cover
Contact Name
Dedi Wahyudi
Contact Email
akademikametro@gmail.com
Phone
+6282324480562
Journal Mail Official
akademikametro@gmail.com
Editorial Address
Institut Agama Islam Negeri Metro Lampung
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam
ISSN : 1693069X     EISSN : 23562420     DOI : https://doi.org/10.32332/akademika
Akademika provides a means for sustained discussion of relevant issues that fall within the focus and scopes of the journal which can be examined empirically. Akademika welcome papers from academicians on theories, philosophy, conceptual paradigms, academic research, as well as religion practices
Articles 470 Documents
RADIKALISME ISLAM DAN MOTIF TERORISME DI INDONESIA Zulfadli, Zulfadli
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 22 No 1 (2017): Islam, Radicalism, dan Terrorism
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v22i1.570

Abstract

Tulisan ini mengupas tentang fenomena radikalisme agama dan motif terorisme di Indonesia. Terorisme menjadi ancaman yang sangat serius dalam dinamika politik lokal, nasional dan internasional. Perang melawan terorisme sama halnya dengan perjuangan masa depan yang tidak berkesudahan. Membicarakan masalah terorisme, selalu dikaitkan dengan kelompok-kelompok radikal keagamaan. Begitu juga hal-hal yang berbau radikal selalu diidentikkan dengan kekerasan yang melibatkan agama di dalamnya. Fenomena terorisme yang melanda sebagian Negara, pelakunya senantiasa dipersepsikan sebagai kelompok radikal keagamaan. Lebih parah lagi banyak kalangan yang mencoba mengidentikkan terorisme dengan Islam. Penelitian ini munggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (libary research), yaitu penelitian yang sumber datanya diperoleh dari buku-buku dan jurnal yang membahas terorisme. Penelitian ini mengidentifikasi motif terorisme di Indonesia yaitu motif politik, motif agama dan motif ideologi terorisme di Indonesia. Peneltian membuktikan bahwa rencana pembangunan Mall di sejumlah daerah, terjadinya jurang yang lebar antara orang kaya dan orang miskin, tidak terpenuhinya hak-hak masyarakat, orientasi pembangunan yang hanya mengedepankan aspek fisik, kurang memperhatikan aspek ruhani dan nilai-nilai sosial-keagamaan masyarakat, meluasnya kekerasan dan konflik merupakan faktor yang bisa menyuburkan terorisme This article analyzes about the phenomena of religious radicalism and motives of terrorism in Indonesia. Terrorism becomes a very serious threat in the dynamics of local, national and international politics. The fight against terrorism as well as the struggle for the future that never-ending. Discussing about terrorism issue is always related to radical religious groups. Likewise, the radicalism is always identic with religious violence. The phenomena of terrorism which happen in some countries, the perpetrators are often perceived as a radical religious group. Even many people attempt to equate terrorism with Islam. This study refers to qualitative method with library research, namely the research which the sources obtained from books and journals about terrorism. This study identify the motives of terrorism in Indonesia that are political, religious, and ideological motives of terrorism in Indonesia. The findings of the research show that the building plans in some places, big gap between rich and poor people, unfulfilled community rights, building orietation which focuses on physical aspects, not paying attention to spiritual aspects and religion and social values, the spread of violences and conflicts are some factors which can improve terrorism.
PONDOK PESANTREN SALAF SEBAGAI MODEL PENDIDIKAN DERADIKALISASI TERORISME Kholis, Nur
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 22 No 1 (2017): Islam, Radicalism, dan Terrorism
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v22i1.572

