosis of patients with multiple trauma. The results of this study will be able to assist in the rapid triage of acute trauma patients, which will also help identify high-risk patients who develop severe complications. Method: This study assessed the relationship between initial arterial blood gas and initial hemostatic function in acute trauma patients who came to the emergency department at H. Adam Malik General Hospital Medan. This type of research is a retrospective analytic where data is taken from medical records to see the relationship between AGDA and coagulation profile in multiple trauma patients at H. Adam Malik General Hospital Medan. After recruiting research samples at Adam Malik Haji Center General Hospital Medan, it was found that 141 multiple trauma patients who underwent surgery at H. Adam Malik General Hospital Medan met the inclusion criteria and were not included in the exclusion criteria Results: In this study, there were significant results between the pH and the three hemostatic physiology, there were no significant results between pCO2 and the three hemostatic physiology, and there were significant results between the HCO3 value and the PT and INR values, but no significant results were obtained with the APTT. Some authors believe that arterial PCO2 at admission is a significant prognostic factor in patients with traumatic head injury, but several studies dispute the arterial blood gas (ABG) parameter as a reliable indicator of short-term outcome in these patients. The main goal of the management of critically ill patients is the maintenance and optimization of cellular (and organ) health. Conclusion: This goal can be achieved by maintaining oxygenation, perfusion, fluid, electrolyte, and acid-base balance. Acid-base and oxygenation disorders are also critical, especially when these disorders develop rapidly.
Perbandingan Pemberian Fentanil dengan dan tanpa Lidokain Intravena terhadap Hemodinamik Pasca-Intubasi Endotrakeal dan Nilai Nyeri Tenggorokan Pascaoperasi di RSUP H. Adam Malik Medan Wijaya, Yudhi; Lubis, Andriamuri Primaputra; Wijaya, Dadik Wahyu
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 3 (2024): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i3.341

Abstract

Latar Belakang: Intubasi endotrakeal dilakukan dalam berbagai situasi seperti kegagalan ventilasi noninvasif pada pasien perawatan intensif. Nyeri tenggorokan (postoperative sore throat) dan suara serak (hoarseness) merupakan komplikasi intubasi endotrakeal yang paling sering terjadi karena menyebabkan trauma mukosa jalan napas. Insiden nyeri tenggorokan dan suara serak akibat intubasi endotrakeal berkisar antara 5,7 – 90%, di mana 14,4 – 50% keluhan nyeri tenggorokan dan suara serak tersebut muncul segera setelah operasi. Metode: Desain penelitian ini menggunakan uji klinis acak terkontrol tersamar ganda (randomized double blind controlled clinical trial), untuk mengetahui pemberian fentanil dengan kombinasi lidokain dan fentanil terhadap hemodinamik pasca-intubasi endotracheal tube. Hasil: Usia rerata pada kelompok A yaitu 46-55 tahun, sedangkan pada kelompok B yaitu 26-35 tahun. Penurunan hemodinamik terutama mean arterial pressure (MAP) pasca-intubasi pada kelompok A (89,79 ± 8,74 mmHg) lebih kecil dibandingkan dengan kelompok B (91,81 ± 8,39 mmHg). Peningkatan visual analogue score (VAS) pada sore throat pasca-intubasi pada kelompok B (2,05 ± 0,74) lebih besar daripada kelompok A (1,81 ± 0,68). Pada uji normalitas didapatkan MAP pre-intubasi dan pasca-intubasi, serta sore throat pasca-intubasi terdistribusi normal (p > 0,05). Rerata sore throat kelompok A adalah 1,81 ± 0,68 dan kelompok B 2,05 ± 0,74 dengan nilai p sebesar 0,284 (p > 0,05). Simpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna sore throat pasca-intubasi pada kedua kelompok. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada hemodinamik dan penilaian nyeri tenggorokan pascaoperasi pada pemberian fentanil dengan kombinasi lidokain intravena dan fentanil intravena pasca-intubasi endotracheal tube.
Efektivitas Morfin 2 mg dan Kombinasi Morfin 2 mg dengan Ropivakain 5 mg terhadap Numeric Rating Scale (NRS) pada Pasien Pascaoperasi di Bawah Umbilikus: Uji Klinis Tersamar Ganda Febrina Isnaini; Hanafie, Achsanudin; Wijaya, Dadik Wahyu
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 3 (2024): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i3.354

