cover
Contact Name
Erna Meiliana
Contact Email
ernameiliana@trisakti.ac.id
Phone
+6287840093703
Journal Mail Official
jurnal_dimensi@trisakti.ac.id
Editorial Address
Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti Jl.Kyai Tapa No.1 Grogol Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 25275666     EISSN : 25497782     DOI : https://doi.org/10.25105/dim
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain diterbitkan oleh Fakultas seni Rupa dan Desain. Jurnal ini terbit 2 (dua) kali dalam setahun, yaitu Februari dan September. Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain merupakan jurnal bidang seni dan desain yang terbilang aktif sejak pertama kali diterbitkan dari tahun 2003 sampai sekarang. Menjadi salah satu jurnal seni dan desain yang banyak diminati oleh para penulis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia
Articles 376 Documents
ANALISIS KETERKAITAN RAGAM TEKNIK UKIR TATAH TEMBAGA TERHADAP KEMUNGKINAN BENTUK YANG DIHASILKAN DALAM PERTIMBANGAN DESAIN Said F Nasrullah; Andry Masri
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 16 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2285.337 KB) | DOI: 10.25105/dim.v16i1.6155

Abstract

AbstractCopper handicrafts made by craftsmen in Tumang village, Boyolali Regency, are well known in various cities on Java. it is inseparable from the process and manufacturing techniques that continue to be maintained, that is forging and carving techniques.The design results of the craft products made tends to use traditional design style, and require a long time for the making. The purpose of this research is to produce a new design form with a simpler carving pattern and allow for a faster production process time. The simplification of the production process allows the making of products with more quantity. The main research method used is direct observation of the process ofmaking carvings by metal carving experts at craft centers. The results of this new design form can accelerate the production process because it can be made without going through a forging process.AbstrakKerajinan tembaga yang dibuat oleh para pengrajin di desa Tumang kabupaten Boyolali sudah cukup dikenal di berbagai kota di pulau Jawa. Hal tersebut tidak lepas dari proses dan teknik pembuatannya yang terus dipertahankan, yaitu teknik tempa dan teknik ukir. Hasil bentuk desain dari produk kerajinan yang dibuat lebih cenderung menggunakan gaya desain tradisional, dan membutuhkan waktu yang cukup lama dalam pembuatannya. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan bentuk design baru dengan bentuk pola ukir yang lebih sederhana dan memungkinkan waktu proses produksi yang lebih cepat. Penyederhanaan proses produksi memungkinkan menghasilkan produk dengan kuantitas lebih banyak. Metode utama penelitian yang digunakan adalah observasi langsung terhadap proses pembuatan ukiran oleh ahli ukir logam di sentra kerajinan. Hasil bentuk desain baru inimempercepat proses produksi karena dapat dibuat tanpa melalui proses tempa.
BUKU DIGITAL SEBAGAI SOLUSI ALTERNATIF UNTUK MENGURANGI DAMPAK NEGATIF INDUSTRI BUKU INDONESIA PADA LINGKUNGAN Shienny Megawati Sutanto Shienny Megawati Sutanto Shienny Megawati Sutanto
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 16 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1748.486 KB) | DOI: 10.25105/dim.v16i1.6156

Abstract

AbstractDigital Books as alternative solutions to reduce the negative impact of the Indonesian publishing Industry on the environment. The Indonesian publishing industry which continues to grow are feared to bring negative impacts to the environment. This study was conducted using qualitative method susing articles and books as the main data sources, as well as observations and interviews. This research aims to find out whetherthe book industry really does have a negative impact on the environment, and how to use digital books as an alternative solution to reduce these impacts. AbstrakBuku digital sebagai solusi alternatif untuk mengurangi dampak negatifindustri buku Indonesia pada lingkungan. Industri buku Indonesia yangterus berkembang dikhawatirkan membawa dampak buruk bagi lingkungan. Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan sumber data utama yaitu artikel dan buku, serta hasil observasi dan wawancara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah industri buku memang membawa dampak negatif pada lingkungan, serta bagaimana memanfaatkan buku digital sebagai solusi alternatif untuk mengurangi dampak tersebut.
PERBANDINGAN PENYELESAIN RUANG PADA KAMAR HOTEL YANG BERDIMENSI KECIL Inez Puttyati Handhayani,; Setiamurti Rahardjo
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 16 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.089 KB) | DOI: 10.25105/dim.v16i1.6158

