cover
Contact Name
Yogi Ginanjar
Contact Email
yogi.ginanjar@ptk.ubpkarawang.ac.id
Phone
+6281340144014
Journal Mail Official
empowerment@ubpkarawang.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Secara garis besar jurnal empowerment bertujuan untuk membangkitkan semangat dan motivasi mahasiswa-dosen dalam melakukan publikasi artikel ilmiah secara bersama di Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang. Metode yang digunakan untuk meningkatkan semangat dan motivasi mahasiswa adalah dengan mengikutsertakan para peneliti lain di luar Universitas Buana Perjuangan Karawang. Selain meningkatkan motivasi, penelitian ini juga berfungsi sebagai media untuk membangun kerjasama antar Universitas dalam mencapai Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Pada edisi pertama, jurnal ini melibatkan empat Universitas yang memberikan kontribusi dalam peningkatan kualitas jurnal. Diharapkan pada edisi selanjutnya jurnal ini dapat mengajak mahasiswa lain yang ada di Indonesia maupun di luar Indonesia untuk mengasah kemampuan melakukan publikasi artikel jurnal. Fokus topik dari jurnal ini adalah fenomena-fenomena yang berkaitan dengan Psikologi. Kelebihan yang dimiliki oleh jurnal ini adalah mahasiswa dan dosen dapat berkontribusi secara bersama-sama dalam melakukan penelitian hingga publikasi penelitian
Articles 130 Documents
KECEMASAN DALAM MENGHADAPI DUNIA KERJA ERA SOCIETY 5.0 DITINJAU DARI SELF-EFFICACY (STUDI PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR DI PROVINSI BANTEN) Wahyu Cahyaning Tias; Aisyah Ratnaningtyas; Desy Prastyani
Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 3 No. 1 (2023): Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/empowerment.v3i1.786

Abstract

Era Society 5.0 memunculkan tuntutan baru dalam dunia kerja mengenai kompetensi yang harus dimiliki oleh para mahasiswa tingkat akhir. Berbagai tuntutan tersebut seringkali membuat merka merasa cemas dalam menghadapi dunia kerja. Salah satu faktor yang mempengaruhi kecemasan adalah self-efficacy. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh self-efficacy terhadap kecemasan dalam menghadai dunia kerja era society 5.0 pada mahasiswa tingkat akhir di Provinsi Banten. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, berjenis kausal komparatif, dengan teknik purposive sampling berjumlah 100 mahasiswa tingkat akhir di Provinsi Banten sebagai responden. Alat ukur self-efficacy memiliki nilai (α)= 0,902 dan 22 aitem valid, sedangkan kecemasan dengan (α)= 0,917 dan 25 aitem valid. Hasil pada penelitian ini menunjukkan dari uji regresi linier sederhana diperoleh nilai sig. (p) sebesar 0,000 (p < 0.05) dan Y= 96,341- 0,676X, artinya hipotesis diterima, yaitu terdapat pengaruh negatif signifikan self-efficacy terhadap kecemasan dalam menghadapi dunia kerja era society 5.0 pada mahasiswa tingkat akhir di Provinsi Banten. Self-efficacy mempengaruhi kecemasan sebesar 41,1%, sedangkan sisanya yaitu 58,9% dipengaruhi oleh variabel lain. Kata Kunci: Self-efficacy, kecemasan, Era Society 5.0 Era Society 5.0 raises bew demands in the world of work regarding the competencies that final year students must possess. These demands often make them feel anxious in facing the world of work. One of the factors that influence anxiety is self-efficacy. The purpose of this study was to determine the effect od self-efficacy on anxiety in dealing with the world of work in the era of society 5.0 in final year students in Banten Province. This research is a quantitative, causal comparative study, using a purposive sampling technique with a total of 100 final year students in Banten Province as respondents. Self-efficacy measurement showed (α)= 0.902 with 22 valid items, while anxiety showed (α)= 0.917 with 25 valid items. The results of this study show that from the simple linear regression test, the sig.(p) of 0.000 (p < 0.05) and Y= 96.341-0.676X, meaning that the hypothesis can be accepted. So, there is a significant negative effect of selfefficacy on anxiety in facing the work world of Society 5.0 for final-year students in Banten. Keywords: Self-Efficacy, Anxiety, Society 5.0 Era
MARITAL RAPE: KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP PEREMPUAN DALAM BUDAYA PATRIARKI Ernawati Hermawan; Nuram Mubina; Wina Lova Riza
Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 3 No. 1 (2023): Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/empowerment.v3i1.787

