cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsps@unisba.ac.id
Phone
+6285211144661
Journal Mail Official
bcsps@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp: +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Psychology Science
ISSN : -     EISSN : 28282191     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsps.v2i3
Bandung Conference Series: Psychology Science (BCSPS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Psikologi dengan ruang lingkup sbb: Broken Home, Budaya Organisasi, Celebrity Worship, Delinkuensi, Dewasa Awal, Disiplin Kerja, Dukungan Sosial, Health belief, Interaksi Parasosial, Kemandirian Anak Usia Dini, Kematangan Karir, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Obesitas, Parasocial Relationship, Peak Performance, Pendidikan Karakter, Penyesuaian diri, Penyesuaian pernikahan, Pola Asuh, Prestasi Belajar, Psychological Well-Being, Religiusitas, Remaja Akhir, Self Esteem, Self regulation, Ta’aruf. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 490 Documents
Pengaruh Self Esteem terhadap Body Image Remaja Akhir Putri Pengguna Tiktok Alika Salsabila Rahma Suhardian; Siti Qodariah
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.434 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.2952

Abstract

Abstract. Post-pandemic conditions make teenagers more at home and there is an increase in accessing the internet and social media. Currently, Tiktok application is the most popular and in-demand application among teenagers. The city of Bandung is the city with the tiktok in West Java.application tiktok has a lot of content and features that can be played, displayed, and enjoyed by its users. One of the content in tiktok is beauty and fashion content where in this content users are presented and facilitated to contain content regarding their own beauty by appearing on the For Your Page (FYP) tiktok.existence of beauty and fashion that is in great demand among teenagers raises the ideal self so that the term "body goals" among teenagers. Individual social media users who tend to compare themselves with others to get standards like them and are judged to have an impact on self-esteem. Adolescents have thoughts about their physical strengths and weaknesses so that they form a body image. Late teens themselves have the characteristics of self -esteem, and young women are considered more vulnerable to self-esteem. This study aims to see how much influence self-esteem on the body image of late teenage girls using the Tiktok in Bandung. The hypothesis in this study is that there is an influence between self-esteem on the body image of late adolescent girls who use the tiktok in the city of Bandung. Collecting data using the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) and Multidimesional Body Self Relations Questionnaire-Appereance Scales (MBSRQ-AS). The subjects of this study were 443 late adolescent female respondents who actively use the tiktok who like to view beauty and fashion on FYP tiktok for 1-2 hours per day and live in the city of Bandung. The data obtained shows that there is an influence between self-esteem on the body image of late teenage girls using the Tiktok in Bandung City by 80.7%. Abstrak. Kondisi pasca pandemic membuat remaja lebih banyak dirumah dan adanya peningkatan mengakses internet dan media sosial. Saat ini, Aplikasi Tiktok adalah aplikasi yang terpopuler dan diminati dikalangan remaja. Kota Bandung adalah kota dengan pengguna aplikasi tiktok tertinggi di Jawa Barat. Aplikasi tiktok memiliki banyak konten dan fitur yang bisa di mainkan, ditampilkan, dan dinikmati oleh penggunanya. Salah satu konten di aplikasi tiktok ini adalah konten beauty and fashion dimana pada konten ini pengguna disajikan dan difasilitasi untuk berkonten menyangkut kecantikan diri dengan muncul pada fitur For Your Page (FYP) tiktok. Dengan adanya konten beauty and fashion yang banyak diminati di kalangan remaja memunculkan ideal self sehingga muncul istilah “body goals” di kalangan remaja. Individu pengguna media sosial yang cenderung membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain untuk mendapatkan standard seperti mereka dan dinilai berdampak pada self esteem. Remaja memiliki pemikiran mengenai kelebihan dan kekurangan fisik dirinya sehingga membentuk body image. Remaja akhir sendiri memiliki ciri khas self esteem yang tinggi, dan remaja putri dinilai lebih rentan terhadap self esteem. Penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa besar pengaruh self esteem terhadap body image remaja akhir putri pengguna aplikasi tiktok di Kota Bandung. Hipotesis pada penelitian ini adalah terdapat pengaruh antara self esteem terhadap body image remaja akhir putri pengguna aplikasi tiktok di Kota Bandung. Pengumpulan data menggunakan alat ukur Rosenberg Self esteem Scale (RSES) dan Multidimesional Body Self Relations Questionnaire-Appereance Scales (MBSRQ-AS). Subjek penelitian ini sebanyak 443 responden remaja akhir putri yang aktif menggunakan aplikasi tiktok yang suka melihat konten beauty and fashion di FYP tiktok selama 1-2 jam per hari dan tinggal di Kota Bandung. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara self esteem terhadap body image remaja akhir putri pengguna aplikasi tiktok di Kota Bandung sebesar 80,7%.
Pengaruh Komitmen Organisasi terhadap Kesiapan untuk Berubah pada Guru di SMA X Cilegon Ricky Melani; Suhana
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.121 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.2968

