cover
Contact Name
Dedi Wahyudi
Contact Email
akademikametro@gmail.com
Phone
+6282324480562
Journal Mail Official
akademikametro@gmail.com
Editorial Address
Institut Agama Islam Negeri Metro Lampung
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam
ISSN : 1693069X     EISSN : 23562420     DOI : https://doi.org/10.32332/akademika
Akademika provides a means for sustained discussion of relevant issues that fall within the focus and scopes of the journal which can be examined empirically. Akademika welcome papers from academicians on theories, philosophy, conceptual paradigms, academic research, as well as religion practices
Articles 470 Documents
PENDIDIKAN KARAKTER KEBANGSAAN DALAM SYIIR NGUDI SUSILO DAN SYIIR MITRA SEJATI KARYA KH. BISRI MUSTOFA REMBANG Isa, Yamanto
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 23 No 2 (2018): Islam, Kenegaraan, dan Kebangsaan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v23i2.1164

Abstract

Abstrak Generasi penerus bangsa wajib memiliki karakter kebangsaan yang akan menjadi tumpuan bagi kelangsungan bangsanya. Salah satu caranya adalah dengan melakukan internalisasi nilai-nilai karakter warga negara yang baik. Transmisi nilai-nilai karakter warga negara yang baik bisa dilakukan melalui pendidikan. Artikel ini mengkaji bagaimana KH. Bisri Musthofa menanamkan semangat dan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi penerus melalui dua kitabnya, Syiir Ngudi Susila dan Syiir Mitra Sejati. Dalam kitab Syiir Ngudi Susila, KH. Bisri Mustofa mengajarkan agar seorang anak memiliki fondasi karakter pribadi yang kuat sebelum mengemban amanah yang besar di masa depan. Sedangkan dalam kitab Syiir Mitra Sejati, KH. Bisri Musthofa mengajarkan prinsip-prinsip penting dalam menjadi pribadi yang baik dalam lingkungan keluarga, sosial, masyarakat, hingga menjadi warga negara yang baik secara lebih detil dan mendalam. Kata kunci: pendidikan karakter, warganegara, Syiir Ngudi Susila, Syiir Mitra Sejati, Bisri Musthofa Abstract The nation's successor must have a national character that will be the foundation for the continuity of the nation. Transmission of the values of the character of a good citizen can be done through education. This article examines how KH. Bisri Musthofa instilled the spirit and values of the nation to the next generation through his two books, Syiir Ngudi Susila and Syiir Mitra Sejati. In the Syriir Ngudi Susila, KH. Bisri Mustofa teaches that a child has a strong foundation of personal character before carrying out a big mandate in the future. While in Syiir Mitra Sejati, KH. Bisri Musthofa teaches important principles in becoming a good person in the family, social, community, to being a good citizen in more detail and depth. Keywords: caracter education, citizen, Syiir Ngudi Susila, Syiir Mitra Sejati, Bisri Musthofa
ANALISIS PENERAPAN PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNANCE DALAM EVALUASI PERKULIAHAN DOSEN TADRIS IPA Saputro, Budiyono
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 23 No 1 (2018): Good Coorporate Governance dan Manajemen Lembaga Pendidikan Islam
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v23i1.1165