Abstract

Marital rape adalah salah satu bentuk kekerasan seksual terhadap perempuan yang terjadi dalam sebuah hubungan perkawinan. Salah satu penyebab marital rape ialah budaya patriarki yang masih melekat didalam kehidupan masyarakat. Budaya patriarki menimbulkan ketidakadilan gender yang mengakibatkan munculnya diskriminasi terhadap kaum perempuan. Tujuan penelitian ini untuk melihat gambaran marital rape dalam budaya patriarki. Proses pengumpulan data dilakukan dengan metode kualitatif studi kasus. Peneliti mewawancarai dan mengobservasi dua subjek perempuan yang mengalami marital rape. Data yang diperoleh menjadi transkip membentuk pengkodean dan dianalisis. Hasil penelitian ini melihat gambaran budaya patriarki yang dianut oleh subjek FN sejak diasuh oleh kakek nenek yang membawa sistem patriarki dalam keluarganya dan FN menikah dengan suami yang juga menganut sistem patriarki, sehingga munculkan sebuah ketidakadilan gender berupa marital rape, FN menjalani pernikahan selama 12 tahun dan memutuskan untuk bercerai. Berbeda dengan subjek T yang sudah memiliki kesetaraan gender dalam keluarganya, tetapi T menikah dengan laki-laki (suami) yang menganut sistem patriarki. T hanya menjalani pernikahan dengan suami selama 2 tahun dan memutuskan untuk bercerai. Budaya patriarki yang melekat di masyarakat membuat kaum perempuan (istri) mengalami ketidakadilan gender. Kurangnya dukungan masyarakat membuat korban memilih untuk diam. Namun demikian individu yang memiliki kesetaraan gender juga akan mengalami marital rape saat mereka bertemu dengan salah satu pasangan yang menganut sistem patriarki. Marital rape is a form of sexual violence against women that occurs in a marital relationship. One of the causes of marital rape is the patriarchal culture that is still inherent in people's lives. Patriarchal culture creates gender inequality which results in discrimination against women. The purpose of this research is to see the picture of marital rape in patriarchal culture. The data collection process was carried out using a qualitative case study method. Researchers interviewed and observed two female subjects who experienced marital rape. The data obtained into the transcript formed coding and analyzed. The results of this study look at the picture of patriarchal culture embraced by subject FN since being raised by grandparents who brought the patriarchal system into their family and FN married a husband who also adheres to the patriarchal system, resulting in a gender injustice in the form of marital rape, FN underwent marriage for 12 years and decided to divorce. In contrast to subject T who already has gender equality in his family, but T is married to a man (husband) who adheres to a patriarchal system. T was only married to her husband for 2 years and decided to divorce. The patriarchal culture inherent in society makes women (wives) experience gender injustice. Lack of community support makes victims choose to remain silent. However, individuals who have gender equality will also experience marital rape when they meet a partner who adheres to a patriarchal system.
PENGARUH ATTACHMENT DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL TERHADAP KEPUASAN HUBUNGAN ROMANTIS JARAK JAUH PADA DEWASA MUDA Syifa Intan Mutiara; Wina Lova Riza; Nuram Mubina
Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 3 No. 1 (2023): Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/empowerment.v3i1.788

