Bandung Conference Series: Psychology Science
Bandung Conference Series: Psychology Science (BCSPS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Psikologi dengan ruang lingkup sbb: Broken Home, Budaya Organisasi, Celebrity Worship, Delinkuensi, Dewasa Awal, Disiplin Kerja, Dukungan Sosial, Health belief, Interaksi Parasosial, Kemandirian Anak Usia Dini, Kematangan Karir, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Obesitas, Parasocial Relationship, Peak Performance, Pendidikan Karakter, Penyesuaian diri, Penyesuaian pernikahan, Pola Asuh, Prestasi Belajar, Psychological Well-Being, Religiusitas, Remaja Akhir, Self Esteem, Self regulation, Ta’aruf. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles
490 Documents
Pengaruh Social Support terhadap Academic Burnout pada Mahasiswa Program Studi Sarjana Kedokteran di Kota Bandung
Salsa Alfi Syahrin;
Kusdiyati, Sulisworo
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.9719
Abstract. Medical students in West Java are said to have the highest level of Academic Burnout compared to other medical students in Indonesia. Academic Burnout is the impact of large academic demands and challenges, especially on medical students. In this research, Social Support is the independent variable and Academic Burnout is the dependent variable, considering that Social Support is said to be a variable that produces various results regarding its influence and relationship to Academic Burnout. The aim of this research is to try to determine the level of Social Support and Academic Burnout as well as the influence of Social Support on Academic Burnout in students of the Undergraduate Medical Study Program in Bandung City. The design of this research is causality with a non-experimental quantitative approach. Data were collected using a cross-sectional convenience sampling technique with 311 medical students as respondents. Multiple regression analysis was used to see the influence of the Social Support dimension on Academic Burnout. The theory used to explain Social Support is Cohen & Hoberman's Theory (1983) and to explain Academic Burnout using the Theory of Schaufeli et al., (2002). The research results based on the R Square value of Social Support contribute 67% to the Academic Burnout variable with a significant negative relationship, meaning that the higher the level of appreciation of Social Support, the lower the level of Academic Burnout and vice versa. Of the 4 dimensions of Social Support (appraisal support, belonging support, tangible support, and esteem support) Belonging Support is the dimension that has the most influence on Academic Burnout with a contribution value (R2) of 26.3% Abstrak. Mahasiswa kedokteran di Jawa Barat dikatakan berada pada tingkat tertinggi mengenai Academic Burnout dibandingkan dengan mahasiswa kedokteran lainnya di Indonesia. Academic Burnout adalah dampak dari besarnya tuntutan dan tantangan akademik terutama pada mahasiswa Kedokteran. Pada penelitian ini Social Support sebagai variabel independent dan Academic Burnout sebagai variabel dependen, mengingat Social Support dikatakan sebagai variabel yang memunculkan hasil yang beragam mengenai pengaruh dan hubungannya terhadap Academic Burnout. Tujuan penelitian ini mencoba mengetahui tingkat Social Support dan Academic Burnout serta pengaruh Social Support terhadap Academic Burnout pada mahasiswa Program Studi Sarjana Kedokteran di Kota Bandung. Desain penelitian ini adalah kausalitas dengan pendekatan kuantitatif non ekperimental. Pengambilan data menggunakan teknik convevience sampling secara cross-sectional pada responden sebanyak 311 mahasiswa kedokteran. Analisis regresi berganda digunakan untuk melihat pengaruh dari dimensi Social Support terhadap Academic Burnout. Teori yang digunakan untuk menjelaskan Social Support adalah Teori Cohen & Hoberman (1983) dan untuk menjelaskan Academic Burnout menggunakan Teori Schaufeli et al., (2002). Hasil penelitian berdasarkan nilai R Square Social Support berkontribusi sebesar 67% terhadap variabel Academic Burnout dengan arah hubungan negatif yang signifikan artinya semakin tinggi tingkat penghayatan Social Support maka akan semakin rendah tingkat Academic Burnoutnya begitupun sebaliknya. Adapun dari 4 dimensi Social Support (appraisal support, belonging support, tangible support, dan esteem support) Belonging Support merupakan dimensi yang paling berpengaruh terhadap Academic Burnout dengan nilai kontribusi (R2) sebesar 26,3%.
