cover
Contact Name
Dedi Wahyudi
Contact Email
akademikametro@gmail.com
Phone
+6282324480562
Journal Mail Official
akademikametro@gmail.com
Editorial Address
Institut Agama Islam Negeri Metro Lampung
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam
ISSN : 1693069X     EISSN : 23562420     DOI : https://doi.org/10.32332/akademika
Akademika provides a means for sustained discussion of relevant issues that fall within the focus and scopes of the journal which can be examined empirically. Akademika welcome papers from academicians on theories, philosophy, conceptual paradigms, academic research, as well as religion practices
Articles 470 Documents
PENDEKATAN HUMANISTIK DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN FIQIH Nurul Afifah
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 16 No 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.895 KB)

Abstract

Penelitian ini mengangkat permasalahan pembelajaran fiqih MTs., yang dalam implementasinya lebih menekankan aspek kemampuan kognitif, kurang mengakomodasikan aspek psikomotorik dan afektif. Hal ini mengindikasikan bahwa pendekatan yang lebih humanistik menurut penulis kiranya dapat menjadi tawaran solusi terhadap permasalahan tersebut di atas. Obyek penelitian ini, lebih difokuskan kepada materi kurikulum fiqih berupa Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar berdasarkan Permenag RI Nomor 2 Tahun 2008. Sehingga rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimanakah pendekatan humanistik dalam kurikulum (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar) mata pelajaran fiqih MTs. Dan menawarkan bagaimanakah impelementasi pendekatan humanistik dalam pembelajaran fiqih di Madrasah Tsanawiyah. Penelitian ini adalah studi pustaka, karena sumber data yang digunakan seutuhnya berasal dari perpustakaan atau dokumentatif. Sementara pendekatan penelitian yang penulis pakai adalah dengan menggunakan pendekatan deskriptif analitis. Proses analisis data dalam penelitian ini dengan hermeneutika. Hasil Penelitian ini menyimpulkan bahwa materi kurikulum fiqih MTs. yang ada agar lebih mencerminkan kebutuhan siswa, perlu dimasukkan keseimbangan materi yang mencerminkan prinsip-prinsip pendidikan yang humanistik. Dalam penelitian ini juga penulis menawarkan konsep pembelajaran fiqih dengan menggunakan pendekatan humanistik. This study discusses the issue of learning fiqh MTs which it is implementation emphasizes the aspects of cognitive abilities, less accommodating the psychomotor and affective aspects. This indicates that a more humanistic approach according to the author would be able to offer a solution to the problems mentioned above. The object of this study, more focused more on fiqh curriculum in the form of Competence Standard and Basic Competence based Permenag No. 2 of 2008. So the formulation of the problem of this research is how humanistic approach in the curriculum (Standards of Competence and Basic Competence) of fiqh subjects MTs. And offer how the impelementation of humanistic approach in learning fiqh at MTs. This study is library research, because the data sources are used entirely derived from the library or dokumentatif. While the research approach uses analytical descriptive approach. The process of analysis data with hermeneutics. whatever available the needs of students requirement, need to be incorporated material balance that reflects the principles of humanistic education. In this study the authors also offer the concept of learning fiqh using humanistic approach.
INTERNALIZATION OF RELIGIOUS VALUES BASED PESANTREN (Study of SMA Muhammadiyah 01 Metro Lampung) Maragustam Maragustam; Yogi Wibisono
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 25 No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.589 KB) | DOI: 10.32332/akademika.v25i2.2272

Abstract

Action or morality in principle begins with a deep value in the soul. That deep value becomes a pattern of belief, awareness, and thought. Because that value has become a mindset, taste, and belief, one will easily do positive and negative actions. So, the planting of value becomes a necessity in education. This research will answer how the school's strategy instills religious values, what religious values are instilled, its supporters and inhibitions, and how they result. This type of research is qualitative with a pedagogical approach. Determination of subjects using purposive and Snowball. Data collection with observations, interviews, and documentation. The analysis technique uses Miles and Huberman models. The conclusion is (1) strategies for planting religious values are habituation, teaching the values of goodness, nudity, repentance with istighatsah, and punishment; (2) The religious values instilled are personal and social worship; (3) the less successful factors of planting religious values are less aware learners, teachers have difficulty supervising students, parents are less exemplary, and socio-cultural environments are less supportive. Simultaneously, the success factor is compact managers, adequate facilities and infrastructure, strict school discipline application, passionate teachers, sincere, and professional managers applying the pesantren system.
PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT MISKIN-KOTA MELALUI PENGEMBANGBIAKKAN KAMBING (Studi pada Program Pengabdian Dosen Institut Agama Islam Negeri Metro) Imam Mustofa; Dedi Irwansyah
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 22 No 2 (2017): Ekonomi Islam dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.285 KB)

