cover
Contact Name
Dedi Wahyudi
Contact Email
akademikametro@gmail.com
Phone
+6282324480562
Journal Mail Official
akademikametro@gmail.com
Editorial Address
Institut Agama Islam Negeri Metro Lampung
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam
ISSN : 1693069X     EISSN : 23562420     DOI : https://doi.org/10.32332/akademika
Akademika provides a means for sustained discussion of relevant issues that fall within the focus and scopes of the journal which can be examined empirically. Akademika welcome papers from academicians on theories, philosophy, conceptual paradigms, academic research, as well as religion practices
Articles 470 Documents
ISLAM JAWA, DISTINGSI TRADISI, TRANSFORMASI SPIRIT PROFETIK, DAN GLOBALISASI Muqoyyidin, Andik Wahyun
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini hendak menjelaskan perihal Islam yang berdialektika dengan budaya lokal di Indonesia yang pada akhirnya membentuk sebuah varian Islam yang khas dan unik, sebagaimana Islam Jawa. Varian Islam tersebut bukanlah Islam yang tercerabut dari akar kemurniannya, tapi Islam yang di dalamnya telah berakulturasi dengan budaya lokal. Dalam proses tersebut, Islam tetap tidak tercerabut akar ideologisnya, demikian pula dengan budaya lokal tidak lantas hilang dengan masuknya Islam di dalamnya. Sebagai salah satu varian Islam kultural yang ada di Indonesia, Islam Jawa memiliki karakter dan ekspresi keberagamaan yang cenderung sinkretis dengan berbagai tradisinya yang distingtif. Hal tersebut dapat dilihat dari dialektika antara agama dan budaya yang terjadi seperti dalam penyelenggaraan sekaten di Yogyakarta dan Cirebon serta perayaan hari raya dengan makanan khas ketupat di Jawa Timur yang diselenggarakan satu minggu setelah ‘Idul Fitri. Sekaten ini merupakan upacara penyelenggaraan maulid Nabi. Substansinya adalah mentransformasikan spirit profetik berupa ajaran tauhid sekaligus melestarikan budaya lokal. Pada kenyataannya, Islam di Jawa memang tidak bersifat tunggal, tidak monolit, dan tidak simpel. Islam Jawa bergelut dengan kenyataan negara-bangsa, modernitas, globalisasi, kebudayaan lokal, dan semua wacana kontemporer yang menghampiri perkembangan zaman dewasa ini. Dalam konteks ini, terlihat bagaimana respons kelompok-kelompok atau organisasi Islam di Indonesia dan Jawa khususnya, mulai dari yang konservatif, moderat, liberal, radikal, hingga fundamentalis.This article will explain about Islam that dialectic with the local culture in Indonesia that eventually forms a variant of Islam that is distinctive and unique, as Islam Java.Variety of Islam is not Islam that is cut off from the roots of purity, but in which Islam has been acculturated with local culture. In the process, Islam remains rooted ideological roots, as well as with the local culture are not necessarily lost with the advent of Islam in it.As one of the variants of cultural Islam in Indonesian, Javanese Islam has character and religious expression are likely to merge with a variety of distinctive traditions.It can be seen from the dialectic between faith and culture which is happening in the administration Sekaten in Yogyakarta and Cirebon and festivals with typical food rhombus in East Java, which was held one week after Idul Fitri. Sekaten is an organization of the Prophet's birthday ceremony. The substance was to transform the prophetic spirit in the form of the doctrine of monotheism while preserving local culture. In fact, Islam in Java is not a single, not a monolith, and not simple. Javanese Islam wrestles with the fact the nation-state, modernity, globalization, local culture, and all the contemporary discourse that came with the times today. In this context, seen how the response of groups or Islamic organizations in Indonesia and Java in particular, ranging from the conservative, moderate, liberal, radical, fundamentalist up.