Abstract

Tulisan ini mendiskusikan tentang pondok pesantren salaf sebagai model pendidikan deradikalisasi terorisme. Secara garis besar tindakan radikal dan teror ini bersumber dari ideologi yang salah namun dianggap benar dan cara memahami Al-Qur’an yang hanya dilakukan secara tekstual saja. Sebenarnya pemerintah diseluruh dunia telah melakukan upaya untuk memberantas aksi tindakan keji ini dengan berbagai macam bentuk, namun kebanyakan hanya bersifat militer saja, sehingga hal ini hanya bersifat menghapus para pelaku tindakan teror dan radikal tanpa menghapus penyebab utama munculnya tindakan radikal dan teror ini. Sehingga diperlukan upaya deradikalisasi yang cukup ampuh untuk menanggulangi hal tersebut salah satunya dapat dilakukan dengan model pendidikan pondok pesantren salaf yang dikenal dengan tradisi-tradisi humanisnya dan pembekalan ilmu-ilmu yang relevan untuk memahami ayat-ayat Al-Qur’an, agar terhindar dari kesalahan dalam memahami ayat Al-Qur’an, Sehingga mampu memberikan tameng yang kuat untuk tidak terjerumus kedalam lembah aksi-aksi radikal dan teror. This article discusses about salaf pesantren as a model of terrorism deradicalisation education. Broadly the act of radical and terror comes from a wrong ideology but it is considered as a correct ideology and the way in comprehending the Qur'an which is only done in a textual way. In fact, the governments around the world have attempted to combat this cruel action in various forms, yet mostly only military, so this action only removes the perpetrators without removing the main cause of these radical and terror acts. So it is necessary to conduct deradicalisation to cope this problem and one of them can be done with the model of salaf pesantren which is well known with the humanist traditions and the provision of relevant sciences to understand the verses of the Qur'an, in order to avoid the mistake in interpreting the verses of the Qur'an, hence it can provide a strong shield in order not to be trapped to the radical and terror actions.
DAKWAH SEBAGAI INSTRUMEN PENANGGULANGAN RADIKALISME DI ERA DIGITAL Nasor, M.
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 22 No 1 (2017): Islam, Radicalism, dan Terrorism
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v22i1.613

Abstract

Tulisan ini berbicara tentang pemanfaatan media sosial dalam dakwah untuk menanggulangi benih-benih ideologi ekstrimis oleh kaum Islam radikal. Melakukan dakwah dengan mengunakan fasilitas digital dengan mudah dilakukan. Namun, kemajuan teknologi dan informasi khususnya media televisi, memungkinkan seorang da’i untuk berimprovisasi agar materi dakwah tetap menarik untuk disimak. Dampaknya, orientasi dakwah juga semakin berkembang bahkan cenderung menjadi bias. Pola berdakwah melalui media sebagai wujud kemajuan teknologi menjadi tantangan bagi diri sendiri bagi seseorang da’i. Islam sebagai agama memiliki beberapa karaketristiknya yang sangat luas dan khas. Untuk itu perlu dikenali dan dipahami agar menjadi muslim yang memiliki maslahat bagi sesama manusia. Karakteristik ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Sunnah harus didakwahkan secara persuasif yang diharapkan dapat menyentuh aspek psikologis dan budaya manusia. Tujuan dakwah dapat menjadi solusi atas problem yang dihadapai oleh umat manusia. Melalui cara ini munculah kegiatan dakwah yang bernuansa harmonis, toleransi, adanya persatuan-kesatuan, kebersamaan, keadilan, dan menghilangkan diskriminasi. Akhirnya dakwah akan dapat mengkikis adanya faham-faham radikal. This article discusses about the utilization of social media in da’wah to cope the seeds of extreme ideology spreaded by radical Islamic groups. Conducting da’wah by using digital facilities is easilty done. However, the advance of technology and information, especially television, enable a preacher to improvise to keep the da'wah material interesting to observe. Consequently, da’wah orientation is also growing, even tending to be biased. The pattern of da'wah through media as a form of technological progress becomes a challenge for a da'i. Islam as a religion has some characteristics which is very broad and unique. Therefore, it is important to be recognized and understood to be a Muslim who has maslahat for human beings. The characteristics of Islamic teachings sourced from al-Qur'an and al-Sunnah must be persuasively preached and expected can touch the psychological and human cultural aspects. The purpose of da'wah can be a solution to the problems faced by mankind. In this way the arises da'wah activities that have harmonious nuance, tolerance, unity, togetherness, justice, and eliminating discrimination. Finally, the da'wah will be able to erode the existence of radical ideas..
ISLAM NUSANTARA SEBAGAI COUNTER HEGEMONI MELAWAN RADIKALISME AGAMA DI INDONESIA Khoirurrijal, Khoirurrijal
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 22 No 1 (2017): Islam, Radicalism, dan Terrorism
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v22i1.616