Abstract

Salah satu tugas perkembangan individu berusia 20-40 tahun adalah intimasi vs isolasi. Individu dapat membangun intimasi melalui hubungan romantis. Hubungan romantis jarak jauh sering kali mengalami kegagalan. Kepuasan dalam hubungan romantis dapat mempengaruhi keberlangsungan hubungan tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh attachment terhadap kepuasan hubungan romantis jarak jauh pada dewasa muda, mengetahui pengaruh komunikasi interpersonal tehadap kepuasan hubungan romantis jarak jauh pada dewasa muda, dan mengetahui pengaruh attachment dan komunikasi interpersonal terhadap kepuasan hubungan romantis jarak jauh pada dewasa muda. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel kuota (nonprobability sampling). Jumlah sampel dalam penelitian sebanyak 120 responden laki-laki dan perempuan yang sedang menjalani hubungan berpacaran jarak jauh. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai signifikan dari variabel attachment sebesar 0,000<0,05 (Ha1 diterima dan H01 ditolak), artinya ada pengaruh attachment terhadap kepuasan hubungan romantis jarak jauh pada dewasa muda. Nilai signifikan dari variabel komunikasi interpersonal sebesar 0.000<0.05 (Ha2 diterima dan H02 ditolak), artinya ada pengaruh komunikasi interpersonal terhadap kepuasan hubungan romantis jarak jauh pada dewasa muda. Sedangkan secara simultan nilai signifikan dari kedua variabel independen sebesar 0.000<0.05 (Ha3 diterima dan H03 ditolak), artinya ada pengaruh attachment dan komunikasi interpersonal terhadap kepuasan hubungan romantis jarak jauh pada dewasa muda. Dari 120 responden, terdapat 109 responden dengan kepuasan hubungan romantis yang tinggi dan 11 responden dengan kepuasan hubungan romantis rendah. One of the developmental tasks of individuals aged 20-40 years is intimacy vs isolation. Individuals can build intimacy through romantic relationships. Long distance romantic relationships often fail. Satisfaction in a romantic relationship can affect the continuity of the relationship. The purpose of this study was to determine the effect of attachment on long-distance relationship satisfaction in young adults, to determine the effect of interpersonal communication on long-distance romantic relationship satisfaction in young adults, and to determine the effect of attachment and interpersonal communication on longdistance romantic relationship satisfaction in young adults. This study uses quantitative research methods with quota sampling techniques (non-probability sampling). The number of samples in the study were 120 male and female respondents who were undergoing longdistance relationships. The analysis technique used is multiple regression analysis. The results of this study indicate a significant value of the attachment variable of 0.000 <0.05 (Ha1 is accepted and H01 is rejected), meaning that there is an influence of attachment on long-distance romantic relationship satisfaction in young adults. The significant value of the interpersonal communication variable is 0.000 <0.05 (Ha2 is accepted and H02 is rejected), meaning that there is an influence of interpersonal communication on long-distance romantic relationship satisfaction in young adults. Meanwhile, simultaneously the significant value of the two independent variables is 0.000 <0.05 (Ha3 is accepted and H03 is rejected), meaning that there is an influence of attachment and interpersonal communication on long-distance romantic relationship satisfaction in young adults. From 120 respondents, there are 109 respondents with high romantic relationship satisfaction and 11 respondents with low romantic relationship satisfaction.
PASTORAL KONSELING SEBAGAI SOLUSI MENGATASI DEPRESI Eduardus Only Putra; Kornelis Federiko; Wilfridus Tali Talan; Sabinus Dua Huar; Debi Angelina Br Barus; Marhisar Simatupang
Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 3 No. 1 (2023): Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/empowerment.v3i1.792

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali literatur terkait pastoral konseling sebagai solusi mengatasi depresi. Pada penelitian ini metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur, dimana bahan bacaan seperti buku, artikel jurnal menjadi kunci pada penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pastoral konseling yang dijalankan dengan bertumpu pada empat fungsi pastoral seperti healing, sustaining, guiding dan reconciling tentu dapat membantu penderita depresi keluar dari persoalan atau masalah yang membuat ia tertekan dan depresi. Konselor dengan jabatan sebagai seorang pastor juga dapat membantu penyembuhan penderita depresi itu dengan cara mendoakannya. Lebih dari semua, hal utama yang harus diperhatikan agar pastoral konseling itu bisa berhasil adalah baik konselor maupun konseli harus menghargai prinsip-prinsip pokok dalam konseling. This study aims to explore the literature related to pastoral counseling as a solution to overcome depression. In this study the research method used was literature study, where reading materials such as books, journal articles were the key to this study. The results of this study indicate that pastoral counseling which is carried out by relying on the four pastoral functions such as healing, sustaining, guiding and reconciling can certainly help people with depression get out of problems or problems that make them depressed and depressed. Counselors with the position of a priest can also help cure depression sufferers by praying for them. More than all, the main thing that must be considered for pastoral counseling to be successful is that both the counselor and the counselee must respect the basic principles of counseling.
PSYCHOLOGICAL WELL BEING PADA NARAPIDANA REMAJA LEMBAGA PEMASYARAKATAN KARAWANG Nia Mardiana; Nita Rohayati; Cempaka Putrie Dimala
Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 3 No. 1 (2023): Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/empowerment.v3i1.793

