cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcscm@unisba.ac.id
Phone
+6282118633944
Journal Mail Official
bcscm@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Communication Management
ISSN : -     EISSN : 28282183     DOI : https://doi.org/10.29313/bcscm.v2i2
Bandung Conference Series: Communication Management (BCSCM) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Manajemen Komunikasi dengan ruang lingkup diantaranya adalah Awareness, Brand equity, Brand Image, Connecting Community Building, Content Creation, Content Sharing, Daya Tarik Iklan, Drama Televisi, Event, Gaya Hidup, Interior Display, Jingle, Kampanye, Keputusan Pembelian, Keterikatan Pelanggan, Komunikasi antar pribadi, Komunikasi Pemasaran, Konsep Diri, Kredibilitas Komunikator, Kualitas Pelayanan, Literasi Media, Loyalitas Konsumen Manajemen branding, Media Sosial, Minat Beli Konsumen, Online Review, Pemasaran Konten, Penjualan produk, Persepsi Budaya, Personal Branding, Promosi online, Sikap, Store Atmospheredan Layout, Tagline, Terpaan Media, Tindakan Membeli, Transportasi Online, Ujaran Kebencian, Website, Word of Mouth. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 530 Documents
Strategi Komunikasi Kolaboratif Renceums (Studi Kasus Workshop Industri Kreatif bersama Hyphen) Wiranti Nazla Azkia; Sophia Novita
Bandung Conference Series: Communication Management 965 - 972
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25580

Abstract

This study is motivated by the growing phenomenon of inter-brand collaboration in the creative industry, particularly through workshops as spaces for interaction and co-creation, which still face challenges in coordination, alignment of vision, and strengthening brand identity. This study aims to analyze the collaborative communication strategy implemented by Renceums in The Journal Circle Vol. 5 workshop, as well as to understand the communication process and the role of inter-brand collaboration as a differentiation strategy. This research uses a qualitative method with a case study approach, with Renceums as the research object collaborating with Hyphen. Data were collected through observation, in-depth interviews with organizers, partners, and participants, as well as documentation, and analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The results show that Renceums’ collaborative communication strategy is built through interpersonal and participatory communication, supported by digital media, which operates in a flexible and relationship-based manner. This strategy creates inter-brand synergy, increases audience engagement, and strengthens brand identity. In addition, inter-brand collaboration functions as a differentiation strategy that enhances workshop experiences to be more interactive and valuable for participants.   Penelitian ini dilatarbelakangi oleh berkembangnya fenomena kolaborasi antarbrand dalam industri kreatif, khususnya melalui penyelenggaraan workshop sebagai ruang interaksi dan co-creation, yang masih menghadapi tantangan dalam koordinasi, penyatuan visi, dan penguatan identitas brand. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi kolaboratif yang diterapkan Renceums dalam workshop The Journal Circle Vol. 5, serta memahami proses komunikasi dan peran kerja sama antarbrand sebagai diferensiasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, dengan objek penelitian Renceums sebagai penyelenggara workshop yang berkolaborasi dengan Hyphen. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan penyelenggara, mitra, dan peserta, serta dokumentasi kegiatan, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi kolaboratif Renceums dibangun melalui komunikasi interpersonal, partisipatif, serta pemanfaatan media digital yang berlangsung secara fleksibel dan berbasis relasi. Strategi ini menghasilkan sinergi antarbrand, peningkatan engagement, serta penguatan identitas brand. Selain itu, kolaborasi antarbrand berperan sebagai strategi diferensiasi yang mampu menciptakan pengalaman workshop yang lebih interaktif dan bernilai bagi peserta.
Komunikasi Pemasaran dan Keterhubungan Sosial di Serumah Reunite Adam Adrian Raesya Heryana; Sophia Novita
Bandung Conference Series: Communication Management 973 - 982
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25655

