cover
Contact Name
Caturida Meiwanto Doktoralina
Contact Email
journallemhannasri@gmail.com
Phone
+6287808067428
Journal Mail Official
jurnal@lemhannas.go.id
Editorial Address
Jl. Merdeka Selatan No. 10 Jakarta Pusat 10110
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Lemhannas RI
ISSN : 22528555     EISSN : 28305728     DOI : https://doi.org/10.55960/jlri
Jurnal Lemhannas RI (JLRI) is multidisciplinary, focusing on all aspects of national resilience. This journal publishes articles 4 issues every year. JLRI aims to provide a platform for intellectual discourse on topics such as Geography, Demography, Natural Resources, Ideology, Politics, Economics, Socio-Cultural, Defense and Security. Theoretical and conceptual analysis, foundational and applied research using qualitative or quantitative approaches are welcomed. Papers submitted may be in English or Indonesian, and they will be evaluated by peer-reviewed and must significantly contribute to national resilience in general or specific application areas.
Articles 321 Documents
PENGUATAN KELEMBAGAAN PENJAGAAN LAUT DAN PANTAI DALAM UNCLOS 1982 DAN UNDANG-UNDANG PELAYARAN TAHUN 2008 SUWITO, BAYU PUTRO; DUARTE, ELFATHA BORROMEU; PRAYOGO, ALFINA PUSPITA
Jurnal Lemhannas RI Vol 11 No 3 (2023)
Publisher : Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55960/jlri.v11i3.473

Abstract

Karena laut memiliki banyak kepentingan nasional yang harus dilindungi dan diamankan, serta kebutuhan Indonesia untuk memenuhi kewajiban berdasarkan UNCLOS 1982 yang telah disahkan. Dimana Pembentukan lembaga Penjaga Laut dan Pantai/Sea and Coast Guard, mandat dari Undang - Undang No.17 tahun 2008, juga isi dari konvensi International Maritime Organization (IMO) bahwa aparat penegakan hukum di laut berasal dari institusi sipil (Civil Society). Kajian ilmiah ini memfokuskan pada kaidah substansi hukum yang tergolong dalam kajian hukum normatif deskriptif. Nomenclature peraturan perundang undangan yang mengatur penjagaan laut dan pantai terdapat di pasal 276 UU Pelayaran Nomor.17/2008, di pasal 281 tersebut menyatakan tentang pembentukan nomenklatur penjaga laut dan pantai tertuang di Undang-Undang Pelayaran No.17 Tahun 2008 Pasal 276 diatur oleh peraturan pemerintah. Upaya Indonesia di dalam meratifikasi konvensi yang diterbitkan oleh International Maritime Organization (IMO) mempunyai konsekuensi atau suatu keharusan dilaksanakan serta menjadi sebuah kewajiban dalam upaya pembentukan suatu badan Penjagaan According to Pantai atau Sea and Coast Guard . Untuk itu perlu adanya tindak lanjut kembali untuk pembuatan Rancangan Peraturan turunan Tentang Penjagaan Laut dan Pantai sebagai mandate dari Undang-Undang Pelayaran No.17 Tahun 2008.
PENGUATAN LITERASI GEOMARITIM DALAM PERSPEKTIF KEAMANAN NASIONAL PADA PELAJARAN GEOGRAFI DI SEKOLAH MENENGAH ATAS AGUSTIN, NABILA DWI; FADILAH, DEANDRA NURUL
Jurnal Lemhannas RI Vol 11 No 3 (2023)
Publisher : Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55960/jlri.v11i3.475

