cover
Contact Name
Yuniar Hajar Prasekti
Contact Email
agribisfp@gmail.com
Phone
+6281357357676
Journal Mail Official
mufida.yeahhh@gmail.com
Editorial Address
Jl. Ki Mangunsarkoro Beji Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung
Location
Kab. tulungagung,
Jawa timur
INDONESIA
Agribis
ISSN : 19787901     EISSN : 27978109     DOI : https://doi.org/10.36563/agribis
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agribis diterbitkan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Tulungagung. Menerima artikel ilmiah kajian tentang ekonomi pertanian dan agribisnis.
Articles 74 Documents
PERAN WANITA TANI DALAM MENUNJANG PEREKONOMIAN RUMAH TANGGA KELUARGA PETANI Yuniar Hajar Prasekti
Jurnal AGRIBIS Vol. 5 No. 1 (2019)
Publisher : Univeritas Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.397 KB)

Abstract

Seiring perkembangan zaman wanita tidak lagi dianggap lemah. Wanita zaman sekarang telah menjalani peran ganda. Selain berperan sebagai ibu rumah tangga, mereka juga turut berperan dalam ekonomi karena tuntutan kebutuhan keluarga yang semakin meningkat.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran apa saja yang dilakukan wanita tani dalam menunjang perekonomian rumah tangga keluarga petani di Desa Ngubalan Kecamatan Kalidawir Kabupaten Tulungagung.Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Dengan jumlah sampel sebanyak 10 orang wanita tani. peneliti mengambil data dengan teknik wawancara dan dokumentasi. Pemilihan sampel dengan menggunakan purposive sample dengan mengambil subjek penelitian yang memenuhi kriteria. Dimana kriteria tersebut dibuat oleh peneliti sendiri.Hasil penelitian ini menunjukkan peran wanita tani dalam menunjang perekonomian rumah tangga keluarga petani di Desa Ngubalan Kecamatan Kalidawir Kabupaten Tulungagung , para wanita tani telah ikut ambil bagian dalam menambah pendapatan keluarga untuk membantu suami yang penghasilannya kecil. Selain bekerja menjadi wanita tani, mereka tidak melupakan tanggung jawab mereka sebagai ibu rumah tangga. Secara otomatis perannnya menjadi ganda, yaitu menjadi ibu rumah tangga dan sebagai istri yang bekerja
RESPON PETANI TERHADAP PERANAN PENYULUH PERTANIAN LAPANGAN DI KECAMATAN NGUNUT KABUPATEN TULUNGAGUNG Herry Nur Faisal
Jurnal AGRIBIS Vol. 5 No. 1 (2019)
Publisher : Univeritas Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.344 KB)

Abstract

PeranPPLpada dasarnya sebagai pembimbing dalam usaha tani, sebagai teknisi, sebagai agen penghubung serta sebagai organisator dan dinamisator yang mempengaruhi kelompok-kelompok tani.  Adanya respon yang baik dari kelompok tani terhadap perananPPLakan sangat membantu terjadinya hubungan interpersonal antara keduanya.  Sehingga diharapkan proses transfer informasi maupun adopsi inovasi akan berjalan dengan lancar yang pada akhirnya mampu mengubah kesejahteraan petani menjadi lebih baik.  Terdapat faktor-faktor intern dan ekstern yang mempengaruhi respon kelompok tani terhadap perananPPL. Faktor-faktor intern tersebut terdiri dari stereotip, kepandaian menyaring stimulus, konsep diri, kebutuhan dan harapan, emosi diri serta pengalaman masa lalu.  Sedangkan faktor-faktor ekstern terdiri dari intensitas, frekuensi, size (ukuran) dan repetition (pengulangan).Tujuan dari penelitian ini adalah : (1) Untuk menganalisis hubungan antara faktor-faktor intern dan ekstern dengan respon petani terhadap perananPPL; (2) Untuk menganalisis respon petani terhadap perananPPL.Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa faktor-faktor intern dan faktor-faktor ekstern tidak hubungan dengan respon petani, tetapi mempunyai hubungan yang kuat dengan perananPPLdi Kecamatan Ngunut.Dari hasil analisis yang dilakukan didapat bahwa terdapat hubungan antara respon petani di Kecamatan Ngunut terhadap perananPPL.
PERSPEKTIF PENGEMBANGAN AGROPOLITAN DALAM MENINGKATKAN PEREKONOMIAN PETANI Ida Syamsu Roidah
Jurnal AGRIBIS Vol. 5 No. 1 (2019)
Publisher : Univeritas Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.506 KB)

