cover
Contact Name
Octavia Dwi Wahyuni
Contact Email
octaviaw@fk.untar.ac.id
Phone
+6282122010570
Journal Mail Official
tmj@fk.untar.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Gedung J Lt. 2 Jl. Letjen S.Parman No. 1, Grogol, Jakarta Barat Kode Pos: 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Tarumanagara Medical Journal
ISSN : 26547147     EISSN : 26547155     DOI : https://doi.org/10.24912/tmj
Core Subject : Health, Science,
Tarumangara Medical Journal adalah jurnal kedokteran dan kesehatan yang dikaji oleh pakar yang ahli dalam bidangnya. Tarumangara Medical Journal berfokus meningkatkan wasasan dan pengetahuan ilmu kedokteran dasar, kedokteran klinis dan kedokteran komunitas dengan pendekatan Evidence-Based Medicine berupa artikel asli. Konten Tarumanagara Medical Journal meliputi artikel-artikel terkini dalam bidang Biologi Molekuler, Histopatologi, Alergi dan Imunologi, Studi Sel Punca, Gizi, Geriatri, Farmakologi, Herbal, Infeksi dan Penyakit Tropis, Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Obstetri dan Ginekologi, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ilmu Bedah, Neurologi, Oftalmologi, Otolaringologi, Dermatovenerologi, Psikiatri, Radiologi, Forensik, Rehabilitasi Medik dan Kedokteran Olah Raga.
Articles 395 Documents
Pengetahuan mahasiswa kedokteran Universitas Tarumanagara mengenai non-steroidal anti-inflammatory drug (NSAID) Wulandari, Yeni; Johan
Tarumanagara Medical Journal Vol. 6 No. 2 (2024): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v6i2.31075

Abstract

Nyeri dengan intensitas yang berat masih dirasakan sekitar 30% pasien pasca operasi akibat pemberian analgetik yang tidak optimal atau adekuat. Data World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa tatalaksana nyeri pada negara maju masih belum optimal dikarenakan masih terdapat sekitar 33% penduduk masih merasakan nyeri. Tingkat pengetahuan yang kurang dapat menjadi salah satu penyebab ketidakefektifan dari pemberian analgetik. Studi ini merupakan studi deskriptif secara cross-sectional dengan tujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa kedokteran mengenai profil farmakologi analgetik non-steroidal anti-inflammatory drug (NSAID). Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total population sampling. Subyek studi ini ialah mahasiswa kedokteran Universitas Tarumanagara yang telah lulus blok sistem muskuloskeletal dengan jumlah subyek sebanyak 97 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Data studi diambil dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari 30 pertanyaan yang meliputi: farmakokinetik, farmakodinamik, sediaan dan dosis obat, kontraindikasi, efek samping, dan interaksi obat. Hasil studi menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik terhadap farmakokinetik NSAID (43,3%), farmakodinamik NSAID (42,3%), sediaan dan dosis NSAID (49,5%), serta kontraindikasi NSAID (45,4%). Responden memiliki tingkat pengetahuan yang kurang terhadap efek samping NSAID (52,6%), serta interaksi NSAID dengan obat lain (46,4%). Pada studi ini dapat disimpulkan secara keseluruhan bahwa responden memiliki tingkat pengetahuan yang kurang terhadap profil farmakologi obat analgetik NSAID.
Gambaran pasien skabies di Puskesmas Cipatujah Salsabila, Khalda; Buana, Ria
Tarumanagara Medical Journal Vol. 6 No. 2 (2024): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v6i2.31079

