cover
Contact Name
Dedi Wahyudi
Contact Email
akademikametro@gmail.com
Phone
+6282324480562
Journal Mail Official
akademikametro@gmail.com
Editorial Address
Institut Agama Islam Negeri Metro Lampung
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam
ISSN : 1693069X     EISSN : 23562420     DOI : https://doi.org/10.32332/akademika
Akademika provides a means for sustained discussion of relevant issues that fall within the focus and scopes of the journal which can be examined empirically. Akademika welcome papers from academicians on theories, philosophy, conceptual paradigms, academic research, as well as religion practices
Articles 470 Documents
PELEMBAGAAN NILAI PLURALISME AGAMA DAN POLITIK DALAM PIAGAM MADINAH DAN REFLEKSINYA DI INDONESIA Ridwan, Ridwan
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 2 (2016): Islam dan Integrasi Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Madinah adalah sebuah masyarakat yang multi-etnis dan agamais dengan identitas politik, budaya dan agama yang tidak sama. Piagam Madinah adalah sebuah manifesto kesadaran baru masyarakat dalam mengurus hubungan diantara masyarakat yang agamais secara berdampingan dan bermartabat. Tulisan ini membuktikan bahwa Piagam Madinah adalah sebuah instrumen konstitusional bagi mereka yang mencari rumusan resolusi konflik dalam islam. Substansi Piagam Madinah menjelaskan proses pelembagaan pluralisme agama dan nilai-nilai politik dengan semangat hidup berdampingan dan damai. Piagam Madinah tidak hanya diposisikan sebagai sumber agama yang tekstual, tetapi juga sebagai sebuah fakta sejarah atas kemampuan Nabi dalam memimpin masyarakat Madinah dengan nila-nilai lokal, dimana beliau mengambil peranan yang strategis dalam melakukan negosiasi dan komplromi, terutama dalam penataan hubungan sosial ditengah pluralisme agama dan politik. Medina is a multi-ethnic and religious community with political identity, cultural and religious disparate. The Medina Charter is a manifesto of a new awareness of the community in managing the relationship between religious communities for coexistence with dignity. This article proves that the Medina Charter is a constitutional instrument for those who seek a formulation of conflict resolution in Islam. The substance of the Medina Charter describes the process of institutionalization of religious pluralism and political values with the spirit of coexistence and peace. Medina Charter is not only positioned as a textual religious source, but also as a historical fact on the ability of the Prophet in managing Medina community with local values, in which he then took the strategic roles in conducting negotiations and compromises, especially in structuring social relations amid religious and political pluralism.
PERAN SUFI BATAK DALAM PERSAUDARAAN LINTAS IMAN DI TANAH BATAK: STUDI KASUS TAREKAT NAQSYABANDIYAH-KHALIDIYAH SERAMBI BABUSSALAM (TNKSB) Hidayat, Ziaulhaq
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 2 (2016): Islam dan Integrasi Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas peran sufi Batak dalam membangun persaudaraan lintas iman di Tanah Batak dengan referensi khusus Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah Serambi Babussalam (TNKSB). Penelitian ini menjelaskan fenomena hubungan antar iman di tengah masyarakat Batak yang diyakini terkait dengan peran sufi Batak. Pengkajian ini mempelajari bagaimana sufi Batak membangun persaudaraan lintas iman dan struktur sosial akibat interaksi keduanya. Penelitian menemukan bahwa hubungan ini dibangun karena sufi Batak sebagai pemimpin spiritual dan tradisional yang memiliki peran dalam interaksi agama, sosial dan budaya, sehingga Islam dan Kristen dianggap sebagai ‘saudara kandung’ dalam ikatan persaudaraan Batak. This paper discusses the Batak sufis role in building interfaith relationship in the Batak region (Tanah Batak) with a special reference to Tarekat Naqshabandiyya-Khalidiyya Serambi Babussalam (TNKSB). This research was conducted with regard to the phenomenon of interfaith relationship happened in the middle of the Batak which are believed to be related to the role of sufis Batak. It studied how the Batak sufis built interfaith relationship and the consequent structure of their social interaction. It was found that such relationship was easily built because the Batak sufis were regarded both as spiritual and traditional leaders who had roles in Batak religious, social and cultural interactions. Islam and Christian were considered as ‘sibling’ religions within the fold of Batak brotherhood.
PENGEMBANGAN MODEL BLENDED LEARNINGMATA KULIAH PERENCANAAN PEMBELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK MEWUJUDKAN ISLAMIC CYBER CAMPUS Isa, Yamanto