Pengaruh Social Support terhadap Career Adaptability pada Mahasiswa Akhir di Kota Bandung: Pengaruh Social Support Terhadap Career Adaptability Pada Mahasiswa Akhir di Kota Bandung
Anabila Zahra Auliya;
Siti Qodariah
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.9724
Abstract. Final students are required to have preparation in future career planning to avoid difficulties in job search later. The difficulty in finding a job has a relationship with the gap between the competencies needed and the competencies possessed by students due to the lack of readiness of new graduates in career adaptation. It is known that there are only twenty percent of college graduates who work in accordance with their study program while the rest work outside the study program. This indicates that final year students need to be equipped with an understanding of career adaptability for self-adjustment in the work environment. Many factors can influence, one of which is social support. This study aims to determine how much influence social support has on career adaptability in final year students in Bandung. There were 206 final year students as respondents who participated in this study. The measuring instruments used are Career Adapt-Abilities Scale (CAAS) for Career Adaptability and The MOS-Social Support Survey (MOS-SSS) for Social Support. The research design used is quantitative with causality method and the sampling technique used is convenience sampling and the analysis technique used is simple regression. The results of statistical tests obtained the influence of social support on career adaptability in final year students in the city of Bandung with a contribution of 10.2% with a significance value of 0.00 <0.05. Abstrak. Mahasiswa akhir dituntut memiliki persiapan dalam perencanaan karir masa depan untuk menghindari kesulitan dalam pencarian kerja nantinya. Kesulitan mendapat pekerjaan memiliki hubungan dengan kesenjangan antara kompetensi yang dibutuhkan dengan kompetensi yang dimiliki mahasiswa akibat dari kurangnya kesiapan dalam adaptasi karir. Diketahui hanya terdapat dua puluh persen lulusan perguruan tinggi yang bekerja sesuai dengan program studinya sementara sisanya bekerja di luar prodi. Hal ini mengindikasikan jika mahasiswa tingkat akhir memerlukan pembekalan pemahaman career adaptability untuk penyesuaian diri di lingkungan kerja. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi, salah satunya yakni dukungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh social support terhadap career adaptability pada mahasiswa tingkat akhir di kota Bandung. Terdapat 206 mahasiswa tingkat akhir sebagai responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini. Alat ukur yang digunakan yakni Career Adapt-Abilities Scale (CAAS) untuk Career Adaptability dan The MOS-Social Support Survey (MOS-SSS) untuk Social Support. Desain penelitian yang digunakan yakni kuantitatif dengan metode kausalitas dan teknik sampling yang digunakan yakni convenience sampling dan teknik analisa yang digunakan yakni regresi linear sederhana. Hasil uji statistik diperoleh pengaruh social support terhadap career adaptability pada mahasiswa tingkat akhir di kota Bandung dengan kontribusi sebesar 10.2% dengan nilai signifikansi 0.00 < 0.05.
