cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsps@unisba.ac.id
Phone
+6285211144661
Journal Mail Official
bcsps@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp: +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Psychology Science
ISSN : -     EISSN : 28282191     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsps.v2i3
Bandung Conference Series: Psychology Science (BCSPS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Psikologi dengan ruang lingkup sbb: Broken Home, Budaya Organisasi, Celebrity Worship, Delinkuensi, Dewasa Awal, Disiplin Kerja, Dukungan Sosial, Health belief, Interaksi Parasosial, Kemandirian Anak Usia Dini, Kematangan Karir, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Obesitas, Parasocial Relationship, Peak Performance, Pendidikan Karakter, Penyesuaian diri, Penyesuaian pernikahan, Pola Asuh, Prestasi Belajar, Psychological Well-Being, Religiusitas, Remaja Akhir, Self Esteem, Self regulation, Ta’aruf. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 490 Documents
Pengaruh Job Involvement terhadap Komitmen Organisasi pada Volunteer di Yayasan Pemuda Peduli Nurul Shafira; Lisa Widawati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5160

Abstract

Organizational commitment reflects the level of seriousness of members in carrying out their duties and functions. Many researchers use organizational commitment as the main focus of their research. The more variables associated with organizational commitment. One of them is job involvement. There have been quite a number of studies examining the effect of job involvement on organizational commitment. However, most of the research is only in the profit sector. Meanwhile, very little has been done in the public sector, and there has been no research examining the level of influence of job involvement on organizational commitment in the non-profit sector, especially among volunteers. The Youth Cares Foundation is a non-profit organization with quite a number of volunteers who have been involved in it for a long time. This study aims to determine and analyze the level of influence of Job involvement on Organizational Commitment to Volunteers at Yayasan Pemuda Peduli. The research method used is the causality method with a total of 41 volunteers at the Youth Care Foundation. This study uses job involvement measurement tools from Kanungo's theory, namely the Job involvement Questionnaire (JIQ) and the Organizational Commitment Questionnaire (OCQ) which emerged together with the organizational commitment theory from Mowday, Porter & Steers. Based on the results of a simple linear regression analysis test with a significance level = 0.05, R^2 = 0.717 was obtained, indicating that there was a significant positive effect of job involvement on organizational commitment to volunteers at Yayasan Pemuda Peduli by 71.7%. Komitmen organisasi mencerminkan tingkat kesungguhan anggota dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Banyak peneliti yang menggunakan komitmen organisasi menjadi fokus utama penelitiannya. Semakin banyak pula variabel-variabel yang dikaitkan dengan komitmen organisasi. Salah satunya job involvement, sudah cukup banyak penelitian yang meneliti terkait pengaruh job involvement terhadap komitmen organisasi. Namun penelitian tersebut kebanyakan hanya di sektor profit. Sedangkan sangat sedikit yang dilakukan disektor publik, dan belum ada penelitian yang menguji tingkat pengaruh job involvement terhadap komitmen organisasi pada sektor non profit, khususnya pada kalangan volunteer. Yayasan Pemuda Peduli merupakan organisasi non profit dengan cukup banyak volunteer yang cukup lama tergabung didalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis tingkat pengaruh Job involvement terhadap Komitmen Organisasi pada Volunteer di Yayasan Pemuda Peduli. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kausalitas dengan jumlah subjek 41 volunteer di Yayasan Pemuda Peduli. Penelitian ini menggunakan alat ukur job involvement dari teori Kanungo yaitu Job involvement Questionnaire (JIQ) dan Organizational Commitment Questionaire (OCQ) yang muncul bersama teori komitmen organisasi dari Mowday, Porter & Steers. Berdasarkan hasil uji analisis regresi linear sederhana dengan taraf signifikansi = 0.05 diperoleh = 0,717 yang menandakan terdapat pengaruh signifikan positif job involvement terhadap komitmen organisasi pada volunteer di Yayasan Pemuda Peduli sebesar 71.7%.
Pengaruh Regulasi Emosi terhadap Perilaku Cyberbullying pada Pengguna Media Sosial Adinda Ridha Intishar; Eni Nuraeni Nugrahawati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5164

