cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Phone
+6285278566869
Journal Mail Official
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Editorial Address
Data Center Building - Kampus II Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Jln Gurun Aua Kubang Putih Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam Sumatera Barat Telp. 0752 33136 Fax 0752 22871
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies
Core Subject : Religion, Social,
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies is an international journal published by the State Islamic Institute of Bukittinggi, West Sumatra, Indonesia. It specializes in research on Islamic and social problems from a range of disciplines and interdisciplinary fields. The interdisciplinary approach in Islamic studies is used as a method to discuss and find solutions to contemporary problems and social issues. The topic covered by this journal includes fieldwork studies with different viewpoints and interdisciplinary studies in sociology, anthropology, education, politics, economics, law, history, literature, and others. The editorial team invites researchers, scholars, and Islamic and social observers to submit research articles that have never been published in the media or other journals.
Articles 216 Documents
BEING MUSLIM AND MOTIVATION IN LEARNING ARABIC: AN INSIGHT FROM THREE DECADES Isral Naska
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.941 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i2.418

Abstract

This article is a literature review on accessible three decades publicized studies about student motivation learning Arabic which was conducted in different countries and contexts. Due to the importance of Arabic in Islam as the sacred language, those research are expected to reveal the religious aspects in maintaining and shaping student motivation in learning Arabic. Unfortunately, the issue did not likely obtain adequate attention from most of the researchers. Interestingly though, review on that studies still managed to reveal that the researchers apparently mentioned the role of identity in their studies. However, it was not supported by the proper analysis which made only little can be recognized from the role of religious identity in shaping the motivation. This circumstance likely has taken place since most of the researchers did not use the poststructuralist approach which may bring them to reveal a deeper understanding of the role of identity in Arabic language learning. Furthermore, in order to obtain the more precise finding on the role of identity in maintaining student motivation, it is suggested to use the approach when addressing student motivation during Arabic learning process. Artikel ini adalah sebuah literatur review terhadap penelitian-penelitian tentang motivasi belajar Bahasa Arab sekitar 3 dekade belakangan yang dilakukan pada beberapa negara dengan konteks yang berbeda-beda. Peran Bahasa Arab sebagai bahasa yang penting dalam Islam, seharusnya mengantarkan penelitian yang ada mengungkap adanya aspek-aspek religiustitas dalam pembentukan motivasi belajar. Sayangnya, hal ini tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari sebagian besar peneliti. Menariknya kendatipun hal tersebut terjadi, yaitu tidak tertangkapnya aspek religiusitas secara memadai, review terhadap hasil-hasil penelitian tersebut menunjukkan peran identitas religius para siswa tetap terlihat. Hanya saja hal tersebut tidak didukung oleh analisis yang memadai sehingga tidak banyak wawasan yang dapat diperoleh sekaitan dengan peran identitas religius tersebut. Hal ini terjadi karena kebanyakan peneliti tidak menggunakan pendekatan yang memungkinkan mereka mengeksplorasi peran identitas religius siswa dalam pembentukan motivasi belajar secara lebih mendalam, yaitu pendekatan post-structuralist. Dengan demikian, untuk memperoleh temuan yang lebih presisi, studi selanjutnya disarankan untuk menggunakan pendekatan post-structuralist untuk memahami peran identitas religius dalam pembentukan motivasi belajar Bahasa Arab
ENGLISH AS LINGUA FRANCA AND ASEAN ECONOMIC COMMUNITY (AEC): A PERSPECTIVE OF ISLAMIC ECONOMY FACULTY IN BUILDING STRONG MUSLIM STUDENTS IN IAIN BUKITTINGGI Widya Syafitri; Febria Sri Artika
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 5, No 1 (2019): June 2019
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (758.001 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v5i1.1096

