cover
Contact Name
Muhammad Fuad Zaini
Contact Email
fuadzaini06@gmail.com
Phone
+6282360501584
Journal Mail Official
fuadzaini06@gmail.com
Editorial Address
Jl. Williem Iskandar No. K-2/22, Pos: 20222, Medan
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Khazanah : Journal of Islamic Studies
ISSN : 28298225     EISSN : 28280458     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
Fokus penerbitan artikel riset pada jurnal Khazanah : Journal of Islamic Studies : 1. Ilmu-Ilmu Keislaman 2. Pendidikan Islam 3. Pemikiran Islam 4. Hukum Islam 5. Islam politik 6. Ekonomi Islam 7. Ilmu dakwah 8. Komunikasi Islam
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 183 Documents
Problematika Pembentukan Kepribadian Muslim di Era Digital Ridha Khairani; Rafidatun Sahirah; Azizah Hanum OK
Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 5 Nomor 1 Februari (2026)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v5i1.2544

Abstract

Transformasi peradaban kontemporer ditandai dengan transisi radikal menuju era digital yang mengonversi realitas empiris ke dalam sistem biner numerik secara masif dan instan. Era digital ini bertindak sebagai infrastruktur makro yang mengantarkan subjek didik menembus lanskap ontologis baru bernama ruang siber (cyberspace). Eksistensi jagat digital yang serba cepat, praktis, dan terfragmentasi ini menghadirkan tantangan teoretis-filosofis pelik bagi keberlangsungan internalisasi nilai dalam filsafat pendidikan Islam, khususnya dalam mengonstruksi kepribadian muslim (syakhshiyah islamiyah). Artikel ini bertujuan untuk mengurai secara radikal problematika struktural pembentukan kepribadian muslim di era digital melalui pisau analisis kefilsafatan, sekaligus merumuskan resolusi metodologisnya. Penelitian ini merupakan studi kualitatif berbasis kepustakaan (library research) dengan pendekatan filosofis-konseptual. Hasil analisis menunjukkan bahwa krisis pembentukan kepribadian muslim di era digital berakar pada tiga level disrupsi filosofis: 1) Disrupsi Epistemologis, berupa pendangkalan nalar kritis akibat pergeseran tradisi berpikir reflektif (tafakkur) menjadi cara berpikir superfisial yang dikendalikan oleh algoritma; 2) Anomali Aksiologis, berupa eksternalisasi nilai etis-spiritual di mana esensi kesalehan batin (keikhlasan) terdegradasi oleh perburuan validasi digital metrikal (likes, shares, followers) yang melahirkan fenomena kesalehan kosmetis; dan 3) Fragmentasi Ontologis Identitas, yang mewujud dalam keterbelahan eksistensial (split personality) antara persona virtual dan riil. Sebagai resolusi filosofis, penelitian ini menawarkan rekonstruksi metodologi pendidikan Islam melalui agenda Tri-Pilar Digital Maslahah: pemulihan daya refleksi-kritik lewat epistemological revival, reposisi orientasi nilai batin melalui axiological realignment, dan revitalisasi fungsional tri-pusat pendidikan sebagai filter eksistensial.
Ketika Google Menjadi Guru: Relevansi Konsep Murabbi dalam Menghadapi Pergeseran Otoritas Ilmu Pada Generasi Digital Nurul Izzah Maulidiyah; Sandi Swasta Agung; Azizah Hanum OK
Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 5 Nomor 1 Februari (2026)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v5i1.3043

