cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsps@unisba.ac.id
Phone
+6285211144661
Journal Mail Official
bcsps@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp: +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Psychology Science
ISSN : -     EISSN : 28282191     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsps.v2i3
Bandung Conference Series: Psychology Science (BCSPS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Psikologi dengan ruang lingkup sbb: Broken Home, Budaya Organisasi, Celebrity Worship, Delinkuensi, Dewasa Awal, Disiplin Kerja, Dukungan Sosial, Health belief, Interaksi Parasosial, Kemandirian Anak Usia Dini, Kematangan Karir, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Obesitas, Parasocial Relationship, Peak Performance, Pendidikan Karakter, Penyesuaian diri, Penyesuaian pernikahan, Pola Asuh, Prestasi Belajar, Psychological Well-Being, Religiusitas, Remaja Akhir, Self Esteem, Self regulation, Ta’aruf. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 490 Documents
Hubungan Academic Self-Efficacy dan Academic Stress pada Mahsiswa S1 Tingkat Akhir Unisba Aqyla Halwa Andhina Rahmanda; Sulisworo Kusdiyati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7381

Abstract

Abstract. Academic stress is one of the phenomena experienced by students who are working on their thesis. Academic Stress is a combination of several academic demands that exceed the strength or availability of someone's resources to get through it (Wilks, 2008). Academic Self-Efficacy is one of the factors that can affect Academic Stress (Oon, 2007). The purpose of this study is to see if there is a relationship between Academic Self - Efficacy and Academic Stress in final year undergraduate students of Unisba who are working on their thesis. This research approach is quantitative research and uses correlational methods. The research was conducted on 378 active final year undergraduate students of Unisba who were working on their thesis using quota sampling technique. The measuring instrument used is the Academic Self-Efficacy Scale compiled by Zajacova et al., (2005) which has been adapted into Indonesian by Arlinkasari & Zakiah (2017). The Academic Stress measuring instrument used in this study is the Student-Life Stress Inventory academic stress scale from Gadzella, B. M. (1994) which has been adapted into Indonesian by Praghlopati et al (2021). The results showed that there is a significant negative relationship between academic self-efficacy and academic stress (R Square = 0.02; Sig. 0.00). This means that the higher the academic self-efficacy of students, the lower they will tend to experience academic stress. Abstrak. Academic stress merupakan salah satu fenomena yang dialami mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Academic Stress merupakan suatu perpaduan dari beberapa tuntutan akademik yang melebihi kekuatan atau ketersediaan sumber daya seseorang untuk melewatinya (Wilks, 2008). Academic Self – Efficacy merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi Academic Stress (Oon, 2007). Tujuan penelitian ini untuk melihat apakah terdapat hubungan antara Academic Self – Efficacy dan Academic Stress pada mahasiswa S1 tingkat akhir Unisba yang sedang mengerjakan skripsi. Pendekatan penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dan menggunakan metode korelasional. Penelitian dilakukan pada 378 mahasiswa aktif S1 tingkat akhir Unisba yang sedang mengerjakan skripsi dengan menggunakan teknik quota sampling. Alat ukur yang digunakan yaitu Academic Self-Efficacy Scale yang disusun oleh Zajacova et al., (2005) yang sudah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia oleh Arlinkasari & Zakiah (2017). Alat ukur Academic Stress yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala stress akademik Student-Life Stress Inventory dari Gadzella, B. M. (1994) yang sudah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh Praghlopati et al (2021). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang negative signifikan antara academic self – efficacy dan academic stress (R Square = 0.02; Sig. 0,00). Artinya semakin tinggi academic self – efficacy mahasiswa maka mereka akan cenderung lebih rendah untuk mengalami academic stress.
Pengaruh Environmental Concern terhadap Intensi Menggunakan Bus Trans Metro Pasundan pada Masyarakat Kota Bandung Anisa Cantika Umbara Putri; Milda Yanuvianti
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7384