Abstract

Abstract This article is aimed at analyzing the implementation of Good Corporate Governance in lecture evaluation at Science Department of the Teacher Training and Education Faculty of IAIN Salatiga. The qualitative research was used whereby the primary data were taken from the results of research subject’s questionnaires, while the secondary information were derived from data that had been processed by other researchers. The subjects of this research were the lecturers of the Science Departmen of IAIN Salatiga. The data analysis technique used was the descriptive qualitative. The implications of analysis for applying the principles of Good Corporate Governance at Science Department of IAIN Salatiga in the evaluation of lectures are as follows: the aspect of transparency principle, which means that the head of the Science Department conveys information on lecturer evaluation results in coordination meetings; the aspect of accountability principle, which means that accountability of lecturer evaluation results on their lectures have been established periodically; the aspect of responsibility principle, which means that the department team reports the implementation of lectures evaluation regularly to the Dean and Quality Control Unit; the aspect of fairness principle, that all lecturers are entitled a justice in the assessment in carrying out lectures in the classroom; and the aspect of independence principle, which means that the evaluation of lectures is done without any influences from any party. Keywords: Good Corporate Governance, Lecture Evaluation, and Science Department Abstrak Tujuan penelitian ini adalah menganalisis penerapan Good Corporate Governance dalam evaluasi perkuliahan dosen Tadris Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (ftik) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Jenis penilitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Sumber data data primer dari hasil kuesioner subjek penelitian dan sekunder informasi dari data yang telah diolah pihak lain. Subyek penelitian ini dosen Tadris IPA FTIK IAIN Salatiga. Teknik analisis data secara deskriptif kualitatif. Adapun Analisis penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance pada Program Studi Tadris IPA FTIK IAIN Salatiga implikasinya dalam evaluasi perkuliahan adalah sebagai berikut: Aspek prinsip transparansi, Ketua Program Studi Tadris IPA menyampaikan informasi hasil evaluasi dosen dalam rapat koordinasi. Aspek prinsip akuntabilitas bahwa pertanggungjawaban hasil evaluasi dosen dalam perkuliahan telah ditetapkan secara periodik. Aspek prinsip responsibilitas bahwa tim program studi melaporkan pelaksanaan evaluasi perkuliahan kepada dekanat dan Lembaga Penjaminan Mutu secara rutin. Aspek prinsip fairness, bahwa semua dosen berhak sebuah keadilan dalam penilaian dalam melaksanakan perkuliahan di kelas. Aspek prinsip independensi bahwa dalam evaluasi perkuliahan tanpa adanya pengaruh dari pihak manapun. Kata kunci: Good Corporate Governance, Evaluasi Perkuliahan Dosen, dan IPA
KEBIJAKAN POLITIK DALAM PENGEMBANGAN TRADISI AKADEMIK INTELEKTUAL PERGURUAN TINGGI KEAGAMAAN ISLAM Hefni, Wildani
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 23 No 1 (2018): Good Coorporate Governance dan Manajemen Lembaga Pendidikan Islam
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v23i1.1166

Abstract

Abstract Since the pilot project held by the Ministry of Religious Affairs of Indonesia as, the state has stepped up these efforts and, in the process, sought to increase the state’s juricdiction over Islamic education in Indonesia. The ministry sought to turn Islamic higher education as a locomotive to develop the educational quality by sending Indonesian scholars into western countries. This study examines the political perspectives, not only within the framework of education as social fact, but also offers the analitical frameworks to explain how political state engages initiatives to enhance intellectuall Islamic higher education by linking social capital and intellectual capital. Keyword: Muslimintellectual, policital contestation, and State Abstrak Sejak dimulainya program pembibitan calon dosen oleh Kementerian Agama Indonesia sebagai proyek percontohan, pemerintah mulai memasuki wilayah politik kebijakan dalam penguatan pengembangan tradisi akademik dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia. Pemerintah berusaha untuk mengubah perguruan tinggi keagamaan Islam menjadi lokomotif pengembangan para intelektual dengan strategi pengiriman ke negara-negara Barat. Kajian ini ingin melihat kebijakan tersebut dari perspektif politik, tidak hanya sekedar permasalahan pendidikan sebagai fakta sosial, namun dalam kontekspolitik, kebijakan pemerintah terlibat dalam inisiasi peningkatan intelektual perguruan tinggi keagamaan dengan menghubungkan modal sosial dan modal intelektual. Kata kunci: Intelektual Muslim, Kebijakan Politik, dan Negara
GOOD GOVERNANCE PERSPEKTIF MAQAASID ASY-SYAARI’AH KONTEMPORER Juliansyahzen, Muhammad Iqbal
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 23 No 1 (2018): Good Coorporate Governance dan Manajemen Lembaga Pendidikan Islam
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v23i1.1195