Abstract

Tulisan ini membahas tentang Islam Nusantara sebagai counter-hegemony melawan Radikalisme Agama di Indonesia. Berdasarkan kajian yang dilakukan terdapat relevansi atas apa yang diwacanakan Gus Dur dengan beberapa gejala yang muncul pada Islam Indonesia saat ini. Pertama, Pandangan Jihad yang keliru di sebagian kalangan Islam sendiri yaitu munculnya terorisme secara terbuka yaitu gerakan ISIS di Indonesia. Kedua, Kekerasan atas nama agama semakin merebak yaitu oleh kalangan Islam Garis Keras seperti Front Pembela Islam (FPI), Forum Umat Islam (FUI), Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI) dan lain-lain. Ketiga, Munculnya kembali perdebatan soal Pancasila dan Khilafah terutama digaungkan oleh Hibut Tahrir Indonesia (HTI) dan beberapa kalangan Islam yang mendukung perseteruan Khilafah vis a vis Pancasila. Dalam membahas Islam Nusantara, penulis mendayagunakan teori counter-hegemony Antonio Gramsci dimana perlawanan atas radikalisme agama dilakukan dengan melakukan budaya tanding dengan wajah Islam yang toleran. Oleh sebab itu, tulisan ini akan mengupas dan menjelaskan secara mendalam wacana Islam Nusantara dengan manarik jauh atas gagasan yang dikenalkan oleh Gus Dur yaitu melalui pribumisasi Islam-nya sejak era 80-an sampai gagasan Islam Nusantara yang dimunculkan PBNU saat ini. Sehingga dapat dicapai suatu pengetahuan (knowledge) dan pemahaman (verstehen) menuju peradaban Islam Nusantara yang menghargai pluralitas, toleran dan rahmatan lil ‘alamin. This paper discusses about Islam Nusantara as a counter-cultural hegemony againts the radicalism of religion in Indonesia. Based on studies conducted there is relevance for what discured Wahid with some symptoms that appear in Islamic Indonesia at this moment. First, the view of Jihad among of most Muslims, namely the emergence of terrorism openly i.e. movement of ISIS in Indonesia. Second, Violence in the name of religion is increasingly spread by the Hard-line Islamic circles such as the Islamic Defenders Front (FPI), Muslim Forum (FUI, Indonesian Mujahideen Council (MMI) and others. Third, the reappearance of the debate the question of Pancasila and the Caliphate was mainly undertaken by Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) and some Islamic circles that supported caliphate feud vis a vis the Pancasila. In discussing Islam Nusantara, the authors utilize the theory of counter-hegemony Antonio Gramsci where resistance against religious radicalism is done by doing a counter culture with the face of a tolerant Islam. Therefore, this article will discuss and explain in depth discourse of Islam Nusantara with interested much on the idea introduced by Gus Dur, namely through its indigenization of Islam since the '80s. In order to get a knowledge and understanding (verstehen) toward Islam Nusantara civilization that respects plurality, tolerance and rahmatan lil ‘Alamin.
DERADIKALISASI ISLAM MELALUI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL BERBASIS KEARIFAN LOKAL PADA MASYARAKAT CIGUGUR Arif, Muhammad
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 22 No 1 (2017): Islam, Radicalism, dan Terrorism
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v22i1.716