Abstract

Cyberbullying is one of the impacts of using the internet. This phenomenon often occurs along with the development of technology, one of which is social media. Social media makes it easier for someone to do cyberbullying. Cyberbullying can occur because emotion regulation is carried out in a way that is not socially desirable. Emotion regulation is known to be one of the factors associated with cyberbullying behavior. This study aims to determine how much influence emotional regulation has on cyberbullying behavior in social media users. Data collection was carried out using the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) measuring instrument based on Gross & John's theory (2003) to measure emotion regulation and an instrument based on Willard's cyberbullying theory (2007) to measure cyberbullying behavior. The data are collected from 159 social media users with incidental sampling. Results showed that 89.3% of social media users had low cyberbullying. Based on data analysis using multiple linear regression it was found that in this study, cognitive reappraisal contributed to cyberbullying by 3% and expressive suppression contributed to cyberbullying by 32.4%. So that there is an effect of emotion regulation on cyberbullying behavior on social media users. Cyberbullying merupakan salah satu dampak buruk dari penggunaan internet. Fenomena ini sering terjadi seiring dengan berkembangnya teknologi, salah satunya media sosial. Media sosial mempermudah seseorang untuk melakukan cyberbullying. Cyberbullying dapat terjadi karena regulasi emosi yang dilakukan dengan cara yang tidak diinginkan secara sosial. Regulasi emosi diketahui menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan perilaku cyberbullying. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh regulasi emosi terhadap perilaku cyberbullying pada pengguna media sosial. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan alat ukur Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) berdasarkan teori Gross & John (2003) untuk mengukur regulasi emosi dan untuk mengukur perilaku cyberbullying digunakan alat ukur berdasarkan teori cyberbullying Willard (2007). Sampel yang berpartisipasi dalam penelitian ini ialah pengguna aktif media sosial berjumlah 159 orang dengan menggunakan incidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 89.3% pengguna media sosial dengan cyberbullying rendah. Berdasarkan analisis data menggunakan regresi linear berganda ditemukan bahwa dalam penelitian ini, cognitive reappraisal berkontribusi terhadap cyberbullying sebesar 3% dan expressive suppression berkontribusi terhadap cyberbullying sebesar 32.4%. Sehingga terdapat pengaruh regulasi emosi terhadap perilaku cyberbullying pada pengguna media sosial.
Pengaruh Conflict Resolution Styles terhadap Marital Satisfaction Laki-Laki Korban Domestic Violence Putri Aditya Permata; Suci Nugraha
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5177

Abstract

Abstrak -Hubungan pernikahan yang harmonis seharusnya dapat diraih oleh semua pasangan yang telah menikah, namun kini kasus domestic violence di Indonesia kian meningkat. Kini banyak penelitian yang hanya berfokus pada perempuan sebagai korban domestic violence, akan tetapi masih sedikit yang berfokus pada populasi laki-laki korban domestic violence, dikarenakan berbagai alasan seperti pemahaman budaya dan stigma-stigma yang diterapkan lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data empiris mengenai seberapa pengaruh setiap jenis conflict resolution style terhadap marital satisfaction laki-laki korban domestic violence di Bandung Raya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain penelitian kausalitas dengan 145 subjek penelitian. Alat ukur yang digunakan adalah Rahim Organizational Conflict Inventory – II (ROCI-II) dari Rahim (2001) untuk mengukur conflict resolution style dan ENRICH Marital satisfaction scale dari Fowers & Olson (1993) untuk mengukur marital satisfaction. Teknik analisis yang digunakan adalah Uji Regresi Linear Berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setiap jenis conflict resolution styles secara signifikan mempengaruhi marital satisfaction pada korban domestic violence di Bandung Raya dengan pengaruh jenis Integrating sebesar 8,45%, jenis obliging sebesar 11,17%, jenis dominating sebesar 2,21%, jenis avoiding sebesar 10,93% dan compromising sebesar 9,80%. Kata Kunci: Gaya resolusi konflik, kepuasan pernikahan, kekerasan dalam rumah tangga, laki-laki korban kekerasan Abstract- Harmonious marriage relations should be achieved by all married couples, but now cases of domestic violence in Indonesia are increasing. Currently, there are many studies that only focus on women as victims of domestic violence, but there is still little research that focuses on the male population who are victims of domestic violence, due to various reasons such as cultural understanding and the stigmas applied in the environment. The purpose of this study was to obtain empirical data regarding the influence of each type of conflict resolution style on the marital satisfaction of male victims of domestic violence in Bandung Raya. This research is a quantitative study using a causality research design with 145 research subjects. The measurement tools used are the Rahim Organizational Conflict Inventory – II (ROCI-II) from Rahim (2001) to measure conflict resolution style and the ENRICH Marital satisfaction scale from Fowers & Olson (1993) to measure marital satisfaction. The analysis technique used is Multiple Linear Regression Test. The results of this study indicate that each type of conflict resolution styles significantly influences marital satisfaction on victims of domestic violence in Bandung Raya with the effect of integrating 8.45%, obliging 11.17%, dominating 2.21%, avoiding by 10.93% and compromising by 9.80%. Keywords: Conflict resolution style, Marital satisfaction, Domestic Violence, Male Victims
Hubungan antara Keterampilan Sosial dengan Problematic Internet Use pada Mahasiswa Kota Bandung Reza Fairuz Hilmy; Indri Utami Sumaryanti
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5180