Abstract

Abstract. The problem of air pollution is one of several environmental issues that are still frequently experienced. In terms of pollution, Bandung is the third most polluted city in Indonesia. The government introduced the newest public transportation in an effort to lower it, the Trans Metro Pasundan Bus, which is supported by the Friends Bus app. Therefore, it is still possible to research the elements that most influence people's propensity to pick bus transportation. One of the theories that can explain the elements that can affect a person's intention to utilize the Trans Metro Pasundan Bus is the Theory of Planned Behavior. Additionally, the influence of environmental concerns on people's decisions to take the Trans Metro Pasundan Bus will be investigated. In this study, 230 Bandung city residents between the ages of 18 and 40 participated as respondents. The Intention to Use Carsharing Scale from Zhang and Li was the measuring instrument employed in this study. To determine the factors that are important in persuading people to use the Trans Metro Pasundan Bus, structural equation modeling (SEM) is the data analysis method used. The findings revealed that individual intentions to ride the Pasundan Trans Metro Bus were significantly influenced by attitude toward conduct and subjective norms. Individuals' intentions to use the services, however, are not significantly impacted by perceived behavioral control and environmental concern. This study suggests to strengthen the promotion regarding the use of bus public transportation by related government agencies. Abstrak. Masalah lingkungan adalah masalah yang masih sangat sering ditemui, salah satunya masalah polusi udara. Kota Bandung berada pada peringkat ketiga sebagai kota paling berpolusi di Indonesia. Dalam upaya untuk menguranginya, pemerintah meluncurkan transportasi umum terbaru yaitu Bus Trans Metro Pasundan yang didukung oleh aplikasi Teman Bus. Karena itu, kecenderungan masyarakat untuk memilih moda transportasi bus tersebut masih dapat diteliti mengenai faktor apa yang paling berperan. Theory of Planned Behavior menjadi salah satu teori yang dapat menjelaskan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi intensi individu dalam menggunakan Bus Trans Metro Pasundan. Selain itu, faktor kepedulian lingkungan juga akan diteliti untuk mengetahui apakah hal tersebut juga memengaruhi individu dalam memilih Bus Trans Metro Pasundan. Penelitian ini melibatkan 230 responden yang berusia 18 - 40 tahun yang berdomisili di Kota Bandung. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah skala Intention to Use Carsharing dari Zhang dan Li. Analisis data yang digunakan adalah structural equation modelling (SEM)untuk menemukan faktor yang signifikan dalam mempengaruhi individu untuk menggunakan Bus Trans Metro Pasundan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa attitude toward behavior dan subjective norms memiliki pengaruh yang signifikan terhadap intensi individu untuk menggunakan Bus Trans Metro Pasundan. Sedangkan perceived behavioral control dan environmental concern tidak berpengaruh signifikan terhadap intensi individu untuk menggunakan Bus Trans Metro Pasundan.
Hubungan antara Subjective Well-Being Orang Tua dan Anaknya Ariella Hazza Masturi; Ihsana Sabriani Borualogo
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7386