Hubungan Social Support dengan Teacher Efficacy dimediasi oleh Work Engagement
Tenaya Nur Kaulika Tammy;
Dinda Dwarawati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.9734
Abstract. Teacher efficacy is one factor that has the potential to differentiate between teachers, because there are differences in perceptions regarding efficacy when teaching to different students or in various situations. Social support is an important factor in teacher efficacy. Work Engagement can play a role in the relationship between social support and teacher efficacy. However, cultural differences can affect all three. Apart from that, social support can come from various sources outside of family, friends and those closest to you. This research aims to determine the relationship between social support and teacher efficacy through work engagement in 214 special education school teachers in Bandung City. The method used in this research is a quantitative method with Spearman Rank & Structural Equation Modeling (SEM) correlation test analysis. The measuring instrument used is the Revised-Multidimensional Scale of Perceived Social Support (R-MSPSS) measuring instrument developed by Ho and Chan and adapted by Oktarina et al (2021), Teacher's Sense of Efficacy Scale adapted by Maulana et al (2020) and The Utrecth Work Engagement Scale which has been adapted by Febrian Kristiana et al (2018). The research results show that there is a positive relationship between social support and teacher efficacy in special school teachers in Bandung City (r = 0.338). Then work engagement does not have a mediating role. Abstrak. Teacher efficacy merupakan salah satu faktor yang berpotensi membedakan antar guru, karena terdapatnya perbedaan persepsi terkait efficacy ketika mengajar pada siswa yang berbeda atau dalam berbagai situasi. Social support merupakan faktor penting dalam teacher efficacy. Work Engagement dapat berperan dalam hubungan social support dan teacher efficacy. Namun, perbedaan budaya dapat mempengaruhi ketiganya. Selain itu, social support dapat muncul dari berbagai sumber di luar keluarga, teman, dan orang terdekat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan social support terhadap teacher efficacy melalui work engagement pada 214 orang guru SLB di Kota Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan analisis uji korelasi Spearman Rank & Structural Equation Modelling (SEM). Alat ukur yang digunakan adalah alat ukur Revised-Multidimensional Scale of Perceived Social Support (R-MSPSS) yang dikembangkan oleh Ho dan Chan dan diadaptasi oleh Oktarina et al (2021), Teacher’s Sense of Efficacy Scale diadaptasi oleh Maulana et al (2020) dan The Utrecth Work Engagement Scale yang telah diadaptasi oleh Febrian Kristiana et al (2018). Hasil penelitian menunjukan bahwa hubungan positif antara social support dan teacher efficacy pada guru SLB di Kota Bandung (r = 0,338). Lalu work engagement tidak memiliki peran sebagai mediasi.
Pengaruh Dukungan Sosial terhadap Work Family Conflict pada Single Mother di Kota Bandung
Bianca Clarissa Audy Putri;
Anna Rozana
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.9738
Abstract. Work family conflict is a conflict between roles in which the role pressures from the work and family domains conflict in several ways Greenhaus and Beutell (1985). Social support is a reciprocal relationship involving at least two people in terms of resources, with the aim of helping the person receiving support (House, 1983). Cohen and Wills (1985) said social support can reduce stress by changing coping patterns by influencing self-perception and individual behavior when solving problems. Factors that can reduce stress in single mothers is social support. The purpose of this study was to determine how much influence social support has on work-family conflict in single mothers. This research is a quantitative research using causality method. The population in this study were single mothers in Bandung, so it used purposive sampling with a total of 105 people. The analysis technique used is multiple linear regression. The measuring instrument used within this research are the work-family conflict scale created by Carlson & Kacmar which has been translated to Indonesian by Kuntari (2014) and the social support measurement developed by Parasuraman based on House (1983) and has been adapted by researchers. The results showed that social support had a significant negative effect on work-family conflict in single mothers in Bandung by 9.8%. The biggest influence is the support of colleagues at 7.82%. Abstrak. Work family conflict merupakan konflik antar peran di mana tekanan peran dari domain pekerjaan dan keluarga saling bertentangan dalam beberapa hal Greenhaus dan Beutell (1985). Dukungan sosial adalah hubungan timbal balik yang melibatkan sekurangnya dua orang dalam hal sumber daya, dengan tujuan membantu orang yang menerima dukungan (House, 1983). Cohen dan Wills (1985) mengatakan dukungan sosial dapat mengurangi stres dengan mengubah pola koping dengan mempengaruhi persepsi diri dan perilaku individu ketika menyelesaikan masalah. Faktor yang dapat mengurangi stres pada single mother adalah dukungan sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dukungan sosial terhadap work family conflict pada single mother. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode kausalitas. Populasi dalam penelitian ini adalah single mother di Kota Bandung sehingga menggunakan purposive sampling dengan jumlah 105 orang. Teknik analisis yang digunakan adalah uji linear berganda. Alat ukur yang digunakan adalah Work-family conflict scale dari Carlson & Kacmar yang diadaptasi oleh Kuntari (2014) dan alat ukur dukungan sosial (1983) yang dikembangkan oleh Parasuraman dan telah diadaptasi oleh peneliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial berpengaruh negatif signifikan terhadap work family conflict pada single mother di Kota Bandung sebesar 9,8 %. Pengaruh paling besar yaitu dukungan rekan kerja sebesar 7,82%.