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan konteks deradikalisasi Islam melalui pendidikan multikultural berbasis kearifan lokal. Untuk maksud tersebut, dilakukan penelitian mendalam pada masyarakat Cigugur. Penelitian menghasilkan temuan bahwa sikap toleran, saling menghargai, saling menghormati, dan bahkan saling bekerja sama yang tercipta dalam kehidupan masyarakat Cigugur yang multi agama dan multikultural didukung oleh aktualisasi pendidikan multikultural berbasis kearifan lokal yang mencakup tiga dimensi, yakni dimensi waktu, dimensi tempat, dan dimensi isi. Menurut dimensi waktu, pendidikan diselenggarakan dalam tiga fase, yakni sateuacan nitis (sebelum nitis), sateuacan boboran (sebelum lahir), dan saatosna boboran (setelah lahir). Menurut dimensi tempat, masyarakat Cigugur menyelenggarakan pendidikan di lingkungan keluarga (pendidikan informal), lingkungan sekolah (pendidikan formal), dan lingkungan masyarakat (pendidikan nonformal). Sementara, menurut dimensi isi, terdapat etika sebagai pedoman dan tuntunan berperilaku sosial yakni berupa cara ciri manusia dan cara ciri bangsa. This article aims to describe the context of the de-radicalization of Islam through multicultural education based on local wisdom. For this purpose, conducted in-depth research on Cigugur society. The study produced findings that tolerance, mutual respect, and even cooperate with each other in Cigugur society that’s multi-religious and multicultural, supported by the actualization of multicultural education based on local wisdom that includes three dimensions, namely the dimension of time, the dimensions of the place, and dimensional content. According to the dimension of time, education was held in three phases, namely “sateuacan nitis” (before mariage), “sateuacan boboran” (before birth), and “saatosna boboran” (after birth). According to the dimensions of the place, the people Cigugur education in the family environment (informal education), school environment (formal education) and community (non-formal education). Meanwhile, according to the dimensions of the content, there are ethical guidelines and guidance in social behavior, namely “cara ciri manusia” and “cara-ciri bangsa”.
MEMBANGUN KEKUATAN NILAI PERJANJIAN SYARIAH DALAM UPAYA MENINGKATKAN KINERJA KARYAWAN BANK SYARIAH DI INDONESIA Yusuf, Ayus Ahmad; Layaman, Layaman; Wartoyo, Wartoyo
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 22 No 2 (2017): Ekonomi Islam dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v22i2.814

Abstract

Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya data empiris yang menunjukkan target pertumbuhan aset perbankan syariah dalam 5 tahun kebelakang tidak pernah tercapai. Berdasarkan data BI per Oktober 2014, total aset perbankan syariah baik Bank Umum Syariah (BUS) maupun Unit Usaha Syariah (UUS) mencapai Rp 260,36 triliun. Angka ini, hanya 4,78% dari total aset perbankan konvensional yang bernilai Rp 5.445,65 triliun. Bahkan, pangsa aset perbankan syariah di akhir Oktober 2014 justru lebih sedikit jika dibandingkan Oktober 2013 yang sebesar Rp 229,55 triliun atau 4,86% dari total aset perbankan. BI pada akhir tahun 2013 menargetkan porsi aset bank syariah sebesar 5,25%–6,25% dari total aset bank umum konvensional. Hal ini salah satunya diindikasikan terjadi karena kapabilitas dan kompetensi karyawan bank syariah yang tidak mumpuni. Terbukti dari penelitian sebelumnya bahwa 70% karyawan bank syariah bukan merupakan lulusan berbasis syariah, melainkan karyawan hasil mutasi dari bank konvensional induknya. Empat hipotesis dibangun untuk menyelesaikan masalah penelitian, dengan metode pengumpulan data purposive random sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah structural equational modeling yang menggunakan software AMOS 16. Berdasarkan hasil penelitian dihasilkan kesimpulan bahwa (1) Komitmen organisasi berpengaruh positif terhadap sharia engagement. (2) Komitmen organisasi tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan. (3) Kepemimpinan transformasional berpengaruh positif terhadap sharia engagement. (4) Kepemimpinan transformasional tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan dan (5) Sharia engagement berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Kata Kunci: Sharia Engagement, Bank Syariah, dan Kinerja Karyawan Abstract This research was motivated by the empirical data that shows the target growth of Islamic banking assets in 5 years back never reached. Based on BI data as of October 2014, the total assets of Islamic banking both Islamic Banks (BUS) and Sharia (UUS) reached Rp 260.36 trillion. This figure, only 4.78% of the total assets of conventional banks are worth Rp 5445.65 trillion. In fact, the share of Islamic banking assets at the end of October 2014 even less than in October 2013 from Rp 229.55 trillion, or 4.86% of total banking assets. BI at the end of 2013 targeting the portion of the assets of Islamic banks amounted to 5.25% -6.25% of the total assets of conventional banks. This is one of them indicated happen because of the capabilities and competence of employees of Islamic banks are not qualified. Evident from previous research that 70% of employees are graduates of Islamic banks is not based on sharia, but employees are the result of mutations of the parent conventional bank. Four hypotheses are built to solve the problem of research, data collection method purposive random sampling. Data analysis technique used is equational structural modeling using AMOS software 16. Based on the research produced the conclusion that (1) Commitment positive effect on sharia organization engagement. (2) The commitment the organization has no effect on employee performance. (3) Transformational leadership has positive influence on sharia engagement. (4) Transformational leadership does not affect the performance of employees, and (5) Sharia engagement positively affects employee performance Keywords: Engagement Sharia, Islamic Banking, and Employee Performance
PENGEMBANGAN BANK SAMPAH SYARIAH IKHTIAR PEMBERDAYAAN MEMAJUKAN EKONOMI KREATIF (STUDI BANK SAMPAH CANGKIR HIJAU) Suhada, Bambang; Setyawan, Dharma
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 22 No 2 (2017): Ekonomi Islam dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v22i2.815