Abstract

Skabies ialah infeksi kulit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Penyakit ini menimbulkan rasa gatal yang hebat, terutama pada malam hari. Penularan biasanya terjadi melalui kontak langsung antar kulit, khususnya dalam lingkungan keluarga atau orang-orang yang sering berkontak fisik. Studi ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik usia, jenis kelamin dan faktor lingkungan (bulan transmisi) yang berkaitan dengan skabies. Studi ini dilakukan secara deskriptif observasional (non-eksperimental) dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien yang terinfeksi skabies di Puskesmas Cipatujah selama tahun 2023 dengan jumlah 479 sampel. Hasil studi didapatkan mayoritas kasus terjadi pada usia dewasa, yaitu kelompok usia 30-59 tahun, sebanyak 176 (36,7%) sampel. Tingkat infeksi skabies cenderung lebih tinggi pada perempuan dengan jumlah 277 (57,8%) sampel. Rasio infeksi skabies antara perempuan dan laki-laki sekitar 1.37:1. Bulan September merupakan bulan dengan jumlah kasus tertinggi, di mana tercatat 79 (16,5%) kasus.
Durasi penggunaan gawai dan kejadian miopia pada pelajar SMA Negeri 1 Pangkalpinang Khairunnisa, Jasmine; Rasyid, Meriana
Tarumanagara Medical Journal Vol. 6 No. 2 (2024): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v6i2.31085

Abstract

Penggunaan gawai memberikan dampak positif yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Pertama, gawai memberikan akses mudah ke berbagai sumber informasi dan platform pembelajaran. Penggunaan gawai dalam pendidikan dapat meningkatkan akses ke materi belajar, memfasilitasi pembelajaran mandiri, dan memperkaya pengalaman belajar. Meskipun demikian, penggunaan gawai dapat berpotensi memiliki dampak negatif pada kesehatan, terutama pada kesehatan mata. Salah satu kelainan refraksi mata yang terkait dengan aktivitas digital ialah miopia atau rabun jauh. Tujuan studi ini untuk mengetahui hubungan penggunaan gawai terhadap kejadian miopia pelajar SMA Negeri 1 Pangkalpinang. Studi ini merupakan studi deskriptif analitik cross-sectional. Studi ini melibatkan 200 pelajar yang terdiri dari 96 (48%) laki-laki dan 104 (52%) perempuan. Diagnosis miopia dilakukan dengan melakukan pemeriksaan visus sedangkan durasi penggunaan gawai menggunakan kuesioner. Hasil studi didapatkan mayoritas menggunakan gawai lebih dari 3 jam (165 subjek; 82,5%) dan tidak menderita miopia (139 subjek; 69,5%). Analisis statistik dengan menggunakan chi square didapatkan tidak ada hubungan signifikan anatara durasi penggunaan gawai dengan kejadian myopia (nilai p 0,137). Namun, secara epidemiologi durasi gawai yang lama dapat menjadi factor risiko terjadinya myopia (PRR 1,64). Selain itu, perlu diperhatikan faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi risiko miopia, seperti faktor genetik, pencahayaan atau lingkungan, dan kebiasaan membaca.
Gambaran hipertensi dan obesitas pada lansia di RW 05 Palmerah Jakarta Barat Deu, Patrisia; Karjadidjaja, Idawati
Tarumanagara Medical Journal Vol. 6 No. 2 (2024): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v6i2.31460

Abstract

Peningkatan penduduk usia lanjut (lansia) dari tahun ke tahun menuntut perhatian khusus dari berbagai kalangan. Kondisi tersebut memengaruhi berbagai aspek kehidupan pada lansia seperti penurunan fungsi kognitif dan fisiologis, serta status gizi. Banyak lansia yang mengalami masalah pemenuhan gizi yaitu malnutrisi, yang mempengaruhi kesehatan serta kualitas hidup lansia. Masalah gizi yang menjadi salah satu perhatian khusus ialah status gizi pada lansia dengan obesitas, karena obesitas menjadi faktor risiko berbagai penyakit. Selain itu, secara khusus lansia dengan gizi lebih/obesitas umumnya juga memiliki hipertensi akibat obesitasnya, sehingga hipertensi juga perlu diperhatikan. Studi ini dilakukan untuk mengetahui gambaran hipertensi dan obesitas pada lansia di RW 05 Palmerah Jakarta Barat sehingga dapat memberikan pelayanan khusus pada lansia yang rentan dan mencegah komplikasi yang terjadi akibat penyakit-penyakit tersebut. Jenis studi yang digunakan ialah deskriptif. Pengambilan sampel dengan teknik total sampling sebanyak 52 orang dan pengumpulan data dilakukan dengan penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, pengukuran lingkar perut dan pengukuran tekanan darah. Hasil studi ini menunjukkan lansia dengan hipertensi sebanyak 31 (59,6%) lansia, lansia dengan status gizi overweight sebanyak 15 (28,8%) lansia, dan obesitas sebanyak 21 (40,4%) lansia. Rerata lingkar perut lansia sebesar 89,29 cm dengan lansia yang memiliki obesitas sentral sebanyak 40 (76,9%) lansia. Mayoritas lansia di RW 05 Palmerah Jakarta Barat memiliki hipertensi dan obesitas, serta tergolong ke dalam obesitas sentral.
Hubungan riwayat ASI eksklusif dengan diare pada bayi usia 0-12 bulan Maharani, Ismi Ikrima; Pambudi, Wiyarni
Tarumanagara Medical Journal Vol. 6 No. 2 (2024): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v6i2.31891