Abstract

AbstractGood governance is a concept for governance that should be run. Theoretically, the discourse of good governance reaps its pros and cons since it had been firstly introduced. However, as a concept and a strategic offer it deserves to be appreciated and re-examined. There are principles in good governance that are compatible with Islam such as accountability, transparency, deliberation, and others. Good governance will be achieved when it involves a good communication among the government, civil society, and the business sector. The author uses the perspective of contemporary maqaasid asy-shari'ah to view the discourse with more emphasis on development and right. The perspective is different from the old maqasid which emphasizes more on the protection and preservation. The result of the study shows that good governace needs harmonious relationship among the followers of religion, social justice, organized and equitable education, human rights protection, and the development of civilized law.Keywords : Good Governance, Maqâsid asy-Syaari’ah, DevelopmentAbstrakGood governance merupakan sebuah konsep tata kelola pemerintahan yang seharusnya dijalankan. Secara teoritis, diskursus good governace menuai pro-kontra sejak awal kemunculannya. Meskipun demikian, sebagai sebuah konsep dan tawaran strategis patut untuk diapresiasi dan dikaji kembali. Terdapat prinsip-prinsip dalam good governance yang berkesesuaian dengan Islam diantaranya akuntabilitas, transparansi, musyawarah, dan lainnya. Upaya mewujudkannya tidak hanya dilakukan oleh satu pihak saja, tetapi komunikasi antara pemerintah (goverment), masyarakat sipil, dan sektor dunia usaha. Dalam melihat diskursus ini, penulis menggunakan perspektif maqaasid asy-Syaari’ah kontemporer dengan lebih menekankan pada development (pembangunan; pengembangan) dan right (hak-hak). Berbeda dengan maqasid lama lebih pada protection (perlindungan) dan preservation (penjagaan; pelestarian). Berdasarkan hasil kajian tersebut bahwa dalam mewujudkan good governace diperlukan pembangunan dalam berbagai aspek seperti membangun hubungan harmonis antar pemeluk agama, mewujudkan keadilan sosial, penyelenggaran dan pemerataan pendidikan, perlindungan terhadap hak asasi manusia, pembangunan hukum berkeadaban.. Kata kunci: Good Governance, Maqaasid asy-Syaari’ah, dan Pembangunan
KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL PROFETIK DALAM MENGEMBANGKAN PESANTREN DI KABUPATEN JEMBER Umiarso, Umiarso
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 23 No 1 (2018): Good Coorporate Governance dan Manajemen Lembaga Pendidikan Islam
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v23i1.1205

Abstract

Abstract Pesantren (Islamic boarding schools) has been continuously aligning its educational system with the needs of society and the times. The development of pesantren is inseparable from the role of kiai in carrying out the institutional transformation. This study focuses on transformational leadership of the kiai in developing the pesantren institution. The results of this study indicate that the concept of developing pesantren is transcultural with the principle of "accepting a new good culture and preserving the old one that is still relevant", based on the vision and mission, directed at an integrative education system which combines the mind and heart traditions using rational domain and spirituality in order to achieve worldly (profanistic) and ukhrawi (sacralistic) goals; transformational leadership styles of a kiai include idealized influence behavior, inspirational inspiration, intellectual stimulation, individual consideration, and individual spiritual greatness; and the implications of transformational leadership include two dimensions, namely the human resources and institutional resources. Therefore, this leadership can be said to be prophetic transformational leadership with the addition of individual spiritual greatness (Five I'S). Keywords: Kiai, Transformational Leadership, and Pesantren Abstrak: Pesantren secara kontinu menyelaraskan sistem kependidikannya dengan kebutuhan masyarakat serta perkembangan zaman. Pengembangan pesantren tidak terlepas dari peran kiai dalam melakukan transformasi kelembagaan. Penelitian ini memfokuskan pada kepemimpinan transformasional kiai dalam mengembangkan kelembagaan pesantren. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep pengembangan pesantren bersifat transkultural dengan prinsip “menerima budaya baru yang baik dan melestarikan budaya lama yang masih relevan”, berpijak pada visi dan misi, diarahkan pada sistem pendidikan integratif yang memadukan antara tradisi akal dan hati menggunakan domain rasional dan spiritualitas untuk mencapai tujuan yang bersifat duniawi (profanistik) dan ukhrawi (sakralistik); gaya kepemimpinan transformasional kiai meliputi perilaku idealized influence, inspirational inspiration, intellectual stimulation, individual consideration, dan individual spiritual greatness; dan implikasi kepemimpinan transformasional meliputi dua dimensi, yaitu dimensi sumberdaya manusia dan kelembagaan. Karenanya, kepemimpinan ini dapat dikatakan kepemimpinan transformasional profetik dengan penambahan individual spiritual greatness (Five I’S). Kata Kunci: Kiai, Kepemimpinan Transformasional, dan Pesantren
KEMITRAAN ANTARA SEKOLAH, ORANG TUA, DAN LEMBAGA-LEMBAGA SOSIAL KEMASYARAKATAN DI MADRASAH ALIYAH NEGERI SALATIGA Fatchurrohman, Fatchurrohman
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 23 No 1 (2018): Good Coorporate Governance dan Manajemen Lembaga Pendidikan Islam
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v23i1.1207