Abstract

Abstract. This study was conducted to determine the effect of organizational commitment on the readiness to change in teachers at SMA X Cilegon. The results of this study are also in line with the results of research conducted by Fazzari (2021) and Naufal's research (2018) which became the research reference. The number of samples in this study consisted of 44 people. This study uses a quantitative approach using the Organizational Commitment Questionnaire (OCQ) Allen and Meyer (1990) and Readiness of Change (ROC) Holt, Armenakis, Field and Harris (2007) which have been adapted from previous researchers and analyzed using SPSS statistics. The results of the study using the SPSS-27 calculation show that (1) Affective commitment with a significance of 0.000 has a positive and significant effect on readiness to change with a coefficient value of 0.448 (2) Continuing commitment with a significance of 0.000 has a positive effect on readiness to change with a coefficient value of 0.554, with the results The continuance commitment becomes the most dominant variable on readiness to change (3) normative commitment with a significance of 0.002 has a positive effect on readiness to change with a coefficient value of 0.371. Abstrak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh antara komitmen organisasi terhadap kesiapan untuk berubah pada guru di SMA X Cilegon. Hasil dari penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fazzari (2021) dan penelitian Naufal (2018) yang menjadi rujukan penelitian, Jumlah sampel dalam penelitian ini terdiri dari 44 orang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan alat ukur Organizational Commitment Questionaire (OCQ) Allen dan Meyer (1990) dan Readiness of Change (ROC) Holt, Armenakis, Field dan Harris (2007) yang telah diadaptasi dari peneliti sebelumnya dan di analisis menggunakan statistik SPSS. Hasil penelitian menggunakan pergitungan SPSS-27 menunjukkan bahwa (1) Komitmen afektif dengan signifikansi 0,000 berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan untuk berubah dengan nilai koefisien 0,448 (2) Komitmen kontinuan dengan signifikansi 0,000 berpengaruh positif terhadap kesiapan untuk berubah dengan nilai koefisien 0,554, dengan hasil tersebut Komitmen kontinuan menjadi variabel yang paling dominan terhadap kesiapan untuk berubah (3) komitmen normatif dengan signifikansi 0,002 berpengaruh positif terhadap kesiapan untuk berubah dengan nilai koefisien 0,371.
Pengaruh Social Media Disorder terhadap Penerimaan Diri pada Kelompok Usia Emerging Adulthood Trie Isabella Wulandari; Lilim Halimah
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.605 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.2969

Abstract

Abstract. Emerging Adulthood is an individual with an age range of 18-25 years (6). explained that in adulthood, individuals often experience confusion, difficulties, difficulties, confusion that can inhibit self-function and lead to indications of disturbances, this is because individuals at this time are in a phase of self-exploration. The World Bank report entitled Harnessing Digital Technologies for Inclusion in Indonesia 2021 says that the age group appears to be adults with a duration of about 9.7 hours per day. One of the maladaptive uses of social media is to do a good comparison with them in accepting themselves (2). The research method used in this research is to use quantitative research methods with the number of research subjects as many as 213 respondents. The data analysis technique used in this study uses a statistical technique of simple linear regression analysis with the help of the Statistical Product and Service Solutions (SPSS) version 25.0 application. Based on the results of the calculation of the data obtained, it shows that Social Media Disorder has an influence with a significance level of 0.00<0.05 on self-acceptance in the adult age group who lives in West Java. That is, the results of this study indicate that social media disorder has a significant effect on self-acceptance in the emerging maturity age group in West Java. Abstrak. Emerging Adulthood merupakan individu dengan rentang usia 18-25 tahun (6). menjelaskan bahwa pada masa emerging adulthood individu seringkali mengalami kebingungan, kecemasan, kesulitan, kebingungan yang dapat menghambat fungsi diri dan mengarah pada indikasi terjadinya gangguan mental hal tersebut dikarenakan individu pada masa ini berada pada fase eksplorasi diri. laporan Bank Dunia berjudul Harnessing Digital Technologies for inclusion in Indonesia 2021 mengatakan bahwa kelompok usia emerging adulthood menghabiskan waktu sekitar 9,7 jam perhari. Penggunaan media sosial yang maladaptif salah satunya ialah dengan melakukan perbandingan penampilan yang berkaitan dengan ketidakpuasan mereka dalam menerima diri (2). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan jumlah subjek penelitian sebanyak 213 orang responden. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik statistik analisis regresi linear sederhana dengan bantuan aplikasi Statistical Product and Service Solutions (SPSS) versi 25.0. Berdasarkan hasil perhitunggan data yang diperoleh menunjukan bahwa Social Media Disorder memiliki pengaruh dengan tingkat signifikansi sebesar 0,00<0,05 terhadap penerimaan diri pada kelompok usia emerging adulthood yang berdomisili di Jawa Barat.Artinya, hasil penelitian ini menunjukan bahwa social media disorder berpengaruh signifikan terhadap penerimaan diri pada kelompok usia emerging adulthood di Jawa Barat.
Hubungan Kecemasan Sosial dengan Adiksi Media Sosial Instagram pada Emerging Adulthood Wildatun Nisa'u Sholihah Darmawan; Muhammad Ilmi Hatta
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.27 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.2970

