cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsps@unisba.ac.id
Phone
+6285211144661
Journal Mail Official
bcsps@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp: +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Psychology Science
ISSN : -     EISSN : 28282191     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsps.v2i3
Bandung Conference Series: Psychology Science (BCSPS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Psikologi dengan ruang lingkup sbb: Broken Home, Budaya Organisasi, Celebrity Worship, Delinkuensi, Dewasa Awal, Disiplin Kerja, Dukungan Sosial, Health belief, Interaksi Parasosial, Kemandirian Anak Usia Dini, Kematangan Karir, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Obesitas, Parasocial Relationship, Peak Performance, Pendidikan Karakter, Penyesuaian diri, Penyesuaian pernikahan, Pola Asuh, Prestasi Belajar, Psychological Well-Being, Religiusitas, Remaja Akhir, Self Esteem, Self regulation, Ta’aruf. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 490 Documents
Profil Pengguna Tinder Berusia Dewasa Awal Adib Fakhri Najib Ahda; Fanni Putri Diantina
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7406

Abstract

Abstract. One of the conveniences of internet-based technology is suggestions for finding partners, with the emergence of various online dating applications. One of the most used online dating applications in the world is Tinder, including in Indonesia. Tinder makes it easy to find suitable dates for its users. Each User has different motives and excessive use has the potential to cause annoyance to problematic Tinder users. This study aims to find out how strong the relationship is between Tinder use motive and personality type according to the big five theory dimensions for problematic Tinder users. This study used a quantitative approach with the Spearman correlation test technique which was conducted on 381 respondents with an age range of 18 to 25 years. The measurement instruments used were the Tinder Use Motive Scale (TUMS) developed by Orosz et al (2018), the Big Five Inventory (BFI) developed by Pervin & John (1991), the Problematic Tinder Use Scale (PTUS) developed by Orosz et al ( 2016).. The results of the study show that there is a relationship between Tinder use motives and personality types according to the dimensions of the big five theory on problematic Tinder users. Agreeableness has the strongest relationship with self-esteem enhancement with a value of r=0.113, conscientiousness with boredom with a value of r=-0.103, neuroticism with sex with a value of r=0.104, openness to experience and extraversion are related to boredom with a value of r=-0.093 and r =0.115 Abstrak.Salah satu kemudahan pada teknologi berbasis internet adalah saran pencarian pasangan, dengan munculnya berbagai aplikasi kencan online. Salah satu aplikasi kencan online yang paling banyak digunakan di dunia adalah Tinder, termasuk di Indonesia. Tinder memberikan kemudahan untuk menemukan pasangan kencan yang cocok untuk penggunanya. Setiap Penggunanya memiliki motif yang berbeda dan penggunaan berlebihan berpotensi menimbulkan gangguan pengguna Tinder yang bermasalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa kuat hubungan antara Tinder use motive dengan tipe kepribadian menurut dimensi big five theory pada pengguna Tinder yang bermasalah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik uji korelasi spearman yang dilakukan kepada 381 responden dengan rentang usia 18 hingga 25 tahun. Instrumen pengukuran yang digunakan adalah Tinder Use Motive Scale (TUMS) yang dikembangkan oleh Orosz dkk (2018),Big Five Inventory (BFI) yang dikembangkan oleh Pervin & John (1991), Problematic Tinder Use Scale (PTUS) yang dikembangkan oleh Orosz dkk (2016).. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan antara Tinder use motive dengan tipe kepribadian menurut dimensi big five theory pada problematic Tinder user. Agreeableness memiliki hubungan paling kuat dengan self esteem enhancement dengan nilai r=0.113, conscientiousness dengan boredom dengan nilai r=-0.103, neuroticism dengan sex dengan nilai r=0.104, openness to experience dan extraversion berhubungan dengan boredom dengan nilai r=-0.093 dan r=0.115
Pengaruh Job Crafting terhadap Work Engagement pada Sales Marketing Nindy Puspita Rachman; Anna Rozana
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7415

