cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsps@unisba.ac.id
Phone
+6285211144661
Journal Mail Official
bcsps@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp: +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Psychology Science
ISSN : -     EISSN : 28282191     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsps.v2i3
Bandung Conference Series: Psychology Science (BCSPS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Psikologi dengan ruang lingkup sbb: Broken Home, Budaya Organisasi, Celebrity Worship, Delinkuensi, Dewasa Awal, Disiplin Kerja, Dukungan Sosial, Health belief, Interaksi Parasosial, Kemandirian Anak Usia Dini, Kematangan Karir, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Obesitas, Parasocial Relationship, Peak Performance, Pendidikan Karakter, Penyesuaian diri, Penyesuaian pernikahan, Pola Asuh, Prestasi Belajar, Psychological Well-Being, Religiusitas, Remaja Akhir, Self Esteem, Self regulation, Ta’aruf. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 490 Documents
Pengaruh Social Support terhadap Loneliness pada Mahasiswa Rantau di Kota Bandung Kezkia Meianisa; Sita Rositawati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.6698

Abstract

Abstract. The results of research on social support show that social support has many benefits in overcoming various problems. One of the benefits of social support is to help overcome loneliness, where loneliness according to Russell (1996) is "a social relationship that does not match what is desired, including feelings of anxiety, distress, and the perception of a lack of social relationships in a person". This research is a quantitative research that aims to see the influence of social support on loneliness. The respondents totaled 157 first-year students who come from outside the island of Java in the city of Bandung. Samples were selected by accidental sampling technique. Loneliness was measured using a loneliness scale version 3 (UCLAversion 3) measuring instrument. Social Support is measured by a questionnaire that refers to aspects of Sarafino theory (2011). The social support scale has the reliability value of the coefficient alpha (a) = 0.938 and the loneliness scale has the reliability value of the coefficient alpha (a) = 0.822. Based on the, it was found that there was a negative influence of social support on loneliness in students who come from outside the island of Java. The effective contribution given by the social support variable to loneliness in students who come from outside the island of Java was 2.5% and the remaining 97.5% was influenced by other factors that were not studied in this study. Abstrak. Hasil- hasil penelitian mengenai social support menujukkan bahwa social support memiliki banyak manfaat dalam mengatasi berbagai permasalahan. Salah satu manfaat dari social support yaitu untuk membantu mengatasi loneliness, dimana loneliness menurut Russell (1996) merupakan “hubungan sosial yang tidak, sesuai dari apa yang diinginkan, termasuk perasaan gelisah, tertekan, dan persepsi kurangnya hubungan sosial pada diri seseorang”. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk melihat pengaruh social support terhadap loneliness. Responden berjumlah 157 mahasiswa rantau tahun pertama di Kota Bandung. Sampel dipilih dengan Teknik Accidental Sampling. Loneliness diukur menggunakan alat ukur loneliness scale version 3 (UCLAversion 3). Social Support diukur dengan kuesioner yang mengacu pada aspek teori Sarafino (2011). Skala social support memiliki nilai reliabilitas koefisien alpha (a) = 0.938 dan skala loneliness memiliki nilai reliabilitas koefisien alpha (a) = 0.822. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa ada pengaruh negatif dari social support terhadap loneliness pada mahasiswa rantau. Artinya semakin tinggi social support yang diperoleh mahasiswa rantau, maka loneliness akan semakin rendah dan begitu juga sebaliknya. Sumbangan efektif yang diberikan variabel social support terhadap loneliness pada mahasiswa rantau adalah sebesar 2,5% dan sisanya yaitu 97,5% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Studi Deskriptif Illness Perception pada Caregiver Penderita Psikosis di Bandung Melanie Khairunnisa; Farida Coralia
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.6766