Abstract

Psychological well-being sangat penting bagi narapidana remaja, tanpa psychological well-being, remaja cenderung memiliki kesehatan fisik yang buruk seperti sakit, tidak produktif, dan akhirnya akan menjadi beban keluarga. tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat Psychological Well-Being pada narapidana remaja lembaga pemasyarakatan kelas IIA karawang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif analitik. Teknik pengambilan sampel atau sampling adalah metode yang digunakan untuk memilih dan mengambil beberapa individu dari kelompok populasi untuk dijadikan sebagai sampel. Dengan pengambilan sampel sampling total sehingga populasi narapidana remaja di Lapas Kelas IIA karawang dengan jumlah 55 orang seluruhnya menjadi responden penelitian. Hasil analisis menunjukan bahwa kategorisasi Psychology well being pada narapidana remaja masuk dalam kategori rendah, sebanyak 55 atau 100%. Ini menunjukkan bahwa remaja tersebut memiliki penilaian yang negatif terhadap pengalaman dan kualitas hidupnya. Ditandai dengan merasa tidak puas dengan diri sendiri, tidak memiliki rasa kontrol atas dunia luar dan kesulitan mengelola urusan sehari-hari, bergantung pada penilaian orang lain, tidak memiliki hubungan yang dekat dan sulit bersikap hangat dengan orang lain, tidak memiliki makna dalam kehidupan, dan tidak mampu mengembangkan sikap atau perilaku baru. Dengan demikian, Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Karawang diharapkan dapat memaksimalkan program yang sudah berjalan dengan membangun inovasi pada tiap-tiap program di dalamnya guna meningkatkan psychological well-being pada narapidana. Consumptive psychological well-being is very important for juvenile prisoners, without psychological well-being, adolescents tend to have poor physical health such as being sick, unproductive, and will eventually become a burden on the family. The purpose of this study was to determine the level of Psychological Well-Being in juvenile inmates of Class IIA Karawang Penitentiary. This research uses quantitative descriptive analytic method. Sampling technique or sampling is a method used to select and take several individuals from a population group to serve as a sample. With total sampling, the population of juvenile inmates in the Class IIA Karawang Prison with a total of 55 people became the research respondents. The results of the analysis show that the categorization of Psychology well being in juvenile prisoners is in the low category, as much as 55 or 100%. This shows that the teenager has a negative assessment of the experience and quality of life. Characterized by feeling dissatisfied with oneself, having no sense of control over the outside world and having difficulty managing daily affairs, depending on the judgment of others, not having close relationships and having difficulty being warm to others, having no meaning in life, and unable to develop new attitudes or behaviors. Thus, the Class IIA Karawang Penitentiary is expected to be able to maximize the programs that are already running by building innovations in each program in it to improve the psychological well-being of prisoners.
PENGARUH DUKUNGAN PASANGAN TERHADAP KESEJAHTERAN PSIKOLOGIS ANGGOTA POLISI Sia Trivonia Florida Mude; Epifania Margareta Ladapase; Maria Nona Nancy
Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 3 No. 1 (2023): Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/empowerment.v3i1.794

Abstract

Kesejahteraan psikologis merupakan kondisi tercapainya kebahagiaan tanpa adanya gangguan psikologis yang ditandai dengan kemampuan individu dalam mengoptimalkan fungsi psikologisnya. Dukungan sosial yang positif akan menimbulkan kesejahteraan psikologis yang baik pula pada anggota polisi yang sedang bertugas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Dukungan Pasangan Terhadap Kesejahteraan Psikologis Anggota Polisi. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 130 anggota polisi yang sudah memiliki pasangan dan tinggal bersama. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Sampel Jenuh. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala. Skala yang digunakan adalah skala dukungan pasangan dan skala kesejahteraan psikologis yang dikembangakan sendiri berdasarkan teori – teori. Nilai reliabilitas untuk setiap variabel yang diperoleh yaitu kesejahteraan psikologis sebesar 0,947 dan dukungan pasangan sebesar 0,943. Uji Hipotesis penelitian ini menggunakan rumus uji regresi dengan perolehan nilai Fsebesar 216,707pada taraf signifikan 0,000 sehingga nilai ini lebih kecil dari 0,05 (F=216,707; p=0,000; p<0,05) yang berarti bahwa ada pengaruh dukungan pasangan terhadap kesejahteraan psikogis pada anggota polisi yang bertugas di Polres Sikka. Psychological well-being is a condition of achieving happiness without psychological disorders which is characterized by the ability of individuals to optimize their psychological abilities. Positive social support will lead to good psychological well-being for police officers on duty. This study aims to determine the effect of spouse support on the psychological wellbeing of police officers. The sample used in this study were 130 police officers who already had a partner and lived together.The sampling technique used is Saturated Sample. The data collection method in this study uses a scale. The scale used is a partner support scale and a selfdeveloped psychological well-being scale based on theories. The reliability value for each variable obtained is psychological well-being of 0.947 and partner support of 0.943. The hypothesis test of this study uses the regression test formula with an F value of 216.707 at a significant level of 0.000 so that this value is less than 0.05 (F=216.707; p=0.000; p<0.05) which means that there is an effect of spousal support on Psychological well-being of police officers on duty at the Sikka Police.
QUARTER-LIFE CRISIS MAHASISWA TINGKAT AKHIR PENGGUNA INSTAGRAM: APAKAH BERBEDA BERDASARKAN GENDER? Afifah Muslimah Putri; Melani Aprianti
Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 3 No. 1 (2023): Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/empowerment.v3i1.795

