cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsps@unisba.ac.id
Phone
+6285211144661
Journal Mail Official
bcsps@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp: +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Psychology Science
ISSN : -     EISSN : 28282191     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsps.v2i3
Bandung Conference Series: Psychology Science (BCSPS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Psikologi dengan ruang lingkup sbb: Broken Home, Budaya Organisasi, Celebrity Worship, Delinkuensi, Dewasa Awal, Disiplin Kerja, Dukungan Sosial, Health belief, Interaksi Parasosial, Kemandirian Anak Usia Dini, Kematangan Karir, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Obesitas, Parasocial Relationship, Peak Performance, Pendidikan Karakter, Penyesuaian diri, Penyesuaian pernikahan, Pola Asuh, Prestasi Belajar, Psychological Well-Being, Religiusitas, Remaja Akhir, Self Esteem, Self regulation, Ta’aruf. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 490 Documents
Pengaruh Fear Of Missing Out (FOMO) terhadap Social Connectedness pada Emerging Adulthood Naufal Rizky Darmansyah; Indri Utami Sumaryanti
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.961 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.3054

Abstract

Abstract. Physical distancing policies during the pandemic have had an impact on reducing feelings of social connectedness in emerging adulthood. The use of social media is one of their alternatives to stay connected. However, excessive use of social media can lead to FoMO. Not necessarily negative FoMO can on some occasions encourage a person's feelings of social connectedness. This study aims to determine how the effect of Fear of Missing Out (FoMO) on Social Connectedness on Emerging Adulthood Instagram social media users. The sample obtained is 300 emerging adults aged 18 to 25 years who have used Instagram social media for at least the last 12 months or one year. In this study the research method used is a quantitative method that uses an online questionnaire as a research instrument and the data analysis used is simple linear regression analysis. This study uses the Fear of Missing Out Scale which was developed by Przybylski, et al. (2013) adapted by Azmi (2019) and Social Connectedness Scale-Revised developed by Lee, R., Draper, M., & Lee, S. (2001) adapted by researchers and supervisors. The results in this study indicate that there is a significant and negative effect between FoMO and Social Connectedness in emerging adults in Bandung City with a significance value of .000 and Fear of Missing Out can explain Social Connectedness of 12.2% and 87.2% is explained by the variables others not investigated. Abstrak. Kebijakan jarak fisik selama pandemi telah berdampak pada penurunan perasaan keterhubungan sosial pada emerging adulthood. Penggunaan media sosial menjadi salah satu alternatif mereka untuk tetap terhubung. Namun, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menyebabkan FoMO. Tidak selalu negatif, FoMO pada bebeapa kesempatan dapat mendorong perasaan keterhubungan sosial seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) terhadap Social Connectedness pada Emerging Adulthood pengguna social media Instagram. Sampel yang diperoleh berjumlah 300 emerging adulthood berusia 18 hingga 25 tahun yang telah menggunakan social media Instagram selama minimal 12 bulan atau satu tahun terakhir. Dalam penelitian ini metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif yang menggunakan kuesioner online sebagai instrumen penelitian serta analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear sederhana. Penelitian ini menggunakan alat ukur Fear of Missing Out Scale yang dikembangkan oleh Przybylski, et al. (2013) yang diadaptasi oleh Azmi (2019) dan Social Connectedness Scale-Revised yang dikembangkan oleh Lee, R., Draper, M., & Lee, S. (2001) yang diadaptasi oleh peneliti dan dosen pembimbing. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang signifikan dan negatif antara FoMO dengan Social Connectedness pada emerging adulthood di Kota Bandung dengan nilai signifikansi .000 dan Fear of Missing Out dapat menjelaskan Social Connectedness sebesar 12.2% dan 87.2 % dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti.
Pengaruh Academic Self-Efficacy terhadap Academic Burnout pada Mahasiswa Kedokteran Kania Nurul Aida; Dewi Rosiana
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.589 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.3059