Abstract

Abstract. A person with problematic internet use cannot control their impulsive urge to use the internet. The majority of students show symptoms of problematic internet use, which include prolonged internet use for more than six hours and have low social skills. This study is a correlational study with a quantitative approach with Spearman Rank analysis. The purpose of this study is to see how close the relationship between problematic internet use and social skills. The sample in this study were 103 students in Bandung city. The measuring instrument used is social skills developed by Wu (2008), and the Generalised Problematic Internet Use Scale 2 (GPIUS 2) measuring instrument constructed by Caplan (2010). The results showed that there is a relationship between social skills and problematic internet use which is at a weak level and there is a significant negative relationship between social skills variables and problematic internet use. Keywords: Social Skills, Problematic Internet Use, College Students. Abstrak. Seseorang dengan problematic internet use tidak dapat mengendalikan dorongan impulsif mereka untuk menggunakan internet. Mayoritas mahasiswa menunjukkan gejala problematic internet use, yang meliputi penggunaan internet yang berkepanjangan selama lebih dari enam jam dan memiliki keterampilan sosial yang rendah. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dengan pendekatan kuantitatif dengan analisi Rank Spearman. Tujuan dari penelitian ini untuk melihat seberapa erat hubungan antara problematic internet use dan keterampilan sosial. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa di kota Bandung yang berjumlah 103 orang. Alat ukur yang digunakan adalah keterampilan sosial yang dikembangkan oleh Wu (2008), dan alat ukur Generalized Problematic Internet Use Scale 2 (GPIUS 2) yang dikonstruksikan oleh Caplan (2010). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara keterampilan sosial dengan problematic internet use yang berada pada tingkat yang lemah dan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara variabel keterampilan sosial dengan problematic internet use. Kata Kunci: Keterampilan Sosial, Problematic Internet Use, Mahasiswa.
Hubungan Trait Kepribadian dengan Self-Criticism pada Korban Kekerasan dalam Pacaran Nazala Raditia; Suci Nugraha
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5272

