Jejak: Jurnal Pendidikan Sejarah Universitas Jambi
Jurnal Sejarah dan Pendidikan diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Jambi yang berkerja sama dengan Perkumpulan Prodi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI). Jurnal ini menerbitkan makalah penelitian asli, artikel konseptual, artikel review dan studi kasus. Fokus dan Cakupan jurnal ini terdiri dari Seluruh Spektrum Pembelajaran Sejarah Dan Pendidikan Sejarah yang meliputi: Sistem Pendidikan, Kurikulum, Nilai-Nilai Pendidikan, Peninggalan Sejarah Lokal Media Dan Sumber Pembelajaran Sejarah, Evaluasi Pembelajaran Sejarah Dan Topik Terkait Lainnya.
Articles
94 Documents
EKSISTENSI GERAKAN MAHASISWA TAHUN 1966 SEBAGAI UPAYA TUMBANGKAN KEPEMIMPINAN SOEKARNO
Damayanti, Wiwik
JEJAK : Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah Vol. 2 No. 2 (2022): Kajian Pendidikan Sejarah, Ilmu Sejarah, & Sosial
Publisher : Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/jejak.v2i2.21063
Ketidakstabilan politik pada tahun 1966 dilandasi dari kurang tegasnya Presiden Soekarno dalam mengambil keputusan terkait permasalahan negara yang sedang berlangsung merupakan “boomerang†bagi dirinya. Lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret yang ditujukkan oleh Soekarno kepada Soeharto sering dianggap sebagai titik awal munculnya orde baru. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu melalui studi pustaka. Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini yakni gerakan mahasiswa yang bersatu dalam KAMI tahun 1966 pada mulanya bertujuan untuk membubarkan PKI, melakukan reshuffle Kabinet Dwikora, dan menurunkan harga-harga sebagaimana yang tergambar dalam Tritura (Tri Tuntutan Rakyat). Namun dalam perkembangannya karena ketidaktegasan Presiden Soekarno dalam menangani masalah yang berlangsung membuat mahasiswa kehilangan kepercayaan terhadap Soekarno. Atas dasar tersebut gerakan yang orientasi utamanya adalah membubarkan PKI menjadi menjatuhkan kepemimpinan Presiden Soekarno.
INPRES NO 14 TAHUN 1967: BENTUK DISKRIMINASI PEMERINTAH ORDE BARU TERHADAP ETNIS TIONGHOA
Aryani, Mima Kharimah
JEJAK : Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah Vol. 2 No. 2 (2022): Kajian Pendidikan Sejarah, Ilmu Sejarah, & Sosial
Publisher : Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/jejak.v2i2.21627
Masa Orde Baru merupakan masa kelam bagi etnis Tionghoa di Indonesia. Kebebasan mereka direnggut oleh pemerintah Orde Baru yang tentunya tindakan ini merupakan bentuk diskriminasi terhadap warga negara. Pemerintah Orde Baru dengan tegas membentuk kebijakan untuk mengatur warga etnis Tionghoa baik dalam menjalankan agama, kepercayaan, serta adat istiadatnya di Indonesia. Salah satu bentuk kebijakannya tertuang pada Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui bagaimana Inpres ini mengatur etnis Tionghoa sehingga membentuk masa kelam bagi mereka. Latar belakang masalah dalam artikel ini lebih difokuskan pada pelaksanaan Inpres No. 14 Tahun 1967 di masa Orde Baru serta dampaknya bagi etnis Tionghoa di Indonesia. Pendekatan yang digunakan dalam penulisan artikel ilmiah ini yaitu dengan studi literatur yang berpedoman pada langkah-langkah penelitian sejarah yaitu Heuristik, Kritik Sejarah, Interpretasi, dan Historiografi. Adapun hasil dari penelitian ini adalah tindakan diskriminasi pemerintah meliputi berbagai bidang kehidupan etnis Tionghoa selama kurang lebih 30 tahun lamanya dan ini berdampak besar pada pola hidup mereka di masa-masa sesudahnya.