Hubungan Work Engagement dan Readiness for Change Guru SMP Negeri di Bandung
Awang Lukman Nur Karim;
Hendro Prakoso
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.9739
Abstract. At this time, change is inevitable in the sustainability of a company or organization. This includes changes that occur in the field of education, namely the Independent Curriculum. In the face of change, teachers need to have high readiness for change. Readiness For Change is defined as the readiness of individuals to face changes that occur in the organization. Readiness For Change is a multidimensional construct correlated by beliefs among employees Holt et al (2007). Readiness for change can be improved through work engagement. Work engagement is defined as a positive and satisfying work-related state of mind characterized by vigor, dedication, and absorption (Schaufeli &; Bakker, 2010). This study aims to determine how closely the relationship between work engagement and readiness for change. This research was conducted on public junior high school teachers in the city of Bandung who were conducting the Independent Curriculum. The sample in this study amounted to 97 public junior high school teachers in the city of Bandung. The measuring instrument used in the readiness for change variable comes from Holt (2007) adapted by Wisnu et al (2022). This measuring instrument has 25 items. Meanwhile, work engagement is measured using Utrecht Work Engagement Scale-17 (UWES-17) from Schaufeli & Bakker adapted by Angga et al (2020). The data analysis used is a product moment test. The results of the study found that readiness for change has a strong relationship with work engagement by 90% with the aspect that has the greatest relationship, namely appropriatness to work engagement in participants of public junior high school teachers this study. Abstrak. Pada saat ini, perubahan merupakan hal yang tidak dapat dihindari dalam keberlangsungan suatu perusahaan atau organisasi. Hal ini termasuk perubahan yang terjadi dalam bidang pendidikan yaitu Kurikulum Merdeka. Dalam menghadapi perubahan, guru perlu memiliki readiness for change yang tinggi. Readiness For Change didefinisikan sebagai kesiapan individu dalam menghadapi perubahan yang terjadi pada organisasi. Readiness For Change adalah konstruksi multidimensi yang dikorelasi oleh keyakinan di antara karyawan Holt et al (2007). Readiness for change dapat ditingkatkan melalui work engagement. Work Engagement didefinisikan sebagai sebagai keadaan pikiran yang berhubungan dengan pekerjaan yang positif dan memuaskan yang ditandai dengan vigor, dedication, dan absorption (Schaufeli & Bakker, 2010). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa erat hubungan antara work engagement dan readiness for change. Penelitian ini dilakukan kepada guru smp negeri di kota Bandung yang sedang melakukan Kurikulum Merdeka. Sampel pada penelitian ini berjumlah 97 guru smp negeri di kota Bandung. Alat ukur yang digunakan pada variabel readiness for change berasal dari Holt (2007) yang diadaptasi oleh Wisnu et al (2022). Alat ukur ini memiliki 25 item. Sedangkan untuk work engagement diukur menggunakan Utrecht Work Engagement Scale-17 (UWES-17) dari Schaufeli & Bakker yang diadaptasi oleh Angga et al (2020). Analisis data yang digunakan adalah uji product moment. Hasil penelitian ditemukan bahwa readiness for change memiliki hubungan yang kuat terhadap work engagement sebesar 90% dengan aspek yang memiliki hubungan paling besar yaitu appropriatness terhadap work engagement pada partisipan guru smp negeri penelitian ini.
