cover
Contact Name
Komang Aditya Yudistira
Contact Email
aesculapiusmedicaljournal@gmail.com
Phone
+6282146555556
Journal Mail Official
aesculapiusmedicaljournal@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa Gedung F2 Lantai 3, Jl. Terompong No.24 , Sumerta Kelod, Kec. Denpasar Tim., Kota Denpasar, Bali 80239
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aesculapius Medical Journal
Published by Universitas Warmadewa
ISSN : 28290712     EISSN : 28086848     DOI : https://doi.org/10.22225
AMJ (Aesculapius Medical Journal) is a peer-reviewed medical journal that published research articles and theoretical articles in medical science. This journal provides immediate open access to its content on the principle that making research freely available to the public supports a greater global exchange of knowledge. It aims is to provide a place for academics and practitioners to publish original research articles, review articles, and book reviews. The scope of this journal area any topics concerning medical studies in all aspects. AMJ (Aesculapius Medical Journal) published by Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Warmadewa 3 times a year. AMJ (Aesculapius Medical Journal) is available in print and online version. AMJ (Aesculapius Medical Journal) is Available online at https://www.ejournal.warmadewa.ac.id/index.php/amj/index, since Volume 1 No 1 October, 2021.
Articles 160 Documents
Dampak Konsumsi Ultra-Processed Food terhadap Kejadian Anemia Remaja Perempuan Saputri, Resinta Rahma Mareta
Aesculapius Medical Journal 223-229
Publisher : Fakultas Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anemia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat global yang signifikan terutama pada remaja perempuan. Prevalensi anemia pada kelompok ini masih tinggi dengan salah satu faktor risiko penting adalah rendahnya asupan zat besi akibat pergeseran pola konsumsi menuju ultra-processed foods (UPF). Penelitian ini bertujuan untuk memetakan bukti ilmiah terkait hubungan konsumsi UPF dengan kejadian anemia pada remaja perempuan melalui metode scoping review. Pencarian literatur dilakukan pada tiga database utama (PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar) dengan kata kunci yang relevan, mencakup artikel tahun 2020–2025. Dari total 5.978 artikel yang ditemukan, tiga artikel memenuhi kriteria inklusi untuk dianalisis lebih lanjut. Hasil sintesis menunjukkan bahwa konsumsi UPF berhubungan dengan menurunnya kualitas diet dan rendahnya asupan zat gizi mikro khususnya zat besi. Studi di Brazil menemukan hubungan negatif antara konsumsi UPF dan kadar ferritin, sementara penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa meskipun rata-rata asupan zat besi cukup sebagian besar responden masih tidak memenuhi kecukupan zat besi dengan kontribusi signifikan berasal dari UPF. Kesimpulan dari review ini adalah konsumsi UPF dapat meningkatkan risiko anemia pada remaja perempuan, sehingga diperlukan intervensi gizi, edukasi, dan penelitian lebih lanjut mengenai mekanisme biologis yang mendasari hubungan tersebut.  
Hubungan antara D-Dimer dengan Infeksi COVID-19 Kadek Surya Atmaja; Ratna Kartika Dewi
Aesculapius Medical Journal 178-185
Publisher : Fakultas Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/amj.5.3.2025.178-185

Abstract

COVID-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 telah menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat global. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran D-dimer sebagai prediktor keparahan COVID-19. Kami melakukan analisis terhadap 135 pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit Kasih Ibu Denpasar dan RS Sanjiwani dari tahun 2022 hingga 2023. Hasil menunjukkan bahwa usia >= 60 tahun dan kadar D-dimer yang tinggi berhubungan dengan derajat keparahan penyakit. Rerata kadar D-dimer pada pasien dengan COVID-19 berat-kritis adalah 1684 ng/mL, sedangkan pada pasien dengan derajat sedang adalah 493 ng/mL. Uji ROC menunjukkan bahwa nilai cut-off D-dimer untuk memprediksi COVID-19 berat-kritis adalah 897 ng/mL dengan sensitivitas 84,6% dan spesifisitas 90%. Temuan ini menunjukkan bahwa D-dimer dapat digunakan sebagai biomarker prognostik yang efektif untuk mengidentifikasi pasien COVID-19 yang berisiko mengalami komplikasi serius.
Stres Oksidatif dan Inflamasi pada Sel Punca Mesenkimal Tali Pusat: Review Literatur Helsy Junaidi; Afifah Azizah Ahmad; Ayesha Danish Adlani; Khansa Nabilah Savant; Muhammad Reynard Aydin; Tristan Adrian Parsha; Wahyunia Likhayati Septiana
Aesculapius Medical Journal 186-202
Publisher : Fakultas Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/amj.5.3.2025.186-202