Abstract

Abstrak Kajian ini merupakan kajian akadmik program pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan oleh Pusat Pengabdian kepada Masyarakat, (PPM) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro. Program ini berupa peberdayaan ekonomi melalui komunitas. Lokasi Program pemberdayaan ini difokuskan di Kecamatan Metro Utara.Program pemberdayaan dilaksanakan melalui pengembangbiakkan kambing di keluarahan karangrejo Metro Utara Kota Metro. Subyek pemberdayaan ini adalah jamaah yasinan dan pengajian di Bedeng 23 A, Karangrejo. Tujuan pemberdayaan adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, taraf hidup subyek dampingan, jamaah yasinan dan pengajian. Lebih dari itu, pemberdayaan ini diharapkan dapat menciptakan komunitas masyarakat yang hidup mandiri. Masyarakat yang mampu mengendalikan kehidupan mereka.Berdasarkan evaluasi dan pengamatanlapangan, kajian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan program pemberdayaan melalui pengembangbiakkan kambing tidak hanya ditentukan jumlah modal yang diberikan, akan tetapi oleh spirit dan komitmen subyek pemberdayaan. Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan pemberdayaan ini adalah manajemen pengelolaan modal dan aset pemberdayaan. Subyek dampingan yang dipercaya untuk mengembangbiakkan kambing dengan sistem bergulir dan tidak menjadi hak milik, semangat dan komitmen mereka untuk memelihara hewan tersebut lebih tinggi, sehingga pemberdayaan berjalan efektif. Sementara model pemberdayaan yang modalnya berasal dari dana zakat profesi berupa kambing yang diserahkan kepada mustahiq untuk menjadi hak milik dan tidak bergulir, umumnya komitmen dan kesriusan penerima kurang maksimal. Akibatnya, tujuan pemberdayaan tidak tercapai secara maksimal. Kata kunci: Pemberdayaan ekonomi, subyek pemberdayaan, zakat profesi, pengembangbiakkan kambing.
REKONSTRUKSI PENEGAKAN HUKUM LINGKUNGAN HIDUP MELALUI PENDEKATAN RELIGIUS Prima Angkupi
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.923 KB)

Abstract

Kerusakan lingkungan merupakan suatu proses yang tidak dapat dihindari, karena manusia hidup berinteraksi dengan alam dan lingkungannya. Sehingga, ikhtiar untuk mengendalikan dampak kerusakan lingkungan tersebut menjadi upaya yang harus selalu diperjuangkan. Penegakan hukum lingkungan hidup secara total enforcement oleh hukum pidana substantive tidak mungkin dilakukan oleh para penegak hukum, khususnya yang berkaitan dengan lingkungan hidup, karena tidak menyentuh akar penyebab kejahatan lingkungan. Tulisan ini mengeksplorasi penegakan hukum lingkungan dengan pendekatan religius. Kajian dalam tulisan ini berdasarkan penelitian kepustakaan dengan pendekatan yuridis normatif. Berdasarkan kajian tersebut, dapat diimpulkan bahwa sebagai bangsa yang religius, penyertaan peran agama dalam penegakan hukum Perlu diberikan ruang yang seluas-luasnya. Penegakan hukum yang selama ini ada cenderung mengabaikan keterkaitan ilmu hukum pidana dengan ilmu ketuhanan berimplikasi kepada terpuruknya keberhasilan penegakan hukum lingkungan. Upaya pencegahan kejahatan lingkungan hidup merupakan bentuk penanggulangan yang efektif, dengan menggunakan pendekatan religius dapat memperbaiki kesadaran masyarakat dan perilaku masyarakat yang taat hukum. This paper is discussing about the damage of ecology as an unavoidable process since human life will always interact with his/her environment and nature. Thus, the initiative to control the damage of ecology becomes the essential effort that must be struggled. The law enforcement on ecology thoroughly supported by the subtantive criminal codes which may not be undertaken individually by the law enforcer, especially when it relates to the ecology, as it does not touch the substantive causes of ecological crime. As a religious nation, the attaching role of religion in law enforcement need wide space. The implementation of law enforcement in the real life tends to ignore the law of crime toward theology which implicates to the declining enforcement of ecological law. The preventive effort toward the ecological crimes will be effective when it includes the religiuos approachment in it, and by implementing the religious approachment, it may improve the social awarnerss and the social obidient of law.
DARI SAKRAL KE PROFAN Muzakir Muzakir
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 20 No 1 (2015): Studi Islam di Era Global
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.874 KB)

