cover
Contact Name
Yunardi Kristian Zega
Contact Email
yunardichristian@gmail.com
Phone
+6281213076611
Journal Mail Official
yunardikzega@sttrealbatam.ac.id
Editorial Address
Jl. Ahmad Yani, Komplek House of Glory Belakang Ruko Eden Park, Taman Baloi, Batam Kota, Batam City, 29432 Kec. Batam Kota, Kotamadaya Batam, Kepulauan Riau.
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education
ISSN : -     EISSN : 27742512     DOI : -
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education is a forum for publication of research results related to the study of Christian Religious Education, both by lecturers and students within the scope of the Batam Real Theological College as well as the Theological College and other universities throughout Indonesia, even those outside the country. REAL DIDACHE has an ISSN. 2774-2512 (online). Managed and published by Batam Real Theological College, Riau Islands. Publish manuscripts twice a year, in March and September.
Articles 37 Documents
Kepercayaan Musa Dari Perspektif Filsafat Armada Riyanto Witarso, Hokgiarto; Riyanto, FX. Eko Armada; Adon, Mathias Jebaru
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol 4, No 1: Maret 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/rdj.v4i1.506

Abstract

Belief is the result of a deep and complex relationship that cannot be summed up in simple words because it involves a spiritual journey. One example is faith, a personal relationship between humans and God. In the context of the Old Testament, the prophets, including Moses, were sent by God to guide His people. Despite numerous studies on Moses, research on his belief in God seems to have not fully delved into Moses' spiritual journey. Therefore, this study aims to explore the attitudes of the prophets' belief in God and the influence of Moses' belief on his fulfillment of duties. The research method employs literature review with a qualitative approach. The findings indicate that the presence of prophets in the Old Testament confirms God's involvement in human life and serves as an example for humans to strengthen their spiritual relationship with God. Moses, despite all his struggles, remained steadfast in his belief in God, even though he was not permitted to enter the promised land. This reflects a deep-seated faithfulness and loyalty, even in the face of trials and failures. Keywords: Bible; Covenant; Faith; RelationshipAbstrak Kepercayaan merupakan hasil dari hubungan yang dalam dan kompleks, tidak dapat disimpulkan dengan kata-kata sederhana karena melibatkan perjalanan spiritual. Salah satu contohnya adalah iman, hubungan pribadi antara manusia dan Tuhan. Dalam konteks Perjanjian Lama, para nabi, termasuk Nabi Musa, diutus oleh Tuhan untuk membimbing umat-Nya. Meskipun banyak kajian tentang Nabi Musa, penelitian tentang kepercayaannya kepada Tuhan tampaknya masih belum menyentuh sosok Musa dalam perjalanan spritualnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi sikap kepercayaan para nabi kepada Tuhan dan pengaruh kepercayaan Nabi Musa terhadap pelaksanaan tugasnya. Metode penelitian menggunakan studi literatur dengan pendekatan kualitatif. Hasilnya menunjukkan bahwa keberadaan para nabi dalam Perjanjian Lama menegaskan keterlibatan Tuhan dalam kehidupan manusia dan menjadi contoh bagi manusia untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Tuhan. Nabi Musa, dengan segala perjuangannya, tetap kokoh dalam kepercayaannya kepada Tuhan, meskipun tidak diizinkan memasuki tanah yang dijanjikan. Ini mencerminkan keteguhan iman dan kesetiaan yang dalam, bahkan dalam menghadapi cobaan dan kegagalan.Kata Kunci: Alkitab; Iman; Perjanjian; Relasi
Manajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Pembina Kota Kupang Yusuf Elpontus Tanaem; Imleda Marina Djira; Nimrot Doke Para; Sonia Magdewati Nubatonis; Armanjo Kamlasi
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol. 6 No. 1: March 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/j15nh662