Abstract

Since English was declared as lingua franca and also because more foreign companies established in Indonesia, so mastering English is becoming one of the most important preparations for the Indonesian nation to face AEC (ASEAN Economic Community). This article aimed to explore about the importance of English for Moslem students in AEC preparation, Moslem students’ English competency for struggling AEC, and to see curriculum concern on fulfilling the need of Moslem students relate to AEC. This research was developed qualitatively. It was found that learning English is very crucial for Moslem students since AEC has started. However, their English competency has not been balanced with the need because IAIN Bukittinggi has just implemented English in two semesters only. It is not sufficient to meet the need of Islamic Economic human resources challenges AEC Semenjak bahasa Inggris dideklarasikan menjadi bahasa pengantar atau bahasa Lingua Franca  dalam perdagangan bebas ASEAN,  juga karena semakin banyaknya perusahaan asing berdiri di Indonesia setelah diberlakukannya  pasar bebas, menyebabkan menguasai bahasa Inggris menjadi salah satu persiapan penting bagi bangsa Indonesia untuk menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Artikel ini bertujuan untuk mengupas tentang pentingnya bahasa Inggris dalam persiapan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean. Tulisan ini juga bertujuan untuk melihat kemampuan bahasa Inggris mahasiswa Islam terkhusus di IAIN Bukittinggi serta ingin mengetahui apakah kurikulum yang diterapkan di IAIN Bukittinggi sudah memenuhi kebutuhan mahasiswa terkait persiapan mereka menyambut MEA. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Inggris sangat penting bagi mahasiswa Muslim dalam menghadapi MEA. Namun kemampuan bahasa Inggris mereka belum untuk memenuhi tantangan MEA, hal ini disebabkan karena bahasa Inggris hanya dipelajari dalam dua semester selama perkuliahan Strata 1.
Youth’s Behaviour Towards Halal Tourism In West Sumatra Nurul Huda; Nova Rini; Muslikh Muslikh; Zulihar Zulihar
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 7, No 1 (2021): June 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.503 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v7i1.4305

Abstract

Research on the behavior of the millennial generation towards halal tourism in Indonesia is still limited This article aims to look at millennial generations' role (especially students) in visit halal tourism in the West Sumatra region. The research method used is quantitative with the sampling technique is purposive sampling, so that the data analyzed is valid. The analytical method used is the Structural Equation Model (SEM) method with SmartPLS software. The number of respondents was 156. This study indicates that the Islamic Religiosity variable significantly influenced millennial attitudes and behaviour in purchasing halal tourism. Meanwhile, the variable of halal tourism knowledge in this study influenced their behaviour significantly. Still, it did not significantly affect their attitudes. Islamic Religious Millennial generation has a significant effect on attitudes toward purchasing halal tourism. Halal knowledge of the millennial generation, Islamic Religious Millenial, and Attitude significantly influences purchasing halal tourism.Penelitian mengenai perilaku millennial terhadap wisata halal di Indonesia masih terbatas. Artikel ini bertujuan untuk melihat peran generasi milenial (khususnya mahasiswa) dalam kunjungan ke wisata halal di wilayah Sumatera Barat. Metode penelitian adalah kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling, sehingga data yang dianalisa akan valid. Metode analisa yang digunakan adalah metode Structural Equation Model (SEM) dengan software SmartPLS. Jumlah responden 156. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel Religiusitas Islam berpengaruh signifikan terhadap sikap dan perilaku milenial dalam pembelian wisata halal. Sedangkan variabel pengetahuan pariwisata halal dalam penelitian ini berpengaruh signifikan terhadap perilaku mereka. Meski begitu, hal itu tidak terlalu mempengaruhi sikap mereka. Generasi Milenial Religius Islam berpengaruh signifikan terhadap sikap pembelian wisata halal. Pengetahuan Halal Generasi Milenial, Milenial Religius Islam, dan Sikap berpengaruh signifikan terhadap perilaku pembelian wisata halal.
TRADISI LOKAL PAGANG GADAI DALAM MASYARAKAT MINAGKABAU Hasneni - Hasneni
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 1, No 1 (2015): June 2015
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1900.972 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v1i1.6