Abstract

Saat ini, pemahaman terkait geomaritim di Indonesia masih belum maksimal. Dalam mewujudkan keamanan nasional maka diperlukan pemahaman, kepekaan dan kewaspadaan terhadap lingkungan maritim. Upaya menjaga dan berkontribusi langsung dalam pembangunan maritim Indonesia dapat dilakukan dengan penguatan literasi geomaritim. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji dan mendeskripsikan penguatan literasi geomaritim dalam perspektif keamanan nasional pada pelajaran geografi serta implementasinya pada siswa sekolah menengah atas. Metode dan pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder berupa jurnal, arsip, buku, dokumen. Teknik pengambilan data berupa studi pustaka, dengan analisis data yaitu analisis bibliografi. Materi pembelajaran Geografi yang berkaitan dengan peningkatan literasi geomaritim yaitu Kemaritiman Indonesia yang terdapat pada Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) pada Fase F kelas XI. Penguatan literasi geomaritim dalam perspektif keamanan nasional, yaitu terkait a) Kedaulatan Indonesia dalam mengelola wilayah, b) Perlindungan terhadap sumber daya alam, c) Manajemen bencana untuk ketahanan nasional. Implementasi yang dapat dilakukan dalam pembelajaran geografi adalah membuat karya ilmiah terkait geomaritim, mengadakan kegiatan kunjungan lapangan ke pusat penelitian terkait geomaritim, membuat panel diskusi kelas dengan tema geomaritim dan membuat poster terkait upaya melestarikan sumber daya maritim Indonesia. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pelajaran geografi dapat menjadi media untuk meningkatkan literasi maritim.
STRATEGI KEAMANAN MARITIM INDONESIA DALAM MENGHADAPI ANCAMAN KEJAHATAN TRANSNASIONAL DI ASIA TENGGARA Muhammad Sajidin; Inggar Saputra; Wida Nofiasari
Jurnal Lemhannas RI Vol 11 No 3 (2023)
Publisher : Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55960/jlri.v11i3.476

Abstract

Salah satu ancaman yang sering muncul bagi Indonesia dan negara di Asia Tenggara adalah kejahatan yang melintasi batas negara atau kejahatan transnasional (Transnational crime). Kejahatan jenis ini muncul akibat kedekatan geografis wilayah suatu negara yang berdampak mudahnya akses untuk melakukan kejahatan transnasional. Untuk mengatasi kejahatan transnasional tersebut, diperlukan tindakan hukum, operasi intelijen dan upaya diplomasi antar negara Asia Tenggara untuk mencegah agar kejahatan transnasional tidak lagi terjadi di lautan. Tujuan utama penelitian ini adalah melihat bagaimana strategi keamanan maritim yang tepat bagi Indonesia untuk menghadapi kejahatan transnasional di Asia Tenggara. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Analisis data menggunakan analisis data kualitatif. Teknik pengumpulan data adalah studi kepustakaan menggunakan teori dan konsep dari buku, jurnal, artikel media massa dan lainnya. Hasil penelitian menyebutkan untuk menghadapi kejahatan transnasional diperlukan tiga langkah strategis. Pertama kerjasama antara penegak hukum lintas negara. Kedua adanya operasi intelijen Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya untuk mengungkap dan menekan praktek kejahatan transnasional. Ketiga, peningkatan upaya diplomasi maritim antar negara Asia Tenggara dalam menghadapi praktek kejahatan transnasional. Kesimpulan penelitian adalah diperlukan koordinasi penegak hukum, intelijen dan diplomasi maritim antara Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya dalam menekan dan menghadapi kejahatan transnasional di Asia Tenggara.
PENGARUH LEGALISASI HUKUM YANG HIDUP DALAM MASYARAKAT PADA UU KUHP TERHADAP STABILITAS GEOPOLITIK INDONESIA LUTHFIE SULISTIAWAN
Jurnal Lemhannas RI Vol 11 No 3 (2023)
Publisher : Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55960/jlri.v11i3.477