Abstract

AbstractThe rise of tourist attractions in Bandung has triggered an increase in the number of hotel rooms. However, the density of development makes the availability of land in the city of Bandung to be limited, so some hotels have rooms with dimensions below the standard government proposals to be able to accommodate as many guests as possible.This should be considered by hotel managers so that the limitations of this dimension do not reduce guests’ comfort. Therefore, this study aims to look for interior strategies that are applied to small dimension hotel rooms that can facilitate guest needs without sacrificing the comfort side. This research was carried out by a mixed method which included quantitative measurement of dimensions and qualitative observations of threehotels in Bandung that were used as research objects, namely Yello Hotel, Kollektiv Hotel, and Summerbird Bed and Brasserie. The results of this study indicate a strategic solution that can be applied to small-sized rooms through processing the use of materials, colors and compact concepts on furniture.   AbstrakMeningkatnya objek wisata di kota Bandung memicu meningkatnya jumlahkamar hotel. Namun, padatnya pembangunan membuat ketersediaan lahan di Kota Bandung menjadi terbatas, sehingga beberapa hotel memiliki kamar dengan dimensi di bawah standar usulan pemerintah agar mampu menampung tamu sebanyak-banyaknya. Hal ini perlu diperhatikan oleh pengelola hotel agar keterbatasan dimensi tersebut tidak mengurangi kenyamanan bagi para tamu.Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mencari startegi-strategi interior yang diterapkan pada kamar hotel berdimensi kecil yang dapat memfasilitasi kebutuhan para tamu tanpa mengorbankan sisi kenyamanannya. Penelitian ini dilakukan dengan metode campuran yang meliputi pengukuran kuantitatif tentang dimensi dan pengamatan kualitatif terhadap tiga hotel di Kota Bandung yang dijadikan objek studi, yaitu Yello Hotel, Kollektiv Hotel, dan SummerbirdBed and Brasserie. Hasil penelitian ini menunjukkan solusi strategi yang dapat diterapkan pada kamar berukuran kecil melalui pengolahan penggunaan material, warna dan konsep compact pada furnitur.
ORNAMEN ISLAM PADA BANGUNAN ARSITEKTUR MASJID DIAN AL MAHRI KUBAH EMAS DEPOK Apsari Putri Haryani Nirmala; Oudilia Azhar Violaningtyas; Resky Annisa Damayanti
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 16 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1168.087 KB) | DOI: 10.25105/dim.v16i1.6159

Abstract

AbstractIn the teachings of Islam the sources of the Qur’an and the Hadith are basically no rules governing the building of the Mosque other than the terms of the place that can be used in performing the Prayer, but on the other hand many Mosques are adaptive in the form of ornaments. as well as local value systems. The form of ornament that is a decorativeelement of a building is often directly related to the times and culture of the community. In terms of the ornament of the Mosque does not escape the Islamic law that is found in the Hadith and the Quran. This is the focus of this study. The method used is a descriptive qualitative beginning of the field. The results show that the shape of the ornament in the Dian Al Mahri Mosque is no indication of the animal ornament, so the ornamentation of the Mosque is acceptable to Muslims especially in Jakarta and its surroundings.Abstrak Di dalam ajaran agama Islam yang bersumberkan Al Qur’an dan Hadist pada dasarnya tidak terdapat aturan yang secara langsung mengatur mengenai bangunan Masjid selain syarat-syarat tempat yang dapat dipakai dalam melaksanakan Sholat, namun di sisi lain banyak Masjid yang bersifat adaptif dengan memasukkan bentuk ornamen serta sistem nilai setempat (lokal). Bentuk ornamen yang merupakan elemen dekorasi pada suatu bangunan sering kali berkaitan langsung dengan zaman dan budaya masyarakat. Dalam hal ornamen pada Masjid tidak lepas dari hukum Islam yang tertuang dalam Hadis dan Al Quran. Hal demikianlah yang menjadi pusat perhatian dalam penelitian ini.Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif yang dimulai dari lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk ornamen pada bangunan Masjid Dian Al Mahri tidak terdapat indikasi yang menunjukkan ornamen binatang, sehingga ornamentasi pada Masjid tersebut dapat diterima oleh umat muslim terutama di Jakarta dan sekitarnya.
INOVASI INKREMENTAL SEBAGAI STRATEGI & KEUNGGULAN DAYA SAING DI INDUSTRI FURNITURE VIETNAM (STUDI KASUS: FULL IN INDUSTRIAL, CO., LTD) Susi Hartanto; Aditya Cipta Sugandha
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 16 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1478.502 KB) | DOI: 10.25105/dim.v16i1.6160