Abstract

Abstract. Having genetic influences and living in the same environment leads parents generally to believe that they have an important influence on their children's lives, so parents may expect associations that will make children resemble their parents in beliefs, attitudes, routines, and their values. Over time, during adolescence the values ​​and attitudes that are understood and practiced by adolescents become increasingly different from the values ​​and attitudes of their parents due to influences from the surrounding environment. This study aims to determine the relationship between the SWB of parents and their children. Data collection was carried out online using Google Forms and offline using a questionnaire using the cluster random sampling technique. The sample used in this study were 342 students and one of their parents (father/mother). The participants in this study were junior high school students in Bandung City grades 7, 8, and 9 (55.8% female and 44.2% male). SWB in parents and children was measured using the Personal Well-Being Index (PWI) nine items and Overall Life Satisfaction (OLS) one item. Data were analyzed using Pearson correlation analysis to determine the relationship between the SWB of parents and their children. The compare means statistical test was used to test the differences in SWB between parents and their children based on each life satisfaction domain. The results showed that the parents' SWB was higher with an average of (M = 81.62) compared to their children's (M = 79.59) and there was a relationship between the SWB of parents and their children but the relationship was weak. Abstrak. Adanya pengaruh genetik dan tinggal di lingkungan yang sama membuat orang tua umumnya percaya bahwa mereka memiliki pengaruh penting bagi kehidupan anak-anak mereka, sehingga orang tua mungkin mengharapkan adanya keterkaitan yang akan membuat anak menyerupai orang tua dalam hal kepercayaan, sikap, rutinitas, dan nilai-nilai mereka. Seiring berjalannya waktu, pada masa remaja nilai-nilai dan sikap-sikap yang dipahami dan dilakukan oleh remaja menjadi semakin berbeda dengan nilai-nilai dan sikap-sikap pada orang tuanya karena adanya pengaruh dari lingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara SWB orang tua dan anaknya. Pengambilan data dilakukan secara daring menggunakan Google Form dan luring menggunakan kuesioner menggunakan teknik cluster random sampling. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 342 siswa beserta salah satu orang tuanya (bapak/ibu). Partisipan penelitian ini merupakan siswa SMP di Kota Bandung kelas 7, 8, dan 9 (perempuan 55.8% dan laki-laki 44.2%). SWB pada orang tua dan anaknya diukur menggunakan Personal Well-Being Indeks (PWI) sembilan item dan Overall Life Satisfaction (OLS) satu item. Data dianalisis menggunakan analisis korelasi pearson untuk mengetahui hubungan antara SWB orang tua dan anaknya. Uji statistik compare means digunakan untuk menguji perbedaan SWB pada orang tua dan anaknya berdasarkan setiap domain kepuasan hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SWB orang tua lebih tinggi dengan rata-rata sebesar (M = 81.62) dibandingkan dengan anaknya sebesar (M = 79.59) dan terdapat hubungan antara SWB orang tua dan anaknya tetapi hubungan tersebut lemah.
Hubungan Self-Esteem dengan Subjective Well-Being Ibu Bekerja di Kota Bandung Syifa Rahima; Suci Nugraha
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7388

Abstract

Abstract. The existence and attractive character of Civil Servant (CS) is a profession that is aspired by society. However, there are various public perceptions of mothers who work as civil servants, this is related to the domestic role which is still carried out along with fulfilling the demands of a professional role so that it is related to their life satisfaction. Subjective well-being is an assessment of individual life, namely overall satisfaction and in certain domains (eg work) on cognitive aspects and affective aspects regarding positive and negative affect. The purpose of this study was to determine the relationship between self-esteem and subjective well-being in mothers who work in the city of Bandung in their profession as Civil Servants (CS). The approach used in this research is a quantitative approach. With the number of subjects used as many as 150 mothers working as civil servants in the city of Bandung. The scale used to measure The State Self Esteem Scale by Heatherton and Polivy (1991) and has been translated into Indonesian by Researcher Vivi Ilda (2018). The Subjective Well-Being measuring tool used in this study was adapted by Wasiatul Istiana (2021) referring to Diener's theory (2009). In this study the data analysis technique used was Spearman's rank correlation test. The results of data processing show that the p-value (Sig.) = 0.000 < α = 0.05 means that there is a relationship (correlation) between Self Esteem and Subjective Well-Being in mothers who work as Civil Servants (PNS). The correlation value between Self Esteem and Subjective Well-Being is 0.713, so this value indicates that the relationship between variables is positive. Abstrak. Eksistensi dan karakter yang menarik pada Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah profesi yang dicita-citakan oleh masyarakat. Namun adanya persepsi masyarakat yang beragam pada ibu yang bekerja sebagai PNS, hal ini berkaitan dengan peran domestik yang tetap dilakukan seiring dengan pemenuhan tuntutan peran profesional sehingga berkaitan dengan kepuasan hidupnya. Subjective well-being merupakan penilaian kehidupan individu, yaitu kepuasan secara menyeluruh dan pada domain tertentu (misalnya pekerjaan) pada aspek kognitif serta aspek afektif mengenai afek positif dan negatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara self-esteem dengan subjective well-being pada ibu yang bekerja di Kota Bandung dalam profesinya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Dengan jumlah subjek yang digunakan sebanyak 150 orang ibu bekerja sebagai PNS di Kota Bandung. Skala yang digunakan untuk mengukur The State Self Esteem Scale oleh Heatherton dan Polivy (1991) dan telah di terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Peneliti Vivi Ilda (2018). Alat ukur Subjective Well-Being yang digunakan dalam penelitian ini diadaptasi oleh Wasiatul Istiana (2021) mengacu pada teori Diener (2009). Dalam penelitian ini teknik analisa data yang digunakan adalah uji korelasi rank spearman. Hasil pengolahan data menunjukkan nilai p-value (Sig.) = 0,000 < = 0.05 artinya terdapat hubungan (korelasi) antara Self Esteem dengan Subjective Well-Being pada ibu yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Nilai korelasi antara Self Esteem dengan Subjective Well-Being adalah sebesar 0,713, sehingga nilai tersebut menunjukkan bahwa hubungan antar variabel bernilai positif.
Pengaruh Dukungan Sosial terhadap Work-Family Conflict pada Perawat Wanita di RSUD Kota Bandung Muhamad Wildan Ardiansyah; Endah Nawangsih
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7393