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 2 (2016): Islam dan Integrasi Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model blended learning dalam meningkatkan hasil belajar mata kuliah perencanaan pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi program studi Teknologi Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Baturaja. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (R&D) dengan desain pengembangan Dick dan Carey dan Model Pengembangan Instruksional (MPI). Bahan pembelajaran model blended learning ini dikembangkan melalui validasi ahli desain pembelajaran, ahli materi pembelajaran, dan ahli media pembelajaran serta diuji cobakan secara perorangan (one-to-one learner), kelompok kecil (small group), dan uji coba lapangan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan nilai rata-rata mahasiswa sebelum (pretest) dan sesudah (post test) pengembangan model. Dengan demikian pengunaan bahan pembelajaran TIK melalui penerapan model blended learning dapat meningkatkan hasil belajar.This research aimed at developing blended learning of model, to producing a variety of instructional material that can be used in inccordance with the need of learning in helping the learning process. The research was in conducted at Baturaja University at major Technology of Education. The Research method was Research and Development (R&D) model development Dick and Carey and Model Depelopment Instruktional (MPI). The developmental process applied two kind of validation, they were expert and empirical validation. Emperical validation conducted three field, one-to-one learner treatment 3 students small group treatment which is cover 9 students, and large treatment 30 students. The research resulted that model purposed could be effective development of blended learning model.
ISLAM DAN INTEGRASI SOSIAL DALAM CERMINAN MASYARAKAT NUSANTARA Ninsiana, Widhiya
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 2 (2016): Islam dan Integrasi Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas tentang islam dan integrasi sosial dalam cerminan masyarakat nusantara. Melalui perspektif agama, Indonesia merupakan bangsa yang beragama Islam terbesar di dunia, tetapi berdasarkan agama, politik dan ideologi, Indonesia bukanlan negara islam. Akan tetapi, Islam di Indonesia tidaklah asli. Ajaran dan nilai-nilai keislaman telah memberikan kontribusi pada pembentukan budaya bangsa. Agama sebagai sistem realitas yang praksis memiliki fleksibilitas, apresiasi, dan properti tradisi dan budaya yang berkembang. Integrasi sosial adalah proses sosial dari anggota masyarakat tertentu terlepas dari keragaman budaya dan keyakinan agama. Mereka sadar akan kewajiban untuk membangun solidaritas berdasarkan hubungan yang kuat dalam membangun bangsa. Dalam interaksi ditunjukkan dengan kontak dan komunikasi satu sama lain. Interaksi yang dapat dilihat dari budaya yang ada di masyarakat dengan akomodasi serta alkulturasi dan kerjasama dalam masyarakat, seperti, penerapan ajaran dan masuknya budaya luar, pembentukan budaya baru dan perpaduan dua budaya.This article discusses the Islamic and social integration in a mirror of society archipelago. Through a religious perspective, Indonesia is a largest muslim nation in the world, but in religion, politics and ideology, Indonesia is not an Islamic state. However, Islam in Indonesia is not genuine. Teachings and values of Islam has greatly contributed to the formation of the nation's culture. Religion as a living reality system that praxis has a flexibility, appreciation and property of the tradition and culture that flourished. Social integration is a social process of a particular member of society regardless of the diversity of cultures and religious beliefs, they are aware of the obligation to build solidarity based on a strong relationship in building the nation. In the interaction indicated with contacts and communications eact other. The interplay that can be seen from the cultures that exist in the community with their accommodation and acculturation and cooperation in society, such as, the inclusion of the teachings and the entry of outside cultures, forming a new culture and a blend of the two cultures.
PLURALISME AGAMA DALAM PANDANGAN ISLAM As'ad, Mahrus
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 17 No 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah diketahui bahwa terdapat perdebatan pluralisme di antara sarjana Muslim di Indonesia kotemporer. Kebanyakan dari mereka sangat menentang dan menganggap pluralisme sebagai unIslamic. Meskipun demikian, banyak yang menyutujui dan mempercayaipluralisme bahwa gagasan tersebut berasal dari sumber dasar Islam. Dalam tulisan ini, penulis menyataakan bahwa pluralisme Islam menghormati terhadap kebenaran agama lain. Meskipun demikian, baginya, masyarakat semestinya mendasarkan komitmen dan loyalitas mereka terhadap agama yang mereka yakini. It has been accepted that there has been dispute over pluralism among Muslim scholars in contemporary Indonesia. Many of them extremely argue against and regard it as unislamic. Nevertheless, many agree with it and believe that such an idea is rooted from Islamic primary sources. In this article, the author asserts that pluralism in Islam pays respect to the truth based on other religions. Nevertheless, to him, people should base their commitment and loyality to pluralsime on the faiths they trust in.
DERADIKALISASI BERBASIS NILAI-NILAI PESANTREN STUDI FENOMENOLOGIS DI TULUNGAGUNG Naim, Ngainun
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 22 No 1 (2017): Islam, Radicalism, dan Terrorism
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v22i1.560