ZIARAH DAN CITA RASA ISLAM NUSANTARA: WISATA RELIGIUS DALAM BINGKAI KEARIFAN LOKAL (LOCAL WISDOM) Ilahi, Mohammad Takdir
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas tentang dinamika kearifan lokal dalam tradisi Islam yang menjadi cita rasa Islam Nusantara sampai sekarang. Salah satu tradisi dan kearifan lokal yang bernafaskan Islam adalah ziarah spiritual ke makam para wali yang dianggap memiliki karomah atau kesaktian selama menjalankan misi dan dakwah Islam di bumi Nusantara. Ziarah spiritual dalam tradisi Islam merupakan salah satu ciri khas dari kearifan lokal yang berkembang di Indonesia dengan segala kemajemukan yang mewarnai dinamika kehidupan masyarakat. Ziarah dalam tradisi Islam merupakan salah satu perjalanan spiritual (the advanture of spirituality) untuk memetik sumber barakah dari orang-orang suci yang selama hidupnya selalu dekat dengan Allah. Dengan berkunjung ke makam para wali, peziarah seolah diajak untuk menyelami hikmah-hikmah kehidupan yang sejalan dengan tuntunan Nabi Muhammad untuk selalu ingat dengan sang pencipta dan berusaha memperbaiki perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Semangat untuk memperkuat dan mempertebal keimanan adalah tujuan utama yang hendak diperoleh oleh peziarah sehingga petualangan spiritual atau wisata religius ini bisa menjadi sarana untuk memperkuat ikatan persaudaraan antara sesama muslim yang berasal dari berbagai daerah. Dalam konteks Indonesia, tradisi ziarah bukanlah sesuatu yang tabu dilakukan, melainkan sudah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat, terutama kalangan yang berasal dari NU. Meskipun banyak pihak yang tidak suka dengan tradisi ziarah, namun praktik ritual keagamaan ini tetap menjadi sarana bagi umat Islam untuk mengolah batin dan jiwa mereka agar selalu mengingat akan kematian yang menjadi rahasia Allah. Dalam praktiknya, tradisi ziarah memang mendapat banyak tanggapan negatif karena dianggap lebih dekat dengan takhayyul, khurafat, dan kesyikiran. Namun, ziarah sebagai bagian dari tradisi masyarakat muslim bukanlah dimaksudkan untuk meminta sesuatu kepada kuburan, justru sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mengingkat akan kematian dan mendoakan orang-orang suci yang sudah meninggal dunia. Apalagi, tradisi ini mempunyai tradisi yang berakar panjang dalam sejarah perkembangan agama Islam, baik di Timur Tengah atau pun di Indonesia sendiri. This paper discusses about the dynamics of local wisdom in Indonesian Islamic tradition. One of the traditions and local wisdom in Indonesia is a spiritual pilgrimage to the tombs of the saints who has “karomah”. Spiritual pilgrimage in the Islamic tradition is one of the characteristics of the local wisdom that developed in Indonesia with all diversity and religiosity. Pilgrimage in the Islamic tradition is one of spiritual journey to direct connection with the God. One of destination for muslim people to visit the tombs of saints are to explore some wisdom of life which suistanable with guidance of the prophet Muhammad to always remember the creator and effort to reform our behavior in everyday life. The main purpose from pilgrims is to reinforce of the faith so that spiritual journey or religious tourism can be a means to strengthen the bonds of brotherhood among muslim from diffrent regions.In the context of Indonesia, the pilgrimage tradition is always become activity for muslim people to improve their belief to the God, especially who come from NU. Although many people who dos’nt like pilgrimage tradition, but this religious practical is still become instrument to cultivate the mind and spirit to always remember of the death who become the secret of God. In practice, pilgrimage tradition getting negative respones because its closer to polytheism. However, the pilgrimage as part of the tradition of the muslim community is not intended to ask something to the grave, but as instrument to direct connection with Allah. Morever, this tradition has a long history was rooted in the developing of Islam, whether in the middle east or even in Indonesia.