Abstract

Abstract. Work-family conflict adalah bentuk interrole conflict yang berupa ketidakcocokan antara tuntutan peran dalam pekerjaan dan keluarga yang saling bertentangan. Work-family conflict berdampak pada rendahnya kinerja karyawan yang dapat mempengaruhi produktifitas perusahaan dan juga berdampak langsung pada diri karyawan, karena dapat menimbulkan stres. Greenhaus & Beutell (1985) menyatakan bahwa dukungan sosial dapat mengurangi tuntutan peran tertentu atau mampu menciptakan work-family balance. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dukungan sosial terhadap work-family conflict pada perawat wanita yang sudah menikah di RSUD Kota Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah kausalitas dengan jumlah subjek 63 perawat wanita yang sudah menikah. Penelitian ini menggunakan alat ukur work-family conflict scale yang dirancang oleh Carlson et al., (2000) dan alat ukur dukungan sosial dari Parasuraman et al., (1992). Hasil penelitian ditemukan 98,4% perawat wanita memiliki dukungan sosial yang tinggi dan 79,4% perawat wanita memiliki work-family conflict yang rendah. Pengaruh dukungan sosial terhadap work-family conflict dalam penelitian ini sebesar 40,4% dan pengaruh paling besar terhadap work-family conflict adalah dukungan sosial pasangan sebesar 30,6%. Keywords: Work-Family Conflict, Social Support, Nurse Abstrak. Work-family conflict is a form of interrole conflict in the form of an incompatibility between the conflicting demands of work and family roles. Work-family conflict has an impact on low employee performance which can affect company productivity and also has a direct impact on employees, because it can cause stress. Greenhaus & Beutell (1985) stated that social support can reduce the demands of certain roles or be able to create a work-family balance. The purpose of this study was to determine how much influence social support had on work-family conflict among married female nurses at Bandung City General Hospital. The research method used is causality with a total of 63 married female nurses as subjects. This study uses the work-family conflict scale designed by Carlson et al., (2000) and the social support measure from Parasuraman et al., (1992). The results of the study found that 98.4% of female nurses had high social support and 79.4% of female nurses had low work-family conflict. The effect of social support on work-family conflict in this study was 40.4% and the biggest influence on work-family conflict was the social support of a partner of 30.6%.
Pengaruh Sensation Seeking terhadap Internet Gaming Disorder pada Gamers Usia 16-24 Tahun Farhan Fauzan; Lilim Halimah
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7397