Abstract

AbstractUS-China trading wars has brought positive impact to the growth of Vietnam furniture industry, due to supplier shifts or factory relocation. Many factories benefit with the increased number of purchase orders, but some suffer with stagnancy or even loss. Price, design, quality, finishing, and other factors all play significant roles in determining a factory’s performance. Full In as a research partner, have been running in only 1/3of the production capacity, consequently for its 20 percent higher price compared to competitors with similar products, and for too ordinary designs. Cheap is not always the best strategy. Design approaches (material replacement and appearance change) and strategies (reissue iconic furniture, develop American aesthetic preference furniture,develop refreshed contemporary furniture) are ways to mark Full In’s competitive advantage. Taking advantage of the trade momentum, and by collaboration with UPH research team, there are 8 new designs that will be exhibited in Vietnam International Furniture Fair 2020. In hope, good design may attract customers who afford higher prices; Full In has competitive advantage compared to other competitors.AbstrakAdanya perang dagang US-China memberikan dampak positif bagipertumbuhan industri furniture di Vietnam karena perpindahan supplier atau relokasi pabrik. Banyak pabrik mengalami peningkatan purchase order, tetapi ada juga yang stagnan atau justru menurun. Harga, desain, kualitas, finishing, dan faktor lainnya semua saling terkait menentukan performa sebuah pabrik. Full In sebagai mitra penelitian hanya mampu berjalan 1/3 dari kapasitas produksi seharusnya karena harga 20% lebih mahal dari kompetitor dengan produk serupa dan desain yang cenderung menduplikasi. Murah tidak selalu adalah strategi terbaik. Desain dengan pendekatan mengganti material dan penampilan; strategi merilis kembali produk ikon, mengembangkan produk dengan gaya Amerika dan sentuhan kontemporer merupakan strategi dan keunggulan desain yang diaplikasikan untuk Full In. Memanfaatkan momentum dagang dan lewat kolaborasi dengan tim peneliti UPH, ada 8 desain baru yang akan dipamerkan pada Vietnam International Furniture Fair premium, Full In memiliki keunggulan daya saing dibanding  kompetitor lainnya.
ANALISIS PERSEPSI KONSUMEN UNTUK STRATEGI PENGEMBANGAN PRODUK SARUNG DI IKM SARUNG MAJALAYA Irfandhani Fauzi; Kahfiati Kahdar; Slamet Riyadi
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 16 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.389 KB) | DOI: 10.25105/dim.v16i1.6164