Abstract

The implementation of ‘pagang gadai’ in Minangkabau’s local tradition is the lending agreement by giving assurance to the borrower, as long as the debt is not paid yet, so the assurance is still held by the borrower. This tradition arose through the principle of communal land ownership in Minangkabau’s maternal lineage that communal land ownership is not a private poverty and it cannot be traded. Thus, this local tradition came from an agreement that the main purpose was to help people inside the community. Moreover, it also has social function because most of people who pawn and lien holder is still in one community, in one tribe, and in one region. Besides, Islam came to Minangkabau when the tradition of “pagang gadai” had been a habitual tradition from generation to generation. However, in some views this tradition is contrary to Islamic rules; whether the pawning materials can be used by the pawning receiver. Pelaksanaan pagang gadai dalam tradisi lokal adat Minangkabau adalah perjanjian pinjam meminjam dengan memberikan jaminan kepada si peminjam, selama hutung itu belum dibayar maka barang jaminan akan tetap berada di tangan si peminjam. Tradisi ini muncul di tengah prinsip kepemilikan tanah yang bersifat komunal dalam adat matrineal Minangkabau bahwa tanah milik komunal adalah tanah yang tidak dimiliki secara privat dan tidak boleh diperjualbelikan. Sehingga tradisi lokal pagang gadai ini timbul dari suatu perjanjian yang bersifat tolong menolong, berfungsi sosial, sebab kebanyakan orang yang mengadaikan dan si pemegang gadai adalah orang yang masih sekaum, sesuku, dan sejauh-jauhnya adalah senagari. Di samping itu, Islam masuk ke dalam masyarakat adat Minangkabau disaat tradisi pagang gadai telah menjadi kebiasaan turun temurun masyarakatnya. Namun dalam beberapa pandangan, tradisi pagang gadai ini terdapat pertentangan dengan apa yang diatur oleh hukum Islam. Pertentangan terjadi dalam hak apakah barang gadaian itu boleh dimanfaatkan oleh si penerima gadai.
KEBIJAKAN KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM: REFLEKSI ATAS KEPEMIMPINAN RKY RAHMAH EL YUNISIYAH Syafwan Rozi; Devi Wahyuni
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.593 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i1.273

Abstract

Normative female leadership has very strong legitimacy, both theologically, philosophically, and legally. One of them is Presidential Instruction No. 9 of 2000 on gender mainstreaming in National Development which requires all National Development Program policies and programs to be designed with a gender perspective. Education that has a basic concept as a process of transfer of value and transfer of knowledge can not be separated from the role and participation of women with the condescendent characteristics, educators, compassionate which is the key to the world of education. However, when it comes to the issue of women's public role it is still a hot and central issue both locally and nationally. The issue is still very seriously debated by society scientifically. Is it proper and capable if women appear to lead the public in social sectors including education. If we do reflections from the past of women's leadership journey, the answer will be found. As the work of Rky Rahmah el Yunusiyyah very subtle in 1923 when establishing a special religious school for women Diniyyah Puteri. The girls' Special School is the main female pillar in Minangkabau to establish its influence in the ranks of religious leadership in the effort to combine religious education and modern education. How a Rahmah strugles with traditions/ customs and religions to assure her debut and her work in leading an institution. In the contemporary context that needs to be prepared by women is the empowerment of independent and intelligent attitudes, so that the potential possessed can develop optimally. Kepemimpinan perempuan secara normatif memiliki legitimasi yang sangat kuat, baik secara teologis, filosofis maupun hukum. Salah satunya adalah Instruksi Presiden (Inpres) nomor 9 tahun 2000 tentang pengarusutamaan gender dalam Pembangunan Nasional yang mengharuskan seluruh kebijakan dan Program Pembangunan Nasional dirancang dengan perspektif gender. Pendidikan yang mempunyai konsep dasar sebagai proses alih nilai (transfer of value) dan alih pengetahuan (transfer of knowledge) tidak bisa dilepaskan dari peran dan keikutsertaan kaum hawa dengan sifat pengayom, pendidik, pengasih yang merupakan kunci utama dunia pendidikan. Hanya saja, ketika menyinggung persoalan peran publik perempuan masih merupakan isu hangat dan sentral baik secara lokal maupun secara nasional. Persoalan tersebut masih sangat serius diperdebatkan oleh masyarakat. Apakah pantas dan mampu perempuan tampil memimpin publik di sektor sosial kemasyarakatan termasuk pendidikan. Kalau kita lakukan refleksi dari perjalanan kepemimpinan perempuan masa lalu akan ditemukan jawabannya. Seperti kiprah Rky Rahmah el Yunusiyyah sangat kentara pada tahun 1923 pada saat mendirikan Sekolah agama khusus untuk perempuan Diniyyah Puteri. Sekolah Khusus putri ini adalah pilar utama perempuan di Minangkabau untuk menegakkan pengaruhnya dalam jajaran kepemimpinan agama dalam upaya menggabungkan pendidikan agama dan pendidikan modern. Bagaimana seorang Rahmah bergulat dengan tradisi/adat dan agama untuk meyakinkan debut dan kiprahnya dalam memimpin sebuah lembaga. Dalam konteks kekinian yang perlu dipersiapkan kaum perempuan adalah pemberdayaan sikap mandiri dan cerdas, sehingga potensi yang dimiliki bisa berkembang seoptimal mungkin.
FUNGSI FORUM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA (FKUB) DALAM SISTEM SOSIAL PENCIPTAAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI KABUPATEN PASAMAN BARAT Ferdi Ferdian
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 4, No 2 (2018): December 2018
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.189 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v4i2.786