Abstract

Abstract. Psychosis is one indicator of a healthy family in Indonesia. According to Riskesdas data in 2018, the prevalence of psychosis in Indonesia reached 6.7 per household. Treatment should be taken to prevent recurrence of psychotic symptoms. The lack of family role as caregiver is one of the causes for stopping treatment. The purpose of this study was to determine the description of illness perception on caregivers with psychosis in Bandung Raya. In this study, the theory of illness perception was used which was developed by Leventhal et. al. This study uses descriptive study methods and data collection techniques using questionnaires. The data analysis technique was done using compared means to see the description of the caregiver's illness perception. This study involved as many as 25 caregivers of people with psychosis in Bandung Raya. The measuring instrument used in this research is The Brief Illness Perception Questionnaire (B-IPQ) which was developed by Broadbent (2006). The results of the study found that male caregivers, caregivers with an age range of 44-63 years, and caregivers who accompanied people with psychosis more than 9 years had a more positive illness perception. Abstrak. Psikosis merupakan salah satu indikator keluarga sehat indonesia. Menurut data Riskesdas tahun 2018, prevalensi psikosis di Indonesia mencapai 6,7 per rumah tangga. Pengobatan harus dilakukan untuk mencegah terulangnya gejala psikosis. Kurangnya peran keluarga sebagai caregiver menjadi salah satu penyebab terhentinyapengobatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran illness perception pada caregiver penderita psikosis di Bandung Raya. Pada penelitian ini menggunakan teori illness perception yang dikembangkan oleh Leventhal et. al. Penelitian ini menggunakan metode studi deskriptif dan teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner.Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan compared means untuk melihat gambaran dari illness perceptioncaregiver. Penelitian ini melibatkan sebanyak 25 orang caregiver dari penderita psikosis di Bandung Raya. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah The Brief Illness perception Questionnaire (B-IPQ) yang dikembangkan oleh Broadbent (2006). Hasil penelitian menemukan bahwa pada caregiver laki-laki, caregiver dengan rentang usia 44-63 tahun, dan caregiver yang mendampingi penderita psikosis lebih dari >9 tahun memiliki illness perception yang lebih positif.
Studi Deskriptif Kepuasan Pernikahan pada Ibu Rumah Tangga Muslim Silva Anisa Aulia; Stephani Raihan Hamdan
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.6825

Abstract

Abstract. Divorce is rife in Indonesia so that the number of divorce cases continues to increase. Divorce cases are mostly filed by wives, including those who act as housewives. Divorce is the pinnacle of dissatisfaction with marriage. The purpose of this study is to get an overview of the level of marital satisfaction among Muslim housewives. Measurements were made using the ENRICH Marital Satisfaction (EMS) measuring instrument compiled by Fowers & Olson (1993). The sample in this study was 177 Muslim housewives spread across Greater Bandung, using purposive sampling. This study uses a quantitative approach to the causality method. The analysis used is simple regression analysis. The results of the study show that the majority of Muslim housewives have a high level of marital satisfaction. The results showed that 168 people (94.9%) were Muslim housewives with a high level of marital satisfaction and 9 people (5.1%) had a low level of marital satisfaction. Abstrak. Perceraian marak terjadi di Indonesia hingga jumlah kasus perceraian terus mengalami peningkatan. Kasus perceraian lebih banyak diajukan oleh istri, termasuk yang berperan sebagai ibu rumah tangga. Perceraian merupakan puncak ketidakpuasan dari pernikahan. Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan gambaran mengenai tingkat kepuasan pernikahan pada ibu rumah tangga muslim. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat ukur ENRICH Marital Satisfaction (EMS) yang disusun oleh Fowers & Olson (1993). Sampel dalam penelitian ini berjumlah 177 orang ibu rumah tangga muslim yang tersebar di Bandung Raya, menggunakan purposive sampling. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode kausalitas. Analisis yang digunakan adalah analisis regresi sederhana. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa mayoritas ibu rumah tangga muslim dalam tingkat kepuasan pernikahan yang tinggi. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 168 orang (94, 9%) ibu rumah tangga muslim di tingkat kepuasan pernikahan tinggi dan 9 orang (5,1%) di tingkat kepuasan pernikahan yang rendah.
Pengaruh Organizational Commitment terhadap Readiness for Change pada Dosen Muhammad Ghilman Al Ghifari; Hendro Prakoso
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.6879