Abstract

Abstract. Dating relationships don't always go well for every couple. Violence can happen to every couple. Based on the results of the pre-survey conducted, the impact that occurs on victims of dating violence is that they continue to blame themselves, feel worthless so they do self-criticism because they have had a bad experience from their partner. Personality traits can determine the unique adjustment to the environment that influences individuals to be able or not to do self-criticism. This study aims to obtain the results of a study on the relationship between personality traits and self-criticism in victims of dating violence. This hypothesis is that there is a correlation between the big five personality trait and self-criticism in victims of dating violence. The researcher collected data using the FSCRS (The Forms of Selfcriticism / Self-Reassuring Scale) scale from Gilbert (2004) which was adapted by Nadia Altiany (2019) and the International Personal Item Pool – Big Five Model -25 (IPIP-BFM). -25) from Goldberg (1992) which has been adapted by Akhtar (2018). The results of this study indicate the relationship between extraversion and selfcriticism, r = 0.485, p = 0.000, agreeableness and self-criticism, r = 0.527, p = 0.000, conscientiousness and self-criticism, r = 0.702, p = 0.000, neuroticism with selfcriticism value r = 0.608 p value = 0.000, and openness to experience with selfcriticism value r = -0.205 p value = 0.053. This means that it shows a significant relationship between personality traits and self-criticism above with a fairly close category, only on the openness to experience trait which has a low category.Keywords: Trait, Self-Criticism, Dating Violence Abstrak. Hubungan pacaran tidak selalu berjalan dengan baik. Berdasarkan prasurvey yang dilakukan, dampak yang terjadi pada korban kekerasan dalam pacaran yaitu terus menyalahkan diri sendiri, merasa tidak berharga sehingga melakukan self-criticism karena memiliki pengalaman yang kurang baik dari pasangannya. Trait kepribadian dapat menentukan dalam penyesuaian diri secara unik terhadap lingkungan yang mempengaruh individu dapat atau tidak melakukan self-criticism. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh hasil kajian tentang hubungan trait kepribadian dengan self-criticism pada korban kekerasan dalam pacaran. Hipotesis ini adalah terdapat korelasi antara trait kepribadian big five personality dengan selfcriticism pada korban kekerasan dalam pacaran. Peneliti melakukan pengambilan data dengan menggunakan skala FSCRS (The Forms of Self-criticism /SelfReassuring Scale) dari Gilbert (2004) yang telah diadaptasi oleh Nadia Altiany (2019) dan International Personal Item Pool – Big Five Model -25 (IPIP-BFM-25) dari Goldberg (1992) yang telah diadaptasi oleh Akhtar (2018). Hasil penelitian ini menunjukkan hubungan antara extraversion dengan self-criticism nilai r=0.485 nilai p=0.000, agreeableness dengan self-criticism nilai r=0.527 nilai p=0.000, conscientiousness dengan self-criticism nilai r= 0.702 nilai p=0.000, neuroticism dengan self-criticism nilai r= 0.608 nilai p=0.000, dan openness to experience dengan self-criticism nilai r=-0.205 nilai p=0.053. Artinya menunjukkan hubungan yang signifikan antara trait kepribadian dengan self-criticism diatas dengan kategori cukup erat, hanya pada trait openness to experience yang memiliki kategori rendah.Kata Kunci: Trait Kepribadian, Kritik Diri, Kekerasan Dalam Pacaran
Pengaruh Family Support terhadap Work Life Balance pada Perawat di Rumah Sakit X Ayunda Zhillan Afsari; Suhana
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5274