Abstract

Abstrak Tulisan ini menjelaskan adanya pergeseran serius dalam orientasi institusi spiritual dengan ilustrasi Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah Babussalam (TNKB). Pergeseran ini terjadi karena pengaruh globalisasi yang terjadi telah berhasil merubah orientasi institusi spiritual tidak lagi semata-mata melakukan “olah-spritual”, tetapi juga “olah-material”. Dalam penelitian ini digunakan teori globalisasi dan komodifikasi untuk menemukan bagaimana proses pergeseran itu terjadi dan apa yang terjadi pada institusi spiritual dalam kaitan kedua yang dikemukan. Untuk menemukan pengaruh dan respon TNKB vis a vis globaliasi, yaitu pengaruh globalisasi terhadap TNKB telah berhasil melemahkan sistem tradisi yang dianut. Kemudian, respon yang diberikan TNKB dengan adanya upaya penguatan identitas sebagai upaya untuk tetap bertahan dalam situasi perkembangan yang ada. Konsekuensin dari pengaruh globalisasi ini mengakibatkan adanya disorientasi pada TNKB, yaitu dari dari sakral ke profan dengan adanya praktek komodifikasi dalam hampir semua aktifitas yang dilakukan di dalamnya. This article describes a serious shift in the orientation of spiritual institution illustrated through the mystic order of or Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah Babussalam (TNKB). The shift occurs due to the globalization era that has changed the orientation of the spiritual institution in that the institution does not merely focuses on spirituality only but also on material benefit orientation. This research applies the globalization and co-modification theories to depict the shift process and what really happens in the spiritual institution. That is to find out the influence and response of TNKB vis a vis globalization era. Globalization has weakened the traditional system adhered by TNKB. With regard to that phenomenon, TNKB is seeking to strenghten its individual identity. Nevertheless, the influences of globalization er brings about disorientation for TNKB that is from being sacred into profane. This shift is supported by the co-modification practices that exist in almost all of the institution activities.
THE OTHER SIDES OF PESANTREN: MAGICAL PRACTICES AROUND PESANTREN IN BANTEN Fahmi Irfani; Azkia Muharom Albantani; Ahmad Suhendra; Hafizhah Masnin
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 26 No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.327 KB) | DOI: 10.32332/akademika.v26i2.3694

