cover
Contact Name
Yusuf Siswantara
Contact Email
sapientia.humana@unpar.ac.id
Phone
+6282116321889
Journal Mail Official
sapientia.humana@unpar.ac.id
Editorial Address
Jl. Ciumbuleuit No.94, Hegarmanah, Kec. Cidadap, Kota Bandung, Jawa Barat 40141
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Sapientia Humana : Jurnal Sosial Humaniora
ISSN : 28078756     EISSN : 28078616     DOI : https://doi.org/10.26593/jsh.v2i02.6199
Core Subject : Humanities,
The SAPIENTIA HUMANA Scientific Journal publisher opinion articles and research articles on values and humanity. Methods and themes can vary but should cover the following topics, including: Education, Philosophy and Theology, Applied Ethics, Pancasila and Citizenship, History-Anthropology-Sociology, Environment, Media and Technology, Law, Literature, Aesthetics.
Articles 120 Documents
Honour Atau Horor: Representasi Tubuh Perempuan Dalam Sinema Indonesia Alfonsus Sutarno; Kurniasih Kurniasih; Topik Mulyana
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 5 No 01 (2025): 2025 JUNI
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jsh.v5i01.9565

Abstract

Artikel ini mengkaji representasi tubuh perempuan dalam tiga sinema horor Indonesia karya Joko Anwar, yaitu Pengabdi Setan (2017), Perempuan Tanah Jahanam (2019), dan Ratu Ilmu Hitam (2019) yang menempatkan tubuh perempuan dalam dimensi honour (pesona) dan horor (teror). Dalam perspektif fenomenologi agama (Eliade, Otto), teori monstrous feminine (Creed), dan maternal horror (Winda), artikel ini mendeskripsikan bagaimana tubuh perempuan berperan sebagai hierofani yang memunculkan mysterium tremendum et fascinans, simbol pengorbanan, manifestasi kekuatan gaib, dan representasi ambivalensi dalam kosmologi Jawa. Kajian tekstual dan sinematografi mengungkapkan dialektika antara patriarki, trauma kolektif, dan resistensi. Relevansi kajian ini terletak pada kontribusinya pada studi gender dan kultur di Indonesia, di mana narasi horor dalam sinema Indonesia merefleksikan dan membentuk persepsi publik mengenai jati diri perempuan. Tubuh perempuan ditarik dalam dua kutub paradoksal, antara yang sakral dan profan; antara honour dan horor.
Membaca Pemikiran Victor Frankl Dalam Konflik Timor Leste JH Fandi Gilar Saputro; Tri Rahayu
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 5 No 01 (2025): 2025 JUNI
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jsh.v5i01.9578

Abstract

Tulisan ini berupaya menggali relevansi pemikiran Viktor E. Frankl, khususnya logoterapi dan pencarian makna dalam penderitaan, terhadap konflik dan tragedi kemanusiaan yang terjadi di Timor Leste. Dengan pendekatan filosofis-eksistensial, penelitian ini membaca ulang pengalaman kolektif masyarakat Timor Leste, baik dalam masa pendudukan maupun pasca-kemerdekaan, melalui pemikiran Frankl, yang menekankan bahwa manusia tetap memiliki kebebasan batin untuk memberi makna pada penderitaannya. Konflik Timor Leste tidak hanya menyisakan luka sejarah, tetapi juga menyimpan potensi untuk penemuan makna eksistensial di tengah keterpurukan. Dengan merujuk pada prinsip-prinsip logoterapi, tulisan ini menunjukkan bagaimana individu dan komunitas di Timor Leste dapat mengubah penderitaan menjadi kekuatan batin, dan trauma menjadi kekuatan transformatif dalam membangun rekonsiliasi dan kemanusiaan. Studi ini berkontribusi pada pemahaman lintas-disiplin antara psikologi eksistensial dan studi konflik, serta menawarkan pendekatan spiritual-humanistik dalam merawat luka bangsa.
Analisis Framing Pemberitaan Pencemaran Sungai Citarum Pada Media Online Muhammad Rendi Ramadan; Dadan Saputra; Aulia Asmarani; Nugroho Iman Santoso
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 5 No 02 (2025): 2025 DESEMBER
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jsh.v5i02.9621