Abstract

Terapi sel punca merupakan pengobatan yang sedang berkembang pada bidang terapi regeneratif karena kemampuannya untuk memperbarui diri dan berdiferensiasi menjadi jenis sel lain.  Sel punca mesenkimal asal tali pusat merupakan sel punca mesenkimal yang pengambilannya bersifat non invasif, diterima secara etis dan memiliki kecepatan proliferasi dan ekspansi sel yang tinggi. Aplikasi klinis sel punca melibatkan penempatan sel punca yang ke lokasi patologis untuk menggantikan sel yang rusak atau penggunaan medium terkondisinya yang mengandung molekul sekretori sel punca. Lingkungan patologis suatu penyakit melibatkan  interaksi antara sel dan berbagai molekul. Kondisi stres oksidatif dan inflamasi merupakan proses patologis dasar berbagai penyakit.  Molekul reactive oxygen species (ROS) seperti hidrogen peroksida meningkat dalam kondisi stress oksidatif dan patologis pada berbagai penyakit.  Proses infeksi yang merupakan penyebab kondisi inflamasi juga dapat dipicu oleh lipopolisakarida yang terdapat pada membran luar bakteri. Kedua molekul terbebut banyak digunakan untuk meneliti dampak kondisi patologis pada sel punca secara in vitro. Paparan hidrogen peroksida dan lipopolisakarida dalam kadar tertentu dapat menyebabkan penurunan viabilitas, kemampuan migrasi, dan gangguan differensiasi sel punca. Tinjauan ini ditujukan untuk memahami  pengaruh stres oksidatif terhadap  morfologi, viabilitas, dan tingkat kerusakan sel berdasarkan kadar laktat dehidrogenase (LDH).  
Laporan Kasus: C-Reactive Protein (CRP) Sebagai Biomarker Respon Terapi Pada Sindrom Tolosa-Hunt Angelina Vivi Maharani; Lothar Matheus Manson Vanende Silalahi; Loury Priskila
Aesculapius Medical Journal 203-207
Publisher : Fakultas Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sindrom Tolosa-Hunt (STH) merupakan gangguan neurologis langka yang disebabkan oleh inflamasi non-spesifik pada sinus kavernosus atau fisura orbital superior dengan gejala nyeri kepala unilateral disertai dengan optalmoplegia. Proses inflamasi non-spesifik menyebabkan peningkatan C-Reactive Protein (CRP) yang signifikan pada STH. Selain untuk menunjang diagnosis,  CRP juga dapat berperan penting dalam evaluasi klinis pengobatan STH. Penurunan CRP paska terapi kortikosteroid dapat menjadi penanda objektif yang menunjukkan ketepatan terapi pada STH.  Deskripsi Kasus : Laki-laki, 25 tahun datang dengan nyeri kepala, penglihatan ganda dan kelopak mata turun selama dua bulan terakhir. Pemeriksaan neurologis didapatkan ptosis ringan dan paresis nervus okulomotor mata kanan dengan refleks cahaya intak. Tidak didapatkan tanda meningeal, kelemahan anggota gerak maupun refleks patologis. Pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan CRP)dengan hasil 9,8 mg/L. Pemeriksan Magnetic Resonance Imaging (MRI) kepala dengan kontras didapatkan penyengatan pada area sinus cavernosus kanan. Pasien didiagnosis dengan Sindroma Tolosa-Hunt dan diterapi dengan metilprednisolon dosis tinggi dilanjutkan dengan penurunan dosis bertahap. Pada pengobatan hari ke-10, terdapat perbaikan pada gerakan ekstraokular mata kanan. Perbaikan klinis ini didukung dengan evaluasi kadar CRP yang normal  dengan hasil 0,9 mg/L. Diskusi : Penelitian sebelumnya menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada pasien yang didiagnosis sindroma Tolosa Hunt, namun pada penelitian lainnya tidak didapatkan adanya peningkatan. Kontradiksi ini dapat terjadi akibat faktor usia, jenis saraf yang mengalami gangguan dan mungkin adanya faktor lain yang menyertai. Namun pada laporan kasus ini lebih menitik beratkan pada penurunan kadar CRP yang menunjukkan respon baik dari terapi yang diberikan . Simpulan : Respons cepat terhadap kortikosteroid pada kasus ini, disertai penurunan CRP dan perbaikan gejala, menunjukkan bahwa CRP dapat menjadi parameter tambahan untuk memantau terapi pada Sindrom Tolosa-Hunt.  
Pengaruh Latihan Fisik terhadap Pengaturan Nafsu Makan pada Penderita Obesitas: Kajian Pustaka Mustika Anggiane Putri; Eza Syawal Putri Awy; Angantya Viondhisa Hasnani
Aesculapius Medical Journal 208-216
Publisher : Fakultas Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/amj.5.3.2025.208-216