Abstract

Abstract. Business success can occur with employees who are tied to their work so that employees are able to do their work optimally. One of the factors is work engagement. Work engagement is considered a three-dimensional construction and is defined as a state of mind related to positive and satisfying work characterized by, vigor, dedication, and absorption (Schaufeli & Bakker, 2010). The job demands and job resources model can be a predictor of work engagement. Efforts to balance job The job demands and job resources model can be a predictor of work engagement. Efforts to balance job demands and job resources can use job crafting. Job crafting is the changes that individuals make on their own initiative to balance the demands and resources they earn from their work (Tims et al, 2012). This research aims to influence job crafting on work engagement in sales marketing carvawan. Subiek this research is 27 employees of sales marketing contracts at Bank Danamon. This research uses population techniques. The research method, which is used is quantitative with causality research design using multiple regression. The measuring instruments used are the Job Crafting Scale (ICS) from Tims et al (2012) adapted by Angga Januar et al and Utrecht Work Engagement Scale (UWES) from Schaufeli & Bakker (2002). The results showed that there was a positive influence of job crafting on work engagement of 82.1% (R square - 821) with the most influential job crafting dimension on work engagement was Increasing Structural Job Resources of 30.5%. Abstrak. Keberhasilan bisnis dapat terjadi dengan adanya karyawan yang terikat dengan pekerjaannya sehingga karyawan mampu melakukan pekerjaannya dengan optimal. Salah satu faktornya yaitu work engagement. Work engagement dianggap sebagai konstruksi tiga dimensi dan didefinisikan sebagai keadaan pikiran yang berhubungan dengan pekerjaan yang positif dan memuaskan yang ditandai dengan vigor, dedication, dan absorption (Schaufeli & Bakker, 2010). Model job demands dan job resources dapat menjadi prediktor work engagement. Upaya menyeimbangkan job demands dan job resources dapat menggunakan job crafting. Job crafting yaitu perubahan yang dilakukan individu atas inisiatif mereka sendiri untuk menyeimbangkan tuntutan dan sumber daya yang mereka peroleh dari pekerjaannya (Tims et al, 2012). Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh job crafting terhadap work engagement pada karyawan sales marketing. Subjek penelitian ini adalah 27 karyawan kontrak sales marketing di Bank Danamon. Penelitian ini menggunakan teknik populasi. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian kausalitas menggunakan multiple regression. Alat ukur yang digunakan adalah Job Crafting Scale (JCS) dari Tims et al (2012) diadaptasi oleh Angga Januar et al dan Utrecht Work Engagement Scale (UWES) dari Schaufeli & Bakker (2002). Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh positif job crafting terhadap work engagement sebesar 82,1% (R square = .821) dengan dimensi job crafting yang paling berpengaruh terhadap work engagement adalah Increasing Structural Job Resources sebesar 30,5%.
Pengaruh Work Life Balance terhadap Komitmen Organisasi pada Perawat Wanita Milenial Hana Dhia Salsabila; Lisa Widawati; Ayu Tuty Utami
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7416

Abstract

Abstract. In the workplace, nurses must demonstrate strong sense of dedication to their organization. On the one hand, nurses are prone to an imbalance between work and life due to shift work, resulting in them having to forfeit their time off. This study aimed to determine the effect of work-life balance on organizational commitment in millennial female nurses involving 65 millennial female nurses as subjects. In this study, we use a causality method with a quantitative model. The work-life balance variable was measured using a measuring instrument adapted by Gunawan et al. (2019), which refers to Fisher's theory (2009). The organizational commitment variable was measured using a measuring instrument scale based on Mowday's theory (1982) in Ingarianti's (2015) research. The sampling technique used was purposive sampling with simple linear regression analysis techniques. The results showed that there was a 21.3 % influence between work-life balance and organizational commitment. Abstrak. Dalam bekerja, perawat harus merupakan individu dengan komitmen organisasi yang tinggi. Namun, disatu sisi perawat merupakan individu yang rentan mengalami ketidakseimbangan kehidupan dengan pekerjaan yang disebabkan oleh shift kerja dan harus merelakan waktu liburnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh work life balance terhadap komitmen organisasi pada perawat wanita milenial dengan jumlah subjek 65 perawat wanita milenial. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kausalitas dengan desain kuantitatif. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur variabel work life balance adalah alat ukur yang diadaptasi oleh Gunawan et al., (2019) yang mengacu pada teori Fisher (2009). Alat ukur komitmen organisasi yang digunakan adalah skala komitmen organisasi yang berdasarkan konsep Mowday (1982) dalam penelitian Ingarianti (2015). Teknik sampling yang digunakan purposive sampling dengan teknik analisis data regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara work life balance terhadap komitmen organisasi sebesar 21,3%.
Hubungan antara Kepuasan Sekolah dan Subjective Well-Being Siswa SMP di Kota Bandung pasca COVID-19 Anggresya Syifa Novatiana; Ihsana Sabriani Borualogo
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7424