Abstract

Penelitian ini menganalisis bagaimana media online Kompas.com dan Tempo.co membingkai isu pencemaran Sungai Citarum pada periode Mei-Juni 2024. Menggunakan pendekatan analisis framing model Robert N. Entman, penelitian ini mengkaji empat elemen utama: problem definition, causal interpretation, moral evaluation, dan treatment recommendation. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis isi terhadap 6 berita Kompas.com dan 4 berita Tempo.co. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kompas.com cenderung menggunakan framing yang moderat dan komprehensif, sementara Tempo.co menggunakan framing yang lebih kritis dan investigatif. Perbedaan framing ini mempengaruhi konstruksi realitas lingkungan dan pembentukan opini publik mengenai pencemaran Sungai Citarum. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman praktik jurnalisme lingkungan di Indonesia dan implikasinya terhadap diskursus kebijakan publik
Mendidik lewat laut : makna etnopendagogik dalam tradisi Larung sesaji Probolinggo Jawa Timur Septi Siti Ramadhani; Nabilla Larasati Rizkya Layana; Rella Gina Sonia; Siti Komariah; Mirna Nur Alia Abdullah
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 5 No 02 (2025): 2025 DESEMBER
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jsh.v5i02.9782

Abstract

Abstract The Larung Sesaji ritual in Probolinggo City is a coastal community tradition rich in symbolic meaning and social values. This ritual not only serves as an expression of gratitude for the blessings of nature but also functions as a medium of cultural preservation, education, and spiritual communication between humans, nature, and the Creator. This study aims to explore the symbolic meanings, social values, and educational functions embedded in the Larung Sesaji Bumi ritual and its relevance to the concept of ethnopedagogy. The research employed a qualitative descriptive approach using literature study methods, by analyzing academic sources such as journals, books, and related documents without conducting direct field observation. The results show that Larung Sesaji contains strong religious, social, ecological, and aesthetic values. The symbols within the offerings reflect the harmonious relationship between humans and nature, while collective participation in the ritual preparation and performance demonstrates social solidarity and mutual cooperation. Beyond its spiritual aspects, the ritual also holds educational significance as a medium for character education based on local wisdom. In the context of ethnopedagogy, Larung Sesaji Bumi serves as an effective cultural medium for cultivating religiosity, social responsibility, and cultural awareness among the community. Abstrak Ritual Larung Sesaji di Kota Probolinggo merupakan tradisi masyarakat pesisir yang sarat makna simbolik dan nilai sosial. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil bumi, tetapi juga sebagai sarana pelestarian budaya, media pendidikan, dan wujud komunikasi spiritual antara manusia, alam, serta Sang Pencipta. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolik, nilai sosial, dan fungsi edukatif yang terkandung dalam ritual Larung Sesaji serta relevansinya dengan konsep etnopedagogik. Metode yang digunakan ialah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik studi pustaka, yaitu menelaah berbagai sumber ilmiah seperti jurnal, buku, dan dokumen terkait tanpa melakukan observasi langsung ke lapangan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Larung Sesaji Bumi memiliki nilai-nilai religius, sosial, ekologis, dan estetis yang tinggi. Simbol-simbol dalam sesaji menggambarkan hubungan harmonis antara manusia dan alam, sedangkan partisipasi masyarakat dalam persiapan dan pelaksanaan upacara mencerminkan semangat gotong royong serta solidaritas sosial. Selain berfungsi spiritual, tradisi ini juga memiliki nilai edukatif, yakni sebagai media pembelajaran karakter berbasis kearifan lokal. Dalam konteks etnopedagogik, Larung Sesaji Bumi menjadi sarana efektif dalam menanamkan nilai religiusitas, tanggung jawab sosial, dan rasa cinta budaya.
Tantangan Dan Relevansi Pancasila Bagi Masyarakat Di Era Digital Sa'ad Habib; Ayyunan Faishal
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 5 No 02 (2025): 2025 DESEMBER
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jsh.v5i02.9882