Abstract

Quality education is a constitutional right of every Indonesian citizen, including children with special needs (CSN). In practice, however, the implementation of Christian Religious Education (CRE) for CSN in Special Schools still faces systemic challenges that have rarely been studied, particularly from a simultaneously managerial and theological perspective. This study aims to analyze in depth the management of CRE learning for CSN at SSNS Pembina Kupang City, which serves five disability categories: visual impairment, hearing impairment, intellectual disability, physical disability, and autism. A qualitative descriptive approach was employed. Data were collected through in-depth interviews, classroom observations, and documentation involving four purposively selected research subjects: one principal and three CRE teachers. Data validity was ensured through source triangulation and technique triangulation, and analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana. The findings reveal that CRE learning management at SSNS Pembina Kupang is carried out through three stages: (1) individual assessment-based planning, in which teachers design lesson plans tailored to each child's type and level of disability; (2) multisensory adaptive implementation, using methods and media selected situationally based on each child's sensory, cognitive, and emotional conditions; and (3) continuous daily evaluation, conducted every day due to the fluctuating emotional conditions of CSN, which cannot be standardized. The novelty of this study lies in its simultaneous integration of three perspectives: managerial, pedagogical, and biblical-theological, which has not been found in previous similar studies in Indonesia. These findings contribute to the development of an inclusive and adaptive CRE learning model and provide a basis for policy recommendations for teachers, schools, and parents in accompanying CSN. Keywords: adaptive evaluation; children with special needs; christian religious education; learning management; special school Abstrak Pendidikan yang berkualitas merupakan hak konstitusional setiap warga negara Indonesia, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Namun dalam praktiknya, implementasi Pendidikan Agama Kristen (PAK) bagi ABK di Sekolah Luar Biasa (SLB) masih menghadapi tantangan sistemik yang belum banyak dikaji, khususnya dari perspektif manajerial sekaligus teologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara mendalam manajemen pembelajaran PAK bagi ABK di SLBN Pembina Kota Kupang, yang melayani lima kategori ketunaan: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, dan autisme. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi kelas, dan dokumentasi terhadap empat subjek penelitian, yaitu satu kepala sekolah dan tiga guru PAK, yang dipilih secara purposive. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik, serta dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen pembelajaran PAK di SLBN Pembina Kupang dilaksanakan melalui tiga tahapan: (1) perencanaan berbasis asesmen individual, di mana guru merancang RPP yang disesuaikan dengan jenis dan tingkat ketunaan setiap peserta didik; (2) pelaksanaan adaptif multisensori, dengan pemilihan metode dan media yang disesuaikan secara situasional berdasarkan kondisi sensoris, kognitif, dan emosional anak; serta (3) evaluasi harian berkelanjutan, yang dilakukan setiap hari karena kondisi emosional ABK bersifat fluktuatif dan tidak dapat distandarkan. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi tiga perspektif secara simultan: manajerial, pedagogis, dan teologis-Alkitabiah, yang belum dijumpai dalam penelitian sejenis di Indonesia. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan model pembelajaran PAK yang inklusif dan adaptif, serta menjadi dasar rekomendasi kebijakan bagi guru, sekolah, dan orang tua dalam mendampingi ABK Kata kunci: anak berkebutuhan khusus; evaluasi adaptif; manajemen pembelajaran; pendidikan agama kristen; sekolah luar biasa
Peran Pendidikan Agama Kristen dalam Menanamkan Etika Kristen Bagi Generasi Alpha dalam Bermedia Sosial Agus Arda Setiawan Telaumbanua; Desmeni Telaumbanua; Mesra Cani Putri Daeli; Marchel Anthony Leiwakabessy
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol. 6 No. 1: March 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/zbkvs837