Abstract

Gerakan Islam radikal telah hadir dan melebarkan sayap organisasi di Tulungagung. Fenomena ini tampaknya belum mendapatkan respon memadai dari pihak pemerintah daerah. Padahal, eksistensi Islam radikal cukup membahayakan kehidupan sosial kemasyarakatan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan berbagai strategi untuk membendung persebaran ideologi dan gerakan Islam radikal. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui respon para kiai Tulungagung terhadap Islam radikal dan strategi yang dilakukan untuk membendung penyebaran ideologi Islam radikal. Para kiai di Tulungagung memandang bahwa Islam radikal membahayakan bagi kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Salah satu alasannya karena ideologi Islam radikal mengabsahkan kekerasan. Selain itu, karakteristik mereka yang eksklusif menjadikan eksistensinya sering menjadi masalah bagi masyarakat yang ada di sekitarnya. Pondok Pesantren merupakan salah satu institusi yang memiliki potensi besar untuk melakukan aktivitas deradikalisasi. Langkah yang ditempuh adalah dengan melakukan aktualisasi nilai-nilai pesantren. Aktualisasi nilai-nilai pesantren penting dilakukan karena dengan cara semacam ini diharapkan tumbuh pemahaman dan kesadaran secara luas terhadap keberadaan Islam radikal dan bahayanya bagi kehidupan. Data yang disajikan dalam kajian ini berasal dari wawancara dan observasi terhadap beberapa kiai di Tulungagung. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan kerangka teori deradikalisasi. Penelitian ini menemukan bahwa para kiai di Tulungagung telah berusaha keras membendung arus Islam radikal ke dalam berbagai usaha deradikalisasi. Usaha para kiai tersebut penting dalam kerangka menghadirkan Islam moderat yang menghargai terhadap pluralitas di masyarakat. The radical Islamic movement has come and expanded its organization in Tulungagung. This phenomenon has seemingly got no adequate response from the local government yet. In fact, its existence has threatened the long term-social life. Therefore, it needs various strategies to stem the spread of radical Islamic ideology and movement. This article is intended to find out the responses of kyai (ulama, experts in Islam) in Tulungagung towards the radical Islam and strategies undertaken to stem the spread of radical Islamic ideology. The kyais in Tulungagung consider that the radical Islam endangers the life of society as a whole. One of the reason is that the ideology endorses violence. In addition, their exclusive characteristics make their existence be a problem for the surrounding people. Islamic boarding school (pondok pesantren) is then taken into account as an institution which has great potential for deradicalization activities. The step done is by actualizing the values of pesantren which is significant to establish broad understanding and awareness on the existence of radical Islam and its dangers for the life. The data presented in this study were collected through interviewing and doing observations to some kyais in Tulungagung. The collected data were subsequently analyzed by using the theorical framework of deradicalisation. The study reveals that kyais in Tulungagung have tried hard to stem the flow of radical Islam through various efforts of deradicalization which are essential to introduce a moderate Islam appreciating the values of plurality in society.
RESPONS AL JAM’IYATUL WASHLIYAH TERHADAP TERORISME Ja'far, Ja'far
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 22 No 1 (2017): Islam, Radicalism, dan Terrorism
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v22i1.561

