cover
Contact Name
Rengki Afria
Contact Email
jurnal.kalistra@unja.ac.id
Phone
+6282268070067
Journal Mail Official
jurnal.kalistra@unja.ac.id
Editorial Address
Kampus Universitas Jambi Pinang Masak, Jln, Jambi - Ma. Bulian, KM.15 Mendalo Indah, Jambi Luar Kota, Muaro Jambi, Jambi
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Kajian Linguistik dan Sastra
Published by Universitas Jambi
ISSN : 29638380     EISSN : 29637988     DOI : -
Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra merupakan jurnal ilmiah kebahasaan dan kesastraan yang diterbitkan oleh Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi. Kalistra terbit tiga kali setahun setiap Mei, September, dan Januari. Jurnal Kalistra menerbitkan hasil penelitian ilmiah dalam kajian bahasa dan sastra yang meliputi linguistik teoretis, linguistik terapan, linguistik interdisipliner, tradisi lisan, filologi, semiotika, sastra murni, sastra terapan, sastra interdisipliner, serta sastra dan politik identitas. Setiap artikel yang dimuat di Kalistra akan melalui proses penilaian oleh peer reviewer.
Articles 166 Documents
Dynamics and Shifting Meanings of Balinese Greeting Forms Adnyana, I Ketut Suar
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 4 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v4i1.40349

Abstract

This research is a descriptive and qualitative study focusing on the dynamics and transformations in the importance of Balinese greeting forms. The study examined the intricate dynamics and transformations in the significance of Balinese greeting forms. The data were garnered from Balinese greeting forms found on YouTube video, TikTok, WhatsApp discussions, Balinese songs, and interviews conducted with students from Dwijendra Junior and Senior High Schools, as well as novice lecturers from Dwijendra University. Additional data sources included observations of greeting forms utilized in public venues, such as restaurants and small markets. Interactions between diners and waiters in eateries, as well as exchanges between customers and saleswomen in convenience stores were also documented. The research revealed two categories that exemplified the evolving dynamics of Balinese greeting forms: 1) BS_KK, consisting of mbok, bli/wi/kak, and adik or dek. 2) BS_KGP, comprising ci, aku, and kamu, and 3) BS_KBL, consisting of cong, cuk, and bro/brader.
Pengaruh Bahasa Austronesia Terhadap Bahasa Daerah di Jawa Tengah Sinulingga, Arya Mahendra; Widyastuti, Chattri Sigit
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 4 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v4i1.40274

Abstract

This study aims to analyze the influence of Austronesian languages on regional languages in Central Java, particularly Javanese. Utilizing a descriptive qualitative approach, the research examines this influence through aspects of vocabulary, grammatical structure, and phonology. Data were gathered through literature review, language analysis, and observations of language use within the community. The findings reveal significant similarities in vocabulary and grammatical patterns between Javanese and other Austronesian languages, indicating a strong historical connection. Despite this influence, Javanese retains its unique features, such as its complex speech levels. The influence of Austronesian languages appears more pronounced among older generations compared to younger generations, who are increasingly influenced by Indonesian and foreign languages. This study concludes that the interaction between Austronesian languages and regional languages in Central Java reflects a dynamic linguistic adaptation, with Javanese maintaining its local identity amid external influences. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh bahasa Austronesia terhadap bahasa daerah di Jawa Tengah, khususnya bahasa Jawa. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini mengkaji pengaruh tersebut melalui aspek kosakata, struktur gramatikal, dan pola bunyi. Data diperoleh melalui studi pustaka, analisis bahasa, serta observasi penggunaan bahasa di masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kesamaan kosakata dan pola gramatikal antara bahasa Jawa dan bahasa-bahasa dalam rumpun Austronesia, yang mengindikasikan adanya hubungan historis yang kuat. Meskipun demikian, bahasa Jawa tetap mempertahankan ciri khasnya, seperti sistem tingkat tutur yang kompleks. Pengaruh bahasa Austronesia juga lebih terlihat pada generasi tua dibandingkan generasi muda yang lebih banyak dipengaruhi oleh bahasa Indonesia dan bahasa asing. Penelitian ini menyimpulkan bahwa interaksi antara bahasa Austronesia dan bahasa daerah di Jawa Tengah menunjukkan adaptasi linguistik yang dinamis, dengan bahasa Jawa tetap mempertahankan identitas lokalnya di tengah pengaruh eksternal.
Afiksasi Verba Pada Lirik Lagu Kun Fakaykun dan Mataha Karya Othman Alibrahim Latifa, Khanesya; Azminah, Gitsna Lu'lu'il; Herawati, Herawati
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 4 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v4i1.41259

