cover
Contact Name
Dedi Wahyudi
Contact Email
akademikametro@gmail.com
Phone
+6282324480562
Journal Mail Official
akademikametro@gmail.com
Editorial Address
Institut Agama Islam Negeri Metro Lampung
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam
ISSN : 1693069X     EISSN : 23562420     DOI : https://doi.org/10.32332/akademika
Akademika provides a means for sustained discussion of relevant issues that fall within the focus and scopes of the journal which can be examined empirically. Akademika welcome papers from academicians on theories, philosophy, conceptual paradigms, academic research, as well as religion practices
Articles 470 Documents
PELAKSANAAN ZAKAT BADAN HUKUM: STUDI PADA LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH DI KOTA METRO, LAMPUNG Mustofa, Imam
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 20 No 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Para ulama kontemporer berpendapat bahwa badan hukum wajib dizakati. Dalam konteks Indonesia, dalam aturan perundang-undangan yang mengatur masalah zakat, disebutkan bahwa muzakki tidak hanya perseoragan, akan tetapi juga bisa berupa badan hukum. Berdasarkan hal ini, Lembaga Keuangan Syariah (LKS) wajib dikeluarkan zakatnya apabila telah memenuhi syarat. Di Kota Metro terdapat beberapa Lembaga Keuangan Syariah yang juga merupakan badan hukum. Berdasarkan hal ini, permasalahan dalam tulisan ini adalah bagaimana pelaksanaan zakat badan hukum pada LKS di Kota Metro. Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang berusaha menelisik dan mengungkap pemahaman para pengelola LKS di Kota Metro terhadap kewajiban zakat badan hukum. Penelitian ini juga mengungkap pelaksanaan zakat badan hukum dan mekanisme pengelolaannya. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yang bersifat kualitatif. Populasi penelitian ini adalah Lembaga Keuangan Syariah di Kota Metro. Teknik sampling yang digunakan adalah purposif sampling. Teknik pengumpulan data dengan cara wawancara tidak terstruktur dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisa dengan metode deskriptif-analitis. Setelah data dianalisa dan dikaji, dapat diambil kesimpulan bahwa tidak semua pengelola Lembaga Keuangan Syariah (LKS) di Kota Metro memahami mengenai kewajiban badan hukum. Ada pengelola yang memahami bahwa zakat badan hukum adalah zakat yang dikeluarkan oleh pengelola terhadap dirinya, bukan lembaga yang dikelolanya. Selain kesimpulan di atas, dapat diketahui pula bahwa Ada tiga bentuk pelaksanaan zakat badan hukum LKS di Kota Metro. Pertama, LKS yang tidak dizakati karena ketidaktahuan pengelolanya mengenai ketentuan dan aturan kewajiban zakat badan hukum. Kedua, LKS yang dikeluarkan zakatnya, meskipun para pengelolanya belum mengetahui aturan dan ketentuan zakat badan hukum. Ketiga, LKS yang dikeluarkan zakatnya karena para pengelolanya mengetahui teori dan landasan hukumnya. Mengenai mekanisme pelaksanaan zakat LKS, ada perbedaan antara satu dengan lainnya. Perbedaan ini pada tataran perhitungan nisab, kadar, pengumpulan dan penyaluran. The contemporary scholars propose that corporation is liable given through alms. In indonesia context, the regulation which regulates about alms is called that board commite of alms is not only individually, but also it can be corporation. In the line of this, Board of islamic financial is liable removed its alms if it has granted its terms. Metro has several Boards of islamic financial, it is also corporation. Based on this case, the issues of the paper is how does corporation implement alms at several Boards of islamic financial in Metro. This study is the result of research which tries to investigate and reveal insights of manager Boards of islamic financial in Metro toward alms obligation of