Abstract

Latar Belakang: Manajemen nyeri pascaoperasi merupakan salah satu komponen terpenting dari perawatan pasien pasca operasi. Salah satu strategi untuk memberikan analgesia pasca operasi yang efektif dan untuk mengurangi efek samping yang tidak diinginkan adalah penggunaan kombinasi anestesi lokal dengan morfin epidural. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas analgesia antara pemberian 2 mg morfin dan kombinasi morfin 2 mg dengan ropivakain 5 mg melalui kateter epidural dalam mengurangi nyeri pascaoperasi pada pasien yang menjalani operasi abdomen dan ekstremitas bawah. Metode: Penelitian ini merupakan randomized clinical trial dengan metode double blind. Dua puluh empat sampel penelitian yang menjalani operasi abdomen dan ekstremitas bawah dengan teknik anestesi epidural dibagi secara acak menjadi dua kelompok. Analgesia epidural diberikan dengan 2 mg morfin dengan NaCl 0,9 % pada kelompok R1, dan kombinasi analgesia epidural 2 mg morfin + 5 mg ropivakain diberikan pada kelompok R2. Nilai NRS didokumentasikan pada jam ke 4 (T1) dan 8 jam (T2). Selain itu juga dicatat parameter hemodinamik, kejadian PONV, dan blok motorik. Hasil: Nilai NRS-R1 T1 memiliki nilai mean 0,33 ± SD. NRS-R1 T2 dengan nilai mean ± SD 1±0,85. Nilai NRS-R2 T1 memiliki nilai mean ± SD 0±0. Nilai NRS-R2 T2 memiliki nilai mean ± SD 0,41±0,51. Kejadian hipotensi (SBP <90mmHg) tidak diamati pada kedua grup. Terdapat kejadian PONV lebih tinggi pada kelompok pemberian morfin 2 mg + NaCl 0,9% pada T1 dan T2 namun tidak bermakna secara statistik, dan kejadian blok motorik pada kelompok morfin 2 mg dengan ropivakain 0,2% lebih banyak pada T1 namun tidak bermakna secara statistik. Simpulan: Penggunaan anestesi epidural 2 mg morfin + 5 mg ropivakain lebih superior dibandingkan pemberian 2 mg morfin dengan NaCl 0,9 % dalam mengurasi NRS pascaoperasi.
Comparison of The Effectiveness of Use Antiseptic Povidone Iodine 10% And Octenidine Hydrochloride 0.1% in The Action of Neuroaxial Blocks in Patients Who Will Surgery in Haji Adam Malik General Hospital Medan Handayani, Bejo Utomo; Bisono, Luwih; Wijaya, Dadik Wahyu; Amelia, Rina
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 17, No 1 (2025): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia)
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v0i0.62613

Abstract

Background: Antiseptics or germicides are chemical compounds used to kill or inhibit the growth of microorganisms on living tissue such as the surface of the skin and mucous membranes.Objective: To determine the comparative effectiveness of povidone iodine 10% antiseptic compared to octenidine hydrochloride 0.1% in neuraxial blockade in patients undergoing surgery at Haji Adam Malik General Hospital, Medan.Methods: This study is an experimental study of the two-group pre-test - post-test study type. This design is a design that groups patients into certain groups that receive different treatments based on group division. There are two groups, with each group containing 10 samples.Result: In group A (povidone iodine 10%), the average value of bacterial growth before aseptic action was 192.20±117.54, and after aseptic action, no bacterial growth was found with a P Value of 0.005. In group B (octenidine hydrochloride 0.1%) before aseptic action was performed, the average bacterial growth value was 212.20 ± 107.21, and after aseptic action, no bacterial growth was found with a P Value of 0.004.Conclusion: There was no significant difference in the bacterial profile after aseptic with povidone iodine 10% and octenidine hydrochloride 0.1%.
Perbandingan Deksmedetomidin dan Deksametason Intravena untuk Pencegahan Menggigil setelah Anestesi Spinal pada Operasi Sectio Caesarea Ricardo, Dion; Wijaya, Dadik Wahyu; Ihsan, Muhammad; Wahyuni, Arlinda Sari
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 1 (2025): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i1.367

