cover
Contact Name
Yasir Sidiq
Contact Email
lppi@ums.ac.id
Phone
+6282134901660
Journal Mail Official
lppi@ums.ac.id
Editorial Address
Jl. Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Surakarta 57162, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Academic Physiotherapy Conference Proceeding
ISSN : -     EISSN : 28097475     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Academic Physiotherapy Conferences are a series of activities that include international seminars and call papers. This activity aims to improve literacy and scientific publications of physiotherapy which specifically discuss cases related to problems of function and movement of the human body
Articles 34 Documents
Search results for , issue "2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding" : 34 Documents clear
Peran Chest Physiotherapy dalam Optimalisasi Komposisi Gas Darah: Tinjauan Naratif terhadap Mekanisme Fisiologis dan Implikasi Klinis Setiawan, Galih Adhi Isak
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Pasien dengan gangguan pernapasan yang dirawat di ruang intensif sering membutuhkan ventilator mekanik. Pemantauan gas darah arteri (AGD) seperti PaO2, PaCO2, dan pH penting untuk menilai efektivitas ventilasi. Chest physiotherapy (CPT) digunakan sebagai terapi adjuvan untuk meningkatkan ventilasi dan oksigenasi, namun bukti ilmiah mengenai pengaruhnya terhadap komposisi gas darah masih bervariasi.Objective: Meninjau secara naratif efek fisioterapi dada terhadap komposisi gas darah (PaO2, PaCO2, SaO2) berdasarkan bukti ilmiah dari 20 tahun terakhir.Metode: Tinjauan naratif ini mengkaji tujuh artikel penelitian intervensional, termasuk RCT, crossover, dan review sistematis, yang mengevaluasi parameter gas darah pada pasien dewasa, anak, dan neonatus setelah intervensi CPT. Analisis menggunakan pendekatan PICO.Discussion: Teknik seperti manual hyperinflation, oscillating PEP, dan vibrasi mekanik menunjukkan peningkatan PaO2 dan penurunan PaCO2, khususnya pada pasien dewasa ventilator dan anak dengan fibrosis kistik. Namun, pada anak yang mendapat ventilator dan pasien tanpa produksi sputum, CPT tidak menunjukkan perbedaan signifikan atau bahkan menurunkan oksigenasi. Efektivitas sangat tergantung pada teknik dan kondisi pasien.Conclusion: Chest physiotherapy dapat memberikan manfaat terhadap ventilasi dan oksigenasi secara akut, namun memerlukan seleksi pasien dan teknik yang tepat agar aman dan efektif. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan desain yang kuat dan populasi homogen.
Pengaruh Intervensi Mobilization Exercises dan Scar Massage terhadap Kasus Luka Bakar Grade II AB 21,5% pada Anak: A Case Report Syinta, Ahmada Norma; Rahayu, Umi Budi; Hamidah, Nilam Nur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Luka bakar (combustio) pada anak-anak merupakan kondisi yang dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan dan perkembangan, khususnya bila tidak ditangani secara optimal. Salah satu komplikasi umum adalah terbentuknya kontraktur dan keterbatasan mobilitas, sehingga fisioterapi sejak dini sangat penting untuk mencegah disabilitas jangka panjang.Case Presentation: Seorang anak berusia 2 tahun mengalami luka bakar derajat II seluas 21,5% akibat api, dengan lokasi luka pada ekstremitas atas dan bawah. Pasien menunjukkan keterbatasan fungsi gerak, risiko tinggi kontraktur, dan nyeri pada area luka.Management and Outcome: Penanganan fisioterapi dilakukan melalui latihan range of motion (ROM) pasif dan aktif, latihan aktif-terbantu, latihan berdiri dan berjalan, latihan keseimbangan, serta massage pada jaringan parut. Evaluasi dilakukan menggunakan SWEAT untuk integritas kulit, Vancouver Scar Scale, dan WeeFIM sebelum dan setelah dua sesi intervensi. Hasil menunjukkan belum ada perubahan klinis yang signifikan, namun terdapat perbaikan berupa penurunan nyeri dari 5/10 menjadi 4/10, peningkatan fleksibilitas tungkai kiri, dan munculnya refleks meskipun masih minimal. Skor WeeFIM meningkat dari 60 menjadi 61.Conclusion: Intervensi fisioterapi awal memberikan dampak positif meskipun belum signifikan secara klinis. Lanjutan terapi secara rutin disertai program latihan di rumah sangat penting untuk mencegah kontraktur dan mendukung optimalisasi fungsi motorik pada anak dengan luka bakar.