Abstract

Generation Alpha inhabits a digital ecosystem in which social media is not merely a communication tool but the primary arena for identity formation, social learning, and moral negotiation. Yet this very condition of immersion has given rise to ethical crises such as cyberbullying, identity fragmentation, exposure to pornographic and violent content, and an ongoing erosion of spiritual values. Although scholarship on Christian Religious Education (CRE) and digital formation is growing, existing studies tend either to examine pedagogical models that gesture toward concrete Christian ethical content without specifying it, or to describe social media phenomena without constructing an ethical framework grounded in biblical texts. This study addresses that gap by building a biblical-ethical framework from four normative texts, namely Colossians 4:5 on wisdom as a way of life, Proverbs 2:5 on the fear and knowledge of God, Matthew 5:13–14 on being salt and light in the world, and Galatians 5:22–23 on life according to the fruit of the Holy Spirit. It further explicates how each norm can be concretely implemented in CRE curriculum and practice for Generation Alpha. Drawing on qualitative methods grounded in hermeneutical analysis, this study demonstrates that the four ethical dimensions are not only theologically coherent but also pedagogically actionable. Accordingly, CRE serves as a strategic normative agent in instilling Christian ethics and shaping the digital character of Generation Alpha, equipping them with a moral compass for responsible and Christlike engagement in digital spaces. Keywords: christian ethics; christian religious education; digital character formation; generation alpha; hermeneutical analysis Abstrak Generasi Alpha menghuni ekosistem digital di mana media sosial bukan sekadar alat komunikasi, melainkan arena utama pembentukan identitas, pembelajaran sosial, dan negosiasi moral. Namun justru kondisi imersi inilah yang melahirkan krisis etika seperti perundungan siber, fragmentasi identitas diri, paparan konten pornografis dan kekerasan, serta pengikisan nilai-nilai spiritual secara berkelanjutan. Meskipun kajian tentang Pendidikan Agama Kristen (PAK) dan formasi digital semakin berkembang, penelitian yang ada umumnya hanya mengkaji model pedagogis yang mengarah kepada konten etika Kristen yang konkret, atau sekadar mendeskripsikan fenomena media sosial tanpa membangun kerangka etis yang berpijak pada teks Alkitab. Penelitian ini mengisi celah tersebut dengan mengonstruksi kerangka etika alkitabiah dari empat teks normatif, yaitu Kolose 4:5 tentang kebijaksanaan sebagai gaya hidup, Amsal 2:5 tentang takut dan mengenal Tuhan, Matius 5:13-14 tentang menjadi garam dan terang dunia, serta Galatia 5:22-23 tentang hidup menurut buah Roh Kudus. Penelitian ini juga menjelaskan bagaimana setiap norma dapat diimplementasikan secara konkret dalam kurikulum dan praksis PAK bagi Generasi Alpha. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis analisis hermeneutis, penelitian ini membuktikan bahwa keempat dimensi etika tersebut tidak hanya koheren secara teologis, tetapi juga dapat dioperasionalkan secara pedagogis. Dengan demikian, PAK berperan sebagai agen normatif yang strategis dalam menanamkan etika Kristen dan membentuk karakter digital Generasi Alpha, sehingga mereka mampu berinteraksi di ruang digital secara bertanggung jawab dan berkarakter Kristiani. Kata Kunci: analisis hermeneutis; etika Kristen; formasi karakter digital; generasi alpha; pendidikan agama Kristen
Digital Asceticism: Reimagining Christian Education in an Age of Digital Distraction Daniel Agustin; Charles Berebon; Margarita Kaunang
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol. 6 No. 1: March 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/5prp4t09