Abstract

Abstract. Most people use the internet, one of which is accessing social media which functions as a way to avoid anxiety and as a substitute for face-to-face relationships that they do not get in everyday life because they are afraid to make direct contact with other people and prefer only online communication. However, excessive use of social media can lead to addiction. This study aims to see how closely the relationship between social anxiety and social media addiction to Instagram in emerging adulthood is in Bandung. The hypothesis in this study is that there is a positive relationship between social anxiety and social media addiction to Instagram in emerging adulthood in Bandung. The subjects of this study were 200 emerging adulthood students who were categorized as addicted to social media Instagram. This study uses the Social Anxiety Scale for Adolescent (SAS-A) from Greca & Lopez (1998) and the Social Media Disorder Scale (SMD Scale) from Eijnden, Lemmens, & Valkenburg, (2016). The analytical technique used is Spearman rank correlation test. The data obtained indicate that there is a strong positive relationship between social anxiety and social media addiction to Instagram in emerging adulthood in Bandung with a correlation value of 0.615 with a significance value of p = 0.000 <0.05. This means that the higher the level of social anxiety experienced by emerging adulthood in the city of Bandung, the higher the tendency for emerging adulthood to experience addiction to social media Instagram in Bandung. Abstrak. Kebanyakan orang menggunakan internet salah satunya mengakses media sosial berfungsi sebagai cara untuk menghindari kecemasan dan sebagai pengganti hubungan tatap muka yang tidak diperolehnya dalam kehidupan sehari-hari karena takut untuk melakukan kontak langsung dengan orang lain dan lebih memilih hanya komunikasi online. Namun penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menyebabkan adiksi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa erat hubungan antara kecemasan sosial dengan adiksi media sosial Instagram pada emerging adulthood di kota Bandung. Hipotesis pada penelitian ini adalah terdapat hubungan positif antara kecemasan sosial dan adiksi media sosial Instagram pada emerging adulthood di kota Bandung. Subjek penelitian ini adalah 200 mahasiswa berusia emerging adulthood yang terkategori adiksi media sosial Instagram. Penelitian ini menggunakan alat ukur Sosial Anxiety Scale for Adolescent (SAS-A) dari Greca & Lopez (1998) dan Social Media Disorder Scale (SMD Scale) dari Eijnden, Lemmens, & Valkenburg, (2016). Teknik analisis yang digunakan adalah uji korelasi rank spearman. Data yang diperoleh menunjukkan terdapat hubungan positif yang kuat antara kecemasan sosial dengan adiksi media sosial Instagram pada emerging adulthood di kota Bandung dengan nilai korelasi 0.615 nilai signifikansi p = 0.000 < 0,05. Artinya, semakin tinggi tingkat kecemasan sosial yang dialami emerging adulthood di kota Bandung maka semakin tinggi kecenderungan emetging adulthood mengalami adiksi media sosial Instagram di kota Bandung.
Pengaruh Self-esteem terhadap Fear of Missing Out pada Emerging Adulthood Pengguna Instagram Amanda Amalia; Indri Utami Sumaryanti
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.713 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.2972