Manajemen Fisioterapi pada Kasus Bronchiectasis et Causa post Tuberculosis Lung Disease (PTLD): Case Report Lathifani, Nabila Rizka; Komalasari, Dwi Rosella; Prayitno, P
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Bronkiektasis adalah penyakit saluran napas kronis yang ditandai dengan batuk produktif dan produksi sputum berlebihan akibat kerusakan permanen pada dinding bronkus. Dyspnea dan kelelahan juga menjadi gejala yang dapat dialami oleh penderita. Pendekatan fisioterapi diperlukan untuk manajemen gejala tersebut.Case Presentation: Penelitian ini merupakan case report dengan single subject research yang dilakukan selama dua hari pada satu pasien wanita penderita bronchiectasis. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui efek pemberian muscle release, diaphragmatic breathing, pursed lip breathing, segmental breathing, postural drainage, serta Active Cycle of Breathing Technique (ACBT). Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan parameter ekspansi thoraks, skala sesak (NRS), fungsi aktivitas (mMRC), dan auskultasi. Terdapat peningkatan ekspansi thoraks sebesar 1,3cm pada segmen axilla dan ICS IV serta 0,8cm pada segmen xyphoid process. Demikian pula suara ronchi yang menurun di area paru tertentu. Namun, tidak terjadi perubahan signifikan pada tingkat sesak (NRS) dengan nilai 2/10 dan aktivitas fungsional (mMRC) dengan grade 1.Conclusion: Intervensi fisioterapi selama dua hari menunjukkan potensi dalam memperbaiki ekspansi paru dan mengurangi suara ronchi pada pasien bronchiectasis. Pendekatan ini dapat menjadi bagian dari manajemen rehabilitasi pasien.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Claw Finger e.c. Morbus Hansen disertai Drop Foot: A Case Report Sari, Etik Yunita; Wahyuni, W; Wijayanti, Christina Wahyu
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Kusta atau lepra merupakan salah satu penyakit menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini dapat menyerang pada area kulit, saraf tepi, saluran pernapasan, dan jaringan tubuh lainnya. Kusta ditandai dengan gejala berupa lesi kulit yang tidak terasa sakit,atau mati rasa serta penurunan sensitivitas kulit, deformitas pada ekstremitas tubuh akibat kerusakan saraf. Meskipun kusta merupakan penyakit yang dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat, jika tidak diobati, penyakit ini dapat menyebabkan cacat permanenpada penderita kusta.Case Presentation: Seorang pasien dengan nama TN. A, laki-laki berusia 28 tahun, didiagnosis menderita claw finger bilateral dan drop foot bilateral. Pasien mengeluhkan nyeri di tangan kiri dan mati rasa di telapak tangan kanan, khususnya pada area jari keempat dan kelima. Ia juga kesulitan untuk meluruskan jari-jarinya.Management and Outcome: Diberikan intervensi fisioterapi sebanyak 2 kali pertemuan selama 2 minggu diapatkan hasil pada kekuatan otot yang masi sama , pengukuran lingkup gerak sendi yang meningkat , dan peningkatan kemampuan fungsional yang masi samaDiscussion: Pemberian intervensi fisioterapi dalam dua pertemuan menunjukkan hasil bahwa kekuatan otot tidak berubah, lingkup gerak sendi sedikit meningkat, dan aktivitas fungsional tetap sama. Kerusakan saraf butuh waktu lama untuk sembuh, sehingga diperlukan waktu evaluasi lebih lama. Penelitian yang lebih lama dapat memberikan hasil yang baik untuk evaluasi jangka panjangnConclusion: Intervensi fisioterapi dalam dua pertemuan tidak mengubah peningkatan otot, sedikit peningkatkan lingkup gerak sendi, serta tidak mengubah aktivitas fungsional sehari-hari. Pemulihan saraf butuh waktu lama. Penelitian lebih panjang bisa menghasilkan hasil yang lebih baik.