Abstract

Al Washliyah merupakan satu di antara banyak organisasi Islam yang menolak paham dan gerakan terorisme di Indonesia. Artikel ini mengkaji respons Al Washliyah terhadap terorisme. Kajian ini menarik dilakukan, sebab organisasi ini memiliki pengikut yang fanatik dan mengelola amal usaha yang banyak, tetapi masih relatif jarang diteliti oleh para peneliti. Kajian ini merupakan studi lapangan (library research) dimana sumber datanya diperoleh dari kegiatan wawancara dan studi dokumen. Data dianalisis dengan menggunakan metode analisis data menurut Miles dan Huberman: reduksi data, pemaparan data, dan penarikan kesimpulan. Didasari dengan teori Matusitz, Pranawati, dan Golose tentang doktrin terorisme dimana gerakan ini ingin mendirikan negara Islam, memaknai jihad sebagai perang, anti terhadap non-Muslim, dan melegalkan bom bunuh diri, kajian ini akan menelaah respons Al Washliyah terhadap empat persoalan tersebut. Kajian ini mengajukan temuan bahwa Al Washliyah menolak paham dan gerakan terorisme yang muncul dan berkembang di Indonesia, dan para ulamanya menilai bahwa kaum teroris telah salah dalam memahami ajaran Islam. Temuan kajian ini dapat berkontribusi bagi pemerintah dalam upaya menanggulangi gerakan terorisme di Indonesia. Al Washliyah is one of Islamic organizations that rejects the concept of terrorism in Indonesia. This article examines Al Washliyah's responses to terrorism. This study is interesting because this organization has fanatic followers and manages many business charities, but rarely investigated by researchers. This research is field studies where the data sources obtained from the interviews activities and document studies. Data were analyzed by using data analysis method according to Miles and Huberman: data reduction, data display, and conclusion. Based on the theory of Matusitz, Pranawati, and Golose about terrorism doctrine in which the program wants to establish an Islamic state, interpret jihad as war, anti to non-Muslims, and legalize suicide bombings, this study will examine the Al Washliyah's responses to those four issues. This study proposes that Al Washliyah rejects the concept of terrorism which appears and develops in Indonesia, and ulama consider that terrorists have misunderstood on Islamic concept. The findings of this study may contribute to the government in combating terrorism movement in Indonesia.
MERAYAKAN KUASA AGAMA: ETNOGRAFI RAZIA PENEGAKAN SYARIAT ISLAM DI LANGSA, ACEH Ansor, Muhammad
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 22 No 1 (2017): Islam, Radicalism, dan Terrorism
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v22i1.562

Abstract

Tulisan ini mempresentasikan etnografi razia penegakan syariat Islam di Langsa, Aceh. Studi berargumen bahwa razia syariat Islam merupakan salah satu bentuk perayaan kuasa agama oleh negara yang berkontribusi terhadap reproduksi intoleransi dan kekerasan dalam beragama. Data yang digunakan bersumber dari studi etnografis di Langsa pada semester kedua tahun 2012. Pertama-tama saya akan menyajikan tinjauan umum tentang Dinas Syariat Islam (DSI) dan Wilayatul Hisbah (WH) serta posisinya sebagai institusi yang memiliki otoritas tidak hanya untuk mendefinisikan moralitas publik, tetapi terkadang juga bertindak represif melalui razia syariat Islam di Aceh. Pemaparan menunjukkan represi tersebut melalui catatan etnografis tentang razia khalwat dan pakaian ketat di Langsa. Tulisan pada akhirnya memperlihatkan gosip sebagai salah satu bentuk resistensi kreatif terhadap represi yang dilakukan negara dan elite agama di Langsa dengan mengatas-namakan penegakan syariat Islam. This paper presents the ethnography of Sharia’ enforcement raids in Langsa, Aceh. It presents the argument that Sharia’ enforcement raids is one of religious power celebrations by the state that contribute towards intolerance reproduction and violence in religion. Ethnographic data were obtained from field reseach in Langsa in the second half of 2012. First of all, I presented an overview on the State Shari’a Agency (Dinas Syariat Islam) and the “Shari’a Police” (Wilayatul Hisbah) as well as their positions as institutions which had not only the authority in defining public morality, but also repressing Sharia’ enforcement raids in Aceh. Exposure of this study showed there was repression through ethnographic records about the roadside WH inspection on khalwat and dress code as the enforcement of Shari’a norms of public morality in Langsa. Finally, this paper highlighted that gossip was a form of creative resistance against repression by the State and the religious elites concerning Sharia’ enforcement in Langsa.
RADIKALISME AGAMA DAN UPAYA DERADIKALISASI PEMAHAMAN KEAGAMAAN Zuhdi, Muhammad Harfin
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 22 No 1 (2017): Islam, Radicalism, dan Terrorism
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v22i1.568