Abstract

Abstract This study was aimed at determining the background of thought that underlies the education partnership in MAN Salatiga, the implementation of educational partnerships among the schools, parents, and social institutions in MAN Salatiga, and the impact of the partnerships among the schools, parents, and social institutions in the city Salatiga to improve the quality of schools, school culture, graduates, and parents. This type of research was a qualitative interpretive approach, which took place in MAN Salatiga, and community social institutions (Indonesian Red Cross, Indonesian National Sports Committee, Asmoro Budoyo Circle of Friends, Prana Shakti Jaka Tingkir Respiratory Self Defense College) in the city of Salatiga. Data were collected through interviews, observation, and document study. The data were then analyzed by following the stages developed by Yin and Stake, namely the stage of holistic analysis, embedded analysis, analysis of themes, within case analysis, and cross case analysis. The results of the study show that MAN Salatiga sees the need to utilize various resources in the community to overcome various limitations in the implementation of education in order to meet the demands of the community. The development of educational partnerships in MAN Salatiga is supported by social capital which is influenced by the type of school, initiative and interest, parental circumstances, school policy and political participation. Education partnerships in MAN Salatiga affect the quality of the schools, graduates, and parents. Keywords: Partnership, School, and Community Social Institutions Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang pemikiran yang mendasari kemitraan pendidikan di MAN Salatiga, pelaksanaan kemitraan pendidikan antara sekolah, orang tua, dan institusi sosial kemasyarakatan di MAN Salatiga, dan dampak kemitraan antara sekolah, orang tua, dan lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan di kota Salatiga terhadap perbaikan kualitas sekolah, budaya sekolah, lulusannya, dan orang tua. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan interpretatif, yang mengambil lokasi di MAN Salatiga, dan lembaga sosial kemasyarakatan (Palang Merah Indonesia, Komite Olahraga Nasional Indonesia, Paguyuban Asmoro Budoyo, Perguruan Beladiri Pernafasan Prana Shakti Jaka Tingkir) di kota Salatiga. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Data yang terkumpul dianalisis dengan mengikuti tahapan yang dikembangkan oleh Yin and Stake, yaitu tahap holistic analysis, embedded analysis, analysis of theme, within case analysis, dan cross case analysis. Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan, bahwa MAN Salatiga memandang perlunya meman-faatkan berbagai sumber daya dalam masyarakat untuk mengatasi berbagai keterbatasan penyelenggaraan pendidikan dalam rangka memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat. Pengembangan kemitraan pendidikan di MAN Salatiga didukung oleh modal sosial yang dipengaruhi oleh jenis sekolah, inisiatif dan interest, keadaan orang tua, kebijakan sekolah dan partisipasi politik. Kemitraan pendidikan di MAN Salatiga mempengaruhi mutu sekolah, lulusan, dan orang tua. Kata Kunci : Kemitraan, Sekolah, dan Lembaga Sosial Kemasyarakatan
DUALISM AND INTEGRATION SYSTEM OF EDUCATION: PERSPEKTIF SEJARAH Ikhtiono, Gunawan
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 23 No 1 (2018): Good Coorporate Governance dan Manajemen Lembaga Pendidikan Islam
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v23i1.1214