Abstract

Marketing communication is no longer limited to product promotion but also functions as a means of building social relationships between organizations and their audiences. This phenomenon can be observed at Serumah Reunite Restaurant and Café, which adopts a family-oriented and community-based social space concept. This study aims to analyze the marketing communication strategies implemented by Serumah Reunite in fostering social connectedness among customers, families, and communities. The research employed a qualitative method with a case study approach. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation involving the business owner, social media administrator, and customers. The data were analyzed through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings reveal that Serumah Reunite utilizes marketing communication through social media, particularly Instagram, community engagement activities, and the creation of a comfortable and inclusive environment. These strategies not only enhance business visibility but also strengthen emotional bonds, a sense of belonging, and sustainable social interactions among visitors. The study concludes that experience-based marketing communication and shared social values contribute significantly to strengthening social connectedness and customer loyalty. Therefore, relationship-oriented marketing communication can serve as an effective strategy for sustaining businesses in the culinary industry.   Komunikasi pemasaran tidak lagi berorientasi pada promosi produk semata, tetapi juga berperan dalam membangun hubungan sosial antara organisasi dan khalayaknya. Fenomena ini terlihat pada Resto dan Café Serumah Reunite yang mengembangkan konsep ruang sosial berbasis kekeluargaan dan komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi pemasaran yang diterapkan Serumah Reunite dalam membangun keterhubungan sosial di antara pelanggan, keluarga, dan komunitas. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap pemilik usaha, pengelola media sosial, serta pelanggan. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi pemasaran Serumah Reunite dilakukan melalui pemanfaatan media sosial, terutama Instagram, penyelenggaraan berbagai kegiatan komunitas, serta penciptaan suasana yang nyaman dan inklusif. Strategi tersebut tidak hanya meningkatkan eksposur usaha, tetapi juga membentuk kedekatan emosional, rasa memiliki, dan interaksi sosial yang berkelanjutan di antara pengunjung. Temuan penelitian menunjukkan bahwa komunikasi pemasaran berbasis pengalaman dan nilai kebersamaan mampu memperkuat keterhubungan sosial serta menciptakan loyalitas pelanggan. Oleh karena itu, komunikasi pemasaran yang berorientasi pada hubungan sosial dapat menjadi strategi yang efektif dalam membangun keberlanjutan usaha di industri kuliner.
Pengelolaan Komunikasi oleh Pokdarwis Sanghyang Kenit Kab. Bandung Barat Eva Yunimuditasari; Atie Rachmiatie
Bandung Conference Series: Communication Management 991 - 998
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25745

Abstract

This study examines the communication management within the Sanghyang Kenit Tourism Awareness Group (Pokdarwis) in West Bandung Regency a community-based organization responsible for the preservation and development of the Sanghyang Kenit tourism site. As the spearhead of community-based tourism management, the group is expected to communicate effectively both internally and with various external stakeholders; however, in practice, its communication management lacks a fully structured or systematically planned approach. This research aims to describe and analyze the communication management of the Sanghyang Kenit Pokdarwis, covering communication planning, communication stages, the use of media and channels, target audience segmentation, and monitoring and evaluation processes. A qualitative approach utilizing a case study method was employed. Data were collected through in-depth interviews, observation, and document analysis involving seven informants selected via purposive sampling. The findings indicate that the Sanghyang Kenit Pokdarwis lacks a formal, structured communication plan. Communication flows tend to be vertical and dominated by directives from external parties, specifically the Tourism Office and the village government. Internal coordination relies on WhatsApp, while external promotion utilizes Instagram, TikTok, brochures, and signage. Audience segmentation has not been formally implemented, and communication evaluation is reactive rather than periodic. Budgetary constraints serve as the primary operational challenge.   Pengelolaan komunikasi yang berlangsung dalam Kelompok Sadar Wisata Sanghyang Kenit, Kabupaten Bandung Barat, sebagai organisasi berbasis komunitas yang memikul tanggung jawab dalam upaya pelestarian dan pengembangan Wisata Sanghyang Kenit. Pokdarwis sebagai ujung tombak pengelolaan wisata berbasis masyarakat yang dituntut untuk menjalankan fungsi komunikasi secara efektif, baik ke dalam organisasi maupun ke luar kepada berbagai pemangku kepentingan, namun dalam praktiknya pengelolaan komunikasi yang berlangsung belum sepenuhnya terstruktur dan terencana secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis manajemen komunikasi Pokdarwis Sanghyang Kenit yang mencakup proses perencanaan komunikasi, tahapan komunikasi, penggunaan media dan saluran komunikasi, penentuan segmentasi sasaran, serta pelaksanaan monitoring dan evaluasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap tujuh informan yang dipilih secara purpposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pokdarwis Sanghyang Kenit belum memiliki perencanaan komunikasi yang terstruktur secara formal, Arus komunikasi cenderung vertikal dan didominasi oleh arahan dari pihak eksternal, yaitu Dinas Pariwisata dan pemerintah desa. Koordinasi internal mengandalkan WhatsApp, sementara promosi eksternal memanfaatkan Instagram, TikTok, brosur, dan papan penunjuk arah. Segmentasi khalayak belum diterapkan secara formal, dan evaluasi komunikasi bersifat reaktif tanpa mekanisme evaluasi berkala. Keterbatasan anggaran menjadi kendala operasional utama.
Strategi Branding Berkonsep Otomotif pada Bisnis Ice Cream Service Bandung Rizki Ibrahim; Anne Ratnasari
Bandung Conference Series: Communication Management 999 - 1006
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25753

