cover
Contact Name
Dedi Wahyudi
Contact Email
akademikametro@gmail.com
Phone
+6282324480562
Journal Mail Official
akademikametro@gmail.com
Editorial Address
Institut Agama Islam Negeri Metro Lampung
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam
ISSN : 1693069X     EISSN : 23562420     DOI : https://doi.org/10.32332/akademika
Akademika provides a means for sustained discussion of relevant issues that fall within the focus and scopes of the journal which can be examined empirically. Akademika welcome papers from academicians on theories, philosophy, conceptual paradigms, academic research, as well as religion practices
Articles 470 Documents
THE PHENOMENON OF POLYGAMY OF CIVIL SERVANTS (PNS) IN AL MAQASHID AL SHARIA PERSPECTIVE: ANALYSIS STUDY OF GOVERNMENT REGULATION NO 45 OF 1990 IN KONAWE SOUTHEAST SULAWESI Ipandang Ipandang
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 26 No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.166 KB) | DOI: 10.32332/akademika.v26i1.3203

Abstract

This article described the constitutional prohibition for female Civil Servants (PNS) to get marry polygamically which is contained in the Government Regulation No 45 of 1990 in terms of the objectives of Islamic law (Al-Maqashid Al-Syariah). Civil servants as the subjects of this research are the civil servants in Konawe, Southeast Sulawesi. Based on the research focus, the research question was how was Al-Maqasid Al-Syariah on the implementation of Government Regulation No 45 of 1990 regarding the prohibition for female civil servants to become a second wife or more in Konawe? This research used a qualitative approach, while the data collection techniques used in-depth interviews, participatory observation, and documentation. This research found that from the perspective of Al-Maqashid Al-Syariah female civil servants in Konawe, Southeast Sulawesi including their children tend to experience disadvantages. The preservation of religion, soul, mind, property, and offspring will not be fully maintained and fulfilled. It means that the harm of a polygamous family is more significant than its benefit. Therefore, female civil servants are more likely to build polygamous families when they are forced to.
CONSTRUCTING THE EPISTEMOLOGICAL ASPECT FIQH NUSANTARA Moh Mukri; Imam Mustofa; Fauzan Fauzan
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 24 No 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.341 KB)

Abstract

This article proposes an epistemology of Nusantara Fiqh. Considering the fact that the majority of Indonesia’s population is Muslim and that the tribes, ethnicities and religions are diverse, it is necessary to construct an epistemology of Indonesian Islamic law that is compatible with such a condition. The Indonesian Fiqh has its own characteristics. Fiqh and the study of Nusantara Islamic law must be based on an epistemology that considers that plurality. This study employed a qualitative approach with inductive analysis where the researcher created categories of various themes and certain patterns from the research data. Then, the categories were formulated based on the records of existing data. The result of this study is the development of the Indonesian Islamic law epistemology using the istiṣlaachii model aimed at giving benefits for the Indonesian people by combining naṣ size or text with a logical view, communicating text and tradition (context). The integration of the two was done so that the benefits to be obtained adhere to the syara’ and only use logical considerations and the social reality. The integration of naṣ and logical view was done so that ijtihad does not become textual dogma without considering realistic and practical benefits. Keywords: Ushul Fiqh, Nusantara, and Epistemology
KONSOLIDASI KAPITAL SOSIAL PEMULUNG SAMPAH TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH KARANGREJO KOTA METRO Ahmad Madkur; Suhendi Suhendi; Muhammad Nasrudin
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 22 No 2 (2017): Ekonomi Islam dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.331 KB)