Abstract

Abstract. a lot of people consider internet as needs because it allow us to access any information in every situation and one of them via social media. Instagram is a social media platform that have a lot of users, with Instagram we can connect with other people without even facing each other real time. Although, it could cause a lot of problem and one of them is FoMO phenomenon. The most people who experience fomo is emerging adulthood, people with FoMO feel anxious and afraid of missing out on precious moments that others experience in their absence, which leads individuals to check their devices more frequently to stay up-to-date on other people's activities. One that indicates fomo is self-esteem, the purpose of this study was to find out the effect of self-esteem on FoMO on emerging adulthood instagram users in Bandung. The method used is a quantitative study using a simple linear regression analysis technique with 196 sampling of emerging adulthood. The instruments used to collect data are the Fear of Missing Out Scale (Przybylski et al., 2013) which has been adapted by Azmi (2019) and the Rosenberg Self-esteem scale (Rosenberg, 1965) which has been adapted by Maroqi (2018). The results of the study found that self-esteem has a significant effect on FoMO with a negative direction of influence and. the contribution of self-esteem to the FoMO variable is 6.8%. Abstrak. Banyak orang menganggap internet sebagai kebutuhan karena memungkin kita untuk mengakses informasi kapanpun dan dimanapun, dengan internet kita dapat mengakses informasi kapanpun dan di manapun salah satunya melalui sosial media. Instagram merupakan media sosial yang memiliki pengguna paling banyak, dengan instagram kita dapat terhubung dengan orang lain tanpa bertatap muka, namun hal itu dapat menimbulakan masalah salah satunya terjadinya fenomena FoMO. Emerging adulthood merupakan usia yang paling tinggi mengalami FoMO, individu yang mengalami FoMO merasa cemas dan takut tertinggal momen berharga yang dialami orang lain ketika dirinya tidak ada, yang membuat individu menjadi lebih sering mengecek gawai untuk tetap up to date terhadap kegiatan orang lain. salah satu faktor yang dapat mendorong munculnya FoMO adalah self-esteem. Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui pengaruh self-esteem terhadap FoMO pada emerging adulthood pengguna instagram di kota Bandung. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan teknik analisis regresi linear sederhana dengan sampling 196 emerging adulthood. Instrumen yang digunakan untuk pengambilan data adalah Fear of missing out Scale (Przybylski et al., 2013) yang telah diadaptasi oleh Azmi (2019) dan Rosenberg Self-esteem scale (Rosenberg, 1965) yang telah diadaptasi oleh Maroqi (2018). Hasil penelitian menemukan bahwa self-esteem secara signifikan memiliki pengaruh terhadap FoMO dengan arah pengaruh negative. Kontribusi variabel self-esteem terhadap variabel FoMO sebesar 6.8%.
Pengaruh Organizational Justice Terhadap Organizational Commitment Pada Tenaga Kesehatan Silva Oktavianti Mardiana; Lisa Widawati; Ayu Tuty Utami
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.156 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.2974

Abstract

Abstract. Health workers an important role during the pandemic by being at the linefront. But with the important role of health workers, well being and justice are not secure. However, the health workers persisted and carried out their job at the hospital. The purpose of this study was description of organizational justice and the effect of organizational justice on the three components of organizational commitment are affective commitment, continuance commitment, and normative commitment to health workers at Otto Iskandar Dinata Hospital. This study is causality with quantitative methods. The subjects in this study were 82 health workers at Otto Iskandar Dinata Hospital. The instrument used to measure organizational justice from Colquitt & Greenberg (2005) and adapted by Anggoro et al., (2020). While organizational commitment from Allen & Meyer (1997) and adapted by Sulistiawan et al., (2021). This study used PLS-SEM to analyze data. The resutlf of this study that 75.6% of health workers have high organizational justice, positive and significant influence of organizational justice on affective by 15.3%, continuance by 13%, and normative by 12.7% with affective commitment component is dominates health workers to stay at hospital and the most common organizational commitment profiles are affective, continuance, and normative which are all high at 60%. Abstrak. Tenaga kesehatan berperan penting di masa pandemi dengan menjadi garda terdepan. Tetapi, dengan peran pentingnya tersebut kesejahteraan dan keadilannya tidak terjamin. Meskipun demikian, tenaga kesehatan tetap bertahan dan menjalankan tugasnya di rumah sakit tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran organizational justice dan pengaruh organizational justice pada tiga komponen organizational commitment yaitu affective commitment, continuance commitment, dan normative commitment pada tenaga kesehatan di RSUD Otto Iskandar Dinata. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif kausalitas. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 82 orang tenaga kesehatan di RSUD Otto Iskandar Dinata. Alat ukur yang digunakan untuk organizational justice adalah alat ukur dari Colquitt & Greenberg (2005) yang diadaptasi oleh Anggoro et al., (2020) dan alat ukur organizational commitment dari Allen & Meyer (1997) yang diadaptasi oleh Sulistiawan et al., (2021). Teknik analisis data yang digunakan adalah PLS-SEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 75.6 % tenaga kesehatan memiliki organizational justice yang tinggi, terdapat pengaruh positif dan signifikan organizational justice terhadap affective sebesar 15.3%, continuance sebesar 13%, dan normative sebesar 12.7% dengan komponen affective commitment yang paling mendominasi tenaga kesehatan untuk bertahan di rumah sakit tersebut, dan profil organizational commitment yang paling banyak dimiliki adalah affective, continuance, dan normative yang seluruhnya tinggi sebesar 60%.
Pengaruh Celebrity Worship terhadap Compulsive Buying pada Penggemar K-Pop Dewasa Awal Bandung Anisa Sofwan; Indri Utami Sumaryanti
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.696 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.2986

