cover
Contact Name
Zidnal Falah
Contact Email
jusindo.jsi@gmail.com
Phone
+6285322218207
Journal Mail Official
muhammadzidnal31@gmail.com
Editorial Address
Greenland Sendang Residence Blok H1, Sendang, Kec. Sumber, Cirebon, Jawa Barat 45611
Location
Kab. cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Published by Publikasi Indonesia
ISSN : 27753077     EISSN : 27750892     DOI : 10.36418
Core Subject : Health,
Ruang lingkup dan fokus penelitian terkait bidang kajian dengan penekanan pada pendekatan, yang meliputi: Kesehatan Masyarakat, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (Kesehatan Kerja; Hyperkes), Kebijakan Kesehatan (dan Analis Kesehatan), Ilmu Gizi, Epidemiologi, Teknik Kesehatan Lingkungan, Promosi Kesehatan, Asuransi Jiwa dan Ilmu Kesehatan, Kesehatan Lingkungan, Ilmu Olah Raga, Ilmu Keperawatan, Kebidanan, Administrasi Rumah Sakit, Entomologi (Kesehatan, Fitopatologi), Ilmu Biomedis, Ergonomi, Fisiologi Kerja, Fisioterapi, Analis Medis, Fisiologi (Olahraga ), Reproduksi (Biologi dan Kesehatan), Akupunktur, Rehabilitasi Medis.
Articles 411 Documents
Persepsi dan Sikap Etis Dokter dalam Pemberian Surat Keterangan Dokter di Lingkungan Kerja Hidayah Fatriah, Syarifah; Ivonesti, Syarifah
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi dan sikap etis dokter dalam pemberian surat keterangan dokter di lingkungan kerja. Surat keterangan dokter merupakan dokumen penting yang digunakan untuk berbagai keperluan administratif dan kesehatan karyawan. Namun, seringkali muncul kekhawatiran terkait penyalahgunaan dan ketidakpatuhan terhadap kode etik profesi dalam proses pemberiannya. Metodologi penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap dokter dan pengamatan langsung di fasilitas kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi dokter terhadap pemberian surat keterangan sangat dipengaruhi oleh faktor etika profesi dan tekanan dari lingkungan kerja. Sebagian dokter menyadari pentingnya menjaga integritas dan kejujuran dalam proses pemberian surat, namun ada juga yang menghadapi dilema moral ketika diminta untuk memberikan surat tanpa alasan medis yang jelas. Sikap etis dokter dalam konteks ini sangat dipengaruhi oleh tingkat pemahaman terhadap kode etik dan komitmen pribadi terhadap profesionalisme. Temuan ini menegaskan perlunya pelatihan berkelanjutan mengenai etik profesi dan penguatan sistem pengawasan untuk memastikan pemberian surat keterangan dokter dilakukan secara jujur dan bertanggung jawab.
Determinan Kejadian Diare Pada Balita di Jawa Barat (Analisis Data Survei Kesehatan Indonesia 2023) Syahputra, Yudha Joniyan; Hastono, Sutanto Priyo
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diare masih menjadi masalah kesehatan utama, baik secara global maupun nasional. Jawa Barat mencatat prevalensi diare balita sebesar 11%, tertinggi di Pulau Jawa dan kelima secara nasional. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi determinan kejadian diare pada balita di Jawa Barat. Menggunakan data SKI 2023 dengan 913 balita, studi ini bersifat cross-sectional dan dianalisis dengan pendekatan complex sample. Analisis meliputi uji univariat, bivariat (Chi-square), dan multivariat (regresi logistik berganda). Hasil: Faktor signifikan yang berhubungan dengan kejadian diare yaitu kondisi drainase limbah (p=0,004; OR=2,188; CI 1,283–3,733) dan ketersediaan fasilitas cuci tangan (p=0,044; OR=1,808; CI 1,017–3,213). Sumber dan pengolahan air minum merupakan variabel confounding. Optimalisasi sanitasi lingkungan dan penguatan upaya pencegahan masih diperlukan guna menurunkan prevalensi diare pada balita di Jawa Barat.