Abstract

Tulisan ini bertujuan membahas pengembangan agropolitan untuk meningkatkan perekonomian petani dan pengembangan konsep agropolitan dalam mendukung efisiensi usaha agribisnis. Penelitian ini menggunakan metode dengan pendekatan kualitatif sehingga peneliti mencoba untuk melihat fenomena yang memiliki karakter unik dalam pelaksanaan pengembangan agropolitan. Berdasarkan hasil penelitian perspektif pengembangan agropolitan dalam meningkatkan perekonomian petani menunjukkan bahwa harus adanya hubungan yang saling menguntungkan dan saling mendukung sehingga terdapat penyamaan kemitraan dalam berusaha antara penduduk desa dengan penduduk kota. Sedangkan untuk pengembangan konsep agropolitan dalam mendukung usaha agribisnis masih tergolong rendah karena keterbatasan sumberdaya, pengembangan diversifikasi produk yang belum optimal, serta pemantapan dalam mengoptimalkan pengembangan agribisnis dengan sasaran perolehan nilai tambah serta pertumbuhan bagi kepentingan kawasan agropolitan khususnya di wilayah pedesaan. 
ANALISA USAHATANI TEBU (Studi Kasus di Kecamatan Ngantru Kabupaten Tulungagung) Mufida Diah Lestari
Jurnal AGRIBIS Vol. 5 No. 1 (2019)
Publisher : Univeritas Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.497 KB)

Abstract

Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki keanekaragaman sumberdaya alam, salah satunya adalah dalam bidang perkebunan. Perkebunan tebu masih menjadi alternatif pilihan utama bagi warga di Kecamatan Ngantru untuk melakukan usaha tani sebagai upaya peningkatan nilai ekonomi masyarakat.Untuk membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan dan digunakan pengujian R/C ratio dengan kriteria :Apabila R / C > 1 maka usaha tani tebu menguntungkanApabila R / C = 1 maka usaha tani tebu impas ( BEP= break event point )Apabila R / C < 1 maka usaha tani tebu rugiBiaya yang diteliti oleh peneliti ini mencakup biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap yang diperhitungkan dalam penelitian adalah sewa lahan.Biaya variabel yang diperhitungkan disini adalah bibit, pupuk, obat-obatan dan tenaga kerja.            Pada pengamatan penulis dan penelitian langsung bahwa rata-rata luas lahan responden diatas 1 hektar, dengan begitu bias dikatakan bahwa responden adalah petani besar. Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan oleh peneliti pada responden terhitung bahwa:Rata – rata pendapatan petani =  = Rp. 65.966.333,00. 
DAMPAK SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT AKIBAT PENGEMBANGAN LINGKAR WILIS DI KABUPATEN TULUNGAGUNG Bambang Tri Kurniawan
Jurnal AGRIBIS Vol. 5 No. 1 (2019)
Publisher : Univeritas Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.971 KB)

Abstract

Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi dan menganalisa dampak positif dan dampak negatif pengembangan Lingkar Wilis terhadap sosial ekonomi masyarakat di Kabupaten Tulungagung.  Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode analisa data modell Miles & Huberman (1992: 16) mengatakan, analisis terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu: reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi.  Berdasarkan kajian tentang dampak sosial ekonomi pengembangan jalur Lingkar Wilis  di Kecamatan Sendang dan Kecamatan Pagerwojo dapat diidentifikasi beberapa hal sebagai berikut : 1) Indikator Sosial, (a) Kedua wilayah kecamatan tersebut memiliki jumlah penduduk bermata pencaharian terbanyak adalah peternak sapi perah dan petani; (b) Potensi wisata unggulan berbasis Agrowisata menjadi berkembang di beberapa desa. Ada yang sudah resmi dibuka dan dikelola secara professional, namun ada juga yang masih dalam tahap perencanaan dan perintisan; (c) Dilihat dari aspek kelembagaan, secara normatif semua Desa di dua Kecamatan memiliki struktur yang sama sesuai peraturan akan tetapi belum semua unsur kelembagaan desa berjalan efektif; (d) Dari aspek sosial budaya, kedua Kecamatan memiliki beberapa paguyuban seni dan budaya yang tetap dilestarikan sampai saat ini seperti jaranan, wayang kulit, reog gendang dll.         2) Indikator Ekonomi, (a) Kepemilikan lahan pertanian, kehutanan, peternakan yang sangat melimpah secara langsung membawa perekonomian meningkat signifikan; (b) Usaha ternak sapi perah menjadi andalan peternak karena dapat memberikan penghasilan bagi para masyarakat; (c) Usaha untuk menambah nilai hasil produk pertanian dan peternakan masih belum berkembang; (d) Pasar desa belum berfungsi maksimal. Sektor perdagangan didominasi oleh pertokoan, pracangan dan warung. Kecamatan Sendang dalam  kegiatan perekonomian didukung oleh koperasi tani Wilis, sedang Kecamatan Pagerwojo koperasi sedang terkendala masalah internal manajemen; (e) Masih banyak potensi wisata lain yang diharapkan mampu meningkatkan pendapat asli desa.
ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH (Allium Cepa L.) Di Kabupaten Tulungagung Yuniar Hajar Prasekti
Jurnal AGRIBIS Vol. 5 No. 2 (2019)
Publisher : Univeritas Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1598.892 KB)

