Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Hubungan Keadilan Organisasi dengan Komitmen Organisasi pada Karyawan Generasi Milenial Nina Sundari; Ayu Tuty Utami
Jurnal Riset Psikologi Volume 2, No. 1, Juli 2022, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.917 KB) | DOI: 10.29313/jrp.v2i1.676

Abstract

Abstract. Generation Y or millennial generation is the generation that dominates in an organization with characteristics that are sensitive to injustice. They also have low organizational commitment. When they feel uncomfortable in their place of organization, they do not hesitate to leave the company. The purpose of this study was to determine the relationship between organizational justice and organizational commitment. The research hypothesis is that there is a positive relationship between organizational justice and organizational commitment. Participants in this study were millennial generation employees who worked at PDAM Tirta Giri Nata Cirebon as many as 61 people. The measuring instrument used (OJS) belongs to [1] which was adapted by Riyanthi and (OCQ) from [2] which was adapted into Indonesian [3]. Analysis of the data used is Pearson's Product Moment. The results showed that there was a positive and strong relationship between organizational justice and organizational commitment among millennial employees (r = 0.607; p = 0.000; p < 0.05). From the results of this study it can be concluded that the research hypothesis can be accepted. Abstrak.Generasi Y atau generasi millennial merupakan generasi yang mendominasi dalam sebuah organisasi dengan karakteristik yang sensitif terhadap ketidakadilan. Mereka juga memiliki komitmen organisasi yang rendah. Ketika mereka merasa tidak nyaman di tempat organisasi mereka, mereka tidak segan-segan untuk meninggalkan perusahaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara keadilan organisasi dengan komitmen organisasi. Hipotesis penelitian adalah terdapat hubungan positif antara keadilan organisasi dengan komitmen organisasi. Partisipan dalam penelitian ini adalah pegawai generasi milenial yang bekerja di PDAM Tirta Giri Nata Cirebon sebanyak 61 orang. Alat ukur yang digunakan (OJS) milik [1] (OCQ) dari [2] yang diadaptasi menjadi Bahasa Indonesia oleh [3] Analisis data yang digunakan adalah Pearson's Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan kuat antara variabel keadilan organisasi dengan komitmen organisasi pada karyawan generasi millennial (r = 0,607; p = 0,000; p < 0,05). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian dapat diterima.
Pengaruh Kualitas Kehidupan Kerja terhadap Komitmen Organisasi pada Karyawan Hybrid Working Tria Ajeng Andini; Lisa Widawati; Ayu Tuty Utami
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.217 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.2926

Abstract

Abstract.Hybrid Working is an adjustment effort made by the company in working due to covid-19 by applying a combination of working in the office and at home or in other places. In carrying out the hybrid working system, several phenomena are felt by employees, but the welfare obtained by employees both physically and mentally while working in a hybrid can have a positive impact on the company, including increasing employee organizational commitment. This study aims to determine how much influence the quality of work life has on the organizational commitment of Hybrid Working at digital startups in DKI Jakarta. The sampling technique used is convenience sampling with a total of 97 Hybrid Working . The measuring instrument used to measure the quality of work life is the Walton model from Timossi et al., (2008) which has been adapted into Indonesian by Wardani and Anwar (2019) and to measure organizational commitment using a measuring tool belonging to Tri Muji Ingarianti (2015). The analysis technique in this study uses multiple linear regression to see how much each dimension of the quality of work life has an influence on organizational commitment. This study results that the quality of work life contributes to the increase in organizational commitment by 41.5% and partially the dimensions that provide the largest contribution are adequate and fair compensation, which is 41.8%. Abstrak. Hybrid Working merupakan suatu upaya penyesuaian yang dilakukan oleh perusahaan dalam bekerja karena covid-19 dengan menerapkan kombinasi bekerja di kantor dan dirumah atau di tempat lainnya. Dalam menjalankan sistem hybrid working memunculkan beberapa fenomena yang dirasakan oleh karyawan, namun dengan adanya kesejahteraan yang diperoleh karyawan baik secara fisik maupun mental selama bekerja secara hybrid dapat memberikan dampak positif bagi perusahaan termasuk meningkatkan komitmen organisasi karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kualitas kehidupan kerja terhadap komitmen organisasi karyawan hybrid working pada startup digital di DKI Jakarta. Teknik sampling yang digunakan adalah convenience sampling dengan jumlah 97 karyawan hybrid working .Alat ukur yang digunakan untuk mengukur kualitas kehidupan kerja yaitu model Walton dari Timossi et al.,(2008) yang sudah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh Wardani dan Anwar (2019) dan untuk mengukur komitmen organisasi menggunakan alat ukur milik Tri Muji Ingarianti (2015). Teknik analisis dalam penelitian ini dengan menggunakan regresi linear berganda untuk melihat seberapa besar setiap dimensi kualitas kehidupan kerja dalam memberikan pengaruh pada komitmen organisasi. Penelitian ini menghasilkan bahwa kualitas kehidupan kerja memberikan kontribusi terhadap peningkatan komitmen organisasi sebesar 41,5% dan secara parsial dimensi yang memberikan sumbangan terbesar yaitu kompensasi yang memadai dan adil yakni sebesar 41,8%
Pengaruh Organizational Justice terhadap Komitmen Organisasi pada Karyawan Produksi di PT X Fakhrunnisa Raudatul Rahman; Lisa Widawati; Ayu Tuty Utami
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.99 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.2927