Abstract

Pesantren in Banten have different characteristics compare to other pesantren in Indonesia. Discussing about this Province, most people believe that Banten is of a Province in Indonesia which is famous with its Ulama, Kyai, Santri and Pesantren. This research discusses about practices of magical culture in Pesantren around Banten. The research model used in this study is qualitative-descriptive. Historical studies are used to present a narrative and chronological presentation of the storyline of a discussion. Results showed that stereotypes and beliefs arise because Islamic values have traditionally been rooted in most Banten citizens, culturally and ritually. One of the characteristic of Pesantren in Banten is that every santri are taught with magic, silat and tasawuf knowledge. Those are characteristics that have always been a matter of discussion, people believe that there are practices of magic in every pesantren in Banten. Some sources call Banten a center for the occult sciences, as well as being known as a religious area. Magical practice is still considered important for the people of Banten, especially those living in rural areas to solve practical problems in their social life. In addition, the existence of jawara and pesantren has created its own cult which is somewhat different from the dominant culture of Banten society
KEPEMIMPINAN VISIONER MENURUT ISLAM DAN INTERNALISASINYA DALAM KONTEKS KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA MASYARAKAT LAMPUNG Aguswan Khotibul Umam
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 16 No 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tidak dapat dipisahkan antara kemakmuran suatu masyarakat dengan peran pemimpin yang ideal dan progresif.Lahirnya pemimpin Islam yang ideal dan progresif tidak jauh dari peran perkembangan pendidikan Islam yang maksimum dalam kehidupan masyarakat dan generasi Islam.Kepemimpinan yang progrsif merujuk pada nilai dasar organisasi yang dibuat dan di percaya oleh anggotanya.Hal tersebut dimaksudkan untuk menciptakan suatu atmosfer kepemimpinan dan pembaharuan yang efektif menuju ke arah yang lebih baik. Seorang Muslim yang menjadi pemimpin yang visioner seharusnya melakukan hal-hal sebagai berikut: (a) menunjukkan peran kepemimpinan yang baik, (b) mengikuti nilai-nilai kepemimpian Nabi Muhammad SAW, (c) mengamalkan prinsip amar maa’ruf nahi mungkar, (d) mengamalkan kaidah hidup yang sebenarnya, ( e) menjalankan tugasnya sebagai pemimpin, (f) menegakkan keadilan, (g) menunjukkan perilaku pemimpin yang ideal dan dapat menjadi teladan yang baik. Berdasarkan pada teori kepemimpinan tersebut, seorang pemimpin di Lampung semestinya ialah pemimpin yang visioner, transformatif, religious dan menjadi pelopor serta teladan yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam berdasarkan kepemimpinan visioner dalam kehidupan kebudayaan masyarakat di Lampung. Seorang pemimpin Lampung yang visioner seharusnya mengimplementasikan tradisi dan nilai budaya Lampung seperti Piil Pesengiri, Sakai Sambayan, Nemui Nyimah, Nengah Nyapur, dan Bejuluk Beadek. Prosperity of a society and the role of ideal and progressive leader are inseparable. The born of ideal and progressive Islamic leaders be separated form the role of maximum Islamic education development within life of society and Islamic generation. Progressive leadership refers to value based organization that is created and believed by its members. It is aimed at creating an atmosphere of effective leadership and reform for the bettement. A moslem who becomes a visioner leader should do following: a) show a role of good leadership, b) follow the leadership values of prophet Muhammad SAW, c) enforce the principle of amar ma’ruf nahi mungkar, d) enforce the true rule of life, e) do his obligation as a leader, f) do justice, and g) show the behavior of ideal leader and become a good precedent. Based on the existence of the leader theory, a leader in Lampung sholud be a visionary leader, transformative, relegious and became a pionner and a model as a leader who integreates the values of Islam according to the visionary leadership in the cultural life of societeies in Lampung. A visioner leader in Lampung should implement of Lampung tradition and cultural value such as Piil Pesingiri, Sakai Sambayan, Nemui Nyimah, Nengah Nyapur, dan Bejuluk Beadek.
COMMUNITY PARTICIPATION PATTERN IN THE PLANNING OF ISLAMIC EDUCATION FUNDING IN TAMAN PENDIDIKAN AL-QUR’AN(TPQ) IN BANYUMAS REGENCY, CENTRAL JAVA, INDONESIA Sunhaji Sunhaji; Sutrimo Purnomo
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 25 No 1 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.154 KB) | DOI: 10.32332/akademika.v25i1.2015

Abstract

This study was aimed at examining the pattern of community participation in the planning of Islamic education funding, especially in the Taman Pendidikan Al Qur'an (TPQ). This research is important because many Islamic educational institutions had low standard quality and even stopped their activities because of weak education funding, including in the realm of financial planning. Community participation is considered appropriate for strengthening education financing planning as a form of equitable democracy, which means that the community has the right to get quality education and is obliged to provide funds. This research is qualitative descriptive field research with case studies as its approach. Data collection techniques used were observation, interviews, and documentation, while the analysis of this research follows the stages of data reduction, data presentation, and inference. The obtained data shows that the presence of active community participation with cultural religious functional patterns in the planning of Islamic education financing at TPQ in Banyumas Regency, Central Java indicates an increase in awareness and serious attention of the community towards religious education for their children. Therefore, it is time for Islamic education institutions to be able to utilize this momentum as part of efforts to improve the quality of Islamic education through strengthening education funding. Keywords: Community Participation, Education Funding, and Islamic Education
PEMIKIRAN KEBANGSAAN K.H. ACHMAD SIDDIQ DAN IMPLIKASINYA DALAM MEMANTAPKAN IDIOLOGI PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA DI INDONESIA Syamsun Ni’am; Anin Nurhayati
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 23 No 2 (2018): Islam, Kenegaraan, dan Kebangsaan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.687 KB)