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola akses dan konstruksi pengetahuan masyarakat, khususnya pada generasi digital yang semakin menjadikan mesin pencari seperti Google sebagai sumber utama informasi. Fenomena ini memunculkan pergeseran otoritas ilmu dari pendidik menuju algoritma digital yang bekerja berdasarkan relevansi data, bukan validitas ilmiah maupun nilai-nilai pedagogis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk pergeseran otoritas ilmu pada generasi digital, menjelaskan keterbatasan otoritas algoritmik dalam perspektif pendidikan Islam, serta mengkaji relevansi konsep murabbi sebagai paradigma pendidikan dalam menghadapi transformasi digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh melalui telaah kritis terhadap berbagai buku, artikel jurnal nasional dan internasional bereputasi, serta dokumen akademik yang berkaitan dengan pendidikan Islam, literasi digital, otoritas ilmu, dan transformasi digital. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, interpretasi, dan sintesis konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi telah merekonstruksi akses pengetahuan menjadi lebih terbuka dan cepat, tetapi sekaligus melahirkan otoritas algoritmik yang berpotensi menggeser peran pendidik sebagai sumber rujukan utama. Meskipun Google mampu menyediakan informasi secara instan, teknologi tidak memiliki kapasitas untuk melakukan pembinaan moral, internalisasi nilai, maupun pembentukan karakter peserta didik. Oleh karena itu, konsep murabbi tetap memiliki relevansi yang kuat sebagai pendidik yang tidak hanya mentransmisikan ilmu, tetapi juga membimbing, membina adab, serta mengintegrasikan aspek intelektual, spiritual, dan moral dalam proses pendidikan. Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan Islam pada era digital memerlukan integrasi antara pemanfaatan teknologi dan penguatan peran murabbi agar proses pembelajaran tidak hanya menghasilkan peserta didik yang kaya informasi, tetapi juga memiliki karakter, kebijaksanaan, dan tanggung jawab moral.
Fenomena Childfree di Kalangan Pasangan Urban: Tinjauan Fikih Kontemporer dan Maqashid Syari'ah Iklima Novriani; Krenniti Sundari; Maryam Lubis; Muhammad Fadhli Azmi; Ali Imran Sinaga
Khazanah : Journal of Islamic Studies Vol. 5 No. 2 (2026): Volume 5 Nomor 2 Mei (2026)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v5i2.3062

Abstract

Fenomena childfree sebagai keputusan sadar pasangan untuk tidak memiliki anak semakin berkembang di kalangan pasangan urban Indonesia seiring perubahan sosial, ekonomi, dan budaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis fenomena childfree dalam perspektif fikih kontemporer dengan menggunakan pendekatan maqashid syari'ah untuk merumuskan kedudukan hukumnya berdasarkan motif yang melatarbelakanginya. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif normatif yang menganalisis sumber-sumber hukum Islam klasik dan kontemporer serta berbagai literatur ilmiah yang relevan melalui analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hukum childfree dalam Islam bersifat kontekstual dan tidak dapat digeneralisasi. Keputusan childfree yang didasarkan pada alasan medis, psikologis, atau kondisi darurat memperoleh legitimasi syariat sebagai bentuk perlindungan terhadap jiwa (hifzh al-nafs) dan akal (hifzh al-'aql). Sebaliknya, childfree yang didasarkan pada penolakan permanen terhadap keturunan tanpa alasan syar'i bertentangan dengan tujuan maqashid syari'ah, khususnya hifzh al-nasl. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa analisis berdasarkan lima tujuan pokok maqashid syari'ah menghasilkan klasifikasi hukum yang lebih komprehensif dibandingkan pendekatan normatif yang hanya bertumpu pada satu dalil atau satu pendapat fikih. Dengan demikian, pendekatan maqashid syari'ah memungkinkan penilaian hukum terhadap fenomena childfree dilakukan secara lebih kontekstual, proporsional, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Ad-Dakhil Bi Al-Isyarah dalam Kitab Qayyum Al-Asma’ Karya Shirazi: Kajian Terhadap Bentuk dan Penyimpangannya Ilham Abiyusuf; Fadhli Maulana Ihsan; Pakhrurrozi Pakhrurrozi; Lukmanul Hakim; Nixon Nixon
Khazanah : Journal of Islamic Studies Vol. 5 No. 2 (2026): Volume 5 Nomor 2 Mei (2026)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v5i2.3439