Abstract

Abstrak Pemulung sampah adalah warga yang terpinggirkan dalam peta ekonomi, sosial, dan politik. Lalu bagaimana upaya mereka agar bisa merangsek ke tengah peta? Tulisan ini mengulas bagaimana para pemulung sampah di TPAS Karangrejo Kota Metro mengonsolidasi kapital sosial bersama para stakeholders terkait, termasuk dosen IAIN Metro, Walhi, perusahaan, dan Pemerintah Daerah. Tulisan ini bersumber dari kegiatan PAR (participatory action research) yang merupakan sebuah kegiatan pengabdian dan penelitian yang dilakukan oleh dosen IAIN Metro kepada warga pemulung anggota sebuah paguyuban di TPAS Karangrejo. Potret yang dideskripsikan meliputi bagaimana mereka mengorganisir diri, menciptakan alat-alat produksi, lalu meningkatkan nilai tambah atas produk-produk mereka. Tujuannya adalah bagaimana mereka berdaya di hadapan rentenir sekaligus meningkatkan taraf hidup. Ujung tulisan ini mengupas sejauh apa mereka berdaya, juga apa peluang dan tantangan yang mereka hadapi. Kata kunci: Kapital Sosial, Pemulung Sampah, dan TPAS Karangrejo. Abstract Waste pickers are frequently marginalized in economic, social, and political maps. So how do they try to get to the center of the map? This research-based paper reviews how waste pickers in TPAS Karangrejo Metro City consolidate their social capital with relevant stakeholders, including the lecturers of State Islamic Institute (IAIN) Metro, WALHI, companies, and local government. The writing of this paper is based on participatory action research in which the community empowerment and research were both conducted in the same time by a lecturers team of IAIN Metro for the waste pickers in TPAS Karangrejo. The portraits described include how they organize themselves, create the means of production, and then increase the added value of their products. The goal is how they are empowered in the presence of moneylenders while improving living standards. The end of this paper explores how far they are empowered,and what opportunities and challenges they face. Keywords: Social Capital, Waste Pickers, TPAS Karangrejo
MEMBANGUN SEMANGAT KEHARMONISAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI INDONESIA Akhmad Syarief Kurniawan
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 18 No 2 (2013): Islam dan Kerukunan Umat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.509 KB)

Abstract

Indonesia sebagai negara yang multikultur dan multietnis serta keyakinan, di satu sisi menjadi rahmah dan di sisi yang lain menjadi tantangan. Keanekaragaman suku dan terlebih keyakinan menjadikan konflik horizontal sangat mudah terjadi. Tulisan ini memaparkan tentang pentingnya kerukunan umat beragama. Pemaparan dalam tulisan ini berdasarkan analisa dari data pustaka dengan model deskriptif. Dari hasil pembahasan dpata diperoleh simpulan bahwa kerukunan umat merupakan kebutuhan manusia. Kerukunan umat beragama ini dapat tercapai dengan efektif dengan cara melakukan dialog antaragama secara intens. Dengan adanya dialog dan komunikasi yang baik, perbedaan keyakinan tidak membatasi atau melarang kerjasama antara Islam dan agama-agama lain, terutama dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan umat manusia. Penerimaan Islam akan kerjasama itu, tentunya akan dapat diwujudkan dalam praktek kehidupan, apabila ada dialog antar agama The tolerance among different believers is a necessity in Indonesia.Because, this country has been multicultural. As the successors of the country, we must respect the harmony within the relationship among the different religions Indonesia regardless the majority or minority status.The religion plurality in Indonesia, which is populated Muslim majority, obtains much critical attention from foreign observers.While certain domestic society are still unsatisfied toward religion life in Indonesia, the foreign observers begin to examine the dialogue model and the tolerance among different believers in Indonesia as an alternative way that should be developed.The different belief does not restrict and forbid collaboration between Islam and other religions, especially in relating the important of human being.The Islam acceptances of collaboration, it will be certainly applied in the life practice, when there any dialogue inter religious.
TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBERDAYAAN UMAT DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KESEJAHTERAAN UMAT Suparta Suparta
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 20 No 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.831 KB)