Abstract

Abstract. During the pandemic, manufacturing companies experienced a decline in growth which resulted in many employees being laid off. Although at the end of the pandemic manufacturing companies rose again, but there has been no increase in the number of employees, it is important to maintain employee commitment, one of which is by looking at the role of organizational justice in manufacturing companies. The purpose of this study was to determine the effect of organizational justice dimensions on organizational commitment. The research hypothesis is that there is a positive and significant effect of organizational justice on organizational commitment. Participants in the study were employees of the production department at PT X as many as 60 employees. The measuring instrument used is the Organizational Justice Scale (OJS) belonging to Colquitt (2005) which was adapted by Wahyu Anggoro (2020) and the Organizational Commitment Questionnaire (OCQ) from Mowday, Steers, and Porter (1979) which was adapted by Tri Muji Ingarianti ( 2015). Analysis of the data used in this study is multiple linear regression analysis. The results of the study stated that organizational justice has a positive and significant effect on organizational commitment by 30.4%. All dimensions of organizational justice have a positive influence on organizational commitment with the most significant dimension being distributive justice, which is 70%. Abstrak. Pada masa pandemi perusahaan manufaktur mengalami penurunan pertumbuhan yang mengakibatkan banyak karyawan yang di PHK. Meskipun pada akhir pandemi perusahaan manufaktur kembali bangkit, namun belum ada peningkatan jumlah karyawan maka penting untuk mempertahankan komitmen karyawan tersebut salah satunya dengan melihat peranan organizational justice pada perusahaan manufaktur. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh dimensi organizational justice terhadap komitmen organisasi. Hipotesis penelitian adalah terdapat pengaruh positif dan signifikan dari organizational justice terhadap komitmen organisasi. Partisipan dalam penelitian adalah karyawan departemen produksi di PT X sebanyak 60 karyawan. Alat ukur yang digunakan adalah Organizational Justice Scale (OJS) milik Colquitt (2005) yang diadaptasi oleh Wahyu Anggoro (2020) dan alat ukur Organizational Commitment Questionnaire (OCQ) dari Mowday, Steers, dan Porter (1979) yang diadaptasi oleh Tri Muji Ingarianti (2015). Analisis data yang digunakan dalam penelitian adalah analisis regresi linear berganda. Hasil dari penelitian menyatakan organizational justice berpengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen organisasi sebesar 30,4%. Seluruh dimensi organizational justice memiliki pengaruh positif terhadap komitmen organisasi dengan dimensi yang paling berpengaruh secara signifikan ialah dsitributive justice yakni sebesar 70%.
Pengaruh Person-Organization Fit terhadap Komitmen Organisasi pada Karyawan Milenial Rifa Afifah Kultsum; Lisa Widawati; Ayu Tuty Utami
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.616 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.2933