Abstract

Diare pada bayi dapat dicegah dengan pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif. Air susu ibu mengandung glikan dan oligosakarida yang berperan penting dalam sistem kekebalan alami untuk melindungi bayi dari diare. Studi ini mempelajari hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare pada bayi berusia 0-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Bonjeruk, Kabupaten Lombok Tengah yang mencakup Desa Bonjeruk, Bunkate, Perina, dan Pengenjek. Studi analitik ini menggunakan data sekunder dari laporan rutin Puskesmas Bonjeruk bulan Januari-Desember 2022. Hasil studi menyatakan 565 bayi selama periode teersebut diberikan ASI baik secara eksklusif maupun non-eksklusif, dengan laporan kasus diare terjadi pada 213 bayi. Kejadian diare dialami oleh 47 (12,6%) dari 373 bayi yang disusui eksklusif dan 166 (86,5%) dari 192 bayi yang mendapat ASI non-eksklusif. Uji analitik studi didapatkan ada hubungan yang signifikan antara pemberian ASI eksklusif dengan diare pada bayi berusia 0-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Bonjeruk Kabupaten Lombok Tengah Periode Tahun 2022 (nilai p < 0,0001; PR 6,86). 
Pengetahuan mengenai anestesi dan peran dokter spesialis anestesi pada mahasiswa psikologi Universitas Tarumanagara Cheryl, Claudia Angelica; Atzmardina, Zita
Tarumanagara Medical Journal Vol. 6 No. 2 (2024): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v6i2.32566

Abstract

Pasien terkadang tidak menyadari bahwa dokter spesialis anestesi ialah seorang dokter spesialis dan memiliki peran di luar ruang operasi. Kurangnya pengetahuan tentang bidang anestesi dan peran dokter spesialis anestesi ini dapat membuat dokter spesialis anestesi merasa kurang dihargai. Oleh karena itu, kami merasa perlu untuk mengeksplorasi pengetahuan sebuah kepompok orang, dalam hal ini mahasiswa dari jurusan psikologi, tentang anestesi dan peran seorang dokter spesialis anestesi. Studi deskriptif ini dilakukan terhadap 118 mahasiswa psikologi  yang diberikan kuesioner pengetahuan terkait anestesi dan peran dokter spesialis anestesi. Hasil studi didapatkan jumlah mahasiswa yang memiliki pengetahuan baik mengenai anestesi (49,2%), peran dokter spesialis anestesi (61,1%), dan baik anestesi maupun peran dokter spesialis anestesi (63,6%). Lebih dari 90% mahasiswa mengetahui bahwa dokter spesialis anestesi bertanggung jawab untuk memantau tanda vital pasien, dan mayoritas juga dapat mengidentifikasi komplikasi anestesi ringan atau berat. Hasil studi ini bertentangan dengan keyakinan bahwa masyarakat umum memiliki pengetahuan yang tidak memadai mengenai anestesi dan peran dokter spesialis anestesi.
Perbedaan mekanisme koping terhadap stres berdasarkan kemampuan self regulated learning mahasiswa kedokteran Hernisa, Febina Sebya; Widjaja, Yoanita
Tarumanagara Medical Journal Vol. 6 No. 2 (2024): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v6i2.32716