REKONSTRUKSI DAN REPOSISI PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA BERBASIS PENDEKATAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL Asrori, Achmad
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini berusaha menjelaskan keadaan nyata pendidikan Islam di Indonesia baik di Madrasah maupun di sekolah pada umumnya. Pendidikan Islam masih jauh dari harapan ideal kita. Pendidikan Islam yang terjadi di Indonesia masih belum sepenuhnya menerapkan ajaran Islam tentang menghargai perbedaan dalam bingkai pluralisme multikulturalisme. Masih banyak dijumpai sekolah-sekolah atau madrasah-madrasah yang masih mengjarkan truth claim atau klaim kebenaran yang sejatinya hal tersebut tidak dibenarkan dalam ajaran agama manapun. Kiranya peneliti merasa gelisah terhadap pendidikan Islam di Indonesia yang seperti itu apalagi sekarang sedang menghadapi berbagai tantangan globalisasi baik dari sisi ekonomi, sosial, budaya, politik, pendidikan, dan hukum. Peneliti menggunakan studi pustaka dalam penelitiannya sehingga diperoleh wawasan tentang model pendidikan Islam yang cocok diterapkan di Indonesia dengan basis pendekatan pendidikan multikultural. Teori-teori yang digunakan adalah teori tentang pendidikan, pendidikan Islam, pluralisme, dan teori tentang multikulturalisme. Teori-teori tersebut digunakan untuk memberikan gambaran rekontruksi dan reposisi pendidikan Islam di Indonesia berbasis pendekatan pendidikan Multikultural This writing investigates the real condition of Islamic education in Indonesia both in Islamic school, madrasah, and in general school. Islamic education is still far from what it should be. Current practices of Islamic education in Indonesia has not yet reflected tolerance toward pluralism, and multiculturalism. Many schools and madrasa have been introducing ‘truth claim’ which it is against the spirit of any religion. This study was a literature study which focused on the multicultural-based Islamic education model appropriate for Indonesian context. Relevant theories on education, Islamic education, pluralism, and multiculturalism were used as the basis to reconstruct and reframe the position of the multicultural-based Islamic education in Indonesia.
DESAIN MATERI AJAR BAHASA ARAB BERBASIS CERITA RAKYAT UNTUK TINGKAT MADRASAH IBTIDAIYAH Akla, Akla
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil penelitian dan pengembangan model materi ajar bahasa Arab berbasis cerita rakyat untuk Madrasah Ibtidaiyah disimpulkan bahwa model materi ajar bahasa Arab yang dibutuhkan peserta didik dan guru di Madrasah Ibtidaiyah adalah berbasis cerita rakyat yang mencakup empat keterampilan bahasa seimbang, menarik disertai gambar warna-warni dan sesuai dengan kehidupan peserta didik sehari-hari. Materi harus disertai dengan latihan-latihan yang cukup. Rancangan model Materi ajar bahasa Arab yang akan dikembangkan dalam penelitian ini terdiri dari: (1) analisis kebutuhan, (2) proses penyusunan draf model yang terdiri dari analisis kondisi pembelajaran yaitu analisis tujuan dan sumber belajar, langkah pengembangan yang terdiri dari kegiatan merumuskan SK-KD, menyusus silabus ,menetapkan metode dan media dan menyusun instrumen evaluasi dan langkah pengukuran hasil belajar. (3) menyusun draf materi ajar yang terdiri dari kata pengantar,petunjuk penggunaan materi dan petunjuk buku, analisis program pembelajaran dan kegiatan pembelajaran. Kesemuanya ini dirumuskan oleh peneliti dalam satu kesatuan materi ajar yang terdiri dari: isi materi, latihan dan evaluasi. Desain model materi ajar ini baru sebatas desain yang disusun berdasarkan penelitian pendahuluan. Untuk menguji efektifitas keberhasilan materi ini terhadap keterampilan berbahasa peserta didik perlu dilakukan penelitian lanjut This article deals with folklore-based learning materials for Arabic lesson at Islamic elementary school. Learning materials are supposed to be colorful and contextual to students’ daily lives. They also should be equipped by adequate exercises. The learning materials model designed in this study included: (1) needs analysis; (2) drafting instruction model which consisted of teaching objectives, teaching resources, competencies, syllabus, media, and assessment instruments; (3) designing the learning materials which embraced the acknowledgement, manual, and classroom activities. The learning materials design presented in this writing is preliminary in nature. The effectiveness of the learning materials needs a further investigation.