Abstract

AbstractThe Majalaya textile industry, at Bandung Regency, is a textile centre prepared by the government as a national textile centre to meet clothing needs. This industry was able to develop and experience its heyday in the 1960s. At that time, this region was able to produce 40% of the total fabric production in Indonesia. Sarong, as its main product, was very popular throughout Indonesia and several other countries in Asia. But thecrisis that occurred in 1998 had a major impact on the textile industry in Majalaya. Many textile entrepreneurs are forced to close their production sites because of the declining purchasing power of the people and also the increasing cost of raw material for production. Only a handful of Majalaya sarong entrepreneurs have survived until now. In the midst of their efforts to survive, the problem that occurs at this time is the onslaught of imported textiles that flooded the market which impacted the sale ofMajalaya sarongs falling dramatically.These problems must be overcome with the aim of returning the Majalaya textile industry as the people’s economic power. Design in relation to this is aimed at producing products that are interested in consumers. Design is an important aspect of product development, also as one of the main criteria in the product selection process by buyers. To produce an interesting product it is necessaryto analyze consumer perceptions. The purpose is to know what aspects that affect consumer interest in buying products. These can be applied as a strategy for developing a product of Majalaya sarong. The survey method using a questionnaire to Majalaya sarong consumers can be done to determine consumer perceptions of Majalaya sarong products. By analyzing consumer perceptions, producers can develop a Majalaya sarongproduct design strategy that suits consumer interest. Abstrak Industri tekstil Majalaya, di Kabupaten Bandung, merupakan sentra tekstil yang disiapkan pemerintah sebagai pusat tekstil nasional guna memenuhi kebutuhan sandang. Industri ini mampu berkembang dan mengalami puncak kejayaannya pada tahun 1960-an. Saat itu, wilayah ini mampu memproduksi 40% dari total produksi kain di Indonesia. Sarung, sebagai produk utamanya, sangat popular di seluruh Indonesia serta beberapa Negara di Asia. Namun krisis yang terjadi pada tahun 1998 berdampak besar bagi industri tekstil di Majalaya. Banyak pengusaha tekstil yang terpaksa menutup tempat produksinya karena daya beli masyarakat yang menurun dan juga kenaikan biaya bahan baku produksi. Hanya segelintir pengusaha sarung Majalaya yang masih bertahan menjalankan usahanya hingga sekarang. Di tengah usahanya untuk bertahan, permasalahan yang juga dialami pengusaha tekstil Majalaya saat ini adalah gempuran tekstil impor yang membanjiri pasar yang mengakibatkan penjualan sarung Majalaya turun drastis.Permasalahan yang dialami industri tekstil Majalaya tersebut harus diatasi dengan tujuan untuk mengembalikan industri tekstil Majalaya sebagai penggerak ekonomi rakyat. Peran desain dalam kaitannya dengan hal ini bertujuan untuk menghasilkan produk yang diminati masyarakat. Desain merupakan aspek yang penting bagi pengembangan produk, juga sebagai salah satu kriteria utama dalam proses pemilihan produk oleh pembeli. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghasilkan produk yang diminati adalah dengan menganalisis persepsi konsumen. Hal ini dilakukan karena tujuan dari analisis persepsi konsumen adalah untuk mengetahui aspek-aspek apa saja yang mempengaruhi minat konsumen untuk membeli produk. Aspek-aspek tersebut dapat diterapkan sebagai strategi untuk pengembangan produk sarung Majalaya. Metode survey dengan menggunakan kuisioner kepada konsumen sarung Majalaya dapat dilakukan untuk mengetahui persepsi konsumen terhadap produk sarung Majalaya. Dengan menganalisis persepsi konsumen, maka produsen dapat membuat strategi desain produk sarung Majalaya yang sesuai dengan minat konsumen.
KRITIK FOTOGRAFI: MENDESKRIPSIKAN SEBUAH FOTO DARI SISI SUBJEK, BENTUK, MEDIA DAN GAYA Silviana Tahalea
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 16 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.276 KB) | DOI: 10.25105/dim.v16i1.6165

Abstract

AbstractIn the formal education of bachelor photography, the knowledge and ability to criticize a photo is fundamental, this is what distinguishes bachelor photography from photography courses, the ability to criticize a photo with the aim of defining photos, interpreting photographs, explanations aesthetic or aesthetic argumentation. Referring to Terry Barrett’s writing about photo criticism, there are several stages to criticizingor interpreting a photo, namely: Describing photos, interpreting photos and evaluating photos. As an initial step, it will be explained about describing a photo. How to start describing a photo, what are the elements that can be described in a photo and how to be able to describe a photo based on the actual facts. Descriptive information includes statements about the subject matters of the photo, the media used, forms of designelements, the surrounding environment, including information about the photographer who made the photo, time of photo taking, issues and social phenomena that were popular when taking photos. Describing a photo is the first approach that can be used to analyze a photo.Abstrak Dalam keilmuan formal fotografi jenjang strata-1, pengetahuan dan kemapuan untuk mengkritik sebuah foto menjadi hal yang fundamental, hal ini yang membedakan keilmuan fotografi strata-1 dengan kursus fotografi, yaitu kemampuan untuk mengkritisi sebuah foto dengan tujuan untuk mendefinikan foto, menginterpretasi foto, penjelasan estetik maupun argumentasi estetik. Mengacu pada tulisan Terry Barret mengenai kritik foto, ada beberapa tahapan untuk mengkritisi atau memaknai sebuah foto yaitu: Mendeskripsikan foto, Menginterpretasi foto dan mengevaluasi foto. Sebagai tahap awal akan dipaparkan mengenai mendeskripsikan sebuah foto. Bagaimana memulai mendeskrisikan sebuah foto, apa saja elemen yang dapat dideskripsikan dalamsebuah foto dab bagaimana caranya agar dapat mendeskrisikan foto sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Informasi deskriptif meliputi pernyataan tentang subject matters foto tersebut, media yang digunakan, bentuk-bentuk elemen design, lingkungan sekitar, termasuk informasi tentang fotografer yang membuat foto tersebut, waktu pengambilan foto, issue dan gejala sosial yang popular saat waktu pengambilan foto. Mendeskrisikan sebuah foto merupakan pendekatan yang paling mudah yang dapat digunakan untuk menganalisa sebuah foto.
PENERAPAN ORNAMEN KHAS BETAWI DALAM INTERIOR MASJID RAYA KH. HASYIM ASYARI JAKARTA BARAT Ayesya Ainun Nabila; Ayu Safira Septiana; Githa Nabila; Resky Annisa Damayanti
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 16 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.907 KB) | DOI: 10.25105/dim.v16i2.7052