Abstract

Abstract. Family Support is social support provided by the family in the form of the attitude of family members in giving real assistance and a form of attention to individuals. Work Life Balance is an individual's effort to balance the fulfillment of his roles' needs in work life and personal life. The support given by the family becomes a key resource for an employee to work (King, Mattimore, King, and Adams, 1995). This study aims to determine the picture and effect of Family Support on Work Life Balance in Nurses in Hospital X. The hypothesis of this study is that Family Support influences Work-Life Balance in nurses in Hospital X. Subjects of this study were 55 nurses in the same hospital. The Family Support measuring instrument used in this study is the Family Support Inventory for Workers by King et al. (1995) and the Work-Life Balance measuring instrument based on Fisher's theory. All of the compiled information was analyzed by using multiple regression. The results indicated that 94.5% of nurses had high Family Support and 96.4% of nurses had high Work-Life Balance. Simultaneously, Family Support had a 50.6% impact on their Work-Life Balance. The Family Support aspect that had the most influence on Work-Life Balance was the Instrumental assistance aspect with an influence of 25.71%, while the aspect that had the lowest influence was Emotional Sustenance with an influence of 24.89%. Abstrak. Family Support merupakan dukungan sosial yang diberikan oleh keluarga berupa sikap anggota keluarga dalam memberikan bantuan nyata dan bentuk perhatian kepada individu. Work Life Balance merupakan upaya individu untuk menyeimbangkan antara pemenuhan kebutuhan perannya dalam kehidupan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Dukungan yang diberikan oleh keluarga menjadi kunci sumber daya bagi seorang karyawan untuk bekerja (King, Mattimore, King, and Adams, 1995). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan pengaruh Family Support terhadap Work Life Balance pada Perawat di Rumah Sakit X. Hipotesis penelitian ini adalah Family Support memiliki pengaruh terhadap Work Life Balance pada perawat di Rumah Sakit X. Subjek penelitian ini berjumlah 55 perawat. Alat ukur Family Support menggunakan Family Support Inventory for Workers oleh King et al. (1995) dan alat ukur Work Life Balance berdasarkan teori Fisher. Analisis data menggunakan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan 94,5% perawat mempunyai Family Support tinggi dan sebesar 96,4% perawat mempunyai Work Life Balance tinggi. Secara simultan, Family Support memberikan pengaruh sebesar 50,6% terhadap Work Life Balance. Aspek Family Support yang memberikan pengaruh paling besar terhap Work Life Balance adalah aspek Instrumental Asistance dengan pengaruh sebesar 25,71%, sedangkan aspek yang memberikan pengaruh paling rendah adalah Emotional Sustenance dengan pengaruh sebesar 24,89%.
Pengaruh Health Belief terhadap Perilaku Kepatuhan Pasien Gagal Ginjal kronik KPCDI Bandung Raina Equitya Anugrah; Hedi Wahyudi
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5140

Abstract

Abstract. Kidney failure is a disease in which the function of the kidney organs decreases until finally it is not able to work at all in terms of filtering and removing body electrolytes, unable to maintain the balance of body fluids and chemicals or unable to produce urine. The key to successful treatment for chronic kidney failure patients is to undergo hemodialysis regularly and carry out all treatment procedures that have been recommended by the doctor in order to improve the quality of life. Patients face various obstacles in following hemodialysis which results in patients not being eager to live their lives and tending not to comply with undergoing hemodialysis therapy. The patient's non-compliance is influenced by beliefs, attitudes, personality, understanding of instructions, social and family isolation. The quality of the instructions which this includes with health belief. This study aims to determine the effect of health belief with compliance behavior in chronic renal failure patients of KPCDI Bandung. Data collection was carried out using measuring instruments in the form of a Health Belief scale which refers to Rosenstock's theory and a Compliance behavior scale which refers to a theory from Niven. The analysis technique used is a multiple linear regression method with a result of R2 = 0.750 and a partial coefficient of determination test with self-efficacy results has the greatest influence with a value of β = 0.427, therefore it can be concluded that Self-Efficacy has the greatest influence in bringing up the compliance behavior of chronic renal failure patients members of the Indonesian Dialysis Patient Community. Abstrak. Penyakit gagal ginjal adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal mengalami penurunan hingga akhirnya tidak mampu bekerja sama sekali dalam hal penyaringan dan pembuangan elektrolit tubuh, tidak mampu menjaga keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh atau tidak mampu dalam memproduksi urin. Kunci keberhasilan pengobatan bagi pasien gagal ginjal kronis adalah menjalani hemodialisa dengan rutin dan melaksanakan segala tatalaksana pengobatan yang telah dianjurkan oleh dokter agar dapat meningkatkan kualitas hidup. Pasien menghadapi berbagai hambatan dalam mengikuti hemodialisa yang mengakibatkan pasien tidak bersemangat untuk menjalani hidupnya dan cenderung tidak patuh untuk menjalani terapi hemodialisa. Ketidakpatuhan pasien dipengaruhi oleh keyakinan, sikap, kepribadian, pemahaman terhadap instruksi, isolasi sosial dan keluarga. Kualitas terhadap instruksi yang dimana hal ini mencakup dengan health belief. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh health belief dengan perilaku kepatuhan pada pasien gagal ginjal kronik KPCDI Bandung. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan alat ukur berupa skala Health Belief yang mengacu pada teori Rosenstock dan skala perilaku Kepatuhan yang mengacu pada teori dari Niven. Teknik analisis yang digunakan adalah metode regresi linier berganda dengan hasil R2= 0.750 dan uji koefisien determinasi parsial dengan hasil Self-Efficacy memiliki pengaruh paling besar dengan nilai β= 0.427, maka dari itu dapat disimpulkan bahwa Self-Efficacy memiliki pengaruh paling besar dalam memunculkan perilaku kepatuhan pasien gagal ginjal kronik anggota Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia.
Pengaruh Growth Mindset terhadap Work Engagement pada Dosen Lutfiah Milania; Hendro Prakoso; Vici Sofianna Putera
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5156