Manajemen Fisioterapi pada Kasus Cervical Root Syndrome di RSJ Soerojo Magelang: Studi Kasus Salsabila, Dika Tiara; Pristianto, Arif; Fauzan, Muhammad
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Cervical Root Syndrome merupakan skondisi abnormal yang diakibatkan oleh peradangan atau kompensasi akar saraf cervical, yang dapat terjadi karena trauma. Arthritis, atau penekanan discus intervertebralis di daerah leher. Indikasi penderita mengalami CRS mengakibatkan keluhan dari CRS yaitu terdapat otot spasme, nyeri menjalar hingga lengan serta kesemutan, rasa kebas ditangan dan keterbatasan lingkup gerak sendi yang mengakibatkan penurunan aktivitas fungsional pasien.Case Presentation: Penelitian ini menggunakan metode case report (studi kasus) yang dilaksanakan di RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang pada bulan September 2024. Responden penelitian ini pada pasien Ny. U usai 46 tahun dengan diagnosa Cervical Root Syndrome. Pasien merupakan pegawai kasir. Pasien datang dengan keluhan nyeri belakang leher hingga ke jari-jari tangan kanan, rasa seperti tertusuk-tusuk dan jari tangan terasa lemah saat menggenggam atau mengambil barang. Nyeri dirasakan sejak 3 bulan yang lalu. Pasien telah periksa ke RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang pada bulan Agustus 2024 dan dilakukan rontgen didapatkan adanya penjepitan syaraf pada cervical C5-C7.Management and Outcome: Manajemen fisioterapi yang diberikan dalam penangan CRS yang bertujuan untuk meredakan nyeri, ketegangan otot, meningkatkan range of motion serta aktivitas fungsional, berupa modalitas intervensi yang bertujuan untuk meredakan beberapa keluhan yang dirasakan pasien CRS seperti Ultrasound, stretching, mobilisasi saraf, latihan isometrik. Alat ukur yang digunakan berupa NRS untuk mengevaluasi derajat nyeri, MMT untuk evaluasi kekuatan otot, serta NDI untuk evaluasi kemampuan fungsional.Discussion: Program fisioterapi yang dberikan pada kasus Cervical Root Syndrome (CRS) bertujuan untuk meredakani nyeri, meningkatkan range of motion, mengurangi ketegangan otot, dan meningkatkan aktivitas fungsional sehari-hari. Intervensi yang diberikan berupa US, mobilisasi saraf, latihan isometrik, dan stretching. Conclusion: Penatalaksanaan program fisioterapi yang diberikan sebanyak 3 kali yang mendapat pengobatan berupa ultra sound, stretching, mobilisasi saraf, latihan isometrik dapat mengurangi nyeri serta meningkatkan kemampuan fungsional.
