cover
Contact Name
Muhammad Fuad Zaini
Contact Email
fuadzaini06@gmail.com
Phone
+6282360501584
Journal Mail Official
fuadzaini06@gmail.com
Editorial Address
Jl. Williem Iskandar No. K-2/22, Pos: 20222, Medan
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Khazanah : Journal of Islamic Studies
ISSN : 28298225     EISSN : 28280458     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
Fokus penerbitan artikel riset pada jurnal Khazanah : Journal of Islamic Studies : 1. Ilmu-Ilmu Keislaman 2. Pendidikan Islam 3. Pemikiran Islam 4. Hukum Islam 5. Islam politik 6. Ekonomi Islam 7. Ilmu dakwah 8. Komunikasi Islam
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 161 Documents
Pandangan Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha Terhadap Money Politic dalam Tafsir Al-Manar dalam Q.S Al-Baqarah Ayat 30 Dan Imran Ayat 159 Dimyati, Salsabila Husna; Salamah, Navis Daris
Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 3 Nomor 3 Agustus (2024)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v3i3.2091

Abstract

Praktik money politic atau politik uang menjadi isu krusial dalam konteks politik modern, termasuk dalam masyarakat Muslim. Dalam kajian ini, penulis mengeksplorasi pandangan dua tokoh besar pemikiran Islam, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridla, terhadap money politic melalui perspektif tafsir Al-Manar, khususnya dalam konteks Q.S. Al-Baqarah ayat 30 dan Al-Imran ayat 159. Ayat-ayat ini mengandung pesan penting mengenai kejujuran dan integritas dalam berpolitik yang relevan dengan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis teks. Data dikumpulkan melalui studi literatur dari karya-karya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridla, serta tafsir Al-Manar. Selain itu, kajian ini juga mempertimbangkan konteks sosial-politik yang melatarbelakangi pandangan kedua tokoh tersebut. Analisis dilakukan dengan membandingkan penafsiran kedua tokoh terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan integritas moral dan perilaku politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Muhammad Abduh mengedepankan pentingnya moralitas dan etika dalam praktik politik, menekankan bahwa money politic bertentangan dengan prinsip kejujuran yang diajarkan dalam Islam. Ia berargumen bahwa praktik tersebut merusak tatanan sosial dan memanfaatkan kelemahan masyarakat. Sementara itu, Rasyid Ridla menyoroti dampak negatif money politic terhadap partisipasi politik rakyat dan legitimasi pemimpin. Ia mengajak umat Islam untuk kembali pada ajaran Al-Qur'an yang menekankan keadilan dan tanggung jawab sosial. Keduanya sepakat bahwa money politic dapat mengakibatkan kerusakan dalam masyarakat dan harus dihindari untuk menjaga kehormatan dan integritas dalam politik.
Analisis Penafsiran Ayat-Ayat Mutashabihat Perspektif Imam Al-Shawkan? (Studi Atas Tafsir Fath al-Q?dir) Daiyan, Ahmad
Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 3 Nomor 3 Agustus (2024)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v3i3.2107

Abstract

Penelitian ini menganalisis penafsiran ayat-ayat mutashabihat dalam Al-Qur'an dari perspektif Imam Al-Shawkan? sebagaimana tertuang dalam tafsirnya, *Fath al-Q?dir*. Ayat-ayat mutashabihat merupakan ayat-ayat yang maknanya tidak jelas atau samar, yang menuntut pemahaman lebih mendalam dan interpretasi yang cermat. Fokus penelitian ini adalah memahami bagaimana Imam Al-Shawkan? mendekati penafsiran ayat-ayat tersebut, serta metode yang digunakan dalam mengklarifikasi maknanya. Imam Al-Shawkan? adalah seorang ulama besar yang dikenal dengan pendekatan kritis dan moderat dalam tafsir. Dalam *Fath al-Q?dir*, ia seringkali menggabungkan metode tafsir bil-ma’tsur (berdasarkan riwayat) dan tafsir bil-ra’yi (berdasarkan pemikiran), yang memberinya fleksibilitas dalam menangani ayat-ayat mutashabihat. Penelitian ini mengungkap bahwa Al-Shawkan? cenderung menghindari takwil ekstrem yang dapat menyimpang dari makna zahir teks, namun juga tidak terjebak dalam pemahaman literal yang sempit. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan analisis isi terhadap teks tafsir *Fath al-Q?dir*. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Al-Shawkan? menekankan pentingnya kembali kepada prinsip-prinsip dasar agama, seperti tawhid dan keesaan Allah, dalam menafsirkan ayat-ayat mutashabihat. Ia juga menekankan perlunya menjaga keseimbangan antara akal dan wahyu dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut. Kesimpulannya, Imam Al-Shawkan? melalui tafsirnya, Fath al-Q?dir, memberikan kontribusi penting dalam tradisi tafsir, khususnya dalam menangani ayat-ayat mutashabihat. Pendekatannya yang moderat dan berimbang dapat menjadi rujukan bagi studi tafsir kontemporer.
Pluralisme Agama Perspektif Penafsiran Nurcholis Madjid Arif, Muhammad Syaikhul
Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 3 Nomor 3 Agustus (2024)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v3i3.2122