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana Pancasila masih berhubungan dan bisa menjadi pedoman moral di tengah cepatnya perkembangan digitalisasi dan globalisasi. Meskipun pada dasarnya Pancasila tetap menjadi dasar negara, hasil analisis menunjukkan ada perbedaan jelas antara nilai-nilai mulia tersebut dengan penerapannya di dunia digital saat ini. Dengan menggunakan metode kualitatif yang melibatkan analisis mendalam terhadap tulisan ilmiah, dokumen resmi, dan berita media, penelitian ini menemukan tiga hambatan utama. Pertama, kurangnya literasi digital dan ideologi di masyarakat menciptakan peluang bagi penyebaran informasi palsu dan disinformasi. Situasi ini langsung merusak prinsip Persatuan Indonesia (Sila 3) dan menghalangi terwujudnya Hikmat Kebijaksanaan (Sila 4). Kedua, ruang digital sering disalahgunakan untuk tindakan intoleransi dan polarisasi yang ekstrem. Fenomena "echo chamber" dan "filter bubble" memperdalam perpecahan yang berakar pada suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), yang bertentangan dengan semangat Ketuhanan yang Maha Esa (Sila 1) dan keberagaman. Ketiga, terjadi penurunan moral dan etika digital yang terlihat dari banyaknya kasus perundungan online dan penyalahgunaan data, yang menunjukkan pengabaian terhadap nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab (Sila 2).  
Menakar ‘Yang Kreatif’ dalam Demokrasi Komunikatif Sylvester Kanisius Laku
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 5 No 02 (2025): 2025 DESEMBER
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jsh.v5i02.10401

Abstract

Makalah ini membicarakan tentang yang kreatif dalam demokrasi komunikatif Iris Marion Young. Analisis tentang yang kreatif dalam demokrasi komunikatif Young berpusat pada tegangan antara model komunikasi informal yang diusulkan oleh Young melalui komunikasi sehari-hari seperti sapaan (salam), retorika, dan narasi (storytelling) dan model prosedural dan argumentasi rasional dalam demokrasi deliberatif. Di satu sisi model argumentasi rasional dianggap sebagai cara terbaik mencapai konsensus, tetapi di sisi lain model tersebut justru dianggap menghianati partisipasi rakyat kecil yang umumnya tidak saja tidak memiliki akses ke dalam struktur kekuasaan, tetapi juga terbatas kemampuan rasionalitas mereka. Model demokrasi komunikatif Young dilihat sebagai jalan keluar alternatif untuk mengatasi kebuntuan praksis tersebut. Makalah ini bermaksud menghadirkan suatu pemikiran baru dalam kazanah filsafat politik tentang cara berpikir lain yang memungkinkan mengatasi keketatan prosedural dalam demokrasi deliberatif. Untuk mencapai tujuan tersebut, metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah deksipri dan analisis-kritis yang bermaksud selain memberikan gambaran tentang gagasan demokrasi komunkatif dan tegangan-tegangan di seputar gagasan tersebut, serta kemungkinan menghubungkan antara demokrasi komunikatif dan pemahaman tentang yang kreatif. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa demokrasi komuniaktif Young paling baik dipahami sebagai yang kreatif dalam demokrasi demi tujuan keadilan bagi semua orang.
Akuntabilitas Dan Transparansi Sebagai Instrumen Pencagahan Tindak Pidana Korupsi Di Pemerintahan Daerah aleyda syira; Fadilla Aulia Desriani; Tiara Cantika; Sulastri Lalas
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 5 No 02 (2025): 2025 DESEMBER
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jsh.v5i02.10475

Abstract

Korupsi di pemerintahan daerah Indonesia merupakan permasalahan yang terus mengancam efektivitas tata kelola publik dan kesejahteraan masyarakat. Lemahnya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan anggaran daerah menjadi faktor utama yang memfasilitasi terjadinya tindak pidana korupsi. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana akuntabilitas dan transparansi publik dapat berfungsi sebagai instrumen pencegahan korupsi di pemerintahan daerah, dengan lokus studi kasus di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Metode yang digunakan adalah studi literatur sistematis (systematic literature review) dengan mengkaji 39 artikel ilmiah nasional dan internasional, dokumen kebijakan, regulasi terkait, serta literatur kontemporer akuntabilitas digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa penguatan akuntabilitas (vertikal, horizontal, dan sosial) dan transparansi melalui integrasi sistem e-governance (seperti SIPD dan SAKIP), peningkatan partisipasi masyarakat, dan audit independen secara signifikan mampu menekan peluang terjadinya korupsi. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kerangka kebijakan antikorupsi berbasis tata kelola yang baik (good governance) di level pemerintahan daerah Indonesia.
Jalan Raya Pos dan Jalan Daendels: Infrastruktur Kolonial dalam Perspektif Pacem in Terris Paulinus Herlambang Prasetyo; Fransiskus Borgias
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 5 No 02 (2025): 2025 DESEMBER
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jsh.v5i02.10494