corporation. The research also tries to reveal the alms implemetation of corporation and its maintenance. This research is field research which is having character of qualitative approach. The population of this study is boards of islamic financial in Metro. Techique sampling used is purposive sampling. Techique in gathering the data is used by non-structured interviewing and documentation. The data is analyzed through descriptive analysis method. After the data is analyzed and examined, the conclusion can be taken is not all boards islamic financial in Metro understand about obligation of corporation. There is manager who understands that alms of corporation is alms which paid by manager to their self, it is not broad that should pay it. In spite of conclusion above, it can be known that there are three models the implementation alms of corporation in Metro. First, boards islamic financial which is not paid alms yet because the manager did not know the implementation about appointment and the rule of alms for corporation. Secondly, boards islamic financial has paid its alms, eventhough its managers did not know rule and appointment for corporation. Last, boards islamic financial has paid its alms and its managers knew theori and its base of law. Regarding to the mechanism alms for boards islamic financial, there is difference between one and else. This distinct on calculation nisab, grade, collecting and distributing
FRACTIONAL RESERVE FREE-BANKING DALAM PERSPEKTIF MASLAHAH: SEBUAH KOMPARASI PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM DAN EKONOMI AUSTRIA Fathurrahman, Ayief
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 20 No 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas tentang fractional reserve free-banking dalam perspektif maslahah yang dikemas dalam sebuah komparasi pemikiran ekonomi Islam dan ekonomi Austria. Latar belakang munculnya tulisan ini adalah kegelisahan penulis terhadap terus berulangnya krisis ekonomi. Penulis mencoba mengkomparasikan antara pemikiran ekonomi Islam dan ekonomi Austria dalam memandang permasalahan ini.fractional reserve banking merupakan sistem perbankan modern yang sarat dengan resiko resesi ekonomi, karena dibangun sebagai wadah finansial semu dan berimplikasi pada bubble economy. Sehingga dalam melihat fenomena ini, pemikiran ekonomi Islam dan pemikiran ekonomi mazhab Austria bersama-sama menyumbangkan pemikiran kontrusktif terhadap sistem moneter perbankan, yaitu berupa fractional reserve free-banking. Karena menurut kedua pemikiran ini, sumber instabilitas ekonomi modern pada saat ini terletak pada sistem fractional reserve banking yang diaplikasi di perbankan komersial di seluruh dunia melalui kemampuan penciptaan uang (creation money), sehingga money supply bergeser dari titik keseimbangannya. The study discusses about fractional reserve free-banking in maslahah perspective which is presented in comparating between islamic-economic thought and Austria economy. At the beggining of this study is researcher’s disquiet about recuring crisis of economy. The writer tries to interconnect between islamic-economy thought and Austria economy in beholding this issue. Fractional reserve banking is such a modern banking system which has a recession of economy, since it is built as forum of financial illusory, then, it implicates to bubble economy. In order to regard this phenomenon, islamic-economy thought, along with Austria economy, contributes constructive thought toward such monetary banking system. According to these thoughts, the source of instabilitymodern economy is located on fractional reserve banking system that implemented in commercial banking in over the world by creating money. Then, supplying money grates with its balancing.