Abstract

Abstract. Changes and developments are unavoidable in the continuity of theorganization today and in the future, including the field of educationalorganizations. Education in Indonesia is currently undergoing a change from theMerdeka Learning-Independent Campus (MBKM) program. This has an impact onhigher education and the members in it, one of which is the lecturer. These changesinclude academic activities, learning systems, and technology. Lecturers who areactively involved in implementing the values ​​and goals of higher education duringthe MBKM policy indicate an organizational commitment to the lecturers.Organizational commitment is said to have a relationship and influence on readinessto change, so that it can achieve the success of changes that occur in theorganization. This study aims to determine and analyze how much influenceOrganizational Commitment has on Readiness for Change on lecturers. Thisresearch method is a quantitative method included in causality with a sample size of70 lecturers from the Islamic University of Bandung, the University of IndonesianEducation, and the University of Pasundan. This study uses the OrganizationalCommitment Questionnaire (OCQ) from Mowday et al., (1979) and the Readinessfor Change Scale from Holt et al., (2007). The results of this study based multipleregression showed that Organizational Commitment has an effect influence onReadiness for Change by 49.9% with the dimension of identification giving a largeeffect on readiness to change. Abstrak. Perubahan dan perkembangan tidak terhindarkan dalam keberlangsunganorganisasi saat ini dan di masa yang akan datang, termasuk organisasi bidangpendidikan. Pendidikan di Indonesia saat ini mengalami perubahan dari programMerdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM). Hal ini berdampak pada perguruantinggi dan anggota didalamnya, salah satunya yaitu dosen. Perubahan ini meliputiaktivitas akademik, sistem pembelajaran, dan teknologi. Dosen yang terlibat aktifdalam pencapaian nilai serta tujuan perguruan tinggi ketika diterapkan kebijakanMBKM, menandakan adanya organizational commitment pada dosen.Organizational commitment dikatakan memiliki hubungan dan pengaruh terhadapReadiness for change, sehingga dapat mencapai keberhasilan perubahan yang terjadipada organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisisseberapa besar pengaruh Organizational Commitment terhadap Readiness forChange pada dosen. Metode penelitian ini adalah metode kuantitatif termasukdalam kausalitas dengan jumlah sampel subjek yaitu 70 dosen yang berasal dariUniversitas Islam Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia, dan UniversitasPasundan. Penelitian ini menggunakan alat ukur Organizational CommitmentQuestionaire (OCQ) dari Mowday et al., (1979) dan Readiness for Change Scaledari Holt et al., (2007). Berdasarkan hasil regresi berganda didapatkan hasil bahwaOrganizational Commitment memberikan pengaruh yang besar terhadap Readinessfor Change sebesar 49,9% dengan dimensi identifikasi yang memberikan pengaruhpaling besar terhadap Readiness for change.
Pengaruh Kesabaran terhadap Kecemasan Bertanding Atlet Karate di Kota Bandung Ayang Elvira Merlinmas; Umar Yusuf Supriatna
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.6949