Abstract

Abstract. School satisfaction contributes to adolescent life satisfaction, especially given the importance of the school environment and the amount of time students spend at school. To measure adolescents' school satisfaction and life satisfaction, the most important thing is what happens during their daily life at school. The purpose of this study was to find out how satisfaction with school and SWB of junior high school students in Bandung City was post-COVID-19 and wanted to find out what was the relationship between school satisfaction and SWB in junior high school students in Bandung City after COVID-19. This research uses quantitative research methods. The sampling technique used is cluster random sampling. This study used measurement tools from Children's World, namely School Satisfaction, CW-SWBS5 and OLS. This study involved 965 students with a percentage of students namely 57.1% female students and 42.9% male students. The results show that male students (M = 82.7%) are more satisfied with their school than female students (M = 77.7%). Junior high school students in Bandung City overall had slightly above average satisfaction with school (M = 79.86), and their SWB was slightly above average (M = 75.16). Satisfaction as a school student is the factor that contributes most to students' overall life satisfaction, and satisfaction with what is learned at school is the factor that contributes most to their SWB. Abstrak. Kepuasan sekolah berkontribusi terhadap kepuasan hidup remaja, terutama mengingat pentingnya lingkungan sekolah dan jumlah waktu yang dihabiskan siswa di sekolah. Untuk mengukur kepuasan sekolah dan kepuasan hidup remaja, hal yang paling penting adalah apa yang terjadi selama kehidupan sehari-hari mereka di sekolah. Tujuan dari penelitian ini ingin mengetahui bagaimana kepuasan terhadap sekolah dan SWB siswa SMP di Kota Bandung pasca COVID-19 serta ingin mengetahui bagaimana hubungan antara kepuasan sekolah dengan SWB pada siswa SMP di Kota Bandung pasca COVID-19. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Teknik sampling yang digunakan yaitu cluster random sampling. Penelitian ini menggunakan alat ukur dari Children’s World yaitu School Satisfaction, CW-SWBS5 dan OLS. Penelitian ini melibatkan 965 siswa dengan persentase siswa yaitu 57.1% siswa perempuan dan 42.9% siswa laki-laki. Hasil menunjukkan bahwa siswa laki-laki (M = 82.7%) lebih puas dengan sekolah mereka daripada siswa perempuan (M= 77.7%). Siswa SMP di Kota Bandung secara keseluruhan memiliki kepuasan terhadap sekolah yang sedikit di atas rata-rata (M = 79.86), dan SWB mereka sedikit di atas rata-rata (M = 75.16). Kepuasan sebagai murid sekolah adalah faktor yang paling berkontribusi terhadap kepuasan kehidupan siswa secara keseluruhan, dan kepuasan dengan apa yang dipelajari di sekolah adalah faktor yang paling berkontribusi terhadap SWB mereka.
Resiliensi sebagai Mediator antara Perundungan dan Subjective Well-Being Siswa SMP Korban Perundungan Raihan Sarah Nabilla; Ihsana Sabriani Borualogo
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7425