ASPECTS OF QURBAN RITUAL IN PEKANBARU Purnamasari, Endah
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 20 No 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dirancang untuk menghitung jumlah ternak yang digunakan pada penyembelihan hewan dalam Islam atau dikenal sebagai Ritual Qurban, jenis hewan yang disembelih dan jenis kelaminnya, jumlah daging yang diperoleh, termasuk tulang dan jeroan, pola distribusi, jumlah daging yang dialokasikan untuk panitia di tempat penyembelihan, teknologi yang diterapkan dalam penanganan daging, tindakan yang diambil untuk daging yang tidak dibagikan dan pelaksanaan standar operasional prosedur untuk menyembelih hewan. Penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan metode survei dengan sampel sebesar 390 masjid dan masjid kecil yang disebut musholla dan langgar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hewan ternak yang banyak disembelih yaitu sapi, kambing, dan kerbau dengan jenis kelamin laki-laki yang paling lazim. Proporsi daging dan lemak, tulang, dan jeroan yang diperoleh dari pengolahan ini mencapai masing-masing 63%, 24%, dan 13%. Hampir semuadaging (99,70%) didistribusikan kepada masyarakat melalui sistem kupon meskipun ditemukan bahwa 21,80% dari kupon yang diberikan akhirnya tidak ditebus oleh penerima. Selain itu anggota panitia mendapat 8,48% daging. Sekitar dua pertiga (64,52%) dari responden menentang gagasan menyerahkan persentase tertentu daging kepada pihak ketiga untuk diproses lebih lanjut meskipun mereka sadar akan manfaat dengan pengolahan daging modern (74,02%). Temuan dari penelitian ini juga menunjukkan perbaikan yang diperlukan dari pelaksanaan Ritual Qurban di daerah-daerah kritis seperti pasokan ternak, manajemen komunikasi antar panitia untuk meminimalkan daging yang tidak dibagikan dan langkah-langkah yang diperlukan untuk meningkatkan upaya dalam mendistribusikan daging dalam bentuk olahan daging sapi. The research is designed to calculate the number of catlles are used to slaughter in islam or it is well-known as Qurban, sorts of cattles, sex, the number of meat includes bones and bowels, the way of distribution, meat for board of Qurban in that place, technology used for taking care of meat, some steps are taken for indistributed meat also standard operational procedure of slaughtering the cattles. This research is done by using survey method through the number of sample is 390 mosques. The result of research shows that the cattles are slaughtered such as cow, goat and buffalo, those are mostly virile. The proportion of meat, grease, bone and bowel are gotten from this proccessing is 63%, 24%, and 13%. Almost 99,70 % of meat is distributed to people through such a coupon system, eventhough 21,80% of coupon which was given finally do not taken by receivers. Besides, board of Qurban get 8.48% of meat. Approximately 64.52% of respondents resist the idea of delevering certain meat to third party to be processed more. Even, 74.02% respondents aware that the function of modern processing the meat. The finding of this study also shows revision which is needed from ritual Qurban in several critical places like as cattle supplying, communication between boards of Qurban to minimize undistributed meat and such steps to increase efforts in distributing the bend of meat.
TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBERDAYAAN UMAT DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KESEJAHTERAAN UMAT Suparta, Suparta
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 20 No 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini menjelaskan betapa besar tantangan pendidikan Islam di era sekarang ini. Tantangan-tantangan tersebut diantaranya adanya dikotomi pendidikan, kurikulum yang belum relevan, dan manajemen pendidikan Islam yang belum kompeten. Untuk itu, penulis mencoba memberikan sumbangan pemikiran agar Pendidikan Islam harus optimis dan dinamis menghadapi tantangan zaman.Tulisan ini berdasarkan hasil dari penelitian lapangan atau field research. Teknik pengumpulan datanya menggunakan studi pustaka dan dijelaskan secara desript analitis. Berdasarkan hasil observasi penelitian di lapangan, masih ada asumsi masyarakat bahwa orientasi pendidikan Islam hanya mengurusi masalah ritual atau spiritual saja. Karena jika asumsi itu masih ada maka materi pendidikan Islam hanya seputar masalah aqidah, ibadah, muamalah, dan akhlak tanpa menyentuh ilmu-ilmu umum. Jika demikian, maka inilah bukti masih kentalnya dikotomi ilmu pengetahuan. Asumsi seperti itu dengan sendirinya berarti menafikan bahkan meragukan keunggulan Al-Qur’an yang merupakan barometer bahkan fondasi utama pendidikan Islam. Hal ini dapat kita lihat realita saat ini umat Islam menjadi umat yang jauh tertinggal dari berbagai bidang terutama dari bidang kesejahteraan dan ilmu pengetahuan. Kesimpulan dari tulisan ini adalah pendidikan Islam harus menjadi pendidikan yang mengembangkan semua aspek kehidupan termasuk di dalamnya tentang pengembangan kesejahteraan umat. The paper explains how big challenges of islamic education currently. Those challenges such as educational dicothomy, irreleven curriculum, incompetence of management of islamic education.To be so, the writer tries to give contribution of thought in order to islamic education should be optimist and dynamic in facing challenges. This current research is based on field research. The technique in gathering data is used literature review and explained by descriptive anaylisis. Based on the result of observation in field, there are still people assumption that education-oreinted is only taking care of case in ritual or religous only. Because of the assumption still exists, thus the materials of islamic education is around aqidah, ritual, muamalah, and akhlak without touching common knowledges. In fact, it is proof strongly knowledges dicothomy.This assumption denies even doubts to the holy Qur’an which is the measurement, in fact as the main foundation of islamic education. It can be seen that islamic community is community which neglectes in various aspects particularly in prosperity and scien. The conclusion is islamic education should be main education that develops in all aspects includes developing prosperity of people.
