cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsps@unisba.ac.id
Phone
+6285211144661
Journal Mail Official
bcsps@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp: +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Psychology Science
ISSN : -     EISSN : 28282191     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsps.v2i3
Bandung Conference Series: Psychology Science (BCSPS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Psikologi dengan ruang lingkup sbb: Broken Home, Budaya Organisasi, Celebrity Worship, Delinkuensi, Dewasa Awal, Disiplin Kerja, Dukungan Sosial, Health belief, Interaksi Parasosial, Kemandirian Anak Usia Dini, Kematangan Karir, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Obesitas, Parasocial Relationship, Peak Performance, Pendidikan Karakter, Penyesuaian diri, Penyesuaian pernikahan, Pola Asuh, Prestasi Belajar, Psychological Well-Being, Religiusitas, Remaja Akhir, Self Esteem, Self regulation, Ta’aruf. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 490 Documents
Studi Deskriptif Penerimaan Diri pada Odapus Kirana Amirah Astasya; Eni Nurlaili Wangi
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12994

Abstract

Abstract Systemic Lupus Erythematosus is an autoimmune disorder that affects several body systems. SLE cannot be cured and will always be present in the patient's body. Early adult women diagnosed with lupus can be at risk of experiencing low self-acceptance, this is due to physical and psychological changes. The purpose of this study is to see how the picture of self-acceptance in Odapus. This research method uses a descriptive study with quantitative methods. The sampling technique used was purposive sampling with early adult female participants aged 18-25 years who were diagnosed with lupus and were in Bandung City. The measuring instrument used was the Unconditional Self-Acceptance Quettionare which has been adapted into Indonesian. The result of this study is that the self-acceptance of early adult Odapus is in the medium to high range. Abstrak. Systemic Lupus Erythematosus adalah gangguan autoimun yang berdampak terhadap beberapa sistem tubuh. SLE ini tidak bisa sembuh akan selalu ada pada tubuh penderita. Wanita dewasa awal yang terdiagnosis penyakit lupus bisa beresiko mengalami penerimaan diri yang rendah, hal ini dikarenakan terjadinya perubahan fisik maupun psikologis yang dirasaka oleh Odapus. Tujuan penelitian ini yaitu untuk melihat bagaimana gambaran penerimaan diri pada Odapus. Metode penelitian ini menggunakan studi deskriptif dengan metode kuantitatif. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling dengan partisipan wanita dewasa awal usia 18-25 tahun yang terdiagnosis penyakit lupus dan berada di Kota Bandung. Alat ukur yang digunakan adalah Unconditional Self-Acceptance Quettionare yang sudah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia. Hasil dari penelitian ini yaitu penerimaan diri Odapus dewasa awal berada pada rentang sedang sampai dengan tinggi.
Hubungan Kebersyukuran dengan Body Image pada Emerging Adulthood Pengguna Tiktok Haniyah Salsabila; Halimah, Lilim
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12998