Abstract

Abstract A mosque was the first place to conduct education, from which science developed to experience its heyday in the 12th and 13th centuries AD. Methods of scientific discussions taking place within such as the As-Shofwah Brotherhood, Bait Al-Hikmah, Daarul Hikmah, were supported by the Caliphs or community leaders by giving maximum funding assistance. From the mosque, educational institutions developed into Madrasah Nidzamiyah to Al-Qarawiyyin University and Al-Azhar University. Nevertheless, such funding assistance is never free from political agenda aimed at developing and maintaining cetain ideals or schools of thought. As for the learning process, the sulthans and muslim scholars do not distinguish between the sciences related to the world and that related to the hereafter (habluminallah wa habluminannas). Both are studied and explored without separating them. So, in the golden age of Islam, an expert in the field of medicine could also be an expert in in the field of Sufism. An expert in worship might also be an expert in astronomy, and a mathematician could be a philosopher as well. Keywords: Mosque, Management, Curriculum, and Integration of Science Abstrak Masjid adalah tempat pertama yang menyelenggarakan pendidikan. Dari Masjid itu Ilmu Pengetahuan berkembang hingga mengalami masa kejayaannya di abad 12 dan 13 M. Metode diskusi-diskusi ilmiah yang berlangsung di dalamnya, seperti Ikhwan As-Shofwah, Bait Al-Hikmah, Daarul Hikmah, didukung oleh para Khalifah ataupun tokoh masyarakat dengan memberikan bantuan pembiayaan yang sebesar-besarnya. Dari Masjid itulah lembaga pendidikan berkembang menjadi Madrasah Nidzamiyah hingga Universitas Al-Qarawiyyin dan Universitas Al-Azhar. Meskipun demikian, tidak terelakkan bahwa bantuan-bantuan tersebut ada muatan politik untuk mengembangkan serta mempertahankan faham/mazhab yang anutnya. Adapun dalam proses pembelajarannya, para Sulthan dan para Cendikiawan Muslim tidak membedakan antara Ilmu yang berhubungan dengan dunia dan akhirat (habluminallah wa habluminannas). Keduanya dipelajari dan didalami tanpa memisahkannya. Sehingga, di zaman keemasan Islam (the golden age), seseorang yang ahli dalam bidang Kedokteran tetapi juga seorang yang ahli Tasawuf. Seorang yang ahli ibadah, adalah juga seorang yang ahli Astronomi. Seorang ahli Matematika juga sebagai Filosof. Kata Kunci: Masjid, Manajemen, Kurikulum, and Integrasi Keilmuan
MANAJEMEN GOOD CORPORATE GOVERNANCE PADA USAHA KECIL DAN MENENGAH BERBASIS SUMBER DAYA MANUSIA Subandi, Subandi; Fauzan, Ahmad
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 23 No 1 (2018): Good Coorporate Governance dan Manajemen Lembaga Pendidikan Islam
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v23i1.1215