Abstract

Latar Belakang: Postspinal anesthesia shivering (PSAS) adalah aktivitas otot rangka involunter yang berulang sebagai respons fisiologis terhadap hipotermia inti untuk meningkatkan produksi panas metabolik. PSAS meningkatkan konsumsi O2, produksi CO2, katekolamin plasma, dan curah jantung. Terapi farmakologis yang digunakan untuk menjaga suhu adalah dexmedetomidin dan dexametason. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan deksmedetomidin dan deksametason intravena sebagai pencegahan menggigil setelah spinal anestesi pada operasi seksio sesarea. Metode: Desain penelitian ini menggunakan uji klinis acak terkontrol secara random tersamar ganda, untuk menilai perbandingan deksmedetomidin dan deksametason intravena sebagai pencegahan menggigil. Populasi yang terpilih akan dibagi secara acak menjadi dua kelompok, yaitu kelompok A (pemberian deksmedetomidin) dan B (pemberian deksametason). Kemudian dinilai parameter hemodinamik pada kedua kelompok dan menilai Intensitas menggigil dengan skala lima poin yang divalidasi oleh Crossley dan Mahajan, di mana derajat 0 = tidak menggigil, derajat 1 = piloereksi atau vasokonstriksi perifer tetapi tidak terlihat menggigil, derajat 2 = aktivitas otot hanya pada satu kelompok otot, derajat 3 = aktivitas otot lebih dari satu kelompok otot, dan derajat 4 = seluruh tubuh menggigil. Hasil: Pada perbandingan kedua kelompok perlakuan didapatkan jumah sampel yang paling banyak mengalami kejadian menggigil ada pada kelompok B sebanyak 17 orang dibandingkan kelompok A sebanyak 6 orang. Pada analisis uji Chi Square didapatkan p value <0,05 yang menandakan perbedaan nilai kedua kelompok bermakna secara statistik. Simpulan: Deksmedetomidin lebih baik dalam mencegah kejadian shivering dibandingkan dengan deksametason.
Antisialogogue Effect of Atropine Sulfate at Dosages of 0.25 Mg and 0.5 Mg Under General Anesthesia with Ketamin Hasibuan, Muhammad Ramadhan; Lubis, Andriamuri Primaputra; Wijaya, Dadik Wahyu
Journal of Society Medicine Vol. 1 No. 3 (2022): December
Publisher : CoinReads Media Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.362 KB) | DOI: 10.47353/jsocmed.v1i3.14

Abstract

Introduction: Excessive saliva production can becomes an airway problem in conditions of decreased consciousness where there is impaired swallowing function. It increases the risk of aspiration of saliva into the airways that can result in choking. The use of premedication drugs to reduce the incidence of drug-induced hypersalivation can be done as a prevention. The anticholinergic drug class is the drug of choice for the management of hypersalivation in general anesthesia patients who have been given ketamine and ether. Ketamine as a sedating agent will provide a side effect of hypersalivation, where hypersalivation can cause laryngospasm or aspiration, as a form of prevention, anticholinergic drugs such as atropine can be given. The aim of this research was to compare the effect of antisialagogue on the administration of atropine sulfate at a dose of 0.25 mg and 0.5 mg in intravenous general anesthesia patients without ETT with ketamine at Haji Adam Malik General Hospital Medan and Putri Hijau Hospital Medan. Method: This study used a double blind RCT design. A total of 60 patients with intravenous general anesthesia without ETT with ketamine (1-2 mg/kg BW) were divided into 2 groups of Atropine Sulfas doses (0.25 and 0.5 mg) then the total salivary volume of each patient was measured and analyzed. Results: There was a significant difference between the treatment groups of 0.25 mg and 0.5 mg in the volume of saliva that had been collected (P-value = 0.008). Conclusion: There was a significant comparison between the use of 0.25 mg and 0.5 mg atropine in patients at Haji Adam Malik Hospital and Putri Hijau Hospital Medan.