Abstract

The food and beverage (F&B) industry is highly competitive, requiring a strong branding strategy to create market differentiation. Ice Cream Service in Bandung presents a distinctive branding approach that merges the automotive and F&B industries to create a unique consumer experience. This study aims to examine how the branding strategy implemented by Ice Cream Service strengthens its brand identity and market positioning, focusing on its automotive-themed architecture, unique selling proposition, market segmentation, and the rationale behind adopting an automotive workshop concept as its brand identity. Using a constructivist paradigm and a qualitative case-study method, data were gathered through in-depth interviews with the owner and staff, observation, and documentation, and verified through source triangulation. Berger and Luckmann’s The Social Construction of Reality serves as the analytical framework for understanding how the brand identity is externalized, objectivated, and internalized by consumers. The findings show that the automotive-inspired interior and exterior design, distinctive product offerings such as automotive-themed flavors and packaging, community-based segmentation, and the owner’s personal passion collectively form a coherent and difficult-to-imitate brand identity, positioning Ice Cream Service as a lifestyle community hub for young automotive enthusiasts in Bandung.   Industri food and beverage (F&B) merupakan sektor bisnis yang berkembang pesat dan sangat kompetitif, sehingga memerlukan strategi branding yang kuat untuk menciptakan diferensiasi di pasar. Ice Cream Service di Kota Bandung menghadirkan pendekatan branding yang unik dengan menggabungkan konsep otomotif dan produk es krim untuk menciptakan pengalaman konsumen yang berbeda. Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana strategi branding yang diterapkan Ice Cream Service memperkuat identitas merek dan positioning di pasar, dengan berfokus pada desain arsitektur bertema bengkel otomotif, unique selling proposition (USP), segmentasi pasar, dan alasan pemilihan konsep bengkel otomotif sebagai identitas merek. Penelitian menggunakan paradigma konstruktivisme dengan metode kualitatif melalui pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pemilik dan staf, observasi, serta dokumentasi, dan diverifikasi melalui triangulasi sumber. Teori The Social Construction of Reality dari Berger dan Luckmann digunakan sebagai kerangka analisis untuk memahami bagaimana identitas merek dieksternalisasi, diobjektivasi, dan diinternalisasi oleh konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain interior dan eksterior bertema bengkel otomotif, keunikan produk seperti rasa dan kemasan bertema otomotif, segmentasi berbasis komunitas, serta passion pribadi pemilik secara bersama-sama membentuk identitas merek yang koheren dan sulit ditiru, sehingga memposisikan Ice Cream Service sebagai lifestyle community hub bagi anak muda pencinta otomotif di Kota Bandung.
Gambaran Keterbukaan Komunikasi Kepala Madrasan dan Kepuasan Relasional Guru Vika Hissan Raihani; Yulianti
Bandung Conference Series: Communication Management 485 - 492
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25787