Abstract

The emergence of new religious movements such as Bábism, which claim to have alternative sources of revelation outside the Qur'an, particularly through the Qayyum al-Asma' by Sayyid 'Ali Muhammad Shirazi (the Báb). The aim of this study is to identify and analyze forms of deviant esoteric interpretation (ad dakhil bil isyarah) in this book, specifically in Surah 93 pages 192-193, and to compare them with interpretations from mainstream Qur'anic exegesis (tafsir). The research employs a qualitative method with a library research approach and descriptive-analytical design. Data collection was conducted by tracing and recording texts from the original manuscript of Qayyum al-Asma', while data analysis used content analysis and comparative analysis through five steps: identifying the Báb's claims, describing his interpretation, collecting comparator interpretations, comparative analysis, and ad dakhil bil isyarah analysis. The findings reveal three forms of ad dakhil bil isyarah deviation in Qayyum al-Asma': the symbol of qamis (shirt) claimed as a medium for transmitting spiritual authority and blood as a sacrament of salvation; the symbol of al-nahl (bee) transforming honey into an "elixir" of life; and the symbol of al-nar wa al-nur (fire and light) at Mount Thur, where the Báb claimed himself as the entity that spoke to Prophet Moses. These three deviations contradict the authoritative interpretations of Ibn Kathir, Al-Qurtubi, Al-Mishbah, Jalalain, and the Indonesian Ministry of Religious Affairs.
Legal Cartainty in Digital Sharia Business Contracts: Problems of Validity, Sharia Compliance and Dispute Resolution in Makassar Andi Candrawali Makmur; Widi Rahman; Hannani Hannani; Zainal Said
Khazanah : Journal of Islamic Studies Vol. 5 No. 2 (2026): Volume 5 Nomor 2 Mei (2026)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v5i2.3531

Abstract

This study examines legal certainty in digital sharia business contracts in Makassar, focusing on three dimensions: contract validity, sharia compliance, and dispute resolution mechanisms. Employing empirical legal research with a qualitative approach and purposive sampling of nine key informants comprising judges of the Religious Court of Makassar, sharia compliance officers, Islamic economics academics, OJK Regional 6 officials, DSN-MUI/MUI Sulawesi Selatan members, and Religious Court judiciary the research reveals three principal findings. First, digital sharia contract validity is not fully synchronized between Indonesian positive law (UU ITE) and Islamic economic law (KHES/fiqh muamalah), with critical normative gaps in electronic ijab-qabul standards, digital KYC adequacy, and the formal legal status of DSN-MUI fatwas. Second, sharia compliance operates under a multi-layered normative structure but suffers from serious regulatory lag, disharmony between POJK provisions and DSN-MUI fatwas, and limited digital competency among Sharia Supervisory Boards (DPS). Third, dispute resolution through Religious Courts faces structural barriers including inconsistent judicial interpretation, the absence of a Supreme Court Regulation (Perma) specifically governing digital sharia contract disputes, and inadequate electronic evidence standards. The study concludes that Indonesia requires a comprehensive Digital Sharia Economic Law integrating UU ITE, UU Perbankan Syariah, and fiqh muamalah principles, accompanied by revised KHES provisions on digital akad, a joint OJK-DSN-MUI regulatory committee, and an integrated national shariah digital regulatory portal.
Akhlak Kepada Rasulullah dalam Perspektif Islam: Integrasi Nilai Mahabbah, Ta'zhim, dan Ittiba' Sebagai Kerangka Pendidikan Karakter Islami Syahdan Muhammad Fauzi; Iman Margarahmana; Ali Maulida
Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 5 Nomor 1 Februari (2026)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v5i2.3578