Analisis Biaya Pengobatan Pasien Demam Tifoid Rawat Inap BPJS Rumah Sakit Kabupaten Cibinong Tahun 2024 Fatah, Fadly Agung; Rosiana, Rosiana; Dewi, Masita Sari; Prakoso, Anom Dwi
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam tifoid merupakan penyakit endemik dengan angka kejadian yang masih tinggi di Indonesia. Penyakit ini umumnya diobati menggunakan antibiotik, namun tingginya angka resistensi antibiotik menjadi tantangan besar dalam terapi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas pengobatan demam tifoid dengan berbagai jenis terapi antibiotik, baik tunggal maupun kombinasi, sehingga dapat ditentukan pilihan terapi yang lebih efektif dari segi biaya dan hasil klinis. Penelitian ini menggunakan analisis Cost-Effectiveness Analysis (CEA) dengan rancangan retrospektif melalui pengambilan data rekam medik pasien demam tifoid di RS Kabupaten Cibinong pada periode Januari–Desember 2024. Jumlah sampel yang dianalisis sebanyak 28 pasien.  Penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok terapi tunggal, cefixime memiliki efektivitas 66,66% dan ceftriaxon juga sebesar 66,66%. Sementara itu, pada kelompok kombinasi ceftriaxon dan cefixime, efektivitas mencapai 100%. Dari segi biaya, nilai Average Cost-Effectiveness Ratio (ACER) menunjukkan bahwa terapi tunggal dengan ceftriaxon memiliki biaya Rp70.827, sedangkan cefixime Rp79.563. Kombinasi ceftriaxon dan cefixime justru lebih efisien dengan nilai Rp45.998. Analisis Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) menunjukkan bahwa penggunaan cefixime sebagai pengganti ceftriaxon membutuhkan biaya tambahan Rp582.307 untuk menurunkan suhu tubuh dan leukosit. Kesimpulannya, kombinasi ceftriaxon dan cefixime memberikan efektivitas terbaik dengan biaya yang lebih efisien dibanding terapi tunggal, sehingga dapat dipertimbangkan sebagai pilihan utama dalam pengobatan demam tifoid.
Hubungan Antara Indeks Massa Tubuh Dengan Kejadian Preeklampsia Pada Ibu Hamil di RSIA Ibunda Lampung Timur Tahun 2022-2023 Wisesa, I Gusti Ngurah Prema Dwi; Purbowati, Rini; Arimbi, Muzaijadah Retno
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Preeklampsia merupakan sindrom khas kehamilan yang ditandai dengan hipertensi onset baru setelah usia 20 minggu kehamilan, disertai proteinuria dan/atau kerusakan organ. Kejadian preeklampsia berkaitan erat dengan obesitas, yang dapat diukur melalui Indeks Massa Tubuh (IMT). Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hubungan antara IMT dengan kejadian preeklampsia pada ibu hamil di RSIA Ibunda Lampung Timur. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan analitik kuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional). Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik convenience sampling dengan besar sampel 60 orang pada poli obgyn Rumah Sakit Ibu dan Anak IBUNDA Lampung Timur. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil: Dari 60 sampel, ditemukan 20 orang (33,3%) mengalami preeklampsia. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara IMT dengan preeklampsia (p=0,002). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara IMT dengan kejadian preeklampsia pada ibu hamil di Rumah Sakit Ibu dan Anak IBUNDA Lampung Timur.
Hubungan Indeks Aterogenik Plasma dan Skor Thrive Terhadap Luaran Klinis Pasien Stroke Iskemik Akut di Rumah Sakit Adam Malik Medan Maharani, Yenny; Batubara, Chairil Amin; Hutagalung, Haflin Soraya
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Indeks aterogenik plasma (IAP) adalah suatu parameter biokimia yang digunakan untuk menilai risiko penyakit aterosklerosis. Skor Totaled Health Risks in Vascular Events (THRIVE) merupakan alat prediksi risiko untuk memperkirakan hasil klinis dan mortalitas pasien stroke iskemik akut. Pasien dengan IAP yang tinggi memiliki risiko aterosklerosis lebih besar, yang juga tercermin dalam peningkatan skor THRIVE. Dengan demikian, kombinasi dari kedua tools ini dapat membantu dalam memprediksi luaran klinis dan merancang strategi pengelolaan yang lebih efektif bagi pasien stroke iskemik akut. Tujuan: Menganalisis hubungan antara indeks aterogenik plasma dan skor THRIVE terhadap luaran klinis pasien stroke iskemik akut di RS Adam Malik Medan. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional terhadap 51 pasien stroke iskemik akut yang dirawat di ruang rawat inap RS Adam Malik Medan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Indeks aterogenik plasma diukur melalui hasil perhitungan logaritma nilai serum trigliserida dibagi dengan nilai serum HDL-C. Skor THRIVE dihitung berdasarkan faktor-faktor seperti usia, hipertensi, diabetes, dan NIHSS pada hari rawatan pertama. Luaran klinis diukur dengan menggunakan modified rankin score pada hari rawatan ketujuh. Data dianalisis secara statistik menggunakan SPSS dengan uji korelasi Gamma. Hasil: Tidak terdapat hubungan bermakna antara IAP dengan luaran klinis pasien stroke iskemik akut yang dinilai melalui skor mRS (r = -0,143; p = 0,844). Terdapat hubungan yang bermakna antara skor THRIVE dengan luaran klinis pasien stroke iskemik akut berdasarkan mRS (r = 0,933; p < 0,001). Diskusi: Skor THRIVE berhubungan dengan luaran klinis pasien stroke iskemik akut.