Abstract

This study aims to describe the level of communication openness of the madrasah principal and the relational satisfaction of teachers at MI Attaqwa 06 Kebalen, Bekasi. Communication openness is a critical factor shaping the quality of interpersonal relationships in educational organizations, particularly in Islamic madrasah settings where the values of amanah (trustworthiness) and shiddiq (honesty) underlie leadership communication. This study employs a quantitative descriptive method with a census technique involving all 41 active teachers as respondents. Data were collected through a Likert-scale questionnaire and analyzed descriptively. The theoretical framework integrates Organizational Transparency Theory (Schnackenberg & Tomlinson, 2016) and Relational Satisfaction Theory (Canary & Stafford, 1992). Results show that communication openness of the principal falls in the high category (81.63%), with accuracy as the highest dimension (82.44%) and disclosure as the lowest (80.61%). Teacher relational satisfaction is also high (82.71%), with emotional support as the highest dimension (83.66%) and communication openness as the lowest (81.79%). These findings confirm that transparent, Islamic-value-based leadership communication is positively associated with strong relational satisfaction among teachers in madrasah settings.   Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat keterbukaan komunikasi kepala madrasah dan kepuasan relasional guru di MI Attaqwa 06 Kebalen, Bekasi. Keterbukaan komunikasi merupakan faktor krusial dalam membentuk kualitas hubungan interpersonal pada organisasi pendidikan, khususnya di lingkungan madrasah yang menjunjung nilai amanah dan shiddiq dalam komunikasi kepemimpinan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik sensus terhadap seluruh 41 guru aktif sebagai responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert dan dianalisis secara deskriptif. Kerangka teoretis penelitian ini mengintegrasikan Organizational Transparency Theory (Schnackenberg & Tomlinson, 2016) dan Relational Satisfaction Theory (Canary & Stafford, 1992). Hasil penelitian menunjukkan keterbukaan komunikasi kepala madrasah berada pada kategori tinggi (81,63%), dengan dimensi ketepatan (accuracy) sebagai capaian tertinggi (82,44%) dan dimensi pengungkapan (disclosure) sebagai capaian terendah (80,61%). Kepuasan relasional guru juga berada pada kategori tinggi (82,71%), dengan dimensi dukungan emosional sebagai capaian tertinggi (83,66%) dan dimensi keterbukaan komunikasi sebagai capaian terendah (81,79%). Temuan ini menegaskan bahwa komunikasi kepemimpinan yang transparan dan berlandaskan nilai Islam berkorelasi positif dengan kuatnya kepuasan relasional guru di lingkungan madrasah.
Konsep diri Konsep Diri Siswi sebagai Komunikasi Sosial di MA Asih Putera Cimahi: Studi Deskriptif pada Siswi Kelas XII MA Asih Putera Cimahi Fiana Dian Pramesti; Yenni Yuniati
Bandung Conference Series: Communication Management 1025 - 1032
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25876

Abstract

This study examines the self-concept of grade XII female students at MA Asih Putera Cimahi as a manifestation of social communication. Using a quantitative descriptive approach grounded in Carl Rogers' (1951) humanistic theory, the research maps five dimensions of self- concept: self-image (self-perception), self-worth (self-acceptance), congruence (self- consistency), self-expression, and ideal self. Data were collected via a Likert scale questionnaire (1–5) distributed to all 29 students using total sampling. Validity testing used Pearson Product Moment correlation and reliability was assessed through Cronbach's Alpha (α = 0.856). Results indicate that the overall self-concept of students is categorized as high (mean = 3.44). The highest dimension is self-perception (mean = 3.84), followed by self-acceptance (mean = 3.67) and self-consistency (mean = 3.56). Self-expression (mean = 3.37) and ideal self (mean = 3.06) fall within the moderate category, indicating areas that require further development. The school environment and positive interpersonal communication play a  significant role  in  shaping students’ self-concept.   Penelitian ini mengkaji konsep diri siswi kelas XII MA Asih Putera Cimahi sebagai bagian dari komunikasi sosial. Menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif yang berlandaskan teori humanistik Carl Rogers (1951), penelitian ini memetakan lima dimensi konsep diri: persepsi diri (self-image), penerimaan diri (self-worth), konsistensi diri (congruence), ekspresi diri, dan diri ideal (ideal self). Data dikumpulkan melalui angket skala Likert 1–5 kepada seluruh 29 siswi menggunakan teknik total sampling. Uji validitas menggunakan korelasi Pearson Product Moment dan reliabilitas diukur dengan Cronbach’s Alpha (α = 0,856). Hasil penelitian menunjukkan konsep diri siswi secara umum berada pada kategori tinggi (mean = 3,44). Dimensi tertinggi adalah persepsi diri (mean = 3,84), diikuti penerimaan diri (3,67) dan konsistensi diri (3,56). Ekspresi diri (3,37) dan diri ideal (3,06) berada pada kategori sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun siswi memiliki konsep diri yang cukup positif, masih diperlukan penguatan terutama pada keberanian mengekspresikan diri dan kesesuaian antara diri aktual dengan diri ideal yang diharapkan.
Hubungan Komunikasi Visual Digital dengan Keputusan Pembelian Konsumen Produk Fashion: Studi Korelasional pada Website dan Instagram Footlocker Indonesia Fitran Mochammad Fauzi; Anne Ratnasari
Bandung Conference Series: Communication Management 1033 - 1040
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25898