Abstract

Abstract The Mosque is the buildings of worship for Muslims who can accommodate the worshipers. In the Mosque’s interior design is identical to the use of typical Middle Eastern ornaments such as calligraphy, but over time the Mosques in Indonesia have begun to apply the special ornaments of the area where the Mosque is located, for example the Great Mosque KH Hasyim Asyari which applying Betawi ornaments to the exterior and interior. Betawi ornaments themselves are identical applied to Betawi traditional houses, for example Gigi Balang ornaments that are applied to the house’s lisplang, and also Tapak Dara ornaments that are applied to railing porch railings. Nowadays the application of Betawi ornaments is not only in traditional houses but also in public buildings such as Mosques. The purpose of this research is to discuss the application of Betawi ornaments and the meanings contained in the ornaments. The results of this study are the application of Betawi special ornaments on the interior of the Great Mosque K.H Hasyim Asyari where it is placed on the walls, railings, and pillars of the Mosque. The typical Betawi ornaments that are applied are the Gigi Balang ornament, Tapak Dara, and also the shape of the Betawi traditional house roof which is designed in such a way that it becomes an ornament applied to the Mosque’s pulpit walls. It can be concluded that the application of Betawi special ornaments can not only be applied to traditional houses but also exist in other buildings with modifications in such a way but do not leave the meaning contained in the ornaments. AbstrakMasjid merupakan bangunan tempat beribadah bagi umat islam yang dapat menampung jamaah. Pada desain interior Masjid identik dengan penggunaan ornamen khas Timur Tengah seperti misalnya kaligrafi, namun seiring berjalannya waktu Masjid-Masjid yang berada di Indonesia sudah mulai menerapkan ornamen-ornamen khas daerah tempat Masjid itu berada, sebagai contoh Masjid Raya K.H Hasyim Asyari yang menerapkan ornamen Betawi pada eksterior dan interiornya. Ornamen khas Betawi sendiri identik diterapkan pada rumah adat Betawi misalnya ornamen Gigi Balang yang diterapkan pada lisplang rumah, dan juga ornamen Tapak Dara yang diterapkan pada railing pagar teras rumah. Kini penerapan ornamen Betawi tidak hanya pada rumah adat tetapi juga pada bangunan-bangunan umum seperti pada Masjid. Tujuan penelitian ini adalah untuk membahas mengenai penerapan ornamen khas Betawi dan juga makna yang terkandung dalam ornamen tersebut. Hasil dari penelitian ini adalah adanya penerapan ornamen khas Betawi pada interior Masjid Raya K.H Hasyim Asyari di mana peletakannya berada pada dinding, railing, dan pilar Masjid. Ornamen khas Betawi yang diterapkan yaitu ornamen Gigi Balang, Tapak Dara, dan juga bentuk atap rumah adat Betawi yang di desain sedemikian rupa sehingga menjadi ornamen yang diterapkan pada bagian dinding mimbar masjid. Dapat disimpulkan bahwa penerapan ornamen khas Betawi tidak hanya dapat diterapkan pada rumah adat tetapi juga eksis diterapkan di bangunan lain dengan modifikasi sedemikian rupa namun tidak meninggalkan makna yang terkandung di dalam ornamen tersebut
KAJIAN DESAIN INTERIOR PADA BANGUNAN CAGAR BUDAYA Studi Kasus: Bioskop Metropole XXI Jakarta Ade Ariani Sari Fajarwati; Yunida Sofiana; Silvia Meliana; Octaviana Sylvia Carolin
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 16 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.367 KB) | DOI: 10.25105/dim.v16i2.7053