Abstract

AbstractThe purpose of this study is to measure the profitability of shallot farming financially and economically, to assess the competitiveness of shallot commodities against competitive advantage and comparative advantage. The research method used is using a comparative advantage approach and competitive advantage. Comparative advantage can be analyzed using the Domestic Resource Cost Ratio (DCRC) approach. The DCRC value can be obtained using the PAM (Policy Analysis Matrix) analysis method. Determination of the sample area is done by using multistage sampling based on the broadest sub-districts and commodity producing villages, namely Sumbergempol and Rejotangan Districts. The results showed that the yield of red onion farming calculated using the actual price received by farmers showed that the average income received was 220,000,000 while the expenditure was 49,560,000 and the profit earned was 170,420,000. Based on the results of the PAM analysis shows that financially and economically, onion farming in Tulungagung Regency is able to provide benefits. Based on the results of PAM analysis, it shows that financially and economically, onion farming in Tulungagung District has a competitive advantage and comparative advantage. R/C ratio shows that financially every rupiah the sacrificed farming costs can produce a profit of 3.44 rupiah per hectare of land.AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat keuntungan usahatani bawang merah secara finansial dan ekonomi, untuk mengkaji daya saing komoditas bawang merah terhadap keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif. Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan pendekatan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Keunggulan komparatif dapat dianalisis dengan pendekatan Domestic Resource Cost Ratio (DCRC). Nilai DCRC dapat diperoleh menggunakan metode analisis PAM (Policy Analysis Matrix) Penentuan daerah sampel dilakukan dengan cara menggunakan multistage sampling berdasarkan kecamatan dan desa penghasil komoditas bawang merah yang terluas yaitu Kecamatan Sumbergempol dan Kecamatan Rejotangan.Hasil penelitian menunjukkan hasil keuntungan usaha tani bawang merah yang dihitung dengan menggunakan harga aktual yang diterima oleh petani menunjukkan, bahwa rata-rata penerimaan yang diterima  sebesar  220.000.000 sedangkan pengeluaran  sebesar 49.560.000 dan keuntungan yang diperoleh adalah  170.420.000. Berdasarkan hasil analisis PAM menunjukkan bahwa secara finansial maupun ekonomis usahatani bawang merah di Kabupaten Tulungagung mampu memberikan keuntungan. Berdasarkan hasil analisis PAM menunjukkan bahwa secara finansial maupun ekonomis usahatani bawang merah di Kabupaten Tulungagung memiliki keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif.  R/C rasio menunjukkan bahwa secara finansial setiap rupiah biaya usahatani yang dikorbankan mampu menghasilkan keuntungan sebesar 3,44 rupiah per hektar lahan.
ANALISIS KEBIJAKAN SWASEMBADA BERAS DALAM UPAYA PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN Ermawati Dewi
Jurnal AGRIBIS Vol. 5 No. 2 (2019)
Publisher : Univeritas Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.966 KB)