Abstract

Digital visual communication has become a central strategy in online fashion retail, replacing the physical shopping experience with visual cues delivered through websites and social media. This study examines the relationship between digital visual communication and consumer purchase decisions on fashion products, focusing on the website and Instagram account of Foot Locker Indonesia. Digital visual communication is measured through three dimensions, namely visual aesthetics, visual merchandising, and visual branding, grounded in Digital Visual Rhetoric Theory. This research employs a quantitative method with a correlational approach, using a Likert-scale questionnaire distributed to 98 active followers of the Instagram account @footlockerid who had purchased products through footlocker.id, selected through simple random sampling from a population of 4,049 followers. Data were analyzed using Spearman Rank correlation with the assistance of SPSS version 27. The results show that digital visual communication has a very strong, positive, and significant relationship with consumer purchase decisions (r = 0.986; p < 0.001). Each dimension, namely visual aesthetics (r = 0.973), visual merchandising (r = 0.978), and visual branding (r = 0.969), also shows a very strong and significant relationship with purchase decisions. These findings confirm that digital visual communication plays a strategic role in shaping consumer perception and purchase behavior in the digital fashion industry.   Komunikasi visual digital telah menjadi strategi utama dalam bisnis ritel fashion daring, menggantikan pengalaman belanja fisik melalui tampilan visual pada website dan media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara komunikasi visual digital dengan keputusan pembelian konsumen produk fashion pada website dan akun Instagram Foot Locker Indonesia. Komunikasi visual digital diukur melalui tiga dimensi, yaitu estetika visual, visual merchandising, dan branding visual, dengan berlandaskan pada Digital Visual Rhetoric Theory. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional, melalui penyebaran kuesioner berskala Likert kepada 98 responden yang merupakan pengikut aktif akun Instagram @footlockerid dan pernah melakukan pembelian melalui website footlocker.id, yang dipilih menggunakan teknik random sampling dari populasi sebanyak 4.049 pengikut. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Rank Spearman dengan bantuan program SPSS versi 27. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi visual digital memiliki hubungan yang sangat kuat, positif, dan signifikan dengan keputusan pembelian konsumen (r = 0,986; p < 0,001). Setiap dimensi, yaitu estetika visual (r = 0,973), visual merchandising (r = 0,978), dan branding visual (r = 0,969), juga menunjukkan hubungan yang sangat kuat dan signifikan dengan keputusan pembelian. Temuan ini menegaskan bahwa komunikasi visual digital memiliki peran strategis dalam membentuk persepsi dan perilaku pembelian konsumen pada industri fashion daring.
KOL dalam Pemasaran Digital Ruli Ferdiansyah; Doddy Iskandar Cakranegara
Bandung Conference Series: Communication Management 1041 -1048
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25907