Abstract

Abstract The authors analyze the government’s policies in developing people's economic interests of small and medium enterprises by using the principles of good governance. This study uses descriptive qualitative literature research using primary and secondary data sources. The authors urge that some policies should be taken within the framework of good government management, among others are: conducting program socialization and achieving strategies for the community; identifying human resources, ownership of sufficient capital; encouraging entrepreneurial spirit in small and medium-sized communities; and facilitating business customers (market segmentation), and the supervision and continuous improvement (quality Improvement). Keywords: Good Governance, management, SMEs, HR, enterpriser Abstrak Penulis menganalisa bagaimana kebijakan pemerintah dalam mengembangkan minat ekonomi kerakyatan usaha kecil dan menengah dengan menggunakan prinsip Good Governance. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif kepustakaan dengan menggunakan sumber data primer dan sekunder. Hasil penelitian penulis dalam langkah-langkah Kebijakan pemerintah dengan menggunakan manajemen good governance yang harus dilakukan adalah : 1). Melakukan sosialisai program dan strategi pencapainya kepada masyarakat, 2). Mengidentifikasi sumber daya manusia, pemilikian modal yang cukup, 3). Munculnya seangat jiwa kewirausahaan pada masyarakat kecil dan menengah4). Adanya pelanggan bisnis (sekmentasi pasar), dan adanya pengawasan serta perbaikan terus menerus (Quality Improvement). Kata Kunci : Good Governance, manajemen, UKM, SDM, Wiraswasta
GOOD CORPORATE GOVERNANCE PADA LEMBAGA PENDIDIKAN PESANTREN: STUDI PADA PONDOK PESANTREN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA Ja’far, A Khumedi
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 23 No 1 (2018): Good Coorporate Governance dan Manajemen Lembaga Pendidikan Islam
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v23i1.1216

Abstract

Abstract Good Corporate Governance is a concept or guidance in managing a good organization or institution. Although, conceptually still leaves room for debate. However, most scholars agree on the concept. In the educational institutions context, especially pesantren institutions, the implementation of GCG is an important and interesting thing to study. This study is aimed in analyzing the implementation of GCG at the Islamic University of Indonesia Islamic Boarding School (PP UII). This research is a qualitative research with case study. In the process of data collection, researcher use observation, interview and documentation. The validation process uses the data and sources triangulation. In analysis, there are several stages, such as data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of this study, it can be seen that PP UII in principle has implemented the principles in GCG such as transparency, accountability, professionalism and responsibility. In the principle of transparency, PP UII reports every learning process and activities, also financial reports to the leaders of the university and the students can also find out the results of the learning evaluation. In the principle of professionalism, for example, it can be seen from the selection of scholarship awardee, the leadership process and the selection of lecturers in accordance with the competence. Also in the aspect of accountability and responsibility is implemented properly in PP UII. Keywords : Good Corporate Governance, Education, and Boarding School Abstrak Good Corporate Governance merupakan konsep atau panduan dalam pengelolaan suatu lembaga atau organisasi yang baik. Meskipun secara konseptual masih menyisakan ruang perdebatan. Namun, sebagian besar pengkaji setuju terhadap konsep tersebut. Dalam konteks lembaga pendidikan, khususnya lembaga pesantren, pengimplementasian GCG merupakan suatu hal yang penting dan menarik untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi GCG pada lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode yang digunakan adalah studi kasus. Dalam proses pengambilan data, peneliti menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi. Proses validasi menggunakan proses triangulasi data dan sumber data. Adapun dalam analisisnya, terdapat beberapa tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa PP UII secara prinsip telah mengimplementasikan prinsip-prinsip dalam GCG seperti transparansi, akuntabilitas, profesionalitas dan bertanggungjawab. Dalam aspek transparansi, PP UII melaporkan setiap proses pembelajaran dan kegiatan serta laporan keuangan kepada pihak pimpinan universitas dan para santri pula dapat mengetahui hasil evaluasi pembelajaran. Dalam aspek profesionalitas, misalnya dapat dilihat dari seleksi penerima beasiswa PP UII, proses kepemimpinan dan pemilihan dosen sesuai dengan bidang keilmuan dan kompetensi. Begitu juga dalam aspek akuntabilitas dan tanggungjawab diimplementasikan secara baik di PP UII. Kata Kunci : Good Corporate Governance, Pendidikan, dan Pesantren
PERSEPSI ULAMA BANGKA BELITUNG TENTANG TEORI KHILAFAH DAN IMPLIKASINYA TERHADAP UKLHWAH ISLAMIYAH DAN UKHUWAH BASYARIYAH DALAM KEUTUHAN NKRI DI BANGKA BELITUNG Suparta, Suparta
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 23 No 2 (2018): Islam, Kenegaraan, dan Kebangsaan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v23i2.1237