Pengaruh Transformational Leadership terhadap Job Satisfaction yang dimediasi Oleh Occupational Self-Efficacy
Galuh Adhiyaksa;
Suhana
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.9754
Abstract. The work environment directly impacts job attitudes, particularly job satisfaction, which refers to one's attitude toward their job. Several studies have shown that organizations can enhance their employees' job satisfaction through transformational leadership. Job satisfaction is associated with the level of self-efficacy, known as occupational self-efficacy in the job context. Occupational self-efficacy can empower employees to navigate various changes in their work conditions. Among the many changes that have occurred, the most comprehensive change is the transition from traditional office work to remote work. The aim of this research is to investigate the influence of transformational leadership on job satisfaction among remote workers at PT. X, mediated by occupational self-efficacy. The research design employed in this study is a quantitative and causal approach. The study involved 16 employees at PT. X. The measurement tool used to assess transformational leadership is the Multifactor Leadership Questionnaire (MLQ) developed by Bass and Avolio (1995) and adapted by Akbar (2011), with a Cronbach's alpha value of 0.960. Job satisfaction is measured using the Job Satisfaction Scale (JSS) developed by Spector (1997) and adapted by Akbar (2011), with a Cronbach's alpha value of 0.964. Occupational self-efficacy (OSS) is measured using Bandura's (2010) scale, adapted by Rubianto & Kembaren (2023), with a Cronbach's Alpha value of 0.897. The research findings indicate that transformational leadership has an indirect and non-significant influence on job satisfaction, accounting for 16.3%. Abstrak. Lingkungan kerja berdampak langsung pada sikap kerja, sikap terhadap penilaian di pekerjaan disebut job satisfaction. Dalam beberapa penelitian menunjukan bahwa organisasi dapat meningkatkan job satisfaction karyawannya, dengan transformational leadership. Job satisfaction berhubungan dengan tingkat self-efficacy, pada latar pekerjaan disebut occupational self-efficacy. Occupational self-efficacy dapat membuat karyawan mengatasi setiap perubahan kondisi kerja. Diantara sekian banyak perubahan yang terjadi, perubahan yang paling menyeluruh adalah peralihan pekerjaan secara langsung menjadi remote work. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh Transformational leadership terhadap Job satisfaction pada Karyawan Remote work di PT. X yang dimediasi oleh occupational self-efficacy. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dan kausalitas. Subjek penelitiannya sebanyak 16 karyawan di PT. X. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur transformational leadership adalah skala Multifactor Leadership Questionnaire (MLQ) milik Bass dan Avolio (1995), yang telah diadaptasi oleh Akbar (2011) nilai Cronbach’s alpha 0.960. Alat ukur job satisfaction menggunakan Job Satisfaction Scale (JSS) milik Spector (1997) yang diadaptasi oleh Akbar (2011) nilai Cronbach’s alpha 0.964. Alat ukur occupational self-efficacy (OSS) milik Bandura (2010) yang diadaptasi oleh Rubianto & Kembaren (2023) nilai Cronbach’s Alpha 0.897. Hasil penelitian menunjukan bahwa transformational leadership tidak berpengaruh signifikan terhadap job satisfaction secara tidak langsung sebesar 16,3%.
Competitive Stress pada Atlet Sepatu Roda di Kota Bandung
Hidayat, Faiza Shaffani;
Supriatna, Umar Yusuf
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.9789
Abstract. Stress when facing a match is a problem of frequent emotional turmoil disturbing, especially in individual sports, one of which is roller skating athletes in Bandung City. This is because athletes feel less confident and the roller skating track in Bandung City is not suitable for athletes training caused by the asphalt has been damaged and the gravel has come off. Therefore, to make a professional athlete requires strength psychological in the form of patience. Patience is the ability to manage, controlling and directing thoughts, feelings to cope with various difficulties include reducing competitive stress. This research aims to know how much influence patience has on competitive stress and aspects which