Abstract

In an era defined by digital saturation, understood not merely as the prevalence of technology but as a cultural state of pervasive distraction and fragmented attention, Christian education faces unprecedented challenges in fostering deep spiritual formation. This environment often treats attention as a commodity, thereby undermining the contemplative practices essential for discipleship. This paper proposes digital asceticism, a deliberate and theologically grounded approach to minimizing technological interference, as an essential framework for reimagining Christian pedagogy. The study employs an interdisciplinary methodology, conducting a systematic synthesis of theological literature drawing on ascetic traditions from the Desert Fathers to Bonhoeffer with contemporary philosophical critiques of technology from Ellul and Borgmann and an analysis of qualitative case studies from Christian educational settings implementing tech-fast pedagogies. The analysis reveals that uncritical adoption of digital tools correlates with fragmented attention and eroded communal worship. Conversely, the case studies demonstrate that interventions such as device-free Scripture memorization and analog-based liturgies yield tangible outcomes including improved scriptural recall, deeper cognitive engagement, and enhanced relational intimacy within learning communities. The study concludes that digital restraint functions not as a rejection of technology but as a form of resistance against the idolatry of efficiency, creating essential space for attentiveness to the Holy Spirit. The paper concludes by advocating for a via media and offers actionable principles for educators including curated digital curriculums and the design of sacred spaces free from screens. By integrating ancient ascetic wisdom with contemporary educational needs, this research provides a prophetic and practical counter-narrative to the uncritical digitization of faith formation. Keywords: Christian education; contemplative pedagogy; digital asceticism; spiritual formation; technology and discipleship Abstrak Di era yang ditandai oleh saturasi digital dipahami bukan sekadar sebagai meluasnya teknologi, melainkan sebagai kondisi budaya yang penuh dengan distraksi dan perhatian yang terfragmentasi, pendidikan Kristen menghadapi tantangan yang belum pernah ada sebelumnya dalam menumbuhkan pembentukan spiritual yang mendalam. Lingkungan ini kerap memperlakukan perhatian sebagai komoditas, sehingga melemahkan praktik-praktik kontemplatif yang sangat penting bagi pemuridan. Artikel ini mengusulkan asketisme digital, yakni suatu pendekatan yang disengaja dan berakar secara teologis untuk meminimalkan gangguan teknologi, sebagai kerangka yang esensial dalam menggagas ulang pedagogi Kristen. Penelitian ini menggunakan metodologi interdisipliner melalui sintesis sistematis terhadap literatur teologi, yang menggali tradisi asketis dari para Bapa Padang Gurun hingga Bonhoeffer, dikombinasikan dengan kritik filosofis kontemporer tentang teknologi dari Ellul dan Borgmann, serta analisis studi kasus kualitatif dari lembaga pendidikan Kristen yang menerapkan pedagogi tech-fast. Hasil analisis menunjukkan bahwa adopsi alat digital secara tidak kritis berkorelasi dengan perhatian yang terfragmentasi dan melemahnya ibadah komunal. Sebaliknya, studi kasus memperlihatkan bahwa intervensi seperti hafalan Kitab Suci tanpa perangkat digital dan liturgi berbasis analog menghasilkan dampak nyata, mencakup peningkatan daya ingat terhadap teks Alkitab, keterlibatan kognitif yang lebih dalam, dan keintiman relasional yang lebih erat dalam komunitas belajar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengendalian diri secara digital tidak berfungsi sebagai penolakan terhadap teknologi, melainkan sebagai bentuk perlawanan terhadap penyembahan berhala efisiensi, yang menciptakan ruang penting bagi kepekaan terhadap karya Roh Kudus. Artikel ini diakhiri dengan mengadvokasi via media dan menawarkan prinsip-prinsip aplikatif bagi para pendidik, termasuk kurikulum digital yang terseleksi dan perancangan ruang-ruang sakral yang bebas dari layar. Dengan mengintegrasikan kearifan asketis kuno dan kebutuhan pendidikan kontemporer, penelitian ini menghadirkan narasi tandingan yang profetis sekaligus praktis terhadap digitalisasi pembentukan iman yang tidak kritis. Kata Kunci: asketisme digital; pendidikan Kristen; pembentukan spiritual; pedagogi kontemplatif; teknologi dan pemuridan
Peran Artificial Intelligence dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen: Peluang, Etika, dan Tantangan Sarah Gracia Lumbantobing; Laurenz Enjelina Siagian
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol. 6 No. 1: March 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/pcxv5218