SASTRA ISLAM NUSANTARA: PUISI GUGURITAN SUNDA DALAM TRADISI KEILMUAN ISLAM DI JAWA BARAT Rohmana, Jajang A.
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jaringan Islam Nusantara yang terhubung dengan Haramayn telah merangsang berkembangnya tradisi intelektual Islam di sejumlah wilayah Nusantara. Di wilayah ini, tradisi Islam ditandai beragam kreatifitas lokal keagamaan dalam mengartikulasikan beragam elemen lokal ke dalam tradisi keilmuan Islam. Puisi guguritan Sunda atau dangding merupakan salah satu bentuk elemen lokal yang menghiasi tradisi keilmuan Islam di Jawa Barat. Dengan menggunakan pendekatan strukturalisme sastra, kajian ini memfokuskan pada penggunaan guguritan sebagai bagian dari eskpresi kreatifitas keilmuan Islam tersebut. Pembahasan diarahkan pada masalah pengaruh Islam terhadap sastra Sunda, perkembangan puisi guguritan, dan posisinya dalam tradisi keilmuan Islam di Jawa Barat. Guguritan digunakan sedikitnya dalam tiga tradisi keilmuan Islam, yakni tasawuf, terjemah dan tafsir Al-Qur’an, dan catatan tentang perjalanan haji. Guguritan sufistik menghasilkan kreatifitas sufistik Sunda yang menitikberatkan pada citra simbolis lokal. Terjemah dan tafsir Al-Qur’an berbentuk guguritan mampu menghadirkan sebuah nuansa puitisasi terjemah dan tafsir sufistik yang jauh lebih kompleks dibanding terjemah puitis lainnya. Sedangkan guguritan haji mampu merekam perjalanan historis haji sekaligus mengekspresikan pengalaman spiritual ibadah haji secara individual. Elemen spiritual kiranya menjadi pengikat utama dari ketiga tema keislaman tersebut, karena bahasa guguritan lebih dekat dengan eksrepsi pengalaman batin yang suci dan sakral dibanding bernuansa hiburan dan profan. Studi ini menegaskan bahwa beragam tema keislaman tersebut menjadi bukti bahwa sastra keagamaan memiliki pengaruh besar dalam proses indigenisasi Islam dan perkembangan bahasa dan sastra Nusantara. Sebuah warisan keagamaan Islam Nusantara yang menjadi bagian dari kekayaan khasanah keagamaan Islam di dunia.The network of Islam in Indonesia which is connected to Haramayn has stimulated the development of the Islamic intellectual tradition in some regions of the archipelago . In this region, the Islamic tradition was marked by diverse local creativity in articulating some local elements into the intellectual tradition of Islam. Guguritan or Sundanese metrical poetry is a form of local elements that marked the intellectual tradition of Islam in West Java. Using a literary structuralism approach, this study focused on the use of guguritan as part of the expression of the tradition. The discussion highlights the influence of Islam to Sundanese literature, the development of guguritan, and its position in the intellectual tradition of Islam in West Java. Guguritan is used in at least three intellectual tradition of Islam: sufism, translation of the Qur’an and its commentaries, and story on the pilgrimage to Mecca. Sufi’s work in the form of guguritan generates a creativity of Sundanese sufi on local symbolic imagery. Translations and commentaries of the Quran in the form of guguritanpresents a poetic translation and interpretation which more complex than others. While the hajj story in the form of guguritan shows the recording historical journey and express spiritual experience of hajj individually. Spiritual element is the main binder of the three themes of the guguritanworks, because it is closer to express the inner experience of the holiness and sacred rather than a profane and entertainment. This study suggests that a variety of guguritanthemes of local Islamic literature greatly influences in the process of indigenization of Islam in the archipelago. It is an Islamic religious heritage in the archipelago which at once becomes a part of Islamic religious heritage in the world..