Physiotherapy Management in Cases of Lumbar Radiculopathy e.c Lumbal Spondylosis: Case Report Winanti, Milan Dwi; Sudaryanto, Wahyu Tri; Narti, Kingkin
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Lumbar radiculopathy akibat spondylosis lumbalis menyebabkan nyeri menjalar dan gangguan aktivitas fungsional. Fisioterapi berperan dalam mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsional pasien.Objectives: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intervensi fisioterapi berupa kombinasi Short Wave Diathermy (SWD), Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), latihan neurodinamik, stretching, dan strengthening terhadap penurunan intensitas nyeri, peningkatan kekuatan otot trunk, serta peningkatan aktivitas fungsional pada pasien dengan lumbar radiculopathy akibat spondylosis lumbalis.Method: Penelitian ini menggunakan desain case report dengan pendekatan single subject research pada wanita usia 45 tahun. Intervensi terdiri dari SWD, TENS, latihan neurodinamik, stretching, dan strengthening selama empat sesi. Evaluasi menggunakan NPRS, MMT, dan ODI.Result: Terjadi penurunan skor nyeri dari 8 menjadi 3, dan skor ODI dari 15 menjadi 7, yang menunjukkan perbaikan gejala dan peningkatan aktivitas fungsional. Namun, tidak terjadi peningkatan bermakna pada kekuatan otot trunk, dengan nilai MMT tetap pada 3.Conclusion: Kombinasi terapi fisioterapi berupa SWD, TENS, latihan neurodinamik, stretching, dan strengthening efektif dalam menurunkan nyeri dan meningkatkan aktivitas fungsional pada pasien dengan lumbar radiculopathy akibat spondylosis lumbalis. Namun, tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan kekuatan otot trunk dalam jangka pendek.
Efektivitas Myofacial Release terhadap Nyeri dan Disabilitas pada Low Back Pain Chronic Non Specific: A Narrative Review Ananda, Risti; Komalasari, Dwi Rosella
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Low Back Pain Chronic Non Specific merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal paling umum yang menjadi penyebab utama disabilitas global, khususnya pada lansia. Gaya hidup sedentari menjadi faktor risiko utama, dengan nyeri berlangsung lebih dari tiga bulan tanpa penyebab patoanatomi spesifik, serta berdampak signifikan pada kualitas hidup dan biaya ekonomi. Tujuan; mengevaluasi efektivitas terapi manual, khususnya Myofascial Release (MFR), dalam mengurangi nyeri, meningkatkan fungsi, dan mobilitas pada penderita Low Back Pain Chronic Non Specific.Method; Studi ini menggunakan metode narrative review berdasarkan pencarian artikel melalui Google Scholar dan PubMed dengan kata kunci relevan. Artikel yang diseleksi adalah RCT berbahasa Inggris, dipublikasikan antara 2020–2025, dengan sampel >30 orang, dan akses penuh.Result menunjukkan bahwa MFR efektif dalam menurunkan nyeri dan meningkatkan fungsi punggung bawah. Dibandingkan Muscle Energy Technique (MET), MFR menunjukkan hasil baik, walaupun MET lebih unggul dalam meningkatkan fleksibilitas dan keseimbangan otot pada beberapa studi. Kombinasi MFR dengan teknik lain seperti Core Stability Exercise (CSE), Postero-Anterior Mobilization, atau Mulligan SNAGs menghasilkan manfaat tambahan, terutama dalam meningkatkan mobilitas spinal dan mengurangi ketegangan fasial.Conclusion: terapi manual seperti MFR, MET, CSE, dan SNAGs efektif dalam menangani nyeri dan disabilitas pada pasien Low Back Pain Chronic Non Specific. MFR sangat berguna pada kasus dengan keterbatasan mobilitas akibat disfungsi jaringan lunak. Pendekatan multimodal dan kombinasi terapi disarankan untuk hasil klinis yang optimal. Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengevaluasi efek jangka panjang dari kombinasi teknik ini.
Efektivitas Latihan Fisik terhadap Sindrom Metabolik pada Lansia: Systematic Review Amithya, Farita Adhynda
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Intrpduction: Sindrom metabolic pada lansia meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2. Latihan fisik merupakan langkah pemberinan intervensi non-farmakologis yang potensial untuk mengelola metabolic syndrome.Objectives: menilai efektivitas berbagai jenis latihan fisik dalam memperbaiki parameter sindrom metabolic yang banyak terjadi pada populasi lansia.Method: penelurusan literatur dilakukan pada database PubMed yang diterbitkan antara 2015-2025. Kriteria inklsi meliputi studi dengan subjek lansia lebih dari 60 tahun dan memiliki diagnose sindrom metabolic dan menerima berbagao intervensi latihan fisik.Result: Intervensi latihan fisik terutama latihan aerobic dan kombinasi latihan lain menunjukkan hasil penelitian terjadi peningkatan signifikan pada parameter sindrom metabolic termasuk dalam penurunan tekanan darah, lingkar pinggang, kadar glukosa darah, dan peningkatan profil lipid.Conclusion: latihan fisik dengan berbagai jenis latihan fisik terbukti efektif dalam memperbaiki parameter sindrom metabolic pada lansia. Latihan fisik diharapkan menjadi bagian dari lifestyle yang berkelanjutan.