Abstract

Mahasiswa kedokteran lebih banyak mengalami stres daripada mahasiswa jurusan lainnya karena masa studi yang lebih lama dan metode pembelajaran yang berbeda. Mekanisme koping berperan penting bagi mahasiswa dalam mengelola stres dan terdapat dua jenis mekanisme koping, yaitu emotion focused coping dan problem focused coping. Salah satu faktor yang memengaruhi pemilihan jenis mekanisme koping ialah aspek perilaku pada Self Regulated Learning (SRL). Perilaku tersebut merupakan kemampuan seseorang untuk meningkatkan cara belajar serta mengatur aktivitasnya sendiri. Studi mengenai mekanisme koping pada mahasiswa dengan kemampuan SRL yang baik masih belum banyak ditemukan. Studi ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan mekanisme koping terhadap stres pada mahasiswa berdasarkan kemampuan SRL di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Studi deskriptifcross sectional  dilakukan terhadap 404 mahasiswa kedokteran Universitas Tarumanagara. Data dikumpulkan dengan kuesioner Brief – Coping Orientation to Problems Experienced Inventory (Brief-COPE) dan kuesioner Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) yang telah divalidasi dan diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Hasil studi didapatkan 100 mahasiswa (24,8%) kategori SRL tinggi, 207 mahasiswa (51,2%) kategori SRL sedang, dan 97 mahasiswa (24,0%) kategori SRL rendah. Mahasiswa yang menggunakan problem focused coping sebanyak 328 mahasiswa (81,2%) dan emotion focused coping sebanyak 76 mahasiswa (18,8%). Mayoritas mahasiswa dengan kemampuan SRL tinggi sebanyak 93 mahasiswa (93,0%) menggunakan mekanisme problem focused coping.
Faktor risiko pediculosis capitis pada anak-anak di Banjar Buaji Anyar, Denpasar Timur, Bali Song, Chrismerry; Malini, Ni Kadek Cintya
Tarumanagara Medical Journal Vol. 6 No. 2 (2024): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v6i2.33347

Abstract

Pediculosis capitis atau infestasi oleh Pediculus humanus capitis dapat menyerang semua usia, terutama anak-anak, namun sering terabaikan. Angka kejadian pediculosis capitis di Indonesia masih tinggi dan menyebabkan morbiditas seperti anemia, infeksi bakteri sekunder, menurunkan prestasi belajar dan rasa percaya diri. Studi deskriptif potong lintang ini bertujuan mengetahui faktor risiko pediculosis capitis pada anak-anak di Banjar Buaji Anyar, Kota Denpasar Timur, Bali. Hubungan antara faktor risiko dan kejadian pediculosis capitis dianalisis menggunakan uji chi-square (p < 0,005) dan uji epidemiologi menggunakan prevalence ratio (PR, CI 95%). Total responden 94 orang dengan 34,04% (32/94) responden positif pediculosis capitis. Faktor risiko yang ditemukan adalah jenis kelamin (PR = 1,18, CI 95% 0,66 – 2,12); panjang rambut (PR = 1,18, CI 95% 0,66 – 2,12); kebiasaan menggunakan handuk (PR = 2,24, CI 95% 1,33 – 3,76), sisir (PR = 7,85, CI 95% 1,14 – 53,93), asesoris rambut (PR = 1,79, CI 95% 1,03 – 3,12), dan bantal bersama (PR = 2,14, CI 95% 0,84 – 5,43); serta pendapatan keluarga sama atau di bawah upah minimum regional (PR = 12,65, CI 95% 3,21 – 49,90). Hubungan bermakna secara statistik ditemukan antara kejadian pediculosis capitis dengan pemakaian sisir bersama (p = 0,003), pendapatan keluarga ≤ UMR (p = 0,000). Tidak ditemukan hubungan bermakna antara pediculosis capitis dengan jenis kelamin (p = 0,573), panjang rambut (p = 0,573), pemakaian handuk bersama (p = 0,005), pemakaian asesoris rambut bersama (p = 0,056), dan pemakaian bantal kepala bersama (p = 0,073).
Hubungan stres dan prokrastinasi pada mahasiswa kedokteran di Jakarta Barat Welong, Christabelle Erika Delia Hillary; Biromo, Anastasia Ratnawati
Tarumanagara Medical Journal Vol. 6 No. 2 (2024): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v6i2.33348