INTERAKSI ISLAM DENGAN BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI KHANDURI MAULOD PADA MASYARAKAT ACEH Abubakar, Fauzi
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas tentang pelaksanaan tradisi khanduri maulod pada masyarakat Aceh dan nilai-nilai Islam pada tradisi khanduri maulod sebagai bentuk interaksi Islam dengan budaya lokal. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengamatan berperanserta atau observasi langsung dan telaah dokumen. Karena itu penelitian ini menggunakan pendekatan antropologis keagamaan untuk memahami objek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Khanduri Maulod di Aceh merupakan tradisi terbesar, karena setiap gampong (desa) pasti merayakannya meskipun dalam skala kecil, dan sejak jauh-jauh hari telah mempersiapkan diri sedemikian rupa. Tradisi dilaksanakan dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Saw sebagai bentuk syukur masyarakat terhadap rezeki yang dianugerahkan Allah Swt. Tempat pelaksanaannya di meunasah atau mesjid, dengan kegiatan makan bersama, menyantuni anak yatim, dakwah Islamiyah, shalawat, zikir, dan syair-syair mengagungkan Allah Swt. Nilai-nilai Islam yang terkandung dalam tradisi ini sebagai bentuk interaksi Islam dengan budaya lokal dapat dilihat dari tradisi khanduri maulod menjadi sarana dakwah sehingga melalui tradisi ini diharapkan masyarakat semakin mengenal dan mencintai Nabi Muhammad Saw, sehingga akan lahir masyarakat yang menghidupkan sunnah Rasul. Kemudian nilai shilaturrahmi (ukhuwah Islamiyah) yang diwujudkan dengan makan bersama, serta menyantuni atau memberi makan anak yatim sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw. This study discusses the implementation of festivity tradition called maulidin Acehnese society and Islamic values in the tradition khandurimaulod as a form of interaction between Islam with the local culture. This study used descriptive qualitative method with participatory observationtechniques or direct observation and study of the document. Therefore, this study used an anthropological approach to understanding religious objects. The results show that the tradition KhanduriMaulod in Aceh is the greatest tradition, because every village celebrates it though on a small scale, and since long ago it has been prepared in such a way. Tradition held in commemoration of the birthday of the Prophet is a form of gratitude of the society towards the sustenance which Allah bestowed. Place of execution in meunasah or mosque, with the activities of eating together, sympathizing orphans, Da'wah Islamiyah, and prayers, remembrance, and poems glorifying Allah. Islamic values existsing in this tradition is a form of interaction of Islam with local culture. Maulodkhanduri tradition is a means of propaganda in order to know and love the Prophet Muhammad better. Then the value of brotherhood (ukhuwah Islamiyah) is reflected through eating together and feeding orphans as instructed by the Prophet.