patience has the most influence on competitive stress. The method used is non-experimental causality with a quantitative approach. The population selected in this study is roller skaters in Bandung City of which there are 31 athletes. Measurement using Patience measuring instruments by Umar Yusuf (2020) and Competitive Stress made by Nurmalita (2015) with refer to the theory of Singgih 2008 & Husdarta 2014. The data analysis used is simple regression analysis techniques and multiple regression. Based on the results of the study the research shows that patience affects competitive stress in roller skate athletes in Bandung City by 58.6% and the aspect of patience that most affects the competitive stress of roller skate athletes in Bandung City is steadfast. Abstrak. Stres ketika menghadapi pertandingan merupakan masalah gejolak emosi yang sering mengganggu, terutama pada cabang olahraga individu salah satunya atlet sepatu roda di Kota Bandung. Hal ini disebabkan karena atlet merasa kurang percaya diri dan lintasan sepatu roda yang ada di Kota Bandung sedang tidak layak dipakai untuk atlet latihan yang disebabkan karena aspal sudah rusak serta kerikil sudah lepas. Oleh karena itu, untuk menjadikan seorang atlet yang professional membutuhkan kekuatan psikologis berupa kesabaran. Kesabaran merupakan kemampuan untuk mengatur, mengendalikan dan mengarahkan pikiran, perasaan untuk mengatasi berbagai kesulitan termasuk mengurangi competitive stress. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kesabaran terhadap competitive stress dan aspek kesabaran manakah yang paling berpengaruh terhadap competitive stress. Metode yang digunakan adalah kausalitas non-eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Populasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah atlet sepatu roda di Kota Bandung yang berjumlah 31 atlet. Pengukuran menggunakan alat ukur Kesabaran oleh Umar Yusuf (2020) dan Competitive Stress yang dibuat oleh Nurmalita (2015) dengan merujuk teori Singgih 2008 & Husdarta 2014. Analisis data yang digunakan adalah teknis analisis regresi sederhana dan regresi berganda. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa kesabaran berpengaruh terhadap competitive stress pada atlet sepatu roda di Kota Bandung sebesar 58,6 % dan aspek kesabaran yang paling berpengaruh terhadap competitive stress atlet sepatu roda di Kota Bandung adalah tabah.
Hubungan Regulasi Emosi dan Self Injuries Behavior Perempuan Dewasa Awal di Kota Bandung
Haura Atha Zhafira;
Siti Qodariah
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.9793
Abstract. This study aims to determine the relationship between emotional regulation and self-injuries behavior in early adult women in Bandung City. This research includes quantitative research with correlational methods and using purposive sampling. The subjects of this study were 97 early adult women in Bandung, aged 18-25 years. The data analysis method uses spearman rank correlation. Data collection using inventory of statements about self-injury (ISAS) from Klonsky and Glenn (2009) for emotion regulation variables using emotion regulation questionnaire (ERQ) from Gross and John (2003). The results of data analysis showed a positive relationship between emotional regulation and self-injuries with a significance value of 0.018 < from alpha which is 0.5. This means that the lower the emotion regulation, the higher the level of self-injury behavior. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan regulasi emosi dan self-injuries behaviour pada perempuan dewasa awal di Kota Bandung. Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif dengan metode korelasional dan menggunakan purposive sampling. Subjek penelitian ini adalah perempuan dewasa awal di Kota Bandung berjumlah 97 orang, dengan usia 18-25 tahun. Metode analisis data menggunakan spearman rank correlation. Pengumpulan data menggunakan inventory of statements about self-injury (ISAS) dari Klonsky dan Glenn (2009) untuk variabel regulasi emosi menggunakan emotion regulation questionnaire (ERQ) dari Gross dan John (2003). Hasil analisis data menunjukan adanya hubungan positif antara regulasi emosi dan self-injuries dengan nilai signifikansi 0.018 < dari alpha yaitu 0.5. Artinya semakin rendah regulasi emosi, semakin tinggi tingkat self-injuries behaviour.