Perbandingan Uji Diagnostik Kuesioner Sindrom Terowongan Karpal Boston dengan Kuesioner Kamath dan Stothard Pada Pasien Sindrom Terowongan Karpal di Rumah Sakit Adam Malik Medan Putri, Melysa Kemala; Fithrie, Aida; Pujiastuti, R.A. Dwi
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Diagnosis Sindrom Terowongan Karpal (STK) yang akurat sangat penting untuk terapi yang tepat sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Namun, tidak semua fasilitas kesehatan memiliki alat pemeriksaan konduksi saraf serta biaya pemeriksaan yang tidak sedikit sehingga banyak kasus tidak dapat terdiagnosis dengan baik. Dengan adanya keterbatasan tersebut maka dikembangkan kuesioner atau instrumen yang dapat membantu klinisi untuk mendiagnosis STK. Tujuan: Mengetahui nilai uji diagnostik Kuesioner Sindrom Terowongan Karpal Boston (KSTK-B) dengan Kuesioner Kamath dan Stothard (KKS) di RS Adam Malik Medan. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional pada 51 pasien (67 manus yang diperiksa) yang mengalami gejala klinis STK di RS Adam Malik Medan yang memenuhi kriteria penelitian serta dikonfirmasi dengan pemeriksaan konduksi saraf. Kemudian dilakukan analisis statistik untuk menilai sensitivitas, spesifisitas, positive predictive value, negative predictive value, positive likelihood ratio, negative likelihood ratio, akurasi, serta nilai AUC dan ROC. Hasil: Terdapat 51 subjek penelitian, dengan mayoritas berjenis kelamin perempuan (66,7%). Hasil uji diagnostik untuk KSTK-B didapatkan sensitivitas sebesar 83,6%, spesifisitas sebesar 66,7%, PPV sebesar 92,0%, NPV sebesar 47,0%, LR+ sebesar 2,5, LR- sebesar 0,25, akurasi sebesar 80,5%, AUC sebesar 0,752. Sedangkan pada KKS didapatkan sensitivitas sebesar 87,2%, spesifisitas sebesar 75,0%, PPV sebesar 94,1%, NPV sebesar 56,2%, LR+ sebesar 3,49, LR- sebesar 0,17, akurasi sebesar 85,1%, dan nilai AUC sebesar 0,811. Kesimpulan: Pada hasil penelitian ini, KKS memiliki sensitifitas, spesifisitas, PPV, NPV, LR+, LR-, Akurasi, Nilai AUC, dan ROC yang lebih baik dibandingkan dengan KSTK-B dalam mendiagnosis Sindrom Terowongan Karpal.
Pendekatan Kedokteran Keluarga Melalui Kunjungan Rumah Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Dan Hipertensi Di Kota Surabaya: Sebuah Laporan Kasus Falerio Kristijanto, Johanes Aprilius; Herawaty, Wike; Noviana, Ayu Cahyani; Soetedjo, Farida Anggraini; Khamidah, Nur
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendekatan kedokteran keluarga berperan penting dalam pengelolaan penyakit kronis, terutama pada lansia dengan komorbiditas dan keterbatasan sosial-ekonomi. Laporan kasus ini bertujuan menggambarkan penerapan kunjungan rumah pada seorang pasien lansia dengan diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi di Kota Surabaya, dengan penekanan pada fungsi keluarga, sumber daya lingkungan, dan determinan kesehatan menurut kerangka HL Blum. Studi ini merupakan laporan kasus deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui satu rangkaian kunjungan rumah meliputi anamnesis komprehensif, pemeriksaan fisik dan penunjang sederhana, observasi lingkungan rumah, penyusunan genogram, penilaian fungsi keluarga dengan Family APGAR, dan asesmen sumber daya keluarga menggunakan SCREEM. Pasien berusia 67 tahun dengan riwayat diabetes melitus tipe 2 selama ±10 tahun dan hipertensi ±8 tahun, datang dengan keluhan pandangan kabur, obesitas sentral, dislipidemia, dan hiperurisemia; tekanan darah 160/100 mmHg dan gula darah sewaktu 221 mg/dL menunjukkan penyakit yang belum terkontrol. Family APGAR menunjukkan fungsi keluarga kategori sedang, dengan dukungan utama berpusat pada istri dan keterlibatan anak yang terbatas. Asesmen SCREEM mengidentifikasi hambatan pada aspek sosial, budaya, ekonomi, edukasi, dan medis, sementara aspek religius bersifat protektif. Pemetaan dengan kerangka HL Blum menegaskan bahwa interaksi faktor keturunan, perilaku berisiko, lingkungan yang kurang mendukung, dan keterbatasan pelayanan kesehatan berkontribusi terhadap buruknya pengendalian penyakit, sekaligus menegaskan nilai strategis kunjungan rumah dalam merancang tatalaksana bio-psiko-sosial-spiritual yang komprehensif dan berorientasi keluarga.