Abstract

Abstract. An athlete when facing a match will be faced with a psychological condition, namely competition anxiety. Therefore, a professional athlete needs psychological strength in the form of patience. Patience is the ability to organize, control and direct (actions, feelings, and thoughts) comprehensively and integratively in overcoming the difficulties and obstacles it faces. The purpose of this study was to determine how much influence patience has on competition anxiety. The method used is non-experimental causality with a population of 35 karate athletes in Bandung. Measurements used the Patience Measurement Tool compiled by Umar Yusuf and the Sports Anxiety Scale compiled by Smith and Smoll and adapted by Nyak Amir. Based on the results of the analysis carried out using a regression coefficient of determination R-Square of 35.6%, meaning that patience has an effect of 35.6% on Anxiety competing for Karate Athletes in Bandung City. The aspect of patience that has the most influence on competition anxiety is persistence and fortitude. Abstrak. Seorang atlet pada saat menghadapi pertandingan akan dihadapkan pada suatu kondisi psikologis yaitu adalah kecemasan bertanding. Oleh karena itu seorang atlet profesional diperlukan kekuatan psikologis berupa kesabaran. kesabaran adalah kemampuan untuk mengatur, mengendalikan dan mengarahkan (tindakan, perasaan, serta pikiran) secara komprehensif dan integrative dalam mengatasi kesulitan dan rintangan yang dihadapinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kesabaran terhadap kecemasan bertanding. Metode yang digunakan adalah kausalitas non-eksperimen dengan populasi seluruh atlet karate Kota Bandung yang berjumlah 35 atlet. Pengukuran menggunakan Alat Ukur Kesabaran yang disusun oleh Umar Yusuf dan Skala Kecemasan Olahraga yang disusun oleh Smith and Smoll dan diadaptasi oleh Nyak Amir. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan menggunakan regresi koefisien determinasi R-Square sebesar 35,6%, artinya kesabaran memberi pengaruh sebesar 35,6% terhadap Kecemasan bertanding Atlet Karate di Kota Bandung. Aspek kesabaran yang paling berpengaruh terhadap kecemasan bertanding adalah keteguhan dan ketabahan.
Pengaruh Job Crafting terhadap Work Engagament pada Guru SMP di Kota Bandung Pamela Sarah Khairunnisa; Dewi Sartika
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.7095

Abstract

Abstract. This study aims to find out how much influence Job Crafting has on Work Engagement. This research was conducted on junior high school teachers in Bandung City. The number of subjects in this study was 359 junior high school teachers in the city of Bandung. This study used a psychological scale with Job Crafting measuring instruments from Tims, Bakker and Derks as well as Work Engagement measuring instruments from Schaufeli & Bakker. The method of this study is quantitative non-experimental causality. The results of the study found that 92.9% of teachers have high Job Crafting and 93.9% of teachers have high Work Engagement. The effect of Job Crafting on Work Engagement in this study was 46.8%. The results of multiple regressions show that the Increasing Structural Job Resources dimension has the highest influence on Work Engagement. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Job Crafting terhadap Work Engagement. Penelitian ini dilakukan pada Guru SMP di Kota Bandung. Jumlah subjek pada penelitian ini adalah 359 Guru SMP di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan skala psikologis dengan alat ukur Job Crafting dari Tims, Bakker dan Derks serta alat ukur Work Engagement dari Schaufeli & Bakker. Metode dari penelitian ini yaitu kuantitatif kausalitas non eksperimental. Hasil penelitian ditemukan bahwa 92,9% Guru memiliki Job Crafting yang tinggi dan 93,9% guru memiliki Work Engagement yang tinggi. Pengaruh Job Crafting terhadap Work Engagement pada penelitian ini sebesar 46,8%. Hasil multiple regression menunjukkan bahwa dimensi Increasing Structural Job Resources yang memberikan pengaruh paling tinggi terhadap Work Engagement.
Pengaruh Playful Work Design terhadap Work Engagement pada Barista Coffee Shop di Kota Bandung Rizky Radiansyah Rizky; Hendro Prakoso; Rizka Hadian Permana
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.7167