Abstract

Obesitas merupakan masalah kesehatan global yang terus meningkat dan berhubungan erat dengan gangguan pada sistem pengatur nafsu makan. Hormon-hormon seperti leptin, ghrelin, asprosin, PYY, dan GLP-1 memiliki peran penting dalam mengatur rasa lapar dan kenyang. Latihan fisik diketahui dapat mempengaruhi sistem hormonal tersebut, namun mekanismenya masih terus diteliti. Tujuan: Tinjauan naratif ini bertujuan untuk merangkum bukti terkini mengenai pengaruh latihan fisik terhadap pengaturan nafsu makan. Metode: Pencarian literatur dilakukan secara sistematis melalui database PubMed dan ScienceDirect, dengan fokus pada publikasi lima tahun terakhir yang membahas hubungan antara latihan fisik dan regulasi hormon nafsu makan. Hasil: Hasil telaah menunjukkan bahwa berbagai jenis latihan fisik, terutama latihan aerobik dan kombinasi aerobik dan resistensi , secara signifikan meningkatkan rasa kenyang dan menurunkan rasa lapar. Latihan aerobik dengan intensitas sedang terbukti dapat menurunkan kadar ghrelin dan asprosin, serta meningkatkan kadar PYY dan GLP-1. Selain itu, latihan fisik juga memperbaiki sensitivitas leptin dan meningkatkan efisiensi sinyal kenyang di otak. Efek tersebut tidak hanya berasal dari pembakaran kalori, melainkan juga melibatkan perubahan dalam sistem saraf dan hormonal. Kesimpulan: latihan fisik memiliki peran penting dalam pengaturan nafsu makan dan dapat menjadi bagian integral dari pendekatan penanganan obesitas yang lebih tepat sasaran dan berbasis bukti.  
Aktivitas Antibakteri, Antioksidan, Anti-UV Nanospray Kombinasi Ekstrak Bunga Melati dan Kulit Jeruk Bali Ni Kadek Tirtha Pradnyanita Mahestari Yasa; I Gusti Agung Istri Mas Dianti Pratiwi
Aesculapius Medical Journal 217-222
Publisher : Fakultas Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/amj.5.3.2025.217-222

Abstract

Paparan sinar ultraviolet (UV) berlebih dan infeksi bakteri merupakan faktor utama penyebab penuaan dini dan gangguan fungsi skin barrier. Formulasi nanospray berbahan alami menjadi alternatif menjanjikan dibandingkan produk sintetik karena lebih aman serta memiliki aktivitas multifungsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formulasi nanospray  kombinasi ekstrak bunga melati (Jasminum sambac) dan kulit buah jeruk pamelo (Citrus maxima) yang kaya flavonoid dan senyawa fenolik dengan potensi antioksidan, antibakteri, dan pelindung UV. Tiga formulasi dengan rasio berbeda (F1 = 1:2, F2 = 1:1, F3 = 2:1) dibuat dengan metode gelasi ionik menggunakan kitosan NaTPP. Setiap formulasi diuji melalui pengamatan organoleptik, skrining fitokimia, uji antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dengan metode disc diffusion assay, uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH, serta penentuan nilai Sun Protection Factor (SPF) dengan spektrofotometri UV–Vis. Hasil penelitian menunjukkan seluruh formulasi mengandung flavonoid, alkaloid, dan saponin. Formula F2 memiliki aktivitas antibakteri terbaik dengan zona hambat rata-rata 6,5 ± 0,5 mm (kategori sedang), sedangkan formula F3 menunjukkan aktivitas antioksidan terkuat dengan nilai IC50 sebesar 78,9 ppm (kategori sedang). Nilai SPF pada seluruh formulasi relatif rendah, dengan nilai tertinggi diperoleh pada F1 sebesar 0,27 pada konsentrasi 300 ppm. Uji organoleptik menunjukkan bahwa F1 dan F2 lebih stabil dibandingkan F3. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa formulasi nanospray  kombinasi melati–jeruk pamelo memiliki potensi sebagai kandidat sediaan topikal alami multifungsi dengan aktivitas antibakteri, antioksidan, dan pelindung UV. Optimalisasi formulasi serta uji in vivo lebih lanjut direkomendasikan untuk mendukung pengembangannya dalam bidang dermatologi dan produk kosmeseutikal.  
Kista Hidatid di Fossa Posterior: Ketika Infeksi Langka Menyerupai Tumor Otak Muhammad Lu’ai Maknun Saf; Muhammad Azzam Faaz; Gina Andyka Hutasoit; Arlin Rinni Tutu; Ika Magfirah; Franklin Lessyamana Sinanu
Aesculapius Medical Journal 230-234
Publisher : Fakultas Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/amj.5.3.2025.230-234

