cover
Contact Name
Doni Hikmat Ramdhan
Contact Email
national.journal.ohs@gmail.com
Phone
+62858-9457-3626
Journal Mail Official
national.journal.ohs@gmail.com
Editorial Address
Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat 16424
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
National Journal of Occupational Health and Safety
Published by Universitas Indonesia
ISSN : -     EISSN : 27747417     DOI : https://doi.org/10.10.7454/ohs
Core Subject : Health,
Jurnal Nasional Keselamatan dan Kesehatan Kerja (National Journal of Occupational Health and Safety) adalah jurnal nasional yang memuat naskah ilmiah dalam bidang keilmuan keselamatan kerja, kesehatan kerja, higiene industri, ergonomi, faktor manusia dan risiko psikososial atau bidang keselamatan dan kesehatan lainnya yang terkait dengan bahaya dan risiko di tempat kerja.
Articles 33 Documents
Kajian Penilaian Risiko Kesehatan Terkait Pajanan BTX Mengacu Pada Metode SQRA di Laboratorium Pengujian Migas PT SCI Ryan Rachmawan; Mila Tejamaya
National Journal of Occupational Health and Safety Vol 2, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.242 KB) | DOI: 10.59230/njohs.v2i2.5246

Abstract

Laboratorium adalah tempat untuk melakukan percobaan atau eksperimen uji dimana bekerja di tempat tersebut membutuhkan perilaku kehati-hatian dalam menggunakan peralatan dan bahan. Salah satu jenis bahan kimia yang terdapat di laboratorium adalah pelarut organik yang memiliki fungsi sebagai pelarut bahan kimia lainnya. Potensi risiko kanker payudara pada pekerja wanita di laboratorium pada studi kohort ini adalah paparan pelarut organik. Pelarut organik yang sering digunakan di laboratorium adalah benzene, toluene dan xylene (BTX). Dengan adanya pajanan bahan kimia benzene, toluene dan xylene di tempat kerja dan risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh bahan kimia tersebut, maka perlu dilakukan penilaian tingkat risiko pajanan bahan kimia terhadap kesehatan pekerja di laboratorium PT. SCI dengan suatu penilaian risiko kesehatan melalui inhalasi dengan menggunakan metode SQRA Singapura. Pengumpulan data terkait dengan keluhan kesehatan pekerja gejala neurotoksik laboratorium menggunakan kuisioner yang mengacu pada The German Q18 Questionnaire. Penelitian dimulai dengan pengambilan sampel inhalasi dan udara di lingkungan kerja. Data hasil sampling diolah untuk mengetahui Tingkat Bahaya (Hazard Rating), Tingkat Pajanan (Exposure Rating), dan Tingkat Risiko (Risk Rating). Nilai tingkat pajanan untuk benzene, toluene dan xylene berturut-turut adalah 1,6;2,0;2,1. Nilai RR benzene adalah 3 (risiko moderat) sedangkan nilai RR toluene dan xylene adalah 2 (risiko rendah). Secara keseluruhan terkait jumlah responden yang memiliki gejala neurotoksik positif atau menjawab “ya” pada 5 pertanyaan atau lebih pada kuisioner sebanyak 25% (1 responden) dan 75% (3 responden) lainnya memiliki gejala neurotoksik negatif
Factors Affecting Safety Action in JOB Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi Meddy Harjanto; Zulkifli Djunaidi
National Journal of Occupational Health and Safety Vol 1, No 01 (2020)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.912 KB) | DOI: 10.59230/njohs.v1i01.4574

Abstract

Increasing oil and gas production is one of the main concerns for companies engaged in oil and gas mining Human behavior related to safety is an approach to analyze what is needed to make the safe action more possible and reduce risky behavior. Therefore, research is conducted on the factors that influence safe behavior so that these factors can be more optimized. This research is a quantitative study with a cross-sectional design. The population in this study amounted to 291 people. Data retrieval is done randomly with a sample of 130 respondents conducted using the simple random sampling method. Bivariate analysis was carried out by the chi-square test. Based on the results of the study, it was found that 63.8% of workers behaved safely, and 36.2% of workers behaved unsafely. Factors that do not affect safe behavior are knowledge, attitude, perception, motivation, age, length of work, availability of PPE, safety regulations, safety promotion, and training. Whereas, the factors that are proven to influence safe behavior are the supervisory role and the role of co-workers. Therefore, the researcher suggested that supervisors play an active role and be monitored regularly and consistently. In addition, care for co-worker needs to be improved through the Safety Observation program.
Hubungan Antara Faktor Individu dan Terjadinya Kelelahan (Fatigue) pada Pekerja Kantor di Masa Transisi Pandemi ke Endemi Covid-19 Magfira Adha Hernayanti; L Meily Kurniawidjaja
National Journal of Occupational Health and Safety Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.878 KB) | DOI: 10.59230/njohs.v3i1.6030