RANCANG BANGUN FILSAFAT ILMU KEISLAMAN PTAI RISET BERBASIS PESANTREN Husni, Muhammad
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 2 (2016): Islam dan Integrasi Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini berbicara tentang rancang bangun filsafat ilmu keislaman yang perlu dikembangkan oleh PTAI berbasis pesantren yang semakin hari semakin banyak jumlahnya. Ide pokoknya adalah pengakuran dan penjalinan hubungan kerjasama antara tradisi pesantren dan tradisi PTAI dengan riset sebagai jantung atau basis akademiknya. Dengan rancang bangun filsafat ilmu keislaman yang berparadigma integrasi-interkoneksi tersebut, PTAI riset berbasis pesantren di satu sisi memang dituntut untuk merekonstruksi ulang secara mendasar bangunan keilmuan, sistem akademik, dan manajemen kelembagaannya. Namun, di sisi yang lain, hal itu merupakan langkah strategis yang tidak bisa ditawar-tawar lagi jika ingin merevitalisasi peran fungsional PTAI riset berbasis pesantren, meliputi visi, profil lulusan, sistem akademik, dan sebagainya. Sudah barang tentu, semuanya harus dirumuskan secara lebih mendetail dalam suatu naskah akademik yang melibatkan secara aktif stakeholders institusi yang terkait dan pesantren secara integratif-interkonektif sebagai pusat transformasi ilmu pengetahuan dan agen transformasi sosiAl budaya bagi kehidupan masyarakat dewasa ini dan di masa depan.This article discusses about the design of Islamic science philosophy that is needed to be developed by Islamic Colleges (PTAI) with Islamic Boarding School (pesantren) base which is increasingly numerous. Its main idea is the measuring and building the relation of cooperation between the Islamic Boarding School and Islamic Colleges tradition with the research as the academic base. By designing Islamic science philosophy with integrated interconnection paradigm, in one hand, the Islamic Boarding School base research of Islamic Colleges is claimed to reconstruct fundamentally the scientific knowledge building, academic system, and its institution management. In another hand, this case is the strategic action that cannot be negotiable to revitalize the functional role of Islamic Boarding School base research of Islamic Colleges, included vision, graduate profile, academic system, etc. Surely, everything must be formulated accurately in an academic manuscript which involves the institution stakeholders actively and Islamic Boarding School by means of integrated-interconnectivity as the center of science transformation and the agent of social-culture for the nowadays and future society life.
DARI YOGYAKARTA MERAJUT INDONESIA: PERKEMBANGAN MUHAMMADIYAH, 1912-1950 Suwarno, Suwarno
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 2 (2016): Islam dan Integrasi Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mengupas tentang Muhammadiyah yang merupakan organisasi pembaruan Islam modern terbesar di Indonesia. Muhammadiyah tumbuh dan berkembang dari 1912-1950 yang dikenal sebagai fase pembinaan organisasi. Dalam fase pembinaan tersebut, peran kepemimpinan sangat besar -jika tidak boleh dikatakan sangat menentukan, khususnya saat Muhammadiyah dipegang oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan, dan para penerusnya. Muhammadiyah telah berkembang dari pusatnya di Yogyakarta hingga menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia. Salah satu kunci sukses Muhammadiyah menjadi organisasi yang besar adalah karena sejak awal organisasi memiliki modal sosial. Penelitian ini menggunakan penelitian studi pustaka untuk mengungkap sejarah tentang perkembangan muhammadiyah. This article analyzes about Muhammadiyah as the biggest organization of modern Islam reformation in Indonesia. Muhammadiyah had grown from 1912 to 1950 that was known as the phase of organization development. In that phase, the role of leadership was very important; it could be said quite establishing especially when Muhammadiyahwas led by Kyai Haji Ahmad Dahlan and his successors. Muhammadiyah has developed from Yogyakarta to almost the entire territory of Indonesia. One of the key successes of Muhammadiyah being the biggest organization was because since the first it has the social modal. This research used library research to discuss the history of Muhammadiyah development.