Abstract

This research entitled “Arabic verb affixation in Kun Fayakun and Mataha Song Lyrics by Othman Alibrahim” aims to provide an overview of the application of affixation in song lyrics by Othma Alibrahim. This research has the benefit of developing an understanding of the use of affixation in Arabic songs. This research uses qualitative descriptive method by presenting data in accordance with the reality seen. In addition, this research also uses the listening method when collecting data related to the song. The result of this study found that there are several affixations in the lyrics of Arabic songs entitled Kun Fayakun and Mataha, including 6 prefixes, 3 infixes, and 3 combinations. Abstrak Penelitian ini berjudul “Afiksasi verba Bahasa Arab pada Lirik Lagu Kun Fayakun dan Mataha Karya Othman Alibrahim” ini memiliki tujuan untuk memberikan gambaran pengaplikasian afiksasi pada lirik lagu karya Othma Alibrahim. Adapun penelitian ini memiliki manfaat untuk mengembangkan pemahaman mengenai penggunaan afiksasi pada lagu lagu Arab. Penelitian ini menggunakan metode deskruptif kualitatif dengan menyajikan data – data sesuai dengan kenyataan yang terlihat. Di samping itu, penelitian ini juga menggunakan metode simak ketika mengumpulkan data – data terkait lagu tersebut. Adapun hasil penelitian ini menemukan bahwa terdapat beberapa afiksasi dalam lirik lagu Arab yang berjudul Kun Fayakun dan Mataha, di antaranya ada 6 prefiks, 3 infiks, dan 3 gabungan.
An Ecocritical Perspective on Agrarian Symbolism in “Mengantar Benih padi ke Ladang” Sofyaningrum, Rosita; Zulaekhah, Dewi
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 4 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v4i1.41372

Abstract

This study explores the symbolic meanings of agrarian elements in Silvester Petara Hurit's short story Mengantar Benih Padi Terakhir ke Ladang to uncover the relationship between humans and nature through symbols such as rice seeds and fields. Employing a qualitative method and a descriptive-analytical approach, the research analyzes the short story's text and supporting literature to examine ecological perspectives, cultural values, and the conflict between agrarian traditions and modernity. The findings reveal that the short story represents agrarian symbols like rice, soil, trees, and life rituals as reflections of agrarian traditions, cultural identity, and the human-nature connection. The soil is portrayed as a metaphor for Mother Earth, while rice symbolizes life and the pride of agrarian communities. Additionally, the conflict between tradition and development reflects shifts in social values due to modernity. Agrarian symbolism in the story also highlights humanity's view of nature as a living entity with spiritual power while emphasizing the importance of maintaining ecological balance. This study significantly contributes to the understanding of agrarian symbolism in literature, particularly in the context of human-nature relationships, and offers a theoretical foundation for further studies on cultural and ecological dynamics in literary works. Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi makna simbolik agraris dalam cerpen Mengantar Benih Padi Terakhir ke Ladang karya Silvester Petara Hurit untuk mengungkap hubungan manusia dengan alam melalui simbol-simbol seperti benih padi dan ladang. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan deskriptif-analitis, penelitian ini menganalisis teks cerpen dan literatur pendukung untuk menggali pandangan ekologis, nilai budaya, serta konflik antara tradisi agraris dan modernitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerpen ini merepresentasikan simbol-simbol agraris seperti padi, tanah, pohon, dan ritual kehidupan sebagai refleksi tradisi agraris, identitas budaya, dan hubungan manusia dengan alam. Tanah diangkat sebagai metafora Ibu Pertiwi, sementara padi menjadi lambang kehidupan dan kebanggaan masyarakat agraris. Selain itu, konflik antara tradisi dan pembangunan mencerminkan perubahan nilai-nilai sosial akibat modernitas. Simbolisme agraris dalam cerpen ini juga mengungkapkan pandangan manusia terhadap alam sebagai entitas hidup dengan kekuatan spiritual, sekaligus menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan dalam memperkaya pemahaman tentang simbolisme agraris dalam sastra, khususnya dalam konteks relasi manusia dengan alam, serta menawarkan landasan teoritis untuk kajian lebih lanjut tentang dinamika budaya dan ekologis dalam karya sastra.
Kritik ekologis dalam Novel Memburu Kasih Perempuan Sampan Karya Abdul Kadir Ibrahim Leoni, Tessa Dwi
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 3 No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v3i3.42884