Abstract

Abstract. This study aimed to investigate the role of resilience as a mediator in the relationship between bullying and subjective well-being (SWB). The participants in this study (N = 350; 53.7% female and 46.3% male) were junior high school students in Bandung City from grades 7 (n = 165; 47.1%), 8 (n = 121; 34.6%), and 9 (n = 64; 18.3%) who experienced bullying. The method used in this study was cluster random sampling which resulted in 16 schools being selected. Bullying was measured using the bullying measuring instrument, SWB was measured using the Children's Worlds Subjective Well Being Scale Five Items (CW-SWBS5) measuring instrument, and resilience was measured using the Child and Youth Resilience Measurement Revised plus Spirituality and Religiosity (CYRM-R plus S & R). Data were analyzed using regression tests with the PROCESS macro to examine the role of resilience as a mediator between bullying and SWB. Descriptive statistics were conducted using ANOVA to test the significance of the mean value of SWB and resilience. The results indicate that resilience mediates the relationship between bullying and SWB with coefficients of -.0164 (95% CI = -.7120, -.0130), indicating that resilience serves as a factor that reduces the negative impact of bullying on SWB and contributes positively to SWB. Abstrak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran resiliensi sebagai mediator dalam hubungan antara perundungan dan subjective well-being (SWB). Partisipan pada penelitian ini (N = 350; 53.7% perempuan dan 46.3% laki-laki) adalah siswa SMP di Kota Bandung dari kelas 7 (n = 165; 47.1%), kelas 8 (n = 121; 34.6%), dan kelas 9 (n = 64; 18.3%) yang mengalami perundungan. Teknik sampling pada penelitian ini menggunakan cluster random sampling dengan 16 sekolah yang terpilih. Perundungan diukur dengan menggunakan alat ukur perundungan, SWB diukur dengan menggunakan alat ukur Children’s Worlds Subjective Well Being Scale Five Items (CW-SWBS5), dan resiliensi diukur dengan menggunakan Child and Youth Resilience Measurement Revised plus Spirituality and Religiosity (CYRM-R plus S & R). Data dianalisis dengan menggunakan uji regresi dengan menggunakan PROCESS macro untuk menguji peran resiliensi sebagai mediator antara perundungan dan SWB. Statistik deskriptif dilakukan dengan menggunakan uji ANOVA untuk menguji signifikansi pada nilai rata-rata SWB dan resiliensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi memediasi hubungan antara perundungan dan SWB dengan koefisien sebesar -.0164 (95% CI = -.7120, -.0130) yang artinya resiliensi berfungsi sebagai faktor yang mengurangi dampak negatif perundungan pada SWB dan memberikan kontribusi positif terhadap SWB.
Hubungan antara Persepsi tentang Lingkungan Sekitar dan Subjective Well-Being pada Siswa SMP Firda Damayanti; Ihsana Sabriani Borualogo
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7426

Abstract

Abstract. Child Friendly City (CFC) is a crucial component in building A WorldFit for Children, which is closely related to the subjective well-being of children (SWB). This study aims to determine the relationship between perceptions about the neighborhood and junior high school students’s SWB in Bandung. Google Forms and Questionnaires were used to collect data online and offline through cluster random sampling technique. The participants are junior high school students in Bandung City aged 12-16 years (N= 956; 57.1% female; 42.9% male). Perceptions about the neighborhood were measured using a measurement tool from Children's Worlds, SWB was measured using the Children's Worlds Subjective Well-Being Scale 5 Items (CW-SWBS5) and Overall Life Satisfaction (OLS). Data were analyzed using multiple linear regression analysis to determine the relationship between perceptions about the neighborhood and the SWB of junior high school students in the city of Bandung. The comparable means statistical test is used to test the difference in the average value of perceptions about the surrounding environment and the average SWB. The results of this study show a positive relationship between environmental perceptions and SWB. Perceptions about the neighborhood contribute to the SWB of junior high school students in Bandung City by 38.7% in certain domains and 29.3%. overall. The component of perceptions about the neighborhood that contributes the most and significantly to student SWB is about people in their environment helping them when they have problems (B =.245; p<.000). To increase SWB for junior high school students in Bandung, the government, schools and parents can work together to create an environment that is safe, friendly and has adequate facilities for children. Abstrak. Kota Layak Anak (KLA) merupakan salah satu komponen penting dalam membangun A WorldFit for Children yang berkaitan erat dengan subjective well-being anak (SWB). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi tentang lingkungan sekitar dan SWB siswa SMP di Kota Bandung. Pengambilan data dilakukan secara daring dan luring menggunakan Google Form dan Kuesioner dengan teknik cluster random sampling. Partisipan penelitian ini adalah siswa SMP di Kota Bandung berusia 12 – 16 tahun (N= 956; 57.1% perempuan; 42.9% laki-laki). Persepsi tentang lingkungan sekitar diukur menggunakan alat ukur dari Children’s Worlds, SWB diukur menggunakan Children’s Worlds Subjective Well-Being Scale 5 Items (CW-SWBS5) dan Overall Life Satisfaction (OLS). Data dianalisis menggunakan analisis regresi linear berganda untuk mengetahui hubungan persepsi tentang lingkungan sekitar terhadap SWB siswa SMP di Kota Bandung. Uji statistik compare means digunakan untuk menguji perbedaan nilai rerata persepsi tentang lingkungan sekitar dan SWB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara persepsi tentang lingkungan dan SWB. Persepsi tentang lingkungan sekitar memberikan kontribusi terhadap SWB siswa SMP di Kota Bandung sebesar 38.7% pada domain tertentu dan 29.3%. secara keseluruhan. Komponen persepsi tentang lingkungan sekitar yang memberikan kontribusi paling besar dan signifikan terhadap SWB siswa, yaitu persepsi mengenai orang-orang di lingkungan mereka menolong mereka jika mereka memiliki masalah (B =.245; p<.000). Untuk meningkatkan SWB pada siswa SMP di Kota Bandung, pemerintah, sekolah, dan orang tua dapat bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang aman, ramah, dan memiliki fasilitas memadai untuk anak.
Studi Deskriptif Persepsi Siswa, Orang Tua dan Guru Mengenai Perundungan pada Siswa SMP di Kota Bandung Sekar Aulia Putri; Ihsana Sabriani Borualogo
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7427