Abstract

Stabilitas dari Geopolitik Indonesia dipengaruhi oleh beberapa aspek penting yaitu aspek sosial budaya yang memiliki beragam budaya, adat istiadat, agama dan Bahasa sebagai suatu sistem sosial yang mendukung kekuatan kebangsaan Indonesia. Berkaitan dengan hal ini, maka konsep legalisasi Living Law dalam pasal 2 UU No.1 Tahun 2023 tentang KUHP akan secara langsung mempengaruhi stabilitas geopolitik Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dengan subjek pada unsur criminal justice system yaitu Bareskrim Polri, Kejagung RI dan MA RI ditambah dengan Kemendagri, Kemenkumham dan beberapa ahli hukum pidana. Hasil yang diperoleh adalah bahwa terdapat banyak sekali suku bangsa yang memiliki aturan adat tidak tertulis yang berbeda-beda, bahkan satu suku bisa memiliki lebih dari satu adat dari satu desa ke desa lainnya. Demikian halnya terdapat fakta bahwa Pemerintah pernah membatalkan ribuan Perda yang tidak sejalan dengan tujuan nasional dan bersifat intoleran. Sebagai kesimpulan dari hasil penelitian adalah perlu adanya perumusan Kebijakan yang matang, strategis dan visioner untuk melaksanakan amanat pasal 2 UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP agar stabilitas geopolitik Indonesia terjaga dan menjadi kekuatan kedudukan Indonesia dalam kancah regional serta global baik dari segi ekonomi maupun sosial budaya.
ANALISIS GEOPOLITIK ABAD 21 DI INDO-PASIFIK DAN PERSIAPAN INDONESIA DALAM MENYIKAPI KONFLIK DI LAUT CINA SELATAN AZIZ ALI HAERULLOH; RIFQI FAKHRIAN MARTANI
Jurnal Lemhannas RI Vol 11 No 3 (2023)
Publisher : Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55960/jlri.v11i3.479

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi dengan keadaan Laut Cina Selatan (LCS) dan Laut Natuna Utara yang mulai digaungkan penamaannya oleh Pemerintah Republik Indonesia pada 2017, ketika Susi Pudjiastuti menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia. Bagi Indonesia, Laut Natuna Utara merupakan bagian dari LCS yang menjadi sengketa antara Tiongkok dengan negara-negara ASEAN. Tiongkok yang terus menerus melakukan klaim dan provokasi di LCS, membuat situasi konflik menjadi semakin memanas. Keadaan terbaru memperlihatkan bahwa 5 kapal milisi sipil Tiongkok melakukan provokasi dengan mendekatkan diri ke arah kapal-kapal ASEAN yang sedang melakukan latihan formasi maritim bersama dengan India. Melihat klaim dan provokasi yang sering dilakukan oleh Tiongkok di LCS, maka Indonesia perlu mempersiapkan fasilitas dan strategi yang dapat menunjang pertahanan dan keamanan di sektor maritim. Hal tersebut dikarenakan anggaran yang dipersiapkan untuk menunjang sektor maritim Indonesia terbilang kecil dibandingkan dengan anggaran yang dipersiapkan Tiongkok. Indonesia seperti yang kita ketahui merupakan salah satu negara maritim terbesar di dunia, karena sebagian besar wilayahnya merupakan lautan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif berdasarkan pendekatan studi kasus dan didukung pengumpulan data melalui studi literatur. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori balance of power yang dikemukakan oleh Hans J. Morgenthau dan konsep keamanan dari Barry Buzan dkk. Indonesia diharapkan mampu melakukan tindakan preventif apabila terjadi spillover konflik di LCS khususnya Kogabwilhan I dengan berbagai unsur strategis dan taktis.
OPTIMASI KONSEP SATU DATA ARSITEKTUR DIGITAL: SUATU KERANGKA KONSEP ANALISIS KETAHANAN NASIONAL CATURIDA MEIWANTO DOKTORALINA
Jurnal Lemhannas RI Vol 11 No 3 (2023)
Publisher : Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55960/jlri.v11i3.480