Abstract

Abstract. Thoughts about skinny and ideal body on social media TikTok raise the impact of body image negative and social comparison on most emerging adulthood users. There are various factors that cause the individual to feel dissatisfied with their body image, including a low degree of gratitude that leads to a negative body image. The aim of this study is to investigate the relationship between gratitude and body image in the emerging adulthood of TikTok users in Bandung. The method used is quantitative correlation. The sample consisted of 371 emerging adulthood TikTok users in Bandung City who were selected using accidental sampling techniques. Measures used are The Islamic Gratitude Scale (IGS-10) constructed by Rusdi A et al. (2021) to measure gratitude and the Multidimensional Body Self Relations Questionnaire-Appereance Scales (MBSRQ-AS) of Cash (2000) which have been adapted by Khairani and al. (2019) for measuring body image. Data analysis was done using Spearman's correlation test. The research results indicate a significant relationship between gratitude and body image (r = 0.363, p = 0.001), although the correlation is low. This means that the higher the gratitude of emerging adults who use TikTok in Bandung, the more positive their body image. This study concludes that gratitude plays an important role in improving body image in emerging adulthood TikTok users in Bandung City so it is important to develop awareness and practice gratitude to help individuals deal with body image problems. Abstrak. Penggambaran mengenai tubuh ramping dan ideal di media sosial TikTok menimbulkan dampak ketidakpuasan tubuh dan perbandingan sosial pada sebagian besar pengguna emerging adulthood. Berbagai faktor yang melatarbelakangi individu merasa tidak puas dengan bentuk tubuhnya, diantaranya karena rendahnya rasa syukur yang selanjutnya menimbulkan body image negatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti hubungan antara kebersyukuran dengan body image pada emerging adulthood pengguna TikTok di Kota Bandung. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasional. Sampel penelitian terdiri dari 371 emerging adulthood pengguna TikTok di Kota Bandung yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Alat ukur yang digunakan adalah The Islamic Gratitude Scale (IGS-10) yang dikonstruksikan oleh Rusdi A et al. (2021) untuk mengukur kebersyukuran dan Multidimesional Body Self Relations Questionnaire-Appereance Scales (MBSRQ-AS) dari Cash (2000) yang telah diadaptasi oleh Khairani et al. (2019) untuk mengukur body image. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman’s. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara rasa syukur dan body image (r = 0.363, p = 0.001<0.05), meskipun hubungan tersebut rendah. Artinya, semakin tinggi rasa syukur emerging adulthood pengguna TikTok di Kota Bandung, maka semakin positif body image mereka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rasa syukur berperan penting dalam memperbaiki body image pada emerging adulthood pengguna TikTok di Kota Bandung sehingga penting untuk mengembangkan kesadaran dan praktik rasa syukur agar dapat membantu individu mengatasi masalah body image.
Pengaruh Insecure Attachment terhadap Perilaku Kekerasan Psikologis dalam Berpacaran pada Remaja Natasya Pramesti Alfadiyah; Eneng Nurlaili Wangi
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.13003

Abstract

Abstract. Cases of dating violence in Bandung City are currently the highest after domestic violence and have been increasing every year. The attachment style theory can be used to explain the risks associated with dating violence. Attachment is one of the factors that contribute greatly to dating violence. The purpose of this study is to examine the vulnerability of adolescents who experience psychological violence in dating, as seen from insecure attachment, which consists of preoccupied, dismissive, and fearful avoidant styles. Observing insecure attachment will influence adolescents to become victims of psychological violence in dating. This study employs a quantitative correlational research method. The subjects of this study consisted of 150 adolescents in Bandung City. Insecure attachment significantly affects the behavior of victims of violence in dating relationships among adolescents, accounting for approximately 55.1% of the variation in violent victim behavior. These findings indicate that adolescents with insecure attachment tend to be more prone to experiencing victimization behavior of violence in their dating relationships. Abstrak. Kasus kekerasan berpacaran di Kota Bandung pada saat ini menjadi kasus tertinggi pertama setelah kekerasan terhadap rumah tangga dan meningkat setiap tahunnya. Teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan resiko terkait kekerasan dalam pacaran ini ialah teori attachment style. Attachment merupakan salah satu faktor yang berkontribusi besar dalam kekerasan berpacaran. Tujuan penelitian ini untuk melihat kerentanan remaja yang mengalami kekerasan psikologis dalam berpacaran dilihat dari insecure attachment yang terdiri atas preeocupied, dismissive, dan fearful avoidant. Melihat dari insecure attachment akan mempengaruhi remaja untuk menjadi korban pada kekerasan psikologis dalam pacaran. Metode ini menggunakan penelitian kuantitatif korelasional. Subjek penelitian ini terdiri dari 150 remaja di kota Bandung. Insecure Attachment secara signifikan mempengaruhi perilaku korban kekerasan dalam hubungan pacaran pada remaja sekitar 55,1% variasi dalam perilaku korban kekerasan. Temuan ini mengindikasikan bahwa remaja dengan insecure attachment cenderung lebih rentan mengalami perilaku sebagai korban kekerasan dalam hubungan pacaran mereka.
Hubungan antara Self-Esteem dengan Kecenderungan Smartphone Addiction pada Remaja Akhir Putri Haz; Halimah, Lilim
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.13015