Abstract

Tulisan ini menjelaskan betapa besar tantangan pendidikan Islam di era sekarang ini. Tantangan-tantangan tersebut diantaranya adanya dikotomi pendidikan, kurikulum yang belum relevan, dan manajemen pendidikan Islam yang belum kompeten. Untuk itu, penulis mencoba memberikan sumbangan pemikiran agar Pendidikan Islam harus optimis dan dinamis menghadapi tantangan zaman.Tulisan ini berdasarkan hasil dari penelitian lapangan atau field research. Teknik pengumpulan datanya menggunakan studi pustaka dan dijelaskan secara desript analitis. Berdasarkan hasil observasi penelitian di lapangan, masih ada asumsi masyarakat bahwa orientasi pendidikan Islam hanya mengurusi masalah ritual atau spiritual saja. Karena jika asumsi itu masih ada maka materi pendidikan Islam hanya seputar masalah aqidah, ibadah, muamalah, dan akhlak tanpa menyentuh ilmu-ilmu umum. Jika demikian, maka inilah bukti masih kentalnya dikotomi ilmu pengetahuan. Asumsi seperti itu dengan sendirinya berarti menafikan bahkan meragukan keunggulan Al-Qur’an yang merupakan barometer bahkan fondasi utama pendidikan Islam. Hal ini dapat kita lihat realita saat ini umat Islam menjadi umat yang jauh tertinggal dari berbagai bidang terutama dari bidang kesejahteraan dan ilmu pengetahuan. Kesimpulan dari tulisan ini adalah pendidikan Islam harus menjadi pendidikan yang mengembangkan semua aspek kehidupan termasuk di dalamnya tentang pengembangan kesejahteraan umat. The paper explains how big challenges of islamic education currently. Those challenges such as educational dicothomy, irreleven curriculum, incompetence of management of islamic education.To be so, the writer tries to give contribution of thought in order to islamic education should be optimist and dynamic in facing challenges. This current research is based on field research. The technique in gathering data is used literature review and explained by descriptive anaylisis. Based on the result of observation in field, there are still people assumption that education-oreinted is only taking care of case in ritual or religous only. Because of the assumption still exists, thus the materials of islamic education is around aqidah, ritual, muamalah, and akhlak without touching common knowledges. In fact, it is proof strongly knowledges dicothomy.This assumption denies even doubts to the holy Qur’an which is the measurement, in fact as the main foundation of islamic education. It can be seen that islamic community is community which neglectes in various aspects particularly in prosperity and scien. The conclusion is islamic education should be main education that develops in all aspects includes developing prosperity of people.
BARGAINING KATA DI DALAM AL QUR’AN Mahyudin Ritonga
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 2 (2016): Islam dan Integrasi Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.346 KB)

Abstract

Tulisan ini menjelaskan kosa kata yang dianggap merupakan serapan dari selain bahasa Arab, motivasi dalam melakukan analisis terhadap masalah ini tidak terlepas dari kontroversi pemahaman terhadap fenomena arabisasi beberapa kosakata yang terdapat di dalam Al Qur’an, sebahagian ahli berpendapat tidak mungkin Al Qur’an menggunakan bahasa selain bahasa Arab sementara pendapat sebahagian yang lain berpendapat bahwa banyak di antara kosakata yang ada di dalam Al Qur’an yang bukan berbahasa Arab dan hal ini merupakan bukti kelemahan Al Qur’an dan kecolongan bagi umat Islam. Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif dan mendalam terhadap permasalahan arabisasi merupakan kajian yang penting untuk dilakukan.This article explains about the vocabulary considered as the absorption apart from Arabic. The motivation of doing analysis on this problem was the controversy of understanding the phenomena of Arabic vocabulary in Al Qur’an. Some experts believed that it is impossible for Al Quran using language beside Arabic. Whereas, the other experts believed that many of vocabularies in Al Qur’an uses language beside Arabic and it the proof of Al Qur’an weaknesses. To get the comprehensive and depth understanding about Arabic language problem is the important study to be conducted.
RADIKALISME ISLAM DAN MOTIF TERORISME DI INDONESIA Zulfadli Zulfadli
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 22 No 1 (2017): Islam, Radicalism, dan Terrorism
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.154 KB)