Abstract

Abstract. The aim of this study is to determine the effect of growth mindset on lecturer’s work engagement. This research was conducted on 95 lecturers at the Indonesian Education University, Bandung Islamic University, and Pasundan University using a quantitative methods with a causality research design and analyzed using a simple linier regression test. Growth mindset was measured using the Implicit Theories Scale from Dweck (2006) which was adopted by the researcher, while work engagement was measured using the Utrecht Work Engagement Scale-17 (UWES-17) from Schaufeli & Bakker (2002) which was adopted by Sutisna, et al (2020). The results show that growth mindset had a significant effect on work engagement in lecturers by 50%. Abstrak. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh growth mindset terhadap work engagement yang dilakukan pada dosen di Perguruan Tinggi Bandung. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 95 dosen di Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Islam Bandung, dan Universitas Pasundan dengan menggunakan metode kuantitatif serta desain penelitian kausalitas dan menggunakan teknik analisis regresi linier sederhana. Growth mindset diukur menggunakan alat ukur Implicit Theories Scale dari Dweck (2006) yang diadaptasi oleh peneliti, sedangkan untuk work engagement diukur dengan Utrecht Work Engagement Scale-17 (UWES-17) dari Schaufeli & Bakker (2002) yang telah diadaptasi oleh Sutisna, et al (2020). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa growth mindset memberikan pengaruh besar terhadap work engagement pada dosen yaitu sebesar 50%.
Pengaruh Problematic Internet Use terhadap Perilaku Cyberbullying pada Remaja Akhir Pelaku Cyberbullying Qonita Tsaltsa Earlyana; Sulisworo Kusdiyati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5181