Abstract

Abstrak. The advancement of technology has rendered the realm of online gaming increasingly diverse and addictive. The emergence of new genres in online gaming has led individuals to become highly engaged in each game, thus risking the development of internet gaming disorder. Personality traits contribute to addiction, and one personality trait that is related to online gaming issues is sensation seeking. Various studies have found a correlation between these two variables. This study aims to determine the influence of sensation seeking on internet gaming disorder among gamers aged 16-24 in the Valorant community in Indonesia. The sample size taken from this community amounted to 122 individuals. The measurement tools used were the Internet Gaming Disorder Scale and the Brief Sensation Seeking Scale-1. Data analysis was conducted using multiple linear regression. The results of the statistical test indicate that the aspects within sensation seeking have a simultaneous influence with an R2 value of 0.255, meaning they contribute 25.5% to internet gaming disorder. Specifically, the aspects that have an impact on internet gaming disorder are experience seeking and disinhibition, each with an influence of R2= 0,906 and R2= 0.914, respectively. Abstrak. Perkembangan teknologi membuat ranah game online menjadi semakin variatif dan adiktif. Kehadiran genre-genre baru dalam game online membuat individu menjadi semakin terlibat tinggi dalam tiap permainannya sehingga berisiko mengalami internet gaming disorder. Trait kepribadian memiliki kontribusi terhadap adiksi, salah satu trait kepribadian yang berhubungan dengan permasalahan games online adalalah sensation seeking. Ragamnya penelitian yang telah dilakukan menemukan bahwa kedua variabel ini mempunyai hubungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sensation seeking terhadap internet gaming disorder pada gamers usia 16-24 tahun di komunitas Valorant Indonesia. Sampel yang diambil dari komunitas tersebut berjumlah 122 orang. Alat ukur yang digunakan adalah Internet Gaming Disorder Scale dan Brief Sensation Seeking Scale-1. Analisis data menggunakan regresi linier berganda. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa secara simultan aspek – aspek dalam sensation seeking memiliki pengaruh dengan nilai R2 = 0,255 artinya berkontribusi sebesar 25,5% terhadap internet gaming disorder. Secara parsial, aspek yang berpengaruh terhadap internet gaming disorder adalah experience seeking dan disinhibition dengan masing – masing pengaruh sebesar R2= 0,906 dan R2= 0,914.
Hubungan antara Subjective Well-Being dengan Perilaku Pro-Lingkungan di Kota Bandung Rahma Putri Fadiyah; Milda Yanuvianti
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7399

Abstract

Abstract. West Java has a low level of citizen happiness (70.23) and is below the average of the Indonesian Happiness Index (71.49) (Indeks Kebahagiaan Badan Pusat Statistik, 2021) which is measured based on three dimensions of Subjective Well-Being by Diener. A person's involvement in pro-environmental behavior can contribute to Subjective Well-Being, and vice versa (Venhoeven, L., Steg, L., & Bolderdijk, J., 2017). The level of urban communities carrying out pro-environmental behavior is still relatively low (Arlinkasari, et al., 2017). The purpose of this study was to obtain empirical data regarding the relationship between Subjective Well-Being and pro-environmental behavior of Bandung city residents. The research design used was quantitative non-experimental with 220 respondents from Bandung city residents. The measurement tools used in this study are the Satisfactions With Life Scale (SWLS) and the Positive Affect and Negative Affect Scale (PANAS) to measure Subjective Well-Being and General Ecological Behavior (GEBS) to measure pro-environmental behavior. Based on the results of data processing, there were 55.9% of respondents who had a high level of Subjective Well-Being and 61.4% of respondents had a low level of pro-environmental behavior. The results of the Spearman correlation calculation test prove that the relationship between Subjective Well-Being and pro-environmental behavior is significant but the closeness is weak because the results obtained are Sig. (2-tailed) 0.002 <0.05, the relationship between Subjective Well-Being and pro-environmental behavior is significant. While the results of the correlation coefficient obtained were 0.204, which means that according to Guilford's correlation coefficient criteria (1956), 0.20 - <0.40 means that there is a significant but weak relationship. Abstrak. Jawa Barat termasuk ke dalam tingkat kebahagiaan warga yang rendah (70,23) dan di bawah rata-rata Indeks Kebahagiaan Indonesia (71,49) (Indeks Kebahagiaan Badan Pusat Statistik, 2021) yang diukur berdasarkan tiga dimensi Subjective Well-Being oleh Diener. Keterlibatan seseorang dalam berperilaku pro-lingkungan dapat berkontribusi pada Subjective Well-Being, begitu pula sebaliknya (Venhoeven, L., Steg, L., & Bolderdijk, J., 2017). Tingkat masyarakat perkotaan melakukan perilaku pro-lingkungan masih terbilang rendah (Arlinkasari, et al., 2017). Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data empiris mengenai hubungan Subjective Well-Being dengan perilaku pro-lingkungan pada masyarakat kota Bandung. Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif non eksperimental dengan 220 responden masyarakat kota Bandung. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah Satisfactions With Life Scale (SWLS) dan Positive Affect and Negative Affect Scale (PANAS) untuk mengukur Subjective Well-Being dan General Ecological Behavior (GEBS) untuk mengukur perilaku pro-lingkungan. Berdasarkan hasil olah data, terdapat 55.9% responden yang memiliki tingkat Subjective Well-Being tinggi dan 61.4% responden memiliki tingkat rendah pada perilaku pro-lingkungan. Hasil uji perhitungan korelasi spearman membuktikan bahwa hubungan Subjective Well-Being dengan perilaku pro-lingkungan signifikan namun keeratannya lemah karena hasil yang didapatkan yaitu Sig. (2-tailed) 0.002 < 0.05 maka hubungan antara Subjective Well-Being dengan perilaku pro-lingkungan signifikan. Sedangkan hasil koefisien korelasi yang didapatkan adalah 0.204 yang berarti menurut kriteria koefisiensi korelasi Guilford (1956), 0.20 - < 0.40 artinya terdapat hubungan yang signifikan namun lemah.
Pengaruh Perceived Organizational Support terhadap Innovative Work Behavior pada Guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Putri Amalia Rahmah; Dinda Dwarawati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7401