Abstract

Tulisan ini mengupas tentang fenomena radikalisme agama dan motif terorisme di Indonesia. Terorisme menjadi ancaman yang sangat serius dalam dinamika politik lokal, nasional dan internasional. Perang melawan terorisme sama halnya dengan perjuangan masa depan yang tidak berkesudahan. Membicarakan masalah terorisme, selalu dikaitkan dengan kelompok-kelompok radikal keagamaan. Begitu juga hal-hal yang berbau radikal selalu diidentikkan dengan kekerasan yang melibatkan agama di dalamnya. Fenomena terorisme yang melanda sebagian Negara, pelakunya senantiasa dipersepsikan sebagai kelompok radikal keagamaan. Lebih parah lagi banyak kalangan yang mencoba mengidentikkan terorisme dengan Islam. Penelitian ini munggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (libary research), yaitu penelitian yang sumber datanya diperoleh dari buku-buku dan jurnal yang membahas terorisme. Penelitian ini mengidentifikasi motif terorisme di Indonesia yaitu motif politik, motif agama dan motif ideologi terorisme di Indonesia. Peneltian membuktikan bahwa rencana pembangunan Mall di sejumlah daerah, terjadinya jurang yang lebar antara orang kaya dan orang miskin, tidak terpenuhinya hak-hak masyarakat, orientasi pembangunan yang hanya mengedepankan aspek fisik, kurang memperhatikan aspek ruhani dan nilai-nilai sosial-keagamaan masyarakat, meluasnya kekerasan dan konflik merupakan faktor yang bisa menyuburkan terorisme This article analyzes about the phenomena of religious radicalism and motives of terrorism in Indonesia. Terrorism becomes a very serious threat in the dynamics of local, national and international politics. The fight against terrorism as well as the struggle for the future that never-ending. Discussing about terrorism issue is always related to radical religious groups. Likewise, the radicalism is always identic with religious violence. The phenomena of terrorism which happen in some countries, the perpetrators are often perceived as a radical religious group. Even many people attempt to equate terrorism with Islam. This study refers to qualitative method with library research, namely the research which the sources obtained from books and journals about terrorism. This study identify the motives of terrorism in Indonesia that are political, religious, and ideological motives of terrorism in Indonesia. The findings of the research show that the building plans in some places, big gap between rich and poor people, unfulfilled community rights, building orietation which focuses on physical aspects, not paying attention to spiritual aspects and religion and social values, the spread of violences and conflicts are some factors which can improve terrorism.
ILMU FALAK Maskufa Maskufa
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 18 No 1 (2013): Integrasi Islam dan Sains
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.853 KB)

Abstract

Ilmu Falak merupakan relasi harmonis agama dan sains. Dikotomi agama dan sains adalah hasil dari imperialisme Barat dan kuatnya paradigma positifistik. Dikotomi ini tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena di dalamnya memuat ajaran tentang ibadah yang sangat berkaitan dengan fenomena alam terutama yang menyangkut waktu-waktu ibadah seperti waktu salat, puasa Ramadan, salat 'idain dan ibadah haji. Beribadah tepat waktu yang ditandai dengan fenomena alam dan menjadi konsens dari ilmu Falak sebenarnya menunjukkan adanya relasi yang harmonis antara ayat-ayat qauliyah dengan ayat kauniyah atau antara agama dengan sains, sehingga tidak perlu lagi mempertentangkan antara agama dan sains karena keduanya merupakan satu kesatuan yang berasal dari sumber yang sama yaitu Allah SWT. Falaq study is harmonies relationship between religion and science. Nevertheless, this is not in line with an Islamic perspective. It contains such the worship times such as prayer time, fasting month, 'idain and pilgrimage. Performingworship in the right time or predetermine time (kitaban mauqutan), which is science by the nature phenomenon and has become a consensus within Falaq study, actually shows harmonies relationship between kauliyah verses and kauniyah verses or between religion and science.Thereforeit is not necessary to contras the religion and science as (because) both of them are one in the same entity coming from Allah SWT.
KOSMOLOGI DAN SAINS DALAM ISLAM Siti Nurjanah
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 18 No 1 (2013): Integrasi Islam dan Sains
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.169 KB)