Abstract

Abstract. The boredom experienced by employees in a company will have an impact on the employees themselves and the organization. To overcome the boredom in the work, individuals can do in various jobs is by proactively designing their work to be a fun and challenging thing to do. This study aims to determine how much playful work design influence work engagement at the coffee shop barista in Bandung City. Total of samples in this study were 100 baristas in the city of Bandung. The research method used is a non-experimental causality method. This study uses a psychological scale with a playful work design scale (PWDS) developed by Scharp & Bakker (2020) and a work engagement measurement tool (UWES-17) from Schaufeli & Bakker (2004) which was adapted by Sutisna, et al (2020). The results showed that 96% of baristas had a high level of playful work design and 96% of baristas had a high level of work engagement. Based on the results of multiple regression, it was found that a pleasant work design has a large effect on job involvement, which is 61.3%. Abstrak. Adanya kebosanan yang dialami oleh karyawan pada suatu perusahaan akan berdampak kepada karyawan itu sendiri maupun pada organisasi. Untuk mengatasi adanya kebosanan dalam pekerjaan tersebut, salah satu cara yang dapat dilakukan individu dalam berbagai pekerjaan yaitu dengan secara proaktif merancang pekerjaan mereka agar menjadi suatu hal yang menyenangkan dan menantang untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh playful work design terhadap work engagement pada barista Coffee Shop di Kota Bandung. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 100 barista di Kota Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kausalitas non eksperimental. Penelitian ini menggunakan skala psikologis dengan alat ukur playful work design scale (PWDS) yang dikembangkan oleh Scharp & Bakker (2020) yang diadaptasi dan modifikasi oleh peneliti dan alat ukur work engagement (UWES-17) dari Schaufeli & Bakker (2004) yang diadaptasi oleh Sutisna, et al (2020). Hasil penelitian menunjukan bahwa 96% barista memiliki tingkat playful work design yang tinggi dan 96% barista memiliki tingkat work engagement yang tinggi. Berdasarkan hasil regresi berganda ditemukan bahwa playful work design berpengaruh besar terhadap work engagement yaitu sebesar 61,3%. Kata Kunci: Barista Coffee Shop, Playful work design, Work engagement.
Pengaruh Self Compassion terhadap Kecemasan Masa Depan pada Mahasiswa Tingkat Akhir Lischa Nabila Wilianaza; Suhana
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7313

Abstract

Abstract. These hopes, goals and guesses about what will happen in the future often affect human mental health, coupled with the pandemic yesterday brought a period of uncertainty for everyone. This uncertainty associated with the future and the possibility of unintended or negative outcomes is commonly referred to as future anxiety. Future anxiety is certainly not a good thing for the human mentality because it involves understanding the goodness of oneself when experiencing failures and mistakes, without criticizing and judging oneself harshly this is commonly called self-compassion is very important. Based on this phenomenon, the problems in this study are formulated as follows: (1) what is the level of self compassion possessed by final year students? (2) What is the level of future anxiety experienced by final year students? (3) How much influence self-compassion has on future anxiety in final year students?. The respondents of this study were 340 final year students at Bandung Islamic University with causality and quota sampling methods. The results obtained using a simple linear regression test showed simultaneously and significantly the negative influence of self-compassion on future anxiety in final year students. With the value of the linear regression coefficient of the self-compassion variable is –.584, this shows that if the self-compassion variable increases, the future anxiety variable will decrease. The value of the coefficient of determination of .499 means that the self-compassion variable can affect future anxiety by 49.9%, meaning that the influence is at a fairly moderate level. Therefore, it is hoped that final year students can increase self-compassion in order to deal with future anxiety. Abstrak. Harapan, tujuan dan dugaan mengenai yang akan terjadi di masa depan ini seringkali mempengaruhi kesehatan mental manusia, ditambah dengan adanya pandemi kemarin membawa masa ketidakpastian bagi semua orang. Ketidakpastian yang terkait dengan masa depan dan kemungkinan hasil yang tidak diinginkan atau negatif ini biasa disebut dengan kecemasan masa depan. Kecemasan masa depan tentu bukan lah hal yang baik bagi mental manusia untuk itu melibatkan pemahaman akan kebaikan pada diri sendiri saat mengalami kegagalan dan kesalahan, tanpa mengkritik dan menghakimi diri secara keras ini biasa di sebut dengan self compassion sangatlah penting. Berdasarkan fenomena tersebut, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: (1) bagaimana tingkat self compassion yang dimiliki mahasiswa tingkat akhir? (2) Bagaimana tingkat kecemasan masa depan yang dialami oleh mahasiswa tingkat akhir? (3) Seberapa besar pengaruh self compassion terhadap kecemasan masa depan pada mahasiswa tingkat akhir?. Responden penelitian ini 340 mahasiswa tingkat akhir di Universitas Islam Bandung dengan metode kausalitas dan quota sampling. Hasil penelitian diperoleh menggunakan uji regresi linear sederhana menunjukkan secara simultan dan signifikan pengaruh negatif self compassion terhadap kecemasan masa depan pada mahasiswa tingkat akhir. Dengan nilai koefisien regresi linear dari variabel self compassion adalah .584 ini memperlihatkan bahwa apabila variabel self compassion mengalami kenaikan maka variabel kecemasan masa depan akan mengalami penurunan. Nilai koefisien determinasi .499 artinya variabel self compassion dapat mempengaruhi kecemasan masa depan sebesar 49.9% artinya pengaruh berada pada tingkat yang cukup moderat. Oleh karena itu, diharapkan mahasiswa tingkat akhir dapat meningkatkan self compassion agar dapat menangani kecemasan masa depan.
Pengaruh Work Life Balance terhadap Turnover Intention pada Karyawan Milenial Perusahaan Startup Digital Kota Bandung Annisa Nurkarimah; Sita Rositawati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7314