Abstract

Fenomena radikalisme agama merupakan persoalan yang berhubungan dengan pengalaman inti, memori kolektif dan penafsiran agama. secara umum setiap agama memiliki dua fungsi: pertama, fungsi manifest, yaitu fungsi yang disadari betul oleh para pengikutnya sebagai manifestasi objektif dari suatu sistem sosial, misalnya meningkatkan kehesivitas umat (ukuwah islamiyah). Kedua, fungsi laten, yaitu fungsi yang tidak dikehendaki secara sadar dari sistem sosial tersebut dalam memunculkan radikalisme, dan agama merupakan lahan empuk untuk menjadi crying banner dalam melakukan tindakan radikalisme. Dalam konteks agama Islam, salah satu penyebabnya adalah pemahaman yang keliru atas ayat-ayat al-Qur’an dan juga hadis Nabi tentang jihad dan perang. Tulisan ini bermaksud mendeskripsikan wacana radikalisme agama dan untuk menelaah ayat-ayat tersebut dengan memerhatikan makna dan konteks kesejarahannya sehingga dihasilkan pemahaman yang benar dan komprehensif. Hasil penelaahan memberikan kesimpulan bahwa jihad dan qital dalam al-Qur’an berbeda dengan tindakan radikalisme. The phenomenon of religious radicalism is a matter related to core experience, collective memory and religious interpretation. In general, every religion has two functions: first, the manifest function is a function that its followers perceive as an objective manifestation of a social system, for example increasing the dignity of the ummah (ukuwah islamiyah). Secondly, latent functions, the unwittingly conscious function of the social system in generating radicalism, and religion is a soft field to become a crying banner in the conduct of radicalism. In the context of Islam, one of the reasons is the missunderstanding of the verses of Qur’an and the traditions of the Prophets of jihad and war (qital). This paper aims to describe the discourse of religious radicalism and to review these verses with regard to the meaning and historical context that result the correct and comprehensive understanding. This article concludes that jihad and war (qital) in the Qur’an is different from the act of radicalism.
MASJID DAN IDEOLOGISASI RADIKASLISME ISLAM: MENYOAL PERAN MASJID SEBAGAI MEDIA TRANSFORMASI IDEOLOGI Sunaryo, Agus
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 22 No 1 (2017): Islam, Radicalism, dan Terrorism
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v22i1.569

Abstract

Radikalisme saat ini telah menjadi isu utama dalam diskursus keislaman kontemporer. Berdirinya Negara Islam Iraq dan Suriah dianggap sebagai ancaman bagi sebagian kalangan di sisi lain, namun juga menjadi bukti bahwa radikalisme benar-benar nyata dan kuat di lain sisi. Indonesia menjadi salah satu negara yang tidak pernah sepi dari diskusi dan praktik radikalisme. Tertangkapnya banyak aktivis radikalis, belum mampu meredam laju gerak radikalisme Islam di Indonesia. Propaganda-propaganda kekerasan, intimidatif, dan intoleran menjadi pemandangan yang kerapkali mewarnai mimbar-mimbar khutbah, diskusi-diskusi keagamaan, atau bahkan spanduk dan pamfllet yang mudah dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Dalam konteks ini masjid sering dijadikan tempat untuk sosialisasi dan kaderisasi kelompok Islam radikal. Posisinya yang banyak dikunjungi orang, dianggap efektif untuk proyek ideologisasi. Apalagi orientasi orang mendatangi masjid, umumnya adalah untuk mendapatkan “pencerahan”spiritual. Hal ini tentunya selaras dengan karakter ideologisasi Islam radikal yang menawarkan konsep kekerasan dan intoleran dengan balutan pesan-pesan keagamaan. Artikel ini akan mencoba mengkaji proyek ideologisasi Islam radikal yang memanfaat masjid sebagai home base kegiatannya. Lebih dari itu, apa yang seharusnya menjadi focus kebijakan pemerintah untuk menyelamatkan masjid dan membendung laju gerak radikalisme Islam juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kajian artikel ini. The radicalism, at this time, has been prominent issue in islamic contemporary discourse. Standing of Islamic state on Iraq and Syiria has been regarded as threat by some people in one side, but also been a proof that radicalism very obvious and stronght in other side. Indonesia has been one country that discuss and practice of radicalism never quiet at there. Getting caught of some radical-activist, couldn’t stop moving of islamic radicalism in Indonesia. Propaganda’s of violent, intimidative, and intolerant, have been viewpoint that usually colored the platform’s sermon, religious discusses, or also banner and pamphlet that was very easy to found it in near of all Indonesian district. Mosque, in this context, often to be place for socialization and forming of cadres of Islamic radicalist. It’s positioning that been visited by much people, regarderd as effective for ideological project. Especially that people’s orientation come to the mosque is getting spiritual enlightenmet. It has been in harmony with ideological character of Islamic radicalism wich bargain a violent concept with covering of religious messages. This article will investigate ideological project of Islamic radicalism that exploit the mosque to be it’s home base activities. The policies of government that must been done for stopping Islamic radicalism also would investigated by this article.