Abstract

The rapid advancement of artificial intelligence has triggered paradigmatic transformations across educational sectors, including Christian Religious Education (CRE), which is inherently oriented toward holistic, relational, and transformative faith formation. However, the integration of this technology remains insufficiently grounded in an adequate pedagogical ethical framework, creating tension between digital innovation and theological values. This study aims to analyze the implications of artificial intelligence in CRE across three dimensions: pedagogical opportunities, implementation challenges, and a theologically grounded ethical framework. Employing a qualitative approach through systematic literature review and critical analysis of indexed scholarly sources, the findings reveal that artificial intelligence offers substantive opportunities for enhancing learning effectiveness, personalization, and student engagement. Nevertheless, significant challenges emerge, including the risk of spiritual reductionism, doctrinal distortion, erosion of pedagogical relationships, and digital inequality. A theological synthesis affirms that artificial intelligence must be positioned as a pedagogical instrument subordinate to the authority of faith, rather than a substitute for the teacher's irreplaceable role in character formation and spiritual development. Accordingly, a contextual and theologically-informed pedagogical ethical framework is essential to ensure that the integration of artificial intelligence genuinely supports authentic faith formation in the digital age. Keywords: artificial intelligence; challenges; Christian religious education; Opportunities; pedagogical ethics Abstrak Perkembangan kecerdasan buatan telah menghadirkan transformasi paradigmatis dalam dunia pendidikan, termasuk dalam konteks Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang berorientasi pada pembentukan iman yang holistik, relasional, dan transformatif. Namun demikian, integrasi teknologi ini belum diimbangi dengan kerangka etika pedagogis yang memadai, sehingga memunculkan ketegangan antara inovasi digital dan nilai-nilai teologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis implikasi kecerdasan buatan dalam PAK melalui tiga dimensi: peluang pedagogis, tantangan implementasi, dan kerangka etika berbasis teologi Kristen. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur dan analisis kritis terhadap sumber-sumber ilmiah terindeks yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan buatan memberikan peluang nyata dalam peningkatan efektivitas, personalisasi, dan keterlibatan peserta didik. Namun, terdapat tantangan serius berupa potensi reduksi makna spiritual, risiko penyimpangan doktrin, degradasi relasi pedagogis, serta kesenjangan digital. Sintesis teologis menegaskan bahwa kecerdasan buatan harus diposisikan sebagai instrumen pedagogis yang berada di bawah otoritas iman, bukan sebagai pengganti peran guru dalam pembentukan karakter dan spiritualitas. Oleh karena itu, diperlukan kerangka etika pedagogis yang kontekstual dan teologis agar pemanfaatan kecerdasan buatan mendukung pembentukan iman yang autentik di era digital. Kata Kunci: etika pedagogis; kecerdasan buatan; peluang; pendidikan agama Kristen; tantangan
Rekonstruksi Landasan Biblika bagi Evaluasi Pendidikan Agama Kristen di Era Digital Simon; Jerie Refni Boy Maarende
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol. 6 No. 1: March 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/n565rc24