Abstract

Penjajahan merupakan tindakan yang identik dengan pelanggaran norma-norma kemanusiaan. Bangsa Indonesia sendiri pernah berada dalam posisi dijajah oleh Negara lain. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya data dan fakta yang membuktikan kasus tersebut. Kisah pembangunan Jalan Raya Anyer sampai Panarukan adalah bukti nyata dari penjajahan. Walaupun pembangunan tersebut memberikan hasil yang baik dalam mengembangkan perekonomian. Namun imbasnya harus dibayar dengan darah dan nyawa yang tidak ternilai harganya. Adapun hasil penelitian merupakan gambaran dari pedihnya keadaan Bangsa Indonesia di masa penjajahan yang dilakukan oleh Kolonial Belanda. Selain itu disinggung juga kasus Genosida yang berada di seluruh Tanah Indonesia. Dikisahkan pula tentang sejarah terjadinya sistem tanam paksa (Cuulturstelsel) yang semakin merugikan rakyat Indonesia pada saat itu. Lebih spesifiknya adalah tentang peristiwa di balik pembangunan Jalan Raya Pos Anyer sampai Panarukan. Tercatat bahwa pembangunan ini melewati 39 kota, baik kota kecil seperti Juwana, Bangil, dan Porong. Sedangkan kota besarnya meliputi Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Semarang. Serta masih banyak kota-kota yang dilewati oleh jalur pembangunan ini. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah metode kualitatif. Mengembangkannya dengan melakukan analisis deskriptif terhadap buku hasil karya Pramoedya Ananta Toer. Metode kualitatif merupakan langkah yang membantu dalam menyusun data yang tercantum.
Mircea Eliade dan Pemulihan Kekudusan Yohanes Theo
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 2 No 02 (2022): 2022
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jsh.v2i02.5895

Abstract

The era of borrowing Didi Kempot's ambyar reveals the symptoms and turmoil. Ambyar does not only captures politics, economics, and the environment, but even our religious ways are also ambyar. Religion let convey holiness or being a saint is considered irrelevant. In this age of ambyar, there is a tension between the holy (the sacred) and the profane (the profane). So, is it true that modern people cannot be sacred? This study analyzes this problem with the design of a literature study, in the approach of analyzing the philosophy of religion Mircea Eliade. The results of the study: through the central concept of restoring holiness with systematic stages, Eliade drew back the profane to the holy. The implications of such conclusions are 1) Modern society is often defined as a human being who affirms holiness and is attracted to the profane. Meanwhile, sacred events existed only in archaic times and were lived by archaic humans. Repetition is the key to the restoration of the profane world to the holy world. Repetition turns profane time into mythic time, past time into a re-experiential present. 2) We may still experience holiness in our daily lives in repetition, in the present moment. However, profanity and holiness are the existential choices of the man himself
Petani Versus Penguasa: Perampasan Tanah Dan Perlawanan Petani Syafnil
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 2 No 02 (2022): 2022
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jsh.v2i02.6020

Abstract

Economic improvement through foreign investment in the plantation sector, for example, increasing capitalization and plantation expansion continues to erode customary land. Customary land encroachment is an issue that often sticks to the expansion of oil palm plantations. An unfavorable mechanism for resolving land conflicts led to prolonged resistance between the Peasants and the rulers. This research uses qualitative methods with ethnographic studies, with critical analysis. Data collection techniques through interviews, participatory observation, literature studies, and documentation support data obtained from the field. The selection of informants uses snowball sampling.  The case in Nagari Lingkuang Aua is viewed from the point of view of ecological politics and Peasant Resistance. Research findings show that land conflicts between farmers and companies have been occurring for a long time. The demands of the crate society were not taken seriously by the company. the company is stalling for time by taking refuge behind the HGU permits they have. Such conditions are also supported by the weak critical reasoning of local governments. They tend to protect the company and not investigate further because the company already has an HGU. The disillusionment of the farming community made them continue their resistance until now.

Page 11 of 12 | Total Record : 120