Abstract

Abstract. The purpose of this study is to see how much influence person-organization fit has on organizational commitment to millennial employees. The research method used is the causality method with a sampling technique using convenience sampling with 100 respondents as millennial employees at digital startups in DKI Jakarta. This study uses a psychological scale with a person-organization fit measuring instrument developed by Cable & DeRue in Grobler (2016) based on the concept of Kristoff theory and adapted into Indonesian by Supeli & Creed (2013), as well as an organizational commitment measuring instrument by Ingarianti (2015) based on the theoretical concept of Mowday, Steers, & Porter. Data analysis technique used in this research is multiple regression analysis. The results obtained from this study are 96% of employees had a high person-organization fit and 89% of employees had a high organizational commitment. Multiple regression results show that person-organization fit had a positive and significant effect on organizational commitment in this study (R Square = 0.343) or 34.3%. All components of person-organization fit has a positive partial effect on organizational commitment with an effect of 14.75% from the supplementary fit component and 19.53% from the complementary fit component. Abstrak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat seberapa besar pengaruh person-organization fit terhadap komitmen organisasi pada karyawan milenial. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kausalitas dengan teknik sampling menggunakan convenience sampling dengan jumlah subjek 100 responden karyawan milenial pada startup digital di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan skala psikologis dengan alat ukur person-organization fit yang dikembangkan oleh Cable & DeRue dalam Grobler (2016) berdasarkan konsep teori Kristof dan diadaptasi kedalam Bahasa Indonesia oleh Supeli & Creed (2013), serta alat ukur komitmen organisasi yang dikembangkan oleh Ingarianti (2015) berdasarkan konsep teori Mowday, Steers, & Porter. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis regresi berganda. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah 96% karyawan memiliki person-organization fit yang tinggi dan 89% karyawan memiliki komitmen organisasi yang tinggi. Hasil regresi berganda menunjukkan bahwa person-organization fit berpengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen organisasi pada penelitian ini sebesar (R Square = 0,343) atau sebesar 34,3%. Seluruh komponen person-organization fit memiliki pengaruh parsial positif terhadap komitmen organisasi dengan pengaruh sebesar 14,75% dari komponen supplementary fit dan sebesar 19,53% dari komponen complementary fit.
Pengaruh Person-Job Fit terhadap Komitmen Organisasi pada Karyawan Milenial Dita Hanina Rahma; Lisa Widawati; Ayu Tuty Utami
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.604 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.2951

Abstract

Abstract. Organizational commitment can be a factor that can improve the quality of human resources. One of the factors that can affect organizational commitment is person-job fit. The existence of compatibility between individual characteristics and work can affect work attitudes and behavior such as organizational commitment, and desire to settle. This study aims to analyze the effect of person-job fit on organizational commitment to millennial employees. The research method used is causality research with the subject of 71 millennial employees at PT.X. The person-job fit measuring instrument used in this study is the perceived fit scale from Cable & DeRue (2002) which was adapted by Pramesti et al., (2020). The tool for measuring organizational commitment uses the self-report scale proposed by Mowday et al., (1982) which was adapted by Ingarianti, (2015). The analysis technique used is multiple regression analysis. The results of the study found that as many as 91.5% of millennial employees at PT.X had a high person-job fit and as many as 81.7% had a high organizational commitment. The results of multiple analysis showed that person-job fit had a positive and significant effect on organizational commitment by 45.2% (R Square = 0.452). Each component of person-job fit also has a simultaneous effect on organizational commitment, namely the need supplies component of 41.2% and demand ability of 4.04%. Abstrak. Komitmen organisasi dapat menjadi faktor yang dapat meningkatan kualitas SDM. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi komitmen organisasi yaitu person-job fit. Adanya kesesuian antara karakteristik individu dengan pekerjaannya dapat mempengaruhi sikap dan perilaku kerja seperti, komitmen organisasi, dan keinginan menetap. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh person-job fit terhadap komitmen organisasi pada karyawan milenial. Metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kausalitas dengan subjek 71 orang karyawan milenial di PT.X. Alat ukur person-job fit yang digunakan pada penelitian ini adalah perceived fit scale dari Cable & DeRue (2002) yang di adaptasi oleh Pramesti et al., (2020). Alat ukur komitmen organisasi menggunakan self report scale yang dikemukakan oleh Mowday et al., (1982) yang diadaptasi oleh Ingarianti, (2015). Teknik analisis yang digunakan yaitu analisis regresi berganda. Hasil penelitian mendapatkan bahwa sebanyak 91,5% karyawan milenial di PT.X memiliki person-job fit yang tinggi dan sebanyak 81,7% memiliki komitmen organisasi yang tinggi. Pada hasil analisis berganda didapatkan hasil bahwa person-job fit berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap komitmen organisasi sebesar 45,2% (R Square = 0,452). Setiap komponen person-job fit juga berpengaruh secara simultan terhadap komitmen organisasi, yaitu komponen need supplies sebesar 41,2% dan demand ability sebesar 4,04%.
Pengaruh Organizational Justice Terhadap Organizational Commitment Pada Tenaga Kesehatan Silva Oktavianti Mardiana; Lisa Widawati; Ayu Tuty Utami
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.156 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.2974