Studi Kontribusi Workplace Spirituality terhadap Affective Well-being Karyawan Restoran Cepat Saji di Kota Bandung
Safira Nura Hanjani;
Ali Mubarak
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.9796
Abstract. Workplace spirituality is defined as something at employee’s workplace related to employee’s perception about meaningful work, sense of community, and alignment with organizational values (Milliman et al., 200316). Van Katwyk et al. (2000)4 defined affective well-being as employee’s affection about their job and how their affective responds towards their job. This study aims to know how workplace spirituality contributes to fast food workers’ affective well-being. This study is a quantitative study and used multiple regression analysis. The subject of this study are 98 shift workers working as crew store in a fast-food-chains in Bandung, Indonesia. The sample are measured by non-probability sampling using convenience sampling method. Workplace Spirituality Scale by Milliman et al. (2018)15 and Job-related Affective Well-being Scale by Van Katwyk et al. (2000)4 that were adapted to Indonesian by Permana and Prakoso (2022)12 are used for the instrument. This study found that workplace spirituality has 46.1% significant contribution to affective well-being, with sense of community has the highest contribution (19%), then alignment with organizational values (15.2%), and lastly meaningful work (11.9%). Abstrak. Workplace spirituality didefinisikan sebagai sesuatu di tempat kerja karyawan yang berkaitan dengan persepsi karyawan mengenai meaningful work, sense of community, dan alignment with organizational values (Milliman et al., 200316). Affective well-being menurut Van Katwyk et al. (2000)4 adalah perasaan karyawan akan pekerjaannya dan bagaimana respon perasaan karyawan terhadap pekerjaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kontribusi workplace spirituality terhadap affective well-being karyawan restoran cepat saji. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan teknik analisis regresi berganda. Partisipan dalam penelitian ini sebanyak 98 orang crew store yang bekerja secara shift di restoran cepat saji di Kota Bandung, yang didapatkan dengan teknik non-probability sampling menggunakan metode convenience sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Workplace Spirituality Scale dari Milliman et al. (2018)15 dan Job-related Affective Well-being Scale dari Van Katwyk et al. (2000)4 yang keduanya telah diadaptasi oleh Permana dan Prakoso (2022)12. Penelitian ini menemukan bahwa workplace spirituality memiliki kontribusi yang signifikan sebesar 46.1% terhadap affective well-being, dengan aspek sense of community yang paling tinggi kontribusinya (19%), diikuti alignment with organizational values (15.2%), dan meaningful work (11.9%).
Hubungan antara Aktivitas Selfie dengan Self-Esteem pada Wanita Emerging Adulthood
Valiant Almer Maulana;
Wahyudi, Hedi
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.9860
Abstract. In today's digital era, social activities are carried out in the digital world through social media. Individuals can express themselves through personal uploads, namely by uploading selfies. Several studies have found that uploading selfies is associated with several positive impacts for the uploaders, including self-esteem. However, there are several studies that see that selfies can reduce self-esteem. Research also found a positive relationship between selfie activities and narcissism, which is a form of imbalanced self-esteem. There is even research that finds no relationship between self-esteem and selfie activities. The aim of this research is to see whether there is a relationship between selfie activities and self-esteem in emerging adulthood women. The subjects of this research were 103 emerging adulthood women in Bandung City. This research uses the Self-Esteem Scale (SFS) measuring tool by Boursier and Manna (2018) which has been adapted into Indonesian by Henryan and Simanjuntak (2022), and the Self-Esteem measuring tool by Hanifah and Aslamawati (2016). The analysis technique used is the Kendall's Tau correlation test. The results found that there was no significant relationship between selfie activities and self-esteem in emerging adulthood women in Bandung City with a value of r = .061 and a significance value of p = .376 > .05. Abstrak. Pada zaman serba digital saat ini, kegiatan sosial dilakukan hingga pada dunia digital melalui media sosial. Individu dapat mengekspresikan diri melalui unggahan pribadinya, yaitu dengan mengunggah selfie. Beberapa penelitian menemukan bahwa mengunggah selfie berhubungan dengan beberapa dampak positif bagi para pengunggahnya, termasuk terhadap self-esteem. Akan tetapi, ada beberapa penelitian yang melihat bahwa selfie dapat menurunkan self-esteem. Ditemukan juga penelitian yang menemukan adanya hubungan positif antara aktivitas selfie dengan narsisme, yang merupakan salah satu bentuk dari tipe self-esteem yang tidak seimbang. Bahkan ada penelitian yang tidak menemukan hubungan antara self-esteem dengan aktivitas selfie. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat adakah hubungan antara aktivitas selfie dengan self-esteem pada wanita emerging adulthood. Subjek penelitian ini adalah 103 wanita emerging adulthood di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan alat ukur Swafoto-Frequency Scale (SFS) oleh Boursier dan Manna (2018) yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia oleh Henryan dan Simanjuntak (2022), dan alat ukur Self-Esteem oleh Hanifah dan Aslamawati (2016). Teknik analisis yang digunakan adalah uji korelasi Kendall’s Tau. Hasil menemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara aktivitas selfie dengan self-esteem pada wanita emerging adulthood di Kota Bandung dengan nilai r = .061 dan nilai signifikansi p = .376 > .05.