Abstract

Abstract This article addresses an interesting phenomenon of this recent decade in the national journey of Indonesia, where there are some people or certain groups who want to distort or even question Pancasila as the common platform and Indonesian ideology. It is very urgent to examine the thoughts of the charismatic figure of Indonesia, K.H. Achmad Siddiq who has an idea about the relationship among religion, the State, more specifically about the position of Pancasila, and Islam or vice versa, particularly when Indonesia is faced with the movements of the Pancasila de-ideologization which recently comes up to the surface. The most interesting idea of ​​K.H. Acmad Siddiq is "Pancasila as the national ideology of Indonesian is final, no need to be questioned again, and is not against Islam, even it can go along and fill each other". Kyai Siddiq's view then brings fundamental implications in stabilizing Pancasila as a foundation of the social life, nation and state. This thought is then regarded as the genuine thought of a pesantren scholar. Keywords: Nationality, Islam, Pancasila, and K.H. Achmad Siddiq. Abstrak Artikel ini ditulis karena adanya fenomena menarik pada dekade mutakhir ini dalam perjalan kebangsaan di Indonesia, di mana ada sebagian orang atau kelompok tertentu yang ingin mendistorsi bahkan mempersoalkan Pancasila sebagai common platform dan idiologi bangsa Indonesia. Sangat urgent mengkaji pemikiran sosok ulama kharismatik Indonesia, K.H. Achmad Siddiq yang memiliki gagasan menyangkut hubungan agama dan Negara —lebih khusus tentang kedudukan Pancasila dan Islam atau sebaliknya, di saat Indonesia dihadapkan pada gerakan/upaya de-ideologisasi Pancasila yang akhir-akhir ini muncul ke permukaan. Gagasan paling menarik dari K.H. Acmad Siddiq adalah “Pancasila sebagai idiologi bangsa Indonesia sudah final, tidak perlu diotak-atik lagi, dan tidak bertentangan dengan Islam, bahkan dapat berjalan bersama dan saling mengisi”. Pandangan Kyai Siddiq ini kemudian membawa implikasi mendasar dalam memantapkan Pancasila sebagai landasan dalam perikehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia. Pemikiran inilah yang kemudian dianggap sebagai pemikiran genuin dari seorang ulama pesantren K.H. Acmad Siddiq. Kata Kunci: Kebangsaan, Islam, Pancasila, dan K.H. Achmad Siddiq
URGENSI BERFIKIR STRATEGIS DALAM PENGEMBANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA Andi Arif Rifa'i
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 17 No 2 (2012): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.427 KB)

Abstract

Persoalan Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia tidak dapat lagi dipungkiri telah mengalami stagnansi yang cukup lama. Persoalan-persoalan manajerial yang tidak sistematis dan strategis dalam membawa lembaga Pendidikan Islam merupakan persoalan utama. Upaya menjawab persoalan tersebut tidak serta merta dapat dilakukan dengan seketika, butuh perencanaan yang terukur dan strategis. Kunci utama keberhasilan pengembangan lembaga pendidikan Islam tidak dapat lepas dari pemimpin atau otak pelaku kebijakan yang ada di lembaga tersebut. Seorang pemimpin perlu dan wajib berfikir strategis dalam melakukan pengembangan kelembagaan pendidikan Islam. strategis merupakan gambaran dari upaya menciptakan capaian-capaian masa depan yang lebih baik. Dengan melakukan analisis mendalam terkait kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan, maka setrategi untuk melangkah dalam kurun waktu tiga-sepuluh tahun kedepan menjadi lebih pasti. Formulasi strategi dibangun dari analisis yang mendalam, logis, sistematis, dan ilmiah. Sehingga, Konsep berfikir strategis dengan wujud perencanaan strategis dalam pengembangan kelembagaan Islam menjadi solusi terbaik mengahadapi problematika pengembangan lembaga pendidikan Islam saat ini. It cannot be denied that some problems exist within the Islamic educational institutions in Indonesia and it has undergone quite a long stagnation. One of the major problem is the managerial issues which are not systematic and strategic in bringing Islamic institution. An attempt to answer these questions may not necessarily be done immediately, it takes a measurable and strategic planning. A major key to success the development of Islamic education institutions cannot be separated from the brain's of the leader or policy ruling the institution. A leader needs to be strategic in terms of thinking to develop the Islamic education. It is an overview of the strategic efforts of creating episodic sections for a better future. By doing a thorough analysis of related to the strengths, weaknesses, opportunities and challenges, then the strategy to step within three-ten years in the future become more certain. Strategy formulation is built from a deep analysis, logical, systematic, and scientific. So, the concept of strategic thinking and strategic planning in the form of institutional development of Islam becomes the best solution to achieve the development of Islamic education institutions today.