Abstract

Abstrak Tulisan ini membahas pengembangan Bank Sampah Syariah dalam ikhtiar membangun pemberdayaan memajukan ekonomi kreatif studi Bank Sampah Cangkir Hijau di kota Metro Lampung. Pembangunan Bank Sampah dilakukanoleh Komunitas Cangkir Kamisan yang terdiri dari mahasiswa, akademisi, jurnalis, pengusaha selain mengelola sampah menjadi kerajinan kreatif juga berikhtiar mendorong pengembangan bank sampah syariah. Ikhtiar ini dilakukan dengan upaya menerapkan prinsip tabungan (murabahah), bagi hasil (mudharabah) Pendekatan etnografi digunakan untuk melihat perkembangam bank sampah ini dan mendayagunakan pemikiran Pierre Bourdieu tentang intelektual kolektif. Hasil pengelolaa bank sampah yang tengah dikembangkandengan prinsip-prinsip syariah tersebut ternyata bermanfaat untuk membiayai kuliah secara mandiri dan berbagai kegiatan sosial lainnya. Pada konteks inilah pembelajaran tentang Islam dan Pemberdayaan diletakan sebuah pengalaman sosial dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kata Kunci:Komunitas Cangkir Kamisan, Bank Sampah Syariah, Ekonomi Kreatif, dan Pemberdayaan, Abstract This study was mainly aimed to discuss the development of Syaria Junk Bank in attempting to build the productivity of creative economy at Junk Bank of Cangkir Hijau, Metro, Lampung. The development was undertaken by Cangkir Kamisan Community consisting of students, academicians ,journalists, and entrepreneurs. Aside from organizing the junk to become creative enterprise, they attempted to urge the development of Syaria Junk Bank. Those attempts were carried out by applying saving (Murabahah) and profit sharing (Mudharabah) principles. Ethnographic approach was used to notice the progress of Junk Bank and to utilize Pierre Bordieu’s thought related to collective intellectuals. It has been noticed that the result of Syaria Junk Bank was beneficial to defray the tuition fee independently and to organize various social activities. In this case, the learning of Islam and empowerment were involved for gaining social experience and expanding science as well. Keywords : Cangkir Kamisan Community, Syaria Junk Bank, Creative Economy, and Empowerment.
ANALISIS PERAN KEAGAMAAN TERHADAP PROSES PENDIDIKAN KURSUS BAHASA INGGRIS (STUDI KASUS DI KAMPUNG INGGRIS PARE KEDIRI JAWA TIMUR) Aziz, Muhamad Abdul
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 22 No 2 (2017): Ekonomi Islam dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v22i2.816