STRATEGI PENERJEMAHAN ARAB – JAWA SEBAGAI SEBUAH UPAYA DALAM MENJAGA KEARIFAN BAHASA LOKAL (INDIGENOUS LANGUAGE): STUDI KASUS DALAM PENERJEMAHAN KITAB BIDAYATUL-HIDAYAH KARYA IMAM AL-GHAZALI Anis, Muhammad Yunus; Saddhono, Kundharu
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini, kekhawatiran akan punahnya bahasa ibu selayaknya menjadi perhatian besar masyarakat Indonesia. Punahnya bahasa ibu atau bahasa-bahasa lokal merupakan salah satu indikator punahnya warisan budaya bangsa. Dengan semakin memudarnya warisan budaya bangsa maka hilanglah karakter utama bangsa, oleh sebab itu bahasa ibu dan bahasa lokal sebagai warisan budaya harus terus dijaga dan dipertahankan keberadaannya. Salah satu ikhtiar utama dalam menjaga warisan budaya tersebut adalah dengan menjaga bentuk penerjemahan khas Arab – Jawa, yang sudah jamak dilakukan oleh para santri pondok-pondok pesantren di Nusantara. Salah satu kitab yang menggunakan terjemahan tersebut adalah kitab Bidaayatul-Hidaayah karya Imam Al-Ghazali yang diterjemahkan oleh Kyai Haji Hammaam Naashirud-Din Magelang. Dalam menerjemahkan kitab tersebut, penerjemah menggunakan model word for word translation yang cukup khas dan berkarakter. Pesan moral yang ada dalam kitab diungkapkan dengan syarah (penjelasan) dengan menggunakan bahasa Jawa. Makalah ini akan mengelaborasi problematika penerjemahan yang ada dalam penerjemahan kitab Bidayatul-Hidayah, baik dari sisi teknik dan metode penerjemahan kitab tersebut. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, makalah ini menemukan adanya pergeseran bentuk satuan kebahasaan yang ada dalam penerjeman Arab – Jawa kitab Bidayatul-Hidayah. Selain itu, pesan moral yang ada dalam kitab tersebut telah menjadi landasan fundamental dalam pembentukan karakter Santri Nusantara.Language extinction, both mother tongues and local languages, nowadays deserves Indonesian’ attention. When a language extinguishes, a cultural heritage and a character of a nation also disappear. Mother tongue and local languages should be preserved. One plausible way to do so is by maintaining the translation pattern of Arabic-Javanese that are common among the Islamic boarding schools. An example of such pattern is seen in Imam Al-Ghazali’s Bidaayatul-Hidaayah translated into Javanese by Kyai Haji Hammaam Naashirud-Din Magelang. The translation appears to be word-for-word translation with some explanation, syarah, which is also written in Javanese. This writing elaborated the translation problems of Bidaayatul-Hidaayah from its technique and method of translation. A qualitative descriptive method was used to figure out language feature shift in the Arabic-Javanese translation. This writing suggests that the moral message within Bidaayatul-Hidaayah serves as fundamental framework in shaping the Muslim learners in Indonesian Islamic boarding school.