Abstract

Abstract. Korean waves in the form of Korean music or K-Pop have already occurred in Indonesia. K-Pop fans who do celebrity worship are dominated by early adults (Noer, 2021). Meanwhile, according to Raviv (1996), when entering the stage of early adult development, the celebrity worship experienced will decrease. K-Pop fans are famous for their loyalty, one way to do this is by buying merchandise related to idols (Barus, 2019), if they are not controlled, they tend to show compulsive buying behavior. The purpose of this study was to determine the effect of celebrity worship on compulsive buying on early adult kpop fans in Bandung. This research method is quantitative with causality research design. The theory used in this research is the celebrity worship theory from Maltby et al (2006) and the Compulsive Buying theory from Edward (1993). The measuring instrument used in this study to measure celebrity worship used the Celebrity Atitude Scale (CAS) compiled by Maltby et al (2006) adapted by Vera Novita Efathania and Aisyah (2019) and to measure compulsive buying using the Compulsive Buying Scale (CBS) compiled by Edwards (1993) adapted by Dinda Elmanda and Sita Rositawati (2020). This research was conducted on 200 early adult K-Pop fans domiciled in the city of Bandung. Data analysis used a simple linear regression model with SPSS version 26 for Windows application. The results of the study found that there was a significant influence of the celebrity worship variable on the compulsive buying variable of 38.4%. Abstrak. Korean waves dalam bentuk musik korea atau K-Pop sudah terjadi di Indonesia. Penggemar K-Pop yang melakukan celebrity worship di dominasi oleh dewasa awal (Noer, 2021). Sedangkan menurut Raviv (1996), ketika memasuki memasuki tahap perkembangan dewasa awal maka celebrity worship yang dialami akan berkurang. Penggemar K-Pop terkenal dengan loyalitasnya, salah satu cara yang dilakukan adalah dengan membeli merchandise terkait dengan idola (Barus, 2019), perilaku membeli merchandise jika tidak terkontrol maka cendurung memperlihatkan perilaku compulsive buying. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh celebrity worship terhadap compulsive buying pada penggemar kpop dewasa awal di bandung. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian kausalitas. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah untuk teori celebrity worship dari Maltby et al (2006) dan teori Compulsive Buying dari Edward (1993). Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengukur celebrity worship menggunakan Celebrity Atitude Scale (CAS) yang disusun oleh Maltby et al (2006) diadaptasi oleh Vera Novita Efathania dan Aisyah (2019) serta untuk mengukur compulsive buying menggunakan Compulsive Buying Scale (CBS) yang disusun oleh Edwards (1993) di adaptasi oleh Dinda Elmanda dan Sita Rositawati (2020). Penelitian ini dilakukan pada 200 penggemar K-Pop dewasa awal berdomisili di Kota Bandung. Analisis data mengunakan model regresi linear sederhana dengan aplikasi SPSS versi 26 for Windows. Hasil penelitian menemukan bahwa secara signifikan terdapat pengaruh variabel celebrity worship terhadap variabel compulsive buying sebesar 38,4%.
Pengaruh Identity Status terhadap Kematangan Karier Pelajar-Atlet SMA Pasundan 1 Bandung Inggrina Nursyahla; Dewi Sartika
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.233 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.2990