Abstract

Current marketing strategy developments have experienced a significant shift from conventional methods to digital marketing approaches that utilize social media and Key Opinion Leaders (KOLs). Carita Izakaya, a modern Japanese rooftop restaurant located in the Jalan Braga area of Bandung City, utilizes this strategy to overcome the challenges of its hidden physical visibility (hidden gem). This study aims to analyze Carita Izakaya's digital marketing strategy in attracting, retaining, and influencing customers through the utilization of KOLs, employing a qualitative method with a case study approach and a constructivist paradigm. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, with data validity tested using source and technique triangulation. The results of the study show that the strategy to attract customers is carried out through the application of the AIDA funnel components by selecting KOLs who align with the brand positioning and are capable of presenting powerful visual storytelling. Meanwhile, the strategy to retain customers focuses on maintaining alignment between the KOL's brand promise narrative and the reality of internal product and service quality to build trust and encourage repeat visits. The reason for utilizing KOLs to influence customers is based on a shift in the behavior of the younger generation of consumers who trust authentic personal recommendations more than conventional advertising, making this collaboration the fastest and most efficient pathway to expand brand exposure.   Perkembangan strategi pemasaran saat ini mengalami pergeseran signifikan dari metode konvensional ke pendekatan digital marketing yang memanfaatkan media sosial dan Key Opinion Leader (KOL). Carita Izakaya, sebuah restoran kuliner Jepang modern rooftop di kawasan Jalan Braga Kota Bandung, memanfaatkan strategi ini untuk mengatasi tantangan visibilitas fisiknya yang tersembunyi (hidden gem). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi digital marketing Carita Izakaya dalam menarik, mempertahankan, serta mempengaruhi pelanggan melalui pemanfaatan KOL dengan menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan studi kasus dan paradigma konstruktivis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, dengan uji keabsahan menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi menarik pelanggan dilakukan melalui penerapan komponen funnel AIDA dengan memilih KOL yang selaras dengan brand positioning serta mampu menyajikan visual storytelling yang kuat. Sementara itu, strategi mempertahankan pelanggan berfokus pada menjaga keselarasan antara narasi brand promise KOL dengan realitas kualitas produk dan pelayanan internal guna membangun kepercayaan (trust) serta mendorong kunjungan ulang (repeat visit). Adapun alasan pemanfaatan KOL dalam mempengaruhi pelanggan didasarkan pada pergeseran perilaku konsumen generasi muda yang lebih memercayai rekomendasi personal yang autentik dibandingkan iklan konvensional, sehingga kolaborasi ini dinilai sebagai jalur tercepat dan paling efisien untuk memperluas jangkauan merek
Analisis Resepsi Lagu sebagai Media Kritik Sosial M Revaldi Alamsyah; Erik Setiawan
Bandung Conference Series: Communication Management 1049 - 1056
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25936

Abstract

This study examines how residents of Dago Elos, Bandung, interpret the song Tuhan di Reruntuhan Kota by Dongker as a medium of social criticism amid an agrarian conflict caused by a land dispute based on the colonial-era Eigendom Verponding title. This study employed a descriptive qualitative approach using reception analysis. Data were collected through in-depth interviews with six purposively selected key informants from the Dago Elos community and one supporting informant from the Legal Aid Institute (LBH) of Parahyangan University. The data were analyzed using the Miles and Huberman interactive model, combined with Stuart Hall's reception analysis framework through three reading positions: dominant-hegemonic reading, negotiated reading, and oppositional reading. The findings reveal that four informants occupied the dominant-hegemonic reading position, fully accepting the song's message in accordance with their lived experiences of the land conflict. Two informants were positioned within the negotiated reading category, accepting the song's central message while adapting their interpretations to its metaphorical lyrics and aggressive musical style. The most significant finding is that one informant's decision to remain childfree emerged as a psychological consequence of the agrarian conflict, demonstrating that the impact of land disputes extends beyond physical space to influence deeply personal life decisions. No oppositional reading was identified, as all informants were directly affected by the issues represented in the song. Future research is recommended to include external audiences in order to explore the potential emergence of oppositional reading.   Penelitian ini mengkaji cara warga Dago Elos, Bandung, memaknai lagu "Tuhan di Reruntuhan Kota" karya Dongker sebagai media kritik sosial di tengah konflik agraria yang disebabkan sengketa lahan berbasis dokumen Eigendom Verponding warisan kolonial. Pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis resepsi digunakan dalam penelitian ini. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap enam informan utama warga Dago Elos yang dipilih secara purposive dan satu informan pendukung dari LBH Universitas Parahyangan, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang dikombinasikan dengan prosedur analisis resepsi Stuart Hall melalui tiga posisi pembacaan: dominant-hegemonic reading, negotiated reading, dan oppositional reading. Hasil menunjukkan empat informan berada pada posisi dominant-hegemonic reading, menerima pesan lagu secara penuh sesuai pengalaman konflik yang mereka jalani. Dua informan menempati posisi negotiated reading, menerima pesan utama namun menyesuaikan pemaknaan terhadap gaya lirik metaforis dan karakter musik yang keras. Temuan paling signifikan adalah keputusan childfree seorang informan sebagai dampak psikologis konflik agraria, yang membuktikan bahwa dampak konflik tidak hanya pada ruang fisik tetapi juga merambah keputusan yang bersifat sangat privat. Posisi oppositional reading tidak ditemukan karena seluruh informan terdampak langsung oleh isu dalam lagu. Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan audiens eksternal untuk mengeksplorasi kemungkinan munculnya posisi oppositional reading.
Hubungan antara Komunikasi Visual Aplikasi ‘Pinterest’ dengan Pemilihan Gaya Fashion Mahasiswa Hanannisa Rakha Syawalifani; Yenni Yuniati
Bandung Conference Series: Communication Management 1057 - 1064
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25944