Efektivitas Terapi Ultrasound dalam Penanganan Diabetic Foot Ulcer: Tinjauan Naratif Jannah, Nadiya Izzatul
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Diabetic Foot Ulcer merupakan komplikasi kronis pada pasien diabetes mellitus yang berpotensi menyebabkan infeksi, morbiditas, hingga amputasi. Terapi ultrasound menjadi salah satu pendekatan biofisik yang menunjukkan potensi dalam mempercepat proses penyembuhan luka.Objectives: Tinjauan naratif ini bertujuan mengevaluasi efektivitas terapi ultrasound, baik sebagai intervensi tunggal maupun dalam kombinasi dengan modalitas lain seperti stimulasi listrik.Method: Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed dan Google Scholar, mencakup artikel terbitan tahun 2015-2025.Result: Hasil review terhadap enam studi menunjukkan bahwa penggunaan Ultrasound-Assisted Wound Debridement (UAW) dan Combined Ultrasound and Electrical Current Stimulation (CUSECS), dapat mempercepat penyembuhan luka, meningkatkan proliferasi sel, serta mengurangi ukuran luka. Meskipun demikian, sebagian studi memiliki keterbatasan berupa ukuran sampel kecil dan ketidakterbukaan desain.Conclusion: Simpulan dari tinjauan ini menyatakan bahwa terapi ultrasound merupakan modalitas adjuvan yang menjanjikan dalam penanganan Diabetic Foot Ulcer, meskipun dibutuhkan uji klinis berskala besar untuk mendukung penerapannya secara luas di praktik klinis.
Latihan untuk Meningkatkan Keseimbangan, Kekuatan Ekstremitas Bawah dan Mengurangi Risiko Jatuh pada Lansia: Tinjauan Naratif Salsabila, Shofa Salma; Dewangga, Mahendra Wahyu
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Prevalensi populasi lansia di Indonesia mencapai 12% pada tahun 2024 dan di Jawa Tengah mencapai 15,46%. Adanya ageing process yang terjadi pada lansia berpengaruh terhadap keseimbangan hingga risiko jatuh pada lansia. Latihan fisik dapat mengurangi risiko jatuh pada lansia. Oleh karena itu, diperlukan adanya identifikasi latihan apa saja yang dapat meningkatkan keseimbangan, kekuatan ekstremitas bawah, dan mengurangi risiko jatuh pada lansia.Objectives: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi latihan yang dapat meningkatkan keseimbangan, kekuatan ekstremitas bawah dan menurunkan risiko jatuh pada lansia.Method: Penelitian ini menggunakan metode tinjauan naratif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara menelusuri artikel dari database Pubmed. Artikel yang digunakan adalah artikel terbitan lima tahun terakhir (2020-2025) dan menggunakan bahasa Inggris. Didapatkan empat artikel yang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.Result: Sebanyak empat studi Randomized Controlled Trial yang dianalisis menunjukkan bahwa berbagai jenis latihan, yaitu baduanjin exercise, otago exercise, gaze stability exercise, taekkyon-based exercise, dan virtual reality training efektif meningkatkan keseimbangan dan kekuatan ekstremitas bawah serta menurunkan risiko jatuh pada lansia. Hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan rata-rata skor berg balance scale, 30s-chair stand test dan penurunan rata-rata skor timed up and go test.Conclusion: Latihan memiliki berbagai manfaat untuk lansia, salah satunya adalah untuk meningkatkan keseimbangan dan kekuatan ekstremitas bawah serta menurunkan risiko jatuh pada lansia.

Page 2 of 4 | Total Record : 34