Abstract

This research aims to uncover ecological criticism in the novel "Memburu Kasih Perempuan Sampan" by Abdul Kadir Ibrahim. This research is a descriptive qualitative study using an ecocritical perspective to describe the data in depth. The data in this study consists of sentences that contain issues related to environmental damage found in the novel. Data were collected through repeated reading stages, then classified, analyzed, and concluded. The results of this research show that there are three forms of ecological criticism in the novel "Memburu Kasih Perempuan Sampan," including: criticism of the issue of sand resource exploitation, criticism of illegal logging, and the issue of the impact of exploitation on nature and the lives of local communities.
Satire Pada Puisi “Sajak Seonggok Jagung” Karya W. S. Rendra: Kajian Stilistika Lolita, Asri
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 3 No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v3i3.42893

Abstract

This study aims to analyze stylistics in revealing satire in the poem "Sajak Seonggok Jagung" by W.S. Rendra. Stylistics, as a branch of linguistics that examines language style, is used to explore how linguistic elements such as diction, figurative language, repetition and parallelism, as well as syntactic structures, contribute to constructing the meaning of social criticism in the form of satire within a poem. The research method employed is descriptive qualitative, with data collected through document studies and textual analysis. The results indicate that W.S. Rendra effectively employs diction with contrasting and symbolic nuances, as well as figures of speech such as irony, metaphor, and satire—which are prominently featured in this poem—to convey criticism. Additionally, repetition and parallelism are used to emphasize ideas. The use of simple and declarative syntactic structures further strengthens the delivery of messages in a straightforward and communicative manner. The conclusion of this study reveals that stylistics in poetry functions not only as a decorative linguistic element, but also as a medium for ideological expression that reflects social realities. These findings reinforce the position of poetry as a form of criticism that is both aesthetic and ethical. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan stilistika dalam mengungkapkan satire pada puisi "Sajak Seonggok Jagung" karya W.S. Rendra. Stilistika sebagai cabang ilmu bahasa yang mengkaji gaya bahasa digunakan untuk menelusuri bagaimana unsur-unsur kebahasaan seperti diksi, majas, repetisi dan paralelisme, serta struktur sintaksis dapat membangun makna kritik sosial berupa sindiran dalam sebuah puisi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi dokumentasi dan analisis teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa W.S. Rendra secara efektif menggunakan diksi yang bernuansa kontras dan simbolik, majas seperti ironi, metafora, dan satire yang begitu dominan ditemukan dalam puisi ini untuk menyampaikan kritik, serta repetisi dan paralelisme untuk penekanan gagasan. Struktur sintaksis yang sederhana dan deklaratif turut memperkuat penyampaian pesan secara lugas dan komunikatif. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa stilistika dalam puisi tidak hanya berfungsi sebagai hiasan bahasa, melainkan juga sebagai medium ekspresi ideologis yang merefleksikan realitas sosial. Temuan ini memperkuat posisi puisi sebagai bentuk kritik yang estetik sekaligus etis.
Leksikon dalam Tradisi Wiwitan di Desa Banyuroto Kabupaten Kulon Progo Pujianti, Kiki
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 4 No. 2 (2025): Mei 2025
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v4i2.40275