Abstract

Abstract. According to the Ministry of Youth and Sports, Indonesia has a lot of athletes, but not many can pass the selection to become national athletes. Although the opportunity for student-athletes to be professionally competent is very small, there are still many student-athletes who still hope to become professional athletes. This characteristic is referred to as identity foreclosure where student-athletes narrow their career choices, leaving many other career possibilities. This causes low career maturity. SMA Pasundan 1 Bandung has a special class for athletes who have various identity statuses (achievement, moratorium, foreclosure, and diffusion) and in the last three years has graduated student-athletes who continue their careers as athletes and non-athletes. This study aims to determine how much influence identity status has on career maturity at SMA Pasundan 1 Bandung. The identity status scale is Melgosa’s (1987) and adapted by Purtriandra et al. (2019) and the career maturity scale is Sartika’s (2020). This research is a population study of 46 student-athletes of SMA Pasundan 1 Bandung. The method used is causality with a quantitative approach. Analysis of the data used is a simple linear regression test technique. The results show that the significance value of identity status on career maturity is .000 (achievement), .543 (moratorium), .017 (foreclosure), and .000 (diffusion). This means that there is a significant influence of identity status (achievement, foreclosure, and diffusion) on career maturity. With a contribution value to career maturity of 27.2% (achievement), 12.3% (moratorium), and 31% (diffusion). Abstrak. Menurut Kementrian Pemuda dan Olahraga, Indonesia memiliki banyak sekali atlet, namun tidak banyak yang bisa lolos seleksi menjadi atlet nasional. Walaupun peluang bagi pelajar-atlet untuk dapat berkompetensi secara profesional sangat kecil, namun terdapat banyak pelajar-atlet yang tetap mengharapkan menjadi atlet profesional. Karakteristik tersebut disebut sebagai identity foreclosure dimana pelajar-atlet mempersempit pilihan karier mereka, sehingga meninggalkan banyak kemungkinan karier lain. Hal tersebut menyebabkan rendahnya kematangan karier. SMA Pasundan 1 Bandung memiliki kelas khusus atlet yang memiliki berbagai identity status (achievement, moratorium, foreclosure, dan diffusion) dan dalam tiga tahun terakhir memiliki lulusan pelajar-atlet yang meneruskan kariernya sebagai atlet dan non-atlet. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh identity status terhadap kematangan karier SMA Pasundan 1 Bandung. Penelitian ini menggunakan skala psikologis dengan alat ukur identity status dari Melgosa (1987) yang diadaptasi oleh Purtriandra et al. (2019) dan skala kematangan karier dari Sartika (2020). Penelitian ini merupakan studi populasi sebanyak 46 pelajar-atlet SMA Pasundan 1 Bandung. Metode yang digunakan adalah kausalitas dengan pendekatan kuantitatif. Analisis data yang digunakan adalah teknik uji regresi linier sederhana. Hasil pengolahan data menunjukkkan nilai signifikansi identity status terhadap kematangan karier yaitu .000 (achievement), .543 (moratorium), .017 (foreclosure), dan .000 (diffusion). Artinya terdapat pengaruh yang signifikan identity status (achievement, foreclosure, dan diffusion) terhadap kematangan karier. Dengan nilai kontribusi terhadap kematangan karier sebesar 27.2% (achievement), 12.3% (moratorium), dan 31% (diffusion).
Pengaruh Teacher Confirmation terhadap Online Student Engagement pada Mahasiswa di Jawa Barat Ashri Yasinta Nurhaliza; Sulisworo Kusdiyati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.095 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.3002