Abstract

Abstract This study examines the perceptions of the Ulama ini Bangka Belitung about the concept of khilafah and its implications for Ukhwah Islmaiyah, Ukhuwah Basyariyah, and Ukhuwah Wathaniyah in the integrity of the Unity Republic of Indonesia in Bangka Belitung itself. As for the research method used in this study was field research. The results of the study show that the Bangka Belitung Ulema have the same majority perception of the establishment of the Islamic Khilafah, the Khilafah in Indonesia is still not enforceable because every ulama understands the Khilafah. This happened because the Ulama had no agreement and understanding about the Khilafah. The implications of the establishment of the Islamic Khilafah on Ukhwah Islmaiyah can lead to schismatic divisions among Muslims, the Implications of the Khilafah to Ukhuwah Basyariyah. where Indonesia has diverse tribes, races and religions. If the Khilafah is enforced upright it will become a horizontal conflict, namely the conflict between Muslims themselves and inter-religious conflict which makes the image of Muslims considered intolerant in the eyes of Indonesia and International. In addition, vertical conflict is the existence of conflict between Muslims who uphold the Khilafah with the Indonesian government and national figures and ulama who are Muslim who have not been Pro against the Caliphate. If this conflict occurs then what happens next is a split in the government and does not rule out the possibility of bloodshed. Finally, the implications for Ukhuwah Wathaniyah. In the slogan "Hubbul Wathan Minal Iman" (love of water or state is a part of Faith. This motto is one of the reasons the santri and Muslims strive for Indonesian independence from colonialism. Keywords: Caliphate, Ulama, and Bangka Belitung. Abstrak Penelitian ini mengkaji persepsi Ulama Bangka Belitung tentang konsep khilafah serta implikasinya terhadap Ukhwah Islmaiyah,Ukhuwah Basyariyah, dan Ukhuwah Wathaniyah dalam keutuhan NKRI di Bangka Belitung sendiri. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian lapangan (field research) yang berbentuk deskriptif kualitiatif. Adapun hasil penelitian adalah Ulama Bangka Belitung memiliki persepsi yang mayoritas sama terhadap penegakkan Khilafah Islamiyah yaitu khilafah di Indonesia masih belum bisa ditegakkan karena setiap ulama berbeda paham tentang khilafah. Hal ini terjadi disebabkan para ulama belum ada kesepakatan dan kesepahaman tentang khilafah. Implikasi penegakkan khilafah islamiyah terhadap ukhwah islmaiyah dapat menimbulkan perpecahan persaudaran di anatra kaum muslimin, Implikasi khilafah terhadap Ukhuwah Basyariyah. dimana Indonesia memiliki suku, ras dan agama yang beraneka ragam. Jika Khilafah dipaksakan tegak maka akan menjadi Konflik horizontal yaitu konflik antar umat islam sendiri dan konflik antar umat beragama yang menjadikan image umat Islam di anggap intoleran dimata Indonesia dan International. Selain itu, Konflik vertikal yakni adanya konflik antara umat Islam yang menegakkan khilafah dengan pemerintah Indonesia dan para tokoh nasional dan ulama yang beragama Islam yang belum Pro terhadap khilafah. Bila Konflik ini terjadi maka yang terjadi adalah perpecahan dalam pemerintahan dan tidak menutup kemungkinan terjadi pertumpahan darah. Terakhir implikasi terhadap ukhuwah wathaniyah. Dalam slogan “Hubbul Wathan Minal Iman” (cinta tanai air atau negara adalah sebagaian dari Iman. Semboyan ini menjadi salah satu alasan para santri dan umat Islam gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari Penjajahan. Kata Kunci: Khilafah, Ulama, dan Bangka belitung.