Abstract

Wiwitan tradition is one of the traditions of the people in Banyuroto Village, Kulon Progo Regency, which is held before the harvest period begins. The wiwitan tradition is a form of gratitude from farmers for the harvest given by God. This research uses descriptive qualitative method. Data collection in this study used interview techniques. The results of the data obtained then analysed using a linguistic approach. The data obtained from the results of interviews with several informants stated that in the wiwitan tradition there are 15 lexicons related to the wiwitan tradition, both objects, processions and names of dishes. From the lexical and cultural meanings, it was found that the function of the lexicon in the wiwitan tradition is to connect to God, to connect to supernatural beings, and as a prayer and life guide for the people of Banyuroto Village, Kulon Progo Regency.
Makna Leksikal dan Kultural Pada Pantang Larang: Studi Etnolinguistik Terhadap Kepercayaan Masyarakat Banjar Kecamatan Bram Itam, Kabupaten Tanjung Jabung Barat Yuliana, Yessa; Putra, Yoga Mestika; Izar, Julisah
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 4 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v4i1.42045

Abstract

The object of this research is the lexical and cultural meaning of the taboos of the Banjar community in Bram Itam District. The method used is a descriptive qualitative approach through interviews and literature analysis, as well as analysis of Charles Carpenter Fries' theory of meaning. The data analysis process includes transcription of taboos, analysis of lexical and Yogyakarta: CV Bintang Semesta Mediacultural meanings, and categorization of taboos. The research findings show 40 taboo expressions classified into 10 categories, with a total of 180 lexical meanings and 44 cultural meanings. The details of the findings include: 32 lexical items and 11 cultural meanings for unmarried girls; 39 lexical items and 7 cultural meanings for pregnant women; 30 lexical items and 4 cultural meanings are general, and other variations. Lexical meanings are obtained from the Banjar-Indonesian dictionary and informants, while cultural meanings are taken from relevant research. Abstrak Objek penelitian ini adalah makna leksikal dan kultural dari pantangan masyarakat Banjar di Kecamatan Bram Itam. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara dan analisis kepustakaan, serta analisis teori makna Charles Carpenter Fries. Proses analisis data mencakup transkripsi ujaran pantang-larang, analisis makna leksikal dan kultural, serta pengkategorian pantang-larang. Temuan penelitian menunjukkan 40 ungkapan pantangan yang diklasifikasikan dalam 10 kategori, dengan total 180 makna leksikal dan 44 makna kultural. Rincian temuan mencakup: 32 item leksikal dan 11 makna kultural untuk gadis yang belum menikah; 39 item leksikal dan 7 makna kultural bagi wanita hamil; 30 item leksikal dan 4 makna kultural bersifat umum, serta variasi lainnya. Makna leksikal diperoleh dari kamus Banjar-Indonesia dan informan, sedangkan makna kultural diambil dari penelitian relevan.
Ujaran Kebencian Netizen Indonesia dalam Kolom Komentar Instagram NM: Kajian Linguistik Forensik Prameswari, Egi Cahya; Putri, Aprilia Kartika; Fitriah, Siti
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 4 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v4i1.42161