Abstract

Abstract. This study aims to determine the perceptions of students, parents and teachers regarding bullying behavior. The research participants in this study were junior high school students (N= 328) in Bandung City grade 7 (n = 184), grade 8 (n= 75) and grade 9 (n = 69). Then the participants in this study were parents, consisting of fathers (N= 226), mothers (N= 229) and teachers (N= 140). Data collection in this study was conducted online and offline using google forms and questionnaires. The sampling technique used was cluster random sampling. Clusters in this study were determined based on school type (public and private) and school base (religious and non-religious). The measuring instrument used refers to Olweus' bullying theory with four answer options 1= Strongly disagree; 2= Disagree; 3= Agree; 4= Strongly agree. With reliability tests on students, parents and teachers (Cronbach alpha>.05) This study used a quantitative approach, the data were analyzed using descriptive analysis. The results showed that students, parents and teachers assessed that bullying is an aggressive act committed by students against other students intentionally, aiming to harm the victim. Students also assess what is said to be bullying if there are repeated aggressive actions. However, parents and teachers considered that aggressive actions committed only once could be considered as bullying. Students, parents and teachers consider that bullying behavior occurs because of the power imbalance between the perpetrator and the victim. Abstrak. Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi siswa, orang tua dan guru mengenai perilaku perundungan. Partisipan penelitian pada penelitian ini yaitu siswa SMP (N = 328) di Kota Bandung kelas 7(n = 184), kelas 8(n = 75) dan kelas 9(n = 69). Kemudian yang menjadi partisipan dalam penelitian ini yaitu orang tua, yang terdiri dari bapak (N = 226), ibu (N = 229) dan guru (N = 140). Pengambilan data pada penelitian ini dilakukan secara online dan offline dengan menggunakan google form dan kuesioner. Teknik sampling yang digunakan yaitu cluster random sampling. Cluster pada penelitian ini ditentukan berdasarkan tipe sekolah (negeri dan swasta) dan basis sekolah (agama dan non agama). Alat ukur yang digunakan mengacu pada teori perundungan Olweus dengan empat pilihan jawaban 1= Sangat tidak setuju; 2= Tidak Setuju; 3= Setuju; 4= Sangat Setuju. Dengan uji reliabilitas pada siswa, orang tua dan guru (Cronbach alpha >.05) Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, data dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukan siswa, orang tua dan guru menilai bahwa perundungan merupakan tindakan agresif yang dilakukan siswa terhadap siswa lain secara sengaja, bertujuan untuk menyakiti korban. Siswa juga menilai yang dikatakan sebagai perundungan yaitu jika ada tindakan agresif yang dilakukan berulang. Namun orang tua dan guru menilai tindakan agresif yang dilakukan hanya sekali dapat dikatakan sebagai perundungan. Siswa, orang tua dan guru menilai bahwa perilaku perundungan terjadi karena adanya power imbalance antara pelaku dan korban
Studi Komparasi Kepuasan Pertemanan dan Subjective Well-Being Remaja Panti Asuhan pada Saat dan Setelah Pandemi COVID-19 Alika Tsania Fauziah; Ihsana Sabriani Borualogo
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7428