KONSEP INTEGRASI SOSIAL: KAJIAN PEMIKIRAN SAID NURSI Faiz, Muhammad
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 2 (2016): Islam dan Integrasi Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas tentang perpaduan masyarakat (integrasi sosial) merupakan syarat utama tercapainya ketentraman, kedamaian dan stabilitas kehidupan masyarakat yang majemuk. Namun beberapa penyakit sosial yang bersifat non-fisik menjadi kendala terwujudnya perpaduan masyarakat tersebut bahkan dapat menyebabkan perselisihan dan perpecahan. Bediuzzaman Said Nursi (1877-1960 M) merupakan tokoh bangsa dan ulama terkemuka Turki yang hidup pada masa transisi peralihan pemerintahan dari kekhalifahan Utsmaniyah kepada Republik Turki, ia menyaksikan rapuhnya rasa persaudaraan manusia dan menguatnya gerakan disintegrasi serta tercabiknya perdamaian dunia. Oleh itu kajian ini akan menganalisis gagasan Nursi dalam upaya merealisasikan integrasi sosial masyarakat dunia yang pernah ia sampaikan di Masjid Jami’ Umayyah di Suriah beberapa saat sebelum meletusnya perang dunia pertama. Dalam deklarasi kemanusiaan yang dikenal sejarah dengan Damascus Sermon (Al Khutbah Al Syamiyah) tersebut, Nursi menawarkan enam obat penawar atas enam penyakit sosial yang diderita oleh manusia modern. Kajian ini menggunakan kaidah kualitatif dalam mengkaji pemikiran Said Nursi melalui kajian kepustakaan terhadap karyanya Risale-i Nur. Hasil dari kajian ini menyatakan bahwa Nursi menggunakan pendekatan yang positif dengan mengajak masyarakat untuk bersatu padu, menguatkan tali cinta dan kasih sayang antar sesama dan menghindari rasa saling benci dan permusuhan. Konsep Integrasi sosial yang digagas Nursi ini didasarkan pada ajaran Al Qur’an dan Al Hadits dengan memberikan penyadaran kepada masyarakat akan bahaya penyakit sosial yang mengancam persatuan dan menyulut perpecahan.This articlediscusses about social integration. Social integration is the main requirement to achieve peacefulness and stability of life in a pluralistic society. However, some non-physical social diseases became the constraint of the realization of social integration even more they caused conflict and division. Bediuzzaman Said Nursi (1877-1960) was a public figure and Islamic scholar of Turkish who lived in transition era between the last period of the Ottoman Caliphate and the Republic of Turkey. He witnessed the delicateness of human brotherhood and the increasing of disintegration as well as the destruction of world peace. Thus, this study would analyze the idea of Nursi in order to realize the social integration of people in the world that had ever been delivered at the Mosque of Umayyad in Syria before the outbreak of the First World War. In the humanity declaration known by history as “Damascus Sermon” (al-Khutbah al-Syamiyah), Nursi offered six medicines (solutions) on six social diseases suffered by modern people. This study uses a qualitative method in assessing Nursi’s thinking through the literature study of his work Risale-i Nur. The result of this study states that Nursi used a positive approach to urge people to unite, strengthen the strap of love and affection between people and avoid hatred and hostility. This concept of social integration initiated by Nursi based on the teachings of Koran and al-Hadith by providing awareness to the community about the dangers of social diseases that threaten the unity and cause the disintegration.
BARGAINING KATA DI DALAM AL QUR’AN: KONTROVERSI AHLI TERHADAP BAHASA AL QUR’AN Ritonga, Mahyudin
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 2 (2016): Islam dan Integrasi Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini menjelaskan kosa kata yang dianggap merupakan serapan dari selain bahasa Arab, motivasi dalam melakukan analisis terhadap masalah ini tidak terlepas dari kontroversi pemahaman terhadap fenomena arabisasi beberapa kosakata yang terdapat di dalam Al Qur’an, sebahagian ahli berpendapat tidak mungkin Al Qur’an menggunakan bahasa selain bahasa Arab sementara pendapat sebahagian yang lain berpendapat bahwa banyak di antara kosakata yang ada di dalam Al Qur’an yang bukan berbahasa Arab dan hal ini merupakan bukti kelemahan Al Qur’an dan kecolongan bagi umat Islam. Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif dan mendalam terhadap permasalahan arabisasi merupakan kajian yang penting untuk dilakukan.This article explains about the vocabulary considered as the absorption apart from Arabic. The motivation of doing analysis on this problem was the controversy of understanding the phenomena of Arabic vocabulary in Al Qur’an. Some experts believed that it is impossible for Al Quran using language beside Arabic. Whereas, the other experts believed that many of vocabularies in Al Qur’an uses language beside Arabic and it the proof of Al Qur’an weaknesses. To get the comprehensive and depth understanding about Arabic language problem is the important study to be conducted.