Abstract

Abstract. Innovative Work Behavior is individual behavior that aims to reach the introduction stage or try to introduce new and useful ideas, processes, products or procedures in work, groups or organizations. To display innovative work behavior, teachers need a strong perception of management and superior support or what is called perceived organizational support which consists of three dimensions, namely fairness, supervisor support, and organizational rewards and job conditions (Afsar & Kiani, 2016). This study aims to see how much influence perceived organizational support has on innovative work behavior in 224 special education school teacher. The measurement tools used are Measuring innovative work behavior which refers to the theory of De Jong & Den Hartog (2010) and SPOS (Survey Perceived Organizational Support) which refers to the theory of Eisenberger et al. (1986). The sampling technique used is cluster random sampling. The method used is a causality quantitative method with simple linear regression analysis techniques. The results of the study show that perceived organizational support has a significant effect on innovative work behavior in SLB teachers by 33.9%. Abstrak. Innovative Work Behaviour adalah perilaku individu yang bertujuan untuk mencapai tahap pengenalan atau berusaha mengenalkan ide-ide, proses, produk atau prosedur yang baru dan berguna di dalam pekerjaan, kelompok atau organisasi. Untuk menampilkan innovative work behavior, guru membutuhkan persepsi yang kuat dari manajemen dan dukungan atasan atau yang disebut perceived organizational support yang terdiri dari tiga dimensi, yaitu fairness, supervisor support, serta organizational rewards dan job conditions (Afsar & Kiani, 2016). Penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa besar pengaruh perceived organizational support terhadap innovative work behavior pada 224 guru sekolah luar biasa (SLB). Alat ukur yang digunakan adalah Measuring innovative work behaviour yang mengacu pada teori De Jong & Den Hartog (2010) dan SPOS (Survey Perceived Organizational Support) yang mengacu pada teori Eisenberger et al. (1986). Teknik sampling yang digunakan adalah cluster random sampling. Metode yang digunakan merupakan metode kuantitatif kausalitas dengan teknik analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perceived organizational support berpengaruh secara signifikan terhadap innovative work behavior pada guru SLB sebesar 33.9%.
Studi Kontribusi Perceived Organizational Support terhadap Stres Kerja pada Bank X Cabang Utama Bandung Ghifany Ramadhanty; Ali Mubarak
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7402