Abstract

Abstract. During the pandemic, an increase in burnout rates was found mostly in professional services such as health workers and hospital staff. However, it has now been found that burnout occurs in undergraduate medical students. This study aims to determine the level of academic self-efficacy and academic burnout, as well as to see how much influence academic self-efficacy has on academic burnout in medical students in Bandung City during the pandemic. The theory used is the concept of academic self-efficacy theory from Zajacova (2005) and Maslach's (2002) theory to explain the concept of academic burnout. This study uses a non-experimental quantitative approach with a causal research design to explain the influence of academic self-efficacy variables on academic burnout. The measuring instrument used is the Academic Self-Efficacy Scale compiled by Zajacova, et al (2005) and the Maslach Burnout Inventory-Student Survey (MBI-SS) compiled by Schaufeli, et al (2002) which has been adapted into Indonesian. Participants in this study were 294 medical students from 3 universities in the city of Bandung who filled out online questionnaires. The results of this study indicate that there is an influence of academic self-efficacy on academic burnout for medical students in Bandung City by 56.2%. Abstrak. Selama pandemi, adanya peningkatan tingkat burnout yang sebagaian besar ditemukan pada layanan profesi seperti tenaga kesehatan dan staf rumah sakit. Namun, kini telah ditemukan bahwa burnout terjadi sejak dini yaitu selama proses pendidikan kedokteran atau mahasiswa sarjana kedokteran. Penelitian ini bertujuan. untuk mengetahui tingkat academic self-efficacy dan academic burnout, serta melihat seberapa besar pengaruh academic self-efficacy terhadap academic burnout pada mahasiswa kedokteran di Kota Bandung selama masa pandemi. Teori yang digunakan adalah konsep teori academic self-efficacy dari Zajacova (2005) dan teori Maslach (2002) untuk menjelaskan konsep academic burnout. Penelitian ini menggunakan pendekatan. kuantitatif non eksperimental, dengan desain penelitian kausalitas untuk menjelaskan besar pengaruh variabel academic self-efficacy terhadap academic burnout. Alat ukur yang digunakan adalah Academic Self-Efficacy Scale yang disusun oleh Zajacova, et al (2005) dan Maslach Burnout Inventory-Student Survey (MBI-SS) disusun oleh Schaufeli, et al (2002) yang sudah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia. Partisipan dalam penelitian ini sebanyak 294 responden yang merupakan mahasiswa kedokteran dari 3 perguruan tinggi di Kota Bandung yang mengisi kuesioner secara online. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh academic self-efficacy terhadap academic burnout pada mahasiswa kedokteran di Kota Bandung sebesar 56,2%.
Pengaruh Self-Compassion terhadap Perfectionistic Self-Presentation Remaja Akhir Pengguna TikTok Ei Vidi Tiara; Siti Qodariah
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.328 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.3060