Abstract

Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) masih terfragmentasi oleh kelembagaan dan tata kelola. Kesannya sering repetitif dan tidak terintegrasi, yang berdampak pada keamanan data pengguna. Transformasi Arsitektur Digital (A/D) dalam rangka Ketahanan Nasional dalam pelayanan publik, seperti pajak, pendidikan, kemitraan pemerintah-swasta, dan inovasi penelitian, perlu diimplementasikan. Stakeholder theory, dengan kerangka konseptual Penta Helix, digunakan untuk menyediakan hubungan strategis dengan penelitian. Metode kualitatif dengan teknik wawancara semi terstruktur (FGD) dan content analysis digunakan. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 39/2019 tentang Satu Data Indonesia mensyaratkan pelaksanaan percepatan dalam batas-batasnya. Strategi dalam implementasi regulasi A/D seperti pajak, pendidikan, kerjasama swasta-pemerintah, dan riset-inovasi dapat dilakukan dengan optimalisasi sumber daya manusia, memberikan intensifikasi riset di perguruan tinggi yang membahas isu taksonomi bloom anatomi indeks dengan luaran kerjasama bilateral dan multilateral. Hasil penelitian ini memiliki implikasi praktis bagi masyarakat yang menggunakan software ilegal, memberikan dasar pengambilan keputusan yang lebih baik dalam menggunakan TIK dan media digital lainnya dengan memperhatikan keamanan data. Bagi peneliti selanjutnya, pengujian dapat dilakukan melalui metode kuantitatif dengan memperoleh data sekunder populasi dan sampel pengguna layanan publik dengan mengaitkan berbagai teori yang relevan. Bagi Pemerintah, khususnya Arsitektur Digital Nasional/SPBE, regulasi harus ditetapkan dengan metode pelaporan yang tepat untuk menggabungkan berbagai layanan.
Peningkatan Ketegangan Geopolitik Di Laut China Selatan Rene Johannes
Jurnal Lemhannas RI Vol 11 No 4 (2023)
Publisher : Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55960/jlri.v11i4.482

Abstract

Sejak 1947 dan berdirinya Republik Rakyat China (RRC) atau Tiongkok, batas-batasnya relatif tidak jelas dan sengketa teritorial telah menjadi sumber konflik yang kuat dalam hubungan Tiongkok dengan tetangganya. Sengketa Sino-Soviet dan Sino-India pada 1950-an dan 1960-an berakhir dengan kebuntuan, tetapi arena konflik baru telah berkembang pada 1970-an dan 1980-an, yaitu ‘berpindah': Kepulauan Paracel dan Spratly, dengan sumber daya minyak & gas yang berpotensi kaya dan dapat diakses. Penelitian ini dilakukan melalui metode kualitatif dengan pendekatan eksplorasi yang bertujuan untuk menemukan solusi dari suatu masalah setelah mempelajari dan menganalisis faktor-faktor situasional secara menyeluruh. Penelitian ini dapat membantu dalam pembuatan keputusan dalam organisasi negara-negara ASEAN. Karena perbedaan antara pembuatan keputusan yang baik dan buruk sering kali terletak pada prosesnya, penelitian yang dilakukan dengan baik dapat memberikan pengetahuan tentang berbagai langkah yang terkait untuk mencari solusi. Oleh karena itu, metode penelitian yang digunakan dapat menentukan kualitas temuannya. Hasil dan simpulan dari penelitian ini, dampak global yang juga akan menghantui yaitu gangguan terhadap lalu lintas pelayaran. Apalagi wilayah Laut China Selatan (LCS) adalah perairan strategis pelayaran baik komersial maupun militer. Dampak utama perang adalah dampak jangka panjang yang akan merugikan negara mana pun. Pentingnya peran negara untuk selalu hadir di Perairan Natuna yang menjadi wilayah kedaulatan Indonesia yang diklaim melalui Sembilan Garis Terputus (Nine Dash Line). Kehadiran itu bisa diwakili oleh aparat keamanan dan pemerintah maupun penduduk yang aktif sebagai nelayan menjadi simbol negara.
Peran Teknologi Dalam Pembangunan Kemaritiman Indonesia Aris Sarjito
Jurnal Lemhannas RI Vol 11 No 4 (2023)
Publisher : Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55960/jlri.v11i4.483