Abstract

Abstract. Perceived Organizational Support is the general beliefs and beliefs of employees about the extent to which the organization values ​​their contributions and cares about the welfare of employees (Eisenberger et al., 1986). When employees have positive perceived organizational support, they will produce positive outcomes. Based on previous research, perceived organizational support has a negative relationship with work stress. According to Parker & DeCotiis (1983) job stress is an event that occurs in the work environment with feelings that deviate from normal as a result of the conditions they feel. This study aims to see the magnitude of the contribution of perceived organizational support to work stress. This research is a quantitative research with a correlational approach that is causal in nature. Using non-probability sampling technique with accidental sampling technique [convenience sampling]. Respondents of this study consisted of 149 employees of Bank X Cabang Utama Bandung. Using the Perceived Organizational Support measurement tool which has been adapted by Rahmi, T., Agustiani, H., Harding, D., & Fitriana, E. [2021] and Work Stress which has been adapted by Resi & Anggriani [2021]. The results of this study indicate that Perceived Organizational Support contributes significantly to Job Stress by 60.5%. Abstrak. Perceived Organizational Support adalah keyakinan umum dan kepercayaan karyawan tentang sejauh mana organisasi menghargai kontribusi mereka dan peduli tentang kesejahteraan karyawan (Eisenberger et al.,1986). Ketika karyawan memiliki perceived organizational support yang positif, akan menghasilkan outcome yang positif. Berdasarkan penelitian sebelumnya perceived organizational support ini memiliki hubungan yang negative dengan stres kerja. Menurut Parker & DeCotiis [1983] stres kerja adalah kejadian yang terjadi dalam lingkungan kerja dengan perasaan yang menyimpang dari normalnya sebagai akibat dari kondisi yang dirasakannya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat besarnya kontribusi perceived organizational support terhadap stres kerja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis pendekatan korelasional yang bersifat kausalitas. Menggunakan teknik sampling non probability sampling dengan teknik accindental sampling [convenience sampling]. Responden penelitian ini terdiri dari 149 pada Karyawan Bank X Cabang Utama Bandung. Menggunakan alat ukur Perceived Organizational Support yang telah diadaptasi Rahmi, T., Agustiani, H., Harding, D., & Fitriana, E. [2021] serta Stres Kerja yang telah diadaptasi oleh Resi&Anggriani [2021]. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Perceived Organizational Support berkontribusi secara signifikan terhadap terhadap Stres Kerja sebesar 60,5%.
Pengaruh Perceived Social Support terhadap Psychological Well-Being Mahasiswa yang sedang Menyusun Skripsi Azka Khoirunnisa; Dewi Rosiana
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7404

Abstract

Abstract. This study aims to determine the effect of perceived social support on psychological well-being in students who are preparing a thesis at Bandung Islamic University. The study used a quantitative approach with the causality method and used simple random sampling. The research subjects were male and female students who were preparing a thesis at the Islamic University of Bandung totaling 247 people, with ages from 21 to 25 years. Data analysis using simple linear regression analysis and descriptive statistical analysis. Data collection was carried out using the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPPS) measuring instrument from Zimet (1988) adapted by Laksmita et al., (2020) for perceived social support variables and using the Ryff Scale of Psychological Well-Being which was adapted by Rachmayani and Ramdhani (2014) for psychological well-being variables. The results of data analysis state that there is a positive linear relationship and a significant influence between perceived social support on psychological well-being with a contribution value of 30.7% and with a significant value of 0.00 < from alpha of 0.05. This means that the higher the perceived social support that is useful and positive for students, the more significant it will be in improving their psychological well-being. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perceived social support terhadap psychological well-being pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi di Universitas Islam Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode kausalitas dan menggunakan simple random sampling. Subjek penelitian adalah mahasiswa laki-laki dan perempuan yang sedang menyusun skripsi di Universitas Islam Bandung yang berjumlah 247 orang, dengan usia dari 21 sampai 25 tahun. Analisis data menggunakan analisis regresi linear sederhana dan analisis statistic deskriptif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan alat ukur Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPPS) dari Zimet (1988) yang diadaptasi oleh Laksmita et al., (2020) untuk variabel perceived social support dan menggunakan Ryff Scale of Psychological Well-Being yang telah diadaptasi oleh Rachmayani dan Ramdhani (2014) untuk variabel psychological well-being. Hasil analisis data menyatakan adanya hubungan linear yang positif dan pengaruh signifikan antara perceived social support terhadap psychological well-being dengan nilai kontribusi sebesar 30,7% dan dengan nilai signifikan.0,00 < dari alpha sebesar 0,05. Artinya, semakin tinggi dukungan sosial yang dirasakan yang berguna dan positif pada mahasiswa maka secara signifikan akan berpengaruh meningkatkan psychological well-being nya.