Abstract

Abstract. Relationships with friends are important for adolescents, especially adolescents in residential care. For two years, they were required to lockdown due to the pandemic and now they are required to adapt back to normal life. This study is a longitudinal study comparing friendship satisfaction and subjective well-being (SWB) of adolescents in residential care during and after the COVID-19 pandemic. During the pandemic, there was a significant difference between the first year pandemic and the second year pandemic. Orphanage adolescents are more well-being in the first year of the pandemic. The sample selected in this study is the same sample as the previous study. Respondents of this study (N = 74; 66.2% female and 33.8% male). The sampling technique used was cluster random sampling. The measurement tools were friendship satisfaction from Children's World and CW-SWBS5. The compare means paired sample t-test analysis was used to see whether or not there were differences in friendship satisfaction and SWB during and after the COVID-19 pandemic. As a result, SWB during (M = 74.00) and after the COVID-19 pandemic (M = 74.32) showed no significant difference (M = -.324) with a significant (.894 > .05). Friendship satisfaction and friendship factors also did not show a significant difference where all significant values were more than .05 (p > .05). Abstrak. Relasi dengan teman merupakan hal yang penting bagi remaja, khususnya remaja panti asuhan. Selama dua tahun dituntut untuk melakukan lockdown karena terjadinya pandemi dan sekarang dituntut untuk beradaptasi kembali dengan kehidupan normal. Penelitian ini merupakan studi longitudinal yang membandingkan kepuasan pertemanan dan subjective well-being (SWB) remaja panti asuhan pada saat dan setelah pandemi COVID-19. Pada saat pandemi, di dapatkan hasil adanya perbedaan signifikan antara pandemi tahun pertama dan pandemi tahun kedua. Remaja panti asuhan lebih well-being di tahun pertama terjadinya pandemi. Sampel yang dipilih pada penelitian ini merupakan sampel yang sama dengan penelitian sebelumnya. Responden penelitian ini (N = 74; 66.2% perempuan dan 33.8% laki-laki). Teknik sampling yang digunakan adalah cluster random sampling. Alat ukur nya adalah kepuasan pertemanan dari Children’s World dan CW-SWBS5. Analisis compare means paired sample t-test digunakan untuk melihat ada atau tidak adanya perbedaan kepuasan pertemanan dan SWB pada saat dan setelah pandemi COVID-19. Hasilnya, SWB pada saat (M = 74.00) dan setelah pandemi COVID-19 (M = 74.32) tidak menunjukkan perbedaan secara signifikan (M = -.324) dengan signifikan (.894 > .05). Kepuasan pertemanan serta faktor-faktor pertemanannyapun tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan yang dimana semua nilai signifikannya lebih dari .05 (p > .05).
Hubungan antara Intensitas Penggunaan Instagram dengan Body Image pada Emerging Adulthood Anisa Indriani; Suhana
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7430