Abstract

Abstract. Self-esteem is an important factor that influences how adolescents interact with their environment and how they make social adjustments based on their self-assessment. Individuals -with low self-esteem often experience loneliness, anxiety, and a sense of rejection from their environment, which can impact smartphone use. This study aimed to explore the relationship between self-esteem and smartphone addiction in late adolescents. Quantitative methods were implemented in this study with a correlational approach, this study involved 198 late adolescents who live in Bandung, who were selected by purposive sampling. The measurement tools used include the Smartphone Addiction Scale Short Version (SAS-SV) developed by Kwon, Kim, Cho, and Yang (2013) and adapted by Cindy Chias, Elmeida Effendy, and Mustafa Mahmud (2019), and the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSE) adapted by Nelan Maroqi in 2018. Data analysis was conducted using Pearson Correlation. The results showed a correlation coefficient (r) of 0.986 with a P value <0.001, which indicates a very strong relationship between self-esteem and smartphone addiction. The results of this study suggest that adolescents with high self-esteem are more likely to experience smartphone addiction. Therefore, it is important for adolescent smartphone users with high self-esteem to understand this risk and implement strategies to use their smartphones more wisely. Abstrak. Self-esteem merupakan faktor penting yang memengaruhi bagaimana remaja berinteraksi dengan lingkungannya dan bagaimana mereka melakukan penyesuaian sosial berlandaskan penilaian pada dirinya sendiri. Individu dengan self-esteem yang rendah sering mengalami kesepian, kecemasan, dan rasa penolakan dari lingkungannya, yang bisa berimbas pada penggunaan smartphone. Penelitian ini bermaksud untuk mengeksplorasi hubungan antara self-esteem dan smartphone addiction pada remaja akhir. Metode kuantitatif diimplementasikan dalam studi ini dengan pendekatan korelasional, penelitian ini melibatkan 198 remaja akhir yang berdomisili di Bandung, yang dipilih secara purposive sampling. Alat ukur yang dipakai antara lain Smartphone Addiction Scale Short Version (SAS-SV) yang dikembangkan oleh Kwon, Kim, Cho, dan Yang (2013) dan diadaptasi oleh Cindy Chias, Elmeida Effendy, dan Mustafa Mahmud (2019), serta Rosenberg Self-Esteem Scale (RSE) yang diadaptasi oleh Nelan Maroqi pada tahun 2018. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Pearson Correlation. Hasil penelitian memperlihatkan nilai r = 0,986 dengan nilai P <0.001, memperlihatkan hubungan yang sangat kuat antara self-esteem dan smartphone addiction. Temuan ini mengindikasikan bahwa remaja dengan self-esteem yang tinggi lebih besar kecenderungan untuk mengalami smartphone addiction. Bagi remaja pengguna smartphone yang memiliki self-esteem yang tinggi perlu memamhami dan perlu strategi untuk memanfaatkan smartphone dengan lebih bijak.
Hubungan Tipe Kepribadian dan Pemaafan: Studi pada Pasangan yang Diselingkuhi dalam Pernikahan Dafina Hasnatamma; Farida Coralia
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.13235

Abstract

Abstract. One of the consequences of the high divorce rate is the increasing number of infidelity from year to year. Infidelity can affect the psychological condition of the victim. In order for the victim to reconcile and the psychological impact felt is not continuous, forgiveness is needed from the victim towards the perpetrator of the infidelity. One of the factors that underlies individuals to forgive is the personality type they have. This study aims to determine the relationship between personality types and forgiveness in couples who have been cheated on in marriage in the city of Bandung. Snowball sampling use in this research with total 120 respondents. This study used a correlational design and used the Spearman rank correlation test analysis technique. Measuring instrument in this study was the Big Five Personality Inventory (BFI) which has been adapted by Ramdhani and Transregression Related Interpersonal Motivation (TRIM-18) which has been adapted by Agung. Results of the study showed that there was a positive relationship between the personality types of openness to experience, conscientiousness, extraversion, and agreeableness with forgiveness and a negative relationship between the personality type of neuroticism with forgiveness. These findings indicate that personality types are related to forgiveness both positively and negatively based on sub-aspects of each personality type. Abstrak. Salah satu akibat dari tingginya perceraian adalah angka perselingkuhan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Perselingkuhan dapat mempengaruhi kondisi psikologis korban. Agar korban dapat berdamai dan dampak psikologis yang dirasakan tidak berkelanjutan, maka dibutuhkan pemaafan pada diri korban terhadap pelaku perselingkuhan. Salah satu faktor yang melatarbelakangi individu melakukan pemaafan adalah tipe kepribadian yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tipe kepribadian dengan pemaafan pada pasangan yang diselingkuhi dalam pernikahan di Kota Bandung. Teknik pengambilan sampel yaitu snowball sampling, dan jumlah sampel yang diperoleh sebanyak 120 responden. Penelitian ini menggunakan desain korelasional dan menggunakan teknis analisis uji korelasi rank spearman. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Big Five Personality Innventory (BFI) yang telah diadaptasi oleh Ramdhani dan Transregression Related Interpersonal Motivation (TRIM-18) yang telah diadaptasi oleh Agung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif pada tipe kepribadian openness to experience, conscientiousnes, extraversion, dan agreeableness dengan pemaafan dan hubungan negatif pada tipe kepribadian neuroticism dengan pemaafan. Temuan ini mengindikasikan bahwa tipe kepribadian berhubungan dengan pemaafan baik positif maupun negatif yang didasari oleh sub aspek pada setiap tipe kepribadiannya.
Studi Kontribusi Religiusitas terhadap Employee Well-Being pada Dosen di Perguruan Tinggi Swasta Berbasis Agama Kota Bandung Ilham Rasyid Rabbani; Mubarak, Ali
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.15688