Abstract

Pandemi Covid-19 mengubah hampir di segala aspek kehidupan manusia, termasuk aspek tenaga kerja. Kebijakan Work from Home (WFH), Work Form Office (WFO), dan hybrid (WFH+WFO) menyebabkan jam kerja yang tidak teratur. Hal ini menyebabkan kelelahan (fatigue) pada pekerja di masa transisi pandemi ke endemi Covid-19. Banyak faktor yang menyebabkan kelelahan kerja terjadi, salah satunya faktor individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor individu (kehidupan sosial keluarga, kualitas tidur, kuantitas tidur, gangguan kesehatan, psikologis, dan perilaku tidak sehat) dengan terjadinya kelelahan pada pekerja kantor di masa transisi pandemi ke endemi Covid-19. Pengambilan data dilakukan menyebarkan kuesioner melalui google form kepada 202 responden pekerja di DKI Jakarta. Analisis statistik bivariat dengan Chi-Square dan analisis multivariat dengan regresi logistik ganda digunakan dengan bantuan perangkat lunak SPSS v 21. Hasil menunjukkan bahwa dari uji Chi-Square, kualitas tidur (p 0,001), gangguan kesehatan (p 0,016), kehidupan sosial keluarga (p 0,012) dan perilaku tidak sehat (p 0,033) memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian fatigue. Sementara hasil dari uji regresi logistik model prediksi, variabel kualitias tidur (p 0,017; OR 2,729), gangguan kesehatan (p 0,014; OR 2,484) dan perilaku tidak baik (p 0,010; OR 2,579) memiliki pengaruh terhadap kejadian fatigue. Kesimpulannya dari penelitian ini adalah kualitas tidur yang tidak baik, adanya gangguan kesehatan dan keadaan psikologis yang kurang baik dapat mempengaruhi kejadian fatigue pada pekerja di DKI Jakarta selama masa transisi pandemi ke endemi Covid-19. 
Analisis Hubungan Faktor Psikososial Terhadap Stres Kerja dan Perilaku Berisiko Karyawan di PT. X Aji Utomo Putro; Dadan Erwandi; Abdul Kadir
National Journal of Occupational Health and Safety Vol 2, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.787 KB) | DOI: 10.59230/njohs.v2i1.5256

Abstract

Angka kematian akibat lift di dunia pada 1999-2009 sebesar 263 orang yang disebabkan 57% terjatuh, 18% terjepit, 17% tertimpa benda, dan 9% penyebab lainnya. Salah satu upaya pencegahan kecelakaan dengan menganalisis faktor psikososial yang mengakibatkan stres kerja dan perilaku berisiko yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor psikososial terhadap stres kerja dan perilaku berisiko karyawan di PT. X. Metode penelitian yaitu deskriptif kuantitatif, desain studi cross-sectional, dengan sampel 200 orang. Faktor psikososial yang berhubungan yaitu beban kerja dan kecepatan kerja, pengendalian, fungsi organisasi, hubungan interpersonal, peran organisasi, pengembangan karir, home-work interface, tuntutan psikologis, partisipasi atau pengawasan, perundungan dan kekerasan. Terdapat hubungan antara stres kerja dan perilaku berisiko. Perilaku yang sering muncul ketika karyawan mengalami stres kerja yaitu terburu-buru saat bekerja. Keluhan stres kerja paling tinggi terkait keluhan fisiologis yaitu konsumsi obat penghilang sakit kepala; keluhan perilaku yaitu menyela dan memotong kalimat orang lain; keluhan emosional yaitu enggan pergi kerja. PT X sebaiknya melakukan risk assesment lebih komprehensif, memperjelas pengembangan karir, dan perhitungan ulang terkait beban kerja, efektifitas dan efisiensi agar tidak berdampak buruk terhadap work-life balance karyawan.
Analisis Pengaruh Faktor Personal dan Faktor Organisasi terhadap Perilaku Tidak Selamat pada Pekerja Konstruksi Gavin Andre Irhandy; Dadan Erwandi
National Journal of Occupational Health and Safety Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.471 KB) | DOI: 10.59230/njohs.v3i1.6106