Abstract

AbstractRice is a strategic commodity economically and politically in Indonesia. Economically, more than 90 percent of Indonesia's population makes rice as a staple food. Rice industry also drives the economy by providing jobs for more than 12.5 million households and as a source of agricultural GDP acceptance. Politically, the availability of rice will affect the political and security stability in the country.This study aims to describe the development of the rice policy that has been done by the government and evaluate the results of existing policies. The results showed, national rice policy covers the policy production, imports, prices and distribution. Policies implemented through intensification of production by improving productivity and cropping index. While the extension is done by expanding the harvest area, especially outside Java through Program Peningkatan Produksi Beras (P4) starts with Padi Sentra (1959), Bimas (1965), Insus (1979) and P2BN (2007). Import policy through specific tariffs, tariff quotas and the red line to reduce the amount of imported rice. Pricing policy is done by setting the HPP for manufacturers, OPM, Raskin and set a ceiling price for consumers. While the distribution policy is done by pointing Bulog as manager of Cadangan Beras Pemerintah (CBP) as well as the dealer Raskin. The fourth policy experience a variety of obstacles in its implementation both from internal and external that has not reached the expected goals.AbstraksBeras  merupakan  komoditas strategis secara ekonomi dan politis di Indonesia. Secara ekonomi, lebih dari 90 persen penduduk Indonesia menjadikanberas sebagai makanan pokoknya. Industri beras juga menjadi penggerak perekonomian dengan menyediakan lapangan  pekerjaan bagi lebih dari 12.5 juta rumah tangga petani dan sebagai salah satu sumber penerimaan GDP pertanian. Secara politis, ketersedian beras akan mempengaruhi kondisi politik dan kestabilan keamanan negara.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan kebijakan beras yang telah dilakukan oleh pemerintah dan mengevaluasi hasil kebijakan yang  sudah berjalan. Hasil penelitian menunjukkan,  kebijakan perberasan nasional meliputi kebijakan  produksi, impor, harga dan distribusi. Kebijakan produksi dilaksanakan melalui intensifikasi dengan meningkatkan produktivitas dan Indeks Pertanaman. Sedangkan ekstensifikasi dilakukan dengan memperluas area panen terutama di luar Jawa melalui Program peningkatan produksi padi (P4) dimulai dengan Padi Sentra (1959), Bimas (1965), Insus (1979) dan P2BN (2007).Kebijakan impor dilakukan melalui penetapan tarif spesifik, kuota tarif dan red line untuk menekan jumlah impor beras. Kebijakan harga dilakukan dengan menetapkan HPP untuk produsen, OPM, Raskin dan menetapkan pagu harga untuk konsumen. Sedangkan kebijakan distribusi dilakukan dengan menunjuk Bulog sebagai pengelola Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sekaligus sebagai penyalur Raskin. Keempat kebijakan tersebut dalam pelaksanaanya mengalami berbagai hambatan baik yang berasal dari internal maupun eksternal sehingga belum mencapai sasaran yang diharapkan. 
STRATEGI PENGEMBANGAN LINGKAR WILIS BERDASARKAN DAMPAK SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI KABUPATEN TULUNGAGUNG Bambang Tri Kurnianto
Jurnal AGRIBIS Vol. 5 No. 2 (2019)
Publisher : Univeritas Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.917 KB)

Abstract

AbstractThis study aims to analyze the strategies used in the development of wilis circumference related to the socio-economic impact of the community in Tulungagung District. This study aims to analyze the strategies used in the development of the wilis circumference related to the socio-economic impact of the community in Tulungagung District.This type of research is descriptive research using the method of modell data analysis Miles & Huberman (1992:16) said, the analysis consists of three lines of activities that occur simultaneously, namely: data reduction, data presentation, conclusion drawing/verification. Based on a study of the socio-economic impacts of the development of the wilis circumference path in Tulungagung District (Sendang and Pagerwojo Subdistricts) then it was analyzed using the SWOT method (Strength, Weakness, Opportunity and Threat).AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisa strategi yang digunakan dalam pengembangan lingkar wilis berkaitan dengan dampak sosial ekonomi masyarakat di Kabupaten Tulungagung. Peneltian ini bertujuan untuk menganalisa strategi yang digunakan dalam pengembangan lingkar wilis berkaitan dengan dampak sosial ekonomi masyarakat di Kabupaten Tulungagung.Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode analisa data modell Miles & Huberman (1992:16) mengatakan, analisis terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu: reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi.  Berdasarkan kajian tentang dampak sosial ekonomi pengembangan jalur lingkar wilis di Kabupaten Tulungagung (Kecamatan Sendang dan Kecamatan Pagerwojo)kemudian dianalisa dengan menggunakan metode SWOT (Strength, Weakness, Opportunity dan Threat).
ANALISA PENDAPATAN POLA PEMASARAN TAHU (Studi kasus di Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung) Herry Nur Faisal
Jurnal AGRIBIS Vol. 5 No. 2 (2019)
Publisher : Univeritas Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.434 KB)