Abstract

Abstract. Religiosity, as Huber stated (in Murken & Namini, 2004), is the mindset and belief that a person has regarding how they perceive the world, which in turn influences their experiences and behaviors in everyday life. Employee well-being refers to the welfare of employees and their level of satisfaction at work, which can impact their goals and the outcomes they achieve in their work (Page and Vella-Brodick, 2009). The aim of the study was to examine the extent to which religiosity contributes to employee well-being among lecturers at private religious-based tertiary institutions in the city of Bandung. The research hypothesis posits that religiosity significantly contributes to employee well-being in lecturers at religion-based tertiary institutions in the city of Bandung. The study utilized a cross-sectional design and employed multiple regression data analysis. The measurement tool used for religiosity was the Religiosity Scale, suggested by Huber & Huber (2012) and adapted into the Indonesian version by Mubarak et al. (2022), while the measurement tool for employee well-being was the Employee Well-Being Scale (EWBS), developed by Zheng et al. (2015) and adapted into the Indonesian version by Rahmi et al. (2021). The results showed that religiosity significantly contributed to employee well-being by approximately 16.2%. Abstrak. Religiusitas menurut Huber yang di cetuskan (dalam Murken & Namini, 2004) mendefinisikan religiusitas sebagai pemikiran dan keyakinan yang dimiliki seseorang untuk memandang dunia sehingga mempengaruhi perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari. Employee well-being merupakan perasaan sehat dan sejahtera yang diperoleh karyawan secara umum, kepuasan terhadap nilai-nilai instrinsik dan ekstrinsik dari suatu pekerjaan (Page & Vella-Brodrick, 2009). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana religiusitas dan employee well-being pada dosen di perguruan tinggi swasta berbasis agama di Kota Bandung, serta bagaimana kontribusi religiusitas terhadap employee well-being. Hipotesis penelitian adalah religiusitas memiliki kontribusi yang signifikan terhadap employee well-being pada dosen di perguruan tinggi swasta berbasis agama di Kota Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kuantitatif kausalitas dengan analisis data regresi berganda. Alat ukur yang digunakan adalah religiusitas yang disarankan oleh Huber & Huber (2012) yang telah diadaptasi ke dalam versi Bahasa Indonesia oleh Mubarak et al., (2022), sedangkan employee well-being menggunakan alat ukur Employee Well-Being Scale (EWBS) yang dikembangkan oleh Zheng et al. (2015) yang telah diadaptasi ke dalam versi Bahasa Indonesia oleh Rahmi et al., (2021). Hasil penelitian menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa terdapat kontribusi yang signifikan dari religiusitas terhadap employee well-being sebesar 16,2%.
Pengaruh Adversity Quotient terhadap Optimisme pada Mahasiswa Bekerja di Universitas Islam Bandung Kayla Ashifa Zahra Rudito; Muhammad Ilmi Hatta
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 5 No. 2 (2025): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v5i2.18686