Abstract

Industri konstruksi merupakan salah satu sektor yang terdapat bahaya yang besar dan risiko cukup tinggi sehingga memungkinkan terjadinya kecelakaan kerja. Penelitian ini diilakukan agar dapat mengetahui pengaruh faktor risiko individu dan organisasi terhadap perilaku tidak aman atau substandart action pada pekerja konstruksi. Penelitian ini menggunakan desain studi yang bersifat cross sectional. Instrumen yang digunakan untuk pengambilan data antara lain kuesioner  dan penelitian dilakukan pada bulan Mei – Juli 2021diperoleh jumlah sampel sebanyak 165 responden proyek pembangunan stadion sport centre Banten. Penelitian ini menjelaskan bahwa usia memiliki pengaruh positif namun tidak signifikan terhadap perilaku tidak aman, sedangkan tingkat pendidikan, pengalaman kerja diproyek bersangkutan, rata-rata jam kerja mingguan, motivasi keselamatan, dan faktor organisasi memiliki pengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap perilaku tidak aman. Dan pengetahuan keselamatan, psychological capital (efikasi diri, harapan, ketahanan, dan optimisme) memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap perilaku tidak aman. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengendalian dan intervensi untuk meminimalisir perilaku tidak aman atau (substandart action).
Analisa Faktor Psikosial Terhadap Gejala Distress Pada Karyawan Perusahaan Geothermal PT. X Khairul Fajarudin; Dadan Erwandi
National Journal of Occupational Health and Safety Vol 2, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.595 KB) | DOI: 10.59230/njohs.v2i2.5287

Abstract

Penelitian ini menyelidiki dan membandingkan berbagai faktor psikososial dan faktor lingkungan sosial yang dapat memberikan pengaruh pada satu atau berbagai gejala distress pada pekerja di perusahaan geothermal PT. X. Penelitian ini adalah penelitian semi kuantitatif dengan desain deskriptif. Penelitian menemukan 10 dari 11 indikator faktor psikososial yang dominan di persepsikan sebagian atau lebih responden, dengan 5 gejala stress kerja yang dominan adalah sakit kepala & pusing, MSDs, marah, sulit tidur, dan perubahan nafsu makan. Penelitian menyarankan kepada perusahaan untuk meninjau kembali beban kerja dan kapasitas kerja yang ada, meningkatkan proses manajemen kerja, memperbaiki komunikasi kerja dari tenaga asing, serta menciptakan lingkungan kerja yang suportif.
Differences in Levels of Prostate Specific Antigen and Insulin-like Growth Factor 1 in GSTP1 Gene Polymorphism among Workers Nendyah Roestijawati; Yudhi Wibowo; Tri Lestari
National Journal of Occupational Health and Safety Vol 1, No 01 (2020)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.227 KB) | DOI: 10.59230/njohs.v1i01.4575

Abstract

Cadmium (Cd) is classified as a carcinogen in humans (IA). In addition to causing lung cancer, the incidence of prostate cancer due to Cd exposure based on epidemiological research has also increased. This study aims to identify the GSTP1 genotypic frequency distribution and its correlation with PSA and IGF-1 levels in Cd exposed and unexposed workers. The research design used was cross sectional in 23 exposed groups (weld workers) and 40 unexposed groups (office employees) with a total of 63 people. The measurement of PSA and IGF-1 levels was carried out using the ELISA method and identification of the GSTP1 gene polymorphism using the PCR-RFLP method. Data analysis using Mann-Whitney and Spearman correlation test. The results showed that there was a relationship between PSA levels and IGF1 (p <0.01, r = 0.515) in all subjects. The results of identification of GSTP1 gene polymorphism were obtained as ile/ile genotypes as much as 30.2% and ile/val as much as 69.8%. There were no differences in PSA and IGF1 levels between ile/ile and ile/val genotypes (p> 0.05). There was a relationship between PSA and IGF1 (p <0.01, r = 0.569) in the group of Cd exposed workers and no differences in PSA and IGF1 levels between the ile/ile and ile/val genotypes (p> 0.05). There was a relationship between PSA and IGF1 (p <0.05, r = 0.342) in the unexposed group of workers and no differences in PSA and IGF1 levels between ile/ile and ile/val genotype (p>  0.05).
Gambaran Faktor Psikososial dan Gejala Stres Kerja pada Karyawan Kantor Proyek Pembangunan X Tahun 2021 Vania Widyadhari Haris Putri; L Meily Kurniawidjaja
National Journal of Occupational Health and Safety Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.894 KB) | DOI: 10.59230/njohs.v3i1.6036