Abstract

Dalam masa transisi yang kompleks mahasiswa akan memperoleh banyak tuntutan dari lingkungan sehingga seringkali terjadi perubahan dalam hidup di masa dewasa awal seperti mengalami ketidakstabilan, terlalu banyak pilihan sehingga individu merasa khawatir dan panik, hal ini dapat dikatakan karena adanya quarter-life crisis. Krisis tersebut dapat dipicu oleh berbagai faktor, salah satunya adanya penggunaan Instagram. Dengan maraknya pengguna memposting tentang kehidupan sehari-hari, tak jarang menunjukkan kesuksesan pengguna secara tidak langsung dan menimbulkan krisis kepercayaan diri, persaingan, khawatir, takut masa depan, dan mengalami ketidakstabilan diri. Penyebab krisis tersebut akan menimbulkan reaksi yang berbeda tergantung pada individu yang mengalminya seperti perbedaan gender pada laki-laki maupun perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan quarter-life crisis berdasarkan gender pada mahasiswa tingkat akhir yang menggunakan Instagram di Universitas X. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif komparatif yang ditujukan untuk mencari ada atau tidaknya perbedaan antar variabel. Pada penelitian ini terdapat 124 mahasiswa yang dijadikan sampel dan dibagi menjadi 2 kelompok, yakni 62 laki-laki dan 62 perempuan. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Alat ukur ini terdapat 19 item skala Quarter-life crisisyang telah diadaptasi dan dimodifikasi oleh Artiningsih dan Savira (2021) berdasarkan teori Nash dan Murray (2010). Berdasarkan hasil Uji Mann Whitney didapatkan nilai sig. sebesar 0.000 yang artinya terdapat pebedaan Quarter Life Crisis antara pria dan wanita dimana mahasiswa perempuan memiliki tingkat quarter-life crisislebih tinggi dibandingkan laki-laki. Kata Kunci: Quarter-life crisis, gender, Instagram In a complex transitional period students will get a lot of demands from the environment so that there are often changes in life in early adulthood such as experiencing instability, too many choices so that individuals feel worried and panicked, this can be said because of the quarter-life crisis. This crisis can be triggered by various factors, one of which is the use of Instagram. With the rise of users posting about everyday life, it often shows the user's success indirectly and causes a crisis of self-confidence, competition, worry, fear of the future, and experiences self-instability. The causes of the crisis will cause different reactions depending on the individual who is experiencing it, such as gender differences in men and women. This study aims to look at differences in quarter-life crisis based on gender in final year students who use Instagram at X University. This study uses comparative quantitative research aimed at finding whether or not there are differences between variables. In this study, there were 124 students who were sampled and divided into 2 groups, namely 62 boys and 62 girls. The sampling technique used purposive sampling. This measuring tool contains 19 items on the Quarter-life crisis scale which have been adapted and modified by Artiningsih and Savira (2021) based on Nash dan Murray (2010) theory. Based on the results of the Mann Whitney test, the sig. of 0.000 which means there is difference between man and women. Based on the results of the descriptive analysis, it was found that female students have a higher quarter-life crisislevel than male students. Keywords: Quarter-life crisis, gender, Instagram
PELATIHAN SELF-CONTROL MENGATASI DORONGAN SEKSUAL DALAM HIDUP MEMBIARA Debi Angelina Br Barus; Maria Isabela; Sesilia Ina Harut; Demetriana Oeleu; Maria Salvy Yunince; Maria Kristina Keron; Magdalena Harcici Haridyani
Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 3 No. 1 (2023): Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/empowerment.v3i1.796