Abstract

Abstract. The phenomenon of students juggling dual roles as students and workers is on the rise, but these roles often lead to significant academic and professional stress. This study aims to examine the influence of Adversity Quotient on optimism among working students at Bandung Islamic University. A quantitative approach with a causal design was used. Data was collected through an online survey using a questionnaire distributed to 125 active students working part-time with specific criteria. The instruments used were the Adversity Response Profile scale and a modified optimism scale, which were then analyzed using simple linear regression through the SPSS application. The results showed that both Adversity Quotient and optimism among students were in the low category. However, there was a significant positive influence of Adversity Quotient on optimism, contributing 40.8%. This means that the higher an individual's ability to cope with difficulties, the higher their level of optimism. This study contributes to the development of positive psychology research and serves as a reference for educational institutions and the workplace in understanding the potential and challenges of working students. The author expresses gratitude to all parties who assisted in the smooth conduct of this research. Abstrak. Fenomena mahasiswa yang menjalani peran ganda sebagai pelajar dan pekerja semakin meningkat, namun peran ini kerap menimbulkan tekanan akademik dan profesional yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Adversity Quotient terhadap optimisme pada mahasiswa bekerja di Universitas Islam Bandung. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain kausalitas. Data dikumpulkan melalui survei daring menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada 125 mahasiswa aktif yang bekerja paruh waktu dengan kriteria tertentu. Instrumen yang digunakan adalah skala Adversity Response Profile dan skala optimisme yang dimodifikasi, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear sederhana melalui aplikasi SPSS. Hasil menunjukkan bahwa baik Adversity Quotient maupun optimisme pada mahasiswa berada dalam kategori rendah. Namun, terdapat pengaruh positif yang signifikan dari Adversity Quotient terhadap optimisme dengan kontribusi sebesar 40,8%. Artinya, semakin tinggi kemampuan individu dalam menghadapi kesulitan, maka semakin tinggi pula tingkat optimisme yang dimiliki. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan kajian psikologi positif, serta menjadi acuan bagi institusi pendidikan dan dunia kerja dalam memahami potensi dan tantangan mahasiswa bekerja. Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu kelancaran penelitian ini.
Pengaruh Stres Kerja terhadap Work Engagement Karyawan di PT X Ratu Nasya Khairiyah Kireina; Muhammad Ilmi Hatta
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 5 No. 2 (2025): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v5i2.18913

Abstract

Abstract. Human resources are the most critical asset in an organization, serving as the driving force behind the company’s success. Employee work engagement has become a central focus in modern human resource management due to its significant role in achieving organizational goals. This study aims to examine the influence of job stress on employee work engagement at X. The method used is quantitative, employing a questionnaire approach involving 90 contract and permanent employees of PT X. The instruments used were the Job Stress Scale and the Utrecht Work Engagement Scale (UWES). The results showed that job stress had a negative and significant effect on work engagement. The regression coefficient was -0.835 (p < 0.05), indicating that higher job stress levels are associated with lower levels of work engagement. The coefficient of determination (R-squared) value of 0.431 indicates that job stress explains 43.1% of the variation in work engagement. These findings imply that effective management of job stress is essential to enhance employee work engagement at PT X. Abstrak. Sumber daya manusia merupakan aset terpenting dalam organisasi yang berperan sebagai motor penggerak utama keberhasilan perusahaan. Work engagement karyawan menjadi fokus utama dalam manajemen sumber daya manusia modern mengingat perannya yang signifikan dalam mencapai target perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh stres kerja terhadap work engagement karyawan di PT X. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan kuesioner yang melibatkan 90 karyawan kontrak maupun tetap PT X. Alat ukur yang digunakan adalah Job Stress Scale dan UWES (Utrecth Work Engagement Scale) Hasil penelitian menunjukkan bahwa stres kerja memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap work engagement. Koefisien regresi sebesar -0,835 (p < 0,05) mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat stres kerja, semakin rendah tingkat work engagement karyawan. Nilai koefisien determinasi (R-squared) sebesar 0,431 menunjukkan bahwa stres kerja mampu menjelaskan 43,1% variasi work engagement. Temuan ini mengimplikasikan bahwa pengelolaan stres kerja yang efektif penting untuk meningkatkan work engagement karyawan di PT X.
Pengaruh Persepsi Dukungan Organisasi terhadap Work-Life Balance Karyawan Generasi Z PT. X Raisa Fitrianda; Lisa Widawati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 5 No. 2 (2025): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v5i2.18969