Abstract

TThis article is about the establishment of tolerance between groups of religious followers at the regencey level. FKUB, which means the forum for religious harmony, have been established since 2006 to maintain the religious harmony among different religious followers in Indonesia. The forum was formed after a joint policy between the Minister of Religious Affairs and the Minister of Internal Affairs. The joint policy was constructed based on the view that the governmental effort on facilitating communication and dialog between different religious leaders will prevent the horizontal conflict between religious followers. This paper is aimed to investigate the FKUB’s role in establishing tolerance between groups of the religious followers in West Pasaman Regency. This paper is mainly focused on investigating the activities organized to maintain the inter-religious harmony in the regency. By using indepth interview technique and the Functional Structural Theory are used and implemented to portray the contribution of FKUB to the establishment of the religious harmony. It is found that FKUB conducts various activities in playing their role, that are facilitating a series of dialogue between religious groups and community leaders and conducting investigations and mediations as they are needed. FKUB of West Pasaman Regency integrate itself to the social system of the community which allow them to manage the inter-religious harmony in West Pasaman. Artikel ini adalah tentang penciptaan toleransi antar pemeluk agama pada tingkat kabupaten. Forum Kerukunan Ummat Beragama (FKUB) mulai dari tingkat nasional sampai pada tingkat kabupaten/ kota didirikan oleh pemerintah setelah reformasi (2006) untuk menciptakan kerukunan umat beragama di Indonesia. Kebijakan ini merupakan kebijakan bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri didasarkan pada pandangan bahwa konflik-konflik agama yang terjadi dapat dikendalikan dengan mewadahi komunikasi antar pemuka-pemuka agama yang berbeda. Artikel ini akan menyampaikan hasil penelitian tentang fungsi FKUB menciptakan toleransi antar umat bergama di Kabupaten Pasaman Barat, yang terdiri dari pemeluk agama yang berbeda. Fokus penelitian pada aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk menjaga kerukunan antar umat beragama di Kabupaten Pasaman Barat. Dengan menggunakan teknik wawancara mendalam dan Teori Struktural Fungsional, artikel ini akan menunjukkan bahwa untuk menciptakan kerukunan antar umat beragama FKUB Pasaman Barat melakukan berbagai kegiatan yakni melakukan dialog dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat, melakukan investigasi dan mediasi. Dalam melakukan berbagai aktivitas-aktivitas, FKUB Pasaman Barat menduduki posisi integrasi dalam sistem sosial kerukunan beragama di Kabupaten Pasaman Barat dan memainkan peranan sebagai penjaga kerukunan antar umat beragama.
Responding to Islamophobia by Internalizing the Value of Islam Rahmatan lil Alamin through Using the Media Muhamad Parhan; Mohammad Rindu Fajar Islamy; Nurti Budiyanti; Risris Hari Nugraha; Pandu Hyangsewu
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.355 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i2.3695