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki potensi besar untuk pengembangan sektor maritim. Pemerintah telah merencanakan beberapa kebijakan untuk meningkatkan industri maritim, termasuk penerapan teknologi. Namun, efektivitas teknologi dalam pembangunan maritim Indonesia perlu diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana teknologi berkontribusi pada pengembangan sektor maritim Indonesia dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas implementasi teknologi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis data sekunder. Data yang diperoleh dari literatur terkait, seperti jurnal akademik, laporan pemerintah, dan dokumen terkait lainnya, akan dianalisis dan disintesis untuk menjawab pertanyaan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi memiliki kontribusi yang signifikan terhadap pembangunan sektor maritim Indonesia. Ini dapat mengoptimalkan sistem pelabuhan dan logistik, meningkatkan keselamatan dan keamanan transportasi laut, serta meningkatkan efisiensi rantai pasokan. Namun demikian, beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas penerapan teknologi antara lain kebijakan pemerintah, kesiapan infrastruktur, kapasitas sumber daya manusia, dan tingkat adopsi teknologi di antara para pemangku kepentingan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknologi berperan penting dalam pembangunan sektor maritim Indonesia. Namun implementasi teknologi dipengaruhi oleh berbagai faktor yang perlu diperhatikan dalam menyusun kebijakan dan strategi yang efektif.
Keamanan Maritim, Energi dan Pangan ASEAN Melalui Praktik Strategis Berkelanjutan dan Berbasis Nilai Ibrahim Othman
Jurnal Lemhannas RI Vol 11 No 4 (2023)
Publisher : Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55960/jlri.v11i4.484

Abstract

Selat Malaka dan Laut Cina Selatan dianggap sebagai jalur perairan navigasi perdagangan dunia yang penting dalam memegang kunci keamanan maritim, energi dan pangan di kawasan ASEAN. Artikel ini menjelaskan tentang pendekatan-pendekatan strategis yang perlu diperhatikan dalam menghadapi isu dan permasalahan terkait maritim di kawasan ASEAN. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan peer review dengan metode pengumpulan data sekunder melalui metode penelitian kepustakaan, dan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Keamanan Maritim merupakan prioritas utama bagi negara-negara yang menggunakan Selat Malaka dan Laut Cina Selatan sebagai jalur pelayaran. Selain itu, dapat mempengaruhi aktivitas ekonomi dan mempengaruhi Keamanan Energi dan Pangan di ASEAN. Ketergantungan negara-negara ASEAN terhadap perdagangan internasional terkait supply and demand terutama dilakukan melalui jalur laut. Melalui pendekatan yang berkelanjutan dan berbasis nilai, diharapkan dapat mendukung terciptanya keamanan maritim, energi dan pangan ASEAN dalam mengatasi keretakan kawasan maritim, mengamankan peningkatan konektivitas maritim, serta mewujudkan stabilitas kawasan yang berkelanjutan.
Pengaruh Kepercayaan Kepala Militer Terhadap Dukungan Rakyat Dalam Perang Semesta: Bukti Empiris Muhammad Gilang Rasyid
Jurnal Lemhannas RI Vol 11 No 4 (2023)
Publisher : Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55960/jlri.v11i4.485

Abstract

Doktrin pertahanan Indonesia menitikberatkan pada penggunaan seluruh sumber daya nasional dalam mempertahankan negara. Hal ini tertera dalam UUD 1945 mengenai sistem pertahanan rakyat dan semesta yang menitikberatkan rakyat sebagai kekuatan pendukung dan TNI serta Polri sebagai kekuatan utama. Dikarenakan pentingnya peran rakyat dalam sistem pertahanan Indonesia, kesediaan mereka dalam berjuang dalam mempertahankan NKRI menjadi hal sangat penting. Dalam hal ini, kepercayaan rakyat terhadap militer sebagai kekuatan utama penting untuk diteliti. Studi ini bertujuan untuk memberikan analisis terhadap pengaruh kepercayaan kepada militer terhadap kesediaan rakyat dalam mempertahankan negara dalam perang semesta. Periset berargumen bahwa kepercayaan terhadap militer akan meningkatkan kesediaan rakyat dalam mempertahanakan negara dalam perang semesta. Tulisan ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik regresi OLS. Data didapatkan dari World Values Survey. Hasil riset mengimplikasikan kepercayaan rakyat terhadap militer berpengaruh positif terhadap kesediaan rakyat dalam mempertahankan negara. Studi ini memberikan berkontribusi secara empiris terhadap studi pertahanan, terutama berkaitan dengan pemahaman mengenai partisipasi rakyat dalam pertahanan semesta. Berdasarkan studi ini, TNI harus terus meningkatkan kepercayaan rakyat terhadap mereka.