Abstract

Abstrak Pare merupakan salah satu daerah koordinator kecamatan di Kabupaten Kediri. Pare termasuk daerah yang telah berkembang secara pesat, dan dikenal sebagai Kampung Bahasa, atau Pusat Pelatihan Bahasa Asing terbesar diIndonesia. Paper ini adalah kajian yang berbasis penelitian lapangan (field research) Paper ini bertujuan untuk mengetahui peranan keagamaan didalam pendidikan kursusan berbasis bahasa pada siswa di Kampung Inggris. Penelitian ini sangat menarik karena Pendidikan kursus berbasis bahasa dikaji dalam hubungan nya dengan ke agamaan, dimana peserta didik sebagai objek sentralnya. Selanjutnya, penelitian ini adalah jenis penelitian deskripstif kualitatif yang dilakukan selama 3 bulan pada tanggal 1 Juni 2015. Populasi dari penelitian ini adalah semua kursus lembaga yang ada di kampung Inggris Pare Kediri. Data penelitian diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Pada paper ini terdapat tiga persoalan yang hendak di kaji pertama, sejauh mana proses belajar agama di Kampung Inggris setelah banyaknya warga pendatang?Kedua, sejauh mana proses belajar agama dikawasan yang wajib berbahasa Inggris? Ketiga, sejauh mana peranan lingkungan Kampung Inggris terhadap proses belajar agama di kampung Inggrs? Maka dihasilkan beberapa hal, yaitu pertama, mengetahui sejauh mana proses belajar agama di Kampung Inggris setelah banyaknya warga pendatang. Kedua, mengetahui sejauh mana proses belajar agama dikawasan yang wajib berbahasa Inggris, ketiga mengetahui peranan lingkungan Kampung Inggris terhadap proses belajar agama di kampung Inggris. Kata Kunci : Keagamaan, Pendidikan Bahasa, dan Kampung Inggris. Abstract Pare is one area in Kediri district coordinators. Pare including areas that had been growing rapidly, and is known as Kampung Language, Foreign Language Training Center or the largest companies . This paper is based on field research study (field research) This paper is based on field research study (field research) This paper aims to determine the role of religion in education kursusan language based on the student at Kampung Inggris. This research is very interesting because of the language -based education courses examined in its relations with all religious, where the learner as the central object. Furthermore, this study is the kind of qualitative research conducted deskripstif for 3 months on June 1, 2015. The population of this research is all of course agencies in the village Pare. Data were obtained through interviews, observation and documentation. In this paper, there are three issues to be investigated The first, the extent to which the process of religious learning in Kampung Inggris after the immigrant population? Secondly, how far has the area of religious study is required to speak English? Third, the extent to which the role of the British village environment to the learning process in the village Inggrs religion? Then produced a couple of things: first, determine the extent of religious learning process in Kampung Inggriss after the immigrant population. Second, determine the extent of religious learning process that must speak English region, three British Kampung know the role of the environment on the process of religious learning in the British village. Keywords: Religious, Language Education, and Kampung Inggris.
MEKANISME QUR’ANI PENGELOLAAN KEUANGAN PUBLIK Rosidin, Rosidin
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 22 No 2 (2017): Ekonomi Islam dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v22i2.817