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V SDN 82/IX PIJOAN MATERI MENGHARGAI PENINGGALAN SEJARAH DENGAN STRATEGI KNOW, WANT TO KNOW, LEARNER (KWL)
Marlina, Yenti
JEJAK : Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah Vol. 2 No. 2 (2022): Kajian Pendidikan Sejarah, Ilmu Sejarah, & Sosial
Publisher : Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/jejak.v2i2.21904
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar materi peninggalan sejarah dengan menggunakan strategi KWL SDN 82/IX Pijoan siswa kelas V. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan yang terdiri dari dua siklus, masing-masing sebagai berikut: Hasil siklus 1 dengan menggunakan model pembelajaran strategi KWL diperoleh skor rata-rata siklus 1 sebesar 77,3. Nilai tertinggi 100 untuk 1 siswa, nilai terendah 65 untuk 3 siswa, dan kemauan belajar 80% 20. % tidak tercapai. Pada Siklus II rata-rata skor Siklus II adalah 81,7 dengan skor tertinggi 100, 1 dengan skor terendah 65, dan 1 dengan tingkat penguasaan 93% kurang dari 7%. Dari sini dapat disimpulkan bahwa penggunaan strategi KWL meningkatkan hasil belajar pemahaman materi peninggalan sejarah kelas V SDN 82/IX Pijoan.
PERAN ORGANISASI PERHIMPUNAN INDONESIA DALAM UPAYA MENCAPAI KEMERDEKAAN DI BELANDA
Rusdiana, Yusinta Tia;
Heryati, Heryati;
Yuliarni, Yuliarni
JEJAK : Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah Vol. 2 No. 2 (2022): Kajian Pendidikan Sejarah, Ilmu Sejarah, & Sosial
Publisher : Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/jejak.v2i2.22344
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran organisasi Perhimpunan Indonesia dalam upaya mencapai kemerdekaan.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah atau historis dengan tahapan: heuristik, kritik, interpretasi, dan historiogtafi. Jenis Penelitian yang digunakan bersifat kajian pustaka (literature). Hasil penelitian menjelaskan (1) Latar belakangi berdirinya organisasi Perhimpunan Indonesia di Belanda karena adanya motivasi untuk menjalin rasa persatuan dan kekeluargaan hidup di rantauan, juga adanya rasa kesadaran Nasional yang timbul, setelah banyak belajar tentang sejarah perjuangan dari berbagai negara di dunia. (2) Peranan organisasi Perhimpunan Indonesia dalam upaya mencapai  kemerdekaan di Belanda sebagai tempat pergerakan para mahasiswa Indonesia di Belanda, sebagai bentuk penyampai tentang nama Indonesia kepada dunia umumnya dan khususnya kepada rakyat Indonesia yang ada di tanah air.
PANCASILA DAN NASAKOM DALAM MEMPERSATUKAN BANGSA INDONESIA: (Kajian Kritis Sejarah Intelektual)
Wiratama, Nara Setya;
Budianto, Agus;
Sumarwoto, Muhammad Ipung Zainul Islam
JEJAK : Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah Vol. 2 No. 2 (2022): Kajian Pendidikan Sejarah, Ilmu Sejarah, & Sosial
Publisher : Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/jejak.v2i2.22428
Pancasila merupakan Ideologi negara Indonesia, sedangkan NASAKOM atau dapat di uraikan menjadi Nasionalis, Agama, dan Komunis adalah sebuah konsep yang pernah di gelorakan oleh Presiden Sukarno dalam upaya mempersatukan tiga golongan terbesar pada awal kemerdekaan Indonesia. Penelitian ini ingin mengetahui lebih mendalam mengenai Pancasila, dan Konsep pemikiran Nasakom. Peneliti menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Adapun Langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) menggali informasi dari berbagai sumber relevan, (2) melakukan kritik sumber terhadap langkah pertama, kemudian (3) merangkum semua hasil kajian berupa kesimpulan tentang Konsep Pancasila dan Nasakom. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa kedua ideologi ini berusaha untuk menyatukan seluruh unsur yang ada di Indonesia. Pancasila sendiri digali oleh Presiden Sukarno lalu di sempurnakan oleh banyak tokoh yang diambil dari nilai-nilai luhur asli Indonesia. Sedangkan Nasakom sendiri diciptakan sebagai Ideologi yang menyatukan golongan terbesar yang ada di negara Indonesia saat awal merdeka, akan tetapi Nasakom gagal di jalankan dan arah ideologi kembali lagi ke Pancasila sebagai dasar negara yang lebih universal dan digunakan hingga saat ini.