Abstract

Abstract. Social media is a lot of internet platforms to present themselves including TikTok with the majority of its users are late adolescene. Late adolescene at this age often present themselves on social media as a form of search and formation of self-identity and many late adolescene have a perfectionistic self-presentation attitude. Self-presentation on this variable includes the attitude of maladaptive perfectionism and these attitudes cause impacts such as stress, anxiety, to depression. Efforts to minimize the attitude of perfectionism is to increase self-compassion. This study aims to provide empirical data and determine the effect of these two variables on late teens using TikTok. The method used in this study is causality with a total of 406 subjects. The data analysis technique used is a simple regression test. The self-compassion measuring instrument uses the Self-Compassion Scale (SCS) from Neff and the perfectionistic self-presentation variable using the Perfectionistic Self-Presentation Scale (PSPS) from Hewitt. The results showed that the majority of late adolescene using TikTok in Bandung had a low level of self-compassion with a high perfectionistic self-presentation. The results of data processing show that self-compassion has a significant effect on perfectionistic self-presentation. The hypothesis t value is obtained. 0.000 > 0.05 (α) and the predicted result Y= 192750 – 0.619X with a negative direction from the result b = -1.011. The magnitude of the effect is 55.7%, meaning that the influence is at moderate level. Therefore, late adolescene are expected to increase self-compassion so that they can overcome the impact of perfectionistic self-presentation. Abstrak. Media sosial merupakan suatu platform internet yang banyak untuk menampilkan diri termasuk TikTok dengan mayoritas penggunanya adalah remaja akhir. Remaja akhir di usia ini banyak menampilkan dirinya di media sosial sebagai bentuk pencarian dan pembentukan identitas diri dan banyak remaja akhir yang memiliki sikap perfectionistic self-presentation. Presentasi diri pada variabel ini termasuk kepada sikap perfeksionisme yang maladaptif dan sikap tersebut menimbulkan dampak seperti stress, kecemasan, hingga depresi. Upaya untuk meminimalisir sikap perfeksionisme adalah dengan meningkatkan self-compassion. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan data yang empiris dan mengetahui pengaruh kedua variabel pada remaja akhir pengguna TikTok. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kausalitas dengan total subjek adalah 406 orang. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji regresi sederhana. Alat ukur self-compassion menggunakan Self-Compassion Scale (SCS) dari Neff dan variabel perfectionistic self-presentation menggunakan Perfectionistic Self-Presentation Scale (PSPS) dari Hewitt. Hasil penelitian menunjukan bahwa remaja akhir pengguna TikTok di Kota Bandung mayoritas memiliki tingkat self-compassion yang rendah dengan perfectionistic self-presentation yang tinggi. Hasil pengolahan data menunjukan bahwa self-compassion memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perfectionistic self-presentation diperoleh nilai t Hipotesis. 0,000 > 0.05 (α) dan hasil prediksi Y= 192.750 – 0.619X dengan arah negatif dari hasil b = -1.011. Besaran pengaruhnya adalah 55.7% artinya pengaruh berada pada tingkat moderat. Oleh karena itu, bagi remaja akhir diharapkan dapat meningkatkan self-compassion sehingga dapat mengatasi dampak dari perfectionistic self-presentation.
Pengaruh Self-Compassion terhadap Psychological Well-Being pada Mahasiswa Etnis Minangkabau di Kota Bandung Tri Asi Sucikaputri; Endah Nawangsih
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.494 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.3061

Abstract

Abstract. Migrating is something that a person does to seek or find a better life from where he came from. Students who migrate aim to get a better education from their place of origin. During the overseas period, students often experience difficulties that can affect their psychological well-being. Self-compassion is said to be a predictor of psychological well-being. This study was conducted to determine how much influence self-compassion has on psychological well-being in Minangkabau ethnic overseas students in Bandung. Self-compassion is measured by the Self-Compassion Scale (Sugiyanto, 2020) and psychological well-being is measured by the Indonesian version of the psychological well-being (Rahmayandi & Ramadanty, 2014). The participants in this study were 350 ethnic Minangkabau immigrant students in the city of Bandung, consisting of 242 women (69%) and 108 men (31%). This research is a quantitative research with causality design and analyzed using simple regression analysis. The main results of this study indicate that self-compassion affects the psychological well-being of Minangkabau ethnic overseas students in Bandung City with a contribution of 39.7%. This study predicts that every increase in self-compassion, it can increase psychological well-being by 89.3%. Abstrak. Merantau merupakan suatu hal yang dilakukan seseorang untuk mencari atau menemukan kehidupan yang lebih baik dari tempat asalnya. Mahasiswa yang merantau bertujuan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik dari tempat asalnya. Selama masa perantauan, mahasiswa kerap kali mengalami kesulitan yang dapat mempengaruihi psychological well-being nya. Self-compassion dikatakan merupakan prediktor bagi psychological well-being. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh self-compassion terhadap psychological well-being pada mahasiswa rantau etnis Minangkabau di Kota Bandung. Self compassion diukur dengan alat ukur Skala Welas Diri (Sugiyanto, 2020) dan psychological well-being diukur dengan alat ukur psychological well-being versi Bahasa Indonesia (Rahmayandi & Ramadanty, 2014). Partisipan pada penelitian ini adalah 350 mahasiswa perantau etnis Minangkabau di kota Bandung, yang terdiri dari 242 perenpuan (69%) dan 108 laki-laki (31%). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan design kausalitas dan dianalisis menggunakan analisis regresi sederhana. Hasil utama dari penelitian ini menunjukkan bahwa self-compassion berpengaruh terhadap psychological well-being pada mahasiswa rantau etnis Minangkabau di Kota Bandung dengan sumbangan sebesar 39.7%. Penelitian ini memprediksi bahwa setiap kenaikan self-compassion, maka dapat meningkatkan psychological well-being sebesar 89,3%.
Pengaruh Work Stress terhadap Work-Life Balance pada Developer di Sagara Technology Elsa Nurulita; Suhana
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.18 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.3064