SEKOLAH BERBUDAYA LINGKUNGAN PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM: IMPLEMENTASINYA DI SMAN 4 PANDEGLANG, BANTEN Muhajir, Muhajir; Hidayatin, Ida Nur
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sekolah Berbudaya Lingkungan (SBL) sebagai salah satu wadah peningkatan pengetahuan dan kemampuan peserta didik memiliki peran penting dalam menyumbang perubahan yang terjadi dalam keluarga. Bagaimana menghargai air bersih, memahami pentingnya penghijauan, memanfaatkan fasilitas sanitasi secara tepat serta mengelola sampah menjadi pupuk tidak terpisahkan dalam upaya peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat. Sebagai komponen terkecil dalam masyarakat perubahan yang terjadi dalam keluarga akan memberi pengaruh pada masyarakatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sekolah berbudaya lingkungan dalam perspektif Islam dan untuk mengetahui implementasi sekolah berbudaya lingkungan dalam perspektif Islam di SMA Negeri 4 Pandeglang. Hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa dengan penerapan sekolah berbudaya lingkungan sekolah menjadi bersih dari sampah, tertib dan nyaman sehingga akan tercipta suasana yang kondusif dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Diperkuat oleh beberapa hal antara lain: (1) Sekolah berbudaya lingkungan dalam perspektif Islam memiliki karakteristik yang khas, yaitu dengan memasukkan pendekatan keagaamaan; (2) Model pelaksanaan sekolah berbudaya lingkungan di SMAN 4 Pandeglang merujuk pada program adiwiyata yang terdiri dari empat aspek untuk dikelola dengan cermat dan benar yaitu; kebijakan, kurikulum, kegiatan, dan sarana prasarana; dan (3) Implementasi sekolah berbudaya lingkungan dalam perspektif Islam di SMA Negeri 4 Pandeglang menggunakan 4 unsur sebagai medianya, yaitu melalui kebijakan, kurikulum, kegiatan, dan sarana prasarana sekolah Environment-cultured school as a means to increase learners’ knowledge and ability plays an important role in contributing to the changes that occur in the family. It deals with how to appreciate clean water, understand the importance of greening, utilize appropriate sanitation facilities as well as manage the waste into fertilizer integral in improving the behavior of healthy and clean life. As the smallest components of society changes in the family will make an impact on society. This study aims to determine the environment-cultured school in the Islamic perspective and to know the Implementation of the School of Environmental cultured in the context of Islam in SMAN 4 Pandeglang. Results of the study show that: (1) environment-cultured school in the perspective of Islam has distinctive characteristics, namely by entering religion approach; (2) model implementation environment-cultured school in SMAN 4 Pandeglang refers Adiwiyata program which consists of four aspects to be managed carefully and correctly namely; policies, curriculum, activities, and infrastructure; and (3) implementation of the environment-cultured school in the context of Islam in SMAN 4 Pandeglang use four elements for media, namely policy, curriculum, activities, and infrastructure.
ISLAM DAN KEARIFAN LOKAL: PEMBARUAN HUKUM KELUARGA DI INDONESIA MODEL INKULTURASI WAHYU DAN BUDAYA LOKAL Rajafi, Ahmad
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pergulatan pemikiran tentang Islam dan kearifan lokal telah memberikan akses keterbukaan di masa kini untuk lebih kritis dalam memahami hukum Islam atas dasar definisi asy-syari’ah, termasuk melalui proses inkulturasi wahyu dengan budaya lokal. Mengenai hal tersebut, ketika asy-syari’ah telah terkodifikasi dalam bentuk Al Qur’an dan Islam telah tersebar ke seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia – yang tentunya memiliki perbedaan sosial-budaya dengan masyarakat Arab – maka perlu dilakukan sebuah pembacaan ulang terhadap asy-syari’ah dengan pendekatan inkulturasi tersebut. Proses inkulturasi yang dimaksud di dalam tulisan ini harus dibaca secara bottom-up, dengan cara memberikan pemahaman bahwa ketika asy-syari’ah yang berasal atau lahir dari proses budaya, lalu budaya tersebut berubah maka asy-syari’ah seyogyanya juga berubah sehingga budaya baru tersebut dapat diimplementasikan di dalam masyarakat. Salah satu contoh yang urgen dalam konteks hubungan Islam dan kebudayaan lokal di Indonesia melalui model tersebut adalah tentang kewarisan produktif. Dalam hal ini, perubahan sebagai sifat utama dari budaya, akan selalu menghendaki masyarakatnya untuk selalu mengapresiasi perubahan dan melakukan perubahan, termasuk dalam hal ortodoksi keagamaan, sehingga kritikan ilmiah terhadap ortodoksi agama tidak sekedar menjadi bacaan yang kaku sehingga menegasi maksud Tuhan yang lebih besar. Perubahan yang lebih baik di dalam masyarakat sesungguhnya juga bagian dari wahyu Tuhan yang sering kali tidak terbaca. The Problematic of thought on Islam and local wisdom has granted access in the present era to be more critical in understanding Islamic law based on the definition of al-syari'ah, including through a process of inculturation revelation to the local wisdom. Regarding this, when the al-syari'ah has been codified in the form of the Qur'an and Islam has spread all over the world, including Indonesia - which has a socio-cultural differences with the Arab community - there should be re-reading of the al-syari'ah with the inculturation approach. The process of inculturation in this case is must be read in bottom-up, by providing an understanding that when the al-syari'ah come from or born from the culture process, then that culture changes into al-syari'ah should also change so that the new culture can be implemented in the community. One example is the urgency in the context of relationship between Islam and local wisdom in Indonesia through the model is inheritance productive. In this case, alteration as the main characteristics of the culture will always want community to always appreciate the changes and make changes including in terms of religious orthodoxy so that scientific criticism against religious orthodoxy did not just become so rigid readings negate God's greater purposes. The changes for the better in society actually also the part of God's revelation that is often illegible.