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran persepsi pekerja terhadap faktor psikososial konteks dan konten pekerjaan serta mengetahui gejala stres kerja yang dikeluhkan karyawan. Variabel dependen adalah gejala stres kerja (fisik, psikologis, kognitif, dan perilaku), sedangkan variabel independen adalah faktor karakteristik individu (usia, jenis kelamin, pendidikan, masa kerja, dan tipe kepribadian), faktor psikososial konteks pekerjaan dan kontek pekerjaan. Desain penelitian cross sectional, pengambilan data kuesioner via daring dan melibatkan seluruh karyawan sebanyak 51 orang. Analisis univariat menggunakan perangkat lunak komputer. Persepsi faktor psikososial mengacu pada skor rata-rata, 1,00-3,00 tergolong buruk dan 3,01-5,00 tergolong baik. Hasil mendapatkan faktor psikososial konteks pekerjaan yang dipersepsikan buruk yaitu pengambilan keputusan/kontrol (2,92) dan hubungan rumah-kantor (2,34), sedangkan faktor psikososial konten pekerjaan yang dipersepsikan buruk yaitu lingkungan kerja (2,21), beban kerja/ritme kerja (2,63), dan jadwal kerja (2,03). Kategori stres mengacu pada skor rata-rata, 1,00-2,33 tergolong ringan, 2,34-3,67 sedang, dan 3,68-5,00 tinggi. Gejala stres kerja fisik, psikologis, kognitif, dan perilaku termasuk dalam kategori ringan dengan skor 2,14; 2,22; 2,33; 2,0 secara berurutan dan gejala yang tergolong sedang-tinggi dialami oleh 33,3%, 47,1%, 45,1%, dan 36,3% secara berurutan. Secara keseluruhan, faktor psikososial di kantor proyek pembangunan X tergolong buruk dengan keluhan gejala stres kerja ringan.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Fatigue Pada Masinis PT. Kereta Api Indonesia Daerah Operasional 3 Cirebon Citra Amaliyah; Doni Hikmat Ramdhan
National Journal of Occupational Health and Safety Vol 2, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.49 KB) | DOI: 10.59230/njohs.v2i1.5245

Abstract

Fatigue menjadi faktor penyumbang penting dalam isu-isu keselamatan seperti kesalahan dan kecelakaan transportasi. Sebagai bagian dari transportasi darat, keselamatan juga menjadi isu dalam industri kereta api. Dalam kurun waktu 6 tahun, terdapat setidaknya 700 peristiwa luar biasa hebat (PLH) di industri kereta api di Indonesia, termasuk tumburan antarkereta api. Dari hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi juga ditemukan bahwa beberapa kasus tumburan kereta api terjadi akibat adanya pelanggaran akibat fatigue. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat fatigue serta faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan fatigue pada masinis. Penelitian ini dilaksanakan pada Januari – Juni 2021 di PT. Kereta Api Indonesia Daerah Operasional 3 Cirebon sebagai salah satu daerah operasional yang strategis dan menjadi tempat pergantian masinis. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah 144 masinis kereta api penumpang dan barang. Data kemudian dianalisis dengan uji statistik chi square. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa 45,8% responden mengalami fatigue ringan dan 54,2% responden mengalami fatigue sedang. Dari penelitian ini juga diketahui ada hubungan antara IMT (OR1=2,454; OR2=4,723), waktu tidur (OR= 2,120) dan lingkungan kerja (OR= 3,495) dengan keluhan fatigue pada masinis. Untuk itu, perusahaan perlu mengoptimalkan promosi kesehatan bagi masinis dengan status gizi tidak normal, memastikan kecukupan waktu istirahat masinis serta melakukan instalasi pendingin ruangan pada kabin untuk mengurangi suhu dan kebisingan yang berdampak pada fatigue.
Hubungan Postur Kerja dengan Kejadian Nyeri Leher pada Pembatik di Kampung Batik Laweyan Surakarta Jossefa Almanita Haepie Firnadi; Selfi Handayani; Siti Munawaroh; Nanang Wiyono
National Journal of Occupational Health and Safety Vol 2, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3.672 KB) | DOI: 10.59230/njohs.v2i2.5627

Abstract

Nyeri leher merupakan salah satu keluhan muskuloskeletal yang sering dikeluhkan masyarakat. Postur kerja tidak ergonomis merupakan salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan nyeri leher. Pada pembatik, postur kerja tidak alamiah dilakukan dalam waktu lama beserta gerakan berulang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan postur kerja terhadap kejadian nyeri leher pada pembatik. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Subjek penelitian merupakan 41 pembatik yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Postur kerja pembatik diukur dengan Rapid Upper Limb Assessment (RULA). Pengukuran nyeri leher menggunakan kuesioner Neck Disability Index (NDI). Data dianalisis menggunakan uji korelasi Kendall's tau. Hasil penelitian postur pada pembatik paling banyak berisiko tinggi yaitu pada 25 orang. Untuk nyeri leher yang paling banyak dikeluhkan pembatik berada pada kategori nyeri ringan pada 26 orang. Berdasarkan uji analisis bivariat menggunakan uji korelasi Kendall's tau, didapatkan hasil signifikan (p=0,014; r=0,358). Terdapat hubungan yang signifikan dengan tingkat korelasi yang lemah antara postur kerja dengan kejadian nyeri leher pada pembatik di Kampung Batik Laweyan Surakarta.

Page 2 of 4 | Total Record : 33