Abstract

Abstract. The millennial generation is dominating the world of work today with distinctive characteristics, one of which is identical to frequently changing workplaces. This is in line with the high turnover intention data in Indonesia, especially for millennial generation employees. If this continues, it can have a negative impact both financially and non-financially for the company. One of the reasons why millennial generation employees often change workplaces is because they experience a loss of balance between work and personal life aspects. The purpose of this research is to see how much influence work life balance has on turnover intention among millennial generation employees in digital startup companies in Bandung City. This research method applies a non-experimental quantitative approach, involving 114 respondents and using simple regression analysis tests and descriptive analysis. The measuring instrument applied to the work life balance variable adapted by Gunawan (2019), which refers to Fisher's (2009) measuring instrument. On the turnover intention variable, using a measuring instrument adapted by Farisan & Mubarak (2021), which refers to the Mobley (1978) measuring instrument. The results of simple regression analysis show that work life balance is significantly correlated with turnover intention. The correlation between work life balance and turnover intention has a negative regression coefficient value (WLB = -0.026), which shows that the higher the work life balance, the lower the turnover intention. In addition, the coefficient of determination shows that 25.9% of the turnover intention variable is influenced by the work life balance variable. Abstrak. Generasi milenial sedang mendominasi dunia kerja saat ini dengan karakteristik khas salah satunya adalah identik dengan seringnya berpindah-pindah tempat kerja. Hal tersebut selaras dengan data turnover intention yang tinggi di Indonesia, terutama pada karyawan generasi milenial. Jika hal tersebut berlangsung secara terus menerus, dapat berdampak buruk baik secara finansial maupun non finansial bagi perusahaan. Salah satu alasan mengapa karyawan genersi milenial sering berpindah-pindah tempat kerja adalah karena mengalami kehilangan keseimbangan antara aspek pekerjaan dan aspek kehidupan pribadi. Tujuan dari riset ini ialah guna melihat seberapa besar pengaruh work life balance terhadap turnover intention pada karyawan generasi milenial di perusahaan startup digital Kota Bandung. Metode riset ini menerapkan pendekatan kuantitatif non-eksperimental, dengan melibatkan 114 responden dan menggunakan uji analisis regresi sederhana dan analisis deskriptif. Alat ukur yang diterapkan pada variabel work life balance yang diadaptasi oleh Gunawan (2019), yang merujuk pada alat ukur Fisher (2009). Pada variabel turnover intention, menggunakan alat ukur yang diadaptasi oleh Farisan & Mubarak (2021), yang merujuk pada alat ukur Mobley (1978). Hasil analisis regresi sederhana menujukkan bahwa work life balance berkorelasi signifikan terhadap turnover intention. Korelasi antara work life balance dengan turnover intention memiliki nilai koefisien regresi bertanda negatif (WLB= -0.026), yang memperlihatkan semakin tinggi work life balance maka semakin rendah turnover intention. Selain itu, hasil koefisien determinasi menunjukkan bahwa 25,9% variabel turnover intention dipengaruhi oleh variabel work life balance.
Pengaruh Work Family Conflict terhadap Psychological Well-Being pada Karyawati KODIKLATAD Anggitha Intan Pertiwi; Yuli Aslamawati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7319