Abstract

Abstract. Work-life balance is a topic that is currently being researched due to changes in the industry [1]. Job stress is an individual's feeling that deviates from its normal function as a result of obstacles and opportunities in the workplace [2]. This study aims to determine how much influence work stress has on the work-life balance of developers at Sagara Technology. Quantitative research method is used in this research. Research subjects are 42 developers at Sagara Technology. The measuring instruments used are the Work-Life Balance Scale developed by Fisher et al [3] and the Job Stress Scale developed by Parker & Decotiis [2]. Multiple linear regression is used as data analysis in this research. The results showed that 69.05% of developers at Sagara Technology have a low level of work stress and 73.81% of developers have a high level of work-life balance. This study also shows that simultaneously the aspects of work stress have an effect of 64% on work-life balance. Partially time stress aspect has an effect of 50.8% and the anxiety aspect has an effect of 13.2%. Abstrak. Work-life balance merupakan topik yang sedang marak diteliti karena perubahan-perubahan yang terjadi di industri [1]. Work stress merupakan perasaan individu yang menyimpang dari fungsi normalnya sebagai akibat dari hambatan dan peluang dalam pekerjaan yang dilakukan [2]. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh work stress terhadap work-life balance pada developer di Sagara Technology. Metode penelitian kuantitatif dipakai sebagai metode penelitian. Subjek penelitian adalah developer di Sagara Technology sebanyak 42 responden. Alat ukur yang dipakai dalah Work-Life Balance Scale yang dikembangkan oleh Fisher et al [3] dan Job Stress Scale yang dikembangkan oleh Parker & Decotiis [2]. Multiple linear regression merupakan analisis data yang dipakai dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 69.05% developer di Sagara Technology memiliki tingkat work stress yang rendah dan sebesar 73.81% developer di Sagara Technology memiliki tingkat work-life balance yang tinggi. Penelitian ini pun menunjukkan bahwa secara simultan, aspek dari work stress memberikan pengaruh sebesar 64% terhadap work-life balance. Secara parsial, aspek time stress memberikan pengaruh sebesar 50.8% dan aspek anxiety memberikan pengaruh sebesar 13.2%.
Pengaruh Strategi Coping terhadap Derajat Stres pada Perawat di Masa Pandemi Covid-19 Rias Fadhila Binurillah; Endah Nawangsih
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.461 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.3071

Abstract

Abstract. As one of the health workers, nurses have roles and duties in providing health services for the community, namely as nurses, administrators, educators, and researchers. These roles and duties make the intensity of meeting patients with nurses more frequent when compared to other health workers, even in the Covid-19 pandemic situation. Covid-19 causes several psychological problems for nurses such as anxiety, stress, and depression because nurses are afraid of getting infected and making people around them infected, also afraid of dying because they often witness cases of death of Covid-19 patients in large numbers. Therefore, nurses need to have the right coping strategies in order to deal with stress effectively. The purpose of this study was to describe the degree of stress and coping strategies, as well as to determine the effect of coping strategies on the degree of stress in nurses at the Edelweiss Hospital in Bandung during the Covid-19 pandemic. This study uses a causal quantitative method and data analysis using simple linear regression, with 20 nurses who treat patients with Covid-19 cases as respondents. Research data was taken using a stress measuring instrument constructed by Rizka Hadian Permana and Lilim Halimah which refers to the theory of Sarafino (2011) and the Ways of Coping Questionnaire (Lazarus & Folkman, 1984). The results of this study indicate that there is an effect of coping strategies on the degree of stress with a significance value of 0.019 <0.05, and the regression coefficient is negative. Abstrak. Sebagai salah satu tenaga kesehatan, perawat memiliki peran dan tugasnya dalam memberikan layanan kesehatan untuk masyarakat, yaitu sebagai pelaksana keperawatan, pengelola (administrator), pendidik, dan peneliti. Peran dan tugas tersebut membuat intensitas bertemu pasien pada perawat menjadi lebih sering jika dibandingkan dengan tenaga kesehatan lainnya, bahkan dalam situasi pandemi Covid-19. Covid-19 menyebabkan munculnya beberapa masalah psikologis pada perawat seperti cemas, stres, dan depresi dikarenakan perawat takut terinfeksi dan membuat orang disekitarnya ikut terinfeksi, juga takut meninggal karena sering menyaksikan kasus kematian pasien Covid-19 dalam jumlah yang besar. Oleh karena itu, perawat perlu memiliki strategi coping yang tepat agar dapat mengatasi stresnya dengan efektif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran derajat stres dan strategi coping, juga untuk mengetahui pengaruh strategi coping terhadap derajat stres pada perawat Rumah Sakit Edelweiss Bandung di masa pandemic Covid-19. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif kausalitas dan analisis data menggunakan regresi linear sederhana, dengan 20 orang perawat yang menangani pasien kasus Covid-19 sebagai responden. Data penelitian diambil menggunakan alat ukur stres yang di konstruksikan oleh Rizka Hadian Permana dan Lilim Halimah yang mengacu pada teori Sarafino (2011) dan Ways of Coping Questionaire (Lazarus & Folkman, 1984). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh strategi coping terhadap derajat stres dengan nilai signifikansi sebesar 0.019 < 0.05, dan koefisien regresi yang bernilai negatif.
Hubungan Kematangan Karir dengan Psychological Well-being pada Fresh Graduate di Kota Bandung Syafirah Mutiara Hakim; Andhita Nurul Khasanah
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.917 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.3078