Abstract

Kosmologi sebagai ilmu yang membahas tentang alam semesta telah dijelaskan dalam Al-Qur‟an dengan berbagai penjelasan tentang gejala alam. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, orang mulai melakukan pengamatan lebih rasional terhadap alam semesta. Astronomi berkembang, dari pengamatan bintang dan planet melebar ke studi struktur dan evolusi alam semesta. Lahirlah Kosmolgi, sains yang mencari pemahaman fundamental alam semesta. Tulisan ini membehas tentang kosmologi dan sains dalam perspektif Islam. Tulisan ini merupakan hasil telaah mendalam terhadap data kepustakaan yang kemudian dianalisa dan dideskripsikan. Hasil telaah menunjukkan bahwa kosmologi dalam Islam berbicara bukan hanya satu tatanan kosmos yaitu tatanan fisik tetapi juga meliputi tatanan dunia lain yang non fisik. Dalam hal sains, secara mendasar, kaum muslimin dibimbing oleh ajaran-ajaran Wahyu. Kepercayaan pada kesatuan seluruh fenomena seperti yang ditunjukkan dalam Al-Quran, bersama dengan klasifikasi sains seperti filosofis, mendorong penelitian kosmologis yang secara keseluruhan, mencerminkan luasnya pendekatan. Pada satu sisi terdapat spekulasi metafisika dan mistis yang melampaui benda-benda yang dapat diungkap melalui pengamatan langsung atau pengujian rasional murni. Di sisi lain terdapat pengamatan astronomi langsung dan analisis tentang fenomena yang diamati.Kata kunci: Kosmologi, Sains, Al-Quran, dan Islam.Cosmology as a science examining the universe has been described in the Qur'an through various explanations of natural phenomena. Along with the development of science, people started conducting a more rational observation of the universe. The astronomy itself develops, starting from star observations until the study of the structure and evolution of the universe. So was Cosmology born, a science searching for understanding the fundamental nature of the universe. This paper discusses about cosmology and science in the perspective of Islam. This paper is a result of a thorough examination of the library data which is then analysed and described. The results of the study show that Islamic Cosmology does not examines one order of the Cosmos which is the physical order but also includes other world order that is non physical. In terms of science, fundamentally, the Muslims led by the teachings of divine revelation. The belief in the unity of the whole phenomenon as demonstrated in the Al-Quran, together with the classification of science as philosophical, support the cosmological research overall, reflecting the breadth of approaches. On the one hand there are speculations of metaphysics and mystic that go beyond the objects which can be revealed through direct observation or pure rational testing. On the other hand there are direct astronomical observations and analysis of the observed phenomenon.
REFORMASI PENDIDIKAN ISLAM DALAM MENGHADAPI ERA GLOBALISASI M Ihsan Dacholfany
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 20 No 1 (2015): Studi Islam di Era Global
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.742 KB)

Abstract

Artikel ini membahas tentang Pendidikan Islam yang mendapat berbagai tantangan krusial di era globalisasi. Pendidikan Islam menempati posisi yang penting dalam kehidupan globalisasi, sebab globalisasi itu sendiri mempunyai pengaruh positif dan negatif pada pendidikan Islam. Untuk itu, reformasi pendidikan Islam dapat mengupayakan membangkitkan kembali visi pendidikan Islam yang lebih baik untuk membangun dan meningkatkan mutu manusia dan masyarakat Muslim di era globalisasi dengan tetap merujuk kepada al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai sumber ajarannya. Tujuan artikel ini untuk mendeskripsikan reformasi pendidikan Islam dalam menghadapi era globalisasi. Data dalam tulisan ini merupakan data kepustakaan yang yang dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa globalisasi dapat menjadi peluang dan menjelma sebagai tantangan bagi pendidikan Islam. Arus globalisasi bukan lawan atau kawan bagi pendidikan Islam, melainkan sebagai dinamisator. Jika pendidikan Islam mengambil posisi anti global, maka akan stagnan tidak bergerak dan pendidikan Islam akan mengalami penghambatan intelektual. Sebaliknya bila pendidikan Islam terseret oleh arus global, tanpa daya identitas keislaman sebagai sebuah proses pendidikan akan dilindas. Maka pendidikan Islam harus memposisikan diri dengan menakar arus global, dalam arti yang sesuai dengan pedoman dan ajaran nilai-nilai Islam agar bisa direformasi, diadopsi dan dikembangkan. This writing discusses about islamic education which gets some crusial challenges in globalization era. Islamic teaching plays important role in globalization. Since globalization itself has possitive also negative in islamic teaching and training. Thus, reformation of islamic teaching could strive for raising better vision of islamic teaching for building and upgrading quality of human being and moslem society in globalization that ought to refer to both Al Koran and Al Hadith as source of its teaching. The goal of this current research is to describe reformation of islamic teaching in facing globalization. Data of this paper is literature fact which is analyzed through descriptive. The result of this writing shows that globalization can be opportunity and also challenge for islamic teaching. The stream of globalization is not an opponent or companion for islamic teaching, on the other hand being as motivator. If islamic teaching takes position non global, it will not move and it will undergo blocking of intellectual. On the contrary, if islamic teaching involves to globaliztion era, islamic identities will be gone. Thus, islamic teaching ought to take part to measure globalization era, it means by oreintation and values of islamic teaching in order to could be reformed, adopted and developed.