Abstract

Kista hidatid merupakan kista yang disebabkan oleh infeksi Echinococcus granulosus yang sering ditemui pada paru-paru dan hati. Kasus yang ditemukan saat ini merupakan termasuk kasus yang sangat langka, dimana berlokasi di otak. Kejadian kasus ini hanya mencakup sekitar 1–2% dari seluruh kasus. Kista hidatid intrakranial lebih sering ditemukan pada anak-anak, terutama di area supratentorial, sedangkan keterlibatan fossa posterior sangat jarang dilaporkan. Kasus ini pertama ditemukan di RSUD Undata, Palu, Sulawesi Tengah. Dilaporkan seorang pasien laki-laki berusia 35 tahun yang datang dengan keluhan sakit kepala kronis dan kejang. Computed tomography (CT) kepala tanpa kontras menunjukkan massa kistik, berseptasi, berbatas tegas, tepi lobulated, non kalsifikasi, pada hemisfer cerebelli sisi kanan, menyempitkan ventrikel empat, mengakibatkan obstruktif hidrosefalus. Pasien menjalani ventriculoperitoneal (VP) shunt dan kraniotomi untuk eksisi lesi. Pemeriksaan histopatologi dilakukan sebagai penegakan diagnosis klinis, dimana menunjukkan adanya temuan khas yaitu brood capsul dan protoscolices. Memiliki manifestasi klinis yang sama seperti tumor otak, sehingga kista hidatik perlu dipertimbangkan sebagai diagnosis banding pada lesi kistik di otak. Pemeriksaan CT scan dan konfirmasi histopatologi merupakan modalitas penting untuk diagnosis definitif. Tatalaksana utama adalah pembedahan dengan eksisi total disertai manajemen komplikasi seperti hidrosefalus. Laporan ini menyoroti pentingnya kewaspadaan klinisi terhadap presentasi atipikal kista hidatik fossa posterior agar tidak terjadi salah diagnosis sebagai neoplasma primer otak.  
Restriksi Nutrisi sebagai Strategi Modulasional dalam Diferensiasi Sel Punca Mesenkimal Tali Pusat Menuju Osteoblas: Tinjauan Literatur Helsy Junaidi; Agis Adin Fadilah; Aydin Azzam Wardujono; Kaneisha Vaniazahira; Muhammad Fathir Alamsyah; Wahyunia Likhayati Septiana
Aesculapius Medical Journal 235-244
Publisher : Fakultas Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/amj.5.3.2025.235-244