Abstract

Abstract. One of the developmental tasks of emerging adulthood is to explore identity in the workplace. Same as the task of fresh graduates to find their work identity. On the other hand, fresh graduates experience feelings of anxiety due to the increasing number of unemployment and job competition, are unable to establish a settled personal identity, and tend not to want to discuss development tasks they have to deal with. These concerns illustrate that most of them are not ready to face the world of work, which in Super's definition (1977) is said to be a low level of career maturity. Failure to develop a career identity has been found in several studies to be associated with psychological well-being . The purpose of this study was to determine the relationship between career maturity and psychological well-being on fresh graduates in Bandung City. The method used is a correlational design with a quantitative approach with the number of participants as many as 200 people. The measuring instrument used aspects of Super career maturity by Dewi Sartika (2003) which was tried out again and Ryff's Psychological Well-being Scale using the Spearman Rank correlation test analysis technique. The results of the analysis show a positive relationship between career maturity and psychological well-being on fresh graduates in Bandung City (rs = 0.728), meaning that the higher the career maturity on fresh graduates, the higher their psychological well-being. Abstrak. Salah satu tugas perkembangan emerging adulthood adalah mengeksplorasi identitas di bidang pekerjaan. Hal tersebut sejalan dengan tugas fresh graduate untuk mencari identitas kerjanya. Disisi lain, fresh graduate mengalami perasaan cemas akibat meningkatnya jumlah pengangguran dan persaingan lapangan kerja, tidak mampu menetapkan identitas pribadi yang settle, dan cenderung untuk tidak ingin membahas tugas perkembangan yang harus dihadapinya. Kekhawatiran-kekhawatiran tersebut menggambarkan bahwa sebagian besar dari mereka memang belum siap untuk menghadapi dunia kerja, dimana dalam pengertian Super (1977) kekhawatiran tersebut dikatakan sebagai tingkat kematangan karir yang rendah. Kegagalan untuk mengembangkan identitas karir telah ditemukan dalam beberapa penelitian mengindikasikan psychological well-being individu yang rendah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui seberapa erat hubungan kematangan karir dengan psychological well-being pada fresh graduate di Kota Bandung. Metode yang digunakan adalah desain korelasional dengan pendekatan kuantitatif dengan jumlah partisipan sebanyak 200 orang. Alat ukur yang digunakan adalah penurunan aspek-aspek kematangan karir Super oleh Dewi Sartika (2003) yang di try out ulang dan Ryff’s Psychological Well-being Scale dengan menggunakan teknik analisis uji korelasi Rank Spearman. Hasil analisis menunjukkan hubungan yang positif antara kematangan karir dengan psychological well-being pada fresh graduate di Kota Bandung (rs = 0.728), artinya semakin tinggi kematangan karir fresh graduate semakin tinggi psychological well-being-nya.
Hubungan Kesepian dengan Problematic Internet Use pada Emerging Adulthood di Masa Pandemi Rizka Putri Ramadhani; Siti Qodariah
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.217 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.3084