Abstract

Abstract. The purpose of this study was to determine the effect of work family conflict on psychological well-being in KODIKLATAD employees. Work family conflict is a conflict between roles, namely the pressure exerted by one role on another, both at work and in the family, which causes an imbalance. Psychological well-being Psychological well-being is an achievement of the potential possessed by individuals, where an individual is able to accept himself from both positive and negative sides, establish good relationships with other individuals, control the environment according to his psychological needs, have goals in life , and develop the potential contained within him. This research is a research with a quantitative approach using a questionnaire method. The sampling technique used is purposive sampling. Data collection used two measurement tools, namely the work-family conflict scale (WFCS) from Carlson, Kacmar and Williams (2000) which consisted of 18 items with a reliability of r = 0.950 and the Psychological Well-Being Scale (PWBS) which consisted of 86 items with reliability of 0.912. This research involved 78 KODIKLATAD employees. The method used is simple linear regression analysis using the Pearson correlation analysis technique assisted by SPSS software. The results of data analysis prove that there is a significant influence between work family conflict on psychological well-being tcount, namely 14,143 > ttable, namely 3,825. The results of psychological well-being are affected by work family conflict of 0.560. or 56%. From the results of the regression analysis, the equation is Y = 20.698 + 1.153X. This equation proves that there is a positive influence between work family conflict (X) on psychological well-being. Abstrak. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh work family conflict terhadap psychological well-being pada karyawati KODIKLATAD. Work family conflict adalah konflik antar peran yaitu tekanan yang diberikan oleh satu peran dengan peran lainnya baik dalam pekerjaan maupun dalam keluarga yang menimbulkan ketidakseimbangan. Psychological well-being Psychological well-being adalah suatu pencapain dari potensi yang dimiliki oleh individu, dimana seorang individu mampu menerima dirinya baik dari sisi positif maupun negatif, menjalin relasi yang baik dengan individu lain, mengontrol lingkungan sesuai dengan kebutuhan psikologisnya, memiliki tujuan dalam hidup, dan mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya. Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kuantitatif yang memakai metode kuesioner. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling. Pengumpulan data memakai dua alat ukur yaitu work-family conflict scale (WFCS) dari Carlson, Kacmar dan Williams (2000) yang terdiri dari 18 item dengan reliabilitas sebesar r = 0.950 dan Psychological Well-Being Scale (PWBS) yang terdiri 86 item dengan reliabilitas sebesar 0,912. Penelitian ini melibatkan 78 karyawati Kodiklat AD. Metode yang digunakan yaitu analisis regresi linier sederhana menggunakan teknik analisis pearson correlation yang dibantu software SPSS. Hasil analisis data membuktikan adanya pengaruh signifikan antara work family conflict terhadap psychological well-being thitung yaitu 14.143 > ttabel yaitu 3.825. Hasil dari psychological well-being dipengaruhi oleh work family conflict sebesar 0,560. atau 56%. Dari hasil analisis regresi didapatkan persamaan yaitu Y=20,698+1.153X. Persamaan tersebut membuktikan bahwa terdapat pengaruh positif antara work family conflict (X) terhadap psychological well-being.