Abstract

Pluralisme agama telah menjadi salah satu isu penting dalam masyarakat multikultural. Nurcholish Madjid, sebagai salah satu pemikir Islam terkemuka di Indonesia, menawarkan perspektif yang mendalam mengenai pluralisme agama. Penafsirannya berfokus pada penerimaan keberagaman dan penghargaan terhadap perbedaan keyakinan sebagai bagian dari rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi seluruh alam). Perspektif ini mengundang perdebatan di kalangan akademisi, terutama dalam konteks Islam Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran Nurcholish Madjid tentang pluralisme agama, terutama dari perspektif penafsiran teks-teks agama. Penelitian ini juga mengeksplorasi implikasi penafsirannya terhadap hubungan antaragama di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Data diperoleh melalui kajian literatur yang mencakup karya-karya Nurcholish Madjid, serta berbagai literatur sekunder yang membahas gagasannya tentang pluralisme agama. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis untuk menguraikan penafsiran Madjid dalam konteks teologi dan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nurcholish Madjid melihat pluralisme sebagai sebuah keniscayaan dalam kehidupan beragama. Menurutnya, pluralisme tidak hanya berarti keberadaan berbagai agama, tetapi juga penghargaan terhadap nilai-nilai universal yang ada dalam setiap agama. Madjid menekankan bahwa Islam menghargai keragaman dan mendukung terciptanya perdamaian melalui dialog antaragama. Pandangannya ini berkontribusi besar dalam membangun wacana Islam inklusif di Indonesia.
Konsep Millah Dalam Al-Qur’an: (Telaah Semiotika Perspektif Charles Sanders Pierce) Hayati, Indri Nur
Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 3 Nomor 3 Agustus (2024)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v3i3.2123

Abstract

Konsep millah dalam Al-Qur'an sering kali dikaitkan dengan tradisi, keyakinan, dan ajaran agama yang diwariskan oleh para nabi. Namun, pemahaman tentang millah membutuhkan penafsiran yang lebih mendalam untuk mengetahui makna simbolis yang terkandung dalam penggunaannya. Pendekatan semiotika, khususnya dari perspektif Charles Sanders Peirce, memungkinkan kajian atas tanda-tanda dan simbol-simbol dalam Al-Qur'an yang berkaitan dengan konsep ini, untuk lebih memahami pesan dan makna di baliknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna konsep millah dalam Al-Qur'an melalui pendekatan semiotika menurut perspektif Charles Sanders Peirce. Tujuan lainnya adalah memahami bagaimana konsep ini merepresentasikan identitas, ajaran, dan warisan agama dalam Al-Qur'an, serta menganalisis hubungan tanda, objek, dan interpretan yang terbentuk dari konsep millah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotika dari Charles Sanders Peirce. Data dikumpulkan melalui studi pustaka yang mencakup tafsir Al-Qur'an, literatur tentang millah, serta teori-teori semiotika. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif-analitis untuk menguraikan tanda, objek, dan interpretan yang terkandung dalam konsep millah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa millah dalam Al-Qur'an memiliki makna simbolis yang kuat terkait dengan tradisi ajaran agama yang diwariskan oleh nabi-nabi terdahulu, khususnya Ibrahim. Melalui perspektif Peirce, millah dapat dipahami sebagai sebuah tanda yang merujuk pada suatu ajaran yang menjadi identitas kolektif bagi umat yang menerimanya. Penelitian ini menemukan bahwa millah bukan hanya sekadar ajaran agama, tetapi juga sebuah identitas spiritual yang terhubung dengan keimanan dan ketaatan kepada Allah.
Multikulturalisme dan Inklusif dalam Pendidikan Islam Sapirin, Sapirin
Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 3 Nomor 3 Agustus (2024)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v3i3.2238