Abstract

Abstract. During the Covid-19 pandemic, internet usage has increased significantly. Internet use among emerging adulthood has many negative effects because of its excessive use, such as feeling comfortable when interacting online, and having difficulty controlling oneself when accessing the internet. Internet use is also used to help cope with negative mood states, such as loneliness. Loneliness according to Russell, (1996) is a subjective feeling that results from dramatic changes in social life where there is no intimacy in a relationship. is a negative feeling experienced by a person due to an unpleasant situation from a feeling that does not match the expected social relationship. The purpose of this study was to obtain empirical data on the relationship between loneliness and problematic internet use in emerging adulthood during the COVID-19 pandemic. This study uses the correlational method with the research subjects totaling 349 respondents who were selected using accidental sampling techniques. Data collection uses the UCLA Loneliness scale version 3 developed by Russell, DW (1996) and the problematic internet use scale, namely the Generalized Problematic Internet Use Scale 2 (GPIUS 2) developed by Caplan (2010). Data analysis using Pearson correlation test. The results showed that there was a significant positive relationship between loneliness and problematic internet use (p = 0.000 < 0.05) by obtaining a correlation coefficient of 0.259 with a low but definite level of closeness. Abstrak. Selama pandemi Covid-19, penggunaan internet mengalami peningkatan yang signifikan. Penggunaan internet di kalangan emerging adulthood memberikan banyak efek negatif karena penggunaannya secara berlebihan, seperti merasa nyaman ketika berinteraksi secara online, dan kesulitan mengontrol diri ketika mengakses internet. Penggunaan internet juga digunakan untuk membantu mengatasi keadaan suasan hati yang negatif, seperti kesepian. Kesepian menurut Russel, (1996) adalah perasaan subyektif yang dihasilkan dari perubahan dramatis dalam kehidupan sosial dimana tidak ada keintiman dalam suatu hubungan. adalah perasaan negatif yang dialami seseorang dikarenakan situasi yang tidak menyenangkan dari adanya perasaan yang tidak sesuai antara hubungan sosial dengan yang diharapkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan data empiris mengenai hubungan kesepian dengan problematic internet use pada emerging adulthood di masa pandemi covid-19. Penelitian ini menggunakan metode korelasional dengan subjek penelitian berjumlah 349 responden yang diseleksi menggunakan teknik pengambilan sampling aksidental. Pengumpulan data menggunakan UCLA Loneliness scale version 3 yang dikembangkan oleh Russel, DW (1996) dan skala problematic internet use yaitu Generalized Problematic Internet Use Scale 2 (GPIUS 2) yang dikembangkan oleh Caplan (2010). Analisa data menggunakan uji korelasi pearson. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kesepian dengan problematic internet use (p=0.000< 0.05) dengan memperoleh nilai koefesien korelasi sebesar 0,259 dengan tingkat keeratan rendah tapi pasti.
Pengaruh Intensitas Bermain Instagram terhadap Depresi melalui Objektifikasi Diri sebagai Variabel Mediasi Saniyya Zahira Deriztian; Suci Nugraha
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.476 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i2.3085