Hubungan Moda Transportasi ke Sekolah dengan Aktivitas Fisik dan Kualitas Tidur pada Siswa Sekolah Menengah Atas di Jawa Barat Ariono, Marco
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktivitas fisik dan kualitas tidur merupakan elemen penting bagi kesehatan remaja, namun keduanya dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk moda transportasi menuju sekolah. Bukti ilmiah di Indonesia terkait kontribusi moda transportasi terhadap aktivitas fisik dan kualitas tidur masih terbatas. Mengetahui hubungan antara moda transportasi ke sekolah dengan tingkat aktivitas fisik dan kualitas tidur siswa SMA di Jawa Barat, serta menilai hubungan aktivitas fisik dengan kualitas tidur. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang pada siswa SMA yang dipilih secara convenience sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring mencakup karakteristik demografi, moda transportasi, aktivitas fisik, dan kualitas tidur. Analisis hubungan dilakukan menggunakan Fisher’s Exact Test. Sebagian besar siswa menggunakan moda transportasi bermotor dan memiliki tingkat aktivitas fisik yang rendah hingga sedang. Kualitas tidur juga cenderung buruk (62,1%). Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara moda transportasi dengan aktivitas fisik maupun kualitas tidur (p = 1,000). Selain itu, tidak ditemukan hubungan signifikan antara aktivitas fisik dengan kualitas tidur (p = 1,000). Faktor eksternal seperti penggunaan gawai, tekanan akademik, dan kebiasaan tidur larut kemungkinan lebih berperan dibandingkan moda transportasi. Moda transportasi tidak terkait dengan aktivitas fisik maupun kualitas tidur siswa SMA di Jawa Barat. Intervensi peningkatan kesehatan remaja sebaiknya difokuskan pada edukasi sleep hygiene, manajemen penggunaan gawai, dan program peningkatan aktivitas fisik yang lebih terstruktur. Penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar dan pengukuran objektif aktivitas fisik diperlukan untuk memperkuat temuan ini
Repeat Acute Coronary Syndrome Following Percutaneous Coronary Intervention: A Case Report Rezkinanda, Alief; Anwar, Sjaiful
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Percutaneous coronary intervention (PCI) is the primary reperfusion strategy for ST-elevation myocardial infarction (STEMI). Despite high procedural success rates, patients remain at risk for recurrent acute coronary syndrome (ACS), particularly those with significant comorbidities. We report a case of recurrent ACS in a patient less than one year following successful primary PCI. A 50-year-old female presented to the emergency department with typical angina, shortness of breath, nausea, and diaphoresis. Her medical history was significant for hypertension, type 2 diabetes mellitus, and a STEMI treated with primary PCI five months prior. Despite reported adherence to dual antiplatelet therapy (DAPT), she presented with tachycardia (104 bpm) and hypotension (155/55 mmHg). Electrocardiography revealed sinus tachycardia with pathological Q waves in leads V1–V4, consistent with a prior anterior myocardial infarction. Laboratory evaluation demonstrated hyperglycemia (228 mg/dL) and elevated cardiac troponin (44.2 ng/mL). The patient was diagnosed with recurrent ACS superimposed on an old anterior myocardial infarction. She was stabilized with loading doses of aspirin and clopidogrel and admitted to the Intensive Cardiac Care Unit (ICCU) for guideline-directed medical therapy, including beta-blockers and high-intensity statins. She was discharged in stable condition after five days. This case illustrates that recurrent ACS can occur shortly after successful revascularization, specifically in patients with persistent cardiovascular risk factors such as uncontrolled hyperglycemia and hypertension. It highlights the critical importance of aggressive secondary prevention, strict glycemic control, and close follow-up to mitigate the risk of adverse cardiac events in the post-PCI period.
Gingivektomi Pada Enlargement Gingiva Karena Malposisi Gigi Individual Safira, Salwa; Faizah, Ariyani
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gingival enlargement is defined as a common clinical sign of gingiva caused directly by plaque that causes gingival inflammation. Gingivectomy is a procedure that can be performed on patients with gingival enlargement. This case report describes the management of gingival enlargement in a case of tooth 42 due to individual tooth malposition. A 20-year-old male patient came to Soelastri Dental and Oral Hospital in Surakarta complaining of swollen gums. The complaint was felt in the upper and lower front gums. The patient was unaware of the swelling, had never received treatment, and did not experience any pain. Gingival treatment for this patient began with phase 1 periodontal therapy followed by gingivectomy. The gingivectomy treatment in this case used a scalpel instrument and the results were effective in reducing the patient's gingival enlargement. The patient was advised to undergo further orthodontic treatment to correct individual tooth malposition.