Abstract

Berbicara mengenai keberagaman berarti hal tersebut membutuhkan suatu sikap arif serta memiliki pemikiran yang dewasa yang mencakup pada lapisan-lapisan masyarakat. Hal ini berarti setiap ide-ide yang dikeluarkan oleh pemikiran Islam tersebut harus mampu melibatkan masyarakat tanpa memandang agama, warna kulit, status sosial dan etnis yang merupakan suatu kekayaan yang harus disikapi dengan bijak bukan ditentang. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif menggunakan pendekatan analisis konten ditemukan bahwa multikulturalisme bukan lah hal yang baru dalam Islam dalam implementasinya, Islam inklusif dan multikulturalisme yang ditawarkan tampak kukuh, dewasa dan rasional, sebuah Islam yang mampu membawa umatnya memasuki millenium baru dengan sikap terbuka dan percaya diri. Pandangan inklusivisme tidaklah bertentangan dengan nilai ajaran Islam, karena seseorang masih tetap meyakini bahwa agamanyalah yang paling baik dan benar. Namun, dalam waktu yang sama mereka memilikisikap toleran dan persahabatan dengan pemeluk agama lain. Sikap inklusif dan multikulturalisme dapat dipastikan akan selalu dihadapkan dengan konteks masyarakat yang plural. Sehingga inklusif dan plural seakan-akan tidak lepas dari pluralitas. Pandangan tersebut bahwa agama-agama lain yang ada di dunia ini sebagaiyang mengandung kebenaran dan dapat memberikan manfaat serta keselamatan bagi penganutnya. Maka tujuan Islam inklusif untuk membangun relasi dengan umat manusia dalam rangka membangun masyarakat madani dengan meletakkan prinsipprinsip kemanusiaan universal.
Peran Nilai Anti-Kekerasan dalam Membentuk Karakter Peserta Didik dalam Pendidikan Islam Chairuna, Sasmita; Albina, Meyniar
Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 3 Nomor 4 November (2024)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v3i4.2262

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peran nilai anti-kekerasan dalam membentuk karakter peserta didik dalam pendidikan Islam. Fokus utama penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam, seperti kedamaian, kasih sayang, dan penghormatan terhadap martabat manusia, dapat diterapkan dalam lingkungan pendidikan untuk mencegah kekerasan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka dengan pengumpulan data melalui dokumentasi yang terkait dengan tema nilai anti-kekerasan dalam pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik yang berbasis nilai anti-kekerasan. Hal ini tercermin dalam pengembangan kebijakan sekolah yang menekankan pentingnya penghargaan terhadap perbedaan dan penerapan prinsip-prinsip keadilan. Selain itu, pentingnya peran guru sebagai teladan dan pembimbing yang dapat mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam pembelajaran dan kehidupan sehari-hari. Satuan pendidikan Islam juga perlu menumbuhkan budaya damai melalui sikap saling menghargai, menyelesaikan konflik dengan cara damai, serta mendukung terciptanya lingkungan yang aman dan kondusif untuk belajar. Dengan demikian, pendidikan Islam tidak hanya berfungsi untuk mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk membentuk karakter peserta didik yang mampu hidup berdampingan dalam kedamaian dan saling menghormati.
Manajemen Lembaga Dakwah FKUB dalam Mewujudkan Moderasi Beragama di Kota Medan Arsyad, Agam; Hasibuan, Wildan Ansori; Primadani, Rizky
Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 3 Nomor 4 November (2024)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v3i4.2308

Abstract

This study examines the management strategies of the Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) in promoting religious moderation in the multicultural society of Medan City. As a key institution fostering interfaith harmony, FKUB utilizes managerial functions—planning, organizing, implementing, and evaluating—to design and execute programs such as interfaith seminars, conflict mediation, and capacity building for religious leaders. Employing a qualitative descriptive approach, the research explores the challenges and impacts of these strategies through in-depth interviews, participatory observations, and document analysis. Results indicate that while FKUB's programs significantly enhance interfaith communication and reduce religious tensions, challenges such as societal resistance to moderation concepts, limited funding, and low community participation hinder broader implementation. This study underscores the importance of enhancing FKUB’s resource capacity and outreach strategies to strengthen social harmony. The findings provide practical recommendations for FKUB and similar institutions to effectively implement religious moderation programs within diverse communities.
Pemanfaatan Media Digital untuk Pengajaran Al-Qur'an dan Hadis di Era Digital Saripuddin B, Muhammad
Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 3 Nomor 4 November (2024)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v3i4.2343