Abstract

This research aims to describe speech acts and types of hate speech in NM's Instagram comment section. The approach used in this research is descriptive qualitative, in answering the problem formulation in this thesis the researcher uses forensic linguistic theory with the scalpel of speech act theory. Then the Chief of Police Circular Letter (SE) Number SE/06/X/2015 to find the form of hate speech. Based on the research results, there are 49 data of hate speech. Namely, expressive illocutionary speech acts and hate speech of the type of provoking or inciting are mostly found, namely 22 data. Other findings show that hate speech defamation is 2 data, unpleasant actions 18 data, insult 3 data, blasphemy 3 data and spreading false news 1 data. Assertive illocution 15 data, directive illocution 10 data, commissive 2 data. Netizens freely criticize, reject, deny, identify, and report NM which causes many expressive illocutionary speech acts. Many provocative or inciting hate speeches were found due to interpersonal conflicts.  Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tindak tutur dan jenis-jenis ujaran kebencian dalam kolom komentar Instagram NM. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif, dalam menjawab rumusan masalah pada skripsi ini peneliti menggunakan teori linguistik forensik dengan pisau bedahnya teori tindak tutur. Kemudian Surat Edaran (SE) Kapolri Nomor SE/06/X/2015 untuk menemukan bentuk ujaran kebencian. Berdasarkan hasil penelitian terdapat  49 data ujaran kebencian. Yaitu, tindak tutur ilokusi ekspresif dan ujaran kebencian jenis memprovokasi atau menghasut paling banyak ditemukan, yaitu sebanyak 22 data. Temuan lain menunjukkan ujaran kebencian pencemaran nama baik sebanyak 2 data, perbuatan tidak menyenangkan 18 data, penghinaan 3 data, penistaan 3 data dan menyebarkan berita bohong 1 data. Ilokusi asertif 15 data, ilokusi direktif 10 data, komisif 2 data. Netizen secara bebas mengkritik, menolak, menyangkal, mengidentifikasi, dan melaporkan NM yang menyebabkan banyaknya tindak tutur ilokusi ekspresif. Ujaran kebencian memprovokasi atau menghasut banyak ditemukan karena adanya konflik antar pribadi. 
Analisis Framing Pada Pemberitaan Pegi Setiawan Sebagai Tersangka Kasus Pembunuhan Vina dalam Media Online Detik.com dan Liputan 6 Putri, Dini Meidiyanti; Ernanda, Ernanda; Triandana, Anggi
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 3 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v3i1.42207

Abstract

his research aims to describe the framing carried out by the online media Detik.com and Liputan 6 regarding the issue of reporting Pegi Setiawan as a suspect in the Vina murder case in May-July 2024. This research uses the theory of Zhongdang Pan and Gerald M. Kosicki (1993) with a qualitative descriptive research method. The research data includes words, phrases, sentences, photos, and images in Detik.com and Liputan 6 news discourse in which there are 4 Pan and Kosicki structures. Data collection was carried out by downloading news which was then analyzed using Pan and Kosicki's 4 structural structures which include syntactic, script, thematic and rhetorical structures. The results of this research found that in the syntactic structure, the Detik.com media was inconsistent in framing Pegi, which was originally a contra, turning into a pro. Meanwhile, Liputan 6 tends to present news that is critical of the legal process. The script structures in these two media both contain gaps in one of the 5W + 1H elements in the news. In terms of thematic structure, Detik.com tends to vary in the number of paragraphs, while Liputan 6 is more consistent in arranging paragraphs uniformly. Finally, regarding the rhetorical structure, Liputan 6 is superior in presenting photos because it shows the reality of the news, compared to Detik.com which only used photos of Pegi at the time of the arrest and press conference. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembingkaian yang dilakukan oleh media online Detik.com dan Liputan 6 terhadap isu pemberitaan Pegi Setiawan sebagai tersangka kasus pembunuhan Vina pada bulan Mei—Juli 2024. Penelitian ini menggunakan teori Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki (1993) dengan metode penelitian deskriptif kualitatif. Adapun data penelitian yaitu meliputi kata, frasa, kalimat, foto dan gambar pada wacana berita Detik.com dan Liputan 6 yang di dalamnya terdapat 4 struktural Pan dan Kosicki. Pengumpulan data dilakukan dengan mendownload berita yang kemudian dianalisis menggunakan 4 struktural Pan dan Kosicki yang meliputi struktur sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Hasil dari penelitian tersebut ditemukan pada struktur sintaksis, media Detik.com tidak konsisten dalam memframingkan Pegi yang semula kontra berubah menjadi pro. Sedangkan Liputan 6 lebih cenderung menyajikan berita yang bersifat kritik terhadap proses hukum. Struktur skrip pada dua media ini sama-sama terdapat kekosongan pada salah satu unsur 5W + 1H dalam beritanya. Pada struktur tematik, Detik.com cenderung bervariasi dalam jumlah paragrafnya, sedangkan Liputan 6 lebih konsisten dalam menyusun paragraf secara seragam. Terakhir dari struktur retoris, Liputan 6 lebih unggul dalam penyajian foto karena menampilkan realitas berita, dibandingkan Detik.com yang hanya menggunakan foto Pegi pada saat penangkapan dan konferensi pers.

Page 11 of 17 | Total Record : 166