Abstract

Stres merupakan hal yang terjadi saat tubuh menghadapi sesuatu yang dianggap mengancam. Stres akademik menjadi sebuah fenomena yang sering diamati pada mahasiswa kedokteran yang muncul sebagai respon terhadap tingginya tuntutan akademik. Tingkat stres akademik yang tinggi dapat menyebabkan mahasiswa menunda mengerjakan tugas yang diberikan sehingga mengakibatkan penurunan performa dan hasil akademik. Tujuan dari studi ini ialah untuk melihat hubungan antara stres dan perilaku menunda belajar atau mengerjakan tugas (prokrastinasi) pada mahasiswa kedokteran. Desain pada studi ini ialah studi analitik potong lintang yang dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara pada bulan Maret 2024. Subjek studi sebanyak 265 mahasiswa diambil menggunakan teknik consecutive sampling. Instrumen Depression Anxiety Stress Scale-42 (DASS-42) digunakan untuk mencari prevalensi stres, sementara instrumen Academic Procrastination Scale digunakan untuk mencari pola perilaku menunda (prokrastinasi). Studi ini mendapatkan hasil sebanyak 146 responden (55,1%) dari 265 mahasiswa mengalami stres dan sebanyak 40 responden (15,1%) memiliki perilaku menunda tingkat tinggi, 188 responden (70,9%) memiliki perilaku menunda tingkat sedang, dan 37 responden (14%) memiliki perilaku menunda tingkat rendah. Uji analitik antar kedua variabel diadaptkan nilai p sebesar 0,003. Studi ini menyimpulkan adanya hubungan signifikan antara stres dengan prokrastinasi pada mahasiswa kedokteran Universitas Tarumanagara.
Gambaran ibu bersalin secara seksio dengan mioma uteri di RS Sumber Waras periode 2021-2023 Silaen, Clifford Cornelius Oktavino; Dewi, Andriana Kumala
Tarumanagara Medical Journal Vol. 6 No. 2 (2024): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v6i2.33349

Abstract

Mioma uteri merupakan kelainan tumor jinak yang sangat sering dijumpai. Jumlah kejadiannya hampir sepertiga dari kasus ginekologi. Meskipun merupakan lesi yang bergantung pada hormon, terlihat lesi tumbuh secara nonlinier selama kehamilan. Hal ini menunjukkan banyak faktor lain yang memengaruhi. Tujuan studi untuk mengetahui karakteristik pasien ibu bersalin dengan mioma uteri yang menjalani operasi di Rumah Sakit Sumber Waras. Studi ini merupakan studi deskriptif potong lintang menggunakan 24 data rekam medis ibu bersalin secara seksio dengan mioma uteri selama tahun 2021-223. Hasil studi menunjukkan bahwa prevalensi mioma uteri pada ibu bersalin di Rumah Sakit Sumber Waras di tahun 2021-2023 relatif rendah (1,5%) dan 41,67% terdeteksi sebelum operasi. Mayoritas ibu bersalin dengan mioma uteri berada dalam rentang usia 25-35 tahun dengan mayoritas usia kehamilan 38 minggu dan kadar hemoglobin (Hb) yang lebih rendah dibandingkan wanita pada umumnya. Dari segi menarchenya, rata-rata mengalami menstruasi pertama pada usia 12-13 tahun yang artinya masih dalam kategori usia normal. Sebagian besar pasien berada dalam kategori kelebihan berat badan dengan tinggi badan pada rentang normal. Pada studi ini dapat disimpulkan prevalensi mioma uteri relatif rendah, lebih banyak yang terdeksi saat dilakukan seksio, kadar Hb lebih rendah, berat badan berlebih, namun gambaran variabel lainnya pada mayoritas pasien dalam batas normal.