INCULCATION OF ISLAMIC VALUES THROUGH CHEMISTRY SHORT STORY (CERPEN) FOR SENIOR HIGH SCHOOL Suprihatiningrum, Jamil; Andriati, Nunung
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 2 (2016): Islam dan Integrasi Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

xAbstrakPenerapan nilai keislaman melalui pembelajaran kimia harus didukung oleh kegiatan guru. Penelitian ini bertujuan untuk menanamkan dan mengintegrasikan nilai-nilai keislaman melalui cerpen sebagai media pembelajaran kimia. Penelitian ini diprakarsai oleh perkembangan cerpen kimia dan dilanjutkan dengan proses validasi oleh para ahli materi, ahli media, ahli bahasa, dan peer-reviewer. Tiga guru kimia dan 10 siswa SMA dinilai dengan menggunakan cerpen yang telah divalidasi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman wawancara dan lembar observasi untuk penelitian awal dan lembar validasi, 5 lembar skala penilaian (terdiri dari 11 aspek), dan lembar jawaban siswa untuk menentukan kualitas cerpen. Pembuatan cerpen kimia mengikuti model 4D yang terdiri dari 4 tingkatan: Define (definisi), Design (pembuatan), Development (pengembangan), and Disseminate (diseminasi), tapi dibatasi pada tingkat Development (pengembangan). Hasilpenilaian dan jawaban/respon siswa sebagai data kualitatif dikonversikan menjadi kuantitatif, kemudian dianalisa menggunakan statistik deskriptif untuk menentukan kualitas media tersebut. Penelitian ini berhasil mengembangkan sebuah cerpen kimia untuk pelajaran unsur-unsur kimia. Cerpen tersebut berhasil mengintegrasikan dan menerapkan nilai-nilai keislaman yang agamis, bertanggung jawab, bekerja keras, rasa ingin tahu, persahabatan, dan komunikatif. Cerpen kimia ini disusun dengan alur cerita yang disertai ilustrasi. Integrasi nilai-nilai keislaman ditunjukkan melalui presentasi dan alur dalam cerita. Untuk aspek integrasi nilai-nilai keislaman khususnya, media ini mencapai skor 66/75 (sangat baik). Hasil analisis dari keseluruhan data menunjukkan bahwa cerpen kimia memiliki kualitas yang sangat baik menurut 3 guru SMA di Yogyakarta dan Kertosono, Nganjuk, Jawa timur. Rata-rata total skor yang dicapai adalah 450/510. Cerpen kimia ini menerima respon positif dari siswa dan mencapai skor 151/160 (94,37% persentase ideal). Hal ini dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai keislaman dapat diintegrasikan kedalam pelajaran kimia melalui cerpen. Selanjutnya, cerpen dapat digunakan sebagai sumber belajar yang independen. Inculcation of Islamic values through chemistry learning should be supported by teacher’s creativity. This research aims at inculcating and integrating Islamic values through a short story as a chemistry learning media. The study initiated by developing the chemistry short story and proceeded with the validation process by materials experts, media specialists, linguists, and peer reviewers. Three chemistry teachers and 10 high school students assessed the validated-short story. The instruments used in this study were interview’s guidance and observation sheets to preliminary study and validation sheets, 5 scale assessment sheets (consists of 11 aspects), and students' response sheets to determine the quality of short story. The production of chemistry short story followed the four-D model, which consists of four stages: Define, Design, Development, and Disseminate, but limited to the stage of Development. Results of assessment and response as a qualitative data was converted to quantitative, then analyzed using descriptive statistics to determine the quality of those media. This study succeeded in developing a chemistry short story for the subject matter of Chemistry of Elements. This short story successfully integrate and inculcate Islamic values, which were religious, responsibility, hard work, curiosity, friendship, and communicative. Chemistry short story was structured with a storyline that accompanied illustration. The integration of Islamic values demonstrated through the presentation and storyline in the stories. Especially for the aspect of integration of Islamic values, this media score obtained at 66/75 (Very Good). Results of the analysis of the overall data showed that the chemistry short story has a Very Good quality according to 3 high school chemistry teachers in Yogyakarta and Kertosono, Nganjuk, East Java. The average total score obtained at 450/510. This chemistry short story received a positive response from students and reached a score 151/160 (94.37% ideal percentage). It can be concluded Islamic values can be integrated into chemistry subjects through short story. In addition, the short story can be used as a source of independent learning.