Abstract

AbstractHeritage building is recorder history in the past for better life in the future and need conservation. The Metropole XXI cinema as a landmark building in the Cikini area, Jakarta, has been listed as A class heritage building since 1993. It was established as public entertainment space and the oldest cinema in Indonesia since it was built in 1949. The Metropole XXI architecture has the Art Deco style, as a sign of transition to the end of the Dutch colonial era. As a heritage building, it is suspected that interior design in this site is harmony with its architectural style. Research is needed to review the interior design styles found in cultural heritage buildings. This study uses qualitative method, by collecting field observation data, literature review and visual data. The data obtained were then analyzed to prove the engagement between interior design and architectural styles of cultural heritage buildings with a case study at the Metropole XXI Jakarta cinema. AbstrakBangunan cagar budaya adalah situs yang mencatat sejarah manusia di masa lalu untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan dan membutuhkan konservasi. Bioskop Metropole XXI sebagai bangunan tengara di daerah Cikini, Jakarta, telah terdaftar sebagai gedung warisan kelas A sejak tahun 1993. Bioskop ini didirikan sebagai ruang hiburan publik dan bioskop tertua di Jakarta sejak dibangun pada tahun 1949. Arsitektur Metropole XXI memiliki gaya Art Deco, sebagai tanda transisi ke akhir era kolonial Belanda. Sebagai bangunan peninggalan, diduga desain interior di situs ini selaras dengan gaya arsitekturnya. Penelitian diperlukan untuk meninjau gaya desain interior yang ditemukan di bangunan cagar budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan mengumpulkan data observasi lapangan, tinjauan pustaka dan data visual. Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk membuktikan keterlibatan antara desain interior dan gaya arsitektur bangunan cagar budaya dengan studi kasus di bioskop Metropole XXI Jakarta.
ANALISA MAKNA PADA ESTETIKA KAIN TENUN GOTIA DI DESA ADAT TENGANAN PAGERINGSINGAN I Wayan Dedy Prayatna
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 16 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.015 KB) | DOI: 10.25105/dim.v16i2.7054

Abstract

Abstrak  Weaving is a society tradition to meet the needs of ceremonies and as a creative insdustry. Gotia cloth is a scared cloth, which is used in every ceremony in the Tradisional Village of Tenganan. Gotia fabric has a special aesthetic, namely squer and rectangular motifs arising from the merging of black lines white horizontal and vertical directions with a 2.1.2.1 structure with a withebase that make its uniqueness. The uniquenessof the colors and motifs of the gotia woven cloth contains the values and philosophicial significance for the Tenganan Pageringsingan Traditional village Traditional village of Tenganan pageringsingan. The problem under this study is how the meaning contained in the aesthetic code of gotya woven pabric. This study uses a descriptions that explain the subject of research in the from of written words from the speakers and obseserved and bevavior. Data collection techniquis by interview, observation and documentation. The resulth showed that, the black and white colors in gotia cloth had connotations coantaining spiritual values which could be represented as natural balance or “Rwa Bhineda”. In Addition, the color of the concept of rwa Bhineda in Gotia woven cloth is also found in the semitric lines that intersect with eahe ch other to help the + motif called the Tapak Dara by the people in Tenganan Adat Village. Tampak Dara has the connotation of interpreting the balance in which everyting good in home yard always centered in the middle. Tampak Dara in a symbol of the union of two defferent things in life or rwa Bhineda.AbstrakMenenun merupakan tradisi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan upacara dan sebagai industri kreatif. Kain Gotia merupakan kain sakral, yang digunakan setiap upacara di desa adat Tenganan.  Kain Gotia memiliki estetika khusus, yaitu motif persegi empat dan persegi panjang yang timbul akibat penggabungan antara garis berwarna hitam dengan arah horizontal dan vertikal dengan struktur 2.1.2.1 dengan di dasari warna putih yang menjadikan keunikannya tersendiri. Keunikan pada warna dan motif pada kain tenu gotia mengandung nilai-nilai dan makna filosofi bagi masyarakat desa adat Tenganan Pageringsingan. Penelitian ini bertujuan menganalisa makna yang Terkandung dalam kain tenun gotya di desa adat tenganan pageringsingan. Adapun masalah yang diteliti adalah Bagaimana Makna yang terkadung dalam kode estetika kain tenun gotya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui uraian-uraian yang menjelaskan subjek penelitian baik berupa kata-kata ungkapan tertulis dari narasumber dan perilaku yang diamati. Teknik pengumpulan data dengan cara wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Warna hitam dan putih dalam kain gotia memiliki konotasi mengandung nilai sepiritual yang dapat di representasikan sebagai keseimbangan alam atau rwa bineda. Selaim warna konsep Rwa Bhineda dalam kain tenun Gotia juga terdapat pada garis semitris yzng bersilingan membantuk motif ( + ) yang di sebut dengan Tampak Dara oleh masyarakat di Desa Adat Tenganan. Tampak Dara memiliki konotasi memaknai keseimbangan dimana segala sesuatu baik pekarangan rumah selalu selalu berpusat di tengah. Tampak Dara merupakan symbol penyatuan dua litas kehidupan atau Rwa Bhineda.