DIALEKTIKA ISLAM DALAM MANTRA SEBAGAI BENTUK KEARIFAN LOKAL BUDAYA JAWA Saddhono, Kundharu
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan struktur Mantra Jawa dan relevansi Mantra sebagai kearifan lokal dalam kaitannya dengan agama Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan menggunakan lokasi di Solo Raya termasuk Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Klaten, Karanganyar, dan Sragen. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis interaktif, seperti reduksi data, display data, dan kesimpulan. Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa Mantra Jawa memiliki tiga jenis struktur, yaitu: (1) yang ideal, (2) acak, dan (3) tidak stabil. Struktur ideal Mantra Jawa Mantra dibagi menjadi tiga bagian utama, seperti: kepala, tubuh, dan kaki. Struktur Mantra ditutupi dengan rumus mistis, magis, mitologi, suara, diksi, dan imajinasi. Wacana nilai Islam telah sangat dominan dalam bahasa Mantra. Zat bahasa Arab juga dilekatkan dalam teks Mantra dan menghasilkan bentuk karakteristik khusus yang baru. Kondisi ini telah membuat karakter tertentu dari teks Mantra, seperti sintesis antara Jawa dan budaya Islam di satu kombinasi dan dari tradisi lain yaitu budaya Jawa. Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Mantra milik orang Jawa secara bebas dapat diartikan sebagai metode atau konsep diungkapkan dengan kata-kata dan itu menegaskan bahwa Mantra memiliki kekuatan yang tak terlihat dan juga telah dibuat sebagai penetrasi pemecahan masalah kehidupan. This considerable study aims to explain the structure of Javanese Mantra and the relevancy of Mantra as a local wisdom in its relation with Islamic religion. This study is using the descriptive qualitative approach using the certain locations in Solo Raya including Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Klaten, Karanganyar, and Sragen. The technique of analysis used in this study is interactive analysis, such as the data reduction, data display, and the conclusion. The result of the study has shown that the Javanese people Mantra has three types of structure, they are: (1) ideal, (2) random, and (3) unstable. The ideal structure of Javanese people Mantra was divided into three main parts, such as: the head, the body, and the leg. The structure of Mantra was covered by the mystical formula, magical, mythological, the sound, the diction, and the imagination. The discourse of Islamic value has been extremely dominant in the language of Mantra. The Arabic language substances also embedded in the text of Mantra and performed the new specific characteristic form. This condition has made the specific character of Mantra’s text, such as the synthesis between the Javanese and Islamic culture in the one combination of Javanese cultural tradition. Based on this study, it can be concluded that the Mantra belongs to the Javanese freely can be interpreted as a method or the concept expressed by the words and it was confirmed that Mantra has the invisible power and also it has been made as the penetration to solving the problems life.