Abstract

Abstrak Pengelolaan keuangan publik merupakan amanah yang harus diemban dengan penuh tanggung jawab. Problematika menyangkut pengelolaan keuangan publik harus segera dituntaskan dengan menerapkan aneka alternatif solusi, baik didasarkan pada studi teoretis, empiris maupun normatif. Tulisan ini bermaksud menyingkap kandungan al-Qur’an terkait mekanisme pengelolaan keuangan publik melalui operasionalisasi metode tafsir tarbawi yang melibatkan tiga tahap teknik analisis, yaitu kebahasaan (lughawi), isi (tahlili) dan kependidikan (tarbawi). Signifikansi studi normatif ini adalah memberikan nuansa aksiologis, sehingga pengelolaan keuangan publik didasarkan pada pertimbangan halal-haram, adil-zhalim, baik-buruk, maslahat-mafsadat, dan sistem nilai Islami lainnya. Nuansa aksiologis inilah yang menjadi distinction antara pengelolaan keuangan publik yang Islami dengan yang non-Islami. Mekanisme Qur’ani pengelolaan keuangan publik yang ditawarkan dalam tulisan ini memuat tiga hal pokok. Pertama, pentingnya relasi korelatif yang harmonis antara pihak pengelola (imam) dengan publik (umat) dalam implementasi kebijakan yang baik, dengan didasarkan pada prinsip good governance, melalui program-program dinamis-kontekstual berbasis kerjasama Islami (ta’awun dan musyarakah) yang melibatkan pihak pengelola dengan publik. Kedua, implementasi sikap moderat melalui tiga model aktivitas ekonomi, yaitu pengelola menyeimbangkan aspek sosial-insaniyah dan spiritual-ilahiah dalam pengelolaan keuangan publik; pengelola terlibat aktif dalam realisasi fungsi sosial keuangan bagi publik; serta pengelola menjadi teladan (role model) bagi publik dalam hal gaya hidup hemat. Ketiga, pengelola meneladani empat kompetensi utama Nabi Yusuf AS yang terbukti berhasil menjalankan amanah sebagai pengelola keuangan publik, yaitu kompetensi Makin (berwenang), Amin (terpercaya), Hafizh (hemat) dan ‘Alim (cermat). Kata Kunci: Pengelolaan, Keuangan, Publik, dan Qur’ani Abstract Public finance management is a duty that must be carried on with full responsibility. Problematics concerning public finance management must be resolved by applying a variety of alternative solutions, based on theoretical, empirical and normative studies. This paper aims to examine the verses of the Holy Qur'an that related to public finance management. This paper based on Tafsir Tarbawi method that involves language analysis (lughawi), content analysis (tahlili) and Islam education analysis (tarbawi). The significance of this research is to provide an axiological shades, so that the public finance management always consider halal-haram, fair-unfair, good-bad, advantage-disadvantage, and other Islamic value system. This axiological shades is the distinction between Islamic and non-Islamic public finance management. This paper proposes three main points of Qur’anic mechanism of public finance management. First, the importance of harmonious relationship between government (imam) and public (ummah). Therefore, government have to manage public finance based on the principle of good governance, through implementation of Islamic cooperation programs (ta’awun and musyarakah) between government and public. Second, implementation of moderate life style on economic activities through three models: government have to balance social and spiritual aspects in public finance management; government actively attempt to realize social functions of public finance; and government become a role model for public in terms of frugal lifestyle. Third, goverment emulate the four core competencies of Prophet Joseph. He is a role model of successful figure in terms of public finance management, because of his competencies, those are Makin (competent authorities), Amin (trustworthy), Hafiz (protector) and ‘Alim (knowledgeable). Keywords: Management, Finance, Public, and Quranic
AN ANALYSIS OF ZAKAH FUNDS THROUGH COMMUNITY BASED DEVELOPMENT Dacholfany, M. Ihsan; Hendri, Nedi
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 22 No 2 (2017): Ekonomi Islam dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v22i2.818

Abstract

Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui model prototipe optimalisasi dana amal yang tepat dalam pemberdayaan masyarakat miskin perkotaan berdasarkan kearifan lokal di Lampung. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan data yang berasal dari hasil Diskusi Kelompok yang terfokus dan wawancara mendalam dengan pembicara adalah tahap identifikasi model. Kemudian model rekonstruksi menggunakan analisis komparatif. Pengembangan Berbasis Masyarakat ini menggunakan metode yang melibatkan masyarakat dalam pembangunan. Di mana konstruksi dimulai pada tahap ide, perencanaan, kegiatan pengembangan program, penganggaran, pengadaan sumber daya hingga implementasi yang lebih menekankan pada keinginan nyata atau kebutuhan nyata masyarakat dalam sekelompok orang. Melalui Relasi Mustahiq yang sangat membantu sebagai sumber daya manusia, Dengan harapan Pengembangan Masyarakat Terpadu diharaplan menjadi pusat penyaluran program tersebut sehingga programnya lebih terukur, dan terkendali. Kata kunci: Dana Zakat, Pemberdayaan, Miskin Perkotaan, dan Pengembangan Berbasis Masyarakat Abstract The aim of this study is to find a prototype model of the proper optimization of charity funds in the empowerment of the poor town based on local wisdom in Lampung. This study used a survey method with the data derived from the results of the Focus Group Discussion (FGD) and in-depth interviews with the speakers is the model identification stage. Then, reconstruction model using comparative analysis. Community Based Development (CBD) is a method that involves communities in development. Where constructions began on the stage of ideas, planning, program development activities, budgeting, procurement of resources to the implementation of a more emphasis on real desire or the real needs of the community in a group of people. Through Mustahiq Relation Officer (MRO) ashuman resources assistant, Integrated Community Development (ICD) became the center ofthe distribution of the program so that the program is more scalable, and controlled. Keywords: Zakah Fund, Empowerment, Poor Urban, and Community Based Development (CBD).