Abstract

Abstract. Body image is an important aspect of human development. The development of technology and the internet today makes social media, one of which is Instagram, related to changes in body image. This study examines the relationship between the intensity of Instagram use and body image in emerging adulthood. The research sample is 140 emerging adulthood aged 18-25 years who live in Bandung obtained through purposive sampling. This research is a quantitative study with a correlational design and the were obtain using the Instagram usage intensity scale and the MBSRQ-AS body image scale. The data were analysed using SPSS 24.0 with the Spearman rho test. The results revealed that there was a relationship between the intensity of Instagram use and body image in emerging adulthood with a correlation coefficient of -.523 and a significance level of .000. The relationship between the intensity of Instagram use and body image has a negative direction, meaning that the higher the intensity of Instagram use, the more negative the individual's body image is and conversely, the lower the intensity of Instagram use, the more positive the individual's body image is. Abstrak. Body image merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan manusia. Berkembangnya teknologi dan internet pada masa kini membuat media sosial, salah satunya instagram dapat berkaitan dengan perubahan pada body image. Penelitian ini akan menguji hubungan antara intensitas penggunaan instagram dengan body image pada emerging adulthood. Sampel dalam penelitian ini adalah 140 emerging adulthood berusia 18-25 tahun di Kota Bandung yang diperoleh menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain korelasional dan pengumpulan data menggunakan skala intensitas penggunaan intagram dan skala body image MBSRQ-AS. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS 24.0 dengan uji korelasional spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara intensitas penggunaan instagram dengan body image pada emerging adulthood dengan koefisien korelasi sebesar -.523 dan taraf signifikansi sebesar .000. Hubungan antara intensitas penggunaan instagram dengan body image memiliki arah negatif, artinya semakin tinggi intensitas penggunaan instagram maka semakin negatif body image individu dan sebaliknya semakin rendah intensitas penggunaan instagram maka semakin positif body image individu.
Hubungan Kemandirian dengan Kematangan Karier Mahasiswa yang Mengikuti MSIB di Kota Bandung Hasna Putri Belina; Dewi Sartika
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7453

Abstract

Abstract. Students are in the early adulthood stage and transitioning from adolescence to adulthood, typically ranging from 18 to 25 years old. As young adults, students are expected to be capable of making career decisions. Students who rely on themselves to make decisions and take responsibility for their choices are considered independent. The MSIB program is a program designed by the government to train students' soft and hard skills in the working world. The objective of this research is to examine the relationship between independence and career maturity among students participating in MSIB in the city of Bandung. This is a correlational research with a quantitative approach. The research subjects consist of 160 MSIB students in Bandung. The research instrument used is the Yuanda Independence Scale, which refers to Steinberg's Theory, and the Dewi Sartika Career Maturity Scale, which refers to Super's theory. The data analysis results show that the Rank Spearman correlation coefficient is 0.604, where ρ > 0, indicating a positive relationship between independence and career maturity among students participating in MSIB in Bandung. Twenty-one students (13%) are categorized as having low independence, while the remaining 139 students (87%) have high independence. 5 students (0.03%) are categorized as having low career maturity, while the remaining 155 students (97%) have high career maturity. Suggestions for this research include students getting to know themselves, identifying their interests and abilities, and universities actively participating in helping students improve their independence and career maturity. Abstrak. Mahasiswa berada pada masa dewasa awal dan transisi dari remaja ke dewasa, dengan rentan usia 18 hingga 25 tahun. Sebagai dewasa awal, mahasiswa dituntut mampu membuat keputusan kariernya. Mahasiswa yang mengandalkan dirinya membuat keputusan dan bertanggung jawab pada keputusannya adalah mahasiswa yang mandiri. Program MSIB merupakan program yang dirancang oleh pemerintah untuk melatih soft skill dan hard skill mahasiswa dalam dunia kerja, kenyataannya banyak mahasiswa memiliki kemandirian dan kematangan karier rendah bahkan setelah mengikuti program MSIB. Tujuan penelitian ini adalah menguji hubungan kemandirian dengan kematangan karier pada mahasiswa mengikuti MSIB di Kota Bandung. Jenis penelitian korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian 160 mahasiswa MSIB di Kota Bandung. Alat ukur penelitian skala kemandirian Yuanda mengacu pada Teori Steinberg dan skala kematangan karier Dewi Sartika yang mengacu pada teori Super. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai korelasi Rank Spearman sebesar 0,604 dimana nilai ρ >0, yang artinya terdapat hubungan positif antara kemandirian dengan kematangan karier pada mahasiswa mengikuti MSIB di Kota Bandung. Mahasiswa yang kemandirian dikategorisasikan rendah sebanyak 21 orang (13%), sisanya sebanyak 139 mahasiswa (87%) memiliki kemandirian yang tinggi. Mahasiswa memiliki kematangan karier kategorisasi rendah sebanyak 5 orang (0.03%), sisanya sebanyak 155 mahasiswa (97%) memiliki kematangan karier yang tinggi. Saran untuk penelitian ini mahasiswa mengenali dirinya, mengetahui minat dan kemampuannya, universitas ikut berpartisipasi membantu mahasiswa meningkatkan kemandirian dan kematangan karier.