Abstract

This article focuses on an inaccurate understanding of Islam that causes hatred, anxiety, and unfounded fear of the Muslim community. On account of this view of Islam, Muslims face hostility, discrimination, intolerance, and racism. This attitude is increasingly seen in mass media propaganda that presents a partial and inaccurate view of the religion. Islam is presented as a violent belief system and is responsible for radicalism and terrorism. The media greatly influences social reality. They function as a spectacle, but they also influence public opinion on a range of issues. The research design of this paper uses literature review with descriptive analysis. The results show that internalizing the Islamic value of rahmatan lil alamin (“being a mercy to the world”) through the media is a solution that can rectify misconceptions about Islam. Along with the foundation of amar ma’ruf nahi munkar (“enjoining the good and forbidding the evil”), the value of “being a mercy to the world” can transform people into educators (muaddib), agents of correct information (musaddid), reformers (mujaddid), unifiers (muwahhid), and fighters (mujahid). Artikel ini fokus terhadap pemahaman Islam dengan perspektif yang salah, sehingga menimbulkan kebencian, kecemasan, dan ketakutan yang tidak berdasar serta berlebihan kepada individu maupun komunitas Islam. Akibatnya timbul permusuhan, diskriminasi, intoleransi, dan rasisme. Sikap ini semakin terlihat melalui propaganda media massa yang menampilkan kontroversi yang tidak benar dan parsial terhadap Islam, media merepresentasikan Islam dengan kekerasan dan radikal melalui fenomena terorisme. Kehadiran media sangat berpengaruh terhadap realitas sosial yang tidak hanya berfungsi sebagai tontonan tetapi menjadi tuntunan yang menggiring opini publik dalam merubah sikap, pandangan, dan perilaku. Desain penelitian menggunakan literature review dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Internalisasi nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin melalui media merupakan solusi dalam meluruskan pemahaman yang keliru tentang Islam, yang berfungsi sebagai pendidik (muaddib), agen informasi yang benar (musaddid), menjadi pembaharu (mujaddid), pemersatu (muwahhid), dan pejuang (mujahid) dengan dasar amar ma’ruf nahi munkar.
ظاهرة العنف اللغوي في الميزان الشرعي، المشكلات والحلول Hayati MA
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 2, No 1 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (968.782 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v2i1.104

Abstract

انتشرت ظاهرة العنف اللغوي بين ظهرانى المجتمع الإنساني في شتى المجالات والميادين واحتوت أوجهه المختلفة إلى عدة أشكاله وتأثيره المباشر ولم يوجد أي قانون كاف عادل للقضاء على هذه الظاهرة فقد استفاد بعض الناس فى بعض الأحيان لظلم الآخرين أو تكون وسيلة للاعتداء على الآخرين. و كل نوع من أوجه العنف اللغوي تعتبر ضمن القضايا الجنائية، فالإسلام كالمنهج الشامل للحياة البشرية تحتوى أحكامه على القضاء العادل لجميع قضايا الناس، وقد أصبح قانونا عادلا للقضاء على كافة الجرائم لإنسانية بصورة عامة وأما ظاهرة العنف اللغوي قد تكلم به الإسلام مسبقا بالأدلة القرآنية والسنة النبوية. وأما العقوبة الوضعية الموجودة لهذه الظاهرة حاليا لم تأت بالحل الواضح، والتعاليم الإسلامية جاءت بالحل الواضح لتحسين أحوال الناس. Problematika kekerasan bahasa telah menyebar dalam kehidupan masyarakat meliputi segala aspek kehidupan. Peliknya problematika ini disebabkan oleh luasnya cakupan kekerasan bahasa, beragam coraknya dan dampak langsungnya. Sehingga undang-undang yang ditetapkan belum mewakili problematika yang menggurita bahkan terkadang ada pihak yang terzholimi oleh undang-undang tersebut atau ada pihak yang memanfaatkan hukum sebagai alat untuk pelampiasan kemarahan, dendam, kebencian dan permusuhan. Kemudian semua corak kekerasan bahasa dikategorikan sebagai kasus pidana. Islam sebagai tuntunan hidup yang komprehensif telah menetapkan aturan yang adil dan bijaksana dengan mengkategorikan kekerasan bahasa kepada kategori pidana yang memiliki ketentuan absolute dari sumber hukum Islam dan kategori perdata yang tidak ada ketentuan kongkrit. Dari segi sanksi, undang-undang menetapkan sanksi berdasarkan tingkat keberatan kasus tanpa menyertainya dengan solusi perbaikannya. Sedangkan Syari’at Islam menetapkan sanksi disertai dengan tawaran solusi dan perbaikan.
PERAN PANITIA PENGAWAS PEMILU (PANWASLU) DALAM MENEKAN KEMUDARATAN POLITIK UANG PADA WILAYAH YANG DIKUASAI LOCAL STRONGMEN : STUDI PADA PEMILIHAN KEPALA DAERAH KOTA CIMAHI TAHUN 2017 Arlan Sidha; Witjaksono Witjaksono
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 4, No 1 (2018): June 2018
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.364 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v4i1.507