KEARIFAN BUDAYA LOKAL: TRADISI REWANG MASYARAKAT DESA SUNGAI GELAM KABUPATEN MUARO JAMBI
Syarifuddin, Amir;
Uswanto, Heri;
Raharyoso, Dwi
JEJAK : Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah Vol. 2 No. 2 (2022): Kajian Pendidikan Sejarah, Ilmu Sejarah, & Sosial
Publisher : Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/jejak.v2i2.22472
Penelitian ini tentang tradisi kebudayaan lokal yang dilakukan oleh masyarakat desa Sungai Gelam Kabupaten Muaro Jambi di era Revolusi Industri 4.0. Metode pengumpulan data menggunakan metode historis deksriptif. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa setiap suku bangsa mempunyai aturan adat istiadat atau upacara masing-masing. Aturan itu berbeda di antara satu dengan yang lain karena aturan tersebut telah dibentuk mengikuti pengalaman dan pandangan yang berbeda di antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain. Aturan tersebut tentu telah dibuat jauh sebelum masyarakat berkembang seperti sekarang ini. Begitu juga dengan tradisi Rewang yang dilakukan oleh masyarakat Desa Sungai gelam, tradisi ini terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Tradisi ini tidak akan pernah punah akan tetapi tradisi ini banyak sekali mengalami sedikit perubahan. Perubahan ini tentulah akibat dari perkembangan zaman yang semakin modern. Tak dapat di elakkan lagi Revolusi Industri 4.0 sekarang ini membuat segala macam bisa berubah seperti Tradisi hari Rewang yang merupakan kearifan budaya lokal yang harus tetap di lestarikan.
JEJAK PERKEMBANGAN ISLAM PADA KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA
Maulia, Siti Tiara;
Hendra, Hendra;
Ichsan, Muhammad
JEJAK : Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah Vol. 2 No. 2 (2022): Kajian Pendidikan Sejarah, Ilmu Sejarah, & Sosial
Publisher : Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/jejak.v2i2.22477
Indonesia memiliki letak strategi yang berada pada garis persilangan lalu lintas laut yang menghubungkan dua kontinen besar di barat dan timur. Hal ini menjadi faktor penyebab mudahnya islam masuk ke Indonesia yang dibawa oleh para. Keberadaan agama islam di indonesia juga menjadi suatu hal yang menarik dan ajarannya yang mudah diterima oleh masyarakat. Metode yang digunakan dalam penulisan ini menggunakan jenis/pendekatan Studi Kepustakaan (Research Library). Dimana pengumpulan data dilakukan dengan bantuan dari berbagai macam material yang ada diperpustakaan seperti dokumen, buku, majalah, juga kisah-kisah sejarah. Data lain diperoleh melalui pengumpulan data merujuk pada hasil penelitian para sejarawan juga sumber-sumber lain yang mendukung seperti jurnal dan juga situs internet. Pada proses penyebarannya Islam memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat indonesia karena semua orang dihadapan Tuhan dianggap sama dan tidak ada perbedaan kasta. Pendukung utama dalam proses penyebaran ini adalah para pedagang yang melakukan perdagangan. Dari hasil proses islamisasi ini memunculkan kerajan-kerajaan yang bercorak Islam di Indonesia.
MEMBANGKITKAN SEMANGAT NASIONALISME GENERASI MUDA BANGSA MELALUI PEMBELAJARAN SEJARAH KONGRES PEMUDA (1926 – 1928)
Rachmawati, Dwi Putri
JEJAK : Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah Vol. 2 No. 2 (2022): Kajian Pendidikan Sejarah, Ilmu Sejarah, & Sosial
Publisher : Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/jejak.v2i2.24626
Tulisan ini membahas mengenai nilai nasionalisme melalui pembelajaran sejarah dari peristiwa kongres pemuda sekitar tahun 1926 – 1928. Perlu diketahui bahwa sejarah sangat penting untuk dipelajari karena kita memerlukan alat pemersatu yang tidak bisa dipungkiri bahwa sejarah salah satu alasan kita untuk bertahan menjadi sebuah bangsa. Sejarah memberikan wawasan dan pemahaman kehidupan bahwa dari sejarah kita dapat memperoleh pemahaman berupa kesatuan, nasionalisme, dan kebangsaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai apa saja yang dapat diambil dari peristiwa kongres pemuda tahun 1926 – 1928 dan bagaimana cara menerapkan serta membangkitkan nilai tersebut bagi generasi muda melalui pembelajaran sejarah di sekolah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian yaitu deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis yaitu dengan studi pustaka melalui berbagai sumber kepustakaan yang diperoleh melalui buku, jurnal, internet, dan lain sebagainya yang memenuhi kaidah-kaidah kepenulisan ilmiah serta dapat dipertanggungjawabkan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai nasionalisme yang terdapat dalam peristiwa kongres pemuda yaitu nilai persatuan dan kesatuan, semangat kebangsaan, rela berkorban, gotong royong, cinta tanah air, kebersamaan dan persaudaraan, menghargai perbedaan, dan lain sebagainya. Suatu peristiwa sejarah mengajarkan nilai-nilai positif yang dapat dijadikan pelajaran kehidupan dan dapat ditanamkan pada generasi muda penerus bangsa.