Abstract

Sel punca mesenkimal asal tali pusat (SPM-TP) merupakan salah satu sumber sel punca potensial untuk terapi regeneratif karena multipotensi, proliferasi tinggi, serta imunogenitas rendah. Diferensiasi osteogenik SPM-TP dipengaruhi oleh faktor internal sel maupun lingkungan mikro, termasuk asupan nutrisi. Restriksi nutrisi atau intermittent fasting (IF) diketahui mampu meningkatkan viabilitas sel, menginduksi autofagi, serta mengoptimalkan diferensiasi melalui aktivasi jalur AMPK dan penekanan mTOR. Penelitian ini bertujuan meninjau pengaruh restriksi nutrisi terhadap karakteristik SPM-TP, khususnya pada diferensiasi osteogenik. Metode yang digunakan adalah telaah literatur dari database PubMed, ScienceDirect, NCBI, dan Google Scholar dengan kriteria publikasi 2015–2025 yang relevan dengan topik. Hasil kajian menunjukkan bahwa restriksi nutrisi dapat mempertahankan morfologi dan viabilitas SPM-TP, menjaga ekspresi marker permukaan (CD73, CD90, CD105), serta meningkatkan ekspresi penanda osteogenik seperti RUNX2, ALP, dan osteokalsin. Kesimpulannya, restriksi nutrisi berpotensi menjadi strategi preconditioning untuk meningkatkan kemampuan regeneratif SPM-TP dalam aplikasi klinis, terutama pada regenerasi tulang dan penyembuhan fraktur.  
Literature Review: Efek Neuroprotektif Ekstrak Tanaman Kelor (Moringa oleifera) Model In vivo Cedera Otak Adhindha Amalia; Afifah Allisya; Muyassarah Salsabila
Aesculapius Medical Journal 245-260
Publisher : Fakultas Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/amj.5.3.2025.245-260

Abstract

Traumatic Brain Injury (TBI) menjadi masalah kesehatan global dengan angka morbiditas dan mortalitas tinggi, terutama pada usia produktif. Pilihan terapi neuroprotektif yang efektif masih terbatas. Moringa oleifera mengandung senyawa bioaktif dengan potensi antioksidan, antiinflamasi, dan antiapoptotik. Literature review ini menganalisis efek neuroprotektif ekstrak Moringa oleifera pada model in vivo cedera otak dengan fokus pada ekspresi caspase-3 sebagai biomarker apoptosis. Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, Wiley, dan Elsevier untuk artikel berbahasa Inggris periode 2015–2025 menggunakan kata kunci terkait. Seleksi dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, serta risiko bias dinilai menggunakan SYRCLE’s Risk of Bias. Enam studi memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis. Ekstrak daun, biji, dan minyak Moringa oleifera menurunkan stres oksidatif, respon inflamasi, dan ekspresi caspase-3. Pemberian ekstrak memperbaiki fungsi kognitif dan perilaku pada hewan uji. Moringa oleifera berpotensi sebagai agen neuroprotektif pada TBI, namun penelitian lanjutan dan uji klinis pada manusia diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanannya.  
Paradigma Baru Terapi Leptospirosis Melalui Inovasi dalam Pengobatan Farmakologis dan Non-Farmakologis: Literature Review Siti Khodijah Nur’Aini Jusuf; Aura Audhilla Khadiamsi; Nur Azizah
Aesculapius Medical Journal 261-272
Publisher : Fakultas Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/amj.5.3.2025.261-272

Abstract

Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh Leptospira spp., termasuk dalam kelompok Neglected Tropical Diseases (NTDs) dengan prevalensi tinggi di wilayah tropis. Di Indonesia, kasus meningkat pada musim hujan maupun kemarau akibat faktor lingkungan, aktivitas manusia, dan ekologi reservoir. Manifestasi klinis bervariasi dari gejala ringan hingga bentuk berat (penyakit Weil) dengan risiko gagal multi-organ. Selama beberapa dekade, penatalaksanaan leptospirosis bergantung pada terapi antibiotik dan pencegahan konvensional. Namun, keterbatasan efektivitas, potensi resistensi, serta angka mortalitas pada kasus berat menegaskan kebutuhan akan inovasi pengobatan yang lebih komprehensif. Kajian literatur ini mengulas perkembangan terapi farmakologis meliputi formulasi antibiotik terbaru, kombinasi terapi, penggunaan kortikosteroid sebagai adjuvan untuk menekan badai sitokin, serta pengembangan imunoterapi berbasis antibodi monoklonal dan terapi genomik. Di sisi lain, pendekatan non-farmakologis meliputi eksplorasi vaksin generasi baru (rekombinan, DNA, multi-epitop) yang berpotensi memberikan proteksi lintas serovar, meskipun masih menghadapi kendala efektivitas dan kebutuhan uji klinis. Selain itu, terapi herbal seperti Quercus infectoria, Piper betle, dan ekstrak Angelica sinensis menunjukkan aktivitas antimikroba dan imunomodulator menjanjikan, meski memerlukan validasi farmakokinetik dan uji in vivo lebih lanjut. Dengan demikian, manajemen leptospirosis ke depan menuntut integrasi terapi farmakologis dan non-farmakologi.