Abstract

Akhlak kepada Rasulullah ﷺ merefleksikan esensi keimanan Muslim sekaligus fondasi karakter Islami. Penelitian ini mengkaji integrasi tiga nilai inti mahabbah (cinta), ta'zhim (pengagungan), dan ittiba' (pengikutan) serta merumuskan kerangka relasional integratif di antara ketiganya. Menggunakan pendekatan kualitatif berbasis library research dengan analisis konten, sumber data primer mencakup Al Qur'an, hadis, serta kitab Iḥyā' 'Ulūm al Dīn (al Ghazali), al Risālah al Qushayriyyah (al Qushayri), dan Madārij al Sālikīn (Ibnu Qayyim), sementara sumber sekunder terdiri dari artikel jurnal terbitan 2020 2025. Temuan menunjukkan bahwa mahabbah melahirkan ta'zhim terhadap kedudukan dan pribadi beliau, sementara ittiba' merupakan implementasi konkret pengamalan sunnah secara proporsional tanpa ghuluw maupun tafrith. Kebaruan penelitian ini adalah Siklus Akhlak MTA yang menggambarkan hubungan resiprokal dan rekursif: mahabbah mendorong ta'zhim, ta'zhim melahirkan ittiba', dan ittiba' memperdalam mahabbah serta memperkokoh ta'zhim. Kontribusi teoretisnya menyatukan tiga nilai yang sebelumnya dikaji secara terpisah ke dalam kerangka akhlak utuh. Penelitian merekomendasikan penguatan ketiga nilai terintegrasi dalam kurikulum pendidikan karakter Islami melalui pendekatan berbasis cinta dan keteladanan.
Analisis Hadis Tentang Kewajiban Sholat dalam Perspektif Hukum Islam Syabrun Jukhoir; Aifa Affif; Cendy Zs Pratiwi Br Sitepu; Nur Haidah Siregar; Nadia Alyka Azzarah Hasibuan; Siti Asy’Syifa Rahma; Zahra Nurjannah
Khazanah : Journal of Islamic Studies Vol. 5 No. 2 (2026): Volume 5 Nomor 2 Mei (2026)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v5i2.3598

Abstract

Sholat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki kedudukan sangat penting dalamkehidupan seorang muslim karena menjadi sarana utama dalam membangun hubungan antara hamba dengan Allah SWT (Supiana 2022). Kewajiban sholat ditegaskan secara jelas dalam AlQur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW sehingga menjadi landasan utama dalam pembentukan hukum Islam yang berkaitan dengan ibadah Mahdhah (Rosihon Anwar, 2021) Hadis-hadis tentang kewajiban sholat tidak hanya menjelaskan perintah pelaksanaannya, tetapi juga menjelaskan kedudukan, syarat, serta konsekuensi hukum bagi orang yang meninggalkannya (Sulaeman Al-Jazairi, 2020). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hadis tentang kewajiban sholat serta mengkaji implikasi hukumnya dalam perspektif hukum Islam (Asep Saepullah, 2022). Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan deskriptif analitis melalui pengkajian berbagai literatur yang berkaitan dengan hadis, fiqih, dan hukum Islam (Abudin Nata, 2021). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis tentang kewajiban sholat menjadi kualitas yang sahih dan menjadi dasar utama dalam penetapan hukum wajib sholat bagi setiap muslim yang telah memenuhisyarat taklif (Wahbah Az-Zuhaili, 2021). Selain itu hukum Islam memandang bahwa meninggalkan sholatdengan sengaja merupakan perbuatan dosa yang memiliki konsekuensi hukum yang serius menurut para ulama (Yusuf Al-Qaradawi, 2020).
Integrasi Epistemologi Islamic Studies dan Pluralisme: Rekonstruksi Kurikulum Keagamaan di Lembaga Pendidikan Islam Sapirin Nasution
Khazanah : Journal of Islamic Studies Vol. 5 No. 2 (2026): Volume 5 Nomor 2 Mei (2026)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v5i2.3075