Abstract

The direct election of regional heads in a democratic system, in fact, becomes a challenge for a region to provide intelligent political education for its people. Unfortunately, however, the challenge must be tested by a group of strong people (local strongmen) an area that has its own characteristics in preserving its power for many years. Therefore, in this article, will be studied how the role of Election Supervisory Committee (Panwaslu) Cimahi City in dealing with money politics and local strongmen hegemony. This research uses descriptive qualitative method with structured interview. The results of this study show that Panwaslu Kota Cimahi runs two roles, namely the role in the preparation stage and the role at the implementation stage. Where the results of both new formal actions and has not entered into the realm of substantial Direstuinya pemilihan umum kepala daerah secara langsung dalam sistem demokrasi, sejatinya menjadi tantangan tersendiri bagi suatu daerah untuk memberikan pendidikan politik yang cerdas bagi masyarakatnya. Namun sayangnya, tantangan tersebut harus diuji oleh sekelompok orang kuat (local strongmen) suatu wilayah yang memiliki karakteristik tersendiri dalam melestarikan kekuasaannya hingga bertahun-tahun. Maka dari itu dalam artikel ini, hendak dikaji bagaimana peran dari Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Cimahi dalam menyikapi politik uang serta hegemoni local strongmen. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan wawancara terstruktur. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa Panwaslu Kota Cimahi menjalankan dua peran, yakni peran pada tahap persiapan dan peran pada tahap pelaksanaan. Dimana hasil dari keduanya baru tindakan-tindakan formal dan belum masuk ke ranah substansial
Islamic Law and Gender: The Collapse of the Oligarchical-Patriarchal Culture in the Konawe Region of Southeast Sulawesi Ipandang Ipandang
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.177 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i1.3247

Abstract

This article focuses on the efforts of women in the Konawe Region of Southeast Sulawesi who seek to gain an egalitarian position in the midst of oligarchical-patriarchal culture. Divorce claims as a trend of regional social become the main discourse on the dynamics of marriage law – in this context of Islamic law perspective. It is ordinarily for this research to use a qualitative approach aimed at forming substantive theories based on the concept of empirical data. The informants of this article were determined using a purposive technique, data collection techniques using in-depth interviews and participant observation, and the interactive model of Miles and Hubermann was used as a data analysis model. This research conclusively found that the power of oligarchic-patriarchal culture lies and legitimized by the interpretation of Islamic religious texts from the Qur’an and Sunnah. This effort also appears massive in the form of "rebellious" actions such as divorce to form an asymmetrical culture. This research examined this pattern in terms of asymmetric gender, namely the movement egalitarian of women who are incompatible with the ideals of male superiority in patriarchal-culture religion.Artikel ini fokus pada upaya perempuan masyarakat Daerah Konawe Sulawesi Tenggara yang berusaha mendapatkan posisi egaliter di tengah budaya oligarkis-patriarkis. Gugat cerai sebagai tren kemasyarakatan daerah tersebut menjadi diskursus utama dinamika hukum pernikahan –dalam konteks ini perspektif hukum Islam. Lazim apabila riset ini menggunakan pendekatan kualitatif yang ditujukan pada pembentukan teori substantif berdasarkan konsep data empiris. Informan artikel ini ditentukan dengan teknik purposive, teknik pengumpulkan data menggunakan wawancara mendalam dan observasi partisipan, dan model interaktif Miles dan Hubermann dijadikan sebagai model analisis data. Riset ini secara konklutif menemukan, keperkasaan budaya oligarkis-patriarkis ada serta dilegitimasi oleh penafsiran terhadap teks-teks keagamaan Islam dari Qur’an dan Sunnah. Upaya ini pun masif muncul dalam bentuk tindakan “memberontak” seperti gugat cerai hingga membentuk budaya asimetris. Riset ini mengistilahkan pola tersebut dengan istilah gender asimetris, yaitu gerakan egaliter kaum perempuan yang tidak kesesuaian dengan cita superioritas laki-laki di budaya patriarkis-religius

Page 7 of 22 | Total Record : 216