PEMBENTUKAN SIKAP NASIONALISME PESERTA DIDIK MELALUI PEMBELAJARAN SEJARAH PERHIMPUNAN INDONESIA
Aini, Wisda Nur
JEJAK : Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah Vol. 2 No. 2 (2022): Kajian Pendidikan Sejarah, Ilmu Sejarah, & Sosial
Publisher : Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/jejak.v2i2.24635
Penelitian ini mengkaji bagaimana realita saat ini yang perlahan mengikis rasa nasionalisme peserta didik melalui masuknya budaya asing. Hadirnya pengaruh kuat dari media sosial masa kini berdampak pada interaksi antar peserta didik dengan munculnya sikap intoleran dan lebih menyukai budaya asing yang bersifat modern. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui perkembangan sejarah Perhimpunan Indonesia, 2) membangun memori kolektif bangsa melalui sejarah Perhimpunan Indonesia guna menumbuhkan sikap nasionalisme peserta didik, 3) menerapkan model pembelajaran inovatif dan kreatif yang mendukung keaktifan peserta didik demi tercapainya pembelajaran yang bermakna. Penelitian ini menggunakan teknik analisis kualitatif dengan pengumpulan data melalui metode kepustakaan. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa peranan pemuda intelektual pada masa pergerakan nasional yang menempuh pendidikan di Belanda, serta adanya keterkaitan antara organisasi Perhimpunan Indonesia yang membawa manisfesto politik hingga tercetusnya peristiwa sumpah pemuda dapat menumbuhkan kesadaran berbangsa dan semangat nasionalisme pada peserta didik. Sikap nasionalisme ini ditunjukkan oleh adanya rasa cinta tanah air, toleransi, empati, semangat gotong royong, jujur, bekerja keras dan bertanggung jawab. Pembelajaran sejarah yang menjadi tonggak penanaman sikap nasionalisme harus dapat merancang model pembelajaran yang inovatif untuk mengakomodasi kebutuhan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran yang bermakna.
SUMBER DANA PERANG REVOLUSI INDONESIA 1945-1949: PEPERANGAN DI JAWA DAN SUMATERA
Cahyono, Rizki Aldi
JEJAK : Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah Vol. 2 No. 2 (2022): Kajian Pendidikan Sejarah, Ilmu Sejarah, & Sosial
Publisher : Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/jejak.v2i2.24769
Awal kemerdekaan Indonesia diwarnai dengan pemblokiran ekonomi oleh Belanda dan berbagai serangan Belanda untuk menguasi kembali Indonesia, hingga melahirkan suatu periode perang revolusi kemerdekaan 1945-1949. Kesulitan ekonomi membuat Indonesia terkendala dalam mendapatkan sumber dana yang digunakan guna perang mempertahankan kemerdekaan. Artikel ini bertujuan untuk membahas mengenai darimana pejuang revolusi kemerdekaan mendapatkan dana untuk berperang menghadapi Belanda. Terutama wilayah Jawa dan Sumatera yang memiliki berbagai gelaran perang revolusi lantaran keduanya adalah wilayah awal yang diakui Belanda dalam Perjanjian Linggarjati. Penelitian ini menggunakan metode sejarah: heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi dengan teknik pengumpulan data berupa studi kepustakaan. Hasil penelitian menyebutkan bahwa para pejuang yang tergabung dalam laskar perjuangan melakukan berbagai cara guna mendapatkan dukungan dana perang, mulai dari pertunjukkan amal yang mempertontonkan seni, pencegatan dan perampasan amunisi tentara Belanda, hingga penjualan candu dan penyeludupan barang ekspor ke Singapura. Dapur umum sebagai sumber utama asupan tenaga pejuang juga memiliki dampak signifikan dalam mendukung jalannya perang revolusi kemerdekaan.