Abstract

Kurikulum keagamaan di lembaga pendidikan Islam dalam konteks kontemporer dihadapkan pada tantangan eksklusivisme teologis yang berdampak pada munculnya sikap intoleransi di kalangan peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan dominasi epistemologis dalam kurikulum keagamaan dan merumuskan model rekonstruksi kurikulum yang ramah terhadap nilai-nilai pluralisme. Melalui penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan hermeneutika kritis-emansipatoris, penelitian ini membedah dokumen kurikulum resmi dan Buku Teks Utama Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat Menengah Atas yang diterbitkan oleh Kementerian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur narasi materi keagamaan (Fiqih, Akidah Akhlak, SKI) saat ini masih didominasi secara hegemonik oleh epistemologi bayani yang bersifat tekstual-literal, sehingga melahirkan kurikulum yang tertutup dan bias teologis terhadap kelompok lain. Penelitian ini menawarkan blueprint rekonstruksi Kurikulum Keagamaan dengan memadukan secara harmonis antara nalar teks, nalar kritis-sosiologis, dan nalar empati spiritual-kemanusiaan. Implikasi dari penelitian ini memberikan arah teoretis dan metodologis bagi pengembang kurikulum di Kementerian dalam merevisi buku teks PAI masa depan yang lebih adaptif terhadap realitas pluralisme sosial di Indonesia.
Model Pembelajaran Hybrid Pada Pesantren Modern: Evaluasi Efektivitas Pembelajaran Agama dan Umum di Pesantren Syadidul Kahar
Khazanah : Journal of Islamic Studies Vol. 5 No. 2 (2026): Volume 5 Nomor 2 Mei (2026)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v5i2.3076

Abstract

Integrasi kurikulum agama dan umum di pesantren modern sering kali memicu problem kepadatan beban akademis yang berdampak pada penurunan efisiensi belajar santri. Di sisi lain, arus digitalisasi menuntut pesantren untuk adaptif tanpa mendegradasi nilai spiritualitas aslinya. Model pembelajaran hibrida (hybrid learning) hadir sebagai jembatan metodologis yang potensial, namun evaluasi sistemik mengenai efektivitasnya di lembaga asrama religius masih terbatas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka (library research). Data sekunder diperoleh melalui penelusuran pangkalan data ilmiah dari rentang tahun 2021–2026 yang mengkaji digitalisasi kurikulum pesantren. Data dianalisis menggunakan metode analisis isi (content analysis) dan analisis tematik melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula ideal hybrid learning di pesantren modern menerapkan proporsi 70% sinkron fisik untuk kurikulum keagamaan dan pembiasaan akhlak, serta 30% asinkron digital untuk kurikulum sains-umum berbasis Learning Management System (LMS). Model ini efektif mengoptimalkan alokasi waktu sehingga mereduksi kepadatan jadwal santri, serta memodifikasi elemen insentif melalui konstruktif budaya ketaatan terhadap kiai. Model pembelajaran hybrid berbasis tata kelola internal efektif menjadi resolusi struktural yang mampu menyeimbangkan fleksibilitas teknologi abad ke-21 dengan sakralitas nilai luhur kepesantrenan tanpa memicu sekularisasi digital.
Mental Health Education in the Quran Farhan Mubarok Lubis
Khazanah : Journal of Islamic Studies Vol. 5 No. 2 (2026): Volume 5 Nomor 2 Mei (2026)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v5i2.3271

Abstract

Mental health has become an increasingly important issue in contemporary society due to rapid social, technological, and cultural changes that contribute to psychological challenges such as anxiety, stress, and depression. This study aims to explore the concept and principles of mental health education as presented in the Holy Quran and to examine its relevance to individual, family, and societal well-being. The research employs an inductive thematic approach by collecting and analyzing Quranic verses related to mental health, supported by classical Quranic exegesis and relevant scholarly literature. The findings reveal that the Quran presents a comprehensive framework for mental health by integrating spiritual, psychological, and moral dimensions. Mental health in the Quran is closely associated with inner peace, emotional balance, and spiritual well-being, all of which are achieved through faith in Allah, sincere worship, remembrance of Allah (dhikr), patience, prayer, trust in divine decree (tawakkul), and contentment with His will (riḍā). These principles serve not only as preventive measures against psychological distress but also as therapeutic guidance for overcoming emotional and mental difficulties. The study concludes that the Quran offers a holistic educational model for nurturing mental health that harmonizes spiritual values with psychological resilience. Consequently, integrating Quranic teachings into mental health education can contribute significantly to promoting psychological stability, strengthening moral character, and enhancing the overall quality of life in contemporary Muslim communities.