Abstract

This study examines the relationship between the visual communication of the Pinterest application and the fashion style selection of students at Universitas Islam Bandung (Unisba). Pinterest is a visually-driven platform displaying layout, color, imagery, and typography elements that potentially influence users  perceptions and fashion related decisions. Using a quantitative correlational method with a positivistic paradigm, data were collected via a Likert scale questionnaire distributed to 86 students from ten faculties using total sampling and analyzed with Rank Spearman correlation. Normality tests (Kolmogorov-Smirnov) confirmed non-normal distributions for both variables (X: sig. = 0.048; Y: sig. = 0.041). Results show a significant, strong, and positive relationship between Pinterest's visual communication and students' fashion style selection (rs = 0.634; p < 0.001). At the sub-variable level, layout (rs = 0.588), color (rs = 0.565), imagery (rs = 0.533), and typography (rs = 0.513) each demonstrated moderate and positive correlations. These findings confirm that Pinterest effectively functions as a new media platform whose visual elements actively shape students' fashion identity and decision-making.   Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya penggunaan Pinterest sebagai media pencarian referensi visual, khususnya dalam konteks fashion di kalangan mahasiswa. Sebagai platform visual, Pinterest menampilkan elemen tata letak, warna, gambar, dan tipografi yang berpotensi memengaruhi persepsi serta keputusan pengguna dalam memilih gaya berpakaian. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara komunikasi visual aplikasi Pinterest dengan pemilihan gaya fashion mahasiswa, serta menguji hubungan masing-masing elemen visual terhadap aspek-aspek pemilihan gaya. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional, paradigma positivistik, dan teknik total sampling terhadap 86 mahasiswa dari sepuluh fakultas di Universitas Islam Bandung. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert dan dianalisis menggunakan korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif, kuat, dan signifikan antara komunikasi visual Pinterest dengan pemilihan gaya fashion mahasiswa Unisba (rs = 0,634; p < 0,001). Pada tingkat sub-variabel, tata letak (rs = 0,588), warna (rs = 0,565), gambar (rs = 0,533), dan tipografi (rs = 0,513) seluruhnya menunjukkan hubungan sedang dan positif yang signifikan.

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 6 No. 1 (2026): Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 5 No. 2 (2025): Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 3 No. 3 (2023): Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 1 No. 1 (2021): Bandung Conference Series: Communication Management 1121 - 1130 1113 - 1120 1089 - 1096 1081 - 1088 1073 - 1080 1057 - 1064 1049 - 1056 1041 -1048 1033 - 1040 1025 - 1032 1007 - 1016 999 - 1006 991 - 998 983 - 990 973 - 982 965 - 972 947 - 954 939 - 946 931 - 938 923 - 930 915 - 922 905 - 914 895 - 904 887 - 894 879 - 886 871 - 878 861 - 870 853 - 860 843 - 852 835 - 842 827- 834 819 - 826 811 - 818 803 - 810 793 - 802 785 - 792 777 - 784 769 - 776 761 - 768 753 - 760 743 - 752 735 - 742 727 - 734 719 - 726 709 - 718 697 - 708 689 - 696 681 - 688 671 - 680 659 - 670 651 - 658 641 - 650 631 - 640 623 - 630 613 - 622 603 - 612 595 - 602 583 - 594 573 - 582 565 - 572 557 - 564 547 - 556 537 - 546 529 - 536 521 - 528 511 - 520 503 - 510 493 - 502 485 - 492 477 - 484 467 - 476 459 - 466 451 - 458 443 - 450 435 - 442 425 - 434 417 - 424 407 - 416 399 - 406 391 - 398 379 - 390 369 - 378 361 - 368 353 - 360 343 - 352 335 - 342 325 - 334 317 - 324 307 - 316 297 - 306 287 - 296 277 - 286 269 - 276 More Issue