Abstract

Abstract               This study aims to find out the level of self-production production know-how and production of finished / frozen tofu, as well as what benefits does the second attempt at production tofu this. The methodology of this research is done intentionally and uses a purposive method, wherein the business actor or entrepreneur is the starting point. The method of analyzing the data of this study uses primary data. The results of the discussion of this study use the entrepreneur's identity, production costs, purchase price and selling price.The conclusions from the author's research based on the results of research and data processing can be summarized as follows: there are twelve tofu industries, seven own tofu production and five finished / frozen production, in the research area of , Ngunut District, Tulungagung Regency. The results of the study show that the profit level of self-tofu production is more profitable than the profit level of finished tofu production, this is evidenced by the results of the comparison of self-tofu production income and the comparison of tofu / frozen production.                                           AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pendapatan produksi tahu sendiri dan produksi tahu jadi/ kulakan,serta menguntungkan apa tidak usaha kedua produksi tahu ini. Metodelogi penelitian ini dilakukan dengan sengaja dan menggunakan metode (purposive) sengaja,dimana pelaku usaha atau pengusaha sebagai titik awal (starting point). Metode analisa data penelitian ini menggunakan data primer. Hasil pembahasan penelitian ini menggunakan identitas pengusaha, biaya produksi, harga beli dan harga jual. Kesimpulan dari penelitian penulis berdasarkan dari hasil penelitian dan pengolahan data dapat disimpulkan sebagai berikut : terdapat dua belas industry tahu, tujuh produksi tahu sendiri dan lima produksi jadi/ kulakan, di daerah penelitian, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung. Hasil penelitian bahwa tingkat keuntungan produksi tahu sendiril ebih menguntungkan daripada tingkat keuntungan produksi tahu jadi/ kulakan, hal ini terbukti dengan hasil perbandingan pendapatan produksi tahu sendiri dan perbandingan produksi tahu jadi/ kulakan.
EVALUASI PROGRAM USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN PETERNAK SAPI PERAH Mufida Diah Lestari
Jurnal AGRIBIS Vol. 5 No. 2 (2019)
Publisher : Univeritas Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.163 KB)

Abstract

AbstractThe rural agribusiness program is a form of government efforts to increase the income of dairy farmers, especially in Pagerwojo Subdistrict, Tulungagung Regency. The method used by researchers in determining the sample is by simple random sampling method, for livestock populations used as a sample amounting to 15-50%. While the method of data analysis used by researchers is to use the R / C ratio to determine the income or profits from raising dairy cows with the amount of lactation 1 dairy cow. In one month one lactation dairy cow was fed an additional bran of an average of 135.6 kg, an average concentrate of 27.95 kg. While minerals in one month are given as much as 3 kg.The price of additional feed in the form of rice bran per kilogram is Rp. 1,850, per kilogram of rice is Rp. 4,500, per kilogram mineral is Rp. 7,500, while forage is calculated as agricultural waste. Cattle farming represents an opportunity at all levels, driving the economy of the mountainous area through sustainable development. Become a job opportunity that can be done by farmers and provide additional income for the economy of the farmer's family.Abstrak              Program usaha agribisinis pedesaan merupakan sebuah bentuk upaya pemrintah untuk meningkatkan pendapatan peternak sapi perah khususnya di Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung.  Metode yang digunakan oleh peneliti dalam menentukan sampel yaitu dengan metode simple random sampling, untuk populasi ternak yang dipakai sebaagi sampel berjumlah 15-50%. Sedangkan metode analisis data yang diguankan oleh penliti adalah dengan mengunakan perhitungan R/C ratio untuk mengetahui pendapatan atau keuntungan dari beternak sapi perah dengan jumlah laktasi 1 ekor sapi perah. Dalam satu bulan satu ternak sapi perah laktasi di beri makanan tambahan bekatul rata-rata 135.6 kg, konsentrat rata-rata 27.95 kg. Sedangkan mineral dalam satu  bulan diberi sebanyak 3 kg.Harga pakan tambahan berupa bekatul perkilogram sebesar Rp.1.850, konsetrat perkilgram sebesar Rp.4.500, mineral perkilogram sebesar Rp.7.500, sedangkan hijauan dihitung sebagai limbah pertanian.Peternakan sapi dilakukan karena memberikan kontribusi bagi keluarga petani  dan selanjutnya sebagai  pengembangan pembangunan di daerah penggunungan.beternak sapi mewakili kesempatan pada semua tingkatan, mendorong ekonomi daerah penggunungan melalui pembangunan berkelanjutan. Menjadi kesempatan kerja yang dapat dilakukan petani dan memberi pendapatan tambahan bagi perekonomian keluarga petani.