Abstract

Abstract.The phenomenon of the intensity of playing Instagram which is increasing by causing positive and negative effects, one of the negative effects found the tendency of increasing levels of depression in Instagram users (Ha Sung Hwang, 2019). From the existing phenomena there are several identification problems in this study such as 1) Does the intensity of playing Instagram affect depression?, 2)Doest the intensity of playing instagram affect self objectification?, 3) Does self objectification affect depression?, 4) Does self objectification mediate the effect between intensity of playing Instagram and depression?. This study aims to determine the effect of intensity of playing Instagram on depression trough self objectification as a mediating variable using causal step with quantitative approach. There were 146 respondents who participated in this research. Abstrak.Fenomena intensitas bermain Instagram yang semakin meningkat dengan menimbulkan efek positif maupun negatif, salah satu efek negatif yang ditemukan adalah adanya kecenderungan meningkatnya tingkat depresi pada penggunanya (Ha Sung Hwang, 2019). Dari fenomena yang ada terdapat beberapa identifikasi masalah dalam penelitian ini 1) Apakah intensitas bermain Instagram berengaruh terhadap depresi?, 2) Apakah intensitas bermain Instagram berpengaruh terhadap objektifikasi diri?, 3) Apakah objektifikadi diri berpengaruh terhadap depresi?, dan 4) Apakah objektifikasi diri memediasi pengaruh intensitas bermain Instagram terhadap depresi?. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruhintensitas bermain Instagram terhadap depresi melalui objektifikasi diri sebagai variabel mediasi dengan menggunakan pendekatan kuantitatif kasusal step.Terdapat 146 responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini yang tersebar kedalam 5 provinsi. Penelitian ini menggunakan teknik sampling purposive sampling. Dari hasil uji regresi berganda menunjukan bahwa adanya pengaruh intensitas bermain Instagram terhadap depresi melalui objektifikasi diri.
Hubungan antara Motivasi Akademik dengan Active Procrastination di Masa Pandemi Covid-19 pada Siswa MAN 2 Tasikmalaya Shanty Apriliani; Temi Damayanti Djamhoer
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.137 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.3087

Abstract

Abstract. Based on the data, there is a phenomenon of procrastination among students in Indonesia during the Covid-19 pandemic. This procrastination is characterized by a tendency to often procrastinate tasks and obligations so that they accumulate at the end and many find it difficult to complete them. Although in general there is procrastination among students in Indonesia during the Covid-19 pandemic, students of MAN 2 Tasikmalaya still have a strong urge to take part in the distance learning process and have good academic achievements. Some researchers have revealed that adaptive procrastination has a positive effect on academic achievement. Adaptive procrastination or active procrastination is deliberate procrastination and for the most part leads to a satisfactory outcome. This study aims to determine how closely the relationship between academic motivation and active procrastination during the Covid-19 pandemic is for students at MAN 2 Tasikmalaya. The sample in this study were 311 students of MAN 2 Tasikmalaya. The measuring instrument for academic motivation uses the adaptation of the AMS (Academic Motivation Scale) based on the theory of Ryan & Deci, and the measuring instrument on the Active Procrastination Scale uses the adaptation of the APS (Active Procrastination Scale) based on the theory of Chun Chu & Choi. This study uses a quantitative approach with a correlational method. Data analysis using product moment pearson correlation test. The measurement results show that the correlation value is .642 > .111, which means that there is a strong and positive relationship between academic motivation and active procrastination. Abstrak. Berdasarkan data, terdapat fenomena prokrastinasi siswa di Indonesia pada masa pandemi Covid-19. Prokrastinasi ini ditandai dengan kecenderungan siswa yang sering menunda-nunda tugas dan kewajibannya sehingga menumpuk diakhir dan banyak yang merasa kesulitan dalam menyelesaikannya. Walaupun secara umum terjadi prokrastinasi pada siswa di Indonesia saat masa pandemi Covid-19, siswa MAN 2 Tasikmalaya tetap memiliki dorongan kuat untuk mengikuti proses pembelajaran jarak jauh dan mendapatkan prestasi akademik yang baik. Beberapa peneliti telah mengungkapkan bahwa penundaan yang adaptif memiliki efek positif pada prestasi akademik. Penundaan adaptif atau prokrastinasi aktif merupakan penundaan dengan sengaja dan sebagian besar mengarah pada hasil yang tetap memuaskan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa erat hubungan antara motivasi akademik dengan active procrastination di masa pandemi Covid-19 pada siswa MAN 2 Tasikmalaya. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 311 siswa MAN 2 Tasikmalaya. Alat ukur motivasi akademik menggunakan adaptasi AMS (Academic Motivation Scale) berdasarkan teori Ryan & Deci, dan alat ukur Active Procrastination Scale menggunakan adaptasi APS (Active Procrastination Scale) berdasarkan teori Chun Chu & Choi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Analisis data menggunakan uji korelasi product moment pearson. Hasil pengukuran menunjukan bahwa nilai korelasi .642 > .111, yang berarti bahwa terdapat hubungan positif yang kuat antara motivasi akademik dengan active procrastination.