Abstract

This article is written based on the researcher’s observation that studies related to the evaluation of Christian Religious Education still tend to focus on aspects related to the curriculum, teaching methods, and educators. However, the aspect of PAK evaluation based on Biblical foundations is still very rarely researched, which prompted the author to examine this topic. The formulation of the main research question posed from this topic is: what is the concrete reconstruction of the biblical foundation for the evaluation of Christian Religious Education (CRE) in the digital era? In outlining this paper, the author uses a literature study approach as the main strategy to reconstruct the biblical foundation in the evaluation of Christian Religious Education (CRE) in the digital era. This methodological approach was chosen not for the collection of numerical data but for the understanding of conceptual meaning. The findings of this study present the concept of evaluation in the Bible as never merely understood as an intellectual measurement, but rather as an assessment of the authenticity of faith manifested in concrete life. Therefore, the conceptual evaluation (PAK) based on biblical reconstruction needs to be designed as an integrative framework that combines normative-theological dimensions and contextual pedagogical dimensions. Keywords: biblical foundation; Christian religious education; digital era; learning evaluation; theological reconstruction Abstrak Artikel ini ditulis atas pengamatan peneliti bahwa penelitian yang berkaitan dengan evaluasi Pendidikan Agama Kristen masih cenderung bertumpu pada tataran terkait kurikulum, metode mengajar, dan juga pendidik. Akan tetapi, aspek evaluasi PAK dalam landasan Biblika masih sangat jarang diteliti, hal ini mendorong penulis mengkaji topik ini. Rumusan pertanyaan penelitian utama yang diajukan dari topik ini seperti apa kongkrit dari rekonstruksi landasan biblika bagi evaluasi PAK di era digital? Di dalam menguraikan tulisan ini, penulis menggunakan pendekatan studi literatur sebagai strategi utama untuk merekonstruksi landasan Biblika dalam evaluasi Pendidikan Agama Kristen (PAK) di era digital. Pendekatan metodologis itu dipilih  bukan pada pengumpulan data numerik melainkan pemahaman makna konseptual. Temuan kajian ini mengemukakan konsep evaluasi dalam Alkitab tidak pernah dipahami sekadar sebagai pengukuran intelektual, melainkan sebagai penilaian terhadap autentisitas iman yang termanifestasi dalam kehidupan konkret. Oleh sebab itu, konseptual evaluasi (PAK) berbasis rekonstruksi biblika perlu dirancang sebagai suatu kerangka integratif yang memadukan dimensi normatif-teologis dan dimensi pedagogis kontekstual. Kata Kunci: era digital; evaluasi pembelajaran; landasan biblika; pendidikan agama Kristen; rekonstruksi teologis
PENTINGNYA PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KRISTENYANG RELEVAN DENGAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI ANAK-ANAK DI LINGKUNGAN KELUARGA Victor Oktovianus Dethan; Febe Fenny Irawati Wanggai
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol. 5 No. 2: September 2025
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/scw00t11

Abstract

This study aims to analyze the role of parents as role models and the contribution of Christian Religious Education (CRE) in shaping children’s character in everyday life. The background of the study is rooted in the increasing moral and spiritual challenges faced by children in the contemporary era, which demand the integration of faith education through the synergy of family, school, and church. The method employed is a literature review using a narrative-descriptive approach, focusing on the analysis of scholarly works related to family, parental roles, and CRE. The findings reveal that parents serve as primary role models in instilling values of faith, morality, and spirituality, while CRE provides a systematic framework for deepening and internalizing these values. Collaboration among family, school, and church is proven to strengthen the holistic process of character formation in children. This study affirms that parental role modelling, when combined with the contextual implementation of CRE, establishes a conceptual foundation for a faith-based educational model grounded in threefold collaboration. Keywords: character building; Christian religious; educationearly childhood; parental role models Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis peran orang tua sebagai teladan dan kontribusi Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam pembentukan karakter anak dalam kehidupan sehari-hari. Latar belakang penelitian didasarkan pada meningkatnya tantangan moral dan spiritual yang dihadapi anak di era kontemporer, sehingga diperlukan integrasi pendidikan iman melalui sinergi keluarga, sekolah, dan gereja. Metode yang digunakan adalah kajian literatur dengan pendekatan naratif-deskriptif, melalui analisis terhadap artikel dan karya ilmiah yang relevan dengan tema keluarga, peran orang tua, dan PAK. Hasil kajian menunjukkan bahwa orang tua berfungsi sebagai teladan utama dalam menanamkan nilai iman, moral, dan spiritualitas, sedangkan PAK menjadi sarana sistematis untuk memperdalam dan menginternalisasi nilai-nilai tersebut. Sinergi antara keluarga, sekolah, dan gereja terbukti memperkuat proses pembentukan karakter anak secara holistik. Penelitian ini menegaskan bahwa keteladanan orang tua, bila dipadukan dengan penerapan PAK yang kontekstual, membentuk fondasi konseptual bagi model pendidikan iman berbasis kolaborasi tripusat. Kata kunci: anak usia dini; pembentukan karakter; keteladanan orang tua; pendidikan agama Kristen  

Page 4 of 4 | Total Record : 37