Abstract

The utilization of digital media in teaching the Qur'an and Hadith has become a strategic step to enhance the quality of Islamic education in the digital era. This study aims to explore the potential, benefits, and challenges of using digital media in Qur'an and Hadith learning. Using a qualitative approach and case study method, data were collected through interviews, observations, and document analysis at several Islamic educational institutions that have integrated digital technology. The findings reveal that digital media, such as Qur'an learning applications, online tafsir platforms, and interactive videos, provide flexibility and interactivity that enhance students' understanding of the material. However, challenges such as limited access to technology, low digital literacy, and concerns over content alignment with Islamic values are significant barriers to implementation. The study also highlights the importance of collaboration between educators, students, parents, and policymakers to optimize the benefits of digital media in Islamic education. In conclusion, digital media can serve as an effective tool for supporting Qur'an and Hadith learning when used wisely and responsibly. Investment in digital infrastructure, digital literacy training for educators, and the development of Islamic-specific platforms are critical steps to address these challenges. This research contributes to the development of relevant and innovative Islamic educational practices in the digital era.
Mencerahkan Makna Tawakal dengan Keong Sawah di Musim Kemarau Panjang : Studi Petani di Kebumen dan Cilacap Amin, Moh.; Syam, Robingun Suyud El
Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 3 Nomor 4 November (2024)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v3i4.2352

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mencerahkan makna tawakal dengan keong sawah di musim kemarau panjang dan menganalisis mekanisme pertahanan hidupnya guna melihat implikasi teologi Islam. Penelitian lapangan ini menggunakan deskriptif kualitatif untuk menganalisis data dari 24 informan di Kabupaten Kebumen dan Cilacap, dalam kurun waktu satu tahun. Temuan menunjukkan bahwa keong sawah di saat kemarau panjang mengajarkan sebuah nilai tawakal yang sangat luar biasa, dimana mereka akan menyesuaikan diri saat hendak memasuki musim kemarau guna bertahan hidup dalam jangka panjang. Implikasi penelitian ini, seseorang mestinya memiliki sikap tawakal kepada Allah atas segala realitas hidup yang dihadapinya. Sebagaimana keong sawah yang tidak memiliki akal, hanya berbekal isnting saja, dapat melewati kesulitan hidup selama musim kemarau di sawah kering berkat tawakalnya yang kuat kepada Allah. Jika manusia mau berpikir jernih, hal ini merupakan pelajaran dahsyat, maka tidak sepantasnya manusia yang merupakan ciptaan termulia, dikaruniai anugerah akal yang luar biasa, terjerumus pada jurang takabur, dan putus asa, dikalahkan oleh keong sawah yang hanya dianugerahi insting saja. Penelitian di masa depan dapat mempertimbangkan tawakal kepada Allah sebagai prediktor dan intervensi yang efektif untuk ketahanan hidup seseorang.
Akhlak Menurut Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani Dalam Kitab Nidzamul Islam Siregar, Mariani
Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 3 Nomor 4 November (2024)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v3i4.2358

Abstract

The process of forming morals (akhlak) is a necessity for every Muslim student. Discussions about morals never stop and grow old from time to time, even among the ulama (Muslim Scholars). Because there are always changes in the realities of life among Muslims, this causes behavior to also reflect changes. However, even though many have provided views on morals, the author still feels the need to adopt a unique and distinctive theory about morals. Not all scholars' opinions view moral issues the same. As understood by Shaykh Taqiyuddin An-Nabhani, according to him, morals are the fruit of belief and practice of Islamic law. And not just morals without the right foundation or direction. Moral education is also a provision in the formation of syaksiyah Islamiyah (Islamic personality), which is the identity of a typical and unique Muslim student. The application of morals that are straight, noble and in accordance with Islamic teachings will ground the mission of the revelation of Islam through the Prophet Muhammad, namely as rahmatan lil'alamin and the perfecter of morals for humans. So it can be concluded from his view, that the case cannot be separated from the faith and the Shari'a.