DIMENSI SUFISTIK DALAM PANDANGAN HIDUP ORANG MELAYU Amrizal, Amrizal
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 2 (2016): Islam dan Integrasi Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTulisan ini mencoba menjelaskan tentang sejarah kebudayaan Melayu yang tidak bisa dilepaskan dari pengaruh ajaran Islam di dalamnya. Kenyataan menunjukkan bahwa ajaran-ajaran Islam menjadi sistem nilai utama yang membentuk kebudayaan Melayu. Proses terbentuknya kebudayaan Melayu Islam tersebut melalui proses dialektika sejarah yang panjang sejak berlangsungnya Islamisasi di kawasan Melayu. Islamisasi di kawasan Melayu mengambil bentuk yang memadukan antara nilai-nilai Islam yang transenden dan nilai-nilai lokal yang berkembang pada masyarakat tempatan sehingga melahirkan satu corak kebudayaan baru yang bisa diterima secara luas sampai hari ini. Satu hal yang perlu dicatat bahwa proses akulturasi antara Islam dan budaya lokal itu terjadi karena Islam yang datang di kawasan Melayu pada waktu itu adalah Islam yang bercorak sufistik. Sejarah awal proses Islamisasi di nusantara menunjukan bahwa sebagian besar para pendakwah yang menyebarkan Islam di kawasan ini adalah para ulama yang menganut faham tasawuf. Tulisan ini menggambarkan bagaimana pengaruh ajaran-ajaran sufistik terhadap budaya Melayu sebagaimana tercermin dalam pandangan hidup orang-orang Melayu yang menjadi pegangan mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Pandangan hidup tersebut bila dielaborasi lebih jauh kaya akan gagasan-gagasan sufistik. Yang paling menarik gagasan-gagasan sufistik tersebut di dunia Melayu dituangkan dalam bahasa-bahasa puitis dan artistik dan disajikan dalam redaksi-redaksi kalimat yang indah dan menarik. Ini menggambarkan suatu kreatifitas yang amat tinggi dimana orang-orang melayu mampu mentransfer ajaran-ajaran tasawuf dalam medium kesenian mereka.Malay cultural history can not be separated from the influence of Islam. The fact shows that the teachings of Islam become system of core values that form the Malay culture. The processes of the Islamic Malay culture formation constructed through along historical dialectic processsince the on going Islamizationin Malay region. Islamizationin Malay region takes a form that combines transcendent Islamic values and local values that developin the local community produceed a new cultural pattern that can be widely accepted until today. One thing tobe noted that the process of acculturation between Islam and local culture happened because Islam came in the Malay regionat the time was patterned with Sufism. The early history ofthe process of Islamization of the archipelago shows that most of the preachers who spread Islamin this region are the scholars who embrace the ideology of Sufism. This writing illustrate show the influence of Sufi teachings toward the Malay cultureas reflected in the view of life of Malay people which become their guidance in living every day life. And when the live view iselaborated further the Sufiideas will be richer. The most interesting part is that the Sufiideasin Malay world poured in poetic languages and artistic which is presented in wonderful and attractive phrases. This represents a very high creativity where Malay people are capable of transferring the teachings of Sufismin the medium of their art.