Abstract

Abstract. Health workers an important role during the pandemic by being at the linefront. But with the important role of health workers, well being and justice are not secure. However, the health workers persisted and carried out their job at the hospital. The purpose of this study was description of organizational justice and the effect of organizational justice on the three components of organizational commitment are affective commitment, continuance commitment, and normative commitment to health workers at Otto Iskandar Dinata Hospital. This study is causality with quantitative methods. The subjects in this study were 82 health workers at Otto Iskandar Dinata Hospital. The instrument used to measure organizational justice from Colquitt & Greenberg (2005) and adapted by Anggoro et al., (2020). While organizational commitment from Allen & Meyer (1997) and adapted by Sulistiawan et al., (2021). This study used PLS-SEM to analyze data. The resutlf of this study that 75.6% of health workers have high organizational justice, positive and significant influence of organizational justice on affective by 15.3%, continuance by 13%, and normative by 12.7% with affective commitment component is dominates health workers to stay at hospital and the most common organizational commitment profiles are affective, continuance, and normative which are all high at 60%. Abstrak. Tenaga kesehatan berperan penting di masa pandemi dengan menjadi garda terdepan. Tetapi, dengan peran pentingnya tersebut kesejahteraan dan keadilannya tidak terjamin. Meskipun demikian, tenaga kesehatan tetap bertahan dan menjalankan tugasnya di rumah sakit tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran organizational justice dan pengaruh organizational justice pada tiga komponen organizational commitment yaitu affective commitment, continuance commitment, dan normative commitment pada tenaga kesehatan di RSUD Otto Iskandar Dinata. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif kausalitas. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 82 orang tenaga kesehatan di RSUD Otto Iskandar Dinata. Alat ukur yang digunakan untuk organizational justice adalah alat ukur dari Colquitt & Greenberg (2005) yang diadaptasi oleh Anggoro et al., (2020) dan alat ukur organizational commitment dari Allen & Meyer (1997) yang diadaptasi oleh Sulistiawan et al., (2021). Teknik analisis data yang digunakan adalah PLS-SEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 75.6 % tenaga kesehatan memiliki organizational justice yang tinggi, terdapat pengaruh positif dan signifikan organizational justice terhadap affective sebesar 15.3%, continuance sebesar 13%, dan normative sebesar 12.7% dengan komponen affective commitment yang paling mendominasi tenaga kesehatan untuk bertahan di rumah sakit tersebut, dan profil organizational commitment yang paling banyak dimiliki adalah affective, continuance, dan normative yang seluruhnya tinggi sebesar 60%.
Lokakarya Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dan Psychological First Aid (PFA) Dinda Dwarawati; Eni N. Nugrahawati; Anna Rozana; Ayu Tuty Utami; M. Husni; Yasyfa Camilla Pudjiadi; Hasybi M. Azka; Hasmi Havila
Jurnal Pengabdian Masyarakat (ABDIRA) Vol 3, No 1 (2023): Abdira, Januari
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdira.v3i1.293