Abstract

Pilihan hidup membiara merupakan hal yang tidak mudah. Dalam menjalankan hidup membiara para biarawan memiliki kewajiban untuk membina hidup rohani yang lebih mendalam. Namun, sebagai seorang biarawan juga yang adalah manusia biasa yang dapat merasakan dan mengalami dorongan kenikmatan duniawi dengan berbagai kebutuhan, salah satunya adalah kebutuhan seksualitas. Penelitian ini bertujuan menerapkan self-control untuk mengatasi dorongan seksual dalam hidup membiara di Wisma St. Rafael Nita. Variabel pada penelitian ini adalah Self-Control dan Dorongan Seksual. Populasi dalam penelitian ini yaitu para frater tingkat 1, 2, 3, dan , dengan jumlah sampel sebanyak 23 orang, di Wisma St. Rafael Nita. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu motode wawancara dan kuesioner (skala seks pra-nikah), dengan menggunakan uji one sample T test. Sebelumnya dilakukan uji normalitas dengan hasil yang diperoleh yaitu [.170], maka data tersebut berdistribusi normal. Hasil pre test uji one sample T test diperoleh hasil .000 (.000<0,05), maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan. Hasil post test dilakukan melalui evaluasi dan diperoleh hasil yaitu para peserta pelatihan mampu memahami setiap materi yang diberikan dan mulai menerapkan metode-metode yang diberikan yang berkaitan dengan selfcontrol terhadap dorongan dalam hidup membiara The choice of cosecrated life is not an easy thing. in carrying out the cosecrated life, the brothers have an obligation to foster a deeper spiritual life. But as a consecrated man who is also an ordinary human being who can feel and experience the urge for worldly pleasures with various needs, one of which is the need for sexuality. This study aims to apply selfcontrol to overcome sexual urges in the consecrated life at Wisma St.Rafael Nita. The variables in this study are selfcontrol and sexual drive. the population in this study were the first, second and third year brothers with a total sample of 23 people, at St. Rafael Nita. The methods used in data collection were interviews and questionnaires (premarital sex scale using the one sample T-test. Previously, the normality test was carried out with the results obtained, namely (.170), so the data is normally distributed. the results of the pre-test T test one sample test obtained results of .000 (.000 <0.05), it can be concluded that there is a difference. the results of the post-test were carried out through evaluation and the results obtained were that the training participants were able to understand each material given and began to apply the methods given related to self-control to overcome sexual urges in religious life
SELF-AWARENESS DAN KEDISIPLINAN DALAM MENAATI PROTOKOL KESEHATAN PADA PEDAGANG PASAR KEMIRI, KEMBANGAN UTARA, JAKARTA BARAT Maulida Zulfa Nurfadhillah; Mariyana Widyastuti; Veronica Kristiyani
Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 3 No. 1 (2023): Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/empowerment.v3i1.797