Abstract

Abstract. Perceived organizational support refers to employees' views on how much the company values their contributions and cares for their well-being (Rhoades & Eisenberger, 2002). Work-life balance is how work and personal life influence each other, affecting well-being and job performance (Fisher et al., 2009). Generation Z values flexibility and balance, making organizational support key to achieving work-life balance (Rachmadini & Riyanto, 2020). This study examines the effect of perceived organizational support on work-life balance among Generation Z employees at PT. X. The research method used quantitative causality with a total sampling technique, so that 56 Generation Z employees became respondents. The instrument used the SPOS scale from Eisenberger et al. (1986) adapted by Purwaningrum et al. (2022), and the Work/Nonwork Interference and Enhancement scale from Fisher et al. (2009) adapted by Gunawan et al. (2019). The results of simple linear regression showed a significant influence (p < 0.05) with a contribution of 26.2% (R² = 0.262). Abstrak. Persepsi dukungan organisasi adalah persepsi karyawan tentang sejauh mana perusahaan menghargai kontribusi mereka dan peduli terhadap kesejahteraan mereka (Rhoades & Eisenberger, 2002). Work-life balance adalah sejauh mana pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat saling mendukung atau mengganggu, yang berdampak pada kesejahteraan serta kinerja kerja karyawan (Fisher et al., 2009). Generasi Z yang dikenal sangat menghargai fleksibilitas dan keseimbangan hidup menjadikan dukungan organisasi sebagai faktor penting dalam mencapai work-life balance (Rachmadini & Riyanto, 2020). Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh persepsi dukungan organisasi terhadap work-life balance pada karyawan Generasi Z di PT. X. Metode penelitian menggunakan kuantitatif kausalitas dengan teknik total sampling, sehingga 56 karyawan Generasi Z menjadi responden. Instrumen menggunakan skala SPOS dari Eisenberger et al. (1986) yang diadaptasi oleh Purwaningrum et al. (2022), dan skala Work/Nonwork Interference and Enhancement dari Fisher et al. (2009) yang diadaptasi oleh Gunawan et al. (2019). Hasil regresi linier sederhana menunjukkan pengaruh signifikan (p < 0.05) dengan kontribusi 26.2% (R² = 0.262).
Pengaruh Budaya Organisasi terhadap Komitmen Organnisasi pada Karyawan PT X Khansa Jilan Nafisa; Dwarawati, Dinda
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 5 No. 2 (2025): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v5i2.19011

Abstract

Abstract. This study aims to examine the influence of organizational culture on the organizational commitment of employees at PT X, a medical device manufacturing company located in Padalarang, West Java. The study used a quantitative approach with a non-experimental causality design, and data collection was conducted by distributing questionnaires. The population was 291 employees. From this population, 75 respondents were selected as a sample using convenience sampling. Data analysis was performed using the Partial Least Square Structural Equation Modeling (PLS-SEM) method. The analysis showed that organizational culture significantly influences the three dimensions of organizational commitment: affective commitment (β = 0.506; p = 0.001), continuance commitment (β = 0.654; p = 0.000), and normative commitment (β = 0.638; p = 0.000). Based on the coefficient of determination (R²), the influence of organizational culture on affective commitment is classified as weak (25.6%), while organizational culture on continuance commitment (42.7%) and normative commitment (40.7%) is moderate. The findings indicate that the existence of a strong organizational culture plays a role in shaping and strengthening employee commitment, particularly in the areas of poverty and norms toward the organization. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji seberapa besar pengaruh budaya organisasi terhadap komitmen organisasi karyawan PT X, sebuah perusahaan manufaktur alat kesehatan yang berlokasi di Padalarang, Jawa Barat. Penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif desain kausalitas non-eksperimental, dan pengumpulan data dilakukan dengan distribusi kuesioner. Total populasi 291 karyawan. Dari populasi tersebut, diperoleh 75 responden sebagai sampel yang ditentukan menggunakan teknik convenience sampling. Analisis data dilakukan memanfaatkan metode Partial Least Square Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Analisis menunjukkan budaya organisasi signifikan memengaruhi ketiga dimensi komitmen organisasi, yaitu komitmen afektif (β = 0,506; p = 0,001), komitmen kontinuan (β = 0,654; p = 0,000), komitmen normatif (β = 0,638; p = 0,000). Berdasarkan nilai koefisien determinasi (R²), pengaruh budaya organisasi terhadap komitmen afektif tergolong lemah (25,6%), sementara budaya organisasi terhadap terhadap komitmen kontinuan (42,7%) dan komitmen normatif (40,7%) berada pada kategori sedang. Temuan yang melihatkan keberadaan budaya organisasi kuat berperan dalam membentuk serta memperkuat komitmen karyawan, terutama pada aspek keberlanjutan dan norma terhadap organisasi.