Abstract

Abstract. The COVID-19 pandemic has had a major impact on every aspect of human life. Technology is the main need for humans to carry out activities during the implementation of the lockdown to suppress the spread of COVID-19. Adolescents are one of the most vulnerable age groups to this lifestyle change. Internet use is increasing among adolescents, and this can trigger psychological problems experienced by adolescents, such as stress, anxiety, depression, psychological pressure, emotional problems, and problematic internet use. Problematic internet use involves loss of control over internet use, cognitive impairment associated with internet use, and persistent internet use behaviours that harm daily life. This study aims to determine the effect of problematic internet use behaviour on cyberbullying in late teens who are cyberbullying perpetrators in West Java. This study uses a quantitative causality correlation method. The measuring instruments used in this study were the Generalized Problematic Internet Use Scale 2 (GPIUS2) by Caplan and the Cyberbullying Offending Scale by Patchin & Hinduja. This research was given to 120 teenagers in West Java, who were obtained using a quota sampling technique. The analysis technique used is a simple regression analysis technique. According to the findings of this study, problematic internet use reduces cyberbullying by 15.7% (p.05). In addition, the time spent using the internet can affect teenagers' problematic internet use (Sig .045<.05). Keywords: Problematic Internet Use, Cyberbullying, Late Adolescence, COVID-19. Abstrak. Pandemi COVID-19 berdampak besar di setiap aspek kehidupan manusia. Teknologi menjadi kebutuhan utama manusia untuk beraktivitas di tengah pemberlakuan lockdown diterapkan untuk menekan angka penyebaran COVID-19. Remaja merupakan salah satu kelompok usia yang rentan dengan perubahan gaya hidup ini. Penggunaan internet semakin meningkat di kalangan remaja dan hal tersebut dapat memicu masalah-masalah psikologis yang dialami remaja, seperti stress, kecemasan, depresi, tekanan psikologis, masalah emosional, dan penggunaan internet yang bermasalah atau problematic internet use. Problematic internet use melibatkan hilangnya kontrol atas penggunaan internet, gangguan kognitif terhadap penggunaan internet, dan perilaku penggunaan internet yang berkelanjutan hingga menimbulkan dampak buruk pada kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh problematic internet use terhadap perilaku cyberbullying pada remaja akhir pelaku cyberbullying di Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode korelasi kausalitas kuantitatif. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah Generalized Problematic Internet Use Scale 2 (GPIUS2) dari Caplan dan Cyberbullying Offending Scale dari Patchin & Hinduja. Penelitian ini diberikan kepada 120 remaja di Jawa Barat yang diperoleh menggunakan teknik quota sampling. Teknik analisis yang dipakai adalah teknik analisis regresi sederhana. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa problematic internet use berpengaruh positif terhadap perilaku cyberbullying sebesar 15.7% (p<.05). Selain itu, waktu dalam menggunakan internet dapat mempengaruhi remaja mengalami problematic internet use (Sig .045<.05). Kata Kunci: Problematic Internet Use, Cyberbullying, Remaja Akhir, COVID-19.
Gambaran Ide Bunuh Diri pada Mahasiswa di Kota Bandung Aleyda Atqiya; Farida Coralia
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5184

Abstract

Abstract. College students are one of the populations that have a risk of suicide. As a first step towards suicide attempts and actual suicide, suicidal ideation is considered a significant predictor of suicide attempts and suicide. College students experience higher levels of suicidal ideation than those experienced by young adults of the same age in the community. Burdens and problems that arise during college can affect mental health associated with an increased risk of suicide. This study aims to obtain empirical data regarding the description of suicidal ideation among students in the city of Bandung. Data was collected using the Scale for Suicide Ideation (SSI) measuring instrument. The subjects of this study were active university students in the city of Bandung who had 89 suicide ideas. The results of this study indicate that students in the city of Bandung have low suicide ideation (68.5%). Female students had a higher score of suicidal ideation (mean = 13.57) compared to male students (mean = 11.84). The fourth year of study had the highest suicide ideation score (mean=13.20). Problems in the family are the majority of the triggers for suicidal ideation among students in the city of Bandung. Abstrak. Mahasiswa merupakan salah satu populasi yang memiliki resiko bunuh diri. Sebagai langkah pertama menuju upaya bunuh diri dan tindakan bunuh diri sebenarnya, ide bunuh diri dianggap sebagai prediktor signifikan dari upaya bunuh diri dan tindakan bunuh diri. Tingkat keinginan bunuh diri yang dialami mahasiswa lebih tinggi daripada yang dialami oleh orang dewasa muda seusianya di masyarakat. Beban dan permasalahan yang muncul pada masa perkuliahan dapat mempengaruhi kesehatan mental terkait dengan peningkatan resiko bunuh diri. Tujuan dari penelitian ini untuk memperoleh data empiris mengenai gambaran ide bunuh diri pada Mahasiswa di Kota Bandung. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan alat ukur Scale for Suicide Ideation (SSI). Subjek penelitian ini adalah mahasiswa aktif perguruan tinggi di Kota Bandung yang memiliki ide bunuh diri sebanyak 89 orang. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa mahasiswa di Kota Bandung memiliki ide bunuh diri yang rendah (68.5). Mahasiswa perempuan memiliki skor ide bunuh diri yang lebih tinggi (mean= 13.57) dibandingkan dengan mahasiswa laki laki (mean= 11.84). Tahun studi keempat memiliki skor ide bunuh diri yang paling tinggi (mean= 13.20). Permasalahan dalam keluarga merupakan mayoritas pemicu ide bunuh diri pada mahasiswa di Kota Bandung.