Abstract

Pasar merupakan area publik dimana penyebaran Covid-19 lebih banyak ditemukan, tercatat hingga tanggal 9 November 2020 sebanyak 1.568 pedagang pasar tradisional yang positif terpapar Covid-19 dan total kasus yang meninggal dunia sebanyak 65. Pasar Kemiri adalah salah satu pasar di Jakarta yang juga pernah ditutup sementara akibat terdapat pedagang yang terpapar virus Covid 19. Faktor yang mempengaruhi penutupan pasar yaitu kurangnya kesadaran diri (self awareness) dan kedisiplinan pedagang dan pembeli dalam menaati protokol kesehatan di lingkungan pasar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kesadaran diri (self awareness) dan kedisiplinan menaati protokol kesehatan pada pedagang Pasar Kemiri, Kembangan Utara, Jakarta Barat. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dengan teknik incidental sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 63 orang pedagang pasar berdasarkan perhitungan teknik Slovin. Pengukuran menggunakan skala kesadaran diri (self awarness) dengan 32 aitem valid dan koefisien reliabilitas α 0,820 dan skala kedisiplinan dengan 22 aitem valid dan koefisien reliabilitas α 0,763. Hasil perhitungan pearson product moment menunjukkan terdapat hubungan positif signifikan (sig 0,001 dan r 0,399) antara kesadaran diri (self awareness) dan kedisiplinan pedagang Pasar Kemiri, Kembangan Utara, Jakarta Barat. Markets are public areas where the spread of Covid-19 is more common, it was recorded that up to November 9 2020 as many as 1,568 traditional market traders were positively exposed to Covid-19 and a total of 65 cases died. Pasar Kemiri is one of the markets in Jakarta that has also been temporarily closed due to traders who were exposed to the Covid 19 virus. Factors influencing market closure were lack of self-awareness and discipline of traders and buyers in adhering to health protocols in the market environment. The purpose of this study was to determine the relationship between self-awareness and discipline in complying with health protocols for traders at Pasar Kemiri, Kembangan Utara, West Jakarta. This research is a correlational study with incidental sampling technique. The number of samples in this study amounted to 63 market traders based on Slovin technique calculations. The measurement using self-awareness scale with 32 valid items and a reliability coefficient of α 0.820 and a disciplinary scale with 22 valid items and a reliability coefficient of α 0.763. The pearson product moment results show that there is a significant positive relationship (sig 0.001 and r 0.399) between self-awareness and the discipline of Pasar Kemiri traders, Kembangan Utara, West Jakarta.
PENGARUH CITRA DIRI TERHADAP PERILAKU KONSUMTIF PEMBELIAN KOSMETIK PADA MAHASISWI DI KARAWANG Adhe Chintiya; Lania Muharsih; Linda Mora
Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 3 No. 1 (2023): Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/empowerment.v3i1.798

Abstract

Perilaku konsumtif adalah suatu fenomena yang banyak melanda mahasiswi saat ini. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif pada mahasiswi adalah citra diri. Dalam proses membentuk citra diri tentang gambaran mengenai dirinya mahasiswi terkadang merasa tidak puas atau kurang percaya diri terhadap penampilan mereka sehingga dalam perkembangannya mahasiswi mempunyai keinginan untuk memakai produk kosmetik dengan alasan ingin terlihat lebih menarik tidak dapat ditolak lagi sehingga dapat mendorong mahasiswi menjadi boros. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh citra diri terhadap perilaku konsumtif pembelian kosmetik pada mahasiswi di Karawang. Skala dalam penelitian kali ini yaitu skala citra diri yang berjumlah 20 aitem dan skala perilaku konsumtif berjumlah 26 aitem. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif. Teknik dalam pengambilan sampel yang digunakan adalah non-probability sampling dengan teknik kuota sampling, sehingga 100 orang menjadi subjek penelitian. Hasil penelitian secara simultan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, maka Ha diterima dan H0 ditolak, artinya ada pengaruh citra diri terhadap perilaku konsumtif pembelian kosmetik pada mahasiswi di Karawang. Besaran pengaruh citra diri terhadap perilaku konsumtif pembelian kosmetik pada mahasiswi di Karawang sebesar 67,7 % dan 32,3 % lainnya dipengaruhi oleh variabel lain. Consumptive behavior is a phenomenon that plagues many female students today. One of the factors that influence consumptive behavior in female students is selfimage. In the process of forming a self-image about a picture of themselves, female students sometimes feel dissatisfied or lack confidence in their appearance so that in its development female students have a desire to use cosmetic products with the reason that they want to look more attractive can not be rejected anymore so that it can encourage female students to be extravagant. The purpose of this study was to determine the effect of self-image on consumptive behavior in purchasing cosmetics on female students in Karawang. The scale in this study is the self-image scale, which consists of 20 items and the consumptive behavior scale, which consists of 26 items. The type of research used in this research is quantitative research methods. The sampling technique used is nonprobability sampling with quota sampling technique, so that 100 people become research subjects. The results of the study simultaneously had a significance value of 0.000 <0.05, then Ha was accepted and H0 was rejected, meaning that there was an influence of selfimage on consumptive behavior in purchasing cosmetics on female students in Karawang. The magnitude of the influence of self-image on the consumptive behavior of purchasing cosmetics on female students in Karawang is 67.7% and the other 32.3% is influenced by other variables.

Page 7 of 13 | Total Record : 130