Abstract

One of the FPRB volunteers' tasks is to strengthen the capacity of schools in Kabupaten Bandung for the government-initiated program, namely socializing the SPAB (Satuan Pendidikan Aman Bencana). Given that a disaster situation is one that puts survivors in a state of crisis, the survivors (disaster victims) are likely to have emotional reactions in various ways. The FPRB Volunteers of Kabupaten Bandung are the PKM's special target for the 2020-2022 period. The reason for the FPRB Volunteers of Kabupaten Bandung being the subject of the PKM is due to the needs of the organization, which will soon be implemented in 41 schools in 31 sub-districts throughout Kabupaten Bandung as the beneficiaries of the SPAB carried out by the FPRB Volunteers of Kabupaten Bandung as participants. The research method used in the PKM is the experimental research method. The researcher conducted quantitative research using a pre-experimental design, type 1 group, pre-test-post-test (pre-test, single-group final test), called quasi-experimental. The result of the service is that the workshop that has been given has led to an increase in SPAB and PFA facilitation skills among FPRB volunteers.
Pengaruh Work Life Balance terhadap Komitmen Organisasi pada Dosen Hybrid Working Alifia Nisaa Choeriyah; Lisa Widawati; Ayu Tuty Utami
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5185

Abstract

Abstract. In the face of organizational change that continues to grow, organizations need human resources who have organizational commitment. One of the factors that can affect organizational commitment is work life balance. When the organization can provide support to achieve work-life balance, employees will contribute more to the organization. This study aims to describe the effect of work life balance on the three components of organizational commitment on hybrid working lecturers. This study uses causality analysis using a quantitative approach. The population selected is the lecturers of the Islamic University of Bandung, amounting to 526 people. The measuring tool for work life balance refers to the scale proposed by Fisher et al. (2009) and adapted by Gunawan et al. (2019) and organizational commitment referred to by Allen & Meyer (1997) which was adapted by Sulistiawan et al. (2021). The sampling technique is Simple Random Sampling and the number of research samples obtained is 84 lecturers. The data collection technique used is a questionnaire. The analysis technique used is SEM-PLS using SmartPLS software. The results show that 70% of lecturers have a high work life balance and the most commitment profiles, namely affective, continuance, and high normative commitment as much as 66%, and work life balance can significantly affect affective commitment by 63.9%, continuance commitment by 56.9%, and normative commitment of 39.9%.Abstrak. Dalam menghadapi perubahan organisasi yang terus berkembang, organisasi membutuhkan SDM yang memiliki komitmen organisasi. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi komitmen organisasi yaitu work life balance. Ketika organisasi dapat memberi dukungan untuk mencapai work life balance, karyawan akan lebih berkontribusi pada organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengaruh work life balance terhadap tiga komponen komitmen organisasi pada dosen hybrid working. Penelitian ini menggunakan analisis kausalitas dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi yang dipilih adalah dosen Universitas Islam bandung yang berjumlah 526 orang. Alat ukur work life balance mengacu pada skala yang dikemukakan oleh Fisher et al. (2009) dan diadaptasi oleh Gunawan et al. (2019) dan komitmen organisasi mengacu pada oleh Allen & Meyer (1997) yang diadaptasi oleh Sulistiawan et al. (2021). Teknik pengambilan sampel yaitu Simple Random Sampling dan diperoleh jumlah sampel penelitian sebanyak 84 dosen. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Teknik analisis yang digunakan yaitu SEM-PLS dengan menggunakan software SmartPLS. Hasilnya menunjukkan sebanyak 70% dosen memiliki work life balance yang tinggi dan profil komitmen terbanyak yaitu affective, continuance, dan normative commitment yang tinggi sebanyak 66%, serta work life balance secara signifikan dapat mempengaruhi affective commitment sebesar 63.9%, continuance commitment sebesar 56.9%, dan normative commitment sebesar 39.9%.
PROGRESSIVE MUSCULAR RELAXATION DENGAN DZIKIR ASMAUL HUSNA TERHADAP PENURUNAN DERAJAT STRES PADA WANITA MENGALAMI INFERTILITAS PRIMER Ayu Tuty Utami
SCHEMA (Journal of Psychological Research) Volume 4 No. 1 Mei 2018
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.071 KB) | DOI: 10.29313/schema.v4i1.4450