Abstract

Abstract. Online learning is carried out at universities in Indonesia during the Covid-19 pandemic. One of the important components that can make online learning work effectively is student engagement. There is a gap in research results which state that support from teachers can affect student engagement in online learning. According to Ellis (2000), support from the teacher in the form of teaching methods, responding to questions, and showing interest in students can lead to teacher confirmation that is perceived by students. The purpose of this study was to determine the effect of teacher confirmation on online student engagement. The method used in this research is causality. The measuring tools used are online student engagement (OSE) developed by Dixson (2015) and teacher confirmation developed by Ellis (2000). Respondents in this study were college students in West Java Province who participated in online learning. This study used the convenience sampling method, with a total sample of 402 students in West Java Province. This study uses a simple linear regression analysis. The results of this study stated that teacher confirmation had a positive effect on online student engagement (β=.49; p<.05). The contribution of teacher confirmation to online student engagement is 24.6% (R^2=24.6%). The online student engagement variable can be explained by the teacher confirmation variable of 24.6%. Abstrak. Pembelajaran secara daring dilakukan pada perguruan tinggi di Negara Indonesia pada masa pandemi Covid-19. Salah satu komponen penting yang dapat membuat pembelajaran secara daring dapat berjalan secara efektif adalah student engagement. Terdapat kesenjangan dalam hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa dukungan dari pengajar dapat mempengaruhi student engagement dalam pembelajaran daring. Menurut Ellis (2000), dukungan dari pengajar dalam pembelajaran berupa metode pengajaran, merespon terhadap pertanyaan, dan menunjukkan ketertarikan pada mahasiswanya dapat memunculkan teacher confirmation yang dipersepsikan oleh mahasiswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh teacher confirmation terhadap online student engagement pada mahasiswa. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah kausalitas. Alat ukur yang digunakan, online student engagement (OSE) yang dikembangkan oleh Dixson (2015) dan teacher confimation yang dikembangkan oleh Ellis (2000). Responden pada penelitian ini adalah mahasiswa di Provinsi Jawa Barat yang melaksanakan pembelajaran secara daring. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode convenience sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 402 mahasiswa di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan analisis uji regresi linear sederhana. Hasil pada penelitian ini menyatakan bahwa teacher confirmation berpengaruh positif terhadap online student engagement (β=.49; p<.05). Kontribusi teacher confirmation terhadap online student engagement sebesar 24.6% ( =24.6%). Variabel online student engagement dapat dijelaskan oleh variabel teacher confirmation sebesar 24.6%.
Pengaruh Illness Perception terhadap Suicidal Behavior pada Orang dengan Gangguan Bipolar (ODB) di Komunitas Rumah Kita Nadya Rahma Andjani Putri; Farida Coralia
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 3 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.061 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.3005

Abstract

Abstract. Bipolar disorder is a chronic mood disorder characterized by the alternation of manic or hypomanic episodes with depression. Bipolar disorder is one of the mental disorders with the highest risk of suicide, around 4-19% of people with bipolar disorder (ODB) eventually end their life by suicide, while 20-60% had committed suicidal behavior at least once in their life. The high number of suicidal behavior is the result of un-adaptive coping pattern. One of the factors related to coping patterns is the ODB's perception of the disorder. The purpose of this study is to obtain empirical data on how the influence of illness perception on suicidal behavior on ODB in Komunitas Rumah Kita. The measuring instrument used are The Brief Illness Perception Questionnaire (B-IPQ) and The Suicidal Behaviors Questionnaire-Revised (SBQ-R) that have been adapted. The method used in this research is simple linear regression. The research subjects are 69 ODB who are the active members in Komunitas Rumah Kita. The results showed that illness perception had a significant negative effect on suicidal behavior. Abstrak. Bipolar disorder merupakan gangguan mood kronis yang ditandai dengan episode manik atau hipomanik yang berselang-seling atau bercampur dengan episode depresi. Bipolar disorder menjadi salah satu gangguan mental dengan resiko bunuh diri tertingi dibandingkan gangguan mental lainnya, sekitar 4-19% dari Orang Dengan Gangguan Bipolar (ODB) akhirnya mengakhiri hidup dengan bunuh diri, sementara 20-60% pernah melakukan suicidal behavior setidaknya sekali dalam hidupnya. Tingginya angka suicidal behavior ini merupakan akibat dari pola koping ODB yang tidak adaptif. Salah satu faktor yang berkaitan dengan pola koping adalah persepsi ODB terhadap gangguannya. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh data empiris mengenai bagaimana pengaruh illness perception terhadap suicidal behavior pada ODB di Komunitas Rumah Kita. Pengumpulan data dilakukan menggunakan adaptasi dari alat ukur The Brief Illness Perception Questionnaire (B-IPQ) dan The Suicidal Behaviors Questionnaire-Revised (SBQ-R). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linear sederhana. Subjek penelitian adalah ODB yang menjadi anggota aktif di Komunitas Rumah Kita yang berjumlah 69 orang. Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh hasil illness perception berpengaruh terhadap suicidal behavior dengan arah pengaruh negatif.