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah melihat seberapa besar pengaruh Progressive Muscular Relaxation dengan Dzikir Asmaul Husna terhadap Penurunan Derajat Stres pada Wanita mengalami Infertilitas Primer. Infertilitas primer adalah kondisi dimana pasangan suami istri belum mampu dan belum pernah memiliki anak setelah satu tahun berhubungan seksual sebanyak 2-3 kali per minggu tanpa menggunakan alat kontrasepsi dalam bentuk apapun. Stres merupakan pengalaman subyektif yang terdiri atas persepsi individu terhadap sebuah situasi, dan reaksinya terhadap situasi tersebut. Gejala stres dapat diukur melalui reaksi fisik dan psikologis. Kunci menguasai stress adalah menjaga ketenangan emosi. Ketenangan emosi bisa terwujud jika aspek fisiologis berada dalam keadaan rileks. Berdasarkan hal ini, peneliti mencoba suatu bentuk intervensi yang sasarannya adalah peredaan stres melalui relaksasi otot yang dikombinasikan dengan dzikir asmaul husna. Pengkombinasian ini diharapkan memunculkan respon relaksasi yang lebih kuat karena adanya kondisi rileks dan munculnya sikap ikhlas serta pasrah kepada Allah SWT. Alat ukur yang digunakan yaitu kuesioner derajat stres diadaptasi dari Lestari (2012) dan dimodifikasi peneliti. Metode penelitian menggunakan Quasi Experimental dalam bentuk one group pre test-post tes design.  Berdasarkan hasil pengukuran, subyek 1 mengalami penurunan derajat stres sebesar 26,91%, subyek 2 sebesar 29,50%, dan subyek 3 sebesar 9,94%. Kata kunci : derajat stres, progressive muscular relaxation, dzikir asmaul husna, wanita infertilitas primer
Pengaruh Work Life Balance terhadap Komitmen Organisasi pada Dosen Hybrid Working Alifia Nissa Choeriyah; Ayu Tuty Utami
Jurnal Riset Psikologi Volume 3, No. 1, Juli 2023, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v3i1.1800

Abstract

Abstract. In the face of organizational change that continues to grow, organizations need human resources who have organizational commitment. One of the factors that can affect organizational commitment is work life balance. When the organization can provide support to achieve work-life balance, employees will contribute more to the organization. This study aims to describe the effect of work life balance on the three components of organizational commitment on hybrid working lecturers. This study uses causality analysis using a quantitative approach. The population selected is the lecturers of the Islamic University of Bandung, amounting to 526 people. The measuring tool for work life balance refers to the scale proposed by Fisher et al. (2009) and adapted by Gunawan et al. (2019) and organizational commitment referred to by Allen & Meyer (1997) which was adapted by Sulistiawan et al. (2021). The sampling technique is Simple Random Sampling and the number of research samples obtained is 84 lecturers. The data collection technique used is a questionnaire. The analysis technique used is SEM-PLS using SmartPLS software. The results show that 70% of lecturers have a high work life balance and the most commitment profiles, namely affective, continuance, and high normative commitment as much as 66%, and work life balance can significantly affect affective commitment by 63.9%, continuance commitment by 56.9%, and normative commitment of 39.9%. Abstrak. Dalam menghadapi perubahan organisasi yang terus berkembang, organisasi membutuhkan SDM yang memiliki komitmen organisasi. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi komitmen organisasi yaitu work life balance. Ketika organisasi dapat memberi dukungan untuk mencapai work life balance, karyawan akan lebih berkontribusi pada organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengaruh work life balance terhadap tiga komponen komitmen organisasi pada dosen hybrid working. Penelitian ini menggunakan analisis kausalitas dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi yang dipilih adalah dosen Universitas Islam bandung yang berjumlah 526 orang. Alat ukur work life balance mengacu pada skala yang dikemukakan oleh Fisher et al. (2009) dan diadaptasi oleh Gunawan et al. (2019) dan komitmen organisasi mengacu pada oleh Allen & Meyer (1997) yang diadaptasi oleh Sulistiawan et al. (2021). Teknik pengambilan sampel yaitu Simple Random Sampling dan diperoleh jumlah sampel penelitian sebanyak 84 dosen. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Teknik analisis yang digunakan yaitu SEM-PLS dengan menggunakan software SmartPLS. Hasilnya menunjukkan sebanyak 70% dosen memiliki work life balance yang tinggi dan profil komitmen terbanyak yaitu affective, continuance, dan normative commitment yang tinggi sebanyak 66%, serta work life balance secara signifikan dapat mempengaruhi affective commitment sebesar 63.9%, continuance commitment sebesar 56.9%, dan normative commitment sebesar 39.9%.